Showing posts with label Aurora Borealis. Show all posts
Showing posts with label Aurora Borealis. Show all posts

Saturday, December 24, 2011

Setiap Sakit

Bahkan ketika kau berpikir ini selesai
Malam masih tetap sepekat ampas kopi
Bagiku dunia menyempit selingkar jari
Menghimpitku dari dua sisi kenangan yang meraja
Memenuhi ronggarongga tak kasat mata

Bahkan ketika kau berpikir ini membebaskan
Matahari tak bisa mengoyak selaput mata
Yang kututup erat dengan mimpi paling purna
Menenggelamkanku pada samudera,
beting karang dan karam

Lihat apa yang sudah egomu lakukan
Aku. mati.

-rumah sakit, di antara aroma desinfektan, 08:52, 23 Sept 2011-

.......

Itu ditulis waktu saya masih patah hati gara-gara si Pejalan dari Negeri Pagi, untuk Arus Kata-perkumpulan penyair yang saya ikuti.
Sampai sekarang saya suka terheran-heran sendiri. Setiap kali saya sakit, baik hati maupun fisik, kata-kata mengalir deras dari otak.

Kali ini juga. Sudah dua hari saya demam, dan plot Kisah Abe yang tadinya mentok tiba-tiba seperti banjir bandang dari Bendungan Katulampa. Melimpah. Sampai saya merasa sayang untuk tidur, memilih melawan pengaruh obat dan menuliskan semua kata-kata yang bermunculan seperti disulap.

Geez! Masa saya harus sakit-sakitan dulu baru bisa membuat tulisan bagus!


“One day I will find the right words, and they will be simple.”
― Jack Kerouac, The Dharma Bums


Virginia Woolf's writing table at Monk's House, Sussex, England, 1967.
Photo by Gisele Freund.
pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Saturday, November 26, 2011

Ingatan

Maka belakangan ini kau mengenalku sebagai mahluk nyinyir yang selalu menyindirmu, benar?
Aku menjadi monster, orang yang tak lagi kau kenali. Bukan penulis favoritmu, bukan kekasih yang dulu menyapamu penuh cinta, bukan pula perempuan yang kau anggap terlalu baik untukmu (meskipun mungkin itu dustamu saja).

Tetapi ketahuilah bahwa aku tak bermaksud menyakitimu. Aku sedang menunjukkan padamu bahwa aku marah, aku luka, aku benci kau berdusta. Dengan segala ketidakkonsistenanmu yang kronis itu, dengan kebimbanganmu yang tak berujung pangkal itu, tentang janji-janjimu yang kau palsukan atas nama Tuhan. Tidak tahukah kau bahwa aku sebenarnya ingin menarik tanganmu lagi dan berkata. 'Hey, kita akan baik-baik saja setelah ini'?

Tetapi kau malah memakai topeng dan menari-nari di atas lubang yang dulu susah payah kujauhkan darimu, padahal kau seribu kali lebih pandai dari seekor keledai.

Tahukah kau, aku bahkan masih mengingatmu ketika aku melakukan sesuatu yang sama-sama kita sukai. Aku mengingatmu ketika terguncang-guncang di atas mobil beroda besar yang menggilas jalanan berbatu diapit jurang. Aku mengingatmu ketika duduk di depan tenda dan api unggun yang menghadap ke laut lepas. Mengingatmu ketika sunrise datang dan berpikir bahwa kau akan menyukainya juga.

Aku mengingatmu ketika menyusuri pematang sawah menenteng kamera hanya sekedar memotret belalang yang melompat dari daun ke daun. Mengingatmu ketika menyuapkan makanan enak ke mulutku dan berpikir kamu mungkin akan menghabiskan jatahku.

Aku mengingatmu ketika banyak hal yang menyenangkan terjadi sehabis kau meninggalkanku. Berpikir bahwa Tuhan sedang menghiburku, tapi tanpamu rasanya tak asyik lagi.

Aku mengingatmu, bertanya-tanya apakah kau masih tahan bertapa sendirian di Galauland.
Satu-satunya yang pernah kau ucapkan untukku hanya maaf. Tetapi aku tak butuh kata maaf itu.

Aku sudah memaafkanmu, bahkan sejak selesai kubaca surat perpisahanmu.

Ingatan atasmu adalah benang laba-laba, sarang yang tak pernah selesai, merajut diri sendiri, tapi juga tak pernah bisa habis kubersihkan.
-Hasan Aspahani, Ingatan



Aku marah karena kamu menjauh dan belum move on...
I'm sorry I forget the pict source, pls claim :)

Image and video hosting by TinyPic

Thursday, November 17, 2011

Labil

Barangkali kau tengah bersyukur telah mencampakkan aku. Menaburkan garam padaku, seperti pada seekor lintah yang menempel mengisap darah, sampai terpental jatuh dengan rasa perih sekujur tubuh.
Tidak apa. Sekarang aku baik-baik saja. Lebih merasa bersyukur daripadamu, karena kusadari sesuatu. Kamu terlalu labil untukku.

Aku tidak pernah membencimu. Tidak akan. Aku hanya merasa iba. Kau berusaha keras untuk sempurna dan mengharapkan orang lain juga sempurna. Adakah itu berguna? Kau malah terkucil di sudut sana. Berpura-pura mengabaikan dunia. Lalu sedih. Lalu sepi. Lalu galau. 

Love is sometimes not getting any easier, is it?
We broke the frame of a kite, in a windy fusion
For too long it just might, the black string was loosened

Di hari-hari itu betapa aku mencintaimu. Kau tidak akan mengerti rasanya, karena kau memang hanya berpura-pura. Terkadang tidak mudah bagiku memahamimu, tapi aku setia mengikuti arahmu. Tahukah kau, saat aku meraba-raba dengan hijabku. Kaulah satu yang menguatkanku, meski bukan karenamu kulakukan kewajibanku.

Kau bahkan tak pernah bertanya sebesar apa arti dirimu bagiku.

Dangled and whirled lightning, in the sky,
can no more be at sight, I want to twirl the untied:
before all blurs that cannot be right...

