Showing posts with label Memories. Show all posts
Showing posts with label Memories. Show all posts

Thursday, December 17, 2015

Tagore and I


Umur  saya sekitar 10 tahun waktu saya menemukan buku lusuh karya Rabindranath Tagore di atas lemari buku, di ruang tengah rumah Kakek. Saya, adalah seorang gadis kecil sakit-sakitan berpakaian lusuh ala anak lelaki, yang sedang berada di kampung halaman Ibu untuk merayakan Lebaran yang sesungguhnya adalah hari yang tidak disukai gadis kecil itu dengan alasannya sendiri.

Saya juga adalah gadis kecil pemurung, yang lebih suka mengaduk-aduk lemari buku tua Kakek untuk mencari bacaan, daripada bermain dengan sepupu-sepupu kaya berpakaian bagus dan baru. Kakek saya seorang guru dan kepala sekolah. Ia punya sejumlah buku, yang biasanya merupakan hibah dari Dinas P dan K (sekarang Diknas). Buku-buku yang kadang-kadang adalah buku untuk perpustakaan sekolah, atau buku-buku lainnya, yang dianggap perlu sebagai bahan mengajar.

Hari itu, saat saya menemukan buku itu, jiwa kutubuku saya menggumam, wow kata-katanya bagus, Itu adalah puisi-puisi Rabindranath Tagore dalam Gitanjali (sekarang saya baru menyadari bahwa itu Gitanjali-karena tadinya saya lupa judul buku itu), yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Tentu saja, sebelumnya saya tidak pernah mendengar siapa Tagore itu. Nama yang aneh bagi saya ketika itu. Di bagian kata pengantar, ada sedikit keterangan tentang dirinya, berikut fotonya. Yang saya ingat di kemudian hari setelah pulang ke rumah, dia seorang penulis dan penyair dari India, setua kakek saya, dengan jenggot lebat bak seorang petapa.

Rupanya, itulah awal mula saya menyukai puisi dan mulai menulis puisi.
Jiwa gadis kecil saya, si penyuka buku yang pemurung, ingin sekali bisa menulis seindah itu. Sebelumnya, saya suka menulis cerita-cerita pendek di belakang buku tulis sekolah, sampai sering dimarahi Ibu dan akhirnya dibelikan buku khusus untuk coret-coret. Buku itu lantas mulai terisi oleh beberapa lembar puisi ala anak SD. Bukan puisi seindah Tagore tentu saja. Tetapi, saya sudah sangat berusaha menulis seindah mungkin. Topiknya apa saja yang terlintas di kepala. Namun, lebih banyak tentang teman-teman.

Saya tidak punya banyak teman di sekolah. Mungkin, karena saya pendiam dan sering tidak masuk sekolah karena sakit. Salah satu teman sebangku saya, Yayuk, tukang mencontek saya kalau ulangan. Berganti kelas, saya duduk dengan Erna, yang nilainya selalu jelek tetapi untungnya dia baik dan tidak suka mencontek. Berganti kelas lagi, saya duduk dengan Nia, yang culas dan suka mengadu domba, Berganti kelas lagi, saya sebangku dengan Lia. Anak perempuan manis yang pendiam dan lembut. Otaknya sangat cerdas sehingga setiap tahun dia selalu juara umum. Kami sama-sama kutubuku dan penyuka kucing. Dia adalah teman yang paling berkesan dan paling saya sayangi di masa sekolah dasar saya di Bandung. Dan selalu menjadi inspirasi puisi-puisi saya di buku coret-coret.

Sampai tamat dari Sekolah Dasar, puisi-puisi Tagore menemani saya tumbuh. Buku di rumah Kakek itu lenyap entah kemana, untungnya saya sempat menyalin beberapa puisinya yang paling saya sukai. Puisi-puisi dalam Gitanjali tidak berjudul. Biasanya hanya memakai angka romawi setiap ganti topik.
Tagore dalam kesan saya, adalah orang yang religius dan sangat pandai menerjemahkan alam pikirnya ke dalam bahasa sehari-hari dengan cara penyampaian yang indah.

Waktu saya masih kecil, begini kesan saya terhadap Kakek Tagore: dia sayang sama Tuhan dan orang-orang.

Demikianlah.

....................................

Tentang Rabindranat Tagore (1861-1941)

Ia adalah sastrawan India modern paling terkemuka. Seorang penyair, novelis dan pendidik. Menerima hadiah Nobel untuk sastra pada tahun 1913. Dianugerahi gelar kebangsawanan pada tahun 1915, tetapi ia mengembalikan gelar itu sebagai protes terhadap Pembantaian di Amritsar, di mana pasukan Inggris membunuh kurang lebih 400 orang demonstran India. Perannya sebagai seorang pembaharu reformasi politik yang menentang kolonialisme tidak terlalu menonjol dibandingkan reputasinya sebagai penyair. Sayang sekali.

Aku mengemis dari rumah ke rumah di jalanan desa 
ketika kereta emasmu tampak dari kejauhan 
seperti mimpi indah 
dan aku bertanya-tanya siapakah raja diraja ini?

Harapanku melesat tinggi 
dan kukira kemalanganku akan berakhir,
dan aku berdiri menunggu pemberian dan kekayaan
yang bertebaran di setiap jejak kereta.

Kereta kuda itu berhenti di hadapanku 
dan engkau turun sambil tersenyum.
Aku merasa keberuntunganku akhirnya datang 
Lalu, tiba-tiba engkau menjulurkan tangan dan berkata,
"Apa yang akan kau berikan kepadaku?” 

Ah betapa lucu lelucon menengadahkan tanganmu
kepada seorang pengemis untuk mengemis! 
Aku bingung dan ragu,
kemudian perlahan-lahan 
kukeluarkan sejumput biji jagung dari kantongku 
dan kuberikan kepadamu

Betapa terkejutnya aku,
ketika sore tiba aku mengosongkan kantongku
dan menemukan biji emas di antara tumpukan hasil mengemis.
Aku menangis pedih dan berharap
andai saja aku rela memberikan semua milikku kepadamu.

- Rabindranath Tagore, dari Gitanjali


Tagore dan Gandhi
pic from here



Image and video hosting by TinyPic

Sunday, April 28, 2013

Hari Abu-Abu

Setiap kali mendengar berita kematian, saya selalu teringat Almarhumah Ibu dan hari kepergiannya. Saya teringat hari ketika saya menangis sambil berteriak-teriak, marah kepada Allah, karena Ia memanggil Ibu. Beberapa anggota keluarga mengelilingi saya di tempat tidur. Mencoba menenangkan, memberi nasehat agar bersabar. Tapi saya tidak mau mendengar.

Saya terus berteriak-teriak marah kepada Allah. Bertanya kepadaNya, kenapa ibu saya yang Ia ambil. "Ibu orang lain saja, jangan ibuku! Jahat, ya Allah! Engkau jahat!"

Saya baru bisa ditenangkan ketika Ibu hendak dimandikan. Mereka memapah saya ke belakang, untuk turut memandikan Ibu.

Itu peristiwa yang tidak akan pernah saya lupakan.
Ibu saya, yang selalu cantik dan murah senyum itu, yang tubuhnya selalu hangat dan wangi sabun, terbaring diam di atas dipan pemandian.

Ya. Ia seperti sedang tidur. Tetapi tubuhnya kaku dan dingin. Dan seperti film yang dipercepat, tiba-tiba berkelebat kilas balik kami berdua dalam benak. Saat saya masih kecil, menari-nari di halaman dan Ibu bertepuk tangan... lalu terakhir kalinya saya mendorong kursi rodanya ke teras untuk berjemur dan menyisiri rambutnya.

Mata saya membasah. Napas saya tersumbat sedu sedan.
Mereka menyiraminya dengan air, menyabuninya, memijat-mijatnya. Perlahan, saya mendekat. Mengusap pipinya. Matanya tetap saja terpejam. Padahal, saya berharap ia bangun dan bilang bahwa ia cuma pura-pura meninggal untuk menghukum saya, anaknya yang sering menyusahkan.

Namun, setelah pemakaman Ibu, saya mulai memahaminya.

Allah pasti menulis skenario ini untuk kebaikan Ibu dan kebaikan kami yang ditinggalkan.
Ibu saya, perempuan baik dan sabar, yang diam saja meski disakiti orang lain. Disuruh-suruh ini itu. Dimanfaatkan. Dibohongi. Orang-orang yang dulu melakukan itu kepada Ibu, kini memikul beban dosanya. Karena orang yang bisa memupusnya dengan maaf sudah tak ada lagi.

Sekarang saya tahu, Allah tidak jahat. Ia memberi Ibu waktu istirahat yang damai, yang tak akan lagi membuatnya lelah dan resah. Memberi saya kesempatan untuk dewasa dan menjadi apa yang saya inginkan. Penulis. Ibu tidak pernah setuju saya mewujudkannya. Memberi saya waktu lebih dekat dengan Bapak. Dulu, saya selalu saja bertengkar dengannya. 

Kemarin, Ustaz Jefri Al Buchori meninggal dunia. Hari yang kelabu lagi di hati saya. Mengingatkan saya pada hari kepergian Ibu. Membuat saya menangis melihat isterinya yang terpukul seperti saya dulu.

Sejak Ibu pergi, orang-orang yang saya kenal menyusul pergi satu demi satu, dan kemarin Ustaz Jefri juga pergi, kematian menjadi pengingat yang tajam. Bahwa setiap orang akhirnya akan pergi. Bahwa setiap orang sesungguhnya tengah menunggu giliran. Bahwa dunia hanya tempat kita mengumpulkan koin agar bisa membeli tiket ke surga.

Ya Allah, koin saya belum cukup banyak. Dan selalu saja ada yang hilang terjatuh, ketika saya lengah saat melakukan hal-hal yang tak Engkau sukai. Berilah saya waktu untuk menabung, agar cukup membeli tiket surga itu.

Aamiin.


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, October 3, 2012

Dear You

Dear you,

Hari ini, ketika aku menyebut tentang rencana mengeksplorasi gua, seseorang menyebut namamu.
"You'll go with him?"
Dan aku tercengang sejenak, lalu tertawa. "Why d'you think of that?" tukasku. "Sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dia. Sudah lupa."

Tidak. Aku tidak lupa. Aku bohong.
Aku ingat kau melambaikan tanganmu padaku di ujung eskalator mall, di atas sana. "Retno, kamu sedang apa di situ? Sini naik!"
Aku ingat semburan rasa senang melihat dirimu berdiri di sana sambil tersenyum dan menghambur naik untuk memelukmu dengan keriangan kanak-kanak.

Gua. Eksplorasi gua. Itu hal yang kau wariskan kepadaku setelah perpisahan kita.
Bahkan, ketika aku sedang menyusuri lorong bumi yang pekat dengan udara setipis kertas dan mata yang nyaris buta, aku mengingatmu. Membayangkan perjalananmu sendiri menyusuri rute yang sama. Mengarungi sungai bawah tanah yang sama. Mencium tajamnya bau guano yang sama. Dan merasakan indera keenammu menyala di belakang punggungmu, seperti juga aku.

"Jangan masuk, kalau di pintu gua kamu sudah merasa nggak enak. Mungkin ada yang nggak mau terusik di dalam sana oleh kehadiran kita."

"Kemarin waktu aku masuk Cerme, aku diikuti," laporku suatu hari. "Sebel, sepanjang jalan dibisik-bisiki pakai bahasa Jawa kromo inggil yang aku nggak ngerti. Opo tho yo? Aku jadi nggak enjoy caving-nya!"

Kalau ke Jogja, aku selalu mengingatmu. Ini kampungmu, pikirku. Tapi kau entah di mana. Mungkin di Jakarta, mungkin terbang ke Kalimantan atau Papua.

