Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Friday, March 25, 2011

Aku Mau Kamu

Hey,

Hari itu aku terpana melihatmu muncul begitu saja. Sempoyongan, berantakan.
Orang seperti apa kamu? Yang tidur saat jam pelajaran. Yang menatap sinis mereka yang tak sehaluan. Menjawab dingin setiap sapaan yang tak diinginkan dan mabuk begitu sering.
Kamu, pikirku, orang seperti apa?

Tapi saat berdiri di atas pohon besar itu. Wajahmu menjadi danau kesedihan. Biar kutebak, itukah sebabnya kau menutupinya dengan rambutmu yang berkibar-kibar tertiup angin? Itukah sebabnya kau selalu tak tersentuh? Meski kuat, kau ternyata rapuh. Meski kasar, kau ternyata lembut. Ada sejuta kebaikan di balik topeng kuda liarmu.

Itu kamu. Mempesona dalam senyum tertahanmu yang sembunyi-sembunyi itu. Ayolah angkat wajahmu. Menolehlah ke sini. Aku berdiri menunggumu melihatku. Pada akhirnya menyadari keberadaanku yang mengamatimu setiap waktu.

Aku ingin menatap wajah sedihmu dan berkata, "Geol-oh, aku ingin menciummu...."

Bohong kalau ada yang bilang dia nggak keren! :P

Ada yang tahu? Hehehe... Ini Yoo Ah-in yang memerankan Moon Jae-shin di drama Sungkyunkwan Scandal. Aktingnya sukses banget sebagai Jae-shin yang dijuluki Geol-oh (Kuda Liar). Siswa pemberontak yang sebenarnya cerdas dan baik hati di balik penampilannya yang messy dan dingin.

Buat yang nggak suka drama Korea, pasti cuma bisa bengong dan geleng-geleng kepala ya? Hehehe...
Tapi buat yang suka drama Korea, Sungkyunkwan Scandal wajib ditonton, dan kalian akan menemukan si ganteng ini akan semakin ganteng di setiap episode. Trust me ;)



Yoo Ah-in


Oh, bibirnya..... kenapa bisa seseksi itu sih! *glek*
 
Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, March 15, 2011

Blabbering: Letters from Iwo Jima

Gunung Suribachi tidak bisa dipertahankan lagi.

Saigo gemetar mendengar perintah komandannya, Kolonel Adachi, untuk melakukan harakiri bersama-sama. Satu per satu teman-temannya dan sang komandan meledakkan diri dengan granat. Tinggal dirinya dan Shimizu. Tapi Saigo tidak mau mati. Ia ingin pulang dengan selamat kepada isteri dan anak perempuannya yang lahir saat ia di medan perang.

Prajurit Saigo tidak pernah bermimpi harus meninggalkan toko roti dan isterinya yang sedang hamil demi menjadi prajurit dalam peperangan yang tidak ia mengerti. Suatu hari, ia menemukan dirinya sedang menggali pasir di pantai Iwo Jima sambil menggerutu.
"Biarkan saja tentara Amerika mengambil pulau ini. Biarkan saja. Untuk apa kita susah payah menggali kanal di pantai ini kalau akhirnya akan kalah dan mati juga!" Alhasil ia dicambuki komandan peletonnya karena dianggap tidak patriotik.

Letnan Jenderal Tadamichi Kuribayashi, sebelum pecah Perang Dunia II, adalah perwira yang dihormati, bahkan oleh kawan-kawannya para perwira Amerika dimana ia pernah tinggal selama beberapa waktu. Beberapa perwira bawahannya menganggapnya lemah dan pro Amerika. Padahal berkat akal cerdiknyalah mereka membangun gua-gua di pulau tandus Iwo Jima untuk menahan serangan Amerika. Setidaknya pertahanan itu menyulitkan lawan dan menewaskan puluhan ribu tentara Amerika.

Letnan Kolonel Tadaichi Nishi adalah seorang bangsawan dan atlet berkuda peraih emas Olimpiade. Sang baron yang berjiwa humanis bahkan memerintahkan anak buahnya merawat seorang prajurit Amerika yang terluka dalam baku tembak mereka.

Prajurit Shimizu adalah seorang mantan Kempeitai (polisi militer) yang dicurigai teman-teman satu batalionnya dikirim untuk memata-matai mereka yang dianggap tidak patriot. Sesungguhnya ia orang yang berhati baik. Dikeluarkan dari Kempeitai karena membangkang perintah untuk membunuh seekor anjing.

