Ini update kilat ya. Mau jawab e-mail yang numpuk di inbox, tapi nggak punya energi banyak. Jadi jawab semua di sini.
Soal Phoebus. Dia bukan pacar saya. Ehm, belum... (ngarep). Asal tahu aja, sejak kejadian putus eh diputusin sama si Pejalan Plinplan (iya, namanya udah ganti) yang payah, nggak jelas dan galau to the max (iya, dia juga reader, dan bodo amat dia baca ini), saya fokus dulu ke sejumlah draft novel yang tersimpan di folder dan rencana-rencana yang lain. Bukan trauma (apa-apaan trauma gara-gara cowok nggak mutu), toh jodoh nggak akan lari kemana, yes?
Soal jadi mandor di pabrik. Pembangunan pabriknya sudah selesai, pra produksi sudah berjalan sebulan. Minggu depan sudah produksi. Saya tidak tahu masih dilibatkan atau tidak. Kalau saya tidak dilibatkan lagi dalam proyek ini, saya bisa kembali menulis. Saya lebih mencintai menulis huruf, daripada menghitung angka. Saya tidak tertarik pada dunia bisnis (kecuali cita-cita punya bakery shop sih hehe).
Kesan-kesan mengurusi buruh? Ternyata mengurusi karyawan intelek dengan buruh beda ya? Mengurusi reporter-reporter yang semuanya lulusan sarjana beda jauh dengan mengurusi emak-emak yang beberapa di antaranya menulis tanda tangan pun tak bisa (ketika disuruh menandatangani tanda terima upah). Saya sekarang harus ekstra sabar dan ekstra senyum. Belum lagi saya ini membawa nama mendiang Ibu, karena beberapa emak-emak itu teman masa kecil Ibu.
Soal novel. Judulnya sudah ketemu. Cover-nyabelum saya lihatsudah saya lihat dan kereeen! (trims buat tim penerbit). Sudah siap cetak, besok saya harus kirim balik surat persetujuan cetaknya via pos/jasa kurir. Susah ya kalau jauh dari peradaban gini. Fyuh! Ngomong-ngomong, dengan noraknya saya nangis baca draft yang sudah diedit editor saya, Iwied. Soalnya jadi lebih mengalir dan 'dalem'. Inget Abe yang asli, hiks... Eh, tahu Iwied kan? Yang punya rumah sebelah sini. Tulisannya saya suka banget. Dia juga ngaku suka tulisan saya. Lho piye jadi saling menggemari? Hehe...
Soal Whitney Houston. Seriously, saya betul-betul berkabung. Sedih berat. Seolah-olah ditinggal kerabat sendiri. Di setiap lagunya ada momen ketika saya tumbuh dari seorang anak kecil tomboy suka memanjat pohon, ababil yang galau dan cewek dewasa (yang tetap galau).
Soal traveling. Banyak teman di luar kota menagih janji, atau sekedar bertanya kapan saya merealisasikan rencana mengunjungi kota mereka. Dengan berat hati saya sampaikan, saya masih belum tahu waktunya yang pasti. Alasannya: Satu, dana terpakai dulu mengongkosi ayah saya umroh dua bulan lagi. Sebab, itu sudah menjadi resolusi saya paling awal sebelum resolusi traveling kemana-mana. Dua, bagaimana pun juga saya belum bisa melepas pabrik dalam waktu dekat, apalagi sebelum produksi pertama dalam satu-dua bulan ini.
Ngomong-ngomong kok postingannya jadi panjang ya? Ini sih namanya buka quick update. Cih! Sebetulnya masih ada pertanyaan yang belum dijawab, tapi pembukuan pabrik sudah menanti. Huhuhu...
Get to go. Ciao!
“I am free, no matter what rules surround me. If I find them tolerable, I tolerate them; if I find them too obnoxious, I break them. I am free because I know that I alone am morally responsible for everything I do.”
― Robert A. Heinlein
![]() |
| pict from here |
