Tentu. Tentu saja aku tahu. Bagimu inilah yang terbaik, tanpa kau sadari bahwa kau meremehkan luka yang kuterima. Kau berpikir aku sudah pernah mengalaminya, baru-baru ini saja. Cerita singkat kita apalah artinya. Kau berpikir lukanya tak akan sama, dampaknya ringan saja. Kuberitahu kau faktanya: kau hampir membuatku memutuskan mati!

Kau singkirkan aku atas penilaianmu yang sekejap itu. Kau pikir telah mengenalku, padahal tidak. Kau hanya bergulat dengan banyak teori. Mengira keputusanmu terbaik untuk kita. 

Sebenarnya kau bahkan tidak memahami apapun. Itu yang terjadi. Kau hanya egois. Itu saja.


The rain is tears falling without amend yet already tasteless in the end
Love is sometime not always arrive, is it?


Air mataku sudah habis. Tak ada lagi untukmu tangis. Aku baik-baik saja, kuharap kau juga. Pada akhirnya kuhadapi kenyataan yang ada. Kisah cinta tak harus berlabuh dengan sempurna.

"I want to cry" you said. 
I may soon become at ease, as I listen and listen, 
to the last song that is about to cease
a three-quarter hearted masterpiece, 
by an almost disbanded band.
-puisi dari Hasan Aspahani, The Last Song of an Almost Disbanded Band


Don't worry, I'm fine now
pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Friday, November 4, 2011

Intermezzo #5. Aku Bukan Aku

Aku ingin sekali menulis. Di sini. Sesuatu yang lain. Yang bukan keluhan. Bukan kegalauan. Bukan kesedihan yang masih berdiam di pojokan hati terdalam.
Percayalah, aku berusaha. Tapi belum bisa.
Aku bukan lagi aku yang berminggu-minggu lalu menuliskan syair cintanya dengan hati yang riang,
dan harapan yang membumbung ke awang-awang.

Aku menjadi orang lain sekarang. Seperti ada dua orang berdiam dalam satu tubuh. Pribadi ganda. Split personality.
Yang satu masih aku yang lama, yang riang gembira. Lalu datanglah seseorang yang baru, yang selalu nyinyir dan pahit.
Yang menghabiskan waktunya untuk menulis syair-syair sarkatis kepadamu.

Ya. Aku akan menudingkan telunjukku padamu. Saat ini. Jika kau ada di depanku.
Karena aku yang dulu sekarat dan si sarkastis mulai berkuasa.
Tapi ini aku sekarang, si bahagia, menulis untukmu dengan sisa-sisa keberadaanku.
Untuk berterima kasih atas segala kejutan pahit yang kau berikan padaku.

Setidaknya kau membuatku kurus, membuat mataku sembab, membuatku jadi susah tidur.
Membuatku punya banyak hal yang harus dipikirkan, sampai begitu sesak dalam benakku.
Hidupku berwarna. Tak lagi hanya bahagia.

Thanks God, it's because of you, darl...


“Why are you leaving me?
He wrote, 'I do not know how to live.
I do not know either but I am trying.
I do not know how to try.'
There were some things I wanted to tell him. But I knew they would hurt him. 
So i buried them and let them hurt me”
― Jonathan Safran Foer


Why are you leaving me? .. then you're still silent
pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, November 2, 2011

Intermezzo #4. After You Dumped Me

Hei, tahu tidak? Baru saja terpikir olehku betapa pandainya kau berbohong.
Semua yang pernah kau katakan padaku itu. Yang kupikir datang dari lubuk hatimu.
Ternyata hanya usahamu menutup ragu.

Kau tidak sungguh-sungguh, ketika mengajakku melihat masa depan.
Semua mimpi-mimpi yang kita satukan, semua angan yang kita abadikan, dan bahkan kuhapus jejak masa laluku untukmu.
Semua itu hanya lelucon.

Kau berpikir lihat saja nanti.
Jalani ini dulu. Sebelum semuanya ditepiskan dalam semalam.
Mudah bagimu, karena bukan kau yang memunguti keping-keping hati patah.

Maaf jika aku sinis.
Karena kau diam saja.
Kau diam saja di sana, di tempatmu menekuri rasa bersalah.
Jika saja kau menyambut uluran tanganku untuk bicara
dan kita, dengan kepala dingin, menjernihkan masalah
Segalanya berakhir dengan baik sejak semula.

Gara-gara kau,
aku terus berpikir, berpikir, berpikir tiada henti.
Tertawa dalam kesedihan, meski itu lebih baik daripada berdiam diri dan bersembunyi dari dunia.
Kau sudah memilih ini, darl.
Kau terkucil dari dunia yang menyenangkan.
Dan aku berpikir, berpikir, terus saja berpikir.




Let him know that you know best
Cause after all you do know best
Try to slip past his defense
Without granting innocence
Lay down a list of what is wrong
The things you've told him all along
And pray to God he hears you

-The Fray, How to Save A Life-


 ... and pray to God he hears me
pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Thursday, October 27, 2011

Pada Empat Dini Hari

Pada empat dini hari. Aku terbangun, mendapati rindu yang menggumpal sampai tenggorokan.
Kumuntahkan. Karena itu penyebab mimpiku yang seperti film India barusan.
Rindu yang memalukan. Rindu yang tak tahu diri.
Aku terus berselimut dengannya, sementara kau, obyek rinduku yang akut, tengah bermimpi tentang benteng-benteng Ottoman dan jalanan Istanbul. Bukan aku.

Tetap saja tak bisa kucegah diriku menolak menghapusmu dari daftar topik mimpiku.
Kau sudah telanjur ter-bookmark disitu.
Menyatu dengan sistem, seperti virus paling canggih yang belum punya penangkal. Dan aku yang sejak dulu memang bebal, tak bersedia di-install ulang.

Dulu pernah kutulis untukmu tentang seekor angsa yang berenang sendirian di kolam sunyi.
Angsa itu sudah mati, bung. Ketika kau memutuskan menangkapnya untuk hiasan kolam kecil di depan rumahmu. Beberapa saat kemudian kau merasa ia tak sesuai untuk hidupmu.
Kau melepaskannya di negeri antah berantah. Membuangnya kalau aku boleh berkata jujur.
Angsa itu bersedih.
Dan mati.

