Showing posts with label Ocehan. Show all posts
Showing posts with label Ocehan. Show all posts

Thursday, December 17, 2015

Tagore and I


Umur  saya sekitar 10 tahun waktu saya menemukan buku lusuh karya Rabindranath Tagore di atas lemari buku, di ruang tengah rumah Kakek. Saya, adalah seorang gadis kecil sakit-sakitan berpakaian lusuh ala anak lelaki, yang sedang berada di kampung halaman Ibu untuk merayakan Lebaran yang sesungguhnya adalah hari yang tidak disukai gadis kecil itu dengan alasannya sendiri.

Saya juga adalah gadis kecil pemurung, yang lebih suka mengaduk-aduk lemari buku tua Kakek untuk mencari bacaan, daripada bermain dengan sepupu-sepupu kaya berpakaian bagus dan baru. Kakek saya seorang guru dan kepala sekolah. Ia punya sejumlah buku, yang biasanya merupakan hibah dari Dinas P dan K (sekarang Diknas). Buku-buku yang kadang-kadang adalah buku untuk perpustakaan sekolah, atau buku-buku lainnya, yang dianggap perlu sebagai bahan mengajar.

Hari itu, saat saya menemukan buku itu, jiwa kutubuku saya menggumam, wow kata-katanya bagus, Itu adalah puisi-puisi Rabindranath Tagore dalam Gitanjali (sekarang saya baru menyadari bahwa itu Gitanjali-karena tadinya saya lupa judul buku itu), yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Tentu saja, sebelumnya saya tidak pernah mendengar siapa Tagore itu. Nama yang aneh bagi saya ketika itu. Di bagian kata pengantar, ada sedikit keterangan tentang dirinya, berikut fotonya. Yang saya ingat di kemudian hari setelah pulang ke rumah, dia seorang penulis dan penyair dari India, setua kakek saya, dengan jenggot lebat bak seorang petapa.

Rupanya, itulah awal mula saya menyukai puisi dan mulai menulis puisi.
Jiwa gadis kecil saya, si penyuka buku yang pemurung, ingin sekali bisa menulis seindah itu. Sebelumnya, saya suka menulis cerita-cerita pendek di belakang buku tulis sekolah, sampai sering dimarahi Ibu dan akhirnya dibelikan buku khusus untuk coret-coret. Buku itu lantas mulai terisi oleh beberapa lembar puisi ala anak SD. Bukan puisi seindah Tagore tentu saja. Tetapi, saya sudah sangat berusaha menulis seindah mungkin. Topiknya apa saja yang terlintas di kepala. Namun, lebih banyak tentang teman-teman.

Saya tidak punya banyak teman di sekolah. Mungkin, karena saya pendiam dan sering tidak masuk sekolah karena sakit. Salah satu teman sebangku saya, Yayuk, tukang mencontek saya kalau ulangan. Berganti kelas, saya duduk dengan Erna, yang nilainya selalu jelek tetapi untungnya dia baik dan tidak suka mencontek. Berganti kelas lagi, saya duduk dengan Nia, yang culas dan suka mengadu domba, Berganti kelas lagi, saya sebangku dengan Lia. Anak perempuan manis yang pendiam dan lembut. Otaknya sangat cerdas sehingga setiap tahun dia selalu juara umum. Kami sama-sama kutubuku dan penyuka kucing. Dia adalah teman yang paling berkesan dan paling saya sayangi di masa sekolah dasar saya di Bandung. Dan selalu menjadi inspirasi puisi-puisi saya di buku coret-coret.

Sampai tamat dari Sekolah Dasar, puisi-puisi Tagore menemani saya tumbuh. Buku di rumah Kakek itu lenyap entah kemana, untungnya saya sempat menyalin beberapa puisinya yang paling saya sukai. Puisi-puisi dalam Gitanjali tidak berjudul. Biasanya hanya memakai angka romawi setiap ganti topik.
Tagore dalam kesan saya, adalah orang yang religius dan sangat pandai menerjemahkan alam pikirnya ke dalam bahasa sehari-hari dengan cara penyampaian yang indah.

