Showing posts with label friends. Show all posts
Showing posts with label friends. Show all posts

Sunday, July 6, 2014

The Travel Mates

Pantai Bama, Taman Nasional Baluran, Banyuwangi
Akhir Mei 2014

Kami sedang asyik memperhatikan Egi dan Riana yang mencoba berlevitasi di depan kamera. Latar belakang mereka adalah laut biru yang tenang. Pasir di bawah kaki kami semua terasa lembut dan hangat. Tentu saja matahari sedang bersinar sangat cerah saat itu.

Ricky, abang Egi, membidikkan kameranya ke arah mereka. Yang lain, duduk maupun berdiri, menonton di pasir. Endang meneriakkan arahan bak pengarah adegan dalam sebuah syuting film. Dua sejoli di depan kami cengengesan setengah grogi.
Well, ini memang anniversary satu tahun mereka berpacaran.

Barangkali, saya satu-satunya yang sejak awal menyadari ada seekor hewan yang mengintai diam-diam di belakang punggung kami. Seekor monyet betina dengan wajah tanpa dosa tampak menatap penuh damba ke arah tumpukan barang kami di atas pasir. Saya meliriknya dan sempat ngomong: jangan mendekat. Tidak boleh. Awas ya.
Kenyataannya, begitu saya meleng, si monyet secepat kilat menyerbu ke arah tumpukan barang dan menyambar dompet bunga-bunga milik Endang.

"Hey, balikiiiin!" Saya kontan bangkit dari atas pasir dan berteriak. "Hey, itu! Dompet Endang diambil monyeeet!" Teriak saya pada yang lain.
Bubarlah pemotretan itu. Semua orang menghambur ke arah si monyet nakal yang lantas melarikan diri sambil membawa dompet itu.

"Dompet gueee!" Endang mengerang panik. "Seluruh harga diri gue ada disituuuh!"
Maksudnya, dompet itu berisi ponsel, uang, kartu-kartu penting dan ATM. Dia memang suka lebay hehehe...

Adegan mengejar-ngejar monyet pun terjadi. Semua berlarian ke segala arah mengepung si monyet.
Morgan yang paling jangkung mencoba mendekati si monyet, yang malah mendesis-desis marah. Julie dan Endang lari-lari ke sana kemari seperti kebakaran jenggot. Ricky... well, entah dia melakukan apa terhadap si monyet, soalnya saya langsung berbalik ke tempat barang-barang kami yang lain menumpuk di pantai. Saya tidak mau monyet-monyet lain menjarahnya (nggak seorang pun ingat hal ini ckckck).

Akhirnya si monyet menyerah dan melemparkan dompet itu ke tanah sebelum melarikan diri ke pepohonan.

Setelah itu, kami semua tertawa terbahak-bahak di atas pasir. Saya yang paling keras, soalnya saya tidak ikut mengejar monyet dan paling jelas menonton adegan kejar mengejar dan kepung mengepung itu sambil menjaga barang-barang yang mereka tinggal. Kocak banget pokoknya. Sampai saya nyesel nggak merekam dengan video di kamera.

....................

Jakarta, pertengahan Juni 2014

Kami berkumpul lagi malam itu. Makan mie di Jalan Sabang dan nongkrong di coffee shop setelahnya.
Tertawa-tawa lagi seperti beberapa minggu yang lalu saat traveling bersama. Mengobrol ngalor ngidul tanpa juntrungan meskipun tetap berkisar tentang traveling, passion kami semua. Minus Julie, yang tak bisa datang.

Tak ada yang berubah. Tetap dengan pembawaan masing-masing. Endang yang ceriwis dan hobi bercerita, Morgan yang kocak dan suka difoto, saya si pengamat yang tertawa paling keras, dan Ricky si pendengar yang baik dan ahli menggunakan tongsis. Kami merindukan Julie dengan cengiran lebar dan kesukaannya untuk selfie di setiap posisi hahaha...

..................................

Kami berlima adalah orang yang berbeda-beda, bertemu di persimpangan takdir karena passion yang sama: TRAVELING. Entah kenapa terasa klop dan saling melengkapi.

Namun terkadang memang demikian. Kita tidak pernah tahu siapa yang akan kita temui di ujung perjalanan, dan siapa yang akan menemani langkah kita berikutnya. Terkadang beberapa hal bagai dijatuhkan Tuhan dari langit ke depan kita.

Seperti yang dijatuhkan Tuhan ke depan saya sebulan yang lalu saat merasa berada di titik terendah dalam hidup saya. Teman-teman baru, yang secara tidak sadar mengubah perspektif saya, bahwa hidup bagaimana pun juga akan indah pada waktunya.

Terima kasih Allah.
Terima kasih, guys. We are friends and always be :)

..............................

PS: Dear Juls, we love you. Please join on October, ya... :)



Ki-ka: Morgan, Endang, Enno, dan Ricky (Julie nggak bisa datang)

Enno dan Julie waktu turun dari kawah Ijen

Image and video hosting by TinyPic

Saturday, December 15, 2012

The Gunkid Journey #3: On The Water

17 November 2012

Rumah Mbak Utik, Wonosari, Gunungkidul.
Kami semua bangun pagi dan mulai membersihkan mobil yang kotor setelah membawa kami caving seharian. Saya dan Ridwan mencuci sepatu-sepatu bot kami, pinjaman dari teman-teman ASC, yang akan kami kembalikan setelah kami pulang ke Jogja.

Anto, yang menyopiri kami, membersihkan mobil dan mengalasi lantai mobil dengan koran. Dia ini penampilannya seperti bocah SMA, meskipun umurnya sudah kepala dua. Seiring waktu, dia bukan lagi sopir kami (sekaligus pemilik rental mobil), melainkan menjadi teman perjalanan yang menyenangkan.

Jadwal hari itu adalah cave tubing di Kali Suci. Jadi kami kembali ke Semanu, tempat gua Kali Suci berada.  Bagi yang belum tahu apa itu cave tubing, itu maksudnya adalah penelusuran sungai bawah tanah di dalam gua dengan alat bantu ban dalam bekas. Ban itu dipergunakan sebagai rakit maupun pelampung. Ban yang dipergunakan pun bukan ban mobil biasa, melainkan ban dalam mobil besar. Kayaknya sih itu ban truk deh. Lupa, nggak nanya hehe...

Karena malas cerita, mending lihat foto-fotonya ya!

Anto dan Wuri di atas ban. Hahaha...

Cuma Wuri dan Rio yang berani naik ke tebing di dalam gua. Saya? Males.
Soalnya turunnya  nggak ada jalan lain selain melompat bebas ke air. Byur! Hahaha

Boleh nyebur dan berenang di mulut keluar gua. Itu saya, tapi nggak kelihatan muka. Siapa sih itu yang motret? Sigh! Hehe...

Nah, setelah puas cave tubing, kami melanjutkan perjalanan ke pantai. Anto memang mantab surantab deh! Nggak pakai lama, langsung capcus menculik kami semua ke pantai! Baydewey, kalau ada yang mau liburan di Jogja pakai nyewa mobil, ke rentalnya Anto aja ya. Nomor hapenya: 087839782567/ 081578263492. Anak ini seru banget! *wink*

Foto-foto telusur pantainya sudah sempat saya mainkan di Instagram. Cekidot!

Tangan Ridwan. Powerbank pinjaman dari Dita.
Menuju pantai seperti anak penyu. Kalau nggak salah, ini di pantai Krakal
Ridwan melamun di Pantai Wediombo. Kami datang pagi-pagi dari penginapan ke pantai ini.
Belum mandi. Hahaha

Wuri dan Anto, mengisi botol-botol air minum dari dua galon yang kami bawa-bawa kemana pun di bagasi mobil. Nggak ada yang menyuruh mereka bertugas, tapi entah kenapa, mereka yang selalu ingat untuk mengisikan botol-botol minuman yang kami jinjing. Baik banget deh :)

 
Kepiting saus padang di warung Mbak Parmi di Pantai Krukup, tempat kami makan malam.
Mbak Parmi menikah dengan laki-laki bule yang ikut melayani kami di warung. Si om bule ini pakai kemeja batik, lho. Tampaknya berusaha terlihat seperti orang Indonesia (ya tetep aja keliatan bule). Sayangnya, om bule belum fasih bahasa Indonesia dan istilah-istilah lokal. Jadi, waktu ada pembeli mau beli 'aqua', dia bingung. Rio menolong memperjelas. "Mineral water, sir!"

Acara keliling pantai ini berakhir tanggal 18 sore. Sore, kami sudah tiba kembali di Jogja. Malamnya, kami pergi ke markas teman-teman ASC untuk mengembalikan sepatu boot dan mencuci alat-alat yang kami pakai caving. Peralatan outdoor tidak boleh dibiarkan dalam kondisi kotor. Setelah pakai harus dicuci dan dikeringkan supaya tidak berkarat dan menjadi rapuh. Menyangkut nyawa lho....

Tanggal 19 pagi, kami berkeliling mencari oleh-oleh. Sayangnya Rio dan Dita harus memisahkan diri lebih awal dan kembali ke hotel, karena mereka belum packing. Sementara, siangnya mereka harus naik pesawat ke Jakarta.

Jadilah tinggal saya, Wuri, Ridwan dan Tya. Kami memutuskan makan siang di House of Raminten.
Yah, akhirnya tercapai juga keinginan saya untuk pergi ke Raminten, sodara-sodara. Makanannya tidak bombastis atau gimana. Rasa makanannya biasa saja. Tapi keistimewaan tempat ini adalah atmosfirnya. Atmosfir Jawa dengan sayup-sayup gending terdengar di kuping, dan para pelayan yang memakai pakaian tradisional Jawa Tengah.

Nasi rawon di House of Raminten. Kuah rawon saya abis dipalaki Wuri dan Ridwan. Hahaha
Ini adik saya, Ridwan. Ganteng? Adik guweh....
Cewek-cewek nggak boleh naksir. Dia sudah punya istri :)
Foto-foto perjalanan kemarin dan perjalanan-perjalanan sebelumnya, sudah saya upload di Instagram. Yang punya akun Instagram dan mau ngintip, silakan buka akun saya: kirei_na

Akhirul kalam (sok jadul), di bawah ini adalah para tokoh yang membintangi petualangan kali ini. Cekidot gan!