"Aku nggak mau ketemu kamu lagi," katamu waktu itu.
Aku tahu maksudmu, karena aku juga begitu. Karena aku juga khawatir pada diriku.
Aku yang selalu spontan melompat ke dalam pelukanmu setiap kali kita bertemu. Dan itu tak boleh lagi kulakukan sejak berhijab. Itu kebiasaan yang tak mudah hilang. Karena dalam pelukanmu selalu hangat, aman dan damai.
"Aku setuju," sahutku.

Cintaku padamu dulu, lebih dalam dari gua-gua itu. Lebih pekat dari kegelapan dasar bumi yang menyekap sunyi. Tahukah kau? Oh, kurasa kau memang tahu.

Dear you,
Setiap langkahku yang menggema dalam sepi gua, kenangan tentangmu adalah penunjuk arahku.
Kamu yang dulu memanggilku 'Angel' (seperti Patch kepada Nora), I miss you suddenly....


“Hang on, did you just call me Angel?" I asked. 
"If I did?" 
"I don't like it." 
He grinned. "It stays, Angel.”
 ― Becca Fitzpatrick, Hush, Hush


It's rappelling in Gua Grubug's entrance. Can be penetrated from Jomblang's entrance. 
Wanna try? :D
pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, September 4, 2012

A Piece of My Abege Life

Ia berdiri di seberang lapangan. Tinggi, dengan dagu sedikit mendongak dan tatapan angkuh yang mengintimidasi. Menatap saya dari kejauhan, lalu membuang muka sebelum saya melakukannya lebih dulu. Muak adalah kata yang tidak terlalu tepat untuk menggambarkan perasaan saya padanya. Lebih dari muak. Lebih dari sebal. Mungkin saya malah membencinya.

Ia menyeberangi lapangan, di belakangnya beberapa teman mengikuti. Lagaknya sudah seperti boss mafia saja. Mendekat ke arah kami, anak-anak perempuan yang berkumpul bersama-sama selama pertandingan sepakbola antar kampung berlangsung. Pertandingan usai, tapi kami masih berkumpul kasak-kusuk, terutama karena cewek-cewek yang berdiri bersama saya naksir si cowok angkuh.

Bukannya melewati tempat yang lebih lapang, ia malah memilih jalur sempit di antara kami. Bahunya dengan sengaja menyenggol lengan saya, membuat saya terhuyung dan berseru marah.
"Lu bisa nggak sopan sedikit?"
Ia menoleh, berbalik dan mendekati saya. "Apa, Ceking?"
"Kok lu malah ngatain gue?"
Ia tersenyum. Anehnya senyum itu manis, mengubah wajahnya yang kaku dan merengut menjadi lebih cerah. Lebih terlihat ramah. Namun ternyata itu hanya kesan yang mengelabui. Ketika lebih lama menatapnya sedekat itu, pikiran saya segera berubah.
Tidak. Itu senyum bandit. Senyum yang berbahaya.
"Lu ada masalah sama gue?" gertak saya. Seharusnya, sering berlalu lalang di antara saya dan teman-teman saya, ia tahu bahwa saya bukan seperti cewek-cewek lain, yang langsung mengkeret saat ditatap dengan garang seperti itu. Saat diberi senyum maut serigala itu, cewek-cewek lain mungkin pingsan ketakutan.
"Iya, gue ada masalah."
"Bilang sama gue, masalahnya apa! Jangan cuma cari gara-gara aja!"
"Gue nggak suka sama elu."
"Lu kira gue juga suka sama elu? Gue benci sama lu. Asal lu tau."
"Kenapa lu benci sama gue?"
"Kalau gue beberkan, bisa sampai taun depan kita berdiri di sini."
"Coba aja kalo gitu."
"Nggak usah. Gue males ngomong sama lu."
Ia tertawa pendek. "Kan lu tadi yang ngebentak gue duluan."
"Karena elu cari gara-gara!"
"Nah, ini dia nih yang bikin gue nggak suka sama elu. Lu itu bawel."
"Apa?"
"Bawel." Ia menyeringai lebar, tampak puas. Lalu berbalik meninggalkan saya, yang masih berdiri di pinggir lapangan beberapa menit kemudian, dengan tangan mengepal dan (anehnya) wajah merona.

*Hanya sepenggal memori waktu masih abege :)


“I can't imagine why you're so interested."
He shook his head. "Interested? We're talking about you. I'm fascinated.”
― Becca Fitzpatrick, Hush, Hush


Tebak, siapakah cowok keren inih??? :P

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, May 9, 2012

When The Love Has Gone

Kau masih seperti langit malam
Tak terbaca
Dengan sebuah bintang yang berkelip samar.
..............

Mereka duduk bersebelahan. Di bibir sumur, di depan rumah. Canggung. Percakapan yang terjadi semula hanya basa-basi.
"Kapan sampai?"
"Kemarin."
"Naik kereta?"
"Iya. Seperti biasa."
Lalu hening.

Perempuan itu menunduk, menatap kakinya yang bersepatu keds. Sudah berapa abad mereka tak lagi saling berkirim kabar? Sudah berapa ratus adegan yang terjadi dalam kehidupan mereka sejauh ini, yang tak lagi saling terhubung? Ia bahkan tak mengerti, kenapa ia harus jauh-jauh datang hanya untuk berbasa-basi dengan lelaki ini.

"Kamu baik-baik saja, kan?" Lelaki di sebelahnya bertanya.
Apakah kau masih peduli? Ia bertanya dalam hati. Setengah geli, setengah sedih. Atau itu cuma kalimat yang biasa kau lontarkan pada seorang kenalan lama?
"Aku baik-baik saja. Selalu."
Bahkan kau tak tahu betapa pedihnya harus mengucapkan selamat tinggal padamu kala itu.

Semilir angin menerbangkan helai-helai rambut perempuan itu. Ia merutuki situasi yang begitu canggung. Dulu  tidak begini. Dulu kami tertawa dan saling menggoda. Dulu aku melingkarkan lenganku di pinggangnya saat kami naik motor keliling kota. Dan ia menatapku sambil tersenyum dengan kedua mata elangnya yang dalam. Dulu.

Bunga pagi sore itu masih ada di halaman. Bunga yang selalu turut dalam kisah-kisah yang ditulisnya tentang mereka. Warna merahnya seperti darah dalam tangisnya ketika kisah mereka diusaikan.

Kini giliran perempuan itu menoleh pada si lelaki yang tengah termenung. "Dan kamu, baik-baik juga kah?"
"Tidak." Lelaki itu menatapnya sekilas. Mengalihkan tatapannya ke rumpun bunga pagi sore sambil tersenyum samar. "Apakah aku kelihatan baik-baik saja?"
Perempuan itu mengedikkan bahu. "Aku tak tahu. Sejujurnya, aku tak lagi mengenalmu seperti dulu."
Lelaki itu menghela napas. Perempuan itu juga.

Kau sudah memilih dia, kan? Kau menyuruhku pergi dari hidupmu, agar kau bisa tenang bersama perempuan itu. Lalu kalau sekarang kau kecewa padanya, apakah itu urusanku?
Kau hiduplah baik-baik dengan pilihanmu. Terimalah konsekuensinya dengan lapang dada. Hari ini aku datang hanya sebagai teman. Tak peduli perasaanku padamu masih seperti dulu. Aku tak lagi ingin mengganggumu. 


“This is a good sign, having a broken heart. It means we have tried for something.” 
 ― Elizabeth Gilbert, Eat, Pray, Love



pict from here

  Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, March 14, 2012

A Day Without Rain

Hai,

Bahwa malam ini tiba-tiba kau melintas di kepalaku. Bahwa ada satu kenangan yang selalu kembali berputar di layar benakku. Itu di luar kehendakku.

Kita di pinggir pantai yang bersebelahan dengan kebun semangka. Di belakangmu ada samudera Hindia dengan ombak bergulung setinggi pohon kelapa. Aku berdiri di depanmu, menunduk, mengorek-ngorek pasir dengan jari kakiku yang telanjang. Lalu aku berkata, "Maaf. Tapi aku nggak bisa."

"Soalnya kamu suka sama Puja, kan?"
"Nggak, bukan karena Puja."
"Kamu tau kan, Puja udah punya cewek. Kamu liat kan ceweknya datang kemarin?"
"Aku tau."
"Kamu kaget ya, No?"
"Iya."
"Tapi kamu tetap suka sama dia..."
"Aku suka sama Puja, bukan berarti aku kepingin jadi pacarnya. Dia baik."
"Aku juga baik kan? Atau menurutmu tidak?"

Kita terus saja berargumen, di antara angin yang menerbangkan rambutku, pasir yang memerihkan mata, nyanyi ombak yang gemuruh di telinga. Kita masih bersitegang, meski sudah kuajak kau pulang.

"Ezra, ini sudah siang. Azan zuhur sudah berkumandang."
"Terima aku atau tidak?"
"Tidak."
"Selalu begitu. Selalu gara-gara Puja."
"Berapa kali kubilang kalau keputusanku bukan karena dia?"

Akhirnya kutinggalkan kau di pantai itu sendirian. Aku berlari pulang. Menerobos petak-petak tanaman semangka, menghindari sulur-sulurnya yang mengalas jalan. Kau memanggil-manggil di belakangku. Aku berlari, terus berlari.

Maaf, Ezra. Hatiku sudah terisi Puja. Sakit rasanya ketika tahu bahwa aku tak bisa memilikinya. Tetapi tak semudah yang kau kira untuk melupakannya.

Berapa umur kita waktu itu? Aku dua puluh satu. Kau mungkin hanya setahun lebih tua.
Wajahmu yang berdiri termangu di pantai itu masih mengungkit rasa bersalahku.
Hari itu pertama kalinya seseorang menyatakan cinta dengan manis dan romantis. Di pantai, di antara percik ombak, lembut pasir dan angin yang wangi garam. Tetapi aku menolaknya.

Bahwa malam ini kau menulis surat elektronik padaku dengan segenap ketulusanmu, membuatku terharu.
"Aku baca novelmu. Aku ingat cita-citamu untuk punya buku sendiri. Selamat ya."

Terima kasih, Ezra. Terima kasih masih mau menjadi temanku.

........................

Lelaki itu menunggu di parkiran perpustakaan kampus. Tersenyum lebar pada gadis berkaca mata yang berjalan riang ke arahnya. "Aku punya novel bagus!" Lapornya pada si gadis.
"Pinjaaaaam!"
"Nanti. Aku belum selesai baca!"
"Kamu bacanya suka lama! Aku duluan ya? Ya?"
"Nggak ah!"
Si gadis menonjok bahunya. "Awas aja nanti! Aku mau bikin buku sendiri! Kamu nggak akan kukasih gratis. Kamu harus beli sendiri!"

Lelaki itu tertawa. Meraih kepala si gadis dan mengacak-acak rambutnya. Si gadis melepaskan diri dan tahu-tahu sudah duduk di boncengan motornya.
"Kamu jadi antar aku beli cat buat kamar kost kan?"
"Jadi."
"Traktir aku makan bakso juga kan?"
Lelaki itu tergelak. Motornya dihidupkan.

“A friend is someone who knows all about you and still loves you.”
― Elbert Hubbard


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, January 31, 2012

Abang #2

Malam itu, kita sedang deadline. Kau mengetik dengan serius di depan komputermu ketika aku menghampirimu dengan berurai air mata.

“Heh? Kau kenapa?” Kau menoleh mendengar sedu sedanku. “Kau sakit gigi lagi? Migren? Sakit perut?” Kau hapal semua penyakit yang sering menyerangku saat deadline tiba. “Kau pulang saja sana. Besok pagi masih sempat dilanjutkan sebelum layout.”

Kubilang padamu sambil menangis, pacarku menelepon. Laki-laki yang dengannya sudah berbulan-bulan aku hilang kontak. Tidak. Bukan kehilangan kontak sebenarnya, melainkan saling menjauh karena sesuatu hal.