Waktu saya masih kecil, begini kesan saya terhadap Kakek Tagore: dia sayang sama Tuhan dan orang-orang.

Demikianlah.

....................................

Tentang Rabindranat Tagore (1861-1941)

Ia adalah sastrawan India modern paling terkemuka. Seorang penyair, novelis dan pendidik. Menerima hadiah Nobel untuk sastra pada tahun 1913. Dianugerahi gelar kebangsawanan pada tahun 1915, tetapi ia mengembalikan gelar itu sebagai protes terhadap Pembantaian di Amritsar, di mana pasukan Inggris membunuh kurang lebih 400 orang demonstran India. Perannya sebagai seorang pembaharu reformasi politik yang menentang kolonialisme tidak terlalu menonjol dibandingkan reputasinya sebagai penyair. Sayang sekali.

Aku mengemis dari rumah ke rumah di jalanan desa 
ketika kereta emasmu tampak dari kejauhan 
seperti mimpi indah 
dan aku bertanya-tanya siapakah raja diraja ini?

Harapanku melesat tinggi 
dan kukira kemalanganku akan berakhir,
dan aku berdiri menunggu pemberian dan kekayaan
yang bertebaran di setiap jejak kereta.

Kereta kuda itu berhenti di hadapanku 
dan engkau turun sambil tersenyum.
Aku merasa keberuntunganku akhirnya datang 
Lalu, tiba-tiba engkau menjulurkan tangan dan berkata,
"Apa yang akan kau berikan kepadaku?” 

Ah betapa lucu lelucon menengadahkan tanganmu
kepada seorang pengemis untuk mengemis! 
Aku bingung dan ragu,
kemudian perlahan-lahan 
kukeluarkan sejumput biji jagung dari kantongku 
dan kuberikan kepadamu

Betapa terkejutnya aku,
ketika sore tiba aku mengosongkan kantongku
dan menemukan biji emas di antara tumpukan hasil mengemis.
Aku menangis pedih dan berharap
andai saja aku rela memberikan semua milikku kepadamu.

- Rabindranath Tagore, dari Gitanjali


Tagore dan Gandhi
pic from here



Image and video hosting by TinyPic

Sunday, November 16, 2014

Shit Happened -- Part 2

Saya masih bad mood. Gila, parah banget gegara terlalu banyak yang cari perkara.
Sampai hari ini masih menjauh dari manusia, kecuali orang-orang yang berkepentingan atas beberapa urusan, dan beberapa teman mengobrol random sehari-hari.

Ini adalah bagian kedua dari curhatan panjang saya.

.......................................


06.04 WIB

Dear kamu, Tukang Ngadu...

Semoga kamu puas ya sudah mengadukan omongan saya kepada si X. Semoga kamu mendapatkan award dari si X atas keloyalan kamu kepada dirinya. Dan congratulation juga bahwa kamu mendapatkan segerbong perasaan hina dari saya kepada kamu.

Seharusnya kamu tahu, bahwa apa yang saya katakan kepada kamu waktu itu, tidak bermaksud memojokkan teman kita si X itu. Saya hanya mengatakan prinsip pribadi saya, yang berseberangan dengan prinsip pribadi si X. Apakah prinsip saya itu merugikan si X? Dalam konteks kasus ini, saya rasa tidak.
Prinsip saya adalah milik saya, dan apa yang sedang atau akan dilakukan si X merupakan haknya.
Jika kami kemudian berseberangan, bagi saya SANGAT TIDAK MASALAH jika saya mengalah agar tidak terjadi tabrakan kepentingan. Dan itu sudah saya sampaikan dengan jelas kepada kamu, kalau-kalau kamu mendadak belagak pikun atau kena amnesia.

Seharusnya, sebagai orang dewasa, kamu bisa menyaring mulut dan otakmu. Seharusnya kamu tahu, mana yang perlu untuk disampaikan, mana yang tidak.
Ketika saya bicara kepada kamu, saat itu saya mempercayai kamu secara penuh. Tidak pernah terbetik dalam otak saya bahwa kamu akan mengadu, dengan alasan apa pun. Seingat saya, saya bahkan mengatakan kepada kamu agar tidak menyampaikannya kepada si X.
Hal itu, karena saya sadar, meskipun saya tidak membicarakan keburukan siapa pun (hanya tentang prinsip saya), kemungkinan orang yang berpikiran picik akan salah paham terhadap saya.

