Showing posts with label On Project. Show all posts
Showing posts with label On Project. Show all posts

Wednesday, April 5, 2017

Algernon Project: About Their Names

Sebenarnya, pemicu terbesar yang menggerakkan saya langsung menulis tanpa pikir panjang, adalah dua nama yang melekat di otak saya sejak masih kecil.

ALGERNON dan DEMITRIA.

Saya sangat menyukai dua nama itu, terutama Algernon. Itu adalah nama yang unik dan antik. Berasal dari bahasa-bahasa kuno.

Algernon berasal dari bahasa Normandy France, yang artinya 'with beard'.
Meski tak pernah saya membayangkan seorang pria berjanggut saat menyebut nama itu. Yang saya bayangkan, justru remaja  cerdas, tinggi besar agak gendut bernama Frederick Algernon Trotteville, yang dijuluki Fatty oleh teman-temannya.

Yes, pertama kalinya saya tahu nama Algernon dari serial Pasukan Mau Tahu-nya Enid Blyton, penulis favorit yang buku-bukunya menemani saya bertumbuh. Dari seorang anak kecil pengkhayal menjadi cewek remaja tomboy yang doyan keluyuran, lalu orang dewasa yang keras kepala, yang masih tetap pengkhayal dan doyan keluyuran.

Nama Algernon itu klasik, meskipun tidak praktis dilafalkan. Baru saya sadari kemudian, ternyata sejak kecil saya sudah suka dengan segala hal berbau jadul, vintage dan antik. Haha.

Lalu gimana dengan Demitria?

Saya tidak ingat kapan tepatnya saya mendengar nama itu dan langsung menyukainya. Tapi sekitar 10 tahun yang lalu, barangkali lebih, saya membuat blog terkunci yang isinya adalah bab-bab awal novel dengan tokoh bernama Demitria. Novel itu tidak terselesaikan, karena saya tak bikin outline sama sekali. Terlupakan, tetapi nama tokohnya tetap saya sukai.

Dalam draft Algernon Project juga ada nama Pip. Itu nama yang saya sukai juga. Setiap pembaca setia buku-buku Ibu Guru Blyton pasti tahu siapakah Pip itu.
Kuncinya masih di serial Pasukan Mau Tahu.

Demikianlah, suatu pagi yang dingin berkabut di sebuah kampung (yang bagi saya adalah tempat yang sangat menyebalkan), di sudut Jawa Barat, dua nama yang puluhan tahun mengendap di dalam benak saya itu mengetuk-ngetuk minta keluar.
Seperti saya, mereka sepertinya jatuh cinta pada Würzburg, yang saya baca di internet beberapa hari sebelumnya.

Maka, saya menciptakan takdir untuk pertemuan mereka di sana.
Algernon yang memandang hidup dengan pahit dan Demitria yang selalu optimis.

Sesungguhnya, proses mewujudkan mereka adalah pembelajaran baru lagi bagi saya.

Pertama, saya menulis tanpa outline (dan saya jadi tahu bahwa saya lebih cocok dengan sistem kerja pakai outline).

Kedua, tadinya saya terbiasa menulis berdasarkan mood. Draft ini membuat saya ketat sekali dengan waktu. Menulis tiap hari tanpa menunggu mood. Memaksa memikirkan dialog dan adegan sepanjang hari 24 jam. Dan saya jadi bisa menyelesaikanya 2 bulan lebih cepat dari tempo normal saya.

Ketiga, ternyata inspirasi memang datang tidak terduga. Hanya dari nama, sebuah kisah bisa tercipta.

Tunggu tinjauan berikutnya dari Algernon Project, ya!

Pfiaddi!


Tuesday, March 28, 2017

Algernon Project: A Prolog

I see you,
When on the distant road
The dust rises,
In deep night,
When on the narrow bridge

- Wolfgang von Goethe, "I Think of You"


Apa yang ingin saya ceritakan tentang draft ini, adalah tentang betapa saya mencintai proyek naskah yang satu ini.

Suatu dorongan hati, menggerakkan saya untuk membuka laptop dan menulis di suatu pagi. Tentang sepasang anak muda yang bertemu di sebuah kota, di bagian selatan Jerman.

Dan saya menulis, mula-mula tanpa outline.

Saya menulis sampai malam, hari itu. Di benak saya tergambar jelas sosok kedua tokoh saya. Algernon yang kepengin mati, dan Demitria yang mencintai hidup.
Saya larut dalam dunia mereka. Dunia yang sebenarnya saya ciptakan sendiri.

Selama menuliskan kisah mereka, saya terbenam dalam karakter Algernon yang depresi. Tingkah laku saya sehari-hari jadi sedikit aneh, dan itu saya sadari.

Kenapa saya sangat mencintai proyek ini? Entahlah.
Mungkin karena secara tidak terlalu sadar, saya menuangkan hal-hal pribadi yang merupakan bagian dari diri saya.

Bahwa saya kadang-kadang membenci hidup, sekaligus ingin hidup seribu tahun. Saya menyukai bangunan-bangunan dan kota-kota lama, seperti Würzburg yang menjadi lokasi kisah ini. Saya menyukai warna oranye, merah dan kuning, dan menyukai kabut. Seperti karakteristik musim gugur, musim yang mempertemukan Algernon dan Demitria.
Saya juga menyukai buku-buku dan sastra klasik, yang menjadi benang merah kedua tokohnya. Dan saya, adalah orang yang tidak pernah kehilangan harapan, seperti pesan moral yang disiratkan kedua tokohnya.

Dalam satu bulan, saya merampungkan kisah ini. Benar-benar sebuah rekor, karena biasanya saya butuh waktu paling cepat 3 bulan untuk menyelesaikan sebuah naskah.

Ketika selesai, ada kebanggaan tersendiri dalam hati. Bukan karena, memecahkan rekor selesai 1 bulan.
Ini semacam kebanggaan kepada anggota keluarga.
Dalam hal ini, saya bangga pada Algernon dan Demitria.

Sungguhan, nulis tanpa outline? Tanya seorang teman penulis.
Ya. Saya melaju tanpa outline kali ini. Hanya coretan-coretan dialog atau adegan-ditulis tergesa-gesa di sembarang kertas, yang tiba-tiba pop up di kepala saat sedang tidak bisa membuka laptop.

Bukan berarti saya menyarankan untuk tidak membuat outline saat hendak menulis, lho. Bagaimana pun, outline itu penting.
Dalam proyek ini, saya hanya sedang menantang diri sendiri. Bisakah saya menulis tanpa outline, hanya berdasarkan ide segar, yang langsung ditempatkan di naskah? Ibaratnya ini permainan puzzle.

Ribet? Iya. Pusing? Iya. Bingung? Iya.
Tapi akhirnya saya melewati itu semua. Dan naskah Algernon Project akan segera diterbitkan dan bisa dibaca.

Penasaran?
Sabar.
Sementara sedang diperiksa editor, saya akan bercerita lagi tentang draft ini nanti.

Saturday, December 24, 2016

What I Learn from Pinky Promise

Uhm, well, hello...
Here I am, the owner of this blog. How are you?

Sudah beberapa lama ingin mulai menulis lagi di sini. Terutama mengenai novel terbaru saya, Pinky Promise. Tetapi, selalu saja ada hal-hal lain yang bikin saya menunda-nunda.

Hari ini. tetiba ada sedikit waktu. Kebetulan juga baru isi kuota hehe...

Jadi ceritanya, novel terbaru saya yang judulnya Pinky Promise sudah terbit sejak bulan Oktober lalu. Novel itu diadaptasi dari skenario film berjudul sama, yang ditulis Gina S. Noer. Pernah dengar namanya, kan? Dia bukan penulis skenario sembarangan. Sering mendapat penghargaan perfilman. Selain itu. salah satu filmnya, Perempuan Berkalung Sorban, adalah film favorit mendiang ibu saya.
Omong-omong, film Pinky Promise pun sudah ditayangkan di bulan Oktober.