Searah jarum jam: Rio  Dita, Wuri, Anto, saya, Ridwan & Tya.


Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, July 11, 2012

Sorry, But I Hate Him

Status akun twitter

dia menghilangkan seluruh jejaknya dr gw?
kenapa gak menghilangkan nyawanya aja skalian?

@kireinaenno, 2 Juli 2012

................

Pesan pendek

Aku disuruh motret arisan ibu-ibu.
Lho, merangkap tukang foto juga? :P Suruh aja si labil itu. Bukannya dia paling hobi belagak jadi fotografer pro (yang anehnya malah lebih tampak sebagai tukang foto keliling):P
Kalo fotografer banyak yang lebih jago. Aku motoin arisan ibu-ibu aja kok.
Iya tau, banyak yang lebih jago. Sebenernya kan aku cuma mau menghina dia. Ups. Abaikan :))

...............

Saya harus berterima kasih pada Rona, karena dengan sabar ia sanggup dan mampu membaca dan mendengar cercaan saya pada mahlukyang satu itu, yang notabene adalah temannya.
Rona tidak pernah menyela sarkasme saya dengan kata-kata sok bijak, nasehat sok suci, atau sebagainya. Ia hanya mengabaikannya seolah-olah tak ada yang saya katakan, mengalihkan topik atau menjawab dengan gurauan.

Dan sikap demikianlah yang mampu mengendalikan saya dari kerusakan mood akibat sarkasme saya yang tak tertahankan jika menyangkut 'orang itu.'

Saya ingat sekali kata-kata Vanny, teman mereka (yang kemudian menjadi teman saya). Vanny berharap saya, karena sakit hati dan dilukai, tidak berubah menjadi orang yang mendoakan hal-hal buruk untuk mahluk itu. Saya meyakinkannya, saya bukan orang yang suka mendoakan keburukan untuk orang lain. Sampai detik ini pun tidak. Saya tidak mendoakan hal-hal buruk, atau kasarnya, menyumpahi mahluk itu. Tetapi bukan berarti saya mendoakan dan berharap yang baik-baik untuknya. Tak usah ya!

Kalau kelak saya ketemu Vanny (atau kemungkinan dia sudah duluan membaca ini), saya kepingin bilang, bahwa dengan sangat menyesal saya kini membenci temannya. Saya tidak bermaksud demikian, tetapi saya tidak bisa mencegahnya.
Saya, yang sudah berusaha memaafkannya, and yes I did! I forgave him! Tiba-tiba karena mahluk itu ternyata bukan orang yang tahu terima kasih (karena sudah dimaafkan) dan tak cukup tahu diri (sudah menipu seorang perempuan), membuat saya merasa dilecehkan, dihina dan diinjak-injak.

Saya si korban penipuan, sudah membuang kemuakan saya padanya, menggantinya dengan kebesaran hati demi tali silaturahmi yang saling bersambungan antara kami semua. Rona, Vanny, si mahluk stupid dan semua teman-teman mereka yang mengenal saya secara langsung dan tidak langsung.
Saya yang seharusnya muntah, menelan gumpalan besar di kerongkongan saya demi yang namanya 'ukhuwah Islamiyah' seperti yang diajarkan agama kami, dan yang seharusnya lebih dia pahami sebagai orang yang mengaku-ngaku ikhwan.

Oh, yang dia lakukan adalah mencoba 'menyakiti' saya dengan mendekati lagi pujaan hatinya yang lama 'di depan mata saya.' Yang bagi saya adalah sebuah tragedi percobaan membuat cemburu yang gagal total.
Memangnya saya harus cemburu? Kenapa? Buat saya hal itu malah semakin memperjelas kepicikan dan ketidakdewasaannya. Come on boy, that's a game for a primary school student!

Dan maafkanlah saya, kalau kemudian saya tak tahan untuk mengutarakan pendapat pribadi saya tentang betapa dia sudah mempermalukan kualitas dirinya, di akun media sosial kami yang saling bertaut.

Orang-orang tentu akan menganggap saya sama bodohnya. Berkata, kenapa saya tidak mengatakannya langsung. Saya akan menjawabnya dengan gamblang. Mengatakan langsung bagaimana? Ia bersembunyi dan menjauh dari saya sejauh-jauhnya, sehingga saya tak tahu apakah pesan saya akan sampai, dibaca dan dipahami. Lagipula, saya juga mengujinya.

Dalam surat elektroniknya yang dibuat untuk memutuskan hubungan kami secara sangat pengecut (dan membuat saya ragu apakah ia berkelamin pria atau wanita, atau di antaranya), ia berharap saya memaafkan dirinya, dan kami masih tetap berteman.

Dan hei! Aku sudah memaafkanmu, kau sudah tahu. Dan aku membuka pintu untuk pertemanan yang sejak awal bahkan sudah terjalin. Tapi apa yang kau lakukan? Kau kemudian bersikap seolah-olah aku yang salah. Lalu kemudian memblock akun media sosialku yang terhubung dengan akunmu.

Well done, Goofy!

Jangan salah paham dan mengira aku menangisi akun kita yang tak terhubung lagi. Aku justru lega. Karena tak lagi terganggu dengan tulisan-tulisanmu yang sok abege plus kegenitanmu yang tak penting. Please, grow up! *sigh*

Aku senang karena sudah lama ingin memblokade akunmu, namun aku selalu ingat ajakan baikmu untuk tetap bersilaturahmi. Memutuskan silaturahmi itu dosa, demikian dalam ajaran agama kita. Saya tentu tak mau menambah dosa dengan sengaja.

Namun sepertinya Tuhan tahu saya sudah muak dan menggerakkan mahluk itu memblokade akunnya duluan. Meskipun, maafkan saya Tuhan, itu membuat saya mencap dia orang yang munafik. Sekaligus membuktikan bahwa dia bukan orang yang bisa memegang omongannya.

Lho, tungggu! Kenapa tulisan ini jadi melantur kemana-mana?
Sebenarnya saya cuma ingin bilang terima kasih buat Rona. Juga Vanny dan teman-teman yang lain, selama ini berperan penting menjaga saya tetap berpikir jernih.

Tanpa mereka, terutama Rona, saya akan terperosok terlalu dalam pada mood yang muram dan tak bisa keluar lagi. Thank you all. I'm sorry, but I hate him :)


“It has been said, 'time heals all wounds.' I do not agree. The wounds remain. In time, the mind, protecting its sanity, covers them with scar tissue and the pain lessens. But it is never gone.”
― Rose Kennedy


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Monday, July 2, 2012

Quick Update #2: Partner In Crime

Bertemu dengan orang lain, mungkin saya akan berpakaian rapi dan hati-hati. Tetapi, bertemu dengan Kiki adalah satu hal yang berbeda. Saya seperti bertemu dengan diri saya yang dahulu. Yang tomboy berambut pendek, dengan sepatu flat atau keds, menggendong ransel dengan jalan cuek diseret, wajah mendongak dan tawa tergelak yang tersembur tanpa ditahan.

Dengan Kiki, kolega saya, seperti itulah diri saya selalu.

Di Area 51, food court di Pondok Indah Mall, ia sudah menunggu saya bersama anak semata wayangnya, keponakan favorit saya, Zaky. Ini pertemuan pertama kami setelah saya berhijab nyaris setahun. Hebatnya, ia tidak tampak terkejut atau berkomentar. Ia melihat saya sebagaimana adanya saya. Mungkin karena saat itu saya berpakaian cuek seperti biasa: jins, tshirt longgar, sepatu sandal Crocs, dengan sedikit perubahan, yaitu kepala yang ditutupi lilitan pashmina dan diikat asal-asalan seperti syal.

Ketika kami melewati sebuah toko dan saya menunjuk sebuah manekin dengan tshirt longgar bergambar bendera Amerika yang kata saya itu sangat keren dan nyentrik, dia berkomentar: "Ternyata selera lo masih aja kayak gitu ya..."
Saya nyengir lebar.

Kami ke Gramedia, hanya untuk melihat apakah novel saya ada di sana. Dan memang ada. Ke toko olahraga, mengikuti keinginan Zaky, juga ke toko alat musik karena anak itu ingin melihat-lihat grand piano.

Anak itu baru mau masuk SMA tahun ini. Berbakat musik, punya band yang sedang rekaman, dengan suara bagus bervibrasi yang saya suka. Suatu hari, beberapa tahun lalu, kantor kami menginap di hotel, anak itu ikut ibunya. Di acara karaoke, ia berduet dengan saya. Rasanya seperti berduet dengan Justin Bieber, karena suaranya yang merdu itu.

Kami mampir ke toko musik Yamaha, dan Zaky memainkan sepotong lagu Someone Like You-nya Adele di sebuah grand piano. Sebetulnya, saya nggak terlalu suka lagu ini, karena semua orang menyukainya dan karena liriknya yang super galau. Tapi entah kenapa, dibawakan Zaky dengan piano dan didengar langsung begitu ternyata sangat enak di telinga.
"Wiih, Tante Enno suka lagu ini lho, Zaky!"
Dan ia pindah ke piano lain, dan memainkannya sampai habis sambil menyenandungkan lagunya pelan. Semua orang yang sedang melihat-lihat di toko itu menoleh dan ikut memperhatikan. Haha.

Kami makan malam di Bakmi GM, dan mengobrol banyak hal. Begitu banyak bahan cerita, sampai saya dan Kiki harus memilih yang ringan-ringan (bukan cinta-cintaan) karena ada Zaky menguping di seberang meja :))

Kami berpisah sesudahnya. Dengan berat hati. Haru biru. Iya, memang lebay. Tapi di kantor kami dulu, saya dan Kiki adalah partner in crime. Padahal, saya managing editor dan ia account executive, yang anehnya bisa klop. Saya suka mengajaknya kalau ada wawancara, dan ia suka mengajak saya kalau ada kumpul-kumpul dengan sesama account executive dari media lain.
"Eh kenalin nih, Redpel gue." Ia akan mengenalkan saya dengan nada seorang kakak yang bangga pada adiknya :)

Pertemuan hari ini menyenangkan. Alhamdulillah. Mungkin juga karena lagu yang dimainkan Zaky di Yamaha tadi. Thanks to Zaky :)
Besok saya pulang. See you, Jakarta!


Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, June 27, 2012

Menjenguk Nenek Moyang

Sangiran, hari keempat

Judulnya kecele. Ketika kami berdua lupa bahwa hari Senin, museum tutup. Dan kami sudah terlanjur berangkat dari terminal Tirtonadi dengan bus tujuan Purwodadi yang melewati kota Sragen, dimana situs Sangiran berada. Wuri lupa kalau hari Senin, museum tutup. Saya justru lupa kalau hari itu hari Senin (padahal tahu kalau setiap Senin, museum di seluruh dunia tutup).

Kesadaran saya datang tiba-tiba saat bus mulai melaju.
"Wuri, sekarang hari apa?"
"Senin, Mbak."
"Hah! Aduh, museumnya tutup!"
"Masa sih, Mbak?" Lalu dia membuka notesnya dan terpekik. "Ya ampun kita berdua ini gimana? Iya ini udah kucatat padahal!"

Saya browsing dari hape, dan memang benar museumnya tutup setiap Senin. Tapi kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Sudah tanggung. Lagipula, siapa tau, museumnya dibuka karena masih liburan sekolah.

Bus jurusan Purwodadi itu melewati pertigaan yang menuju Sangiran. Kami berhenti tepat di seberang jalan dengan gapura Selamat Datang. Tapi menuju ke sana masih jauh. Kami harus naik ojek lagi. Pangkalan ojeknya tak jauh dari mulut jalan. Namun tukang ojeknya belum ada, karena kami datang kepagian. Akhirnya karena dari rumah belum sempat sarapan, kami makan dulu di salah satu warung yang berderet di sebelah kanan gapura.

Selesai makan, tukang ojek sudah ada. Ongkos menuju Sangiran yang masih 7 kilometer lagi dari sana adalah 15 ribu rupiah. Setelah sepakat, kami pun melaju dengan dua ojek.

Dan museumnya memang tutup, sodara-sodara! :))

Setelah janjian dan minta no ponsel si bapak tukang ojek supaya bisa menjemput, kami cuma bisa berkeliaran di halamannya dan berfoto di depan tulisan Museum Sangiran dekat lobby. Lalu melihat-lihat deretan kios suvenir di belakang museum, yang sama sekali tidak menarik. Saya mencoba mencari patung atau asbak yang katanya diukir dari tulang fosil atau pohon purba atau apalah. Tapi sepertinya benda-benda yang mereka klaim purba itu nggak asli. Eh, tapi nggak tau juga ya kalau memang ada yang asli. Saya kan bukan arkeolog :p

Setelah potret-potret narsis di beberapa spot, kami menelpon bapak tukang ojek untuk menjemput kami. Perlu diingat ya, sebaiknya memang bikin perjanjian jemputan dengan tukang ojek yang mengantar kamu (kalau nggak bawa kendaraan sendiri). Karena, di depan museum nggak ada pangkalan ojek. Parah banget kalau sampai terpaksa jalan kaki ke luar dari Desa Sangiran. Jalannya naik turun lho. Fyuh!

Waktu masih duduk-duduk mengobrol, beberapa bus wisata yang membawa anak-anak sekolah (yang kecele seperti kami) menawari kami ikut sampai ke jalan raya sana lho. Baiknyaaa... :D
Tapi karena kami masih ingin mengobrol (tempatnya teduh banget, enak buat nyantai) dan sudah janjian dengan tukang ojek, kami menolak dengan sopan dan bilang terima kasih.

Ongkos ojek pp ke museum Sangiran 30 ribu per ojek. Saran saya, kalau mau janjian antar jemput, harus lebih dulu ditawar harga sepaketnya supaya bisa dapat diskon. Kami sih kemarin enggak, jadi nggak dapat diskon :D

Candi Cetho, kaki gunung Lawu

Karena masih banyak waktu gara-gara di Sangiran cuma sebentar, Wuri mengajak ke Candi Cetho. Tadinya tujuan yang itu cuma jadi alternatif aja. Tapi karena belum terlalu siang, kami akhirnya sepakat jalan ke Karang Anyar di mana si candi berada.

Candi Cetho. Menuju ke sana tak ada kendaraan umum. Kami lagi-lagi menyewa ojek. Belajar dari pengalaman, kami menawar satu paket pp, dan mendapat harga 25 ribu per ojek.

Dan percayalah bahwa itu harga yang murah ketika ojek mulai melaju semakin naik ke atas. Jalanannya lebih berulir, lebih tajam, lebih curam daripada jalanan di Gunungkidul. Rupanya kami menanjak ke lereng Gunung Lawu.

Pemandangannya indah sekali. Perkebunan teh di kiri dan kanan terhampar. Semakin ke atas, saya melihat rumpun Edelweiss di antara tanaman sayur. Tadinya saya ragu itu Edelweiss. Maklum, sudah lama nggak naik gunung jadi lupa wujudnya. Si bapak tukang ojek saya malah bilang itu bunga wortel. Yaelah hahaha...
Saya baru bisa konfirmasi bahwa itu memang Edelweiss dari seorang cowok yang sedang melihat-lihat candi dengan pacarnya. Cowok itu orang lokal asli.

"Mas, itu Edelweiss bukan? Sepertinya kok iya." Saya menunjuk sepetak tanah yang dipenuhi Edelweiss putih, di luar pagar candi. Indah sekali.
"Iya Mbak, itu Edelweiss. Ini kan sudah lereng gunung. Ke sana itu jalur menuju puncak Lawu." Ia menunjuk sebuah jalan setapak. Mendadak, saya jadi kepingin naik ke puncak Lawu saat itu juga. Saya sudah lama nggak naik gunuuung! :))

Candi Cetho terletak 1.400 meter dari permukaan laut. Berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kec Jenawi, Kab Karanganyar Jawa Tengah, sekitar 3 jam perjalanan dari Kota Solo. Menuju ke candi ini,  melewati perkebunan Teh Jenawi.

Candi Hindu ini tempat pemujaan Dewa Siwa, karena itu dihiasi arca phallus. Lalu ada dua patung, yang belakangan saya baru tau itu arca Prabu Brawijaya V dengan penasehatnya. Lalu ada juga arca lingga dan yoni.

Aura spiritual di candi ini kental banget. Agak-agak mistis malah. Setiap orang yang datang ke sini selalu berharap seandainya langit sedang cerah. Tapi menurut feeling saya sih, di tempat ini memang nggak akan pernah secerah di candi Borobudur, misalnya. Bukan karena agamanya beda-saya nggak lagi bandingin agama ya. Tapi, karena auranya memang beda aja, dan daerahnya memang berkabut.

Candi ini masih dipakai buat ibadah umat Hindu, mengingat juga di sekitar candi ini banyak padepokan-padepokan agama Hindu. Di candi juga ada sesajen dan dupa yang kelihatannya memang untuk ibadah. Kata bapak tukang ojek saya, sebagian penduduk lokal sekitar candi beragama Hindu, sebagian lagi muslim. Mereka membaur dengan damai.

Cetho, dalam bahasa Jawa itu artinya jelas atau jernih. Tapi beneran lho, saya merasa meskipun suasananya berkabut dan mistis, saya merasa damai sekali di sini. Gimana ya menjelaskannya? Pokoknya hati saya terasa ringan dan jernih. Padahal cuma jalan-jalan keliling candi aja. Saya memang berdoa sih, tapi berdoa secara muslim, dalam hati. Ketika saya mengelilingi candi, saya zikir. Lebih karena saya mengagumi tempat itu, dan kebesaran Allah yang menganugerahi orang-orang zaman dulu dengan kebudayaan yang indah dan agung, yang bisa kita nikmati sampai sekarang :)

Saya kan suka binatang. Di Cetho, ada arca-arca binatang. Wow langsung deh difoto! Ada arca gajah dan penyu. Arca penyu itu menjadi salah satu undakan di bawah tangga. Bentuknya ceper dengan kepala dan kaki dalam posisi sedang berenang. Arca gajahnya sudah rompal, tapi masih menyisakan bentuk gajah. Eh, bener nggak sih itu gajah? Jangan-jangan salah pula saya :P

Wuri pasti heran, waktu saya baru datang, saya ngajak ngomong salah satu patung di situ dan saya menyebutnya 'Mbah.' Waktu mau pulang juga saya pamit. 'Pamit rumiyin nggih Mbah.'
Saya nggak bilang sama Wuri, kalau di situ ada 'sesuatu'nya. Pas kami makan siang berdua, dengan bekal yang kami bawa dari Jogja di depan patung itu, sesuatu itu ngeliatin kita lho, Wur. Hehehe...

Kami pulang dengan ojek-ojek yang sama. Bapak tukang ojek saya sepanjang jalan cerita. Ramah banget orangnya. Dia bilang anaknya lulusan Teknik UGM, sekarang kerja di Astra. Hebat ya. Padahal sang bapak ini kelihatan sekali orang yang bersahaja, tapi dia bisa menjadikan anaknya sukses :)

Kali ini perjalanan kami turun, bukan menanjak. Curam sih. Tapi saya malah teriak "Asyiiiik!" atau "Wohooo!" ketika motor kami meluncur deras menuruni punggung lereng, sampai si bapak ojek ketawa.
"Mbak menikmati banget ya?"
"Lho, harus, Pak. Buat apa jalan-jalan, kalau nggak dinikmati."

Kami beruntung keburu naik kereta Prameks Solo-Jogja, yang jam setengah enam sore. Tiba di Jogja jelas sudah malam. Tapi masih ada dua tempat yang harus saya kunjungi di malam terakhir saya di Jogja.

Pria Hujan.

Saya bertemu lagi dengan dia, setelah sekian lama. Dari stasiun Jogja, kami naik motor (Wuri menitipkan motornya di stasiun) ke Mirota Batik karena saya butuh kebaya jadi untuk kawinan sepupu beberapa hari lagi, lalu setelah itu Wuri mengantar saya ke rumahnya. Rumah Pria Hujan.

Iya. Pria ini yang saya beri label Hujan di blog ini. Wuri akhirnya bertemu dengan sang legenda. Hahaha. Dia sudah menunggu dengan pintu rumah terbuka, dan dia tampak sedang duduk di ruang tamu. Agak termenung. Wuri masih memarkir motornya ketika saya berdiri di depan pintu itu dan mengucapkan salam.