Saat itu, Februari sampai Maret 1945, Iwo Jima menjadi neraka. Ladang pembantaian. Lebih dari 20 ribu prajurit Amerika tewas, jumlah korban yang sama di pihak Jepang. Setelah lima hari bertempur, pasukan Jepang bertahan tanpa air dan hanya makan serangga dan cacing. Tapi mereka tetap menulis surat ke rumah meski tahu surat-surat itu tidak akan pernah sampai.

...........

Saya menemukan film ini, Letters from Iwo Jima, tanpa sengaja di deretan film-film lama di penjual DVD langganan saya. Ini film keluaran tahun 2006. Si abang penjual yang biasanya cerewet bahkan tidak merekomendasikan film ini. Anehnya, saya yang masih prihatin atas musibah gempa dan tsunami di Jepang tiba-tiba ingin sekali menontonnya. Saya punya perasaan, film ini bukan film sembarangan. Film yang mendapatkan 4 nominasi Oscar dan memenangkan satu Oscar. Disutradarai Clint Eastwood dan Steven Spielberg.

Tapi bukan itu yang membuat saya jadi ingin membeli. Saya ingin mencari semangat pantang mundur orang-orang Jepang yang terkenal itu di film ini. Agar saya bisa meyakinkan diri saya sendiri, mereka yang saat ini tertimpa musibah di sana pada akhirnya akan baik-baik saja. Kembali menghadapi hidup dengan berani. Menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Saya selalu percaya itu, guys :)

Tahu nggak, film ini keren banget! Di film ini saya menemukan semua kebaikan yang bisa ditemukan bahkan di saat dunia menjadi neraka. Saigo yang mencintai keluarganya dan tak pernah kehilangan harapan untuk pulang dengan selamat, Kuribayashi yang menghargai anak buahnya, Nishi yang mencintai sesama manusia, Shimizu yang rela dikeluarkan dari dinas daripada harus menjadi manusia yang kejam.

Jepang memang pernah menjajah Indonesia. Dulu. Sebagian dari mereka melakukan hal-hal yang kejam. Semua fakta sejarah itu setidaknya menimbulkan sentimen dalam kadar tertentu. Bahkan murid-murid SD saya yang saya ajari menulis pun berpendapat 'penjajah Jepang jahat' dalam karangan mereka menjelang ulang tahun proklamasi tahun lalu.

Tapi saya cuma ingin bilang, mungkin sesekali kita harus melihat dari sudut pandang berbeda, melihat lebih dekat. Diantara yang jahat selalu ada yang baik. Terkadang jumlahnya lebih banyak.

Adik saya berkomentar, "Ternyata tentara-tentara Nippon itu banyak yang terpaksa ikut wajib militer ya? Banyak yang nggak ngerti disuruh perang untuk apa. Mereka sebenarnya korban politik pemerintahnya."

Menurut saya, ini tentang sudut pandang. Orang-orang Sunda membenci Gajah Mada yang pasukan Jawa-nya menumpaskan kerajaan sunda dan keluarga Dyah Pitaloka dalam Perang Bubat. Tapi lihatlah dari sudut pandang Gajah Mada, yang merasa harus melakukan itu. Menundukkan kerajaan-kerajaan di Nusantara agar bersatu di bawah payung Majapahit untuk menahan invasi Kekaisaran Cina yang dikuasai Mongol.

Orang-orang Vietnam membenci tentara-tentara Amerika yang mengobarkan perang di tanah air mereka. Tapi tahukah mereka, tentara-tentara itu juga benci datang ke Vietnam? Mereka tahu perang itu sia-sia dan hanya membuat mereka dikirim pulang dalam kantong mayat atau dalam keadaan tidak waras akibat senjata kimia.

Hubungan Korea Selatan dan Utara selalu meruncing. Masing-masing merekrut anak-anak mudanya dalam program wajib militer. Tapi apakah anak-anak muda itu ikut dengan sukarela? Setidaknya seorang teman saya, mantan jurnalis yang pernah ikut wajib militer berkata, bahwa semua itu sia-sia dan tak dimengerti. Bahwa mereka semua sebetulnya ingin kedua pemerintahan berdamai saja.