Trus, kenapa tiba-tiba saya kepengin nulis tentang novel ini, padahal dua bulan sudah berlalu?
Pertama, karena saya belum dengan resmi pengumuman di blog ini, bahwa novelnya sudah cetak dan beredar di toko-toko buku.
Yang kedua, malam ini nggak sengaja saya lihat foto-foto Ria Irawan dan Julia Perez di internet. Mereka sedang menjalani kemo, untuk melawan kanker yang menggerogoti tubuh mereka. Saya jadi ingat malam-malam yang terasa sedih dan mencekam, saat saya menulis Pinky Promise sebagai draft utuh, yang dikembangkan dari dialog-dialog di skenario Gina

Mudah?
Tidak.
Bisa dibilang, ini adalah pengalaman saya menulis novel yang paling menguras tenaga dan pikiran . Tidak hanya secara teknis. tetapi juga secara psikologis.

Mengadaptasi sebuah skenario menjadi novel ternyata nggak segampang yang saya bayangkan.Terutama, jika kamu dituntut untuk mengembangkan plotnya secara utuh. Skenario cuma berisi adegan dan dialog-dialog untuk kebutuhan visual. Jauh bedanya dengan sebuah novel, yang harus bisa membuat pembaca memahami sekaligus bisa mengimajinasikannya.

Saya harus membentuk lagi karakter-karakter setiap tokoh, memberi mereka sejarah dan latar belakang, menciptakan plot-plot penunjang, dialog-dialog tambahan. Sementara itu, kisahnya sendiri menguras emosi kesedihan dalam diri saya.

Tahu nggak, kenapa?

Pinky Promise adalah kisah tentang orang-orang yang berjuang melawan kanker payudara di tubuh mereka. Mereka berjuang untuk tetap hidup. Dan saya, punya seorang sepupu, yang tahun ini meninggal karena penyakit yang sama. Sepupu yang dulu teman bermain saya saat kami masih kecil. Meski, tahun-tahun belakangan hubungan kami menjadi renggang, ketika ia meninggal, saya menangis berjam-jam di kamar. Ia meninggalkan tiga orang anak. Saya mencemaskan mereka.

Perasaan duka itu terungkit lagi ketika saya mengerjakan draft Pinky Promise. Berkali-kali, saya menulis sambil bercucuran air mata. Terlebih karena memang dalam skenario itu, ada dialog-dialog yang menyentuh hati, yang kemudian harus saya jelmakan menjadi plot yang utuh. Membikin saya memahami, mungkin apa yang dirasakan para pejuang kanker dalam kisah ini (Gina melakukan riset dan wawancara dengan para pejuang kanker sungguhan sebelum menulis) seperti itu pula dulu yang dirasakan mendiang sepupu saya.

Saya pun melakukan riset saya sendiri. Mencoba memahami situasi yang dirasakan seorang pejuang kanker. Saya menemukan beberapa blog para pejuang kanker. Favorit saya adalah blog mendiang Sima Gunawan. Mbak Sima almarhum adalah orang yang sangat optimis dan tegar menghadapi kankernya yang sudah stadium 4. Ia sangat mirip dengan karakter Anind yang ceria, dalam novel Pinky Promise. Berkunjung deh, ke blognya. Meskipun Mbak Sima sudah tiada sejak awal tahun 2012 lalu, blognya masih menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi para pejuang kanker lainnya sampai sekarang.

Thank you for inspiring us, Mbak Sima.
May you rest in peace in Heaven.

Sebenarnya, yang mau saya bilang saat memutuskan menulis di sini hari ini adalah, bahwa menulis Pinky Promise memberi saya banyak pelajaran. Pertama, tentu saja teknik mengadaptasi skenario menjadi novel. Saya beruntung, editor saya, Iwied, sabar banget membantu mengoreksi dan memberi masukan-masukan dalam diskusi online kami. Selain Iwied, tim penulis skenario dan production house juga ikut memberi masukan. Kalau boleh jujur, mengakomodir sekian banyak masukan dari banyak kepala itu agak gimanaaa gitu. Hehe. Bikin panik dan bingung mesti gimana menerapkannya. Lagi-lagi, Iwied mengajak saya mendiskusikannya, dan akhirnya saya bisa mengakomodir semua masukan. Selain itu, masukan dari Gina adalah yang saya jadikan summary dari semua masukan lainnya.
Mungkin, karena Gina sendiri adalah penulis, ia mengurutkan kritik dan sarannya step by step dan terstruktur. Thanks, Iwied dan Gina!

Dan memanglah, semua masukan itu jadi membuat novel Pinky Promise ini utuh dan lengkap.

Novel ini juga mengubah mindset saya soal menghadapi musibah. Kita nggak bisa menjauhi dunia ketika hidup sedang kedatangan masalah. Nggak bisa sembunyi atau pura-pura nggak terjadi apa-apa dalam hidup kita. Kadang-kadang, beban itu harus dibagi dengan orang-orang yang peduli dan kita percayai.
Seperti mendiang Mbak Sima. Ia membagi bebannya dengan menulis di blog. Menceritakan penyakitnya, perjuangannya, dan memberi semangat buat orang-orang yang senasib dengannya. Dari blog itu, dia jadi punya banyak teman. Mereka saling berceloteh riang di kolom komentar, mungkin juga ada yang kopi darat dan menjadi teman di dunia nyata.

Berbagi beban bagi para pejuang kanker itu tidak selalu tentang minta dikasihani. Salah banget kalau ada yang mengira begitu. Sejauh riset saya dan selama saya menulis novel ini, saya kemudian paham, bahwa mereka cuma ingin kehidupan mereka berjalan normal seperti biasa. Mereka kepengin didukung supaya kuat dan menularkan kekuatan itu kepada orang lain.

Saya, secara pribadi, sukaaa sekali tokoh Anind dalam novel itu. Tokoh favorit saya. Dan betapa diri saya menginginkan kepribadian seperti dia.

Dan ternyata, saya berjumpa dengan banyak orang seperti dia, saat premier film Pinky Promise.

Saya berjumpa dengan pejuang-pejuang kanker dari Yayasan LovePink Indonesia yang juga diundang untuk menonton tayangan perdana film Pinky Promise. Saya melihat wajah-wajah mereka yang sumringah, dengan senyum dan tawa, dan kegembiraan yang murni. Berkelompok dengan pakaian-pakaian berwarna pink, beberapa menutup kepalanya dengan kerudung atau turban, yang menurut dugaan saya mungkin mengalami efek kemo yang biasa terjadi pada kulit dan rambut.
Ada juga yang didorong dengan kursi roda, atau dipapah dengan tongkat. Wajahnya? Sama saja. Tegar dan berseri-seri.

Melihat perempuan-perempuan yang memancarkan aura ketabahan dan kekuatan sebesar itu, saat itulah saya bersyukur menjadi penulis novel Pinky Promise. Bersyukur diberi kesempatan ikut menginspirasikan kekuatan untuk terus berjuang bagi siapa saja yang sedang terpuruk, apa pun masalahnya, bukan hanya penderita kanker payudara.

Saya belajar dari para pejuang kanker, bahwa sekecil apa pun kesempatan, hidup harus diperjuangkan.






Launching novel Pinky Promise
bersama beberapa pemeran utama film Pinky Promise




Sunday, June 26, 2016

New Project: Pinky Promise

Hai...

Sudah lama banget nggak ngeblog. Yuhuuu!
Apa kabar, semuaaa? *ala penyanyi dangdut*

Eh, berdebu banget ini blog. Sambil nyapu, saya mau ngerumpi ah.

Siapa yang sudah baca novel "Melupakanmu Sekali Lagi"?
Makasih ya yang sudah baca. Yang belum baca, baca dong. *kedipkedip*

Eh iya. Saya sedang menggarap novel baru. Saat ini sedang tahap revisi atas petunjuk editor.
Judulnya PINKY PROMISE.
Cute ya, judulnya?

Jangan-jangan ada yang mikir, ini tentang janjian pake warna pink.
Ish, bukan keles! Wkwkwk.
Pinky promise artinya janji di antara dua orang yang bersifat sakral dan rahasia. Harus dijaga dan ditepati. Disebut juga pinky swear.
Pinky artinya jari kelingking. Jadi saat berjanji, caranya mengaitkan jari kelingking masing-masing.

