Showing posts with label Daily. Show all posts
Showing posts with label Daily. Show all posts

Thursday, February 16, 2012

Quick Update: Hemat Energi

Hai hai...

Ini update kilat ya. Mau jawab e-mail yang numpuk di inbox, tapi nggak punya energi banyak. Jadi jawab semua di sini.
Soal Phoebus. Dia bukan pacar saya. Ehm, belum... (ngarep). Asal tahu aja, sejak kejadian putus eh diputusin sama si Pejalan Plinplan (iya, namanya udah ganti) yang payah, nggak jelas dan galau to the max (iya, dia juga reader, dan bodo amat dia baca ini), saya fokus dulu ke sejumlah draft novel yang tersimpan di folder dan rencana-rencana yang lain. Bukan trauma (apa-apaan trauma gara-gara cowok nggak mutu), toh jodoh nggak akan lari kemana, yes?
Soal jadi mandor di pabrik. Pembangunan pabriknya sudah selesai, pra produksi sudah berjalan sebulan. Minggu depan sudah produksi. Saya tidak tahu masih dilibatkan atau tidak. Kalau saya tidak dilibatkan lagi dalam proyek ini, saya bisa kembali menulis. Saya lebih mencintai menulis huruf, daripada menghitung angka. Saya tidak tertarik pada dunia bisnis (kecuali cita-cita punya bakery shop sih hehe).
Kesan-kesan mengurusi buruh? Ternyata mengurusi karyawan intelek dengan buruh beda ya? Mengurusi reporter-reporter yang semuanya lulusan sarjana beda jauh dengan mengurusi emak-emak yang beberapa di antaranya menulis tanda tangan pun tak bisa (ketika disuruh menandatangani tanda terima upah). Saya sekarang harus ekstra sabar dan ekstra senyum. Belum lagi saya ini membawa nama mendiang Ibu, karena beberapa emak-emak itu teman masa kecil Ibu. 
Soal novel. Judulnya sudah ketemu. Cover-nya belum saya lihat sudah saya lihat dan kereeen! (trims buat tim penerbit). Sudah siap cetak, besok saya harus kirim balik surat persetujuan cetaknya via pos/jasa kurir. Susah ya kalau jauh dari peradaban gini. Fyuh! Ngomong-ngomong, dengan noraknya saya nangis baca draft yang sudah diedit editor saya, Iwied. Soalnya jadi lebih mengalir dan 'dalem'. Inget Abe yang asli, hiks... Eh, tahu Iwied kan? Yang punya rumah sebelah sini. Tulisannya saya suka banget. Dia juga ngaku suka tulisan saya. Lho piye jadi saling menggemari? Hehe...
Soal Whitney Houston. Seriously, saya betul-betul berkabung. Sedih berat. Seolah-olah ditinggal kerabat sendiri. Di setiap lagunya ada momen ketika saya tumbuh dari seorang anak kecil tomboy suka memanjat pohon, ababil yang galau dan cewek dewasa (yang tetap galau). 
Soal traveling. Banyak teman di luar kota menagih janji, atau sekedar bertanya kapan saya merealisasikan rencana mengunjungi kota mereka. Dengan berat hati saya sampaikan, saya masih belum tahu waktunya yang pasti. Alasannya: Satu, dana terpakai dulu mengongkosi ayah saya umroh dua bulan lagi. Sebab, itu sudah menjadi resolusi saya paling awal sebelum resolusi traveling kemana-mana. Dua, bagaimana pun juga saya belum bisa melepas pabrik dalam waktu dekat, apalagi sebelum produksi pertama dalam satu-dua bulan ini. 

Ngomong-ngomong kok postingannya jadi panjang ya? Ini sih namanya buka quick update. Cih! Sebetulnya masih ada pertanyaan yang belum dijawab, tapi pembukuan pabrik sudah menanti. Huhuhu...
Get to go. Ciao!

“I am free, no matter what rules surround me. If I find them tolerable, I tolerate them; if I find them too obnoxious, I break them. I am free because I know that I alone am morally responsible for everything I do.”
― Robert A. Heinlein

pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Saturday, December 24, 2011

Setiap Sakit

Bahkan ketika kau berpikir ini selesai
Malam masih tetap sepekat ampas kopi
Bagiku dunia menyempit selingkar jari
Menghimpitku dari dua sisi kenangan yang meraja
Memenuhi ronggarongga tak kasat mata

Bahkan ketika kau berpikir ini membebaskan
Matahari tak bisa mengoyak selaput mata
Yang kututup erat dengan mimpi paling purna
Menenggelamkanku pada samudera,
beting karang dan karam

Lihat apa yang sudah egomu lakukan
Aku. mati.

-rumah sakit, di antara aroma desinfektan, 08:52, 23 Sept 2011-

.......

Itu ditulis waktu saya masih patah hati gara-gara si Pejalan dari Negeri Pagi, untuk Arus Kata-perkumpulan penyair yang saya ikuti.
Sampai sekarang saya suka terheran-heran sendiri. Setiap kali saya sakit, baik hati maupun fisik, kata-kata mengalir deras dari otak.

Kali ini juga. Sudah dua hari saya demam, dan plot Kisah Abe yang tadinya mentok tiba-tiba seperti banjir bandang dari Bendungan Katulampa. Melimpah. Sampai saya merasa sayang untuk tidur, memilih melawan pengaruh obat dan menuliskan semua kata-kata yang bermunculan seperti disulap.

Geez! Masa saya harus sakit-sakitan dulu baru bisa membuat tulisan bagus!


“One day I will find the right words, and they will be simple.”
― Jack Kerouac, The Dharma Bums


Virginia Woolf's writing table at Monk's House, Sussex, England, 1967.
Photo by Gisele Freund.
pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, August 30, 2011

Me Forgive Y'all

Judulnya belagu ya. Hahaha.

Saya menulis ini pagi-pagi sekali. Setelah menemani pacar saya sahur, lalu ditinggal tidur lagi. Saya tidak bisa melanjutkan tidur karena kakak saya Usi sudah menggubrak-gubrak menyuruh saya ke dapur, membantu memasak buat lebaran besok.

Lebaran yang galau ya? Membuat banyak orang kecele dan terpaksa meng-kulkaskan opor dan sambal gorengnya untuk besok.

Rumah saya sudah mulai dipenuhi keluarga besar. Seandainya Ibu masih ada, pasti saat ini sudah warawiri di dapur memegang komando tim memasak.

Saya meredam kangen saya pada Ibu. Mencoba mensyukuri nikmat yang masih diberikan Allah kepada saya pada ramadhan tahun ini. Saya diberi hidayah dan berhijab, saya dicintai seseorang dengan begitu rupa sampai saya merasa baru pertama kali jatuh cinta, saya masih diberi kesempatan mengurus ayah saya, dan lihatlah, saya merasa lebaran ini saya begitu beruntung.

Di halaman, ada sepupu yang sedang bersiul-siul. Menyenandungkan lagu Can't Stop Falling In Love. Hmm... kayaknya itu nyindir saya deh.

Sepertinya ini akan menjadi Lebaran yang menjadikan saya selebriti dadakan. Sepupu-sepupu akan sibuk meledek saya yang tiba-tiba memakai jilbab. Dan punya pacar baru, gara-gara Usi memergoki foto Pejalan dari Negeri Pagi di wall desktop lappy saya. Berita menyebar. Menular seperti virus flu burung. Hahaha.

Di halaman sekarang ada yang memanggil-manggil saya. "Retno! Retno! Jangan di kamar aja! Kenalin pacarmuuu!"

Tuh kan.

Bagaimanapun juga, lebaran selalu menjadi momen yang menyenangkan buat saya. Berkumpul lagi dengan keluarga, sesering apapun mereka membuat sebal, keluarga selalu menjadi tempat paling hangat. Meskipun terkadang saya diabaikan karena mereka sibuk dengan blackberry-nya. Meskipun saya suka disuruh-suruh jadi asisten dapur (sepupu-sepupu saya tidak ada yang bisa memasak). Meskipun rumah saya penuh orang, saya merasa dijajah dan kecapekan membersihkannya lagi sehabis lebaran.

Saya selalu sedih jika mereka sudah pulang kembali ke rumah masing-masing.

Eh, kaca jendela kamar diketuk. Seorang sepupu nyengir di luar, mengintip saya sedang menulis. *sigh!*

Baiklah. Sepertinya gangguan akan semakin serius. Saya harus kembali ke dapur. Buat kalian yang merayakan, selamat hari lebaran juga ya. Sungguh, saya minta dimaafkan lahir dan batin.