Letters from Iwo Jima adalah sebuah sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang para prajurit yang terjebak dalam kewajiban yang tak mereka mengerti dan menjadi korban politik pemerintah yang egois.

"Kau boleh pilih, Shimizu. Mati bunuh diri di sini bersama mereka, atau kita bisa melanjutkan perjuangan dengan pasukan Kuribayashi di sisi gunung sebelah sana. Jawab!"

Masih ada harapan untuk berjuang. Selalu ada harapan untuk selamat dan keluar dari neraka ini untuk pulang ke rumah. Itulah yang dimaksud Saigo.

...................

Film ini merupakan kelanjutan film Flags of Our Fathers yang bercerita tentang pertempuran yang sama, namun dari sudut pandang tentara Amerika Serikat. Keduanya merupakan hasil Proyek Iwo Jima yang berusaha menceritakan Pertempuran Iwo Jima dari sudut pandang masing-masing pihak yang berperang. Film ini produksi Amerika Serikat, tapi hampir keseluruhan dialog dalam bahasa Jepang.

Untuk penggemar film saga, perang, dan epik yang belum menonton, film ini highly recommended. Buat teman-teman cowok, ini film cowok banget lho! Hehehe...

____________________

Trivia:

  • Film ini dibuat berdasarkan buku "Gyokusai Soshikikan no Etegami" (Picture Letters from Commander in Chief) yang dirangkum dari surat-surat Jenderal Tadamichi Kuribayashi dan buku "So Sad To Fall In Battle: An Account of War" karya Kumiko Kakehashi.
  • Surat-surat Jenderal Kuribayashi ditemukan di gua saat diadakan penggalian di Iwo Jima oleh para arkeolog.
  • Pemeran Kuribayashi adalah aktor Hollywood keturunan Jepang, Ken Watanabe dan pemeran Saigo adalah Kazunari Ninomiya, salah satu personel boyband Arashi yang ngetop di Jepang.

    Jenderal Tadamichi Kuribayashi (Ken Watanabe)

    Prajurit Shimizu dan Prajurit Saigo

    Iwo Jima saat ini

    Enjoy the movie!

    Image and video hosting by TinyPic

    Friday, February 25, 2011

    Blabbering: Jaguar Paw

    "A great civilization is not conquered from without until it has destroyed itself from within." 
    -W. Durant


    Ini adalah periode dimana suku Indian Maya kuno belum musnah dari muka bumi. Suku Indian yang saat itu sudah memiliki peradaban dan kota, yang menyerang dan menjajah suku-suku Indian yang lebih lemah, menculik dan menyandera suku nomaden yang tinggal di hutan, sebagai korban untuk persembahan agama mereka. Sebagian dari tawanan menjadi budak untuk membangun piramida-piramida Maya yang kita temukan ribuan tahun kemudian.

    Ini tentang perlawanan dan pertempuran hidup mati seorang laki-laki yang mencintai keluarga dan sukunya. Tentang kecerdikan otak dan kekuatan fisik. Tentang ketabahan untuk bertahan dan keyakinan pada harapan. Tentang menyisihkan ketakutan dan berdiri dengan berani untuk melawan.


    Flint Sky: Those people in the forest, what did you see on them? 
    Jaguar Paw: I do not understand. 
    Flint Sky: Fear. Deep rotting fear. They were infected by it. Did you see? Fear is a sickness. It will crawl into the soul of anyone who engages it. It has tainted your peace already. I did not raise you to see you live with fear. Strike it from your heart. Do not bring it into our village.

    .................

    Hai hai !

    Saya sedang kehabisan ide menulis gara-gara sibuk menonton film. Hihihi. Saya sedang suka film-film epik, dan di sanalah, di toko DVD langganan saya terhampar beberapa film lama yang diproduseri Mel Gibson. Dia memang paling suka membuat film epik, dan saya masih saja tidak bosan menonton Passion of The Christ.

    Dan inilah dia film epik paling keren yang sudah saya putar ulang sampai empat kali sampai hari ini! Apocalypto. Film lama keluaran 2006. Ya deh, saya tahu saya ketinggalan jaman. Hehehe. Tapi jaman-jaman dulu itu saya sibuk di lapangan, meliput sana-sini. Saya jarang menonton film, dan sedikit hiburan yang saya punya cuma window shopping sebentar saat lewat mall sepulang liputan atau membaca buku sebelum tidur. Kasihan sekali saya ya haha...