Dan itu akhirnya terjadi. Well, good job, fella!

Oh tentunya saya tidak bakal menerima alasan apa pun seandainya kamu mencari pembenaran atas apa yang sudah kamu lakukan. Tidak ada sedikit pun unsur kebaikan dan kemaslahatan dalam kasus ini.
Kamu sudah menghancurkan image saya di mata seorang teman, dan membuat sikapnya kepada saya berubah. Meskipun seumur hidup saya tidak peduli dengan image saya di mata orang lain, tetapi kali ini hal itu telah merusak silaturahmi antara saya dengan orang lain. Membuat pertemanan saya dengan seseorang yang tadinya baik-baik saja menjadi dingin dan tidak nyaman.
Maaf aja, itu perbuatan yang parah banget buat saya, dan terus terang saya memaki-makimu dalam hati.

Meskipun demikian, saya tidak sepenuhnya menyalahkanmu. Kamu begitu mungkin memang sudah sifatmu.
Saya lebih marah kepada diri sendiri karena betapa tololnya saya sudah begitu naif terhadap kamu.
Saya salah karena keliru menilai orang. Keliru menaruh kepercayaan kepada orang.
Sebenarnya, kalau dipikir-pikir lagi, itulah mengapa saya ini orang yang sangat pilih-pilih dalam berteman. Kenapa saya lebih sering terlihat kemana-mana sendirian atau cukup berdua.
Lalu ketika sekarang, kejadiannya seperti ini...
Yah, saya sungguh tolol.

Jadi, mari kita balik lagi ke kamu, wahai Tukang Ngadu....
Nasehat saya buat kamu.
Jadi orang jangan terlalu suka bicara deh. Jangan terlalu banyak ngomong. Kadang-kadang, kita nggak bisa mengendalikan apa yang keluar dari mulut kita. Hal-hal yang tidak penting yang terlontar begitu saja bisa mencelakakan kamu atau orang lain.

Satu lagi, jangan suka memusingkan anggapan orang terhadap kamu. Nggak usah ingin dianggap positif oleh orang lain, karena hal seperti itu nggak bisa dipaksakan. Nggak usah insecure, lalu sok-sok mengadu biar dianggap setia. Kalau kamu memang aslinya menyenangkan, orang lain juga akan mengapresiasi. Kalau kamu memang menyebalkan, kamu nggak akan bisa apa-apa. Kedokmu akan terbuka suatu hari.

Di masa mendatang, ingatlah satu hal.
Jangan bersikap palsu di depan saya. Cepat atau lambat saya akan tahu, meskipun tidak ada yang memberitahu.

I can see right through your bullshit act. 
I can see your true colors. 
I observed you.

.........................................

PS: banyak teman blogger mengeluh karena nggak bisa post komentar di beberapa postingan ini. Maaf ya. Saya tahu kok, banyak yang ingin menghibur dan menyemangati. Terima kasih sebelumnya.
Tapi kali ini saya cuma ingin 'didengarkan' saja. Dan terima kasih juga sudah 'mendengarkan.'
*kiss kiss*


pict from here




Image and video hosting by TinyPic

Thursday, November 13, 2014

Shit Happened -- Part 1

Belakang ini, saya menjauh dari pergaulan. Memilih membaca tumpukan novel yang tertunda di sela rehat menulis.
Saya sedang bad mood berat. Banyak yang terjadi, yang mengganggu ritme nulis saya.
Tulisan ini anggap saja sebagai curhat terbuka, dan karena takut kepanjangan dipenggal jadi beberapa bagian.

Nah, ini bagian pertama.
.............................