Novel ini akan sedikit berbeda dengan novel-novel saya sebelumnya.
Pertama, ini novel adaptasi dari skenario film. Skenarionya ditulis Gina S. Noer, yang karyanya sudah sering mendapat penghargaan. Skenarionya, Perempuan Berkalung Sorban, adalah film favorit saya dan mendiang Ibu.
Bisa bayangin kan senangnya saya mengembangkan skenario Gina?

Kedua, ini berkisah tentang persahabatan. Novel-novel saya sebelumnya kan pure romance.
Kali ini, kisahnya akan berfokus pada perjuangan bertahan hidup dan menemukan makna hidup seandainya pun kalah.
Pinky Promise mengisahkan perempuan-perempuan dengan latar belakang berbeda yang akhirnya menemukan persahabatan yang tulus, saat sama-sama melawan ketakutan mereka.
Ada kisah romance-nya juga pastinya sih. Hahaha.

Bikin baper, nggak? Ih, bangeeet.
Ini yang nulis aja sampe nangis-nangis nyesek sendiri. Mana lagi puasa yaelah. Jadi kan nggak bisa minum secangkir teh tarik hangat untuk menenangkan diri. #eh
Wkwkwk

Btw, saya sudah nonton hasil editing offline-nya lhooo.
Pada suatu sore yang agak mendung, ditemani editor saya Iwied dan Resita-pemred GagasMedia. Iya, nanti akan diterbitkan GagasMedia. Jadi cekidot aja akun Gagas. Pada waktunya pasti akan ada cuitannya.

Filmnya direncanakan tayang di bioskop bulan Oktober. Novelnya terbit sebelum itu. Nggak lama lagi kok, insyaAllah. Sudah dapat tanggal naik cetak, edar, dan launching dari Iwied. Nanti di-share kalau sudah naik cetak aja ya.

Oiya, pada pengin tau pemain filmnya siapa? Pemainnya adalah aktor dan aktris yg aktingnya semua nggak diragukan lagi.
Buat penggemar Chelsea Islan dan Derby Romero siap-siap ya. Mereka juga main, lho.
Derby cute banget seperti biasa. Hihi.

Yang seru, nantinya akan ada road show sebelum film tayang. Kata mbak PR prod house-nya, saya diikutsertakan.
Duh, gimana ini? Road show sama artis, ya ampun! Semoga nggak ada yang ngajak saya main film habis itu. Huhu.
Nggak bakal kuat menanggung popularitasnya. *digaplok*

Udah ah, jadi random gini. Entar lama-lama lapar pulak awak.

Buat yang mau kepo tentang PINKY PROMISE, sila kunjungi Instagram @pinkypromisemovie dan Twitter @pinkypromisemov yaaa...

Kalian bisa lihat siapa aja aktor dan aktris kece yang main di film ini.

Kepoin akun saya juga gapapa banget. Harus malah! #maksa :))
Nanti saya akan ngeblog lagi tentang progress novel dan serba serbi kisah ini.
Akan ngetwit juga dan nyetatus di FB.

So, selamat penasaran. Dan selamat berpuasa hari ini. Yang kuat, ya!

Kiss kiss

ENNO


Tuesday, December 15, 2015

Anak Ketiga, Melupakanmu Sekali Lagi


Halo...

Saya menulis ini malam-malam, sambil menunggu kantuk. Akhir-akhir ini, saya nggak bisa tidur. Entah kenapa. Bukan karena semacam firasat buruk, tetapi lebih cenderung pada kesalahan si benak yang berpikir terus. Susah disuruh off.

Hikmahnya, saya akhirnya punya waktu menulis blog lagi.

Ini posting pertama di akhir tahun. Nggak ada kabar personal tentang diri saya, kok. Nggak ada perkembangan apa-apa. Saya masih saya. Yang semakin sinis terhadap banyak hal (atau itu memang bawaan lahir), yang masih kecanduan ngetrip, masih kesal dengan berat badan yang turun naik kayak main yoyo, masih malas olahraga, dan... masih mencoba merampungkan utang-utang tulisan saya pada beberapa penerbit di sela-sela tidur-ngetrip-jadi babu rumah-main Instagram.

Iya. Saya lebih sering curcol di Instagram sekarang. Bukan curcol galau, tapi nulis latar belakang perjalanan di setiap tempat yang saya singgahi.

Oh iya, trip terakhir saya tahun ini adalah Malang, Bromo dan Madakaripura. Itu ketiga kalinya saya ke Bromo. Suka sekali gunung ini gara-gara savananya (berarti saya suka savana dink), dan Madakaripura adalah air terjun idaman saya sejak dulu, setelah saya tahu Gajahmada bertapa di sana dan moksa.

Ini kenapa jadi random ya? Hahaha. Kan sebenarnya mau ceritain novel ketiga yang baru terbit bulan Oktober kemarin. Judulnya Melupakanmu Sekali Lagi. Bagian dari serial Love Cycle-nya GagasMedia.

Novel ini temanya Patah Hati. Tapi bukan patah hati yang termehek-mehek gitu. Ini tentang gimana caranya melanjutkan hidup dan petualangan mencari jati diri.

Selain novel Melupakanmu Sekali Lagi, sebelumnya saya ikutan menulis cerpen untuk buku Glenn Fredly 20. Itu adalah buku kumpulan cerpen dari penulis-penulis GagasMedia, dalam rangka memperingati 20 tahun Glenn Fredly berkarya. Cerpen saya di buku itu berjudul: Ketika Hujan Pagi Itu.

Di postingan habis ini, nanti saya ceritain lengkap tentang proses menulis Melupakanmu Sekali Lagi, ya, Sekarang segitu dulu.
Cuma buat laporan aja, gitu. Hahaha,
Ini akhirnya kantuk datang. Bye bye. Doakan semoga mood saya untuk ngeblog akhirnya bergelora lagi.


Image and video hosting by TinyPic

Sunday, December 7, 2014

[Project Dawn ] Revisi

Hai!

Get Lost Journey Part 3, ditunda dulu ya. Saya lagi mau cerita tentang perkembangan draft.

Ini hari kelima saya mangkal di sofa ruang tamu.
Draft Project Dawn saya sudah selesai diperiksa editor, dan dikembalikan dengan beberapa catatan untuk revisi.

Revisi, sodara-sodari!

Baru kali ini saya diminta merevisi draft. Soalnya biasanya storyline saya sederhana, jadi plotnya nggak aneh-aneh. Nah, draft kali ini memang agak complicated.

Bukannya saya tidak senang.
Senang, tahu!
Apa lagi waktu tahu yang mengedit kali ini bukan cuma Iwied, tapi juga Gita. Dua-duanya adalah orang-orang yang gaya tulisannya saya sukai sejak pertama kali kami bertemu di dunia maya sebagai blogger.
Boleh dong bangga, bahwa draft saya kali ini 'diurusi' teman-teman bermain kata yang sudah lama saya kenal. Semoga hasilnya nanti lebih memuaskan dari novel-novel saya sebelumnya.

Dan revisinya?
Hahahahahahaha... fyuh!
Mereka memang teliti banget ye. Rasa bangga dan senang saya bercampur dengan kepanikan. Soalnya, hasil diskusi menghasilkan keputusan untuk memundurkan setting waktu ke masa 25 tahun yang lalu.

Duh, tolong.
Saya kan belum lahir! *kibas poni*
Hihihihi.

Jadilah, alih-alih menulis, kemarin saya menggalau cari lokasi baru. Mana bukan di Jakarta pulak. Kalau Jakarta sih saya nggak akan galau. Wong saya orang situ.
Ini settingnya di Surabaya, kakak. Meneketehe Surabaya 25 tahun lalu kayak apa. Saya akhirnya sibuk chatting sana-sini dengan teman-teman asli Surabaya untuk menggali informasi set lokasi.

Dapat.
Malah bukan dari orang Surabaya asli, tapi dari teman penulis asal Situbondo, Helga Rif. Hahahaha.