.... and me forgive y'all ......

"Retnoooo! Potongin ayamnya!"
*sigh!*


pict from here



Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, August 24, 2011

Closed

Saya menutup akun fesbuk pribadi. Saya simpan dalam kotak dan menguncinya rapat-rapat. Kunci itu tidak saya buang. Saya simpan bila perlu. Tapi sepertinya itu masih akan lama dan mungkin tidak perlu sama sekali. Saya bosan. Dan merasa tak aman. Apalagi setelah kasus yang menimpa teman saya, Hans.

Seseorang menggunakan fotonya dan namanya, berpura-pura jadi Hans yang lain, untuk mencari mangsa. Saya garisbawahi kata 'mangsa' itu. Karena beberapa orang mentransfer sejumlah uang kepadanya, supaya bisa tidur dengannya. Si penjahat itu gay, tapi saya tidak akan menggarisbawahi kata gay di sini. Karena saya tahu tidak semua gay begitu. Karena saya punya banyak teman gay yang semuanya baik dan terpelajar. Itu hanya oknum. Tapi sungguh memprihatinkan bahwa perilakunya ikut mencemarkan nama baik teman-teman gay saya yang tidak bersalah.

Itu cuma salah satu alasan. Selebihnya banyak. Saya malas menerima tag-tag yang menurut saya tidak penting. Teman-teman lama yang reuni (yang tidak mungkin bisa saya datangi dalam kondisi saat ini), undangan-undangan yang akan lebih saya hargai jika disampaikan secara personal, tag-tag barang dagangan yang tidak menarik (buat saya yang menarik cuma buku), belum lagi di laman 'home' terbaca status-status tertentu oleh orang-orang tertentu yang 'nggak jelas', yang bagi saya norak. Ada orang-orang pacaran yang di-like teman-temannya (pacaran kok di-like). Belum lagi perang kecaman di status. Saya pernah tak sengaja membaca seorang pacar perang 'mulut' di status dengan teman pacarnya yang ia cemburui. Sangat kampungan!

Saya juga muak jika status saya dianggap 'kasus' lalu menjadi gosip umum di keluarga besar saya yang notabene hampir semua punya fesbuk.

Fesbuk berjasa besar mempertemukan saya dengan teman-teman lama. Menyenangkan bisa bertegur sapa lagi dengan mereka. Tapi lama kelamaan media itu menjadi terlalu pribadi, terasa sesak bagi diri saya yang sesungguhnya soliter. Dan bahkan sekarang semakin berbahaya.

Saya tidak cantik seperti Revalina S. Temaat atau Nikita Willy, atau siapapun yang fotonya mungkin menarik untuk diambil dan dipalsukan. Tetapi kenyataannya tidak harus orang sengetop selebriti untuk mendorong orang-orang sakit jiwa mengganggu kita.

Saya menemukan sebuah kasus di Twitter beberapa hari lalu. Seseorang bernama Naning Utoyo, menjadi korban penjiplakan identitas. Supaya lebih jelas baca di sini. It was scary. Seperti cerita dalam sebuah film lama yang pernah menjadi box office, 'Single White Female'. Baca sinopsisnya di sini.

Dan saya bukannya tidak pernah mengalami hal itu. Twit Naning dijiplak, twit saya juga pernah dijiplak. Bukan untuk social media yang sama (Twitter), tapi social media yang berbeda. bio saya di blog juga beberapa kali dijiplak, itu sebabnya saya beberapa kali mengganti bio 'About Me' di bawah foto profil itu.

Saya cuma tidak mau ribut. Karena bagi saya itu belum seberapa mengganggu dan merugikan. Toh twit saya tidak penting dan bio bisa saya ganti tanpa kesulitan. Saya baru marah dan meradang kalau tulisan saya yang dijiplak.

Tetapi, belajar dari pengalaman teman-teman itu, saya mulai berhati-hati sekarang. Karena itu saya tutup akun fesbuk saya, dan akan lebih berhati-hati dengan Twitter. Biarlah teman-teman lama dan saudara-saudara saya di fesbuk menghubungi saya lewat telepon kalau ada hal penting. Hati saya juga terjaga dari rasa sebal melihat status-status tertentu atau orang pacaran yang di-like ramai-ramai. Hati saya tentram. Aman dan terkendali. Hehehe.

Itu saja cerita saya hari ini. Kalian punya cerita apa?

pict from here



Image and video hosting by TinyPic

Monday, August 22, 2011

Butterflies (in My Stomach)

I don't pretend to know what love is for everyone,
but I can tell you what it is for me;
love is knowing all about someone, 
and still wanting to be with them more than any other person.
Love is trusting them enough to tell them everything about yourself, 
including the things you might be ashamed of.
Love is feeling comfortable and safe with someone,
but still getting weak knees when they walk into a room and smile at you.



Hai lagi!

Saya sudah kembali. Wow! Trims buat deretan e-mail yang memenuhi inbox saya setiap hari. Dan pertanyaan-pertanyaan kalian yang aneh dan konyol-konyol. Bukan. Saya bukan sedang mempersiapkan hari pernikahan. Geez! Hahaha. Saya juga bukan sedang diomeli siapa-siapa. Saya semakin rindu mendiang Ibu menjelang Lebaran, tapi bukan karena itu saya hiatus. Oh, dan saya juga bukan sedang diajak rekonsiliasi dengan seseorang dari masa lalu. Itu pertanyaan paling retoris sebenarnya, kalau kalian sering berkunjung ke sini dan memahami prinsip saya. Hahaha.

Seperti yang sudah saya duga, saya kangen blog ini. Kangen cengengesan di form komentar dengan kalian. Saya masih suka datang tetapi hanya melihat-lihat saja. Waktu itu saya masih belum mood untuk kembali menulis. Tapi sekarang saya benar-benar sudah pulang. Peluuuuk!

Ngomong-ngomong, saya tetap saja saya. Kepompongnya tidak jadi kupu-kupu. Saya berhijab sekarang, tapi itu karena saya ingin menjadi perempuan yang lebih baik, bukan ingin seindah kupu-kupu.

Oh, tapi memang ada kupu-kupu sih. Berterbangan di perut saya kalau si pejalan dari negeri pagi itu sedang bersama saya.

Nah sudah dulu ya. Nanti saya cerita-cerita lagi. Ta ta!

pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Thursday, June 16, 2011

Aloha! A Quick Update

Halo lagi, teman-teman!

Flu saya berangsur-angsur sembuh. Iya sih, suara saya masih mirip anak bebek. Yang penting hidung sudah tidak disumpal tisu. Saya cuma mau 'ngerumpi' sebentar dan mengucapkan terima kasih lagi.

Terima kasih yaaaa sudah menyambut dengan begitu gembira 'hanya' karena saya memutuskan menulis blog lagi. Sini peluuuuk! Padahal tadinya saya sudah memutuskan akan menulis di blog privat untuk dibaca sendiri, dan di buku diary yang disimpan di lemari, yang akan dibaca anak-cucu saya kelak.

Sekarang ini saya sedang mengerjakan proyek pribadi (dan satu proyek berdua yang kayaknya bakal asyik banget). Jadi mohon maklum kalau tiba-tiba belum ada tulisan baru di sini ya, hehehe. Saya lagi ngebut soalnya.

Nah, seperti Jeng Maya pernah bilang, sepertinya saya harus bersyukur karena huru-hara kemarin itu membawa hikmah. Jadi, thanks ya mbak-mbak dan mas-mas yang mencuri tulisan saya. Tapi siap-siap juga ya saya tuntut Rp 5 miliar. Hehe.

Saking (masih) geramnya saya sama para maling itu, saya ikutan daftar tools protektor anti plagiat berbayar, DMCA Protector. Trackingnya oke banget. Ada versi gratisnya juga kok. Tracking record terbaru saya beberapa hari yang lalu memunculkan lagi beberapa laman blog yang menampilkan jiplakan tulisan saya. Sigh! Nggak habis-habis! Pelakunya bahkan sampai merambah ke negeri jiran. Wah, saya sampai bingung. Mau jengkel atau terharu ya, sampai orang sana ada yang 'mengagumi' tulisan saya? Pret! Untungnya setelah saya tegur, post tersebut dia hapus. Good.