22. 36 WIB

Jadi di sela-sela menulis Project Lost malam ini, ada percakapan random dengan Monica alias Momon. Agak tidak biasanya saya kepengin berinteraksi dengan manusia (bahaha). Mungkin karena saya sudah lama sekali nggak chat sama dia.
Seperti biasa, obrolan saya dengannya tidak pernah normal.
Tapi kali ini topiknya bikin kami ketawa-ketawa miris.

Kami mengobrol tentang cowok. Klasik bukan? :)

Baru-baru ini, kami berdua punya kasus mirip, berkaitan dengan pria yang ... ya begitu lah. If you know what I mean (jelas nggak bakal tahu juga sih hehe).

Saya nggak berhak cerita tentang kasus Momon tanpa seizin dia. Tapi untuk kasus saya, bolehlah saya bilang di sini, bahwa saya nggak punya waktu buat meladeni kode-kodean dan no mention dari siapa pun.
Ini bukan tentang orang tertentu, ya. Jadi garis bawahi: dari siapa pun.

Kalau ingin kenal saya lebih dekat, just reach me personally. Lelah sekali harus berbalas kode atau status no mention, atau berbalas komentar random tanpa juntrungan di media sosial. Lagian sejak dulu saya nggak pernah kayak gitu. Mau mengobrol dengan saya jangan di ruang publik dan ditonton seluruh dunia. Apa lagi kalau pertanyaannya: kamu sedang apa?

Duh. Please, man. DM aja keleus.

Nggak usah posting sedang mendengarkan lagu apa, yang liriknya kode untuk saya sebagai wakil dari perasaanmu. Jangan. Nggak usah. Kirim lagunya secara personal aja napa. Itu lebih manis (bukan berarti juga bikin saya jadi meleleh sih--kan saya belum tentu naksir juga).
Setidaknya itu lebih gentle. Berani. Manly, kalo istilah Momon.

Jangan posting gambar yang isinya quote buat kodein saya juga.
Ngomong aja langsung. DM. Private message. Aku kangen kek. Apa kabar kek. Sedang apa kek.
Saya belum tentu bilang 'gue juga kangen' (kan belum tentu naksir). Tapi setidaknya, saya hargai perhatiannya.

Pada akhirnya, karena cuma kode-kodean dan no mention, jangan salahkan kalau saya malah ilfil.
Ya ampun, capek tahu ditimbunin hal-hal kayak gitu setiap hari, sembari nggak ada action nyata. Urusan saya sudah banyaaaak.

Saya sedang menulis novel.
Saya mengurus bokap dan beberes rumah dan masak dan segala urusan kerumahtanggaan lainnya.
Saya lagi merancang liburan akhir tahun buat adik saya-bikin itinerary-cari hotel-sewa mobil-perincian budget-kasih tips dan trik, karena adik saya ini blas orang rumahan yang nggak pernah kemana-mana, jadi saya khawatir dia nyasar.
Saya bikin daftar trip saya pribadi untuk 6 bulan ke depan selama musim hujan.
Saya juga sibuk memikirkan hal-hal lain.
Pokoknya nggak ada waktu.

Karena itu, mohon maaf kalau saya bergeming saja. Semoga mereka-mereka itu nggak menganggap saya PHP.
Gimana saya PHP? Yang flirting siapa?

Begitulah terkadang, pembawaan saya yang mudah akrab sama cowok suka disalahartikan sama beberapa orang. Dikira saya naksir, padahal saya memang lebih nyaman bergaul sama cowok ketimbang sama cewek (kecuali kalo sama sintingnya). Begitulah saya sedari kecil.

Atau terkadang juga awalnya saya sedikit naksir, tetapi seiring waktu--karena kelakuan si cowok--saya jadi ilfil (saya sekarang gampang ilfil, dan cenderung apatis).
Nah, beberapa dari mereka kadang-kadang masih ge-er aja (telat geer-nya). Lalu sok kecakepan. Lalu sok dingin (karena merasa pret-gue-gak-demen-sama-lo-gak-level)

Halaaah. Pengin rasanya ngakak depan muka cowok-cowok model begini.
Cuy, kalo Nicholas Saputra sih gue taksir abadi. Nah elo? Get a life. Justru karena elo songong begitu, gue jadi ilfil.