Jadi, saya cerita di BBM lagi cari lokasi di Surabaya yang sudah ada sejak 25 tahun lalu.
Tiba-tiba dia nyerocos aja tentang sebuah taman bermain tempat dia dulu liburan waktu masih kecil-dari Situbondo ke Surabaya.
Nggak nyangka, teman saya yang penulis-atlet penembak-peragawati-pengajar ini dulunya bolang. Bocah petualang.

Saya suka tempat yang dia ceritakan itu. It's such a romantic place untuk.ukuran akhir tahun 80-an. Saya harus riset lagi tentu saja.
Inilah bagian dari menulis yang paling krusial menurut saya.
Riset itu penting. Berkaitan dengan plot, karakter, adegan, dialog, gaya hidup, dan logika.

Menulis tanpa riset, sekecil apapun adalah nonsense.

Kemudian, sekarang muncul kegalauan baru. Alih-alih mencari data di internet, saya kepengin datang sendiri ke tempat itu untuk riset. Tapi waktunya mepet sekali.
Duh, bingung.

Ya sudahlah. Sementara ini, saya usahakan riset literatur dan wawancara.

Saya sedang bersemangat sekali sejak revisi dimulai. Karena revisi artinya draft ini sedang dalam proses penerbitan.

Ah, senang!

Thanks Iwied, Gita, Helga.
Mari tenggelam lagi di lautan kata! ^^

- Enno -

Sunday, November 2, 2014

Proyek Baru dan Saya Yang Tidak Akan Banyak Cerita


Halo kalian...
Amicuuuu!

Masih ada yang mengunjungi blog berdebu ini nggak sih?
Haduh, maaf ya, saya mengingkari janji untuk update rutin selama menyelesaikan Project Dawn.
Saya sedang tenggelam dalam perjalanan-perjalanan saya kemana-mana. Lalu berhenti untuk menyelesaikan Project Dawn.
Project Dawn sudah selesai sejak awal Oktober lalu. Lalu, saya kembali ke alam bebas, bersama teman-teman main saya. Mblusukan kemana-mana, yang pada intinya bersenang-senang.

Baiklah. Sekarang saya sudah di sini lagi. Menulis draft baru, yang bakal jadi novel keempat saya.
Saya memberinya nama Project Lost. Tentang apa? Tunggu aja deh. Yang jelas, ini benar-benar sesuatu yang baru, meski sudah sering saya 'lakukan' sejak masih rajin menulis di blog ini.

Ada satu hal, yang ingin saya sampaikan.
Mulai sekarang, saya mungkin tidak akan sering menulis tentang traveling saya terlalu detail. Cerita saya hanya akan dikisahkan sambil lalu saja. Blog ini akan saya fokuskan untuk menulis tentang kegiatan kepenulisan.

Traveling saya separuhnya adalah mencari setting lokasi atau fix untuk survei (jika lokasi setting sudah ditentukan). Setting lokasi yang saya maksud adalah eleman yang spesifik. Bukan kota, bukan daerah, bukan tempat umum, bukan jalan, yang semua orang bisa baca di mana saja. Bukan yang panduan wisatanya bahkan khusus terbit dalam buku-buku.

Saya menjaga setting lokasi spesifik saya diambil orang, sebelum tulisan saya selesai. Saya mencegah lokasi trip saya dipakai beberapa penulis lain dengan jalan pikiran 'wah-terinspirasi' atau 'oh-ini-kayaknya-menarik-dimasukkan-ke-novel-gue', atau 'kok-nggak-pernah-kepikiran-pakai-ah'...
Saya lho, capek-capek pergi. Keluar uang, keluar tenaga, sampai kadang kesasar di kota yang asing--tiba-tiba elemen saya dipakai.

Enak ya tinggal pakai? Makasih lho, apresiasinya.

Tips buat penulis dan yang mau jadi penulis: 
kalau mau cari setting lokasi (yang spesifik atau pun yang umum), keluar dari rumah dan jalanlah ke dunia luar, sejauh yang mampu dilakukan, Nggak perlu muluk-muluk ke luar negeri. Ke kota sebelah juga bisa. Kecamatan sebelah atau kelurahan sebelah, why not?
Carilah sesuatu yang spesifik di luar sana, yang belum pernah ditulis orang atau jarang dipublikasikan. Penulis yang baik seharusnya demikian. Bukan terkubur di dalam dunia imaji dan riset di kamar saja.

Tulisan akan lebih hidup dan lebih bercerita ke pembaca kalau ditulis berdasarkan pengalaman sendiri, daripada hanya sekedar memungut apa yang disurvei orang.
Ini sangat berlaku dalam konteks setting lokal. (Kan traveling saya mencari setting spesifik juga masih lokal).

Untuk tips mencari setting spesifik lokasi luar negeri, saya akan bagi tipsnya di tulisan lain, ya :)

Btw, kenapa saya ngomongin topik ini?
Yah, tahulah kenapa kalau saya kayak gini. Saya masih belum berubah dari Enno yang dulu suka ngamuk waktu tulisan-tulisannya diplagiat orang :))

Jadi, sekarang mari kita berbincang-bincang tentang proyek-proyek menulis, tips-tips menulis, dan hal-hal random dalam hidup saya.
Tentang jalan-jalannya akan saya tulis, kalau sudah kelar jadi buku, ya...
Mohon maklum.

Oh, and please, no hard feeling.




Image and video hosting by TinyPic

Monday, February 3, 2014

Killed By The Draft

Sometimes, all you can do is laugh
to keep yourself from crying.

...................

Hello world...

Here I'm still trying to finish Project Dawn draft.
After several drafts couldn't be completed and set aside because I was spending more time on the road, this draft shouldn't be treated so.
It's part of a mini-series that I worked with friends. So, it should be completed on time.

The problem is... this draft affected my emotions so much.
Word by word pierced my heart. Killing me slowly. Sometimes, I stop writing.... and crying.
Gosh! It feels... it feels so heavy to write until the ending.

The progress... it became very slow. Sometimes, I just stared at the letters that glowed on my laptop screen all day.
Then every night, I dream of unpleasant things, and waking up screaming or crying.

What's up with me?
Well, I don't want to talk about it. Really.

Until this moment, I'm still struggling to finish the story.
It seems this draft like cutting my heart, bit by bit, then soaked them in a memory tube containing vinegar and liquid chemicals. Fyuh!

But it's okay.
I have to finish it. For the sake of someone, who I will meet later when the universe was over.

Pray for me, will you?




Image and video hosting by TinyPic

Monday, October 14, 2013

Project Sol: Mengejar Ketinggalan

Hola!

Job rahasia saya sudah beres sejak akhir bulan September. Dan sebentar lagi bakal diumumkan alias tidak dirahasiakan lagi.
Job yang menyenangkan, membanggakan, dan merupakan sebuah kehormatan bagi saya karena bekerja sama dengan dua penulis favorit saya: Windry Ramadhina dan Orizuka. Yay! ^^

Tapi....
Saya harus mengaku, bahwa progress Project Sol tidak seoptimis awalnya. Bukan, bukan orang lain yang menyangsikan apa yang sedang saya kerjakan. Tetapi saya. Sayalah yang pesimis, apakah draft ini akan selesai pada waktunya, ya? *tutup muka*

Kemalasan ini bahkan nggak bisa di-boost sama lagu-lagu soundtrack yang sudah dikumpulkan untuk proyek ini. Mendengarkan lagu aja males kok. Saya sedang suka suasana sepi. Sedang suka melamun, lalu browsing hal-hal random dari si Mimin, ponsel saya.

Saya pikir, mungkin saya butuh sarang yang lebih nyaman untuk menulis. Dulu, waktu menulis Selamanya Cinta, meja kerja saya adalah meja rias. Jadi saya menulis di antara jajaran make up saya dan di depan cermin. Waktu menulis Barcelona Te Amo, saya menulis di meja kerja saya seperti layaknya orang normal. Hahaha...
Nah, sekarang karena merasa butuh tempat yang baru untuk membangkitkan mood, saya beli karpet Angry Birds untuk digelar di lantai kamar sampai aura kamar berubah mirip kelas playgroup. Mengangkuti bantal-bantal besar Ibu, menurunkan laptop, mengeluarkan sarung kesayangan sejak zaman kuliah, dan kemping dari pagi sampai pagi lagi di bawah situ.