Pada empat dini hari. Yang tersisa untukmu sepelukan rindu.
Kusembunyikan cinta yang masih menyala di bawah bantal. Demi kau agar merasa nyaman.

Suatu hari darl, kau akan menyadari bahwa seorang perempuan telah kau sia-siakan. Seberapa banyak kau memberinya kesedihan.


Engkau campur-baur dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba, melupakanmu.



Donut! I want some... :)
pict from here



Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, October 25, 2011

Intermezzo #3. That Girl

Masih ingat gadis itu?
Yang selalu menulis hal-hal indah tentangmu?
Yang membagi mimpi-mimpinya denganmu, 
sementara banyak hal tak pernah dibaginya pada orang lain?
Masih ingat gadis yang kau tarik tangannya agar tak jadi berpaling pergi?
Gadis itu masih tetap berdiri di tempat kau meninggalkannya hari itu.

Masih ingat gadis itu?
Yang kau beri ragu lalu berlalu? 
Sesungguhnya ia hanya ingin kalian baik-baik saja.
Dirinya. Kau juga.
Ia berharap kau bahagia. Tetapi ia hanya tahu satu cara, dan kau tak menginginkannya.
Meski begitu, apapun itu, yang membuatmu bahagia, ia selalu mendoakanmu.
Dari tempat ia berdiri mengenangmu.

sorry I forget the source, plz claim it if you're the owner :)


Image and video hosting by TinyPic

Saturday, October 22, 2011

Intermezzo #2. When Writer's Block Comes

Tentu saja kau harus merasa bersalah, darl...

Kau sudah membuat hatiku retak
Mengherankan bagiku saat kau memintaku mengerti mengapa kau melakukan itu -menceraiberaikan mimpi yang kita bangun dan kupikir akan kita rayakan di ujung senja saat rambut kita telah memutih.
Dan tentu saja aku akan terus bersikeras agar kau tak menghindar.
Karena aku lelah kita begini bisu, karena bukan ini yang biasa kita lakukan.

Kau menganggapku rumput liar yang bisa kau cabut karena merusak pemandangan.
Padahal rumput pun butuh alasan mengapa pemandangan menjadi penting ketika ia tak lagi menjadi bagian. Tetap saja kau bersikukuh pada alasan semu tentang ragu.

Ingat kan gunung di belakang rumahku?
Kau melihatnya dari tempat kita berdiri, begitu dekat seolah bisa disentuh ketika tangan terulur.
Gunung itu pagi ini mengirim kabut. Pekat. Memberati perasaan.
Perlahan-lahan rinduku menjadi beban.
Banyak hal yang ingin kubagi seperti dulu, tetapi kau sembunyi dalam diammu.


Ini bukan bulir embun, tapi airmata mataku yang rabun. Kabut kesedihan, betapa betah bertahan. Menunda, mempermalukan hujan.
- Hasan Aspahani (one of my fave poets)

perlahan-lahan rinduku menjadi beban...
pict from here

ditulis dini hari, sambil bersin-bersin dan kehilangan ide :)

Image and video hosting by TinyPic

Thursday, October 20, 2011

Intermezzo

Tiba-tiba ingat Rona, dan jadi kangen. Waktu bertemu dengannya dan Mbak Uci sahabatnya, saya tidak bisa ikut menggila bareng karena sesuatu hal.

Kemarin pada saya ia berkata begini:
"No, jangan-jangan orang-orang ngira aku kalem ya, padahal kan aku gila."

Saya langsung cekikikan, ingat pose-pose gilanya di depan kamera sebulan yang lalu. Berdiri di bawah pohon dengan mulut menganga seakan hendak mencaplok buah pohon sejenis pandan yang sebesar nangka. Berdiri di ujung rakit dengan tangan terentang bak Kate Winslet di film Titanic. Berjalan ke tengah petak kecil tanaman padi dan menyembulkan wajah dengan mimik lucu di tengah rerimbunan batang padi itu kepada saya yang tengah melamun. Berlari-lari kecil kesana kemari, cengengesan, bersuara ribut dan lantang.

Memang sih, tidak sekalem tulisan-tulisannya. Hehe. Tapi jelas, dia teman yang sangat heboh dan so fun.

..................

Dan buat kamu. Saya ingin hari itu dihapus dari sejarah.
Hari ketika saya menyadari bahwa perasaan saya bukan main-main, seperti yang saya kira sebelumnya. Hari yang ternyata membuatmu berpikir sebaliknya dan memutuskan untuk bermain-main saja.

Saya selalu berpikir. Selalu menyesali. Jika hari itu tidak ada, barangkali saat ini kita masih bersama.

I think... maybe you loved me.
Maybe.
But you think that I’m not enough for you.
I knew this was going to happen.
I’m not angry, either.
I should be, but I’m not.
I just feel pain. A lot of pain.
I thought I could imagine how much this would hurt.

But I was wrong.

baydewey, sumpah aku nggak marah...
pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Monday, October 10, 2011

Will Never Be Okay

Air mata yang panas dan buruk, dan ketika luapannya berhenti, jika bisa berhenti, mataku akan menjadi begitu sembab sehingga aku hanya memiliki garis bertepi merah untuk melihat.

-The Thirteenth Tale, Diane Setterfield-

...........

Waktu bukan jenis mahluk yang sudi menunggu. Kubilang tunggu, ia terus saja berlari, berusaha membuat ingatan memudar, kenangan memuai. Sudah hampir sebulan berlalu sejak kamu membuatku menangis malam itu dan malam-malam sesudahnya. Kamu pasti berharap waktu akan membuatku lupa. Tapi itu tidak berhasil padaku.
Sementara itu kamu mengucilkan dirimu ke sudut paling gelap.
Menunggu. Mengamati.
Mencari tanda-tanda bahwa akhirnya aku akan baik-baik saja.

