Saturday, December 24, 2016

What I Learn from Pinky Promise

Uhm, well, hello...
Here I am, the owner of this blog. How are you?

Sudah beberapa lama ingin mulai menulis lagi di sini. Terutama mengenai novel terbaru saya, Pinky Promise. Tetapi, selalu saja ada hal-hal lain yang bikin saya menunda-nunda.

Hari ini. tetiba ada sedikit waktu. Kebetulan juga baru isi kuota hehe...

Jadi ceritanya, novel terbaru saya yang judulnya Pinky Promise sudah terbit sejak bulan Oktober lalu. Novel itu diadaptasi dari skenario film berjudul sama, yang ditulis Gina S. Noer. Pernah dengar namanya, kan? Dia bukan penulis skenario sembarangan. Sering mendapat penghargaan perfilman. Selain itu. salah satu filmnya, Perempuan Berkalung Sorban, adalah film favorit mendiang ibu saya.
Omong-omong, film Pinky Promise pun sudah ditayangkan di bulan Oktober.

Trus, kenapa tiba-tiba saya kepengin nulis tentang novel ini, padahal dua bulan sudah berlalu?
Pertama, karena saya belum dengan resmi pengumuman di blog ini, bahwa novelnya sudah cetak dan beredar di toko-toko buku.
Yang kedua, malam ini nggak sengaja saya lihat foto-foto Ria Irawan dan Julia Perez di internet. Mereka sedang menjalani kemo, untuk melawan kanker yang menggerogoti tubuh mereka. Saya jadi ingat malam-malam yang terasa sedih dan mencekam, saat saya menulis Pinky Promise sebagai draft utuh, yang dikembangkan dari dialog-dialog di skenario Gina

Mudah?
Tidak.
Bisa dibilang, ini adalah pengalaman saya menulis novel yang paling menguras tenaga dan pikiran . Tidak hanya secara teknis. tetapi juga secara psikologis.

Mengadaptasi sebuah skenario menjadi novel ternyata nggak segampang yang saya bayangkan.Terutama, jika kamu dituntut untuk mengembangkan plotnya secara utuh. Skenario cuma berisi adegan dan dialog-dialog untuk kebutuhan visual. Jauh bedanya dengan sebuah novel, yang harus bisa membuat pembaca memahami sekaligus bisa mengimajinasikannya.

Saya harus membentuk lagi karakter-karakter setiap tokoh, memberi mereka sejarah dan latar belakang, menciptakan plot-plot penunjang, dialog-dialog tambahan. Sementara itu, kisahnya sendiri menguras emosi kesedihan dalam diri saya.

Tahu nggak, kenapa?

Pinky Promise adalah kisah tentang orang-orang yang berjuang melawan kanker payudara di tubuh mereka. Mereka berjuang untuk tetap hidup. Dan saya, punya seorang sepupu, yang tahun ini meninggal karena penyakit yang sama. Sepupu yang dulu teman bermain saya saat kami masih kecil. Meski, tahun-tahun belakangan hubungan kami menjadi renggang, ketika ia meninggal, saya menangis berjam-jam di kamar. Ia meninggalkan tiga orang anak. Saya mencemaskan mereka.

Perasaan duka itu terungkit lagi ketika saya mengerjakan draft Pinky Promise. Berkali-kali, saya menulis sambil bercucuran air mata. Terlebih karena memang dalam skenario itu, ada dialog-dialog yang menyentuh hati, yang kemudian harus saya jelmakan menjadi plot yang utuh. Membikin saya memahami, mungkin apa yang dirasakan para pejuang kanker dalam kisah ini (Gina melakukan riset dan wawancara dengan para pejuang kanker sungguhan sebelum menulis) seperti itu pula dulu yang dirasakan mendiang sepupu saya.

Saya pun melakukan riset saya sendiri. Mencoba memahami situasi yang dirasakan seorang pejuang kanker. Saya menemukan beberapa blog para pejuang kanker. Favorit saya adalah blog mendiang Sima Gunawan. Mbak Sima almarhum adalah orang yang sangat optimis dan tegar menghadapi kankernya yang sudah stadium 4. Ia sangat mirip dengan karakter Anind yang ceria, dalam novel Pinky Promise. Berkunjung deh, ke blognya. Meskipun Mbak Sima sudah tiada sejak awal tahun 2012 lalu, blognya masih menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi para pejuang kanker lainnya sampai sekarang.

Thank you for inspiring us, Mbak Sima.
May you rest in peace in Heaven.