Hasilnya? Saya yang sudah berbulan-bulan susah tidur, malah jadi tidur pulas melingkar di atas tiga bantal besar berselimut sarung, bukannya rajin nulis. Haduuuh! :))

Saya, demi memacu semangat 45, kemudian merancang perjalanan ke luar kota lagi setelah sekian lama. Seperti biasa, perjalanan saya tidak pernah tanpa muatan riset. Ini berkaitan dengan Project Dawn, yang sudah sangat ingin saya tulis.

Hotel sudah dipesan. Tiket sebentar lagi dipesan, setelah saya memastikan jam keberangkatan yang paling nyaman bagi saya.

Bulan Oktober masih tersisa dua minggu lagi. Saya harus mengejar ketinggalan saya, atau proyek ini akan terbengkalai sama sekali, dan saya tidak mau itu terjadi. Saya sudah terlalu lama bergaul dengan tokoh-tokoh saya, sampai berasa seolah-olah mereka nyata dan ada. I love them and want them to live happily ever after. 

Oke, sekian dulu laporannya. Sebelum capcus, mau berbagi satu quote, yang menggambarkan mood saya belakangan ini.

“And tears came before he could stop them, boiling hot then instantly freezing on his face, and what was the point in wiping them off? Or pretending? He let them fall.” 
 ― J.K. Rowling


Ah, bokong! Hihihi... *salah mood booster*
pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Monday, September 16, 2013

Project Sol: Dan Draft Lainnya

Ibu Editor memberi saya deadline baru.

Dia sih cuma ngomong santai, pokoknya akhir tahun bisa kita terbitkan ya. Tapi saya jadi mikir dan menghitung-hitung sendiri. Akhirnya sampai pada kesimpulan pribadi, proyek ini harus selesai dan diserahkan bulan Oktober. Saya tanya ke dia, apakah itu memungkinkan. Dia bilang bisa. Oke sip. Soalnya bulan September ini, pengerjaan draft saya harus diselang seling 'tugas rahasia' yang pernah saya sebutkan kemarin.

Tugas rahasia ini mengingatkan saya pada pekerjaan lama. Editor. Dan saya menemukan bahwa 'perfeksionisme' saya dalam memeriksa tulisan ternyata nggak berubah. Ah, senangnya! Saya memang nggak mau berubah untuk hal-hal yang seperti itu. Saya butuh  perfeksionisme itu lebih untuk diri sendiri. Meskipun nyatanya menerapkan pada diri sendiri lebih sulit karena subyektifitas, ya.

Jadi apa kabarnya saya?
Seandainya saja ada yang melihat senyum miris saya yang terkembang setiap hari. Saya kayak robot. Kurang tidur, nyaris nggak bisa makan. Keren kan saya!

Tapi seenggaknya, saya masih hidup dan bertahan dengan menyibukkan diri.

Ada dua draft lagi yang memanggil-manggil di otak saya saat ini. Project Dawn dan Project Kaptein/Poison.

Project Dawn bahkan sudah diberi tempat di list penerbitan untuk pertengahan 2014. Alhamdulillah. Insya Allah, doakan lancar.
Saya jadi kepengin Project Sol cepat selesai. Supaya bisa langsung menggarap Project Dawn.

Project Sol sejauh ini, sebagian tokohnya saya suruh bersenang-senang dulu, liburan di pantai, sebelum nanti akan saya pertemukan di 'medan perang.' Rencananya, saya akan menempatkan konflik lebih awal. Jadi akan terus memanas sampai akhirnya mereda di ending. Rencananya lho ya... nggak tahu deh kalau nanti ada perubahan.

Nah, karena saya lagi merasa 'menderita' hari ini, maka soundtrack of the day-nya adalah Misery, lagunya Soul Asylum.

Iya, saya suka lagu-lagu rock lama. Pure rock. Ketularan abangnya teman saya, yang suka saya oprek kamarnya. Dan Soul Asylum ini lirik-liriknya juga nggak selalu cinta. Kadang kritik sosial juga. Keren lah.

They say misery loves company 
We could start a company and make misery 
Frustrated Incorporated 
Well I know just what you need 
I might just have the thing 
I know what you'd pay to see 
Put me out of my misery 
I'd do it for you, would you do it for me 
We will always be busy making misery

Frustrated Inc. eh? Boleh juga...
Cocoklah buat kontroversi hati yang kontradiktif dan terkudeta.

Baeklah, kawankawan. Let's back to work! Biar cepat selesai, trus kalian baca! Permisiii....


from tumblr.com


Image and video hosting by TinyPic

Monday, September 2, 2013

Project Sol: The Mood Booster

Tetiba, malam ini ada yang menyanyi untuk saya di Skype, dengan gitar bolong alias gitar akustik. Saya hampir lupa kalau suaranya bagus, karena dia jarang menyentuh gitarnya. Lebih sering menenteng Mauser-nya dan menembaki babi hutan.

Kami sudah sangat lama berteman, jadi ia tahu saya fans-nya empat om-om kece band Wet Wet Wet. Begitu tahu kalau saya mulai sering mendengarkan lagu-lagu mereka lagi demi menggali mood untuk draft saya, maka ia dengan murah hati menyanyikan Goodnight Girl tiga kali berulang-ulang. Hahah.

Caught up in your wishin' well 
You hopes inside it 
Take your love 'n' promises 
And make them last

Suaranya masih sebagus biasanya. Petikan gitarnya mulus, tidak keseleo nada atau apa, karena dia memang sungguhan jago memainkan alat musik itu. Dia nyengir di layar Scarlet, laptop saya. Separuh wajahnya tertutup hoodie jaket.

Habis itu, dia menyanyikan Push-nya Matchbox 20. Omigod, saya nyaris lupa sama band ini! Aaaak! Saya teriak-teriak heboh di depan Scarlet, dan teman saya itu meneruskan sesi Matchbox 20-nya dengan Unwell.

All night 
Hearing voices telling me 
That I should get some sleep 
Because tomorrow might be good for something 
Hold on I'm feeling like I'm headed for a breakdown 
I don't know why 

"Bentar, bentar! Kenapa lo nyanyi lagu ini? Nyindir ya?"
"Enggaklah. Sensi amat sih!"

I'm not crazy, I'm just a little unwell 
I know, right now you can't tell 
But stay awhile and maybe then you'll see 
A different side of me 
I'm not crazy, I'm just a little impaired 
I know, right now you don't care 
But soon enough you're gonna think of me 
And how I used to be.

"Tuuuh! Kan elo nyindir gue!"
"Lho, kan bener lo nggak gila?"
"Dikit sih."
"Ya udah kenapa marah? Udah, mendingan ikut nyanyi. Lo kan bisa lagu ini. Kita udah lama nggak duet, ya nggak?"
"Oh iyaaa... Lo sih sekarang seringnya nenteng si Coki!" Coki adalah nama senapan berburu Mauser semi otomatisnya. Nama yang terlalu cute buat sebuah senapan berwujud sangar *sigh*
Unwell diulang dari awal, dan saya ikut nyanyi keras-keras padahal sudah tengah malam.

Setelah dia memberi saya hadiah Yesterday-nya The Beatles, kami berpisah di layar Skype. Saya yang memaksa, karena harus melanjutkan menulis draft dan melanjutkan memeriksa setumpuk 'tugas rahasia' saya yang mengasyikkan.

Mood saya bagus banget setelah dikasih hadiah lagu-lagu indah.
Lo baca ini kan, bro? Thanks ya. Next time gue mau The Beatles lagi dong. *ngelunjak*

Btw, tulisan saya sedang revisi bab 3 sekarang. Seperti saya pernah bilang (pernah nggak sih?), bahwa saya mengganti POV dalam draft. Lebih karena kenyamanan pribadi saja. Tapi jadinya harus menulis lebih hati-hati, karena dengan POV yang sekarang saya bisa terjebak jadi 'tell the story' bukannya 'show the story.' Padahal, rumus yang berlaku umum supaya pembaca bisa ikut larut dalam cerita kamu adalah: show, don't tell.'