Baik-baik saja? Begitukah kiramu?
Mana bisa aku baik-baik saja setelah kamu banting aku dari ketinggian sekian ribu kaki.

Tahu tidak apa yang paling menyedihkan dari semua ini?
Setelah aku hanya tinggal serpihan yang nyaris tak bisa disambung lagi, setelah semua air mata dan menyalahkan diri sendiri yang sangat parah itu, perasaanku padamu tidak berubah.

Dan kamu masih saja berdiam di sudut itu. Sudut yang kamu pikir tak terlihat olehku, padahal aku melihatmu keluar diam-diam dengan penyamaran.
Lakukanlah selama yang kamu mau.
Tapi ketahuilah bahwa itu menyiksaku.

Masih belum cukup?

That three words that I always say to you suddenly, do you still remember my laughter when you're blushing? But now, I only have tears...




pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Thursday, October 6, 2011

Ketahuilah Bahwa...



If you wake up all of a sudden in the middle of the night
If you get lost in your thoughts looking into the darkness
If you feel a warmth on your cold hands
And if the alarm clock rings times that are too late
Know that I am thinking of you

.............


Kemarin....

Di tepi danau itu ada pohon-pohon besar, tempat angin bermain-main, menyelinap di antara dedaunannya yang tumbuh bergantian sepanjang abad-abad yang merangkai sejarah. Dan aku mengamatimu berdiri menerawang di bawah pokok-pokok dahannya yang mirip kanopi. Tanpa kau ketahui. Tanpa kau sadari. Karena kau terhanyut dalam duniamu sendiri.

Dari sekian juta frasa yang kita rangkai dan kau simpan dengan sangat baik di laci ingatanmu yang tajam, aku lupa memberitahumu satu hal. Bahwa terkadang aku peka seperti Jasper Hale, yang bisa merasakan emosi. Aku merasakannya mengambang di udara, jiwamu menyurut dariku pelan-pelan. Aku merasa kau menarik diri jauh ke dalam inti batinmu. Memeluknya erat, menyembunyikannya dari hatiku. Aku tahu. Sungguh aku tahu.

and this confession, I guess, make you more believe that I was too good to be true as you said once. 
Does it scrape over your ego again?

Seharusnya kau tak perlu mewujudkan hari itu, bukankah begitu? Seharusnya kau tak perlu berpura-pura  menghayati 'kita' jika di tengah jalan kau mengalungkan jerat ke leherku dan membunuhku dengan sekali tarik. Kau berharap 'langsung mati' tidak membuatku menderita. Kau salah, aku berubah menjadi zombie, dan itu lebih menyakitkan.

the day when looking at you and I love you more
is the day of my verdict of death


Jauh sebelum itu...

Kadang-kadang mereka bisa menebak siapa yang kucintai itu dan bertanya padaku sambil menunjukmu. "Jadi dia?" Aku tak bisa mengelak dan hanya bisa mengiyakan.

Tahukah kau perasaanku setiap kali mengangguk dan berkata 'ya'? Rasanya seperti sungai yang mengaliri lembah dengan airnya yang sedingin salju. Menetap dengan kesejukannya dalam rongga dadaku. Seperti mawar yang kuncupnya mekar di pagi hari, perlahan-lahan dalam belaian matahari. Seperti cahaya yang menembus kabut menerangi segala yang tadinya suram.

Nothing less. Nothing more. You complete me.

Hari ini....

Apa gerangan yang sebenarnya ingin kau temukan dalam diriku? Aku seperti saputangan yang terjatuh di antara pematang yang kau lewati saat menuju rumah. Lusuh, berbau dusun dan sikapku begitu kusut terpengaruh kebekuanmu. Apa yang kau inginkan dari seorang gadis yang menyimpan janjimu dalam sakunya setiap hari? Sudah pernah kutanyakan padamu, akan menyesalkah kau padaku. Kau janji tidak. Tapi nyatanya...

Do you remember the day when you pull my hand, asked me to open my heart to you?
The history should have ended that day, when I was able to withstand the pain of the scar. 
But now I'm ruined.

Angin di pepohonan raksasa itu masih berkesiut di antara kanopi-kanopinya yang menaungi tanah. Air danau masih tak beriak seperti saat kita tinggalkan waktu itu. Seekor burung ingin menyampaikan rindunya kepada ranting-ranting pohon teureup di tengah pulau tapi sayapnya terluka. Kau telah menembaknya dengan semena-mena.

and you're still hiding.
there will never be an adequate explanation for what you did. 
nonetheless, I wanted to hear directly from you.


If you wake up all of a sudden, one night among all the nights
If you hear the chirping of a poor, sorrowful bird at a distance
If a gazelle is crying on the mountains, alone
And if a black rose grows on my grave one day
Know that I love you




pict from here



catatan:
Jasper Hale adalah tokoh vampir di novel/film Twilight Saga, yang memiliki kemampuan merasakan emosi dan suasana batin seseorang atau suatu kelompok.

Bait puisi pertama dan terakhir adalah kutipan yang diterjemahkan dari Bir Gün, karya penyair Turki Ümit Yaşar Oğuzcan. Bait dengan tulisan miring milik saya sendiri.


Image and video hosting by TinyPic

Monday, October 3, 2011

The Tree & The Bird

"Setiap kali tidak bahagia, saya membayangkan pergi ke rumah lain, kehidupan yang lain..."

-Istanbul, hal 18-19, Orhan Pamuk-

.............


Seperti itulah angin yang menerbangkan sebilah pisau ke sarang seekor burung di ranting jambu. Mata pisau itu berkilauan menancap tepat di jantungnya. Mengalirkan darah merah muda yang semula mengaliri dirinya dengan rasa percaya. Tumpah ke tanah, terserap akar-akar jahat yang menunggu sejak lama dengan firasat purba: 'si burung yang mudah terpedaya akan mati karena kebodohannya.'

Dan di sana berdirilah pohon besar itu. Kokoh seperti sediakala. Tempat semula burung hinggap, berharap membangun sarang selamanya. Pohon yang berjanji dengan segenap dahannya, menjaga dari badai dan angin yang berontak saat kemarau. Melindunginya dari hujan, dan mengizinkannya terbang kemanapun mau selagi ia tetap ingat untuk pulang.