Sebenarnya, yang mau saya bilang saat memutuskan menulis di sini hari ini adalah, bahwa menulis Pinky Promise memberi saya banyak pelajaran. Pertama, tentu saja teknik mengadaptasi skenario menjadi novel. Saya beruntung, editor saya, Iwied, sabar banget membantu mengoreksi dan memberi masukan-masukan dalam diskusi online kami. Selain Iwied, tim penulis skenario dan production house juga ikut memberi masukan. Kalau boleh jujur, mengakomodir sekian banyak masukan dari banyak kepala itu agak gimanaaa gitu. Hehe. Bikin panik dan bingung mesti gimana menerapkannya. Lagi-lagi, Iwied mengajak saya mendiskusikannya, dan akhirnya saya bisa mengakomodir semua masukan. Selain itu, masukan dari Gina adalah yang saya jadikan summary dari semua masukan lainnya.
Mungkin, karena Gina sendiri adalah penulis, ia mengurutkan kritik dan sarannya step by step dan terstruktur. Thanks, Iwied dan Gina!

Dan memanglah, semua masukan itu jadi membuat novel Pinky Promise ini utuh dan lengkap.

Novel ini juga mengubah mindset saya soal menghadapi musibah. Kita nggak bisa menjauhi dunia ketika hidup sedang kedatangan masalah. Nggak bisa sembunyi atau pura-pura nggak terjadi apa-apa dalam hidup kita. Kadang-kadang, beban itu harus dibagi dengan orang-orang yang peduli dan kita percayai.
Seperti mendiang Mbak Sima. Ia membagi bebannya dengan menulis di blog. Menceritakan penyakitnya, perjuangannya, dan memberi semangat buat orang-orang yang senasib dengannya. Dari blog itu, dia jadi punya banyak teman. Mereka saling berceloteh riang di kolom komentar, mungkin juga ada yang kopi darat dan menjadi teman di dunia nyata.

Berbagi beban bagi para pejuang kanker itu tidak selalu tentang minta dikasihani. Salah banget kalau ada yang mengira begitu. Sejauh riset saya dan selama saya menulis novel ini, saya kemudian paham, bahwa mereka cuma ingin kehidupan mereka berjalan normal seperti biasa. Mereka kepengin didukung supaya kuat dan menularkan kekuatan itu kepada orang lain.

Saya, secara pribadi, sukaaa sekali tokoh Anind dalam novel itu. Tokoh favorit saya. Dan betapa diri saya menginginkan kepribadian seperti dia.

Dan ternyata, saya berjumpa dengan banyak orang seperti dia, saat premier film Pinky Promise.

Saya berjumpa dengan pejuang-pejuang kanker dari Yayasan LovePink Indonesia yang juga diundang untuk menonton tayangan perdana film Pinky Promise. Saya melihat wajah-wajah mereka yang sumringah, dengan senyum dan tawa, dan kegembiraan yang murni. Berkelompok dengan pakaian-pakaian berwarna pink, beberapa menutup kepalanya dengan kerudung atau turban, yang menurut dugaan saya mungkin mengalami efek kemo yang biasa terjadi pada kulit dan rambut.
Ada juga yang didorong dengan kursi roda, atau dipapah dengan tongkat. Wajahnya? Sama saja. Tegar dan berseri-seri.

Melihat perempuan-perempuan yang memancarkan aura ketabahan dan kekuatan sebesar itu, saat itulah saya bersyukur menjadi penulis novel Pinky Promise. Bersyukur diberi kesempatan ikut menginspirasikan kekuatan untuk terus berjuang bagi siapa saja yang sedang terpuruk, apa pun masalahnya, bukan hanya penderita kanker payudara.

Saya belajar dari para pejuang kanker, bahwa sekecil apa pun kesempatan, hidup harus diperjuangkan.






Launching novel Pinky Promise
bersama beberapa pemeran utama film Pinky Promise




5 comments:

Arman said...

Congrats ya no buat novel nya...

Iya pasti sedih ya kalo baca tentang para penderita kanker....

Enno said...

Iya Maan... dari novel ini gw belajar banyak tentang empati :')

Sekar said...

Oh... baru ngeh kalo Pinky Promise bercerita tentang survivor kanker payudara, tante. Bikin teringat almarhumah ibunya Echa, dong :')

apisindica said...

Teh enno, kangeeeen!!

Senang sekali melihat transformasi menulis dari penulis favorit aku. Semoga makin sukses yah Teh! Sayang, novel yang ini belom ada yang bawain ke Londho.

Enno said...

@Echa: Iya.. ini ttg orang2 yg seperjuangan dengan alm ibumu, cha :)

@apis: OMG apis! beredar lagi dong di dunia blog hayuk! Aamin. Nuhun support-nya selalu kepadakuh yg tak putus2. Sok atuh masuk wishlist utk ntar pas mudik lagi ;D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...