Dia tertegun. Menjawab salam dan menatap saya sebagai orang yang tak dikenal. Lalu saya tertawa. "Hai, Mas! Lupa sama aku ya?"
Mendengar suara cempreng saya, baru deh dia ingat siapa saya. Hahaha. Tau nggak, kenapa dia pangling? Karena saya pakai jilbab. Dia kan dulu mengenal saya sebagai si cewek tomboy berambut pendek dan jins belel. Dia nggak tau saya berjilbab sekarang.

Hari sudah terlalu malam. Saya hanya mengobrol sedikit, minta kesediaan dia membantu saya kalau butuh data untuk novel saya yang berkaitan dengan bidang pekerjaannya dia. Seperti biasa, dia oke-oke saja. Diganggu via telepon boleh, via email ya monggo.

Dan sejujurnya saya lega. Pertemanan kami pulih dengan sendirinya setelah peristiwa pengkhianatan seorang teman yang membuat saya dan si Pria Hujan akhirnya berjarak. Iya, iya. Saya memang yang ngambil jarak. Saya kan sudah mengikhlaskan dia dengan si mantan teman saya itu. Yang tadinya saya pikir akan sampai ke pernikahan, tapi ternyata enggak. Yang saya dengar-dengar, si mantan teman memang nggak siap untuk menikah. Jadi apa gunanya dirimu memacarinya, bu? Ternyata perasaan saya lebih serius daripada kamu.

Okay, enough. Itu masa lalu. Toh perasaan saya pada si Pria Hujan sudah biasa lagi. Lebih merasa sebagai adiknya, sekarang :)

Malam itu, saya pulang ke rumah Wuri dengan perasaan puas. Perjalanan saya akhirnya usai. Saya punya cukup amunisi untuk novel kedua dan ketiga, bahkan keempat. Banyak inspirasi yang tiba-tiba muncul selama jalan-jalan. Banjir banget benak saya dengan bermacam-macam ide.

Big thanks to Wuri and her family. Thanks to Mbak Utik di Gunungkidul yang menampung kami semalam di rumahnya yang bagus. Thanks untuk kebaikannya menampung si traveler galau ini hahaha...

Thanks ya Wuri. Sampai ketemu beberapa bulan lagi pas kita turun ke gua Jomblang! Yipiiii!!! Petualangan lagiii!!!!

Gerbang ke Desa Sangiran. Pict by me.


Arca Gajah di Cetho

Jalanan seperti ini yang kami lalui menuju candi Cetho. Keren kan?
Foto dari sini

Image and video hosting by TinyPic

Pantai Kondangan dan Resto Ababil

Indrayanti, a very crowded beach

Sepertinya pemilihan waktu kami nggak tepat deh, ketika memutuskan untuk mampir makan siang di Pantai Indrayanti. Ketika kami melewati pantai ini sebelum ke Siung, suasana masih tidak sepadat ketika kami tiba siangnya. Musik dangdut berkumandang dari pengeras suara, membuat saya terlempar ke suasana kondangan di sebuah kampung. Begitu pula jajaran bus dan kendaraan pribadi, juga motor di mana-mana.

Ini kondangan apa pantai sih? Saya menggerendeng dalam hati.

Tetapi di sini, satu-satunya pantai yang tampaknya punya banyak pilihan makanan. Ada beberapa kafe, meja indoor dan outdoor, dengan pelayan berseliweran melayani pengunjung. Seperti saya bilang, pantai ini jauh dari kesan damai seperti dalam foto-foto yang saya lihat di internet ketika browsing sebelumnya.

Di pantainya, orang-orang bermain air dengan hebohnya. Di pasirnya, orang-orang duduk atau berlalu lalang. Kami bahkan nggak kebagian kursi untuk mulai memesan makanan. Berisik banget pokoknya. Gila deh. Pantai Kuta dan Sanur aja nggak segini semrawutnya.

Mbak Utik sebelumnya bilang ke saya, Pantai Indrayanti itu katanya sih mirip Kuta. Saya asumsikan Mbak Utik sudah pernah ke Bali, tapi belum sempat ke Indrayanti (karena pantainya belum lama diresmikan). Kuta itu, meskipun penuh dengan turis, tapi tetap damai dan tenang. Banyak kios-kios suvenir dan art shop di sepanjang garis pantai sehingga kita bisa cuci mata dan belanja. Di Indrayanti, nggak ada art shop dan kios suvenir. Ada sih kios suvenir, tapi yang dijual seadanya dan nggak menarik.

Mbak Uti, pantainya nggak mirip Kuta sama sekali. Mau duduk buat makan aja harus cari dan gotong meja sendiri. Hiks...

Karena semua meja penuh, saya dan Wuri akhirnya mencari akal. Kebetulan ada sebuah meja teronggok tanpa kursi. Atas seizin pelayan kafe, kami menggotong meja itu ke tempat teduh, lalu mulai hunting kursi yang teronggok tanpa meja. Dapat! Akhirnya punyalah kami meja dan kursi hasil padu padan *kayak baju* Hahaha...

Menunya nggak ada yang menarik. Kebanyakan menu yang porsinya harus dimakan segrup. Untung masih ada paket per porsi untuk per orangan. Pilihannya cuma dua: nasi putih plus udang asam manis atau plus cumi asam manis. Kami berdua pesan cumi asam manis.
Dan sori banget kalau saya bilang nggak enak. Nasinya lembek dan cumi asam manisnya ya gitu deh.

Yang saya baca dan dengar. Pantai ini aslinya bernama Pantai Pulang Syawal. Lalu karena ada restoran yang pemiliknya bernama Indrayanti, dan kafenya bernama seperti pemiliknya, akhirnya pantai ini lebih terkenal sebagai Pantai Indrayanti.

Menurut saya, konsepnya sih lumayan, yaitu pantai yang menyediakan kuliner dengan pemandangan laut, entah itu sunset atau sunrise (denger-denger ada jetski juga). Kalau sedang sepi, pantai ini lumayan indah, meski nggak seorisinal pantai-pantai Gunungkidul yang lebih pedalaman. Jenis pantainya memang mirip pantai Kuta. Landai dan pasirnya cukup padat diinjak dengan alas kaki (Pantai Siung pantainya agak susah dipakai jalan, kaki amblas, sebaiknya alas kaki dilepas aja).

Di sepanjang pantai yang tidak terlalu besar ini, berderet saung untuk makan sambil memandang laut lepas. Kalau malam, suasananya lebih bagus lagi. Seperti saya bilang, pemandangan dan suasana yang mengecewakan ini sepertinya karena kami salah timing. Datang saat hari Minggu dan hari libur anak sekolah.

Satu lagi yang saya baca, pantai ini sebenarnya obyek sengketa. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menyatakan pihak swasta membuka pantai ini tanpa izin pemerintah daerah. Bangunan-bangunannya menyalahi sempadan pantai dan izin usaha jetski-nya belum ada.

Bentang pantai selatan Gunungkidul adalah milik Sultan Hamengkubuwono (Sultan Ground), tidak boleh diperjualbelikan. Tetapi pihak swasta membeli tanah itu dari masyarakat yang selama ini diberi izin memakai lahan milik Sultan. Denger-denger sih, pantai ini sejak tahun kemarin diancam ditutup oleh Pemkab. Tapi ini udah pertengahan tahun 2012, kok masih eksis ye? Hayo bapak-bapak, kenapa nih? Hayooo... :))

Ah pokoknya, buat saya pantai ini nggak asyik. Nggak tau ya, kalau menurut orang lain. Saya suka tempat yang sepi dan masih asli, soalnya. Sementara pantai ini berisik dan crowded banget. Satu-satunya hiburan saya selama makan di sini adalah memperhatikan tingkah laku orang-orang. Misalnya nih, ada cewek yang salah kostum. Ke pantai memakai gaun terusan panjang dengan sepatu high heels tujuh senti, rambut ala salon dan make up lengkap. Saya nggak tahu apakah dia baru dari kondangan lalu mampir ke pantai. Tapi kayaknya sih kalau melihat pacarnya dan anggota rombongannya yang berbaju santai, mereka nggak habis kondangan. Dasar aja sok ngartis hehehe..

Jogja, malam ketiga.

Saya mau bercerita tentang pertemuan, yang menurut saya, kalau tidak diceritakan maka akan menghilangkan urutan dalam episode backpacking saya ini. Pertemuan dengan seorang teman dan isterinya, malam setelah saya dan Wuri kembali dari Gunungkidul.

Saya kepingin makan di Raminten. Sebagai orang jauh, tinggal di pegunungan di Jawa Barat, dan pernah tinggal di Jakarta, mendengar Raminten dengan keunikannya yang khas Jawa, saya kepingin tahu. Kalau perlu saya motret-motret supaya bisa diceritakan di blog ini. Tapi... saya dipaksa bertemu di tempat lain. Hanya karena teman saya itu sedang doyan dengan makanan di resto itu.

Sori, saya tidak akan bilang nama kafe itu. Tapi tempat itu sama sekali nggak etnik seperti yang saya mau rasakan di Raminten, atau Djendelo. Itu kafe anak ababil yang memutar lagu-lagu SuJu, SNSD, dan boyband-boyband lokal. Makanannya biasa aja, nggak unik, nggak etnik. Hawker food lokal, Jepang dan bule yang dimodifikasi seperti lazimnya makanan di resto-resto ababil lainnya.

Setelah menunggu lama, akhirnya mereka datang. Dan isterinya agak terkejut ketika saya menyambutnya dengan antusias, memeluk dan cipika-cipiki (saya kan orangnya memang begitu). Ternyata saya aja yang antusias, dianya enggak. Setelah dipikir-pikir belakangan, kayaknya dia emang nggak niat segirang itu ketemu teman baik suaminya. Makanya kaget :D

Saya ini punya sifat jelek (atau baik sih?), yaitu terlalu berekspektasi terlalu tinggi dalam hal pertemanan. Jadinya, ketika faktanya tidak sesuai dengan harapan saya yang indah-indah, saya merasa kayak dikemplang. Plak! Kasian deh lo! :))

Intinya, saya jadi nggak kesampean ke Raminten, dan hari-hari selanjutnya nggak sempat ke sana karena jadwal tujuan padat dan jauh-jauh. Padahal ya, waktu saya ajak mereka ke Raminten, sebenarnya saya udah niat mau traktir. Cuma bercanda aja waktu saya pura-pura minta ditraktir. Waktu jadinya ke kafe ababil itu, saya malas traktir, wong tempatnya aja nggak bagus gitu dan makanannya nggak enak. Lagipula saya pikir, yang maksa saya ke sana yang mau traktir, berhubung dia yang lagi tergila-gila makanan sana. Ternyata enggak tho? :P

Gitu aja ceritanya.
To be continued yo mas, mbak. Kulo pamit rumiyin :))

Ini foto jepretan saya asal-asalan. Males foto karena banyak orang banget.
Ini Pantai Indrayanti yang lagi sepi. Lupa ngambil dari situs mana.
Pemilik foto silakan claim, nanti saya creditkan :)

Image and video hosting by TinyPic

Saturday, June 23, 2012

Langit Biru dan Jalan yang Berliku-Liku

Pantai Siung, bersakit-sakit dahulu...