Ng.. masih menyangkut soal ini, saya bikin page 'DISCLAIMER' di head bar. Coba lihat deh. Kata yang udah baca, gahar banget! Ya harus, dong. Saya kan nggak mau dijiplak terus-terusan. Hehe.

Oh iya! Hadiah kuis dari Sheila Publishing sudah sampai lho. Thanks ya buat teman-teman di Sheila! Novel Lajang & Nikah yang ditulis Okke Sepatu Merah dan Nita Sellya! Saya suka Okke, suka novelnya, suka main ke blognya.

Saya juga sedang membaca Lolita-nya Vladimir Nabokov (versi e-book, ada yang mau? klik di sini). Buat yang belum tahu, novel ini sejak dipublikasikan tahun 1955 sempat dilarang beredar di Amerika Serikat, karena mengisahkan jenis percintaan yang 'tidak normal', antara seorang profesor setengah baya (Humbert) dengan anak tirinya yang masih 12 tahun (Dolores a.k.a Lolita).

Meskipun berbau pedofilia, tapi novel ini oleh Time dianggap sebagai salah satu dari tiga novel yang berpengaruh di dunia. Nuansa psikologis tokoh-tokohnya kental sekali dan ditulis dengan gaya memoar.

Ternyata istilah 'lolita' atau 'loli' yang sekarang dipakai untuk menggambarkan anak perempuan di bawah umur gara-gara novel ini! Hayo cowok-cowok yang suka ngintip situs XXX pasti manggut-manggut.
*Kok kamu juga tau, No?*
Lho, malah nggak ada yang percaya kalau saya pura-pura nggak tahu :P

Oya, saya sekalian mau mengucapkan terima kasih buat Mei, silent reader blog ini, yang sedang kuliah di China. Dia kirim e-mail yang riang gembira, yang disisipi attachment foto seniornya, seorang cowok Korea ganteng. Katanya buat penyemangat saya supaya mau menulis lagi. Hmm... boleh juga. Ada yang mirip Lee Min-ho, nggak Mei? Hehehe...

Mei agak nelangsa blogging dan surfing disana. Soalnya pemerintah China memblokir website luar negeri dan menggantinya dengan konsep yang sama tapi buatan dalam negeri, yang otomatis isinya juga lokal sana.

Situs Youtube.com pengganti lokalnya adalah situs Youku.com. Kata Mei, nggak harus buffering saking cepatnya. Wah! Coba Indonesia bisa secanggih itu ya? ;)

Website luar masih bisa dibuka dengan software gelap, katanya. Tapi ada kalanya keamanannya benar-benar nggak bisa ditembus dan website luar China hanya tinggal khayalan.

Nah itu cerita dari Mei yang menambah pengetahuan saya betapa 'parno'nya Negeri Tirai Bambu itu terhadap pengaruh luar. Meskipun saya juga tahu kalau itu salah satu ciri pemerintahan komunis.

Oke, sampai sini dulu. Ocehan saya sudah selesai. Kalau panjang namanya bukan quick update lagi. Saya harus balik lagi ke pangkalan! Bumi memanggil!



pict from here^^

Ciao ^^
Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, May 31, 2011

Menulis Itu Gampang

Menulis itu gampang.
Masa sih?
Iya kok.

Banyak yang bertanya pada saya bagaimana caranya mulai menulis. Mereka melihat bahwa saya menulis apa saja. Dari hal-hal kecil sehari-hari sampai cerita horror. Kemarahan dan kekesalan di tangan saya bisa menjadi sebuah tulisan. Bahkan topik favorit saya, cinta, kadang-kadang hanya ditimbulkan oleh sebuah adegan kecil seperti melihat kupu-kupu yang hinggap di atas bunga, atau sebuah kenangan manis dari masa silam yang masuk ke dalam mimpi semalam.

Bagaimana caranya mulai menulis? Gampang kok. Tidak perlu harus mencomot ide, plot, judul atau kalimat-kalimat dari tulisan orang lain, seperti dari salah satu posting saya yang baru saya ketahui hari ini.

 Ini saya bagi langkah-langkahnya.
  • Mulai saja dengan banyak membaca. Bacalah apa saja. Membaca bisa membuka wawasan pikiran dan menimbulkan banyak gagasan di kepala. Membaca juga memberikan pemahaman bagaimana cara menulis dan menambah perbendaharaan kata, menambah pengetahuan tentang ejaan yang disempurnakan dan penggunaan tanda baca yang benar.
“Menulis dengan tanda baca yang kacau sama saja seperti naik angkot dengan sopir yang tidak bisa menyetir,” kata novelis Clara Ng di status twitternya.

Menurut saya, orang yang hobi membaca sebenarnya bisa menulis asal mau mencoba dan berusaha. Sepupu saya Andara, adalah orang yang sama kutu bukunya seperti saya, tapi ia merasa tidak bisa menulis. Suatu hari saya melihat ia sedang mengerjakan tugas-tugas kantornya, menulis laporan dan membuat berbagai macam korespondensi bisnis. Saya takjub ia menulisnya seolah tanpa berpikir, tanpa draft, dan bahasa dalam tulisannya tidak perlu diedit. Itu bukti bahwa sebenarnya ia bisa menulis.

  • Bagaimana mencari topik? Tidak perlu topik yang muluk dulu. Mulai saja dari hal-hal kecil di sekeliling kita. Kehidupan sehari-hari dan perasaanmu sendiri. Saya berlatih dengan menulis buku harian sejak kelas lima SD.

Ada sebuah cara berlatih mudah yang biasanya saya terapkan pada murid-murid kecil saya, bahkan pada Andara. Menyodorkan sebuah kata yang harus dijadikan sebuah cerita minimal satu paragraf.

Suatu hari saya menyodorkan sebuah kata ‘layang-layang’ pada Andara. Ia mengomel meski akhirnya menulis juga. “Layang-layang di angkasa biru itu terbang melenggak lenggok dengan sangat anggun. Ia pasti melihat seluruh kota dari atas sana. Membuat aku penasaran dan ingin ikut terbang. Apa ya yang dilihatnya?”

Sebuah kata ‘teman’ saya sodorkan pada Salsa, sepupu saya yang masih kelas empat SD. Ia menulis, “Temanku Nadya memberikan boneka beruangnya padaku hari Senin. Aku senang sekali karena aku memang suka boneka beruangnya. Tapi aku tidak bisa memberinya gantungan kunci kesayanganku karena Nadya meninggal kemarin. Demam berdarah membunuh teman baikku.”

Well, good job kan?

  • Kadang-kadang saya mendengar komentar teman-teman tentang hasil tulisannya sendiri. “Ini kacau banget.” “Tulisan saya terlalu jelek buat dibaca orang.” “Kok saya nggak bisa sebagus kamu?”
Well guys, jangan berharap tulisan kalian langsung sempurna begitu selesai ditulis. Begini nih caranya. Setelah tulisan selesai, baca ulang. Endapkan dalam hati. Perhatikan bagian mana yang tidak perlu ada, bertele-tele atau terlalu lebay. Endapkan lagi, kalau perlu satu hari. Kemudian baca lagi, perhatikan lagi adakah alurnya terlalu ganjil, atau ejaannya dan tanda bacanya salah? Jangan ragu mengubah atau menambah jika menemukan ide baru yang lebih menarik dan tepat.

Revisi itu perlu. Benar sekali kalau ada yang bilang bahwa saya mempersiapkan tulisan saya dengan matang. Meski cuma sebuah tulisan di blog, saya mempersiapkan judul dan topiknya beberapa jam sebelum ditulis. Menghabiskan hampir satu jam lagi untuk dibaca ulang dan direvisi.

  • Salah satu kunci sebuah tulisan (jika berupa diary, cerita pendek atau novel) adalah DIALOG. Bagaimana cara mendapatkan dialog yang hidup? Saya biasanya memvisualisasikan adegan yang saya tulis itu di kepala. Sehingga saya seolah-olah mendengar sendiri percakapan para tokoh itu, atau kadang-kadang menempatkan diri menjadi salah satu tokohnya.

Salah satu yang paling saya nikmati dalam menulis cerita adalah membuat dialog. Dengan dialog, saya bisa membantu pembaca mendapatkan gambaran lebih nyata dari sebuah cerita. Dialog juga secara tidak langsung memberikan pemahaman karakter para tokoh, tanpa harus susah-susah menguraikannya dalam kalimat yang njlimet dan malah membuat bosan pembaca.