Pohon itu, yang akarnya tak sejahat akar-akar jambu yang haus, berdiri di tepi danau. Tempat mereka bercermin dan saling tersenyum satu sama lain, bercakap dalam bahasa yang hanya bisa dimengerti para pecinta.

"Tahukah kau," kata si burung suatu hari, sambil mengepakkan sayap-sayapnya, "di seberang danau ada sebuah padang. Rumputnya seperti beludru, dengan bunga-bunga yang wangi seperti madu. Kau bisa mencium aromanya bukan? Aku ingin ke sana sebentar saja. Tentu kau boleh ikut kalau kau mau."
"Pergilah," kata pohon. "Kau terlalu indah hanya untuk berdiam di sini bersamaku. Kau mungkin akan bosan dan melupakan cara terbang. Pergilah. Di sana barangkali ada pohon-pohon yang lebih kokoh, lebih sesuai untuk sarangmu. Aku hanya sebatang pohon yang lebih suka menjaga danau."

Pohon itu menggoyangkan dahan tempat si burung bertengger. Menjatuhkan sarang yang separuh dibangun. Belum lagi sempat ada telur-telur di sana. Ranting-rantingnya porak poranda, seperti juga hati si burung.

Si burung terusir pergi. Mengepakkan sayapnya yang luka, terbang tak tentu arah. Lalu di dahan jambu itu ia mati.

..............

Dear Tree,

Wherever I go, I'll always come back to you. Nothing is impossible. Nothing that can not be for love.
You don't know that I'd rather not fly everywhere. That I would prefer not to be a nobody. Because being with you is enough.

But you give up, so you never know...

Love,
Bird

Kau tahu, mungkin seharusnya dulu aku menjadi batu
lalu tenggelam ke dasar kolam
mengamati dunia dari kegelapan
di antara air, ganggang dan planktonplankton di permukaan
Menjadi batu
Sesederhana itu



BUT I CAN'T. pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, September 13, 2011

An·a·lyze

Pada akhirnya jarak itu menipis. Tak lagi terentang seperti kabel-kabel listrik di tiang abu-abu itu. Seperti udara, senyummu di ujung sana melarut ke dalam oksigen yang kuhirup. Terhembus lagi dalam gelak tawaku di lubang telingamu. Aku bisa membayangkan kau meraih gemanya. Menyimpannya dalam tabung khusus di hatimu.

Aku
Kamu
Dua layar yang berkedip terang
Gelak tawaku dan senyummu
Frasa-frasa rindu dan gugup yang seringkali disamarkan

Pada akhirnya jarak hanya basabasi, yang menari di antara jemari kita yang membentuk kata. Entah sejak kapan aku tahu, itu kamu yang berdiri di sana. Menghampiriku serupa bayangan matahari di atas kepala. Menahanku untuk tetap tinggal.

Aku mencintaimu, hari itu kau pernah bilang.
dan berapa kali aku mengucapkan kalimat yang sama padamu?

"Bawelmu itu keterlaluan."
"Tapi suka kan?"
"...."
"Kalau nyengir berarti iya."
"Lagian pake nanya segala."

Aku
Kamu
Cinta
Itu saja.
Cukup untuk seribu tahun ke depan.

pict from here



Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, September 7, 2011

Siang Ini Tentang Cinta

: someone (you know who you are)


Aku ingin tahu perasaanmu ketika lelaki itu duduk di depanmu. Gelisah. Berdiam diri begitu lama sambil meremas-remas tangannya sendiri. Dan kau memandanginya hingga ia semakin tenggelam dalam meditasi gugupnya yang kronis. Aku sungguh-sungguh ingin tahu perasaanmu ketika tiba-tiba ia mengatakan cintanya padamu.

Kubilang itu romantis sekali ketika ia mengatakan alasannya jatuh cinta padamu. Bahwa kau yang begitu sederhana dan ia yang seharusnya tidak mencintai yang sederhana, akhirnya seperti dua ujung magnet yang saling mendekat. Melibat. Erat.

Aku ingin tahu perasaanmu ketika ia mengatakan kalian tak bisa menyiasati batas yang diciptakan manusia. Batas yang begitu kejamnya membagi kalian menjadi orang luar dan orang dalam. Batas yang seperti karet penghapus melenyapkan waktu yang bergulir ke depan, meninggalkan harapan akan keajaiban.

Hanya tinggal menunggu waktu ketika perpisahan tak terelakkan. Ketika kedua tangan yang saling menggenggam mulai terlepas paksa oleh dinding yang merapat pelan-pelan. Aku ingin tahu perasaanmu, ketika ia pergi dan berusaha tak menoleh lagi. Meski kau tahu, seperti juga dirimu, ia tak ingin melakukannya. Kalau saja bisa. Kalau saja tersedia pilihan, meski tak sempurna.

Aku menangis di ujung kisah itu, tapi kau tidak. Kau, yang seharusnya meneteskan airmata malah menghiburku. Sungguhkah kau merelakannya dengan begitu sempurna? Sementara kau tahu kenapa aku tiba-tiba menangis, bukan semata-mata karena kisahmu itu. Kau bilang di dunia ini tak ada satupun sekolah yang mengajarkan keikhlasan. Itu harus dicari, diupayakan. Lalu kau menyuruhku memikirkan kebahagiaanku sendiri. Seperti kau kini, berusaha memikirkan kebahagiaanmu sendiri.

Dan aku memang bahagia. Memiliki orang itu, yang secara alami membuatku mampu menyesuaikan diri dengannya. Aku bilang padamu tentang itu tadi, ya kan? Aku menyuruhmu mencari seseorang yang membuatmu menyesuaikan diri dengan dirinya tapi sekaligus tetap menjadi dirimu. Karena itulah yang sempurna. Dan kau bilang kau sudah menemukannya, tetapi....