Duh. Capek lagi! :))

Sesungguhnya, saya menyesal kalau sampai ada yang merasa terluka (atau ge-er berkepanjangan) karena sikap dan prinsip saya tersebut di atas.
Maaf juga, kalau saya nulisnya agak sarkas dan terkesan belagu.
Nggak, saya nggak belagu.
Apalah saya ini. Cuma remah-remah kerupuk di kaleng Khong Guan...

Intinya sih dari omelan tulisan saya dari atas ke bawah, pesan moral untuk kaum pria:
Kalo lo suka sama cewek, ngomong langsung. 
Jangan pake kode-kodean.
Malesin, cuy!

Gitu aja. Sekian. Peace. No hard feeling ya :)

................................




pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Thursday, February 27, 2014

Saya Ketawa Aja, Tapi...

Punten...

Akhir-akhir ini saya capek dan sebal dengan media sosial.
Ada apa sih dengan orang-orang?

Bisa nggak hidup dengan santai aja, gitu?
Terutama jika berkaitan dengan diri saya.
Nggak usah mikirin saya, nggak usah menyoroti perbuatan saya, nggak usah terpengaruh oleh saya, dan nggak usah pula menganalisa hidup saya.
Bisa? Masa enggak.

SATU
Nggak usah pedulikan saya dengan nyuruh kawin, tanya kapan kawin, cerita tentang kawin, kepada saya. Saya aja kalem, kenapa situ yang frustasi? Saya di sini ketawa aja, sambil asyik makan pisang goreng.
Sejak kapan urusan rencana kawin seseorang jadi urusan umum?
Sepanjang saya menulis di blog ini, pernahkah saya menulis tentang topik itu? Tidak kan?
Itu artinya, ada hal-hal yang tidak ingin, tidak perlu, dan tidak mau saya share dengan orang banyak.
Itu artinya, ada batasan privasi yang tidak boleh dilanggar. Paham ya? Oke sip.

DUA
Nggak usah jadi depresi juga kalau saya posting sesuatu di salah satu akun sosmed. Nggak usah membahasnya rame-rame di belakang maupun di depan saya.
Nggak usah merasa tersindir, terhina, terzalimi, menuduh saya menulis untuk menyakiti.
Well, darlings... saya orang yang to the point.
Sejauh masih bisa saya hubungi, masih bisa saya ajak omong baik-baik, masih bisa saya temui entah di pojok planet bumi sebelah mana, nggak sengaja sembunyi dan menghindari saya, ya saya lebih suka bicara langsung.

Nggak lupa dong kalau saya ini penulis?
Pernah nggak terpikir bahwa apa yang saya publish itu hanyalah penggalan dari draft novel saya? Semacam lintasan ide untuk dialog. Semacam mood booster untuk salah satu bab. Atau hanya buah lamunan nggak jelas sambil menatap jendela di kala hujan. Pernah?
Karena itulah yang sebenarnya terjadi.

Saya nggak merasa perlu menyindir orang, sejauh saya bisa ngomong langsung, atau bahkan memakinya kalau perlu.
Kalau pun saya 'tergoda' untuk main sindiran sedikit, biasanya di ujung kalimat saya tambahkan: #iyaininyindir. Buat saya itu cukup adil. Toh saya juga tidak anti disindir. Sindirlah aku jadi pacarmu. #eh

Simple. Hidup itu dibikin simple, darlings.
Di sana kalian kebakaran jenggot, di sini saya cuma ketawa aja.

TIGA
Sementara itu, ketika saya sedang berbahasa asing yang bukan Inggris, tak usah repot memikirkan kausalitas. Sebab-akibat. Menduga-duga dan menyimpulkan sendiri apa gerangan tujuan saya bermulti bahasa.
Tak usah jidat sampai berkerut, berlipat, lalu bertanya kenapa saya tiba-tiba jadi berbahasa Perancis atau Belanda. Tak usah menghubung-hubungkannya dengan seseorang atau sesuatu yang membuat saya terkesan kampungan kalau melakukannya.