“Lalu kenapa menangis? Kau masih suka sama dia?”
“Gue nggak tau.”
“Masih suka nggak?”
“Nggak ngerti. Gue bingung.”

Kau menoleh sebentar padaku, geleng-geleng, lalu kembali mengetik. Dan tangisku semakin keras. Aku menyembunyikan wajahku di punggungmu, menangis di situ sampai kemejamu basah. Kau diam saja, menghentikan pekerjaanmu. Membiarkan aku meminjam punggungmu. Lalu ketika tangisku reda dan punggungmu terbebas dariku, kau menoleh lagi.

“Enno, Enno… untung aja aku punya adik kayak kau cuma satu. Bisa capek badanku mengurusi anak cengeng. Kalau kau masih suka sama dia, kenapa bingung? Kenapa nangis? Ah, dasar perempuan!”

Kau pasang wajah prihatin, tetapi aku tahu kau sedang menahan tawa. Terlihat jelas di matamu yang bersinar-sinar jahil. Maka kulayangkan tinjuku ke lenganmu. “Jangan ketawa! Jangan ketawa!”

“Siapa yang ketawa? Siapa? Aku sedang prihatin kok.” Kau berkelit dari seranganku.

Entah kenapa, Bang. Peristiwa itu yang paling membekas dalam benakku tentang kau sebagai temanku. Aku masih ingat hangatnya punggungmu, sikap pasrahmu yang pengertian sampai aku puas menangis, dan kemejamu yang basah yang tak kau hiraukan. Kau menemaniku sampai tertidur di sofa ruang tamu redaksi, menyelimutiku dengan mukena yang kau ambil dari laci mejaku. Duduk di sofa satunya lagi, membaca koran sampai aku terpejam.

Kau tahu, Bang. Malam itu aku berterima kasih padamu tak terhingga. Malam itu aku tahu rasanya dipedulikan dan disayangi. Pantaslah aku selalu nyaman di dekatmu, spontan menggandengmu, karena naluriku bahwa kau orang baik memang benar.

Suatu hari ketika kita sudah tak lagi sekantor, dan redaksi pindah ke gedung baru, kau datang berkunjung. Sudah berapa lama ketika itu kita tak bertemu? Berbulan-bulan sejak kau kerja di kapal? Kau berdiri di tempat parkir, masih kurus, kribo, tengil dan berpakaian ala 80-an. Aku berlari menghampirimu, langsung melingkarkan lenganku di lenganmu dengan gembira.

“Apa ini? Kau gandeng-gandeng aku saking kangennya ya?”
“Iya, gue kangeeeen!”

Teman-teman yang lain menghampirimu, menyapamu dengan kegembiraan yang sama. Lalu tertawa melihat lenganku melingkar di lenganmu.

“Si Enno udah kayak kucing kalau di deket elu ya? Langsung gelendotan.”
“Emang dia kucing gue!”
“Sial! Elu tuh boneka si Komo gue!"

Aku menulis lagi tentang kau, Bang. Karena masih kangen. Banyak cerita yang ingin kubagi dengan kau, terutama tentang beberapa teman kita yang meninggal mendahului kita. Seorang ibu yang selalu kita panggil ‘Mam’ pergi menghadap Tuhan. Juga seorang teman baik yang coretan pensilnya selalu kita kagumi, yang suka iseng menggambar karikatur semua orang saat kita sedang rapat dan membuat kita terbahak-bahak setelahnya…

Betapa singkatnya hidup itu ternyata. Aku berharap kau baik-baik saja. Menyanyi dan main gitar untuk orang-orang kaya di kapal pesiar. Sementara aku masih menulis. Perkara yang tidak aneh bagimu.

“Eh tau gak,si Enno itu kalau nggak nulis, badannya gatel-gatel. Makanya biarin aja Pemred ngasih dia rubrik paling banyak. Dia suka kok.”
“Heh kata siapa gue suka? Enak aja! Gue capek tau!” Kau kusambit sepatu.

Sungguh, aku berharap kita akan bertemu lagi. Cengiranmu yang lebar, lenganmu yang hangat. Aku kangen.

"Lu angeeeet! Hihihi..."
"Iyalah. Dasar kucing!"

“It's the friends you can call up at 4 a.m. that matter.”
― Marlene Dietrich


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Monday, January 30, 2012

Abang

Kau di mana, Bang?
Aku kerja di kapal pesiar sekarang. Main musik.
Gue kangen. Kau masih males mandi, Bang?
Masih dong. Eh iya, aku juga kangen. Kau masih aja kecil ya? Nggak numbuh-numbuh badanmu?


............

Tiba-tiba aku ingat kau, Bang. Wajah cengengesan dengan gaya slengean. Kau suka berpakaian ala 80-an, plus rambut kribomu dan tubuhmu yang setipis kertas. Dan aku akan selalu menyodorkan roti atau biskuitku kepadamu, setengah berharap setiap bulan beratmu bertambah karena asupan cemilanku.

“Eh kau tau nggak, aku belum mandi,” lapormu padaku begitu tiba di kantor dan menghampiri mejaku.
“Jorok kali kau, Bang! Terus kenapa juga lapor sama orang lain?”
“FYI laaah.” Kau tergelak menghindari lemparan sepatuku.

Kuingat kita selalu makan siang sama-sama. Di warung nasi padang di ujung jalan dekat kantor. Aku akan melingkarkan lenganku pada lenganmu. Menggandengmu. Mantap sekali rasanya jika berjalan denganmu seperti itu. Kulakukan itu otomatis, bahkan aku tak memikirkan implikasinya ketika orang-orang melihat kita.

“Kalian pacaran?” Itu adalah pertanyaan salah seorang kolega.
“Gue pacaran sama si Enno yang bawel setengah mati ini? Mendingan gue bunuh diri!” Jawabmu.
“Sebelum lu bunuh diri, gue duluan yang mati, Bang. Emang elu doang yang nggak rela dan pengen bunuh diri?”

Mereka percaya tidak ya kalau kita tak punya hubungan romantis apa-apa? Tetapi mungkin tidak ada yang benar-benar bisa mengerti bahwa kita bersahabat. Aku benar-benar menganggapmu abangku. Dan aku tahu kau menganggapku adikmu, meskipun di rumah kau punya satu adik perempuan seumurku.

"Adikku itu tak bisa kukerjai macam kau. Dia jarang di rumah. Ngelayap terus kerjanya. Lagipula dia beda denganku. Gayanya borju dan feminin, kemana-mana selalu pakai rok mini dan sepatu hak tinggi. Tak matching kami. Kalau gayamu kan asyik. Kayak aku ini punya adik laki-laki. Klop kita kalau jalan kemana-mana."

Kadang-kadang, kalau sedang gembira, kau mencariku. Memutar-mutar badanku sambil kau angkat dari belakang. Aneh, tubuh kurusmu itu kuat mengangkat tubuhku yang kecil tapi berat.

"Kau makan apa sih? Makin lama makin berat! Kau tambah gendut!" Omelmu sehabis memutar-mutar tubuhku di tengah ruangan rapat.
"Udah tau berat, masih aja gue dijadiin komidi puter!"
"Asik muter-muterin kau itu. Dulu waktu kecil, adikku suka kuputar-putar. Sekarang mana mau dia. Lagian dia udah berat. Badannya lebih besar dan tinggi dari kau."

Suatu hari kau bawa gitar ke kantor. Kau suruh aku menyanyi, kau yang mengiringi. Paling sering kita nyanyi More Than Words-nya Extreme. Karena aku suka petikan gitarmu yang pas sekali, dan karena kau bilang suaraku paling bagus kalau nyanyi lagu itu. Teman-teman sekantor akan merubungi kita di ruang tamu redaksi dan ikut menyanyi.

Abang, aku kangen kau malam ini. Sedang apa? Aku kepingin nyanyi More Than Words lagi. Tapi tak bisa lagi kau putar-putar aku seperti komidi. Aku sudah tak tomboy lagi sekarang, dan berhijab. Tapi mungkin kalau suatu saat kita ketemu lagi, aku pasti akan langsung menggandeng tanganmu. Entah kenapa, selalu refleks begitu.

Baik-baiklah di kapal ya. Menyanyilah yang merdu supaya orang-orang yang mendengarmu senang. Kau memang cocok jadi musisi daripada jurnalis.

I miss you, Bang.


“If you have good friends, no matter how much life is sucking, they can make you laugh.”
― P.C. Cast


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Thursday, November 10, 2011

One Piece About Ninis

Saya masih selalu ingat wajahnya yang manis bulat telur itu tersenyum di tengah lingkaran kami yang sedang latihan.

"Kenalkan, teman baru kita, Anisa," kata pelatih kami, Mas Dika.
"Ninis," Ia menyebut nama panggilannya. Matanya berbinar, ada dua lesung di pipinya.

Tak perlu lama bagi kami berdua untuk menjadi sahabat. Ia menjadi salah satu dari sedikit sahabat perempuan saya. Karakternya kurang lebih sama dengan saya. Agak sedikit tomboy meski penampilannya lebih perempuan, dengan rambut panjang sebahunya dan lipstik merah pucatnya.

Ibu saya menyukainya. Begitu juga tampaknya ibunya menyukai saya. Waktu ibu saya masih ada, kadang-kadang beliau suka teringat pada Ninis dan bertanya, "Ninis gimana kabarnya ya? Anaknya sudah berapa?"
Begitu juga ibunya. Ketika ibunya masih ada (ibunya juga sudah meninggal, lebih dulu dari ibu saya), beliau suka menanyakan saya. "Enno kapan ke main ke Depok ya, Nis? Mama kangen ketawa-ketawa sama anak itu..."

Ninis lebih tua dari saya. Tiga atau empat tahun jaraknya, saya lupa. Yang jelas, waktu kami masih giat berteater, saya masih SMU dan ia sudah lama lulus tetapi tidak kuliah. Ia bekerja sebagai SPG, membantu orangtuanya membiayai sekolah adik-adiknya. Ia pernah bertanya pada saya, "Lu nggak malu temenan sama gue? Anak-anak yang lain pada kuliah, gue cuma SPG."

Senior-senior saya di teater itu memang mahasiswa, beberapa malah kuliah di IKJ. Semua punya bakat akting yang bagus, beberapa dari mereka bahkan sering  saya lihat bermain di sinetron. Yang membuat saya senang berteman dengan Ninis justru karena ia tidak minder berbaur dengan yang lain, bakat aktingnya bahkan lebih bagus dari mereka. Ia memberi saya contoh kepercayaan diri.

Di sanggar kami, beberapa orang menonjol di hal-hal yang berbeda. Saya dinilai lebih jago di reading. Mereka menjadikan saya sebagai si pembaca puisi. Setiap ada lomba baca puisi, mereka menyorong-nyorongkan saya untuk ikutan. Padahal saya sebenarnya selalu grogi. Kalau ada pementasan teater atau monolog, Ninis selalu ada dalam daftar pertama. Itu sudah menjadi semacam tradisi.

Lalu suatu hari, Mas Dika memutuskan untuk menukar peran. Ninis tiba-tiba harus ikut lomba baca puisi, dan saya diberi peran dalam sebuah pementasan pendek untuk pekan teater di beberapa sekolah.

"Nggak bagus kalau dibiarkan terus begitu," kata Mas Dika. "Nanti kalian nggak berkembang. Ninis memang bagus di akting dan Enno bagus di reading. Tapi Ninis juga harus memperbaiki kemampuan reading dan Enno harus memperkuat akting."