Kami nggak menyangka bahwa perjalanan kami hari berikutnya ke Pantai Siung, di Dusun Duwet, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Gunungkidul, akan sangat mendebarkan. Karena itu, sebelum cerita, saya mau bilang, bahwa tulisan ini khusus didedikasikan untuk Wuri, yang sudah memboncengkan saya dengan motornya, melalui jalan berliku-liku, berkelok-kelok tajam, naik turun seperti roll coaster, dengan gagah berani.

Kami nggak menyangka bahwa lokasinya seterpencil itu. Sangat jauh di pedalaman, bahkan lebih jauh dari tiga pantai paling terkenal di Gunungkidul yaitu Baron, Krukup dan Krakal. Perjalanan kami hanya berdua saja dengan satu motor, melewati jalan yang meski diaspal mulus tapi sepi, bahkan harus melewati hutan-hutan jati. Kami bahkan harus bertanya entah sampai berapa kali pada orang-orang yang kebetulan kami jumpai (kalau melewati pemukiman), untuk memastikan apakah kami nggak salah belok dan berapa kilometer lagi jarak ke sana.

Kalau banyak yang familiar dengan Pantai Baron (memang paling terkenal sih), maka untuk ke Siung harus menyiapkan kesabaran (apalagi kalau naik motor). Pernah nih, karena merasa sebal nggak sampai-sampai juga, kami nanya lagi sama penduduk setempat. Jawabannya bikin lemas: "Sepuluh kilo lagi, Mbak."
Hadeeh! Sepuluh kilo kalau jalan perkotaan sih nggak masalah. Lha ini jalanan sepi dan lewat hutaaan!

Oiya, sebagai catatan, sepanjang jalan menuju Siung, kita akan melewati belokan-belokan ke pantai-pantai lain yang memang berderet sepanjang pesisir Gunungkidul. Ngiler juga sih belok mampir-mampir dulu (mumpung lewat kan, udah jalan jauh-jauh), tapi nanti nggak sampai-sampai ke tujuan utamanya hehe...

Setelah degdegan dan waswas sepanjang mencari pantai ini, apa yang kami dapatkan benar-benar setimpal. Saya memang nggak suka pantai (pernah kan saya bilang di sini berapa kali?). Tapi bukan berarti saya nggak pernah ke pantai. Saya cukup sering ke pantai (karena teman-teman saya suka pantai), dan bukan berarti saya nggak bisa mengapresiasi.

Dan Pantai Siung ini adalah pantai paling damai dan paling indah yang pernah saya datangi. Subhanallah. Pasir pantainya putih, air lautnya biruuu banget, dan bersih tanpa sampah. Di sini nggak seramai Pantai Baron-Krukup-Krakal, mungkin karena jarak tempuh yang jauh dan belum banyak orang awam yang tahu. Kenapa saya bilang awam? Karena pantai ini sebenarnya dikenal dunia internasional sebagai salah satu lokasi panjat tebing terbaik. Yang lebih banyak datang ke sini adalah para rock climber, lokal maupun mancanegara. Di Siung, pernah diselenggarakan Asian Climbing Gathering, yang diikuti oleh 80 peserta dari 15 negara di Asia.

Di sini ada 250 jalur pemanjatan untuk wisata minat khusus panjat tebing. Terus ada camping ground juga buat berkemah dan bikin api unggun. Katanya, kalau malam, ada rombongan kera turun dari atas perbukitan untuk main di pantai. Itu sebabnya pantai ini dinamakan Siung, karena ada sebuah tebing karang yang bentuknya mirip siung (gigi taring) kera. Kreatif juga ya hehe...

Biar pun sepi, tapi di sini ada penginapan, ada baywatch-nya (tapi pasti nggak ada yang mirip David Hasselhoft) dan warung-warung untuk istirahat. Di pantai ini dilarang berenang karena ombaknya gila banget! Soalnya langsung menghadap Samudera Hindia.

Semakin siang, air lautnya semakin pasang. Saya dan Wuri, sempat jalan ke karang yang dekat ke laut untuk foto-foto. Waktu ke sananya sih gampang, setengah jam kemudian, kita udah susah balik ke pantai karena pasangnya jadi tinggi. Huaaa!

Konon, sunset dan sunrise di pantai ini keren kalau dilihat dari atas tebing. Nggak perlu rock climbing dulu untuk sampai puncak tebing, wong ada jalan setapak juga kok. Cuma... terjal aja gituh! Saya dan Wuri sempat ajak-ajakan ke atas. Tapi nggak jadi karena rempong cyiiin.... Saya selama di Siung gendong keril lho! Lumayan berat oleh baju basah bekas cave tubing :P

Berhubung mulai lapar, setelah minum kelapa muda (tujuh ribu rupiah per butir, tapi besar dan airnya banyak),  kami sepakat untuk cari makan di Pantai Indrayanti, yang lokasinya kami lewati sebelum ke Siung.

Buat saya sih sebetulnya berat meninggalkan Siung. Saya kepengin nyoba nginap di sini dan lihat gerombolan kera ekor panjang main di pantai... hiks...
Tapi saya janji, kapan-kapan akan nyulik siapalah gitu untuk diajak ke sini lagi. Hihihi....

Coba deh, liat dulu foto-foto ini:

Itu Wuri dengan backpacker style-nya hehe... Pantainya bersih dan sepi kan?

Dilihat dari sisi Timur. Tebing di Siung punya 250 jalur panjat


Iya sih, kalau liat foto-foto itu memang nggak meyakinkan gimana bagusnya Siung. Ya iyalah, kami berdua cuma bisa pakai kamera buat futu-futu narsis :))

Nah kalau foto-foto ini saya pinjam dari situs lain, makanya bagus hehe...

Ini jalur panjat paling populer para climber pro: Jalur Kuda Laut.
Foto dipinjam dari sini
Air lautnya sedang pasang.
Foto dipinjam dari sini

Yang harus disiapkan kalau akan ke pantai ini: stamina, performa kendaraan (kalau bensin habis atau pecah ban, bakal susah. Lokasi perkampungan hanya di awal-awal perjalanan), baju ganti (karena meskipun tidak boleh berenang, bermain air di antara celah karang masih bisa), bekal minum dan cemilan untuk di perjalanan, dan kamera (rugi kalau nggak narsis di sini). Buat yang suka wisata minat khusus, ada jasa climbing tour, lengkap dengan instruktur plus peralatan manjat.

Harga tiket Masuk Pantai Siung: Orang Rp 1.000, mobil Rp 1.500, motor Rp 1.000
Parkir: Mobil Rp 5.000, motor Rp 2.000

Jalur transportasi umum menuju ke sini masih kurang memadai. Waktu tempuh dari Jogja sekitar 2-2,5 jam. Kalau naik kendaraan umum, kita harus naik bus ke terminal Wonosari. Di sana nanti naik minibus arah Tepus atau Jepitu. Sopirnya akan menurunkan kita di pertigaan, dan kita harus nyambung dengan ojek. Tapiiii.... nunggu angkutan di Gunungkidul itu harus sabar, karena bisa aja berjam-jam hehe. Mendingan dari Jogja nyewa mobil atau motor aja.
Oiya, untuk jadi catatan, di Pantai Siung sinyal ponsel bakal hilang. Sama sekali. Ponsel saya adalah ponsel dengan 4 simcard (bukan dual simcard lagi. biasaaa, sok penting hehe), dan diisi dengan 4 simcard dari 4 provider berbeda. Semuanya gak nyala.

Tau nggak, waktu sudah sampai di Jogja, pas kami mau tidur, Wuri bilang: "Sebenernya aku degdegan lho Mbak, waktu kita ke Siung itu. Jalanannya sepi, lewat hutan, cuma kita berdua. Aku takut ada orang jahat pake motor ngejar kita, hiii..."
Sementara saya degdegannya justru kalau motor kami mogok, pecah ban, atau ada tanjakan/turunan yang lebih curam lagi. Obyek ketakutannya beda tho? :))

Thanks ya Wuri, udah nemenin jalan ke Siung. *ciyum basah*

-To be continued

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, June 20, 2012

Bus Lelet, Rumah Pak Guru & Ban Pelampung

Jogja, malam pertama.

Ketika backpacking saya kali ini diawali dengan 'bencana' kehabisan tiket kereta api, saya langsung berdoa supaya nanti semua rencana yang saya susun akan asyik semua. Sebagai kompensasi bahwa saya harus naik bus ekonomi (karena PATAS AC hanya ada sore, padahal saya ingin berangkat pagi).

Tau sendiri kan bus ekonomi itu seperti apa? Jadi ketika tujuan saya adalah Jogja tetapi diturunkan di Purwokerto dan nyambung bus menuju Solo via Jogja, saya sudah siap mental. Tapi tetap saja bete ketika busnya ngetem dimana-mana. Sampai di Terminal Giwangan sekitar jam 7 malam. Wuri yang menjemput saya, melambai-lambai dari pagar luar.

Itu pertemuan pertama kami. Waktu saya sedang sering bolak-balik Jogja, dia masih di Jepang. Maka, backpacking kali ini memang sengaja dirancang untuk rendezvous kami berdua. Dia akan jadi partner 'mblusukan' ke tempat-tempat tujuan. Mengambil alih peran Ari, yang sekarang sudah beristri. Hehe...

Sebelum ke rumah Wuri, karena saya akan menginap di sana, kami ke stasiun untuk memesan tiket pulang saya. Lagi-lagi kehabisan untuk seminggu ke depan. Gila ya?