    Buat yang belum nonton film ini (emang ada yang sekuper saya?), film ini wajib tonton. Saya suka akting Rudy Youngblood yang memerankan tokoh utama Jaguar Paw. Aktingnya mantap. Bukan cuma karena dia berdarah Indian, tapi dia memang aktor, yang setelah saya googling, banyak dipuji berbakat.

    Buat saya sih film ini bahkan lebih keren dari Avatar (saya suka film Avatar). Soalnya saya bisa membayangkan betapa susahnya sutradara dan kru film mengarahkan para pemain supaya benar-benar mendalami peran sebagai suku Indian zaman kuno. Beberapa pemain bahkan memang asli suku Indian yang masih berbahasa Indian Yucatec, bahasa yang dipakai di film ini. Seorang gadis kecil tujuh tahun, pemeran gadis peramal di film ini, bahkan seumur hidupnya belum pernah keluar dari kampungnya, belum pernah melihat mobil, bus, pesawat, makan nasi, bahkan lantai yang bukan tanah. Tapi hebatnya, ia bisa berakting dengan baik!



    Oracle Girl: You fear me? So you should. All you who are vile. Would you like to know how you will die? The sacred time is near. Beware the blackness of day. Beware the man who brings the jaguar. Behold him reborn from mud and earth. For the one he takes you to will cancel the sky, and scratch out the earth. Scratch you out. And end your world. He's with us now. Day will be like night. And the man jaguar will lead you to your end.

    Film ini menceritakan perjuangan Jaguar Paw, anak kepala suku Indian pemburu bernama Flint Sky, yang berusaha menyelamatkan dirinya dan teman-temannya dari tawanan suku Indian Maya yang memusnahkan kampung mereka. Jaguar Paw berhasil menyembunyikan isterinya yang sedang hamil, Seven, dan anak lelakinya Turtle Runs di sebuah sumur batu yang sedang kering. Sementara itu ayahnya Flint Sky tewas di depan matanya.

    Dia dan para tawanan dibawa ke pemukiman suku Maya yang kala itu sudah berupa kota dan tampak sangat beradab dibandingkan suku mereka. Kaum wanitanya sudah mengenal alat tenun dan penduduk kota berdandan dan memakai pakaian yang bagus. Tawanan wanita dijual di pasar budak, sementara tawanan laki-laki dibawa ke piramida besar dimana raja dan seluruh bangsawan menunggu untuk menyelenggarakan upacara penyembelihan korban bagi dewa matahari (Kukulkan) yang mereka sembah.

    Nah, mulai dari sini adrenalin bakal terpacu habis menyaksikan upaya Jaguar Paw agar bisa lolos dari pembantaian dan kembali untuk menyelamatkan isteri dan anaknya. Hehehe.

    Khusus buat yang belum nonton, saya kasih foto-foto dan trailernya supaya ngiler ya.




    Old Storry Teller: And a Man sat alone, drenched deep in sadness. And all the animals drew near to him and said, "We do not like to see you so sad. Ask us for whatever you wish and you shall have it." The Man said, "I want to have good sight. The vulture replied, "You shall have mine." The Man said, "I want to be strong." The jaguar said, "You shall be strong like me." Then the Man said, "I long to know the secrets of the earth." The serpent replied, "I will show them to you." And so it went with all the animals. And when the Man had all the gifts that they could give, he left. Then the owl said to the other animals, "Now the Man knows much, he'll be able to do many things. Suddenly I am afraid." The deer said, "The Man has all that he needs. Now his sadness will stop." But the owl replied, "No. I saw a hole in the Man, deep like a hunger he will never fill. It is what makes him sad and what makes him want. He will go on taking and taking, until one day the World will say, 'I am no more and I have nothing left to give.'"

    Geez! Fabel Indian yang bagus dan filosofis banget!!!







    I am Jaguar Paw, son of Flint Sky. My Father hunted this forest before me. My name is Jaguar Paw. I am a hunter. This is my forest. And my sons will hunt it with their sons after I am gone.

    Ini trailernya!








    back to the movie ah...
    see ya! :D

    Image and video hosting by TinyPic

    Wednesday, February 2, 2011

    Blabbering: Let Me Love Him. That's All

    Saya ingat saat foto-foto di Jogja dengan Ari liburan kemarin itu. Saya selalu memasang gaya yang aneh-aneh dan kami berdua lalu tertawa-tawa.