Seminggu sebelum pementasan, Ninis selalu ke rumah saya sepulang kerja. Melatih puisinya di depan saya, minta dikomentari dan dikritik, sementara saya berlatih akting dengan sungguh-sungguh. Memerankan salah satu karakter utama dalam drama karya sastrawan Rusia, Anton Chekov. Drama berjudul Rude Man (Orang Kasar), seorang janda yang ditinggal mati suaminya, menyalahkan semua orang dan mengurung diri di kamar selama tujuh bulan.

Ninis memenangkan lomba itu dan pementasan saya juga sukses. Kemampuan readingnya semakin bagus, bahkan akhirnya di kemudian hari ia menjadi pengisi suara untuk berbagai iklan di televisi dan radio sampai sekarang. Kadang-kadang saya merasa mengenali suaranya ketika sedang menyaksikan sebuah iklan.

Hari ini saya menemukan naskah drama usang terselip di antara berkas-berkas lama. Naskah Anton Chekov itu. Saya jadi ingat Ninis. Nomor teleponnya hilang bersama hilangnya ponsel saya beberapa bulan yang lalu. Tetapi saya masih ingat rumahnya di Depok sana.

Saya mencatat dalam agenda barusan: Desember, Jakarta, ke rumah Ninis.



“A friend is one that knows you as you are, understands where you have been, accepts what you have become, and still, gently allows you to grow.”
― William Shakespeare


pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Monday, July 11, 2011

Belum Cukup

"Aku hanya minta ditemani. Satu hari saja, setelah aku lelah mengarungi deadline."
"Tapi aku pulang nanti sore."
"Oh, tentu lebih memilih siapa namanya itu, untuk kamu temui."
"Aku nggak suka kamu ngomong begitu."
"Aku juga nggak suka waktu kamu bohongi dulu. Lebih sakit dari yang tersakit. Lebih pedih dari yang terpedih. Apa pernah kamu pikirkan itu sedikit saja ketika kamu melakukannya?"
"Aku bohong apa...? Kenapa kamu tiba-tiba kesal? Ya sudah, aku nggak jadi pulang ke Jogja. Aku menemani kamu dulu."
"Sudah pulang saja!"
"Nggak, sudah aku batalkan."
"......."
"Kamu menangis? Maaf. Aku minta maaf, Retno."
"Sudah, kamu pulang ke Jogja saja! Aku sudah nggak mood!"

....................

Kesedihanku, kepedihanku... pernahkah kamu pikirkan itu ketika kamu menjerumuskan aku pada hari-hari tak berujung? Hari ini hanya kuminta sedikit saja ketulusan. Tak lebih. Barangkali kompensasi dari rasa sakit itu.

Mungkin akulah yang bodoh. Tak kunjung kulepaskan selimut sepi itu, sehingga aku berharap riuh darimu. Meski semua itu sementara dan semu.

Semuanya sudah lama selesai, bukan? Tetapi mengapa seolah belum cukup...?

_______________________

Tulisan ini mengendap di draft sejak tahun 2009, sebelum saya bertemu Kenzo. Tentang seseorang yang pernah mengukir kisahnya dengan saya bertahun-tahun silam. Kisah yang manis tapi berakhir sedih karena kesalahannya. Tapi setidaknya kami berpisah baik-baik. Berbicara dari hati ke hati dan bersepakat mengakhiri kisah demi kebaikan kami berdua.

Saya menghargainya. Menghormatinya karena itu, meski terkadang masih merasa sebal dengan ulahnya mengacaukan segalanya saat itu.

Hari ini tiba-tiba ingin membagi lagi catatan ini untuk dibaca bersama :)


pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, June 29, 2011

If I Know Someone is Already Taken

If you know someone is already taken, please respect their relationship. Don't be the reason they end up single.
-unknown quote-

................

Cewek-cewek yang berdiri di sudut itu memandangi saya dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. Tatapan mereka campuran antara benci, segan, dan penasaran. Saya menyingkirkan map berisi draft skripsi saya dari pangkuan dan menunduk, memandangi diri saya sendiri.

Ada apa sih? Kancing kemeja saya terbuka, jins saya robek atau sepatu saya tertukar sebelah? Tapi sepertinya saya baik-baik saja.

Saya menunggu. Barangkali mereka akhirnya akan mengatakan sesuatu. Tapi setengah jam sudah berlalu dan mereka tak kunjung menghampiri. Baiklah. Cukup. Enough. Saya ini senior, mereka hanya anak-anak tingkat satu dan sudah memperlakukan saya dengan sangat tidak sopan. Apa-apaan memandangi saya dengan sewot seperti itu sambil berbisik-bisik!

Saya menghampiri mereka. "Ya? Ada apa, dek? Ada yang mau diomongin sama aku?"

Mereka kelihatan kaget. Anehnya tak satupun menyahut, malah semuanya melengos.

Saya menghela napas. "Ada apa sih ngeliatin aku kayak gitu? Mau ngomong apa?"

"Enggak, Mbak," sahut salah seorang dari mereka, lirih.

"Kalo gitu nggak usah ngeliatin kayak tadi dan pake bisik-bisik. Bikin orang nggak nyaman. Nggak sopan sama orang yang lebih tua, tau nggak."

Mereka menunduk, lalu pelan-pelan beranjak. Saling menggamit dan kabur dari depan muka saya. Menyisakan tanda tanya.

"Oh, yang itu? Itu sih pacarnya Anwar," kata Yani, teman saya, beberapa hari kemudian. "Dia cemburu kali sama elu."
"Lho emang gue kenapa? Kenal juga kagak sama dia."
"Lu suka kirim-kiriman makanan sama si Anwar kan?"
Saya tertegun. "Iya sih."
"Kayaknya ada yang bilang ke ceweknya tentang itu. Trus dia jadi cemburu deh..."
"Idih! Kalo gue kirim-kiriman makanan, itu kan cuma iseng. Bukan berarti gue doyan sama si Anwar kali!" Saya cemberut.

Saya dan Anwar. Rumah kost kami hanya dipisahkan pertigaan. Satu cabang jalan menuju ke kampus, satu lagi menuju ke kawasan wisata, dan yang satunya menuju ke stasiun. Kami satu fakultas, satu kelas juga. Kami suka pulang kuliah bareng. Berjalan kaki sama-sama lalu berpisah di pertigaan. Kadang-kadang Anwar mengantar saya sampai dekat rumah kost sekalian membeli makan siang di warung dekat situ. Perasaan saya pada Anwar? Biasa saja. Begitu juga sebaliknya.

Saya ini kan memang cenderung bergaul dengan teman laki-laki, Anwar adalah salah satu diantaranya. Ia juga tidak merasa ada yang salah berteman akrab dengan saya.

Anwar itu jenis laki-laki yang sopan santun. Memperlakukan perempuan dengan baik sekali. Kalau berjalan dengan perempuan, ia mengambil posisi di sisi luar. Seringkali mengantar sampai depan kost yang bersangkutan. Siap melindungi. Siap mengulurkan bantuan, dari memfotokopikan catatan sampai mengantar belanja bulanan. Gratis, ikhlas lahir batin.

Saya sayang dia sebagai teman. Teman favorit, karena kebaikan hatinya itu.

Karena rumah kost kami berdekatan, penjual sarapan pagi (tenongan) langganan kami juga sama. Yuk Ginah berjualan dari rumah ke rumah. Biasanya habis dari kost saya dia langsung ke kost Anwar. Kadang-kadang saya iseng mendeposit sejumlah uang pada Yuk Ginah.

"Yuk, ini lima ribu. Bilang ke Anwar, hari ini sarapannya udah aku bayarin ya. Habiskan aja semuanya."

Biasanya di kampus saat kami bertemu di koridor atau di kelas, kami tertawa-tawa. Anwar bilang terima kasih, dan lusanya ia yang mendeposit uang di Yuk Ginah untuk saya. Itu cuma keisengan dua orang sahabat. Buat saya tidak ada yang salah.

Tapi ternyata ada pengadu. Dan akhirnya ada yang cemburu.

Sudah pernahkah saya bilang kalau saya ini paling tidak suka orang lain IKUT CAMPUR urusan saya dengan teman saya? Saya tidak peduli siapa, entah pacarnya, entah saudaranya, apalagi cuma teman saya, teman dia atau teman kami. Apalagi kalau mereka itu hadir dalam hidupnya belakangan, sementara saya lebih dulu mengenal teman saya itu jauh sebelum mereka berseliweran di depan hidung saya.

Ada apa sih? Toh kamu tidak tahu urusannya apa. Toh saya tidak pacaran dengan pacarmu. Saya tidak merugikan saudaramu. Saya tidak mengganggu pertemananmu dengan dia. Silakan mengomel di belakang saya, tapi jangan 'menyentuh' saya. Jadi ketika pacar Anwar sewot dengan caranya yang mengganggu kenyamanan hidup saya di kampus, saya jauh lebih sewot.

Siapa elu! Gue udah jadi temennya dia sejak empat tahun yang lalu. Nah elu baru nongol dalam hidupnya kemaren-kemaren. Emangnya salah apa gue? Kok elu protes dengan cara pertemanan kami? Lu kira gue cewek gatel yang suka naksir pacar orang? Cih! Pergi sana lu jauh-jauh!

Itu omelan saya dalam hati.

Masalah itu tidak pernah clear sampai saya dan Anwar lulus dan diwisuda. Sampai detik terakhir keberadaan saya di kampus, si yunior pencemburu masih menganggap saya saingannya. Ya ampun, bikin saya kepingin menyuruh dia mengaca bersama saya.

Kalo gue mau naksir si Anwar, dari dulu aja kali. Dari tingkat satu. Dia pasti mau sama gue. Lu nggak bakal bisa bersaing sama gue. Anak ingusan, bau kencur. Ngaca tuh. Punya modal apa? Cakep juga enggak, pinter juga enggak. Dan attitude lu jelek begitu.

Lagi-lagi itu cuma dalam hati.

"No, maafin pacarku ya."
"It's okay," sahut saya, padahal masih gondok setengah mati.

Anwar bilang, pacarnya memang pencemburu. Itu bukan curhatnya yang pertama. Ia memang sering curhat tentang pacarnya pada saya. Dan saya berusaha untuk memberi advis sebaik-baiknya.

Anwar itu lumayan manis. Tinggi, punya lesung pipi dan kalau tertawa kelihatan sangat menarik. Waktu kami tingkat satu ia pernah naksir saya, tapi saya sudah punya pujaan hati yang lain. Kami menjadi akrab seiring waktu, karena sama-sama tertarik pada hukum pidana dan sering mengambil mata kuliah yang sama.

Saya tidak naksir Anwar, tapi kalau mau, saya bisa membuat dia naksir saya. Terlalu pede, eh? Ah, tidak. Saya cukup mengenal dia selama empat tahun dan saya tahu bagaimana dia.

Tapi dia sudah ada yang punya. Saya tidak akan pernah menjadikan diri saya alasan dia untuk memutuskan pacarnya.

Mestinya lu berterima kasih sama gue. Pacar lu selalu gue kasih semangat supaya lebih memahami elu. Bisa aja gue nyuruh pacar lu mutusin elu. Bisa aja gue ambil pacar lu buat diri gue sendiri. Lu ga pernah baca puisi cinta yang dia tulis buat gue di tingkat satu kan? Sementara selama ini ga ada sebiji pun dia bikinin puisi buat elu.

Seperti biasa. Itu omelan yang disimpan sendiri.