Sudahkah kubilang, aku ingin memelukmu erat-erat tadi? Setelah ribuan kalimat kita untai sepanjang siang. Kisahku dan kisahmu. Kisah kita. Dua perempuan yang masih mencari negeri yang di tengahnya ada mata air kebahagiaan.

Kamu dan kenangan itu, aku dengan kenanganku sendiri. Menyadarkan aku bahwa sebenarnya Tuhan menyayangi kita dengan memberikan jalanNya di lorong yang lebih terang. Kamu dengan tawa kecilmu yang keibuan itu, adalah teman seperjalananku. Lorong itu, di ujungnya, akan ada pangeran untukmu. Berdiri di samping pangeranku.

Sini, genggam tanganku.

...............

Malam melarut. Bulatan kecil itu menyala kuning. Sebuah jendela muncul dengan sebaris ocehan tak penting yang menjadi ciri khasnya.
Aku tersenyum. "Aku menunggu dari tadi."
"Baru pulang."
Ia tenggelam dalam pertandingan sepakbola di televisinya, dan aku tenggelam dalam tulisanku.


Itu sudah cukup. Sungguh cukup bagiku bahwa ia masih mengingat aku yang menunggu, membagi fokusnya, dan bersama denganku malam ini.


Inilah sebagian kecil kebahagiaan itu.


pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Saturday, September 3, 2011

Letters from Panjalu

"Pakai nama permaisuri kerajaan tadi itu aja."
"Kerajaan Panjalu?"
"Iya."
"Ratunya ada yang bernama .... Itu bagus nggak? Itu aja?"
"Iya."
"Hehehe. Itu sebenarnya nama buat anak perempuanku nanti. Kok bisa pas ya?"
"Hahaha."
"Ya sudah. Aku pakai nama calon anak perempuanku aja. Namanya sunda banget ya?"
"Itu nama yang bagus."

.........

Kami berdua punya permainan baru. Dan itu akan melibatkan tukang pos di kota masing-masing. Hari ini saya harus membeli loose leaf, dia juga. Yang polos saja, tidak berwarna atau bergambar. Hanya garis-garis horisontal untuk alas huruf.

Kami belum tahu mau menulis apa. Mungkin apa saja, yang ada di benak. Mungkin akan berbeda isinya dengan tulisan di sini, atau percakapan lisan kami. Mungkin hanya berupa gambar-gambar dan coretan-coretan ilustrasi seperti surat Tadamichi Kuribayashi pada anak-anaknya. Atau mungkin selembar daun kering herbarium yang dipetik dari halaman rumah. Kami belum tahu.

"Aku sedang membayangkan, mau menulis apa ya nanti..."
"Tulis aja apa yang kepingin ditulis. Aku duluan aja deh yang nulis ya. Nanti kamu tinggal balas."
"Oke."
"Aku malah sedang membayangkan, suatu hari anak perempuanku yang bernama seperti ratu Panjalu itu membaca surat-surat buatku dari kamu itu. Dia pasti kasihan sama aku, karena isi surat-surat itu nggak seromantis isi suratku buat kamu. Kamu kan nggak romantis."
"Hahaha."


Ia bilang kelak surat-surat itu bisa dibukukan. Tapi saya punya rencana lain. Akan saya kumpulkan dalam sebuah kapsul waktu. Menyimpannya dalam suatu tempat aman tersembunyi. Saya dan (insya Allah) dia akan membacanya lagi nanti. Kalau kami sudah tua. Tertawa mengenang saat-saat menyenangkan seperti ini.

Buat (calon) anak perempuan saya, si Ratu Panjalu. Selamat membaca ya, Nak :)


pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, August 31, 2011

Quick Update: Lebaran Notes

Saya menepi sebentar dari keriuhan di rumah. Sepupu-sepupu yang asyik makan bakso kuah yang baru diangkat dari panci, asyik mencicipi rujak aceh pedas yang dibawa salah satu tante, asyik menghabiskan isi toples yang saya jajarkan di setiap meja tadi pagi. Saya menepi saja, ketika obrolan menjadi hambar karena mereka asyik mengunyah sembari terkantuk-kantuk.

Ini lebaran yang tidak hanya galau di penentuan hari, tapi juga di hati kami. Saat sungkeman keluarga tadi, kami semua menangis karena teringat Ibu. Ayah saya duduk sendirian saja di kursi itu bersama saudara-saudara Ibu. Biasanya ada Ibu disampingnya. Saya memeluknya sembari menangis. Baru menyadari betapa tuanya ayah saya, betapa ringkihnya. Betapa hancur hatinya ditinggalkan Ibu.

Ayah menangis di depan makam Ibu saat kami semua berziarah ke pemakaman keluarga sehabis acara sungkeman. Menangis tersedu, sampai harus dipapah om saya menuruni tangga makam. Usi sudah sejak acara sungkeman menangis keras. Saya berdiri di sudut makam, mengusap mata yang basah diam-diam. Keluarga besar ini kehilangan Ibu. Yang biasanya memasakkan makanan kesukaan saudara-saudaranya. Menghangatkan dapur dengan tawanya. Mondar mandir, sibuk sendiri. Sesekali berteriak memanggil saya untuk mengambilkan sesuatu.

Ibu sedang tidur dengan tenang kan? Kami semua rindu. Opor Usi tidak seenak buatan Ibu. Menu di meja jadi berbeda, karena Tante Min yang memasak. Tak ada sambal goreng kentang yang dipisahkan di mangkuk khusus untukku. Tak ada yang bawel memanggil-manggil aku untuk mengambilkan ini itu...

Ini lebaran yang mencengangkan bagi sepupu-sepupu saya, melihat saya berhijab. Sepupu-sepupu yang sebaya, teman-teman bermain saya di masa kecil baru berdatangan tadi pagi. Mereka ternganga melihat saya menyongsong mereka di beranda dengan jilbab menutup kepala.

"Wah, lu pake jilbab cakep lho!"
"Gue pake jilbab sekarang. Maksudnya ini beneran hijab."
"He?" Mereka tercengang dengan sukses.

Ya, saya tahu. Mengingat saya yang dulu santai dan cuek, saya berhijab menjadi fenomena bagi mereka.