  • Setiap kali memulai sebuah tulisan atau cerita, saya mempersembahkannya untuk diri sendiri. Menulis untuk saya baca dan nikmati, untuk mengabadikan sebuah kenangan atau gagasan. Saya tidak pernah menulis untuk dipuji, dikagumi, atau supaya terkenal. Saya juga tidak pernah menulis dengan pemikiran komersil.

Menulis dengan egois selalu tumbuh dari rasa cinta. Cinta terhadap kegiatan menulis itu sendiri. Saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa menulis. Writing is my life. Writing is my passion. Rasa cinta akan membuat tulisan kita tulus dan indah. Tulisan dengan usaha sendiri, bukan hasil plagiat atau penjiplakan. Tulisan yang seperti itu dinikmati dan disukai orang lain, dan pada akhirnya akan memberikan nilai jual dengan sendirinya.

  • Jangan lupa latihan. Semua penulis mencapai keahliannya merangkai kata dengan berlatih. Latihan menuangkan gagasan di kepala menjadi rangkaian kalimat yang bisa dipahami orang lain. Kadang-kadang memang dibutuhkan dorongan hati, tapi kadang-kadang kita butuh kedisiplinan. Setiap orang punya waktu luang favorit untuk menulis. Kalau saya, ide menulis biasanya muncul di pagi atau sore hari.

Semua tips itu tidak datang dengan sendirinya. Saya juga banyak belajar dari para penulis terkenal, terutama JK Rowling, penulis novel Harry Potter kesukaan saya. Beberapa dari tips di atas itu dia yang kasih tahu lho :)

Ada beberapa kesamaan di antara saya dan Miss Rowling, yakni suka menulis ide, potongan dialog atau deskripsi tokoh di sehelai kertas apa saja yang bisa ditemukan saat itu. Ia juga selalu menulis untuk dirinya sendiri.

Oke guys, menulis itu gampang. Saya berharap, setelah ini tidak ada lagi yang mengambil plot, judul atau bahkan kalimat per kalimat dari tulisan orang lain (karena jika tidak ditulis sumber atau referensinya sama dengan menjiplak).

Buat kamu yang di sana itu, sayang sekali kalau kamu menghancurkan potensimu  dengan menjiplak karya orang lain. Jadi diri sendiri lebih keren. Percaya deh...

Baydewey, ada yang mau nambahin tipsnya? Silakan lho ^^

pict dari sini

Image and video hosting by TinyPic

Saturday, May 28, 2011

Isi Perut Elvi

Tas kesayangan saya dibeli tahun 2005. Mereknya Export berwarna hitam, saya lihat waktu sedang cuci mata di Blok Mal dengan seorang teman. Saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama karena bentuknya yang simple, warnanya yang netral dan tali bahunya yang empuk karena didalamnya ada busa. Teman saya itu naksir saya, jadi ia sok baik ingin membelikan. Saya menolak mentah-mentah dan mengajaknya pulang. Lalu besoknya, saya balik lagi ke sana dan membelinya! Hahaha….

Meski bukan tas mahal, benda ini sangat bersejarah dan menjadi saksi kehidupan sosial saya, baik karir maupun percintaan. Dia selalu ikut kemana saya pergi, entah saat liputan ataupun kencan. Memang tidak fashionable sih, tapi saya nyaman dan pede bersamanya. So what? :P

Suatu hari resletingnya rusak, lalu saya perbaiki di tukang jahit keliling yang suka lewat depan rumah kost. Sekarang si Hitam tergantung manis di belakang pintu kamar. Kondisinya masih baik-baik saja dan selalu siap menemani saya pergi kemana-mana.

Tapi belakangan saya sering memakai LV seri Damier Azur
Speedy warna krem, yang belinya dulu-duluan dengan sahabat saya Kiki... hehehe (saya yang duluan, dia manyun). Si LV ini cukup besar dan isinya muat banyak. Soalnya saya cenderung membawa banyak barang sekarang. Selain itu, karena suka disuruh menginap dadakan di rumah saudara, jadi bisa memuat handuk dan lingerie juga.

Ini dia isi perut si LV:
  1. Dompet kulit coklat. Kalau tidak ada keperluan penting, uang di dalamnya tidak pernah lebih dari 50 ribu. Kenapa? Karena kalau saya membawa uang tunai lebih banyak dari itu, dimanapun terlihat toko yang menjual buku bacaan atau majalah, saya akan memborongnya.
  2. Flashdisk 1 GB. Cukup untuk menampung beberapa file foto favorit, draft artikel yg sdg dikerjakan, kliping riset untuk tulisan sejarah dan beberapa hal yang berkaitan dengan blog. Kadang-kadang saya membawa eksternal disk juga sih.
  3. Buku bacaan. Kadang-kadang novel, kadang-kadang kamus. Favorit saya adalah Oxford Learner’s Pocket Dictionary.
  4. Agenda, buku notes kecil dan pulpen. Untuk mencatat ilham yang melintas di kepala, atau apapun ide yang menarik. Agenda merah saya hadiah dari istri Panglima TNI lho! Hehehe...
  5. Tissue, karena saya suka bersin kalau banyak debu.
  6. Obat maag, untuk jaga-jaga. Saya minum Omeprazole.
  7. Ponsel. Meski belakangan keberadaannya sering terabaikan. Sedang malas berkomunikasi kalau tidak penting-penting amat. Belakangan saya pakai ponsel mendiang Ibu. Meski cuma Nokia dengan fitur telpon dan SMS saja, tapi rasanya seolah-olah Ibu bersama saya.
  8. Kacamata fuchsia saya yang berlensa minus satu, yang hanya dipakai kalau perlu.
  9. Cairan antiseptic pencuci tangan instan. Perlu, karena saya suka naik kendaraan umum.
  10. Lipgloss. Karena saya cuma pakai lipstick kalau perlu saja.
  11. Lingerie dan pantyliner. Fotonya nggak usahlah. Itu sih bukan konsumsi publik! Hihihi.

Dari semua benda yang saya sebutkan itu sebetulnya bisa diminimalisir lagi kalau bepergian tidak terlalu jauh. Paling-paling yang saya bawa cuma buku bacaan, notes, pulpen, ponsel dan obat maag.

Sampai-sampai seorang kolega laki-laki kaget melihat isi tas saya. “Ternyata kamu orangnya simple ya,” ujarnya. “Saya pikir kamu bawa segala macam benda di tas itu.”

Waktu saya masih kerja di kantor, saya punya dompet kecil yang isinya sisir lipat, bedak tabur, lipstick warna nude dan sabun wajah. Tapi sekarang, kecuali sedang keluar kota, dompet itu lebih banyak ditinggal. Lah, saya kan cuma pergi ke pasar. Paling jauh ke rumah Usi atau ke pertokoan mencari DVD. Ehehehe….

.......................................................

Topik mengintip isi tas ini adalah pekerjaan rumah dari Lia. Tunai sudah janji baktiiii…. *nyanyi pake nada lagu Gugur Bunga*

Oiya, saya juga mau pamer award dari Adhi Glory. Awardnya banyak banget! Thanks ya Adhi. Tapi saya cuma mau pajang satu saja di sini... yang paling saya suka, soalnya pict-nya kerlap kerlip. Hihihi


Isi perut LV :)


Award dari Adhi ^^


Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, May 24, 2011

Buku dari Sheila

"Gue lagi ikutan lomba cerpen nih. Lumayan hadiahnya."
"Lomba di mana? Mau dong ikutan."
"Hehehe... ada deh. Gue nggak mau kasih tau elu, ntar jadi nambah saingan gue."
"Lu kok gitu sih? Kasih tau dong..."
"Enggak ah. Lu nggak usah ikutan deh, pasti menang. Tulisan lu kan bagus-bagus."
"Ya udah." Saya langsung mematikan ponsel karena bete.

Itu bukan hal yang pertama kali terjadi. Berkali-kali. Beberapa teman saya, baik yang di 'dunia nyata' atau dunia maya, kadang-kadang menutup-nutupi informasi lomba-lomba seperti itu dari saya. Alasannya selalu sama. Saya akan menjadi saingan berat dan membuat kans mereka untuk menang jadi lebih kecil. Katanya saya tidak perlu pembuktian diri dengan ikut lomba, karena sebagai jurnalis, tulisan saya setiap edisi sudah biasa dibaca banyak orang.