    Dengan kaki diangkat sebelah, atau tangan pura-pura menunjuk obyek sambil nyengir, berbaring sambil tengadah ke kamera (ini Ari), mengacungkan dua jari membentuk huruf V (ini jelas saya), kami akan mencari alasan pembenar dengan berseru-seru, "Gaya anime! Anime lho ini!" Cih! Hahaha...

    Foto saya di Candi Prambanan dengan pose (katanya) ala anime versi dua jari membentuk huruf V saya pasang sebagai foto profil di fesbuk. Sontak para abege di luar sana, entah sepupu, keponakan, atau kenalan semuanya berkomentar, "Kebanyakan nonton K-dramaaaa!"

    Huh sirik aja! Hehehe

    Lalu ini. Ada sejumlah e-mail dari teman-teman yang rupanya kegirangan karena saya suka Jang Geun Suk seperti sebagian besar dari mereka. Yang masih abege mengirimi saya banyak informasi tentang Jang Geun Suk (hey, thanks ya gals!). Tapi yang membuat saya tertawa adalah pertanyaan-pertanyaan seperti ini:

    "Enno lebih suka Jang Geun Suk jadian sama Park Shin Hye atau Jang Geun Suk jadian sama Moon Geun Yeong?"
    "Park Shin Hye katanya lebih direstui ibunya Geun Suk, bener nggak sih?"
    "Park Shin Hye sama Geun Yeong, mana yang lebih mendekati perempuan ideal Geun Suk?"

    Fyuh!

    Saya pernah bilang, saya suka Jang Geun Suk karena akting dan karismanya. Dia ganteng, tapi masih banyak yang lebih ganteng. Kim Bum favoritnya teman saya Ajenk, misalnya, jauh lebih ganteng. Hyun Bin dengan matanya yang sayu mirip si kucing Garfield juga lebih ganteng. Coba lihat Geun Suk a.k.a JGS a.k.a Sukkie itu. Ia tidak sesempurna rekan-rekannya (yang mungkin operasi plastik). Hidungnya saja tidak mancung, wajahnya ada bekas jerawat, untunglah senyumnya cemerlang.

    Saya toh bukan abege yang masih peduli dengan gosip-gosipnya. Saya tidak ambil pusing dia pacaran dengan Shin Hye atau Geun Yeong. Maunya sih dia naksir saya saja. Brondong keren tuh hehehe *langsung ditonjok anggota EELS*
    Yang saya pedulikan cuma filmnya, kemajuan aktingnya, suaranya yang merdu waktu menyanyi, dan karisma zodiak Leo-nya itu. Di rumah saya ada satu Leo yang seperti itu. Adik saya. Kelihatan cool di luar, tapi ceria di dalam. Ambisius, penyayang, sepenuh hati dan music talented.

    Saya suka Geun Suk karena ia multi bakat. Dia bukan hanya pandai berakting, pandai menyanyi dengan merdu, tapi juga pandai menulis. Naskah episode terakhir drama Mary Stayed Out All Night ditulis ulang olehnya dalam waktu beberapa jam sebelum syuting terakhir, dua hari sebelum ditayangkan di televisi. Dan hasilnya tidak mengecewakan penonton.

    Menjawab pertanyaan apakah saya termasuk fans berat JGS, saya jadi bingung. Kalau akhir-akhir ini di blog saya bertaburan tulisan tentang dia dan foto-fotonya, memang begitulah saya yang selalu mengumbar rasa suka pada sesuatu kepada semua orang.
    Apakah saya masuk kategori fans berat? Saya speechless. Masalahnya definisi fans buat saya itu mendalam sekali. Padahal soal-soal pribadi seorang bintang saya jarang peduli.

    Hari ini saya suka Jang Geun Suk, siapa tahu besok tidak. Kalau fans beratnya, saya pasti mengumpulkan dan membeli segala pernik berbau idola saya, kan? Nyatanya tidak. Apa karena saya sudah terlalu tua ya? Hahaha

    Begitulah. Saya tidak mau ikut perdebatan tentang siapa yang lebih pantas untuk Geun Suk ya. Dia sendiri malah tenang-tenang saja tuh.