Saya menepi di sini. Di kamar pengungsian saya, di ruang rekreasi. Tiba-tiba mendengar lagu yang diputar seseorang sepupu di mobilnya. Not With Me, Bondan Prakoso.

I’m waking up from my summer dreams again
try to thinking if you’re alright
then i’m shattered by the shadows of your eyes
knowing you’re still here by my side

I can see you if you’re not with me
i can say to my self if you’re okay
i can feel you if you’re not with me
i can reach you my self, you show me the way

Life was never be so easy as it seems
’till you come and bring your love inside
no matter space and distance make it look so far
still i know you’re still here by my side

you’re made me so alive,
you give the best for me
love and fantasy
and i never feel so lonely,
coz you’re always here with me
always here with me

Saya teringat seseorang di kota lain sana. Yang mencintai saya dan saya mencintainya juga. Saya tahu ketika saya sedih ia akan bilang 'masih ada aku' (meski tak bisa mengatakannya dengan gamblang karena ia tak seromantis itu).

pict from here


eid mubarak!


Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, August 30, 2011

Me Forgive Y'all

Judulnya belagu ya. Hahaha.

Saya menulis ini pagi-pagi sekali. Setelah menemani pacar saya sahur, lalu ditinggal tidur lagi. Saya tidak bisa melanjutkan tidur karena kakak saya Usi sudah menggubrak-gubrak menyuruh saya ke dapur, membantu memasak buat lebaran besok.

Lebaran yang galau ya? Membuat banyak orang kecele dan terpaksa meng-kulkaskan opor dan sambal gorengnya untuk besok.

Rumah saya sudah mulai dipenuhi keluarga besar. Seandainya Ibu masih ada, pasti saat ini sudah warawiri di dapur memegang komando tim memasak.

Saya meredam kangen saya pada Ibu. Mencoba mensyukuri nikmat yang masih diberikan Allah kepada saya pada ramadhan tahun ini. Saya diberi hidayah dan berhijab, saya dicintai seseorang dengan begitu rupa sampai saya merasa baru pertama kali jatuh cinta, saya masih diberi kesempatan mengurus ayah saya, dan lihatlah, saya merasa lebaran ini saya begitu beruntung.

Di halaman, ada sepupu yang sedang bersiul-siul. Menyenandungkan lagu Can't Stop Falling In Love. Hmm... kayaknya itu nyindir saya deh.

Sepertinya ini akan menjadi Lebaran yang menjadikan saya selebriti dadakan. Sepupu-sepupu akan sibuk meledek saya yang tiba-tiba memakai jilbab. Dan punya pacar baru, gara-gara Usi memergoki foto Pejalan dari Negeri Pagi di wall desktop lappy saya. Berita menyebar. Menular seperti virus flu burung. Hahaha.

Di halaman sekarang ada yang memanggil-manggil saya. "Retno! Retno! Jangan di kamar aja! Kenalin pacarmuuu!"

Tuh kan.

Bagaimanapun juga, lebaran selalu menjadi momen yang menyenangkan buat saya. Berkumpul lagi dengan keluarga, sesering apapun mereka membuat sebal, keluarga selalu menjadi tempat paling hangat. Meskipun terkadang saya diabaikan karena mereka sibuk dengan blackberry-nya. Meskipun saya suka disuruh-suruh jadi asisten dapur (sepupu-sepupu saya tidak ada yang bisa memasak). Meskipun rumah saya penuh orang, saya merasa dijajah dan kecapekan membersihkannya lagi sehabis lebaran.

Saya selalu sedih jika mereka sudah pulang kembali ke rumah masing-masing.

Eh, kaca jendela kamar diketuk. Seorang sepupu nyengir di luar, mengintip saya sedang menulis. *sigh!*

Baiklah. Sepertinya gangguan akan semakin serius. Saya harus kembali ke dapur. Buat kalian yang merayakan, selamat hari lebaran juga ya. Sungguh, saya minta dimaafkan lahir dan batin.

.... and me forgive y'all ......

"Retnoooo! Potongin ayamnya!"
*sigh!*


pict from here



Image and video hosting by TinyPic

Sunday, August 28, 2011

La Confession

: pejalan dari negeri pagi


Aku mencintaimu tanpa tahu kenapa, kapan dan darimana. Aku mencintaimu begitu saja, tanpa rencana. Ketika kamu mengetuk pintu, berdiri di sana dan menyapa 'hai.'
Bahkan dalam remang-remang, ketika wajahmu hanya berupa siluet samar, aku bisa menggambarkan dirimu dengan jelas.

Maaf pernah berniat meninggalkanmu. Membuatmu kalut, tapi membuat kita sadar tentang takdir bersama. Maaf sempat meragukanmu di awal, meski masih kutunggu kamu membuktikan.

Kamu masih serupa langit biru, wangi pinus dan udara yang kuhirup yang membuatku hidup. Aku tak tahu apakah aku dalam gambaranmu. Maukah kamu mengatakannya padaku selagi aku merapalkan mantera ini sejuta kali?

Iloveyou, iloveyou, iloveyou, iloveyou, iloveyou, iloveyou....


Je t'aime sans savoir comment, ni quand, ni où.
Je t'aime sans détour, sans les complexités ou de fierté;
si Je t'aime parce que je ne connais pas d'autre moyen


pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Friday, August 26, 2011

Selusin Kerudung di Lemari Ibu

Berhijab seolah-olah keputusan yang tiba-tiba saya ambil, padahal tidak. Saya sudah menyiapkan diri sejak empat tahun lalu. Tidak mengatakannya pada siapa-siapa. Diam-diam mengumpulkan jilbab dan kerudung satu demi satu dan masih bungkam sampai lebaran tahun lalu, lebaran terakhir bersama Ibu.

Hari itu sebelum acara sungkeman keluarga besar, saya muncul dari kamar dengan pakaian muslim. Ibu tampak senang, lalu bertanya, "Kamu sekarang mau berjilbab?"
Saya menggeleng. "Enggak. Ini cuma sekarang aja."
Saya melihat wajah Ibu tampak agak kecewa.