Yah... saya sih ketawa aja.
Saya nggak tiba-tiba berbahasa Perancis. Nggak tiba-tiba berbahasa Belanda.
Di SMA, pelajaran bahasa asing kedua kami setelah Inggris adalah Perancis. Saya juga pernah kursus bahasa Perancis di Pusat Kebudayaan Perancis (CCF).
Bahasa Belanda? Setiap mahasiswa Fakultas Hukum wajib ikut mata kuliah Bahasa Belanda. Tanya aja mahasiswa FH seluruh Indonesia.

Siapa sih saya?
Nggak usah segitunya perikehidupan kalian merasa terganggu oleh eksistensi saya.
Tulisan random saya aja sampai dipikirin dan bikin galau.

Saya ketawa aja, tapi saya juga muak.
Ada apa sih dengan orang-orang?
Keep calm and get a life.
Saya ini cuma seorang manusia yang sedang mengurusi hidupnya sendiri. Nggak sempat mengurusi orang lain.



Image and video hosting by TinyPic

Thursday, December 19, 2013

The Night Falls In The Thousand Doors

Memasuki gerbangnya malam itu, saya langsung merasa seolah-olah memasuki dunia lain, Langit yang menaungi Semarang malam itu pekat sekali rasanya. Oksigen yang saya hirup tiba-tiba menipis. Degup jantung saya bertalu-talu. Saya tidak takut. Hanya khawatir dengan apa yang akan saya lihat nanti.

Jadi, di sanalah saya berdiri. Tempat yang menjadi obsesi saya bertahun-tahun, yang ingin sekali saya kunjungi setelah melihat foto bangunannya di internet. Sebuah gedung kuno bergaya art deco yang dibangun tahun 1903, dan dulunya menjadi kantor perusahaan kereta api pemerintah kolonial Belanda, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij.

Saya, si penggemar bangunan kuno, akhirnya berdiri di depan gedung Lawang Sewu.
Yang katanya punya seribu pintu.
Yang katanya seram itu.

Harga tiket masuk gedung ini 10 ribu rupiah per orang, plus 30 ribu rupiah untuk membayar jasa pemandu. Malam itu, pemandu saya seorang anak muda bertubuh kecil dan ramah. Ia mengajak saya berjalan melewati halaman remang-remang, yang di tengahnya ada pohon beringin raksasa. Pohon itu, katanya, ditanam saat gedung diresmikan tahun 1907.

Mas pemandu (ah, saya lupa namanya, padahal ia sudah memperkenalkan diri) minta maaf karena dari dua gedung induk yang ada, malam itu pengunjung hanya bisa menjelajahi satu saja. Gedung paling depan sedang direnovasi, sehingga sedang ditutup untuk umum. Sayang sekali, padahal gedung itulah yang ingin sekali saya lihat. Ada serangkaian jendela berkaca patri besar dengan mozaik indah di sana. Di setiap film tentang Lawang Sewu (dokumenter maupun horor), jendela-jendela itu menjadi fokus kamera.

Gedung yang satu lagi, adalah gedung di mana terdapat ruang bawah tanah penampung air, yang di masa penjajahan Jepang dijadikan penjara dan tempat hukuman.
Jadi, sepertinya penjelajahan saya malam itu ditakdirkan untuk full spooky. Wew. Baiklah. Let's explore.

Kami mulai memasuki gedung, yang sengaja digelapkan. Cahaya hanya berasal dari lampu-lampu di koridor depan. Ruangan demi ruangan yang kami masuki sangat remang, terkadang gelap gulita. Pemandu saya yang sudah mengenal setiap inchi ruangan-ruangan itu, memandu langkah-langkah saya dengan suaranya.

Ruangan pertama, tepat setelah melewati koridor. Hanya ada kekosongan dalam cahaya remang-remang. Merinding? Tidak tuh. Tetapi, tunggu. Saya melihat sekilas, tangan pemandu saya mengetuk pintu saat ia hendak masuk.

Kami pindah lagi ke ruangan lain. "Ini tadinya aula untuk pesta dansa, Mbak," kata pemandu saya. Itu memang ruangan yang lapang berbentuk segiempat. Gelap dan sunyi. Rupanya ini ballroom, pikir saya sambil membayangkan puluhan orang Belanda berdansa berputar-putar di ruangan ini, seratus tahun yang lalu.