    Jadi, biarkanlah saya mencintai Jang Geun Suk, tanpa label fans berat atau apapun.
    Dan gals, biarkan dia memilih ceweknya sendiri, oke? ^^

    _______________

    EELS: sebutan untuk fans JGS, diambil dari kata 'eel' atau belut atau jangeo (Korea). JGS menyebut fansnya 'jangeo'. Makanan dari belut yang membuatnya bersemangat, sama seperti para fansnya.
    Kok saya tahu, katanya bukan fans berat? Oh ini hasil browsing karena penasaran. Hehehe.



    Nggak selalu kelihatan pretty kan? di Itaewon Murder dia kelihatan manly



    Image and video hosting by TinyPic

    Thursday, January 13, 2011

    Blabbering: Jang Geun-suk

    Disclaimer: Ini bukan tentang pacar gelap.

    Akhir-akhir ini banyak pertanyaan dari sepupu-sepupu dan para keponakan saya, cewek-cewek yang masih abege. "Kok Mbak Enno suka film Korea sih? Kok suka sama Jang Geun-suk sih? Sama dong kitaaa..."
    Saya ketawa. Tahu sendiri kan, cewek-cewek abege seumuran mereka punya banyak idola aktor drama Korea dan Jepang.

    Seorang sepupu saya mulai menunjukkan memorabilia para hallyu star favoritnya dengan bangga, termasuk foto-foto dan poster-poster Jang Geun-suk.

    "Cakep ya? Keren ya?" Ocehnya dengan bibir dimonyong-monyongkan gemas.
    Lagi-lagi saya ketawa.

    Saya lupa kapan tepatnya saya mulai suka menonton K-drama. Yang jelas sudah lama, bertahun-tahun lalu. Sepertinya gara-gara promosi sepupu saya yang bekerja di sebuah perusahaan penyalur film. Ia bilang 'rugi kalau nggak pernah nonton K-drama, ide ceritanya fresh nggak kayak sinetron Indonesia.' Saya dan sepupu yang satu itu sama-sama mengusung faham kreatif sampai mati. Hahaha.

    Kata Ucup, saya ini aneh. Kenapa saya suka K-drama? Itu kan cewek banget. Padahal, menurut dia, saya ini bukan cewek. Rambut pendek, galak, temannya laki-laki semua, kok suka K-drama!
    Sementara sepupu saya yang mengompori saya menonton K-drama itu sekarang malah iri, karena saya punya lebih banyak waktu menonton film-film baru. Ia sendiri hampir tidak punya waktu karena sibuk kerja sampai malam.

    "Jang Geun-suk?" Tanyanya ditelpon tadi malam. "Nggak seberapa ganteng juga. Masih lebih ganteng Lee Min-ho kan?"
    Tahu kan? Lee Min-ho itu yang dengan centilnya saya akui sebagai pacar gelap saya akhir-akhir ini. Hehehe.

    Kenapa saya suka Jang Geun-suk? Bukan karena wajahnya yang mulus, tingginya yang 182, suaranya yang berat dan seksi atau perannya sebagai cowok-cowok keren di film-film itu. Saya suka aktingnya.

    Meskipun di beberapa filmnya ia berperan sebagai musisi, tapi aktingnya tidak pernah tipikal. Ia tidak pernah terlihat sebagai orang yang sama. Mimiknya, gestur tubuhnya, gaya bicaranya, bahkan tatapan wajah dan senyumnya berbeda.

    Ia pintar melebur ke dalam peran dan secara alami tahu bagaimana caranya supaya penonton lupa pada peran yang hampir sama dalam film sebelumnya. Dalam Mary Stayed Out All Night, saya melihat Kang Mu-gyul, vokalis band rock yang diperankannya, punya kebiasaan menyedot-nyedot hidung dan memain-mainkan jari kalau sedang resah. Sementara sebelumnya di You're Beautiful, sebagai Hwang Tae-kyung, vokalis band beraliran K-pop, ia suka sekali mengerucutkan bibirnya dengan jelek.
    Lalu di The Case of Itaewon Homicide, ia berubah menjadi Pearson, berandalan keturunan Korea-Amerika yang dituduh membunuh orang di sebuah restoran Burger King di Itaewon. Ia berakting dalam bahasa Inggris, dan aktingnya dipuji sebagai aktor muda dengan bakat menjanjikan dalam sebuah situs Hollywood online.

    Menurut saya, kecerdasan akting seperti ini jarang dimiliki bintang-bintang sinetron Indonesia. Maaf lho. Hehehe.