Rupanya ada yang penasaran, ini cerita tentang apa. Hmm.. apa ya?
Ini tentang sesuatu yang mungkin kamu kira adalah kebahagiaanmu. Sesuatu yang mungkin kamu kira adalah kebahagiaan seseorang juga. Tetapi ketika kamu sedang sok tahu, Tuhan kasih kejutan. 
*Dih, gue kok malah kayak curcol?*

Udah dulu deh daripada tambah random.
Ciao! Capcus back to work!

Ini Om Marti Pellow, vokalisnya Wet Wet Wet.
Dia itu mirip Om Sting gitu deh. Makin tua, makin keren. I love you, Om! Hahaha



Taraaaa!!! Nih, Unwell-nya Matchbox 20. Edisi akustiknya. Sila dibuka. Selamat nyanyi dan ngademin mata liat Rob Thomas, vokalisnya yang kece! ^^



Dan ini tentunya para om kece di Wet Wet Wet. Om Marti Pellow bikin melting di MV Somewhere Somehow ini. Bentar, saya pingsan cantik dulu... ^^



Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, August 28, 2013

Project Sol: The Introduction

Halo...

How are you, dear friends?
Saya sedang dirundung tiga draft, yang mendesak-desak minta dikeluarkan dari otak
Saya coba selesaikan satu per satu. Dan proyek yang akan diselesaikan pertama, saya kasih nama "Project Sol."

Ini proyek lama yang sedang saya kerjakan, ketika kemudian harus ditunda untuk menulis novel Barcelona Te Amo (Flamenco Project).
Novel ini plotnya nggak muluk-muluk kok. Cuma kisah sederhana tentang seorang perempuan yang ingin bahagia.

Seperti biasa, yang pertama kali saya lakukan adalah riset tempat. Oh, tapi kalau itu sih sebagian besar sebenarnya sudah dilakukan lama sekali. Perjalanan ke Gunung Kidul bersama Wuri beberapa bulan yang lalu adalah salah satunya.

Yang kedua, mencari lagu-lagu untuk mood booster. Seperti biasa, buat saya, menulis ditemani kakak-kakak The Fray itu mutlak. Kali ini, gara-gara Monica, Abang John Mayer masuk juga dalam daftar soundtrack (dan sukses bikin galau sendiri). Yang berikutnya ada Turning Page, Five for Fighting, Linkin Park, Wet Wet Wet dan Daughtry. Ngomong-ngomong, Wet Wet Wet itu band favorit saya sepanjang masa selain The Fray.

Yang ketiga, ya menulis. Alhamdulillah lancar.
Doakan, ya! Ini harus sudah selesai secepatnya. Untungnya, editor saya baik hati dan tidak sombong. Sudah lewat tenggat deadline, tapi nggak dikejar-kejar. Jadi malu... huhu...


"No tears in the writer, no tears in the reader. No surprise in the writer, no surprise in the reader." 
 ― Robert Frost

from here

Image and video hosting by TinyPic

Monday, December 17, 2012

Introducing: The Rain Project

Haiiii....
*nyengir lebar*

Akhirnya, cita-cita saya untuk menovelkan  postingan di label Hujan tercapai.
Saat ini, saya resmi dalam proyek penulisan draft yang saya beri nama Rain Project. Ceritanya pasti beda dengan apa yang saya tulis di label Hujan. Kalau label Hujan itu memang asli tentang kisah saya, kalau Rain Project ini cuma terinspirasi saja. Tokoh-tokoh dan karakternya berbeda.

Bisa dibilang, sebenarnya proyek ini akan mengungkit kisah lama sih ya...
Soalnya saya akan menelaah dan merangkai bagian-bagian kisah dari postingan-postingan itu (klik label Hujan kalau penasaran).
Tapi untungnya, ini bukan kisah yang bikin saya sakit hati. Kisah asli berakhir dengan cara baik-baik. Itu sebabnya, saya mengambilnya sebagai ide cerita. Kalau kejadiannya bikin eneg, mana mungkinlah saya abadikan di novel. Iya nggak sih? Hehehe.

Saya punya waktu sampai bulan Maret 2013 untuk merampungkan draft ini. Untungnya semua bahan riset sudah siap. Kebetulan juga karena ini melibatkan kegiatan outdoor, khususnya caving, ingatan saya masih sangat segar sehabis caving kemarin. Dan sejujurnya, niat pergi caving kemarin itu memang sekaligus riset untuk bahan draft ini.

Jadi ceritanya, bahan-bahan draft ini sudah lama saya persiapkan. Jauh sebelum 'Selamanya Cinta" dan "Flamenco Project." Saya benar-benar kepengin banget label Hujan itu jadi novel. Riset dan pencarian bahan terus dilakukan selama saya mengerjakan proyek-proyek lain. Termasuk ketika saya merasa harus caving lagi, untuk menyegarkan memori.

Nah, saat saya pulang liburan terakhir itu, saya ditodong naskah lagi. Dan outline Rain Project-lah yang akhirnya saya sodorkan. Karena saya nggak mau kehilangan moment ingatan yang masih fresh tentang caving dan kegiatan outdoor kemarin.

Jadi, inilah saya sekarang. Kembali masuk petapaan untuk menciptakan lagi sebuah kisah tentang cinta. Mengumpulkan puing-puing kenangan dan ingatan yang terserak. Berharap semuanya akan lancar dan baik-baik saja. All is well. All is well.

Jatuh cinta padamu membangkitkan segala puisi indah dalam jiwa. Aku menulis beribu kata untukmu dan kau sesungguhnya tahu.
-- Enno, in Hujan


pict from here
Image and video hosting by TinyPic

Friday, December 7, 2012

New Project: Cerita Hati

Haiii....

Cerita traveling-nya dikasih breaking news dulu ya. Hehe...
Kumpulan cerpen saya dan teman-teman penulis di penerbit Bukune sudah terbit. Judulnya Cerita Hati. Ini Cinta Pertama.
Ada cerpen saya berjudul "Sayap Kupu Kupu." 

Selain cerpen saya, ada juga cerpennya Bernard Batubara (Kata Hati), Dannie Faizal (Manjali), Erditya Arfah (Merah Putih di Benua Biru), Indra Widjaya (Idol Gagal), Dian Purnomo (Rahasia Hati), dan Risa Saraswati (Danur).
Penulis-penulis Bukune berkolaborasi dengan 10 pemenang lomba menulis cerpen tentang cinta pertama, yang diselenggarakan Bukune beberapa waktu lalu. Hasilnya, sebuah buku kumpulan cerpen yang di dalamnya kisah-kisahnya seru semua.

Yah, bayangkan aja. Ini kisah nyata kami semua (setidaknya saya dan teman-teman penulis). Dan saya yakin, sebagian besar pemenang lomba juga menulis kisah cinta pertamanya sungguhan. Soalnya memang nggak ada kisah yang mengada-ada. Benar-benar nyess, gitu. Hahaha....

Nggak rugi punya buku ini. Terutama buat kalian, teman-teman pembaca saya yang selama ini selalu nanya gimana caranya mengolah kisah nyata menjadi sebuah buku.
Nggak usah langsung bikin novel, deh. Cerpen aja dulu. Sering-sering menulis cerpen, dan kirimkan ke media. Itu bisa menjadi latihan untuk menulis lebih panjang lagi (baca: novel). Dan ujian mental juga. Kalau masih ditolak-tolakin, jangan putus asa. Saya juga berangkat dari cerpenis kok, sebelum menulis novel.