Saya bertemu keluarga Wuri akhirnya. Dia kan suka cerita-cerita kalau kami chatting. Saya jadi kenal ayahnya yang pensiunan guru sejarah, ibunya yang sedang sibuk manasik haji, salah satu abangnya dan isteri abangnya. Karena ayah saya juga orang Jawa, dan suasana di rumah saya juga sedikit beratmosfir Jawa, saya merasa tidak asing di sana. Ayah Wuri sakit, tapi masih rajin sholat di mushola warga. Dia menemani saya dan Wuri makan malam lho. Mengambilkan saya kerupuk, menyuruh saya makan banyak. Ibu Wuri hari itu memotong ayam dan dimasak opor. Saya jadi terharu :)

Malam itu, kami nggak kemana-mana. Saya terkapar dengan sukses di tempat tidur. Perjalanan ke Jogja 12 jam! Baru kali ini saya alami sepanjang sejarah bolak-balik Jogja! O-ya-ampun banget kan? :D

Kebendul di Goa Pindul!

Pagi-pagi, saya, Wuri dan kedua kakaknya suami isteri berboncengan naik motor ke desa wisata Bejiharjo di Gunung Kidul. Jangan tanya jauhnya. Jangan tanya juga gimana berkelok-keloknya jalan ke sana. Huaaa.. saya yang nemplok di boncengan Wuri bersyukur kami naik motor. Kalau naik mobil, saya bisa pusing dan mual.

Kami akan cave tubing, sodara-sodara! Masuk ke goa dengan mengambang di atas pelampung yang terbuat dari ban dalam (ukuran bannya besar kok) plus life jacket di badan. Goa Pindul itu termasuk jenis goa bersungai bawah tanah. Full sungai, yang kedalamannya mencapai 4-7 meter, dengan tiga zona: zona terang, zona remang dan zona gelap abadi. Tinggi permukaan air ke langit-langit goa sekitar 4,5 meter, dengan waktu tempuh sekitar 20-40 menit.

Untuk yang belum pernah caving, cave tubing sudah lumayan mendebarkan lho, meskipun kategorinya non ekstrim. Aman banget kok, wong rombongan kami aja dikawal empat orang pemandu. Karena minimal rombongan itu lima orang, maka kami digabung dengan sekelompok cowok-cowok asal Purworejo yang rame dan riang gembira, menamakan diri mereka 'Geng Coro'. Halo kaliaaan! Hahaha...

Salah satu pemandu kami, Mas Sudar, menjelaskan bagian-bagian di dalam goa. Saya melihat stalagtit dan stalagmit yang masih aktif. Tanda masih aktif itu adalah jika pilar-pilar batu itu masih meneteskan air. Mereka masih akan tumbuh setiap tahun. Di dalam juga banyak kelelawar buah kecil-kecil menempel di langit-langit goa (untungnya sama sekali nggak bau guano).

Ada yang disebut Batu Gong. Yaitu stalagtit besar yang ketika dipukul berbunyi mirip sekali seperti gong. Terus, ada bagian tonjolan batu di langit-langit goa, yang mitosnya pria yang menyentuhnya akan bertambah perkasa. Wah, langsung tu cowok-cowok rebutan! Hahaha...
Eit! Ada lagi, stalagtit yang konon tetesan airnya bisa membuat cewek bertambah cantik. Wuri langsung melonjak dari pelampungnya untuk menadahi tetesannya dan mengusapkan ke mukanya. Dasar!

Nama Pindul sendiri terdiri dari banyak versi. Mulai dari cucu Panembahan Senopati yang dibuang, anak lelaki yang mencari ayahnya di goa, dan pemburu kelelawar di jaman dulu untuk dikonsumsi. Nah, orang-orang dalam versinya masing-masing itu waktu ada di goa, pipinya kebendul (membentur) batu-batu di dalam goa.

Di dalam goa juga ada lubang runtuhan atau sinkhole, dari permukaan tanah di atas goa. Kami beruntung cave tubing saat siang hari bolong. Sinar matahari masuk ke goa lewat lubang itu dan terlihat seperti lampu sorot di atas panggung. Pilar cahaya kayak gitu disebutnya 'sinar surga', ray of light, atau sunbeam. Nah, di bawah sinkhole ini, kami berhenti untuk main air dulu. Ada tebing nggak terlalu tinggi di pinggiran yang bisa dipanjat. Geng Coro langsung bikin acara lompat 'nggak' indah dari atasnya sambil ketawa ketiwi. Memang asyiknya gini nih, kalau acara bareng cowok-cowok. Sementara saya dan Mbak Ratna, kakak ipar Wuri menepi (karena takut air-padahal sudah pakai life jacket!), Wuri dan abangnya, Mas Ruhan, of course cowok-cowok Geng Coro juga, malah asyik berenang kayak ikan pesut. Hehehe...

Karena panjang goanya cuma 300 meteran (lebar rata-rata 5-6 meter), tahu-tahu kami sudah keluar goa dan muncul di sungai Banyu Moto. Langsung menepi dan memanjat satu persatu ke atas jalan dengan seutas tali.

Terjun Bebas di Sungai Oyo

Kelompok hore-hore kami mengambil dua paket sekaligus. Habis cave tubing, kami mau langsung tube rafting di Sungai Oyo. Jadi Geng Coro plus kami berempat melanjutkan jalan kaki sambil memanggul pelampung ban masing-masing ke lokasi start rafting, sekitar 400 meter dari tempat kami menepi dari Sungai Banyu Moto. Di antara panas terik, kami jalan melewati pematang sawah yang habis panen.

Oh iya, Gunung Kidul identik dengan kekeringan dan sulit air sebenarnya nggak tepat, tau. Banyak kok kawasan GunKid yang airnya berlimpah dan penduduknya bisa panen padi setahun tiga kali.

Kami sampai di pinggir sungai, yang terpencil lokasinya. Jangan tanya gimana degdegannya saya, karena saya nggak bisa berenang. Tapi sumpah mampus, sungai ini eksotis banget-nget! Tanya aja sama yang udah pernah tube rafting di sini.

Tebing sungainya bagus banget, batu alam yang berulir-ulir karena digerus arus air berpuluh-puluh tahun. Kadang-kadang ada tonjolan batu di tengah sungai, kita jadi bentur-benturan kayak main bom-bom car, hahaha...

Kami datang pas bukan musim hujan, jadi arusnya tenang dan kadang supaya hanyut ke hilir, didorong oleh para pemandu yang berenang di sekitar kami untuk jaga-jaga.

"Mas, airnya sedalam apa?" Saya tanya Mas Sudar, yang posisinya selalu dekat saya dan Mbak Ratna, si dua orang takut air :P
"Ada yang sampai 12 meter," katanya kalem.
"Ha???"
"Aman kok, kan pake jaket pelampung." Dia nyengir.
Ya iya sih aman. Pengawalnya aja empat. Tetep aja saya jadi tambah ogah keluar dari pelampung ban kayak yang lain-lain. Ngiri sih liat semuanya berenang kayak pesut, sementara saya duduk di atas ban. Tapi kan ndredeg :p

Katanya lagi, kedalaman sungai bervariasi sesuai debit air sesuai musim. Kalau musim hujan, air bisa naik sampai tebing yang ketinggiannya sampai 9 meter dan menggenangi jembatan penyeberangan bambu yang melintang dari kedua tepinya. Tapi biasanya sungai ini cepat surut.

By the way, karena bukan musim hujan, air sungainya bersih sekali. Nyaris bening. Suasana sekitar sangat alami, nggak ada sampah. Yang terdengar cuma gemericik air dan suara angin. Mas Sudar bikin pengumuman. Yang mau kelapa muda silakan, gratis. Dia menunjuk ke pohon-pohon kelapa di sepanjang tepi sungai. Cowok-cowok udah pada sumringah.
"Ambil sendiri, tapi pohonnya diguncang-guncang dulu sendiri ya."
Aish! Kirain beneran! :))

Setelah sebelumnya melewati air terjun-air terjun kecil, akhirnya kami sampai di air terjun yang cukup besar. Karena di sini sungainya cukup dalam, para pemandu nantangin kami lompat dari atas tebing setinggi 17 meter di atas air terjun. Sudah ada semacam panggung papan untuk melompat bebas di sana. Dan beberapa anak Geng Coro heboh lagi deh. Pada saling menantang teman. Wuri dan Mas Ruhan juga lompat lho. Meskipun setelah lompat, Wuri megap-megap kayak yang nyaris semaput ahaha...

Bahkan Mbak Ratna juga akhirnya lompat, tapi dari jembatan setinggi 4 meteran, yang dibawahnya sang suami siap menyambut. Lha kalo saya? Jadi kameramen aja deh. Udah gitu, masih pula ban saya dijagain Mas Sudar sembari dia jadi fotografer juga (pake kamera Wuri). Soalnya saya ngeri hanyut ke bawah area lompat bebas itu. Saya pegang kamera. Kalau ikut kecebur, kameranya gimenong? *alasan si penakut* :))

Tapi ya... itu pun masih kena dikerjain lho. Pas mau melanjutkan perjalanan meninggalkan air terjun, ban saya dihanyutkan persis di bawah air terjun. Pantesan para pemandu teriak nyuruh tahan napas dan kamera saya dengan senang hati diambil alih. Kepala saya digrojok air terjun setinggi 17 meter. Kayak ditimpa apaan gitu. Keras banget! Huaaaa! Saya teriak sebel. "Gue dikerjaiiiin! Awas yaaaa!!!" Eh, mereka malah ketawa :))

Nggak jauh dari air terjun, kami menepi. Selesai sudah raftingnya. Kami diangkut pulang pakai pick up, model yang biasa buat ngangkut kambing itu lho.. hehehe... pada mengembik deh semua.

Nggak puas tuh. Waktu tempuh 1,5 jam itu buat saya kurang banget. Rutenya kurang panjang, alirannya kurang deras. Kata pemandu, kalau musim hujan, rute biasanya lebih panjang dan aliran airnya deras. Ban kami nggak perlu sesekali didorong, sudah hanyut sendiri dengan kencang.