Memangnya saya ikut lomba untuk pembuktian diri? Apa saya sebegitu ingin eksisnya? Dan memangnya sehebat apa diri saya sampai harus dianggap membahayakan kans orang-orang? Saya toh bukan peraih penghargaan Adinegoro atau MH Thamrin di bidang jurnalistik, atau pemenang hadiah Pulitzer, Nobel sastra atau Magsaysay Award.

Kalaupun saya ingin ikutan lomba, kuis atau apalah namanya, saya melakukannya untuk have fun. Siapa sih yang tidak mau rejeki nomplok sekian juta rupiah atau barang cuma-cuma seperti buku atau ponsel, misalnya?

Coba kalau saya. Informasi yang saya tahu pasti saya beritahukan, bahkan kadang-kadang saya sendiri malah tidak ikutan karena keasyikan memberitahu jadi kelupaan :P

Baydewey, buat yang suka baca dan kepingin dapat novel gratis, ini ada kuis dari Penerbit Sheila. Pertanyaannya cuma empat dan nggak sulit. Tinggal dijawab, pilih novel yang diinginkan, lalu berdoa semoga keberuntungan menghampiri kamu. Mau?

Kalau mau ikutan klik disini

Tuh, saya baik kan, nggak pelit informasi?
*melirik para pelaku yang pelit info*

:))


Gift buku buat pemenang kuisnya Sheila ;)


Image and video hosting by TinyPic

Monday, May 23, 2011

Putra Sang Muadzin

Kami berempat masih asyik main remi. Saya dan sepupu-sepupu saya, di rumah salah satu dari mereka. Saya sudah menang dua kali, sedang mengeluh panjang ketika akhirnya kalah di putaran ketiga. Lalu terdengar suara adzan berkumandang dari mesjid yang tak jauh dari rumah.

Suara adzan yang merdu. Kalau dari nadanya sepertinya menganut mahzab Mesir. Saya tahu karena ada seorang teman saya, kuliah di Al Azhar Kairo, adzannya terdengar seperti ini.

“Magrib, magrib!” Seru isteri sepupu saya, Magda. “Udahan dulu woy!”
“Itu adzan ya?” Tanya Andara.
“Ya iyalah. Kenapa? Merdu ya nadanya? Yang azan pasti Kang Firman, pernah kuliah di Kairo. Yang muadzin itu bapaknya, tapi kadang-kadang dia gantiin bapaknya,” sahut Hana, si nona rumah.
“Tuh kan. Gue udah nebak dari tadi,” komentar saya.
“Maksud gue bukan nadanyaaaa….” Sergah Andara. “Liat dong ini jam berapa? Baru jam lima. Kenapa udah adzan?”
“Heh?” Kami serentak menatap jam dinding. Memang jam lima sore. Kami menjenguk ke luar jendela, langit masih terang. “Lho, iya ya? Apa jam kita yang telat ya?”

Kami baru akan memulai perdebatan. Andara dan Uni bahkan bergegas mencari ponsel mereka untuk mencocokkan jam ketika tiba-tiba adzan itu berhenti di pertengahan. Lalu terdengar suara berdehem-dehem dari speaker masjid dan seorang laki-laki yang diduga adalah Kang Firman berkata malu-malu.

“Ehm. Ehm. Maaf bapak-bapak, ibu-ibu… saya salah liat jam. Ternyata baru jam lima.”
Kami bengong sejenak, lalu serentak terbahak-bahak.

Itu bukan kekonyolan satu-satunya dari Kang Firman yang menurut Hana pernah kuliah di Kairo itu. Beberapa bulan kemudian, ketika saya dan Andara menginap lagi di rumah Hana, keasyikan tidur kami terusik oleh suara adzan.

Andara yang terbangun duluan, karena ia memang peka pada bunyi. Saya juga terbangun ketika ia menyalakan lampu di atas kepala tempat tidur kami sambil menguap lebar.

“Masa udah subuh lagi?” Gerutunya. “Perasaan gue, kita baru tidur tadi deh.” Kami memang baru tidur jam setengah dua belas karena keasyikan mengobrol.

Saya meraih ponsel di atas nakas dekat tempat tidur untuk melihat jam.
“Jam setengah satu?” Saya mengucek-ngucek mata tak percaya. “Ponsel gue rusak kali ya? Masa jam setengah satu? Subuh itu jam setengah lima kan?”
“Masa sih jam setengah satu?” Andara meraih ponselnya juga. “Lho, iya kok. Di gue juga jam setengah satu.”

Kami masih terbengong-bengong ketika tiba-tiba terdengar suara dari speaker. “Bapak-bapak, ibu-ibu, mohon maaf. Ternyata ini masih jam setengah satu. Mohon maaf jika tidurnya terganggu.”

“Hah? Again?” Seru Andara gemas. “Ini orang gantiin bapaknya tapi malah konyol gini sih. Malu-maluin almamater aja! Mendingan kuliah di Tasik aja deh, nggak usah jauh-jauh ke Mesir!”

Andara membanting diri di tempat tidur masih mengomel sementara saya tertawa. Ya ampun Kang Firmaaan… gila aja lu!

……………………………

Cowok yang sedang mengobrol dengan Andara itu manis juga, pikir saya. Lumayan tinggi dan ada lesung pipinya. Pakaiannya rapi dan samar-samar wangi yang lembut tercium sampai ke tempat saya berdiri, membuat saya tak tahan untuk mendekat. Penasaraaaan....

Mereka sedang berdiskusi tentang jilbab. Saya tahu sudah lama Andara tertarik memakai jilbab, tapi masih ragu.

"Nah ini sepupu saya, Retno," kata Andara ketika saya sudah berdiri di sebelahnya. "Eh No, di dapur udah beres?"
"Belum. Makanya gue nyari elu. Butuh bantuan nih!"
"Oh, kalo gitu permisi dulu ya Kak. Saya harus bantuin orang dapur nih. Makasih ya penjelasannya."
"Sama-sama." Cowok itu tersenyum dengan lesung pipi yang terlihat sangat manis dan membuat saya iri.

"Na, tadi gue ngobrol sama tetangga lu. Asyik banget orangnya. Santri tapi pandangannya moderat. Tadi gue nanya tentang jilbab. Orangnya ganteng ih!" Di dapur, Andara berbisik pada Hana. Saya yang duduk disampingnya nyengir. Dasar! Di acara tahlilan seperti ini sempat-sempatnya cuci mata.
“Yang mana?”
“Ituuu… yang pake baju koko hitam. Yang namanya Ahmad. Mirip Uje ya?”
Cowok yang tadi mengobrol dengan Andara memang agak mirip Ustadz Jeffry Al-Buchory, tapi kulitnya lebih putih.
“Oooh…. Itu Kang Firman."
"Apaan! Namanya Ahmad kok."
"Iya Firman Firdaus Ahmad. Anaknya Pak Salam, muadzin mesjid sini."
“Hah?” Andara terbengong. "Yang kalo adzan salah jam itu?"
"Iya. Minat? Masih single tuh!”
Andara bengong. Saya tergelak.

Hohoho. Kami pikir anaknya sang muadzin yang suka salah waktu itu tidak muda dan sesimpatik itu! Andara yang pernah berkata bahwa ‘Kang Firman’ lebih pantas kuliah di Tasik langsung sumringah dan cengengesan. Wah, dasar tidak konsekuen! Hahaha….

pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Friday, April 29, 2011

Coretan Pagi

Apa yang dikatakan pagi kepada hujan yang tidak sopan membangunkannya sebelum matahari mengetuk kaca jendela?
Pergilah, katanya. Kau merusak awal hari menjadi kelabu dan dingin.
Tapi hujan merasa dirinya adalah berkah.
Ia tetap saja membasuh pagi. Memandikan rumput dan bunga-bunga. Mencuci awan bersih-bersih. Membuat seekor burung gereja tak jadi mencari sarapan.
Pagi hanya bisa pasrah. Lagipula hujan memang sebuah berkah.

............

Morning, guys.
Pagi ini saya mencatat puisi itu di ponsel sambil memasak di dapur. Hahaha. Rasanya kepingin cepat-cepat selesai memasak karena saya mau meneruskan membaca novel Sydney Sheldon yang tertunda sejak semalam.

Tidak ada ide mau menulis apa hari ini, tapi rasanya menjadi kewajiban untuk menyapa kalian setiap dua-tiga hari sekali.

Tapi hari ini ada satu peristiwa penting yang saya tunggu-tunggu. Yup! The royal wedding! Pernikahan Wills dan Kate. Sampai saya pasang countdown widget-nya di blog ini. Hahaha...