Kembali ke buku Cerita Hati. Kalian bisa membaca kisah cinta pertama saya. Yang jelas bukan sama Abe (pasti banyak yang nebak dia). Aslinya, saya dan Abe kan nggak pernah jadian. Dulu pun saya memang nggak jatuh cinta sama Abe. Bedakan kisah nyata saya (yang ada di blog ini) dengan novelnya :))

Jadi, kalau penasaran sama cinta pertama saya dan teman-teman penulis di atas, silakan beli! Harus beli dink! Ayo serbuuu!

Kaulah yang kali pertama menyentuh dasar hatiku, meninggalkan hangat yang tak pernah dilupakan memori.
-  blurb dari buku Cerita Hati. Ini Cinta Pertama

Buku Cerita Hati sudah ada di toko buku.
pict by my B ;)

Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, October 16, 2012

Flamenco Project is Done!


Hey, darlings!

Thanks ya dukungannya.
Draft saya sudah selesai dong. Akhirnya Flamenco Project rampung setelah dibangun sehuruf demi sehuruf selama tiga bulan.
Jadwal saya meleset satu hari sih. Seharusnya saya mengirimkan draft itu kemarin, tanggal 15 Oktober. Tetapi, masih ada sesuatu yang mengganjal di ending. Jadi, saya minta penangguhan sehari sama Ibu Editor saya nun di kubikelnya sana.

Tadi pagi draft-nya sudah dikirim. Rasanya lega, merdeka. Saya sampai senyum-senyum sendiri sepanjang jalan waktu mau ke warung tadi. Hahaha.

Seharusnya tenggat waktunya nggak mepet gini sih. Tapi ini memang salah saya, karena tiba-tiba, draft yang terdiri dari 9 bab, molor jadi 10 bab. Itu di luar Prolog dan Epilog. Jadi ada 12 bab.
Nggak tau deh, apa nanti akan dipangkas editor atau enggak. Tapiii... waktu nulis Selamanya Cinta sebelum ini, boro-boro dipangkas, saya malah disuruh bikin tambahan lagi hehe...

Siapa tahu ada yang nanya. Rencananya novel ini terbit Desember tahun ini.
Tuh, buat bekal bacaan liburan Tahun Baru. Haha!

Fyuh, saya mau baca-baca novel baru yang numpuk itu aaah...
Makasih sekali lagi atas support-nya.
Kalian semua keren!

pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, October 10, 2012

Dreamers


Ending draft saya sedikit lagi. Hari ini harus selesai semua.
Yah, harusnya sih kemarin.
Tapi kemudian ada 'interupsi' sampai tengah malam.
Melibatkan adegan melingkar di sofa seperti janin, dan ada yang pindah-pindah lokasi seperti kucing habis beranak. Haha.

Ada perjalanan imajiner.
Rencana-rencana yang dipetakan tanpa tahu kapan dilakukan.
Tapi itu menyenangkan.
Sudah berapa abad saya tidak berangan-angan? *sigh*

Jadi siang ini, saya akan bertapa demi ending yang sudah nyaris jebol dari kepala.
Sebelum ada interupsi lagi. Sampai tengah malam lagi.

Hey you!
Seems it will become your habit, eh? ^^

“You know what charm is: a way of getting the answer yes without having asked any clear question.” 
 ― Albert Camus


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, September 25, 2012

[Flamenco Project] It's So Hard to Finish

Angin menari sebelum sunyi. 
Senja mengecup matahari. 
Ini gerbang malam, sebelum segalanya kelam.

Belakangan agak sulit menciptakan kalimat puitis seperti itu. Tidak ada trigger-pemicunya. Saya tidak sedang patah hati, tidak sedang jatuh cinta. Saya sedang sibuk dikejar-kejar deadline Flamenco Project pertengahan bulan depan. Juga pusing mengurusi karyawan pabrik yang semakin lama semakin tidak disiplin. Bikin saya berandai-andai bisa memecat mereka semua supaya sakit kepala saya sembuh.

Okay, belakangan ini saya memang jadi manusia yang nggak sabaran. Saya butuh ketenangan, butuh suasana yang nyaman, yang bisa menumbuhkan ide di kepala. Saya kepingin menyewa rumah barang satu-dua bulan untuk menyendiri dan menyelesaikan satu novel tanpa harus dirungsingi (bahasa apa ini?) oleh urusan-urusan lain.

Masalahnyaaa... hati kecil saya berkata, ini semacam latihan dasar keprajuritan kepenulisan untuk kelak kalau saya jadi emak-emak rumahtangga, yes?
Saya pasti juga akan sibuk mengurusi ini itu, sementara terpaksa harus menyumbat dulu luapan kalimat dan dialog di kepala, sampai anak-anak pergi ke sekolah atau tidur, atau makan, atau apalah.
Sepertinya saya pasti akan mencuri-curi waktu. Kalau dibandingkan dengan sekarang, pasti lebih senggang sekarang. Hahaha.

Ih, saya ngoceh apa sih?
Saya kan mau cerita kemajuan Flamenco Project. Sudah di akhir Bab 8, dan akan melaju ke bab terakhir, yaitu Bab 9. Setelah itu, saya akan membuat Prolog dan Epilog.
Yup! Aneh ya, saya bikin Prolog belakangan?
Soalnya, saya mau prolognya diambil dari situasi di salah satu bab. Saya sudah punya gambaran adegannya. Tidak akan panjang, mungkin sekitar dua halaman. Dan sepertinya, lagi-lagi saya terpengaruh James Patterson, novelis detektif favorit saya.
Hahaha. Wes, embuhlah! Biar diperiksa dulu sama editor deh!

Menyelesaikan novel kedua ini benar-benar perjuangan. Saya sampai harus kena serangan maag beberapa hari dalam seminggu. Kadang-kadang sepanjang hari saya menulis sambil menahan nyeri lambung. Maag saya ini berasal dari gejala psikosomatis. Nggak elit banget ya? Tapi masih untung daripada psikopat :P

Tapi bukan berarti saya nggak enjoy. Saya sukaaaa sekali sama tokoh-tokoh saya. Jatuh cinta sama tokoh utama prianya yang ganteng, keren, cool, dan mature. Ehem!
Ada nggak ya cowok kayak gitu buat saya? *menadahkan tangan dengan khusyuk*

Hehehe.
Sudah dulu ya. Nanti saya tambah ngelantur. Mau balik lagi ke draft dan Mr M tercintah.
Bubye!

pict from ugh. sorry, I forgot the source :P
Image and video hosting by TinyPic

Saturday, September 8, 2012

Quick Update: Panic

Dikejar deadline
Tercekam, waswas, panik
ingin menghilang

Nah, haiku di atas menggambarkan keadaan saya di markas saat ini. Eh, kok markas? Yah, bolehlah kamar saya ini disebut markas. Hehe.

Di sela-sela menyelesaikan draft novel, saya ditodong satu proyek antologi cerpen oleh penerbit. Saya harus menyetor satu cerpen, based on true love story of mine. Heh! Pada kepo aja dengan kisah cinta saya, ya? Belum cukup ya saya jejerkan di blog ini? Hehe... pis, Wied! *mlipir*

Akan ada (kalau tidak salah) 17 penulis untuk antologi ini. Saya belum bisa bilang temanya apa. Nanti aja deh. Yang pasti kisah nyata cinta-cintaan. Jujur ya, saya sampai harus berpikir lama dengan kegalauan maksimal untuk memilih kisah cinta yang mana lagi yang mau saya ekspos. Bukan karena saya punya banyak kisah cinta. Bukaaan! *sok polos*
Tema yang ditentukan penerbit itu sangat spesifik. Dan sebenarnya saya memang punya kisah yang memenuhi syarat. Masalahnya, ini agak memalukan dan bisa jadi bahan olok-olok teman-teman dekat.
Damn, damn, damn! Tapi demi profesionalitas dan sudah kadung menyanggupi, akhirnya saya keluarkan juga kisah mendebarkan ini, guys.