Perjalanan kembali ke basecamp menandai berakhirnya paket. Anak-anak Geng Coro udah sampai duluan dan sedang berhaha hehe sambil minum jahe hangat gratis. Lalu kami mandi dan ganti baju. Kamar mandi banyak lho, berderet. Lalu sholat ashar sebelum pulang bermotor ria, keluar dari Bejiharjo.

Oiya, dalam perjalanan ke lokasi basecamp cave tubing ini, motor Wuri pecah ban. Jalanan menuju ke sana memang penuh batu-batu. Buat yang mau ke sana dengan motor, sebaiknya periksa ban dan bensin sebelum berangkat ya. Buat yang nggak bawa motor, ada jasa ojek kok. Kalau sampai gembos atau pecah ban, penduduk sana sih dengan senang hati membantu. Pas kami mau pulang aja, tau-tau motor Wuri sudah terparkir manis siap dikendarai. Salut! :)

Yang harus disiapkan sebelum cave tubing dan rafting: stamina, buat cewek kalau bisa sih lagi nggak haid (karena basah-basahan dan berenang), baju ganti (termasuk pakaian dalam), sama bekal cemilan setelah balik lagi ke basecamp (ada jualan makanan juga sih kayaknya).

Buat yang mau nyobain seru-seruan, alamat kontak Wira Wisata Gelaran saya kasih nih:

Alamat : Gelaran II, Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia 55891
E – mail : www.wira.wisata@ymail.com
Facebook : http://www.facebook.com/wirawisata
Phone: +6285959656561
Cave Tubing Goa Pindul sekaligus Rafting Sungai Oyo cuma Rp 60.000 (kalau per paket: Rp 35.000)
Cuma satu yang disayangkan. Lokasi basecamp wira wisata ini agak susah dicari, cuma dikasih petunjuk arah papan-papan kecil. Untungnya di beberapa belokan atau persimpangan ada pemuda-pemuda setempat yang disiagakan untuk jadi penunjuk arah. Sip banget!

Gunung Kidul, malam kedua.

Untuk tujuan besoknya, yang masih berlokasi di Gunung Kidul, kami menginap di rumah sahabat keluarga Wuri, Mbak Utik. Cuma saya dan Wuri yang nginap. Mas dan mbakyunya harus kembali ke Jogja.

Saya bertemu dengan Mas Anggit, abang sulung Wuri, dan kami diajaknya makan di restoran yang ikan bakarnya di luar ekpektasi saya. Enak. Padahal saya nggak terlalu doyan ikan bakar, lho. Tapi yang ini enak. Nama tempatnya: Pondok Makan dan Pemancingan Sekar Kusuma, Jalan Wonosari (dekat pasar Wonosari). Terdiri dari saung-saung lesehan, bahkan ada karaokenya lho. Sayangnya, abang Wuri meyakinkan saya bahwa dia dan saudara-saudaranya nggak ada yang bisa nyanyi. Ya sudah, masa saya nyanyi sendiri. Kan nggak seru :P

Malam itu, tidur di rumah Mbak Utik yang besar dan berlangit-langit tinggi setelah sebelumnya ngobrol sama Mbak Utik dan ayahnya. Makasih ya Mbak Utik, kapan-kapan boleh mampir lagi ya? Hihi.

-To be continued

Geng Coro dan geng saya, sebelum masuk ke Goa Pindul, di atas ban.

Wuri (kiri), dan sebagian Geng Coro, di dalam goa, di bawah sinkhole

Rute tube rafting di Sungai Oyo. Lebih indah disaksikan langsung ;)

Masuk ke Goa Pindul!

Menepi di Sungai Banyu Moto, siap memanjat dengan seutas tali

Image and video hosting by TinyPic

Friday, June 8, 2012

Journey to Batavia #3

Sejujurnya, bukan karena saya sedang maraton menonton serial The Walking Dead, yang bikin saya tak kunjung melanjutkan catatan perjalanan saya ke Jakarta, tempo hari.
Sebenarnya, ada satu hal yang membuat saya jadi enggan menuliskannya. Saya kecewa. Benar-benar kecewa dan sebal.

........................

Pada hari ketiga saya di Jakarta, saya nggak perlu ceritakan bagian pertemuan saya yang berkaitan dengan pekerjaan, ya. Tidak menarik dan bakal bikin bosan.
Hari itu, setelah pertemuan 'bisnis', seharusnya saya reuni dengan beberapa kolega di kantor lama. Namun, malam sebelumnya sudah saya batalkan.

Apa pasal? (heh? ini gaya bahasa mantan Pemimpin Umum saya yang orang Medan).

Saya kecewa pada senior-senior saya. Kolega yang umurnya nyaris sebaya dengan ayah saya, yang saya hormati dan saya anggap pengganti orangtua di perantauan. Mereka melakukan hal yang menurut saya tidak pantas. Mengajak bergurau dengan cara yang membuat saya merasa dianggap gampangan.

Mereka seperti itu, sejak tidak sekantor lagi dengan saya. Apa yang ada dalam pikiran mereka?
Bahwa Enno bukan lagi teman sekantor, jadi boleh dirayu? Yang benar saja!

Salah satu di antara mereka, misalnya. Ketika mengajak saya berangkat bersama-sama keluar kota, ketika dia punya urusan bisnis di sana, begitu juga saya punya urusan bisnis sendiri. Dia bilang: "Di hotel, kita sekamar ya?" Saya langsung membatalkan keberangkatan saya, meskipun kemudian dia bilang itu hanya bercanda.

Bercanda macam apa itu? Selama ini, dia saya anggap orangtua saya. Usianya sebaya dengan ibu saya. Saya tersinggung dengan gurauannya itu. Dan saya anggap itu bukan sekedar gurauan. Itu spekulasi. Seandainya saya bilang ya, apa mungkin dia akan bilang 'oh, tapi saya bercanda'? No, that's a dead bullshit!

Lalu malam itu, seorang lainnya mengirim pesan pendek dengan gaya bahasa dan cara menulis alay. Aku menjadi 'aq', lalu bahasa yang bernada merayu. "Aq manggil kmu sayang, ya?"
Saya jawab dengan lugas. "Bapak harusnya memanggil saya 'nak.'"

Lalu saya batalkan reuni itu. Meskipun sebenarnya saya bisa saja tetap bertemu dengan para kolega yang sebaya, yang bebas dari wabah puber entah ke-35 atau ke-100. Tapi saya keburu ilfil dan bad mood to the max. Sampai sekarang pun, kalau ingat hal itu, saya masih jengkel. Plus sedih, karena saya jadi kehilangan dua teman, dua orangtua, dua senior yang seharusnya masih bisa membimbing saya. Apa boleh buat. Saya harus menjauh.

Gara-gara itu, akhirnya saya melarikan diri ke Pasar Senen.

Kenapa Pasar Senen? Pertama, karena saya sedang menulis artikel tentang pasar barang bekas yang bisa ditemukan, salah satunya di Senen. Kedua, karena saya ingin melacak kenangan saya dengan seseorang.

Hari itu, ia mengajak saya ke Senen untuk memotret arus mudik. Kami pergi ke stasiun, dan saya duduk di bangku kayu, sementara ia mulai berburu gambar ke sana kemari. Setelahnya ia duduk di samping saya, lutut kami saling bersentuhan dan ia tersenyum.
"Kamu capek ya?"
"Enggak."
Lalu kami berdiskusi tentang seseorang yang kami kenal. Bukan dengan cara menjelek-jelekkan, tetapi mencari inti persoalan. Dan ia berkata, "Sudah, jangan pamer argumen lagi. Kamu itu pintar, aku sudah tahu. Jangan sampai aku jatuh cinta sama kamu lagi."
Saya tersenyum. Saya tahu, menurutnya cewek pintar itu sexy. Saat itu saya ingin bilang: Hei, aku masih cinta kamu, tahukah kamu itu? Tetapi, aku membenamkannya dalam-dalam dan menghadapinya sebagai hantu masa lalu. It's time to face the truth, I will never be with you.'

Jadi saya ke Senen, menjelajahi pasarnya. Menghadapi hantu masa lalu itu sekali lagi.


pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Thursday, May 31, 2012

Journey to Batavia #2

There is no frigate like a book 
To take us lands away, 
Nor any coursers like a page 
Of prancing poetry. 
This traverse may the poorest take 
Without oppress of toll; 
How frugal is the chariot 
That bears a human soul! 

(Emily Dickinson, A Book)

.......................

Sejak menginjakkan kaki di Terminal Lebak Bulus, saya sudah bertekad menyisihkan satu hari khusus untuk nongkrong di toko buku. Itu ritual wajib saya waktu masih tinggal di Jakarta.

Maka, pagi-pagi saya sudah mandi dan bersiap. Gramedia Matraman adalah favorit saya, tetapi saya juga kangen Gramedia Blok M. Karena setiap hari, sepulang kerja malam-malam, saya selalu mampir ke sana sampai waktunya tutup dan satpamnya menyuruh saya pulang dengan sopan. Hehehe.

Saya langsung ke rak Novel Indonesia, dan kali ini benar-benar melihat dengan mata kepala saya sendiri novel saya Selamanya Cinta tersandar dengan manis di sana. Bangga? Hmm... bangga nggak sih? Kayaknya perasaan saya biasa-biasa saja. Sumpah, bukan sombong. Mungkin karena saya sangat-sangat terbiasa melihat majalah yang saya terbitkan dengan redaksi kami dulu terpajang di mana-mana. Di lapak-lapak, di toko-toko buku, di bandara, di gedung bundar Senayan ;)

Mungkin, seperti itu jugalah perasaan rekan-rekan jurnalis lain yang akhirnya menerbitkan buku sendiri. Senang, tetapi tidak eforia.

Novel saya ada di sebelahnya novel teman-teman penulis yang saya temui di Kelas Nulis Bukune. Jadi, saya comoti tuh buku-buku mereka, saya masukkan ke keranjang belanja di tangan. Hey gals! Saya baca buku kalian lho! :D

Sambil berkeliaran melihat-lihat buku-buku, saya terkenang pada suatu masa. Seseorang berjalan di sebelah saya. Saya tarik-tarik tangannya ke rak fiksi, tetapi ia maunya ke rak buku-buku yang lebih serius.