Wills & Kate

Oh, hampir lupa. Hari ini saya juga dapat kiriman award dari dua teman baru. Yang satu bernama Enno juga, penggalan dari nama yang juga sama dengan nama saya, yaitu 'Retno.'
Yang satu lagi dari anak Betawi yang menulis di blognya dengan bahasa Betawi, membuat saya tambah kangen pulang ke Jakarta. Halo Naya!
Thanks ya buat kalian :)

Ya sudahlah. Saya harus kembali ke habitat. 
Award dari Andriani Retno

Award dari Naya


Bubye! :D

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, April 27, 2011

Tattoo

Kalau saya lewat, ia biasanya sedang mencuci motor di depan rumahnya. Ia akan menoleh pada saya sebentar, mengurai senyum yang saya balas dengan senyum juga. Di desa ini, sesama tetangga sudah biasa saling bertukar sapa, bertukar senyum, atau sekedar anggukan kepala. Saya si orang kota yang biasa hidup di lingkungan yang acuh tak acuh akhirnya terbiasa juga.

Tapi setahun tinggal di desa ini saya baru melihatnya belakangan ini. Orang baru. Sepertinya demikianlah ia. Rumahnya masih di jalan yang sama dengan rumah saya, selalu saya lewati kalau hendak belanja ke warung pagi-pagi. Kadang-kadang ia mencuci motor sendirian, kadang-kadang ada beberapa cowok lain bersamanya, mencuci motor juga atau hendak berangkat entah kemana. Cowok-cowok itu akan menoleh berbarengan pada saya, menganggukkan kepala, kadang-kadang ada yang berani menyapa "Mau ke warung, Teh?" Yang pasti saya jawab demi kesopanan.

Padahal di Jakarta, sekumpulan cowok sok akrab begitu pasti sudah dicap genit kan?

Hari itu saya melihatnya lagi, sedang mencuci motornya. Bertelanjang dada. Hanya punggungnya yang menghadap saya. Lalu terpampanglah tattoo itu. Motif tribal yang keren di punggung sebelah atas. Wow! Saya nyaris terpana.

Tiba-tiba ia menoleh. Ah, sudahkah saya katakan bahwa cowok ini wajahnya lumayan ganteng? Tubuhnya agak kurus tapi atletis, dan tattoo itu menambah nilai plus dirinya di mata saya, karena orang yang memilih gambar tattoo sekeren itu pasti berjiwa artistik.

"Belanja, Teh?" Ia menyapa.
"Iya," sahut saya. Dasar saya si ceplas-ceplos, saya meneruskan. "Tatonya keren deh."
Ia agak terkejut. Mungkin tidak mengira akan dikomentari begitu. "Oh, yang di punggung? Iya ini dibikin udah lama, Teh. Di Jakarta."
Pantas, pikir saya. Di Jakarta banyak studio tattoo yang ahli membuat motif-motif bagus.
"Motifnya Celtic ya?"
"Kok tau?" Ia menatap saya heran.
"Motifnya rumit seperti anyaman, tarikan garisnya tumpang tindih tapi rapi." Saya nyengir.
Ia makin terpana. "Teteh punya tattoo juga?"
Saya tertawa. "Nggak laaah. Kalo ditato juga paling yang temporer sebulan ilang. Tapi temen-temen cowok banyak yang punya tattoo permanen dan suka cerita-cerita."
"Ooooh...."
Lalu tiba-tiba terlihat satu tato lagi di salah satu lengan atasnya. Bergambar sebuah mata.
"Itu di tangannya ada lagi ya?"
"Ini?" Ia menunjukkannya. Saya memperhatikannya.
"Eye of Rah ya? Mata Rah, bukan mata Horus."
"Hah?" Ia menatap saya.
"Itu." Saya menunjuk tatonya. "Untung bukan mata kiri Horus. Itu mata kanan."
Ia tertawa. "Iya Teh, kalo mata kiri nanti saya dikira pemuja setan."

Oh, ia tahu juga perbedaannya. Eye of Horus atau mata Horus adalah gambar mata kiri, artinya dewa perang dan kalau digabung dengan gambar jangka artinya perlindungan setan. Sedangkan mata kanan artinya penciptaan kehidupan baru. Disebut juga Eye of Rah. Saya tahu soal ini karena sebenarnya saya suka tattoo, tapi hanya berani memasang yang temporer :)

Sejak itu saya jadi berteman dengan si tetangga bertattoo. Namanya Galih, pindahan dari Bandung.

Suatu hari beberapa orang di kampung mengkritik tattoo-nya. Mereka menganggap Galih anak berandalan hanya karena punya tattoo di tubuhnya. Picik benar. Tattoo kan bukan lagi monopoli kaum kriminal. Tattoo sekarang sudah menjadi seni artistik. Lagipula tattoo adalah bagian dari kebudayaan tradisional beberapa suku di Indonesia.

Jadi saya angkat bicara. Bukan semata-mata membela Galih. Tapi juga untuk membela diri saya kelak kalau suatu saat mereka melihat saya punya tattoo (temporer, tapi mereka pasti mengira itu permanen).

"Punya tato bukan berarti berandalan, Kang," kata saya waktu beberapa dari mereka berkumpul di pos ronda depan rumah saya. "Tato itu sekarang sudah menjadi seni."
"Ah, seni apa? Seni merusak badan?" Celetuk salah satu dari mereka.
"Orang Dayak dan orang Irian punya kebudayaan pasang tato dalam upacara adat mereka. Kalau Akang ketemu orang bertato di Kalimantan mau langsung dituduh berandalan? Kriminal?"
"Ya itu mah beda lagi atuh Neng."
"Ya sama aja, Kang. Yang bukan orang Dayak atau Irian juga kalo suka sama gambar tato, berhak pake tato."
"Sholatnya kan jadi nggak sah, Neng."
"Yang sholat kan bukan kita. Yang berhak menilai itu Allah, bukan kita. Yang nggak pasang tato juga belum tentu sholatnya diterima Allah."
Mereka semua menatap saya dengan tatapan 'cewek-ini-ternyata-tukang-ngotot.'

"Kang, saya dianggap cewek berandalan nggak sama orang-orang kampung sini?"
"Ya enggak atuh, Neng."
"Nah, saya nggak berandalan, tapi saya punya tato tuh." Saya membual.
Mereka tercengang.
"Iya, saya punya tato. Tapi maaf nggak bisa saya liatin. Masangnya di pantat." Saya langsung pergi meninggalkan mereka ternganga.

Rasain kalian! Saya menahan tawa.

Tattoo yang keren banget kan? ^^


Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, April 12, 2011

Hectic Days

Meskipun banyak yang bilang saya rajin menulis dan tidak pernah kehabisan ide, sejujurnya akhir-akhir ini saya malas menulis. Sedang banyak urusan di rumah dan saya kelelahan mengurus semuanya.

Kami sedang menyewa dua orang tukang potong rumput untuk mengurus halaman depan dan belakang rumah yang luasnya tidak sedikit. Di halaman belakang ada sebuah gazebo dan kolam ikan seukuran kolam renang. Rumput liar di tamannya sudah menjulur setinggi lutut saya. Belum lagi dahan-dahan dan ranting-ranting patah yang berserakan dimana-mana. Saya takut keluarga ular di sana akan bahagia, semakin berkembang biak dan migrasi ke dalam rumah.

Dengan adanya dua pekerja itu artinya saya harus memasak dalam jumlah banyak, menyediakan snack dan kopi atau teh, dan menjadi mandor untuk memastikan mereka tidak merusak rumput jepang di bawah rumput-rumput liar itu, menata ulang taman dan tumbuhan yang ada, mengganti beberapa tanaman yang sudah mati. Dan dalam sekejap saya sudah berubah jadi ahli pertamanan!

Saya juga sedang kesal karena saya butuh laptop baru, sementara laptop saya sedang dipakai adik ipar menulis skripsi. Saya memutuskan membeli netbook, dan Ari yang bekerja di bidang IT berjanji menolong saya memilihkan yang terbaik. Tapi karena teman saya ini sangat perfeksionis, ia butuh empat kali bolakbalik ke pameran komputer di Jogja sana untuk memastikan netbook yang bagus untuk saya. Padahal netbook itu sedang sangat saya butuhkan untuk bekerja dan menulis.