Waktu itu saya belum siap. Saya mengenal diri saya dengan baik, jika belum siap maka jangan memaksakan diri. Nanti saya bosan dan kembali melepasnya. Itu akan menjadi sebuah preseden buruk dan pasti akan menjadi bahan gunjingan.

Sejak hari lebaran itu soal memakai jilbab tidak pernah lagi dibicarakan, meskipun keinginan saya berhijab tetap ada. Saya tahu, suatu hari saya akan memakai semua jilbab dan kerudung yang saya kumpulkan itu. Nanti. Menunggu kata hati saya mewujudkan niat.

Suatu hari sebulan setelah kepergian Ibu, saya membereskan lemari Ibu. Berniat menyumbangkan pakaian-pakaiannya untuk orang-orang yang membutuhkan dan saudara-saudara yang menginginkan kenang-kenangan. Kaki saya berjinjit untuk menjangkau rak paling atas di dalam lemari. Teraba oleh saya sebuah bungkusan plastik menggembung. Saya menariknya keluar, bersamaan dengan berjatuhannya lembaran merah uang seratus ribuan.

Bungkusan itu berisi kerudung-kerudung cantik segi empat yang masih baru. Masih ada labelnya, dan bukan kerudung murah. Jumlahnya selusin. Saya memunguti lima lembar seratusan ribu yang berceceran itu selagi sebuah kesadaran menghantam saya telak. Saya terduduk di lantai, di depan lemari itu. Menangis sesenggukan sambil memeluk bungkusan kerudung dan lima lembar seratus ribuan. Ibu telah menyiapkan ini untuk saya. Bekal saya jika berhijab. Seolah-olah tahu tak akan sempat melihat saya memakainya. Tak akan sempat memberikan sendiri uangnya untuk saya belikan perlengkapan yang belum saya punya.

Sehari sebelumnya saya memang sedang berpikir untuk membeli beberapa manset, kaos kaki dan lain-lain. Dan hari itu, ketika saya menemukan apa yang disimpan Ibu untuk saya, rasanya seperti sebuah keajaiban.

Tetapi tetap saja, saya belum tahu kapan mulai berhijab. Meski keinginan itu semakin menggebu. Saya tidak punya pembimbing yang menyemangati saya, menghapus keraguan saya. Jadi yang bisa saya lakukan hanya menunggu hati saya meletuskan pistol start.

Saya baru berani memakai jilbab ketika melayat orang meninggal atau acara keluarga. Ketika mereka bertanya apakah saya sudah berhijab, saya selalu menjawab 'belum. Insya Allah sehabis lebaran. Itu juga belum pasti ya.'

Saya tahu mereka juga sangsi. Lihatlah saya yang dulu. Tomboy dengan rambut pendek, jins robek dan sepatu keds. Saya yang kemana-mana dengan gerombolan teman pria dan suka tertawa terbahak-bahak seperti mereka. Saya yang masih suka memanjat pohon dan makan es krim sambil jalan-jalan di pertokoan. Cuek, bebas, dan kekanak-kanakan.

Lalu saya bertemu dia. Hanya bertemu dan mengobrolkan hal-hal tidak penting. Bahkan belum jatuh cinta. Saya hanya berpikir bahwa dia lelaki yang baik, jenis yang belum pernah saya temui di antara rekan-rekan pria saya selama ini.

Hanya itu. Pikiran yang anehnya membuat hati saya melembut. Sesuatu yang selama ini saya minta kepada Allah dalam doa sehabis sholat, karena saya tahu saya ini sangat keras kepala. "Ya Allah, lembutkanlah hati saya."

Pagi itu, hati saya meletuskan pistol start-nya. Saya pergi keluar memakai jilbab dan baju panjang, dengan niat tak akan melepasnya lagi.

Hidayah bisa datang kepada siapa saja, kapan saja, dan melalui siapa saja. Saya bersyukur bertemu dia, yang kemudian mencintai saya dengan caranya yang menenangkan jiwa. Saya tidak tahu apakah saya berhijab karena dia, tapi rasanya tidak. Karena jikapun dia pergi, saya tetap berhijab.

Selusin kerudung di lemari Ibu. Bukankah itu doa untukku, Bu?

.........................

Kamu... I love you :)

pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Sunday, August 14, 2011

Suddenly I Miss You

Aku merindukanmu sepanjang hari kemarin. Ketika kau sedang tidur siang. Ketika kau sedang menghabiskan senja bersama temanmu, dan aku sendirian.

Aku sudah bilang padamu akan tidur siang juga, tapi rindu mengalahkan kantuk. Aku terbiasa menghabiskan siang denganmu. Mengocehkan apa saja yang ada di benakku yang nyaris pepat. Kau selalu menanggapinya dengan tawa pelanmu yang kusukai itu. Kubayangkan kau mencoba menahan senyummu di sana, agar teman-temanmu tak tahu kau sedang mengobrol denganku.

Merindukanmu adalah hal baru bagiku. Datang tiba-tiba. Menghantam telak jantungku yang dulu kusembunyikan darimu.

Sudah lama aku tidak merindukan siapa-siapa. Sejak begitu lama menjadi cangkang kosong seperti rumah siput yang ditinggalkan penghuninya. Rasa yang begitu nyata, yang kupikir tak akan pernah lagi ada.

Aku merindukanmu. Tiba-tiba. Sepanjang hari kemarin. Ketika aku tahu kau masih bersama temanmu. Kumatikan semua alat komunikasi itu. 'Ngantuk. Aku tidur. Log off.' #nomention

Rindu. Sedih. Sendiri.

Lalu kamu mengirim pesan. Aku tidur dengan senyum di wajah. Senang kau masih memperhatikan.

Hari ini rinduku masih. Karena kau pasti akan tidur lagi sepanjang hari.

Tiba-tiba aku benci hari libur. Ugh!

He it is, the innermost one
who awakens my being with his deep hidden touches
He it is, who puts his enchantment upon these eyes
with joyfully plays on the chords of my heart
in varied cadence of pleasure and pain

-Rabindranat Tagore-



pict from here


Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...