"War, kamu itu udah nggak naksir aku lagi kan?"
"Enggaklah. Kok nanyanya gitu? Kamu takut aku temenan sama kamu karena ada udang di balik bakwan ya?"
"Ya gitu deh. Kasian sama pacarmu. Aku nggak mau jadi alasan kalian untuk putus."
"Aku nggak akan mutusin dia, No. Aku sayang banget sama dia. Nggak tau sih kalo dia ke aku. Habis suka nggak percayaan gitu..."
"Kalo misalnya kalian putus, misalnya ya. Aku nggak mendoakan, War. Mi-sal-nya. Aku nggak akan temenan lagi sama kamu."
"Yaaah kok gitu."
"Nanti aku disangka yang jadi gara-gara."
"Gini ya, Jeng Retno. Aku temenan sama kamu sampe sekarang bukan karena puisi cinta konyol yang dulu itu. Bukaaaan. Aku temenan sama kamu karena kamu itu temen yang lucu jadi aku ketawa terus denger lawakanmu. Temen yang rajin, jadi aku bisa pinjam catatan. Temen yang pinter, jadi aku bisa ajak diskusi. Temen yang dermawan, jadi aku sarapan pagi gratis. Temen yang setia, jadi aku punya temen curhat yang bisa dipercaya. Ngerti tho sampeyan?"
"Hihihi. Padahal aku temenan sama kamu karena suka nemenin belanja bulanan dan ngebawain jinjingannya," canda saya.
"Ya nggak apa-apa. Begitu juga kehormatan buat aku." Ia tersenyum.
Ah memang baik teman saya yang satu ini!

Saya dan Anwar masih berteman sampai sekarang. Mungkin juga ia membaca tulisan ini dan tertawa. Ia dan si gadis pencemburu itu akhirnya memang tidak berjodoh. Mereka putus karena gadis itu dijodohkan orangtuanya. Bukan karena Anwar. Bukan karena saya. Belakangan ia bahkan menyapa saya dengan ramah di fesbuk, minta maaf atas kelakuannya dulu dan bercerita sedikit tentang keluarga kecilnya. Akhir yang sangat baik,syukurlah.

If I know someone is already taken, I respect their relationship. 
I won't be the reason they end up single.


pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Sunday, May 1, 2011

Almamater Kedua

Pagi itu serombongan anak sekolah berpapasan dengan saya di tengah jalan. Saya sedang menuju ke warung untuk berbelanja seperti biasa, dan mereka menuju sekolah dasar yang tak jauh dari rumah saya.

Saya terpana melihat beberapa diantara anak-anak itu tak memakai alas kaki yang layak dan pantas. Mereka berseragam olahraga, tapi alas kakinya bukan sepatu olahraga melainkan sepatu sandal plastik murahan model Crocs yang sudah dekil, sepatu sandal bertali kebesaran mungkin milik kakak atau ibunya, bahkan ada yang memakai sepatu flat dari plastik yang pasti sangat licin kalau dipakai berolahraga.

Saya geleng-geleng kepala. Separah itukah kondisi di desa ini? Anak-anak itu bahkan bisa bermain game online di warnet selama satu sampai dua jam. Mereka mengantongi uang jajan seribu sampai dua ribu sehari. Orangtuanya ada yang pegawai honorer di kelurahan atau buruh tani, dengan penghasilan yang terbilang lumayan jika mereka masih bisa memberi anak-anaknya uang jajan setiap hari. Kenapa alas kaki anak-anak itu begitu tidak layaknya? Masa mereka tidak bisa membelikan sepatu yang paling murah buat anak-anaknya?

Ini zaman apa? Pikir saya. Kenapa masih ada yang bersandal ke sekolah? Desa ini bukan desa pedalaman di Kalimatan atau Irian sana. Warnet pun bertebaran dimana-mana. Tapi kondisinya seperti kembali ke tahun-tahun silam ketika saya bersekolah di desa ini selama tiga bulan.

Ya. Saya pernah bersekolah di SD itu dulu. Tradisi dalam keluarga Ibu adalah mengirim setiap cucu Kakek ke desa untuk bersekolah selama beberapa lama sekaligus belajar mengaji pada Nenek. Saya dikirim ketika masih kelas empat SD. Saat itu keluarga kami masih tinggal di Bandung. Saya adalah seorang anak kecil pecicilan dan keras kepala yang sebetulnya sudah pandai mengaji diajari Ibu, tapi tetap harus mencicipi bangku sekolah di desa sesuai peraturan Kakek.

Dulu, bangunan sekolah dasar itu begitu buruknya sampai saya nyaris menangis tidak mau sekolah. Saya takut dindingnya yang miring rubuh, langit-langitnya yang rapuh berjatuhan menimpa kepala saya, dan anak-anak dekil yang dikenalkan wali kelas dalam bahasa sunda itu tampak begitu asing di mata saya. Saya duduk mengkerut di bangku jelek reyot penuh coretan itu. Menunduk dan pura-pura sibuk menulis.

Saya tidak bisa meminta bersekolah di SD yang lebih baik dari itu. Harus di SD itu, karena dulu Kakek adalah kepala sekolahnya dan guru-guru yang mengajar disana adalah mantan murid-muridnya. Kakek lebih merasa nyaman jika mantan-mantan muridnya itu yang mengajari cucu-cucunya. Mereka dulu murid-murid Kakek yang paling pintar, kata beliau.

"Iya, tapi ngajarnya pake bahasa Sunda. Retno nggak terlalu ngerti, Buuu...." Saya merengek pada Ibu yang suatu hari datang menjenguk.

Lama-lama setelah saya mencoba menyimak pelajaran dengan bahasa pengantar bahasa sunda itu, saya tahu bahwa pelajaran yang diajarkan guru-gurunya ketinggalan jauh dengan pelajaran di sekolah lama saya di kota.

Mereka baru mengajari kami Bab 2, padahal di sekolah lama saya sudah mempelajari Bab 5. Akhirnya saya jadi malas belajar. Terlebih karena saya adalah murid yang pembosan dan terbiasa belajar interaktif. Saya mengantuk karena guru di sekolah ini hanya menerangkan saja tanpa melibatkan kami untuk bertanya atau ditanya, hanya mendiktekan materi dan kami terdiam mencatat terburu-buru. Pelajaran apaan nih! Pikir saya kesal.

Ketidakbetahan saya bertambah pula dengan ulah teman-teman baru saya. Sebelum bel masuk berbunyi, mereka mengerumuni meja saya. Memperhatikan sepatu saya, tas saya, tempat pinsil saya, bahkan alat-alat tulis saya yang made in kota.

"Neng, ningali nya wadah patlotna sakedap?" Ujar mereka. Lihat ya tempat pensilnya sebentar? Mereka memanggil saya 'neng' karena mereka tahu saya cucu mantan kepala sekolah dan mungkin merasa minder pada saya si anak kota.
Saya membiarkan mereka mengerumuni tempat pensil saya yang berlaci dan bergambar robot itu. "Jangan manggil eneng atuh," tukas saya risih. Toh saya tidak membedakan status saya dan mereka.

Saya bermain dengan mereka di jam istirahat. Jajan bareng di kantin sekolah. Yang membuat saya tidak betah di sekolah ini bukan karena mereka dekil dan tidak bersepatu. Tapi sikap mereka yang menganggap saya ini 'super star', juga karena mereka bersikap hormat. Saya cuma anak kecil seperti mereka, saya risih kalau mereka bicara sopan dan menunduk-nunduk begitu pada saya. Saya juga kasihan melihat mereka kelihatan begitu miskin dan tak berpunya. Di desa ini pada masa itu taraf hidup penduduknya memang masih di bawah standar.

Akhirnya saya memang bosan. Bosan karena pelajaran yang diajarkan di kelas tidak saya mengerti dan soal-soal di buku bisa saya kerjakan semua tanpa susah-susah. Mana tantangannya? Pikir saya. Mendingan saya belajar sendiri di rumah. Kalau tidak bisa tinggal tanya Nenek atau Kakek. Mereka pasti bisa membuatkan soal-soal yang lebih sulit, yang membuat saya berpikir dan tidak ngantuk.

Suatu hari saya bersikeras tidak berangkat sekolah. Saya malah tidur-tiduran di pangkuan Ibu yang sedang berkunjung.
"Heh, kamu nggak sekolah ya?" Tanya Ibu.
"Males ah Bu...."
"Nanti jadi bodoh. Sana ganti baju, berangkat. Ibu antar kalo kamu malu datang telat."
"Nggak mau. Nggak mau sekolah. Bosen. Apaan, pelajarannya Retno udah tau semua. Ngajarnya juga pake bahasa sunda. Kan Retno jadi bingung, Bu."
"Lho kan kamu ngerti bahasa sunda. Kalo diajak ngomong, bisa jawab."
"Iya, itu kan kalo ngobrol. Kalo belajar di kelas, lain lagi. Buku pelajarannya aja pake bahasa Indonesia, masa neranginnya pake bahasa sunda. Kan Retno bingung."
"Terus kamu maunya gimana?"
"Pindah lagi ke Bandung ya Bu?" Saya mulai merengek. "Retno kangen temen-temen di sana..."
"Baru sebentar disininya. Nanti dimarahin Kakek lho."
"Biarin. Pokoknya males disini!" Saya mulai ngambek.

Akhirnya Nenek mengambil jalan tengah. Saya belajar di rumah, mengerjakan soal-soal yang ada di buku pelajaran. Wali kelas saya datang ke rumah sehabis jam sekolah untuk memeriksa hasilnya. Itulah enaknya jadi cucu kepala sekolah. Hahaha

Ternyata saya bosan lagi dan mulai merengek pada Ibu untuk kembali ke Bandung, ke sekolah saya yang lama. Saya kangen pada teman sebangku saya dan teman-teman 'ngebadung' saya di sekolah itu. Saya kangen guru-guru saya yang cerewet dan suka mengadakan kuis sebelum pulang. Saya kangen menjadi salah satu yang bisa menjawab pertanyaan mereka dan diizinkan pulang sebelum bel berbunyi.

Kali ini saya merengek habis-habisan. Dan Nenek yang selalu memanjakan cucu berhasil membujuk Kakek untuk membiarkan saya kembali ke kota.

Pagi itu, ketika melewati SD tempat saya pernah belajar sebentar, saya melihat kepala sekolahnya berdiri di depan kantor. Dulu ia adalah wali kelas saya yang baik itu.

Ia melihat saya dan tersenyum lebar. "Neng, habis belanja?"
"Iya, Pak."
Sebetulnya saya ingin sekali bertanya kenapa ia membiarkan murid-muridnya tidak bersepatu layak. Kenapa ia membiarkan keadaan sekolah seprimitif dulu ketika saya bersekolah disitu.
"Neng, kalo nggak sibuk main atuh ke kantor Bapak. Kan sekarang mah sekolahnya udah bagus. Nggak takut keruntuhan atap lagi kayak dulu."
Saya tertawa mendengar sindirannya. "Iya Pak. Kapan-kapan ya."

Dari seberang jalan saya memperhatikan almamater kedua saya itu. Gedungnya memang sudah bagus, tidak lagi seperti dulu. Bahkan mereka punya marching band yang pernah juara sekabupaten.
Tetap saja soal anak-anak tak bersepatu itu menjadi ganjalan di hati saya. Akan saya tanyakan pada mantan guru saya itu kapan-kapan.


foto dari sini


Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, April 6, 2011

[Kisah Abe] Rahasia

Kalau kalian mengira saya dan Fara akan selamanya menjadi dua orang dalam kutub berlawanan, itu anggapan yang salah. Kami, setelah menjadi dua orang dewasa, berteman cukup baik. Tidak akrab, tapi setidaknya kami saling bertegur sapa di dunia nyata dan dunia maya.

Sayangnya, Fara juga tidak tahu jejak Abe. Setidaknya itulah kesan yang saya dapatkan setiap kami bertukar kabar. Saya tidak pernah bertanya tentang Abe, dia juga. Meski pernah setahun lalu, ketika kami tidak sengaja bertemu di sebuah mall, kami membicarakan Abe.