    Satu lagi kenapa saya suka Jang Geun-suk. Ia penyanyi berbakat. Suaranya bagus dan sangat enak didengar. Sexy, setidaknya di kuping saya. Lagu-lagu yang dibawakannya untuk film Mary Stayed Out All Night agak lebih nge-rock daripada lagu-lagunya untuk You're Beautiful yang beraliran pop (saya kan memang lebih suka rock). Biarpun saya tidak mengerti bahasa Korea (mengandalkan Google untuk mencari terjemahannya), saya mengumpulkan lagu-lagunya di cd dan selalu saya dengar sambil menulis. By the way, sekarang Hello Hello sedang mengalun keras nih.

    Mau ikut dengar suaranya yang sexy? Check this out!
    Buat yang bukan penggemar K-drama dan nggak tahu tampangnya Jang Geun-suk, di bawah ini foto-fotonya dalam berbagai peran....



    sebagai Kang Mu-gyul di Mary Stayed Out All Night




    sebagai Kang Gun Woo di Beethoven Virus



    sebagai Pearson di The Case of Ittaewon Homicide


    sebagai Hwang Tae-kyung di You're Beautiful

    Perhatikan mimik wajahnya. Keren kan? Hehehe.

    Nah, cukup mengoceh tentang Jang Geun-suk sebelum saya ditertawakan Ucup dan Popi. Saya kabur dulu. Mau packing ke Jogja! Tunggu reportase saya dari sana ya! :)


    see ya!

    Image and video hosting by TinyPic

    Monday, August 28, 2006

    Princess Hours… Ouch I Really Love It!
















    Semalem baru aja nyelesein nonton dorama serial Princess Hours (Goong), 24 episode, film Korea yang keren banget. Bisa bikin emosi guteraduk-aduk. Sepanjang gue nonton serial Asia, kayaknya yang satu ini paling asik deh. Mana banyak scene lucunya lagi! Gue sampe ngakak-ngakak sendiri. Kalo dulu, jamannya Meteor Garden, gue sampe tergila-gila kayak ABG, sekarang sih gak segitunya. Tapi kalo boleh ngebandingin sih, akting para pemain Princess Hours lebih mateng. Gak kaku kayak Jerry Yan dkk.

    Pas gue search di Google, ternyata serial ini jadi buah bibir se-Asia ya? Seenggaknya di Korea, RRC, Taiwan dan Jepanglah…. Di Indonesia juga (minimal gue…hehehe).
    Di negeri ginseng sana, udah tayang sejak Maret 2006 kemaren. Berarti masih gres ya!
    Saking suksesnya nih, para penggemarnya (menyebut diri mereka Goongers) sampe minta dibikinin sekuelnya. Lagian, abisnya juga ngegantung gitu sih... Crown Princess Chae Gyung muntah-muntah, diduga ngidam. Udah aja The End. Gimana kita gak penasaran… Gue sampe nanya ke Teteh, ”Emang kapan mereka making lovenya? Kok gak diliatin?” Hehehe....
    Alhamdulillah wa syukurilah.... katanya sih Oktober tahun ini udah syuting sekuelnya untuk tayang Januari 07. Asiiiiik!!!! (tepuk tangan sekenceng-kencengnya)

    Casting:
    yoon eun-hye [shin chae-gyung]
    joo ji-hun [lee-shin/i-shin]
    kim jung-hoon [lee-yul/i-yul]
    song ji-hyo [min hyo-rin]

