Malam masih tetap sepekat ampas kopi
Bagiku dunia menyempit selingkar jari
Menghimpitku dari dua sisi kenangan yang meraja
Memenuhi ronggarongga tak kasat mata
Bahkan ketika kau berpikir ini membebaskan
Matahari tak bisa mengoyak selaput mata
Yang kututup erat dengan mimpi paling purna
Menenggelamkanku pada samudera,
beting karang dan karam
Lihat apa yang sudah egomu lakukan
Aku. mati.
-rumah sakit, di antara aroma desinfektan, 08:52, 23 Sept 2011-
.......
Itu ditulis waktu saya masih patah hati gara-gara si Pejalan dari Negeri Pagi, untuk Arus Kata-perkumpulan penyair yang saya ikuti.
Sampai sekarang saya suka terheran-heran sendiri. Setiap kali saya sakit, baik hati maupun fisik, kata-kata mengalir deras dari otak.
Kali ini juga. Sudah dua hari saya demam, dan plot Kisah Abe yang tadinya mentok tiba-tiba seperti banjir bandang dari Bendungan Katulampa. Melimpah. Sampai saya merasa sayang untuk tidur, memilih melawan pengaruh obat dan menuliskan semua kata-kata yang bermunculan seperti disulap.
Geez! Masa saya harus sakit-sakitan dulu baru bisa membuat tulisan bagus!
“One day I will find the right words, and they will be simple.”
― Jack Kerouac, The Dharma Bums
![]() |
| Virginia Woolf's writing table at Monk's House, Sussex, England, 1967. Photo by Gisele Freund. pict from here |



