Hari itu, beberapa hari setelah acara reuni yang digagas Fara dan tidak saya hadiri, kami duduk di McDonald, makan burger dan es krim. Fara bertanya kenapa saya tidak datang ke reuni, dan saya mengulangi alasan saya: dikejar deadline. Saya tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya, bahwa saya masih merasa malas bertemu dengan geng mereka. Bukan karena dendam atau apa. Tapi dengan mereka saya tidak punya nostalgia apa-apa. Saya tidak mungkin mempermalukan mereka dengan mengumbar kisah betapa dulu mereka sangat mengganggu saya dan membuat saya sebal, kan?

Tapi ternyata Fara yang menggulirkan topik masa lalu itu duluan.
"Masih ingat Nina, kan?" Tanyanya. "Nina Adriana, yang mantannya Abe di kelas dua?"
"Oh, iya. Nina yang itu." Saya mengangguk.
"Sekarang dia kerja di bank, di Manado."
"Oh ya?"
"Dulu dia cemburu banget sama elu."
"He?" Saya hampir tersedak burger yang saya kunyah. Dulu Nina selalu bersikap seolah-olah saya tidak ada, meskipun saat itu saya sedang ada di dekatnya. Ehm, di dekat Abe sih sebenarnya :)
"Abe suka ngomongin elu, katanya. Ngelarang Nina nggak main sama gue. Nyuruh dia supaya kayak elu."
"He?" Saya buru-buru minum, takut tersedak lagi. "Supaya kayak gue gimana?"
Saya membayangkan Nina yang manis, bersepatu dan tas bagus, selalu memakai bando-bando lucu. Tak bisa dibandingkan dengan saya yang tomboi, memakai sepatu dan tas lama yang baru akan diganti nanti kalau sudah sobek.
"Elu itu dulu apa ya namanya?" Fara berpikir sejenak. "Kalo menurut gue sih, lu keliatan bebas dan cuek gitu. Nggak pernah gabung sama kumpulan yang sama. Selalu pindah dari kelompok satu ke kelompok lain. Nggak terikat, tapi anehnya anak-anak semuanya akrab sama elu."

Saya menatap Fara. Tidak mengira dia dulu memperhatikan saya. Dan apa yang dia katakan benar. Dari dulu sampai sekarang saya tidak suka bikin kelompok atau menjadi bagian dari kelompok tertentu. Saya selalu soliter. Tapi bukan berarti saya mengasingkan diri dari teman-teman. Saya mengobrol dengan mereka, tapi tidak selalu dengan orang-orang yang sama. Kalau beberapa orang sudah mulai mengitari saya setiap waktu, setiap hari dan terkesan mulai membentuk grup, saya akan segera menjauh, menjaga jarak. Entahlah, saya tidak suka bikin geng, grup, kelompok, atau apapun namanya. Itu membuat saya terikat dan sesak napas. Dan muak, ketika mereka lalu mulai melakukan sesuatu yang eksklusif seperti mengganggu atau menggosipkan seseorang.

Saya mungkin hanya punya satu teman akrab dalam setiap periode. Biasanya teman sebangku.

"Gue mau nanya boleh?"
"Please," sahut saya.
"Lu dulu suka sama Abe nggak sih?"
"Enggak. Kok lu nanya kayak gitu, Far?"
"Masa sih? Soalnya dulu lu sering keliatan bareng-bareng dia. Itu sebabnya Nina cemburu. Kayaknya dulu ada beberapa temen cewek yang juga nyangkain elu sama Abe jadian. Termasuk gue..." Fara nyengir. "Gue juga sempet naksir Abe tau..."
Kali ini saya benar-benar tersedak dengan sukses.
"Habis pas kelas dua dia keliatan lebih keren gitu, dan basketnya jago banget." Fara tertawa.

...............

Abe dulu pernah bilang Fara bersikap tidak ramah pada saya karena ia iri. "Iri tanda tak mampu," katanya dengan nada sok tahu. Saat itu jam istirahat, kami ada di pinggir lapangan basket.
"Kok bisa dia iri sama gue? Yang cakep kan dia. Yang kaya juga dia. Yang ngetop dikejar-kejar cowok-cowok juga dia. Kalo dibilang pinter, dia juga pinter kok."
"Karena dia cuma bisa ngandelin orangtuanya. Sedangkan elu ngandelin diri lu sendiri."
"Gue nggak ngerti."
"Ya. Elu kan emang bodoh." Abe menyundul kepala saya. "Maksud gue.... lu inget nggak kejadian waktu lu ngelawan Hedy pas Ospek? Fara nggak akan berani kayak gitu. Lu juga sering ngalahin nilai-nilai dia di kelas satu. Fara ngerasa otak lu lebih jago. Dan ada satu lagi yang bikin dia masih terus iri sama elu..."
"Apaan?"
"Ntar aja gue ceritain. Gue main dulu!" Ia berlari ke lapangan, meninggalkan saya bengong.
"Abeee, apaan?"
"Ntaaar, gue main dulu!" Ia nyengir dari tengah lapangan.

Abe tidak pernah mengatakannya, bahkan ketika kami bertemu lagi di periode kuliah. Karena saya menganggapnya percakapan tidak penting dan melupakannya. Saya baru mengingat percakapan itu setelah bertemu Fara, dan mulai merangkai fakta.

Fara naksir Abe. Fara tidak pernah menyukai saya, bahkan sampai kami kelas tiga. Abe menyukai saya sampai kelas tiga.

"Far, lu suka sama Abe sampe kapan?"
Fara tertawa. "Sampe kelas tiga. Bego banget ya gue. Pungguk merindukan bulan. Si Abenya malah cuek banget."
Sebetulnya saya ingin bertanya apakah itu yang menyebabkan dia terus tidak menyukai saya sampai kelas tiga? Karena selain dia tidak suka nilainya disaingi, juga karena dia tahu Abe menyukai saya sampai kelas tiga? Tapi dia tahu darimana?

Di luar semua itu, apapun yang terjadi diantara kami dulu kini sudah mencair. Saya segan mengungkit kisah lama yang bikin kami tidak nyaman nantinya. Jadi saya memutuskan tidak bertanya.

.............

Sebuah ingatan melintas. Suatu hari sebelum Abe bilang bahwa Fara iri.

"Lu tau nggak, Andi nembak Fara malem minggu kemaren."
"Tau. Dia ditolak kan?"
"Lho? Tau dari mana lu?"
"Dari Fara."
"Fara cerita sama elu?" Saya melotot tak percaya. Abe yang tidak suka pada Fara demi membela saya kok jadi mengobrol dengan Fara? "Lu ngobrol sama dia kapan, Be? Kok bisa? Dia cerita apa?"
Abe tersenyum. "Ya cerita gitu doang." Ia seperti biasa berlari ke tengah lapangan basket dan merebut bola yang sedang didribble temannya.

Sepertinya Fara tahu perasaan Abe pada saya dari Abe sendiri, ya kan? Ketika mereka bicara diam-diam setelah Fara ditembak Andi. Mungkin Fara menyatakan perasaannya pada Abe, dan mungkin Abe bilang ia menyukai saya. Yang terjadi kemudian dua orang itu merahasiakannya dari saya, sampai Abe mengatakannya pada saya ketika kami sudah dewasa.

"Gue mau ngaku," katanya hari itu. "Tiga tahun gue suka sama elu. Tapi elunya nggak ngerti-ngerti."
Satu hal yang tidak akan pernah saya lakukan pada Abe adalah melukai perasaannya. Hari itu, dengan tangan saya dalam genggamannya, kalau boleh jujur saya merasa bersalah telah mengabaikannya begitu parah.



Yoo Ah-in seperti biasa ;)



Image and video hosting by TinyPic

Saturday, April 2, 2011

[Kisah Abe] Prelude

Saya tidak pernah suka OSPEK atau apapun namanya acara konyol perkenalan sekolah untuk murid-murid baru ini. Sejak saya tahu bahwa acara ini melelahkan dan mengerikan, karena kakak-kakak kelas sok galak dan sok kuasa itu bagaikan memperbudak kami.

Kami harus memakai aksesoris yang aneh-aneh, punya nama julukan yang aneh-aneh, membawa bekal makan siang yang aneh-aneh, melakukan hal yang aneh-aneh dan memalukan. Bahkan lagu-lagu yang mereka ajarkan juga liriknya aneh.

Cuma satu yang membuat saya bertahan sejak hari pertama acara gila ini: cowok tinggi bermata sipit yang pendiam di sana itu. Yang duduk saja mengawasi kami dikerjai para kakak kelas yang gila hormat.

Cowok itu keren sekali dalam diamnya. Berkarisma. Suatu kali saya melihatnya sedang bergurau dengan teman-temannya. Ia tertawa dengan suara yang lepas dan renyah.
"Namanya siapa sih kakak yang itu?" Tanya saya pada Rini, sesama murid baru yang sejak hari pertama akrab dengan saya.
"Itu? Yang tinggi itu? Namanya Kak Alex."

Saya tak mengira hari itu akan datang. Hari di mana saya akan menatap langsung mata kakak yang keren itu. Satu-satunya panitia OSPEK yang tidak sok kuasa dan mengerjai anak-anak baru. Sayangnya, peristiwa yang mengawalinya sungguh menyebalkan.

Hari itu, hari terakhir OSPEK, topi saya hilang. Saya sibuk mencari-carinya sejak istirahat makan siang sampai bel berbunyi lagi, tanda kami harus berkumpul di lapangan. Topi itu tak kunjung ketemu. Saya mulai panik, sementara anak-anak lain sudah mulai berbaris di lapangan. Saya masih saja menunduk-nunduk mencari topi.

Tiba-tiba ada suara menggelegar di depan saya.
"Kamu nyari ini ya?"
Saya mendongak dan melihat Kak Hedy, panitia paling galak sedang menatap saya sambil mengacungkan sebuah topi di tangannya. Saya menatap ngeri. Itu topi saya! Kenapa bisa dia yang menemukannya! Saya pasti disiksa!

Benar saja. Ia berseru pada teman-temannya sesama panitia yang semula sudah berada di lapangan. "Hey panitia! Kesini! Ada anak ceroboh disini!"
Sebagian panitia berdatangan menghampiri kami.
"Ada apa Hed?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Liat nih, anak ini nggak bisa ngejagain barang miliknya sendiri. Nggak bertanggung jawab. Gimana bisa jadi murid sini kalo ceroboh." Topi saya diputar-putarnya di tangannya. Hedy juga tinggi seperti Alex. Badannya begitu menjulang di depan saya.
Saya gemetar. Jangan salah sangka. Saya bukan gemetar takut, melainkan marah. Sejak kecil berteman dengan cowok tidak akan membuat saya gentar untuk menonjok orang yang menyebalkan seperti dia, seberapa besar pun badannya. Tapi sayangnya ini bukan di rumah. Ini di sekolah. Dan saya hanya murid baru.

"Kamu mau topi kamu dikembaliin kan?" Tanya Hedy sambil menyeringai sinis. "Mau nggak?" Bentaknya.
"Mau, Kak."
"Jawab yang keras! Lembek banget sih kamu! Udah makan belum sih?"
"Mau, Kak."
"Bego! Pertanyaan saya tadi udah ganti. Saya tadi tanya udah makan belum!" Ia membentak lagi. "Coba liat nih," katanya sambil memandang para panitia yang lain. "Anak bego kayak gini mau jadi murid sini! Kenapa topi ini bisa hilang?" Hedy mengacungkan topi saya di depan hidung saya. "Jawab yang keras!"
"Saya nggak tahu," jawab saya.
"Heh! Kok nggak tahu? Jawab yang betul! Kenapa bisa hilang!"
"Jatuh kali," jawab saya.
"Eh, jawab yang sopan ya! Anak baru aja udah belagu. Mau nantang?"
"Kan udah saya bilang nggak tahu. Mana mungkin saya tau topi itu bakal hilang. Saya bukan peramal."
Si Hedy tambah melotot. "Heh! Beneran ni anak nantangin gue!"