    Ceritanya sebenernya klise sih… gak jauh dari Cinderella modern. Princess Hours ini tentang kehidupan Shin Chae Gyung (Yoon Eun Hye), gadis SMU dari kalangan rakyat biasa yang harus menikah dengan putra mahkota Kekaisaran Korea (aslinya sih di Korea udah gak ada Kaisar kan?) karena desakan ekonomi dan janji almarhum sang kakek dengan keluarga kerajaan. Pernikahan ini hukumnya wajib, soalnya keluarga kerajaan harus segera mengisi posisi calon kaisar berikutnya, soalnya kaisar yang sekarang udah penyakitan.
    Masalahnya, proses adaptasi dengan keluarga kerajaan membuat Chae Gyung sebagai calon permaisuri jadi frustasi. Untungnya dia punya sifat ceria, centil dan tulus. Jadi kalopun dia suka agak-agak norak dan badung, keluarga kerajaan sayang sama dia.
    Hubungan Chae Gyung dengan suaminya, Putra Mahkota Lee Shin (Joo Ji Hoon), awalnya agak-agak bikin sebel penonton. Lee Shin-nya yang bikin bete. Abis kaku, dingin dan emosinya datar gitu sih (salut sama akting Joo Ji Hoon). Udah gitu dia masih belum lupain Hyo Rin (Song Ji Hyo), mantan pacarnya. Inilah pokok masalah di dorama ini.
    Yang bikin tambah rumit, datanglah Pangeran dari anak mantan kaisar yang udah wafat, Lee Yul (Kim Jung Hoon), yang dihasut oleh ibu kandungnya sendiri (mantan permaisuri) untuk merebut lagi posisi sebagai putra mahkota/kaisar. Lee Yul juga jatuh cinta setengah mati sama Chae Gyung. Di sini, penonton jadi tau tradisi kekaisaran Korea, yaitu kalo kaisar/raja meninggal, seluruh keluarganya harus keluar dari istana, karena yang berhak tinggal hanya raja yang menggantikan, permaisuri baru dan anak-anaknya.
    Tapi endingnya sih bisa ditebak dong. Putra Mahkota akhirnya jatuh cinta sama Sang puteri yang centil dan sentimentil (kayak gue... kekekekek...)

    Ternyata keempat pemeran utama dorama itu pemula semula lho! Tapi itu dia, aktingnya alami banget. Gue suka banget liat akting Joo Ji Hoon yang pake bahasa mimik. Bisaan banget deh jadi pangeran yang dingin dan kesepian. Kita bisa tau dia lagi marah ato kesel dengan melihat keriut rahangnya. Kita bisa tau dia lagi gundah dengan melihat matanya yang meredup dan sudut bibirnya yang turun. Kita bisa tau dia lagi memendam cinta dengan melihat matanya berbinar meskipun wajahnya tetap datar dan dingin. Eh, ternyata dia bisa juga akting netesin air mata pedih (huaaaah... kacian bener tu’ pangeran... cup cup cup)
    Aktingnya Yoon Eun Hye sebagai ’cinderella’ juga asik banget. Dia tuh berani gila dan konyol. Gak tau malu banget jingkrak-jingkrak, geol-geol dan super centil hehehe... salut deh! Tapi di episode-episode terakhir gue lebih kagum lagi karena dia bisa nangis keras-keras beneran sampe yang nonton ikut terisak-isak .... (gue maksudnya...) Kesannya, Puteri Mahkota ini murni banget...



    Coba deh bandingin sama pemain film ato sinetron kita yang hasil karbitan. Kalo marah, matanya melotot kayak banteng mau nanduk matador, badan gemetar kayak kesetrum, lobang idung kembang kempis. Nah kalo lagi kaget, sama stereotipnya. Mata terbelalak, mulut nganga. Kalo lagi sedih, airmatanya harus dipancing pake obat tetes mata, kadang-kadang berihik-ihik ria sambil ngedip-ngedipin matanya yang kering (jijaaaay). Kalo lagi jatuh cinta? Kesannya tu’ iler udah mau netes. Senyumnya aja tengil kayak abang-abang lagi godain cewek di pinggir jalan. Sori neh kalo ada yang tersinggung. Kebanyakan emang begitu aktingnya.

    Tapi yang paling menjengkelkan adalah Princess Hours dijiplak, sodara-sodara!
    Gue baru tau pas mudik kemaren. Nyokap gue nonton sinetron Benci Bilang Cinta, yang maen Marshanda & Baim Wong. Menjijikkan! Bener-bener menjiplak! Najoooong!!! Dasar gak tau malu tu penulis skenarionya! Emang gak bisa ya, bikin cerita orisinil sendiri?! Masa menjiplak film negara lain? Gak malu gitu?
    Gue ngomel-ngomel, trus gue suruh Nyokap nonton Princess Hours di Indosiar, Minggu jam 11 siang. Tapi kayaknya Nyokap gak ngerti, biar udah didubbing juga. Balik lagi deh nonton jiplakannya. Ck! Orang Indonesia mah doyan banget sama yang namanya jiplakan alias barang palsu. Nah, kemaren aja gue terjebak cinta palsu! Hiks... :(
    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...