Apa kabar novel kedua? Oh, saya sudah di bab 7 sekarang. Sepertinya jumlah bab akan bertambah, sementara saya hanya punya beberapa minggu lagi sampai batas deadline. Bisa dibayangkan betapa paniknya saya? Bisa? Bisa nggak? Harus bisa, dong! *mendelik*

Yah pokoknya, cerpennya akan selesai malam ini. Dan saya sudah senyum-senyum dari tadi, karena akhirnya ikhlas melepaskan kisah ini ke hadapan publik. Hihi.. sok gaya ah saya! :P
Dan ngomong-ngomong, saya juga sedang belajar membuat haiku. Seperti puisi paling atas itu.
Haiku adalah puisi tradisional Jepang kuno, yang terdiri dari 3 baris kalimat dengan struktur suku kata 5-7-5.
Seru deh bikinnya! :D

Senja menghilang
Matahari berlari
Rinduku batu


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, August 1, 2012

Flamenco Project: Saya Jatuh Cinta (Day 11 -14)

Ada kejutan di bulan Ramadhan saat saya sedang fokus menulis novel kedua ini. Editor saya, Iwied, menelepon dan bilang novel saya Selamanya Cinta cetak ulang ketiga!
Alhamdulillah, saya senang dan nggak nyangka. Kalian segitu ngefansnya kah sama Abe? Hihihi.

Kadang-kadang saya kangen nulis lagi tentang Abe di sini, tapi nanti saya akan didesak untuk bikin sekuelnya. Saya belum siap bikin novel dwilogi, trilogi dan sejenisnya. Itu mudah tapi juga susah. Mudah, karena karakter tokoh-tokohnya sudah ada, sudah fix. Tapi membuat sekuel itu bawa beban yang nggak sedikit. Dia harus lebih bagus, atau sama bagusnya dengan yang pertama. Kalau nggak, bisa dikritik sebagai novel gagal atau aji mumpung.

Yeah well, pokoknya cetak ulang tiga kali, sodara-sodara! Saya nari flamenco dulu ya! *kayak yang bisa*

Baydewey, saya lagi jatuh cinta lhooo... *kedipkedip*
Yak! Semua langsung duduk tegak, mencondongkan badan ke layar kompi dan mulai memasang radar gosip hihihi...nyante dong ah!

Project Flamenco sudah mulai lancar jaya. Mau tahu kenapa? Ya karena saya lagi jatuh cinta....
sama salah satu tokoh disitu.
Dan saya juga akan bikin kalian jatuh cinta sama dia.... hahaha....

But it's true that I'm enjoying writing this project.
Maybe because I love the setting!
Spain! Omigod! Can you imagine the place with the gothic buildings, beautiful people, handsome matadors, Pablo Picasso's paintings, the gypsies, flamenco dance, et cetera, et cetera?
Or maybe... Enrique Iglesias, gals? Aw, aw! Hehehe...

Seperti saya pernah bilang, lancarnya novel ini mungkin juga karena saya sudah membuat outline-nya lebih terperinci menjadi per bab. Saya punya tujuh bab, dan perjalanan masih panjang, karena saya baru menulis di Bab 2. Tapi dengan ritme yang sudah mulai asyik ini, dan perasaan jatuh cinta yang bikin semangat, saya yakin novel ini bakal selesai sebelum deadline. Insya Allah... :)
Now, I'm on page 34 with 8.500 words. 

Oh iya, satu lagi. Saya dapat kabar dari teman saya LeLittle (nama kamu susah amat ya, cyin? Haha)
Coba kalian buka link iniAda seorang fotografer yang menjual beberapa fotonya untuk didonasikan ke Let's Adopt Indonesia.  Kalau teman-teman mau beli, silakan lho. Fotonya keren-keren banget! Atau bantu sebarkan di blog kalian, ya. Siapa tahu ada yang mau beli untuk donasi.
Dan di link yang satunya lagi (Let's Adopt Indonesia), kalian juga bisa lihat-lihat. Siapa tahu kalian tergerak untuk adopsi binatang-binatang malang (tapi lucu-lucu) yang ditampung sementara di sana. Saya kepingin adopsi salah satu kucingnya, tapi kucing di rumah saya sudah ada tujuh.
Adopsi anjing? Errr... mau sih, tapi takut nggak keurus. Nanti malah dosa kan yaaa. Soalnya selain tujuh ekor kucing, di rumah ada lima ekor kelinci hias (tiga Rex Satin, satu Dutch dan satu Hotot), sepasang angsa jenis Embden, dan ayam-ayam. Rame kan rumah saya?

Okay, saya balik dulu ke draft yaaa!
Ole!
*ngibasin kipas, ngedipin Enrique*


“All you have to do is write one true sentence. Write the truest sentence that you know.” 
― Ernest Hemingway

Enrique! Awww! :))
Image and video hosting by TinyPic

Saturday, July 28, 2012

Diplagiat Lagi (Day 7 - 10)

Di tengah-tengah kesibukan bayar gaji buruh pabrik, mengurus rumah dan menyelesaikan draft Flamenco Project ini, saya iseng tracing. Et voila! Saya menemukan beberapa plagiator baru (terlihat dari tanggal postingannya yang masih baru beberapa bulan belakangan ini).

Hadeeeh! Memang susah ya memberantas yang kayak gini. Karena orang-orang sakit jiwa memang ada di mana-mana.

Ada satu plagiator yang isi blognya membuat saya agak kasihan. Seorang isteri yang tidak bahagia tampaknya. Dia berkeluh kesah tentang suaminya, dan menyebut-nyebut nama perempuan yang saya kenal di dunia maya.

Saya ternganga. Jujur ya, saya nggak bermaksud mengintip kehidupan dia. Tapi gara-gara dia membuat judul dengan nama teman blogger saya itu, besar-besar pakai huruf kapital pula, saya jadi tertarik untuk membaca. Dan ternyata lebih banyak lagi post-nya yang isinya tentang teman saya. Well, ini bulan puasa, jadi saya tidak melanjutkan membaca yang lainnya dan hanya meninggalkan pesan di kolom komentar di bawah tulisan-tulisan saya yang dia plagiat.

Tulisan-tulisan saya yang dia plagiat banyak banget, bahkan cuplikan novel saya pun dia plagiat! Hadeeeh! Dia ganti judul aslinya, dan bagi saya itu artinya dia mengklaim tulisan itu menjadi miliknya.

Nah, persoalannya....jika dia tidak mengindahkan peringatan saya untuk menambahkan link pada tulisan saya yang dia plagiat, seperti biasanya saya akan memberi peringatan lebih keras dengan mengumumkan link blognya. Lebih ekstrim lagi, saya akan menampilkan akun-akun media sosial si plagiator. Ya kan, kalian hapal kalau saya marah sama orang-orang yang suka plagiat itu gimana...?
Tapi, kalau hal itu saya lakukan pada si nyonya yang stress ini, saya khawatir teman blogger saya yang dia ceritakan di blognya akan ikut berkunjung ke sana, lalu membaca tulisan tentang dia dan mungkin kesal atau marah. Lalu memberitahu suami si nyonya ini... lalu suami si nyonya akan marah pada isterinya dan mereka bertengkar.

Aish! Saya nggak mau jadi penyebab pertengkaran rumah tangga orang lain!

Harapan saya, si plagiator malang itu membaca posting ini dan segera mengindahkan permintaan saya untuk menambahkan link blog ini sebagai sumber. Sumpah, saya kasihan padamu. Apalagi setelah membaca keluh kesahmu tentang suamimu. Saya nggak akan membeberkan link kamu, tapi tolong kamu juga mengerti bahwa saya nggak suka kamu plagiat tulisan saya. Please Mbak, tambahkan link blog saya atau hapus sekalian, oke?

Ganti topik ke draft Flamenco Project. Laporan hari ke 7 - 10. 
I'm on page 26. Sudah masuk ke Sub-chapter 2 sekarang. Sejauh ini nggak ada kesulitan yang berarti selain konsentrasi yang kemarin terbagi untuk gajian buruh. Saya mulai enjoy menulis novel ini, dan semakin penasaran untuk kursus tari flamenco *apa sih!*

Itu dulu deh. Bye bye!

"This is how you do it: you sit down at the keyboard and you put one word after another until its done. 
It's that easy, and that hard.” 
― Neil Gaiman


pict from here

Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...