Masih belum cukup itu semua, atap rumah kami mengalami kebocoran di beberapa tempat. Maklum, rumah tua. Saya harus mencari tukang lagi untuk membetulkan atap. Belum lagi urusan sawah dan kebun yang bermasalah karena penggarap kami tidak jujur. Saya baru saja memarahinya karena ia me-mark up harga pupuk sampai tiga kali lipat. Dia pikir saya tidak tahu apa-apa soal harga pupuk. Nanti dulu, Bung! Saya bukan orang bodoh!

Hari-hari saya belakangan ini benar-benar 'hectic'. Bikin saya stress dan jadi sering sakit perut. Saya jadi jemu dan kepingin kabur backpacking lagi. Tapi segala urusan ini masih harus diselesaikan dulu dan Ayah harus benar-benar dalam kondisi sehat kalau akan saya tinggal.

Kadang-kadang saya berpikir, kok saya seperti anak tunggal yang mengurus semuanya sendiri? Adik dan kakak saya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Kepingin ngamuk? Ah, tenaga saya sudah habis duluan....


foto dari sini

Image and video hosting by TinyPic

Saturday, March 19, 2011

Today is Birthday

Pagi tadi, Ibu membangunkan saya yang tidur lagi setelah sholat subuh.
"Retno, bangun! Jangan tidur aja. Beres-beres sana!"
Saya memicingkan mata dan mengeluh. "Masih ngantuk Buuu... semalam bangun jam satu pagi gara-gara suara kucing berkelahi."
Lalu tiba-tiba saya sadar bahwa Ibu sudah meninggal. Saya lalu memandanginya. "Ibu kemana aja? Retno kangen...."
Ibu cuma tersenyum. Senyum kecil yang sama dengan senyum saya kalau sedang di foto. Tidak memperlihatkan gigi.

Seketika saya terbangun. Mimpi. Saya cuma mimpi.

Di ponsel saya melihat tanggal. 19 Maret. Hari ini ulangtahun saya. Itulah sebabnya Ibu datang dalam mimpi. Meski beliau tidak mengucapkan selamat ulang tahun, saya tahu kehadirannya dalam mimpi adalah hadiahnya untuk saya yang sedang merindukannya. Mendiang Ibu memang tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun pada anak-anaknya. Beliau menunjukkan perasaannya dengan tindakan, dengan perhatian. Membuatkan nasi kuning, atau kue, atau memasak menu favorit kami. Seperti itulah Ibu.

"Hey bocah, happy birthday. All the best and many success. GBU." Pesan pendek dari Didit, teman SMP saya masuk ke ponsel pagi tadi.
Saya tertawa. Panggilan 'bocah' itu adalah cara kami saling memanggil antar teman di SMP dulu. Tidak cocok lagi di umur kami sekarang, tapi terasa sangat manis dan membangkitkan kenangan indah masa abege kami dulu.
"Kok tau gue ulang tahun?" Tanya saya.
"Tau dong, elu kan penulis fave gue!"

Ah, rupanya dia masih sering membaca blog ini ya? Ngomong-ngomong, sudah pernahkah saya bilang kalau Didit itu ganteng sampai-sampai fesbuknya penuh dengan perempuan? Hahaha...

Dit, makasih banyak udah jadi temen gue sampai sekarang :)

Ulangtahun tahun ini tanpa Ibu, tapi saya bersyukur mendapat begitu banyak perhatian. Ucapan selamat di fesbuk, di ponsel dan email. Beberapa teman dan sepupu menelepon, beberapa kado sampai di rumah meski tidak saya harapkan. Dan yang lebih berarti adalah doa dari mereka.

Hari ini, saya tidak hanya memanjatkan doa syukur karena telah dipanjangkan umur dan diberi nikmat yang begitu besar oleh Tuhan. Saya juga berdoa bagi keselamatan kita semua. Berdoa untuk orang-orang yang saat ini sedang ditimpa bencana dan kesulitan. Saya percaya Tuhan selalu mendengar doa orang yang berulang tahun.

God bless us. Amen.


gambar dari sini



Image and video hosting by TinyPic

Sunday, March 6, 2011

Nobar in da House

Saya nyaris lupa rasanya menonton film bareng adik saya. Malam minggu kemarin sepertinya saya diingatkan lagi, menonton film dengan dia seperti orang lain menonton film dengan saya. Kami berdua suka heboh sendiri.

Sepupu-sepupu dan sahabat-sahabat saya sering menjauhkan tangannya dari saya di bioskop. Soalnya saya suka mencubit tangan teman menonton saya kalau filmnya tegang. Atau menepuk keras-keras, atau menarik lengan baju. Atau kalau filmnya membosankan, saya suka menggelitik lengan mereka hanya karena iseng. Hahaha.

Padahal kemarin itu kami hanya menonton di rumah. Di ruangan yang kami namai 'kamar hiburan' karena isinya rak-rak buku kami, TV, DVD player dan peralatan audio. Kami berdua duduk di lantai beralaskan karpet. Saya sambil memangku laptop dan mengetik, ia bersandar di bantal duduk besar yang dibuatkan mendiang Ibu untuk ruangan kami itu. Tapi sepertinya kami betul-betul berisik.

Kami menonton 'Apocalypto.' Pertama kali untuknya, kelima kali untuk saya. Film yang harusnya cukup mencekam di scene pembantaian suku Jaguar Paw, malah tidak terasa mengerikan gara-gara komentar-komentar konyolnya yang saya timpali sama konyolnya.

"Mel Gibson payah ah. Pemainnya jelek-jelek gini!" Gerutunya.
"Yeee suku indian jaman kuno nih. Masa dibikin bule-bule dan ganteng. Tapi yang jadi Jaguar Paw ganteng ya, Jay? Hehehe."
"Apanya yang ganteng!"
"Eh, banyak fansnya tuh si Rudy Youngblood! Aslinya keren tau! Sekarang aja didandanin kumel."
"Gue rasa si Rudy bertemen sama Rhoma Irama."
"Heh?"
"Itu, namanya Youngblood. Artinya darah muda kan? Dia pasti penggemar Rhoma Irama. Lagu favoritnya yang judulnya Darah Muda."
Saya ngakak.

Dalam suatu scene lagi, tiba-tiba adik saya berseru. "Curang! Curang nih si Mel Gibson!"
Saya mendongak dari layar laptop saya. "Curang kenapa?"
"Tuh, bininya si Jaguar Paw cakep. Bini temen-temennya jelek-jelek. Kasian gue sama mereka."
Saya ngakak lagi.

Sayangnya, karena saya sudah hapal film itu sehingga tidak merasa tegang menontonnya, ia tidak kebagian cubitan dan gebukan keras saya. Biasanya sih ia satu-satunya orang yang pasrah. Mungkin karena saya juga suka pasrah mendengar komentar-komentar konyolnya sepanjang film. Sepertinya kami sudah saling toleran.

"Gue tau kenapa lu suka nonton film ini sampe berulang-ulang."
"Kenape?"
"Banyak bokong cowok Indian keliatan jelas kan?"
"Sok tau!" Saya tertawa, kali ini benar-benar menggebuk lengannya keras-keras.

fotonya masih Rudy Youngblood yaaa hehehe



Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, February 23, 2011

Pasti Mirip Aku

Siang itu saya mengobrol lagi dengannya setelah sekian lama. Saya bilang saya backpacking ke kotanya tempo hari. Dia bertanya: ketemu idolamu?
"Siapa?" Tanya saya heran.
"Mas X." Ia sebutkan nama seorang caver senior yang pernah caving bareng saya beberapa tahun lalu.
"Idolaku kan Jang Geun Suk."
"Siapa itu?"
"Aktor Korea."
"Pasti mirip aku."
"He?" Lalu saya terbahak-bahak.

Siang itu mengobrol dengannya membuat saya teringat masa lalu. Ia yang dulu pernah menyakiti saya, yang akhirnya saya maafkan. Ia yang kemudian menjadi teman dan pelindung saya. Dan kami justru semakin akrab setelah tak lagi pacaran. Tidak. Kalian jangan memandangi saya seolah-olah kami akan rujuk lagi. Itu tidak akan terjadi. Sebagai kekasih, ia sangat tak bisa dipercaya. Tetapi sebagai teman sangat sebaliknya.