Saya angkat bahu. Sengaja menantang memang. Melawan. Dia pikir siapa dia membentak-bentak dan mengerjai saya. Memangnya saya tidak tahu hakekat OSPEK ini untuk apa? Bukan untuk gagah-gagahan panitia kan? Memangnya saya bakal takut? Saya ini besar di kompleks tentara, sudah terbiasa mendengar tembakan meriam dan senjata api, pernah ikut naik tank dan helikopter Puma. Ngapain takut sama bentakan dia. Toh kami sama-sama murid. Saya cemberut.

"Sekarang juga kamu push-up! Push-up!" Bentaknya sambil mendorong saya. "Push-up 50 kali, skotjam 50 kali!"
Saya menepis tangannya yang mendorong-dorong saya. Mata saya mulai panas dan berair. Ya, saya ingin menangis karena terlalu marah. Marah karena dipermalukan di depan banyak orang dan frustasi karena kalau saya memutuskan menonjok orang ini, saya pasti akan dipanggil kepala sekolah, dianggap berkelahi di sekolah dan itu akan sangat memalukan.

Saya mulai terisak-isak.
"Udah deh Hed, kayaknya lu udah keterlaluan deh." Beberapa panitia cewek mulai berkomentar.
"Dia yang ngelawan duluan. Udah gitu malah nangis. Udah bego, cengeng lagi!" Ejek si Hedy.
"Udah, kasihin topinya, Hed," kata Kak Indah. Saya ingat namanya, karena ia termasuk panitia yang baik pada murid baru. "Anak orang lu bikin nangis. Kasian tau. Cuma topi jatuh aja elu besar-besarin."
"Nggak segampang itu dong, tetep aja harus dihukum." Si Hedy ini sepertinya memang maniak. Sungguh menyebalkan mengingat tampangnya dulu itu, bahkan ketika saya mengingatnya selagi menulis ini.
"Iya Hed, lu udah keterlaluan bikin anak ini nangis." Akhirnya beberapa panitia mulai berkomentar.

Tiba-tiba, seseorang menyeruak dari kerumunan panitia. Menyambar topi itu dari tangan si panitia sinting dan memasangnya di kepala saya dengan lembut.
Saya tengadah dan melihat wajahnya yang serius. Alex. Kak Alex!

"Lex, lu apa-apaan sih!" Si sinting protes.
"Udah. Cukup. Anak-anak lain udah nunggu lama di lapangan. Mau sampe jam berapa ngurusin yang beginian doang?"
"Ini urusan gue, Lex! Lu kan kebagian ngurusin lapangan!"
"Hed, adek lu juga anak baru kan? Si Evi, yang rambutnya dikepang itu? Lu rela nggak kalo adek lu juga kita kerjain?"
"Heh! Kenapa adek gue dikerjain! Awas lu!"
"Kalo lu nggak suka adek lu dikerjain, lu juga jangan suka ngerjain orang. Kalo anak ini punya kakak, pasti kakaknya juga nggak rela adiknya dikerjain."
"Iya bener. Lu suka keterlaluan kalo ngerjain anak baru, Hed. Mau adek lu dikerjain juga?" Ujar Kak Indah.
Saya tak mengira akhirnya saya dibela. Si Hedy sinting itu terdiam, mungkin karena takut adiknya dikerjai juga.
Lalu Alex menoleh pada saya dan tersenyum. "Ke lapangan yuk! Airmatanya dihapus dulu, nanti malu."
Kak Indah menggandeng saya ke lapangan, bergabung dengan anak-anak kelas satu lainnya. Mereka semua memandangi saya heran, karena di belakang saya panitia-panitia lain mulai beranjak ke lapangan juga.
"Di sana ada apa sih tadi?" Bisik Rini. "Lu diapain sama mereka?"
"Ntar aja gue critain."

Sejak itu saya mengagumi Kak Alex dan kegirangan waktu tahu kami memakai kelas yang sama dan meja yang sama. Saya selalu mengintip dia di balik jendela, kalau kelasnya belum bubar dan saya datang terlalu cepat. Hmm... atau saya sengaja datang terlalu cepat ya supaya bisa mengintip dia duduk di bangku kami? Hihihi

Kemudian saya tahu bahwa ada adik Kak Alex di kelas saya. Anak lelaki bertampang tengil yang super bandel dan suka menjahili saya.

Suatu hari di kelas, ia menarik-narik rambut saya dari belakang.
"Lu naksir kakak gue, ya?"

Dan kisah pun berawal.

............


"Alex pulang dan cerita ke gue, katanya ada anak baru, cewek, yang gokil banget berani ngelawan Hedy. Dia cerita gimana cewek itu melototin Hedy, nepis tangannya Hedy, terus nangis karena kayaknya pengen nonjok Hedy tapi nggak bisa."
"Maksud lu gue?"
"Iya. Elu. Dan ternyata gue sekelas sama elu. Kalo lu tanya sejak kapan gue suka sama elu, itu adalah sejak gue denger cerita itu dari Alex."

Saya dan Abe. 20 tahun.

_____________________________

Memori ini buat teman-teman yang mendesak saya via e-mail dan SMS supaya terus bercerita tentang Abe, yang membuat saya akhirnya membongkar lagi semua tumpukan diary lama itu. Hadoooh! Hahaha....

Masih tetap Yoo Ah-in, ikon untuk Abe ^^



Image and video hosting by TinyPic

Friday, April 1, 2011

[Kisah Abe] Kisah Terakhir

Minggu ini saja sudah tiga kali mereka bertengkar di depan saya. Sungguh menyebalkan terjebak dalam situasi ala sinetron yang tidak ada romantis-romantisnya. Mereka saling berteriak, lebih gaduh dari perkelahian anjing dan kucing.

"Coba ya punya malu sedikit," gerutu saya. Rasanya ingin sekali meninggalkan mereka di jalan sempit yang memotong rute sekolah ke jalan raya itu. Tapi mereka menghalangi jalan. Dan saya tidak bisa meninggalkan salah satu diantara mereka. Karena dia teman saya.

Kenapa sih saya harus latihan paskibra hari ini? Kenapa tidak pulang sendiri saja lewat jalan yang biasa? Kenapa harus menuruti ajakan dia? Saya melotot jengkel pada cowok tinggi berambut gondrong yang sebentar lagi pasti kena razia rambut guru BP itu. Sebal!

"Pokoknya kalo kamu masih ngelarang-larang aku main sama Fara, kita putus!" Teriak si cewek. Saya mencibir. Belakangan ini dia sedang dekat dengan gengnya Fara. Apa bagusnya anak-anak sok kaya itu? Bangga amat sih berteman sama anak-anak nggak mutu!
"Fara itu cewek nggak bener. Genit. Ganjen. Sok kaya. Sombong. Nggak ada bagus-bagusnya buat jadi temen!" Teriak si cowok.
"Dia baik kok! Kamu aja yang sirik!"
"Siapa yang sirik? Aku kan sedang berusaha melindungi kamu dari pergaulan nggak bener!"
"Kayak kamu bener aja! Kamu juga suka dipanggil guru BP, suka berantem, suka bolos!"

Saya melotot. Mengomel dalam hati. Hey, Enak aja! Cowok elu itu temen gue. Dan gue tau temen gue dengan sangat baik. Dia emang bandel, tapi baik dan nggak sombong kayak geng elu!

"Pokoknya gue mau kita putus! Nih, gue juga nggak butuh ini!" Ia melepaskan cincin di jarinya dan melemparnya. Cincin itu melenting di jalan beraspal, nyaris menggelinding masuk got.
"Ambil lagi nggak!" Seru si cowok marah.
"Nggak!"
"Ambil!"
"Nggak mau!"
Mereka masih saling teriak ketika saya membungkuk mengambil cincin itu.
"Hey, orang-orang kaya belagu!" Panggil saya. Mereka menoleh. Saya mengacungkan cincin itu. "Mentang-mentang punya duit banyak, barang begini dibuang-buang. Jadi nggak ada yang mau nih? Ya udah, buat gue aja!" Saya melangkah menerobos mereka. "Minggir, gue jalan duluan."
"Eh! Eh! Itu cincin gue!" Si cewek teriak, berusaha mengejar. "Kok elu ambil! Balikin!"
"Biarin!" Si cowok menarik tangannya. "Biarin aja. Salah sendiri kamu buang!"

Ternyata bukan cuma saya yang muak dengan pertengkaran mereka yang tak kenal waktu dan tempat. Kepala sekolah memanggil mereka ke kantornya. Menutup pintu rapat-rapat untuk menyidang mereka berdua.
"Memangnya kalian pikir ini sekolah apa? Ini tempat menuntut ilmu, untuk masa depan kalian. Di luar sana, dunia itu kejam, kalian harus menghadapi banyak masalah yang lebih besar. Tapi yang kalian lakukan disini bukan belajar malah pacaran, dan mengganggu kenyamanan siswa yang lain. Kalian ini mau jadi apa, hah?"

Suara Kepala Sekolah menggelegar murka. Saya dan Dinda menguping dari jendela belakang kantornya.
"Bikin masalah melulu sih," gerutu Dinda. "Udah kelas dua malah tambah bandel."

............

Saya menemuinya di tempat kami biasa ngobrol berempat waktu kelas satu dulu. Tak ada Dinda dan Tedy, hanya kami berdua. Kami semua tidak lagi sekelas. Berpencar-pencar, dan mulai mencari teman baru. Kami berdua masih lumayan sering bertemu karena ekskul saya paskibra dan ekskul dia basket berlatih di hari yang sama.

"Nih, cincin lu."
"Lu simpen aja."
"Kasihin lagi aja sama Nina."
"Gue udah putus sama dia."
"He? Putus beneran? Gara-gara dipanggil Kepsek ya?"
"Nggak. Emang pengen aja. Capek gue pacaran sama dia. Cewek payah, nggak bisa disayang. Nggak bisa dibilangin."
"Dia lagi akrab sama geng Fara kan. Ya biarin aja. Elu juga sih pake sewot segala."
"Emangnya lu lupa apa yang dilakuin Fara ke elu lagi kelas satu? Gue nggak mau Nina jadi ikut belagu kayak mereka. Apalagi sekarang mereka tambah belagu setelah si Fara diantar jemput mobil."
"Ya udah, lupain aja si Nina. Kan masih ada cewek lu yang di Santa Theresia. Hehehe... Iya kan?"
Ia merengut. "Kok lu tau?"
"Tedy yang ngasih tau dong..." Saya mengedip-ngedipkan mata, meledeknya.
"Si Tedy? Wah, awas deh tu anak!" Ia merengut.
"Nih cincin lu. Ambil." Saya memasukkan cincinnya ke saku kemejanya.
"Lu aja yang simpen. Gue nggak butuh."
"Apalagi gue. Ngapain gue nyimpen cincin dari pacar orang? Ntar bawa sial!" Saya tertawa dan beranjak dari sana.

Pulang sekolah keesokan harinya, ia menunggu saya di depan gerbang sekolah. Memberi saya tiga coklat Toblerone besar yang langsung dimasukkannya ke dalam tas saya setelah menoleh kiri kanan, memastikan tak ada yang melihat.
"Cuma boleh dimakan sama Dinda," katanya.
"Sama Tedy juga dong."
"Ah, dia sih biarin aja. Sibuk pacaran mulu," gerutunya.
Saya tertawa. "Kayak kemaren-kemaren elu enggak pacaran mulu. Elu juga samaaaa! Pake berantem heboh, bikin pusing."
Dia nyengir. "Sekarang enggak deh. Gue kapok." Ditunjukkannya rambutnya yang terpangkas pendek tak beraturan.
Saya terbahak-bahak. "Kena razia ya? Hahahaha... Pak Budi kayaknya penuh dendam gitu ngeguntingnya. Pasti gara-gara elu dipanggil Kepsek! Hahahaha..."
"Heh, ngetawain gue lagi! Balikin sini coklatnya!" Ia meraih tas saya. Saya berkelit dan lari menghindar menyeberang jalan. Masih tertawa-tawa melihat rambutnya yang aneh.