"Ini bagus deh, kamu baca ya?" Saya menyodorkan novel Stephen King
Ia menggeleng. "Kamu itu kok sukanya fiksi horor sih? Baca ini nih, biar pinter." Ia menepukkan sebuah buku tentang IT ke jidat saya pelan.
"Idih! IT sih tinggal nanya aja sama kamu! Ini, kamu baca fiksi sekali-kali dong!"
"I don't have much time, darling."
"Ah, hidupmu nggak menarik banget sih. Sediakan waktunya buat membaca dong." Saya jejalkan novel itu di keranjang belanja yang dijinjingnya dan sudah diberati oleh buku-buku serius pilihannya.
"Dasar tukang maksa."
"Tapi suka kaaan?" Saya cengengesan.

Buat saya, itu kenangan yang manis. Nggak tau deh kalau dia. Saya suka sorot matanya yang melembut saat menatap buku-buku. Karena sebenarnya dia juga suka buku seperti saya, hanya selera bacaan kami yang berbeda.

Saya suka ritual menarik-narik tangannya, pura-pura memaksa dia memilih buku di rak fiksi. Dan ia akan pasang tampang mendelik lebay kalau saya menyodorkan novel drama percintaan. Hahaha.

Saya kembali ke masa kini.
Menatap nanar ke buku-buku IT kesukaan dia. Mengambil satu judul tentang hacking. Bagus sih, dan bikin penasaran. Tetapi, tanpa dia yang membimbing, saya malah akan bingung sendiri. Jadi saya letakkan lagi.

Di rak novel terjemahan, mulailah saya galau. Saya sedang mengincar American Gods-nya Neil Gaiman. Wiih! Saya penggemar beratnya Om Neil, lho! Pertama kali membaca novelnya yang berjudul Neverwhere. Lalu suatu hari Rona cerita tentang novel bagus berjudul Coraline dan The Thirteenth Tale. Dia nggak bilang itu novelnya Om Neil, dan saya juga lupa. Karena di kaki gunung ini toko buku lengkap itu bagaikan mencari fosil dinosaurus di halaman belakang rumah (alias belum tentu ada), maka Rona dengan baik hatinya meminjami koleksinya, plus The Anansi Boys juga. Saya langsung tergila-gila! Buat yang belum pernah baca novelnya Om Neil Gaiman, baca gih! Nggak rugi.

Kembali lagi ke soal galau, saya juga mengincar trilogi The Hunger Games. Masalahnya ya, kalau mengikuti nafsu, saya pasti bakal beli 20 buku sekaligus. Bangkrut deh! Padahal saya kan punya rencana beli keril baru juga. Tau kan, harga keril berapa? Uhuk.

Jadi setelah mondar-mandir sekitar setengah jam dari The Hunger Games ke American Gods, saya putuskan beli American Gods dulu.

Begitu saya keluar dari Gramedia... huaaaa! Sudah sore! Saya kelamaan nongkrong di Gramedia Blok M. Soalnya sempat membaca kumpulan cerita horor dulu, baca komik dulu, ngintip beberapa buku biografi yang bikin saya penasaran ..hehe...

Saya putuskan langsung ke toko perlengkapan outdoor untuk membeli keril.

Jeng jeng! Yang jaga tokonya imut gitu mukanya. Layak jadi cover boy deh :P
Saya jadi betah, ihik... Dia tanya, saya mau kemana beli keril baru. Saya bilang mau bekpeking dan telusur gua. Mimik mukanya seperti bilang 'wow'. Iya lah, saya lagi pakai busana agak feminin gitu.  Kan nggak nyangka :P

Akhirnya, saya dapat keril yang 60 liter. Kata sepupu saya yang tukang manjat gunung (sampai ke Afrika malah), itu agak kegedean buat cewek.
Tapi keril lama saya 35 liter up to 40, dan rasanya nggak terlalu leluasa bongkar muatnya. Makanya saya beli yang lebih besar. Meskipun jadinya tekad saya untuk traveling light alias bepergian dengan beban seringkas mungkin akhirnya gagal deh :))

Jadi begitulah. Hari itu saya dapat buku-buku dan keril baru. Besoknya saya keluyuran di Pasar Senen dan ngeliat hantu.

Tunggu part 3 ya...

pict from here

Wednesday, May 30, 2012

Journey to Batavia

Some folks leave home for money 
And some leave home for fame, 
Some seek skies always sunny, 
And some depart in shame. 
I care not what the reason 
Men travel east and west, 
Or what the month or season-- 
The home-town is the best. 

(Edgar A. Guest, The Home-Town)
..............


Saat diminta mengisi Kelas Nulis yang diselenggarakan Bukune, novel saya bahkan belum kelar. Dan pengalaman saya bicara di depan banyak orang, bukan sebagai pembicara tamu. Saya main teater, dulu waktu masih SMA. Itu beda, karena saat berakting, kita berada di dunia imajinasi. Saya mengajar di sekolah darurat. Itu juga beda, karena yang saya hadapi anak-anak dengan suasana yang informal.

Tapi kalau harus bicara depan banyak orang (dewasa) dan sharing ilmu? Walah! Saya memang punya pengalaman sebagai editor (majalah). Tapi kan bukan novelis seperti Ayu Utami atau Dee Lestari, dan terutama terlalu jauh bedanya dengan NH Dini, Mira W., atau V. Lestari yang senior-senior itu. Fyuh!

Dipikir-pikir lagi, nggak ada salahnya juga saya coba. Toh Iwied bilang, acaranya juga informal. Pada dasarnya saya juga suka mendiskusikan hal-hal yang saya sukai. Nggak ada salahnya membagi pengalaman dengan teman-teman yang baru mulai menulis. Setidaknya, sebagai editor, saya cukup punya masukan untuk hal-hal yang mendasar tetapi sering dilupakan.

Oke, ayo kita diskusi! Saya pun mulai packing.

Jakarta menyambut saya acuh tak acuh seperti biasa, begitu saya turun dari bus antar kota di Terminal Lebak Bulus. Dimulai lagi acara mengejar-ngejar metromini, yang entah kenapa tahun ini sudah tidak masuk lagi ke dalam terminal. Sebagai anak (yang dibesarkan) di Jakarta, mengejar metro dan melompat ke dalamnya sih perkara mudah. Hehehe.

Begitu sampai di rumah tante, saya tidak kemana-mana, meskipun hari masih siang dan sebenarnya masih cukup waktu untuk sekedar pergi ke Gramedia Blok M. Saya malah mengobrol dengan tante saya, setelah sebelumnya berganti kostum kebangsaan di Jakarta: tanktop dan celana pendek. Sekarang hanya dipakai di dalam rumah, tentu saja ;)

Petualangan baru dimulai esoknya. Iwied mengirim pesan, saya akan dijemput oleh utusan Bukune bernama Pak Syarif. Tepat pukul setengah sebelas siang, seseorang muncul di depan pagar.

"Saya diminta menjemput Enno," katanya. Saya agak ragu. Masih muda? Ganteng?
"Ini dari Bukune?"
"Iya."
"Pak Syarif?"
"Iya, saya Syarif."
Oh, wow! Sejak tadi yang saya tunggu itu seorang bapak-bapak setengah baya. Hahaha.

Di Kafe Buku Margonda, Iwied sudah menunggu di parkiran. Dia langsung wara-wiri nggak jelas. Tapi saya sempat bilang ke dia. "Apaan, Pak Syarif?  Mas Syarif itu mah!"
Iwied menghampiri mobil yang sedang parkir, dan kembali ke saya sambil nyengir. "Iya ya. Aku juga baru tau."

Kelas nulisnya berlangsung fun. Saya malah juga ikut dapat banyak masukan dari Mbak Windy, saat giliran dia sharing. Dia jelas punya banyak tips dan teknik yang bisa dibagi sebagai editor fiksi.

Waktu giliran saya, ternyata mudah saja bercuap-cuap di depan banyak orang itu ya? Hahaha. Saya sebenarnya suka diskusi. Kolega-kolega saya tahu betul, setiap rapat redaksi, saya ini paling argumentatif.

Satu hal yang saya garis bawahi untuk teman-teman calon penulis hari itu, saya bilang supaya mereka jangan setengah-setengah.
"Waktu kalian memutuskan untuk menjadi penulis dan bilang 'saya kepingin jadi penulis', kalian nggak bisa mundur lagi. Apa pun motivasi kalian untuk jadi penulis itu, jangan setengah-setengah. Pengen ngetop, eksis, banyak duit? Fine. Meskipun seharusnya motivasi menjadi penulis itu karena suka menulis-tanpa embel-embel. Cuma satu yang harus diingat, penulis harus mau DIKRITIK. Kritikan paling pedas sekalipun harus bikin kita lebih maju, bukannya mundur dan berhenti. Kalau malah patah arang itu namanya cemen."

Agak sarkastis ya? Hehe. Saya kan memang begitu. Saya sengaja pakai istilah cemen alias pengecut. Supaya teman-teman calon penulis di depan saya termotivasi. Kelak, kalau mereka dapat kendala dan putus asa, pasti akan ingat kata-kata saya. 'Kata Mbak Enno, kalau patah arang itu cemen.'

Memangnya ada gitu orang yang mau disebut cemen? :P

After all, acaranya asyik. Santai dan kami kenyang karena makanannya banyak. Haha. Thanks ya teman-teman di Bukune :P
Saya juga ketemu beberapa teman penulis. Ada Mbak Dian Purnomo, Ninna Krisna dan Naura Laily. Saya ketemu teman-teman kru Bukune. Ketemu Gita dan puteri kecilnya. Ketemu Iwied lagi (yang hari itu seksi repot). Ketemu Mbak Windy Ariestanti yang saya sukai tulisan-tulisannya.

Pulangnya, saya di antar Pak... eh, Mas Syarif lagi. Naura yang dipanggil Nunu ikut sampai Stasiun Tanjung Barat. Nunu yang sudah saya ceritai soal peristiwa kecele itu bisik-bisik, "Eh iya, sopirnya ganteng hihi..."

Hari itu, perasaan saya lega. Akhirnya acara yang sudah digadang-gadang dari beberapa bulan yang lalu, terlaksana juga. Dan tunai sudah tugas saya. Semoga peserta kelas nulis yang jelas lebih muda semua dari saya, sukses dan menyelesaikan novelnya dengan lancar.

Saya masih punya cerita keluyuran di Jakarta sih. Tunggu di part 2 ya. 


pict from here


Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...