"Kirain kamu sudah menikah sama dia." Ia, seperti biasa, malas menyebut nama.
"Apa kamu merasa mendapat undanganku?"
"Siapa tahu kamu memang nggak mengundangku."
"Sejahat itukah aku?"
"Ya siapa tahu kamu nggak mau ngasih aku pelangkah kamera Leica itu."
"Ya ampuuun! Aku memang nggak mau, tapi tetap saja kamu akan kuundang!"
"Jangan-jangan kamu belum melupakan aku ya?"
Oke, yang ini dia pasti sedang bercanda kan? Gaya bercandanya yang jayus itu. Sok kege-eran, sok kecakepan, sok imut...
"Jangan bikin aku ngakak siang-siang, Mas. Aku lagi haid. Lemes."
"Ah, nggak mau ngaku."
"Aish! Menyebalkan!" Saya terkekeh.

Selepas percakapan siang itu, saya jadi kangen padanya. Terbayang sosoknya berdiri menunggu di depan mall tempat kami biasa nongkrong dan cuci mata. Setiap kali, saya selalu berlari menghampirinya dan menggandeng lengannya sambil merengek seperti anak kecil, 'aku kangeeen...' Ia hanya akan menatap saya dengan wajah tenang, menyimpan rasa senangnya dalam hati.
Kadang-kadang kami keliling kota naik bus Trans, kadang-kadang naik motornya. Tapi saya lebih suka kami naik bus, jadi saya bisa memergokinya sedang menatap saya diam-diam, yang selalu saya balas dengan senyum paling manis.

Well, entah apa yang ada dalam pikirannya. Menyesal telah membuat hubungan kami berakhir? Kalau begitu, senyum manis itu adalah balas dendam saya.

"Kamu sekarang seperti apa? Masih sexy?" Bercanda yang jayus lagi.
"Maaf ya. Aku nggak pernah nggak sexy."
"Hehehe."
"Kamu di Jakarta?"
"Di Kalimantan."
"Hmm... hitam lagi ya?"
"Nggak juga."
"Masa? Coba aku lihat. Kesini, setor muka!"
"Nggak ah. Aku sekarang nakal. Berbahaya."
"Huh! Tapi kamu selalu takut sama aku. Nggak pernah berani kan? Soalnya kamu tahu aku segalak apa dan akibatnya bisa sangat menakutkan. "
"Ya." Saya bisa merasakan senyumnya di kejauhan sana.
"Aku off dulu ya." Ikon kiss. "Daaaah!"
"Kiss-nya selalu ikon! Payah!"
"Hahaha... ya terima aja itu!"

Kamu bukan pacar saya lagi, jadi jangan berharap lebih. Siapa yang mengusulkan agar kita berpisah? Kamu. Siapa yang memakai alasan 'perbedaan keyakinan' padahal mungkin kamu punya alasan lain? Kamu. Siapa yang ternyata masih berhubungan dengan mantan kekasih selama kita pacaran dan mungkin itu adalah alasan yang sebenarnya dari perpisahan kita? Kamu.

Tentu saja saya tidak mengucapkan semua itu padanya. Bagi saya, masa lalu adalah masa lalu. Dan saya tidak mau menyakiti hati orang yang kini menjadi teman baik saya.

Siang itu, percakapan konyol dengannya di kotak messenger membuat saya terhibur dan tersenyum seharian. Mungkin karena dia bukan lagi kenangan pahit.


foto dari sini


Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, February 8, 2011

Miss You All!

Hai guys!

Kangen kalian! Minggu ini saya sibuk sekali. Ada dua acara keluarga besar di rumah saya. Mentang-mentang rumah saya paling besar kali ya. Semuanya kumpul bocah deh disini.

It's ok. Saya capek tapi gembira. Sejak Ibu meninggal, rumah tua ini sepi banget. Saya yang biasanya bawel dan ceriwis juga sekarang lebih senang menghabiskan waktu di depan lappy atau menonton dvd. Jadi waktu mereka bilang mau pinjam tempat, saya langsung menjawab dengan semangat 45: BOLEEEEEEH!!!!
Hehehe...

Saking capeknya, saya nggak tahu harus menulis apa. Soalnya mengisi blog yang ini kan biasanya harus semedi dulu beberapa hari. Gayaaaa! Hahaha...

Jadi hari ini saya cuma numpang lewat aja ya.
Sekalian kasih tahu kalau saya punya blog baru berbahasa Inggris. English saya sudah lama tidak terpakai, takut karatan. Nggak karatan saja bahasa Inggris saya tidak canggih, apalagi kalau lama tidak dipraktekkan.
Jadi maafkanlah kalau bahasa Inggris saya di blog itu belepotan, oke? Hehehe...

Di blog itu, seolah-olah saya bukan saya. Padahal itu masih saya. Di sini sisi Enno si penulis romantis, di sebelah sana sisi Enno yang childish dan sassy. Kok bisa gitu? Aaah... Nggak usah heran, saya memang complicated kok :P

Oke deh... pinjam istilah anak-anak Kaskus, cekidot gan!






PS: Kalau mau komen pakai bahasa Indonesia juga nggak apa-apa kok. Nyantai aja... ehehe



Enjoy the ride! ^_^

Image and video hosting by TinyPic

Thursday, December 30, 2010

Semalam di GBK


Semalam lautan merah ya di sana? Ya. Saya pernah menjadi bagiannya. Di stadion yang dibangun Bung Karno berpuluh tahun silam. Tempat saya nongkrong dan lari pagi setiap hari Minggu. Lautan merah. Membuat saya kangen hari-hari menggawangi rubrik olahraga.

Semalam, saya cuma bisa melihatnya di televisi. Teriak-teriak sendiri sambil mengunyah keripik dan minum kopi. Timnas kita berjuang dengan gagah berani. Sungguh, saya nelangsa sendiri. Biasanya saya di sana, duduk bersama yang lain di tribun wartawan. Saling menepuk bahu dengan rekan sejawat dan tertawa. Meneriaki jagoan kita, mengacungkan jempol pada pemain yang saya kenal. Duh, kangen saya membuncah!

Tapi bukan itu. Bukan itu yang mau saya catat tentang semalam. Saya cuma ingin bilang saya bangga kalian. Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang semalam melebur menjadi satu. Nasionalisme yang kental tercium hangat di udara, sampai ke ruang duduk saya, di rumah besar yang sepi ini.

Ternyata kita bisa akur kan. Bisa kompak dan bersatu. Bisa saling bertukar senyum dan sapa. Tak ada muslim dan non muslim. Tak ada pribumi dan nonpribumi. Tak ada Jakmania dan Bobotoh. Tak ada bonek, tak ada perusuh. Kita Indonesia. You guys, kenapa baru menyadarinya semalam? Kenapa setiap hari tidak bisa begitu? Kenapa hanya untuk sepakbola yang cuma beberapa minggu?

Sudahlah jangan pedulikan negara tetangga itu. Akui saja mereka sudah berjuang dengan baik. Sebaik kita yang hanya belum beruntung saja. Dan tidak usah ribut menyuruh seseorang mundur. Nanti juga dia mundur sendiri. Belum kena batunya saja dia itu.

Hey kalian, para abege! Meski tak jadi juara, masih cinta Irfan Bachdim? :)


PS: for Timnas Garuda and Mr Riedl, you guys, always the best! Next time will be better, right? ^^



Image and video hosting by TinyPic

Friday, October 29, 2010

The Wardrobe #2

Kemarin Ridwan bilang belakangan postingan saya seperti anak abege. Kemarin soal pakaian, sebelumnya memajang foto aktor ganteng.
"Iya kayak abege ya Wan?"
"Inget umuuur!"

Hahaha. Sepertinya pelan-pelan saya menjadi lebih feminin. Lihat saja pilihan tshirt yang saya pakai belakangan lebih berwarna. Padahal biasanya saya lebih suka warna-warna gelap dan putih.

Ada beberapa email dari teman-teman yang bilang 'seragam perang' saya menginspirasi mereka. Dan kata mereka, saya masih tetap bisa memakainya meskipun sudah tidak ikutan 'perang' lagi.
Lalu ada yang penasaran, sekarang pakaian 'perang' saya seperti apa. Ah, sekarang sih bukan perang namanya. Sementara ini saya sedang jadi 'pekerja rumah tangga'.

Yang di bawah ini, pakaian 'kerja' saya kalau pergi belanja ke pasar, ke apotek, ke rumah Usi menengok Ibu, menyapu halaman dan memasak.


Tee shirt



Short pant jeans


Black kimono top


Cargo pants



Embroidery kimono top


Denim skirt



Thai fisherman pants


Wedge sandals


Gladiator sandals


Flip-flops



Knitting bag
My fuchsia frame glasses


Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...