Dari tempatnya berdiri ia juga tertawa. Tampak bersinar di bawah matahari siang, dengan dua tangan di saku celana, sepatu basket merahnya yang talinya lepas dan rambut pendek acak-acakan.

Saya akan selalu mengenang pemandangan itu. Sosok teman baik saya yang bandel, Abe.

____________________________

Serial Abe selesai.

Ini adalah kisah terakhir tentang Abe yang saya temukan di diary lama periode sekolah. Sementara ini belum menemukan yang lain di diary periode lainnya. Lagipula siapa tahu bikin bosan, kan? Hehehe...

Beberapa teman bertanya dan menduga saya menyesal karena dulu tidak pacaran dengan Abe. Tapi sebenarnya kalaupun dulu Abe berterus terang pada saya, pasti tetap saya tolak. Karena perasaan saya padanya dulu lebih seperti perasaan pada seorang saudara laki-laki (bahkan setelah kami bertemu lagi saat saya di periode kuliah).

Kalau pun saya menyesal, saya cuma menyesal karena dulu tidak sadar kalau dia keren dan sexy. Kalau dulu sudah menyadarinya kan jadi bisa saya bangga-banggakan dan saya manfaatkan untuk bikin cemburu cowok-cowok yang saya taksir hahahaha....

Buat kalian yang gara-gara serial ini jadi fans Abe, doakan saya menemukan jejaknya ya ^^


Ini Yoo Ah-in.... dan saya? Hehehe



Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, March 30, 2011

[Kisah Abe] My Hero, Abraham

Abe, maaf.
Bahwa dulu saya tidak berusaha mengenalmu lebih dekat. Bahwa saya menyesal melewatkan banyak hal yang mungkin akan menyenangkan jika hanya kita lakukan berdua.
Semua kenakalan itu, tahukah kamu bahwa saya juga melakukannya diam-diam? Ya, kamu memberi saya pengaruh buruk. Tapi kamu teman yang baik, yang tanpa kamu sadari sudah menolong saya melewati bagian paling sulit sebagai anak sekolah.

.......

Dulu itu entah kenapa, Fara tidak menyukai saya. Ia dan gerombolan teman-temannya yang kaya dan cantik, dengan tas dan sepatu paling bagus dan mahal diantara anak-anak lain.

Fara sekelas dengan saya. Selalu marah-marah kalau nilai ulangan saya lebih bagus dari nilainya. Setiap kertas ulangan yang sudah dinilai dikembalikan guru, ia selalu lari ke bangku saya dan bertanya, "Nilai kamu berapa?" Lalu ia akan merengut dan menghentakkan kaki kalau nilai saya lebih tinggi.
Begitu juga waktu sekolah kami mengadakan tes IQ. Begitu tahu nilai IQ saya lebih tinggi 20 angka darinya, ia marah-marah. Aneh. Kalau nilai ulangan saya lebih bagus, ia bisa saja menuduh saya mencontek atau apalah. Tapi kalau IQ? Memangnya salah saya kalau ternyata otak saya lebih cerdas dari otaknya? Ini kan karunia Tuhan.

Suatu hari seorang teman iseng menyebar gosip bahwa saya naksir salah satu cowok di sekolah. Sialnya cowok itu adalah orang yang paling sering dikerubuti geng Fara. Suatu hari di jam istirahat, ketika saya melewati mereka yang sedang bergerombol, cowok itu menaburi saya dengan sobekan-sobekan kecil kertas diiringi tawa menghina Farah dan teman-temannya. Saya nyaris berbalik untuk menghajar mereka. Kalian tahu apa yang terjadi kemudian? Abe muncul entah dari mana dan mengalungkan lengannya ke pundak saya.
 

"Ke kantin yuk!" Katanya tenang. "Gue traktir deh. Gue baru dapet duit dari cici gue nih! Yuk!" Ia menarik saya berjalan menjauh dari mereka. Lalu berbisik, "Kalau lu marah, mereka seneng. Itu yang mereka mau. Jangan bego."
Saya yang gemetaran marah menjadi tenang. Meskipun nasehatnya tidak terdengar manis sama sekali, tapi saya tahu ia ingin bilang bahwa ia selalu ada, melindungi saya.

Abe yang bandel mengajari saya cara makan bakso tanpa membayar, bolos dan sembunyi di kantin saat jam pelajaran yang tidak disukai. Saya mencoba ajaran-ajaran sesatnya. Berhasil makan bakso tanpa bayar, meski besoknya saya membayar dengan alasan lupa. Bolos. Sembunyi di perpustakaan saat jam pelajaran Fisika yang saya benci. Abe tergelak setiap saya beritahu apa yang sudah saya lakukan sesuai caranya. Bahkan sampai sekarang saya masih ingat mimik mukanya penuh kebanggaan.
"Good job, girl," katanya jumawa.

Abe selalu mewanti-wanti agar saya tidak usah menghiraukan Farah dan gengnya yang menyebalkan, tapi ia sendiri ternyata tak bisa menahan diri.

Hari sabtu itu saya tahu ia pergi ke danau dekat sekolah dengan beberapa temannya, karena saya main ke rumah Dinda. Kami jalan kaki beramai-ramai sepulang sekolah karena rumah Dinda searah dengan danau itu.

Ketika saya mau pulang, kami menemukan dia duduk di undakan teras rumah Dinda. Babak belur.
"Lu kenapaaaa?" Dinda berseru. "Abe, lu berantem ya? Sampe berdarah gini. Aduuuh! Lu bandel banget sih, Be! Gue ambilin obat ya! Bentar ya!" Ia berlari ke dalam.
Saya duduk di sebelahnya. Geleng-geleng kepala. "Jadi sekarang lu mau jadi jagoan juga? Berantem sama siapa sih lu? Anak-anak yang lain mana?" Saya tahu tak ada gunanya histeris atau mengomel. Mukanya saja sudah kelihatan merah padam.
"Anak-anak udah balik. Waktu lewat sini tadi gue kayak denger suara lu di dalem, belum pulang. Makanya gue mampir."
"Jadi lu berantem sama siapa?"
"Nggak tahu. Mereka nyembelih anjing, trus dibakar dan dimakan. Gue nggak suka. Jadi gue datengin aja, gue obrak-abrik. Mereka nggak terima."
"Anjing? Disembelih?"
"Lu harus liat anjingnya, baru bisa ngerti kenapa gue marah. Anjingnya jinak dan nurut banget. Lucu, gemuk. Tadinya gue pikir mereka cuma mau nongkrong. Tapi waktu gue nengok lagi, anjingnya udah mati digorok." Ia menutup wajahnya dengan tangan. Suaranya tersendat. "Digorok... Sadis. Anjingnya baik. Kasian tau."

Saya menghela napas. Abe menyukai anjing. Dog lover. Saya ingat suatu hari ia cerita tentang Bandit, anjing ras campuran peliharaannya yang mati ditabrak mobil. Abe dan anjing itu tumbuh bersama. Seperti saya dan anjing saya Doggie. Ia menyayangi Bandit, seperti saya menyayangi Doggie. Saya mengerti perasaannya ketika ia bercerita tentang Bandit. Dan saya juga mengerti kenapa ia marah pada orang-orang itu.

"Ada beberapa orang yang memang memakan daging anjing kan, Be."
"Gue tau. Tapi jangan anjing yang kayak gitu yang dimakan! Anjing itu anjing jinak. Anjing peliharaan. Anjing rumah. Gue bisa liat bedanya, No!" Tukasnya sengit. "Lagian orang-orang itu nyembelihnya buat iseng. Mereka makan itu buat iseng. Sambil mabok tau gak. Mereka sambil minum vodka. Gue liat botolnya!"
Dinda datang membawa obat, kapas dan air di baskom kecil. "Sini, gue bersihin dulu luka lu! Bandel sih lu!"
Abe merengut.

Siang itu, saya mengantarnya pulang. Ke rumahnya yang berpagar hijau itu. Ia mengajak saya masuk, tapi saya tidak mau. Sudah sore. Ibu saya pasti sudah khawatir di rumah. Ia memandangi saya dari pintu gerbang rumahnya ketika saya melompat naik ke dalam angkot. Melambaikan tangannya yang diperban secara berlebihan oleh Dinda. Saya bahkan masih ingat senyumnya hari itu.

Senin.

Adi membuntuti saya sejak kami keluar dari gerbang sekolah. Sibuk membujuk saya agar diperbolehkan main ke rumah.
"Mau ngapain emangnya ke rumah gue?"
"Ya main aja. Masa nggak boleh."
"Main apaan?" Saya bertanya jengkel. Bukannya saya membenci Adi. Ia teman yang baik sejauh ini. Tapi saya masih tidak mengerti tumben benar ia mau ke rumah saya. "Rumah gue berantakan. Jangan deh, ntar lu malah gue suruh bantu ngeberesin deh."
"Nggak apa-apa. Gue mau kok bantuin beresin rumah lu."
"Ih aneh banget sih lu, Di!" Saya tambah jengkel.
"Bener kok. Suer."

"Jangan. Ntar lu ditembak sama bokapnya!" Tiba-tiba dari belakang kami ada suara nimbrung. "Bokapnya tentara. Galak lagi." Itu suara Abe. 

Ia jalan di belakang kami, bersama Tedy yang terkekeh-kekeh. Mimik wajahnya sudah kembali ke asal. Super tengil. Sama sekali tak kelihatan sisa kemarahannya akhir minggu lalu, kecuali baret-baret luka dan memar akibat perkelahian di wajah dan tangannya.

"Enak aja bilang bokap gue galak!" Tukas saya. "Bokap gue nggak...."
"Bokapnya belum ngijinin dia pacaran, Di," potongnya tanpa mempedulikan saya.
"Abe, lu apaan sih!" Saya balik badan dan menendang kakinya.
Ia nyengir, sementara Adi kelihatan bingung.
"Lu pulang bareng gue aja ya?" Tiba-tiba lengan saya sudah ditariknya menjauhi Adi. "Gue sama Tedy mau  makan bubur ayam. Ikut ya. Tedy yang traktir!" 

Terdengar suara Tedy mengomel di belakang kami.
"Abe, gue mau langsung pulang!"
"Ikut gue atau si Adi nekad ikut lu ke rumah? Pilih mana?"
"Hah?"
"Lu itu ya... Ampun deh, ada ya cewek bego kayak lu gini. Denger ya, si Adi itu mau nembak elu!"
"Hah? Yang bener lu!"
"Dia suka sama elu tau!"
"Masa sih?"
"Tuh kan memang bego." Ia menjitak saya. Lalu menoleh mencari sahabatnya. "Ted, cabut!"
Ia menyeret-nyeret saya terus sampai ke tukang bubur ayam itu. Bahkan tidak repot-repot bertanya apa saya suka Adi juga atau tidak. Mana saya tahu kalau dulu itu ia cemburu :)

......................

Saya menulis ini berdasarkan beberapa cuplikan dari buku harian lama. Ternyata nama Abe ada di sana. Dan ternyata dulu ia pahlawan saya. Kenapa saya bisa-bisanya melewatkan pahlawan seseksi itu? *lagi-lagi menyesali diri* hahaha...

Sayang, nggak ada foto dia di album lama saya. Berhubung dia memang agak tidak suka berfoto. Maklum dia kan preman, bukan cover boy. Hehe.
Tapi yakinlah, sodara-sodara, bahwa dia agak mirip Yoo Ah-in. Tolong jangan protes dengan foto di bawah ini. Pis!

Yoo Ah-in lagi. Ketengilan yang sama dengan Abe :)



Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...