Lagi-lagi, saya melihat tangan si mas mengetuk pintu saat mau masuk tadi. Kenapa?

Kami menyusuri lagi ruangan demi ruangan. Saya nyaris tidak mendengar keterangan pemandu saya. Asyik sendiri menikmati aura masa lalu dalam cahaya remang-remang. Membayangkan seperti apa dulu ruangan-ruangan ini. Mungkin penuh sofa dan kursi-kursi tempat duduk para meneer yang mengurusi perkeretaapian Hindia Belanda. Beberapa pribumi berlalu lalang menjadi jongos dan pegawai rendahan yang ditugasi ini itu. Menurut pemandu saya, ada beberapa ningrat pribumi yang beruntung punya jabatan cukup tinggi di jawatan itu. Namun, mereka memiliki ruangan kerja terpisah dari para penjajah itu. Diskriminasi dan rasialisme ternyata dipraktekkan juga di kantor ini. Cih!

Kami tiba di tengah gedung, yang ruangannya bersambung-sambung. Yang ambang pintunya berderet-deret itu. Saya mulai merinding. Tetapi tidak berhenti menjepretkan kamera.
Di tengah-tengah ruangan yang sambung menyambung seperti pantulan cermin, di ujung sana, saya mulai melihat sesuatu.

"Mbak, kita keluar saja," kata mas pemandu. Ia memberi isyarat pada saya untuk segera mengikutinya. Saya menurut. "Silakan memotret di sini. Deretan daun pintu ini bagus kalau difoto," katanya sambil menyingkir dari jarak pandang kamera saya. Wajahnya agak tegang.

Di balik salah satu daun pintu, di ujung sana, saya melihat sekelebatan bayangan perempuan. Oh, sekarang saya mengerti kenapa ia mengetuk pintu seperti semacam salam sebelum masuk ke setiap ruangan. Pemandu saya rupanya punya indera keenam. Saya lega.

Kenapa lega?
Begini lho. Di tempat spooky seperti ini, saya lebih memilih pemandu yang punya indera keenam. Soal keterangan sejarah, sebetulnya tidak perlu repot-repot, karena saya biasanya sudah meriset sebelum datang ke suatu tempat. Pemandu yang punya indera keenam akan menghindarkan kita dari hal-hal yang menyeramkan sebelum terjadi.

"Ayo Mas, kita ke tempat lain!" Saya mengajaknya. Malas kan ya, memotret sembari diamati perempuan di ujung sana itu.

Si mas pemandu mengajak saya ke lantai tiga. Kami menapaki anak-anak tangga dari semen, yang sudah rusak dan somplak dalam kegelapan. Si mas bawa senter sih. Tapi dia malah menerangi arah depan, bukan arah kaki. Jadilah saya, si mata lamur, naik sembari terantuk-antuk dan berpegangan erat pada pinggiran tangga. Masih belum cukup dengan anak tangga yang somplak dan rawan tergelincir, susunan tangga itu rupanya dibuat cenderung tegak lurus. Menyebalkan sekali orang-orang Belanda ini! Mentang-mentang jangkung-jangkung, jadi langkahnya panjang-panjang dan anti gamang! Huh!

Nyaris di puncak tangga, saya berhenti mengomeli para meneer itu. Langkah saya juga berhenti. Pemandu saya ada di depan, berdiri menunggu saya dengan senternya. Tetapi, bukan dia yang membuat saya mendadak tertegun.

Perasaan saya. Perasaan tidak enak yang tiba-tiba menyerbu. Membuat saya ingin mundur dan meninggalkan tempat itu. Seperti ada sesuatu yang memerintahkan saya untuk tidak usah melangkah ke ruangan atas itu. Seperti ada yang bilang 'Pergi! Pergi!'
Suasana kesedihan, kemarahan dan rasa sakit yang dalam melingkupi diri saya. Apa ini?

"Mbak?" Pemandu saya memanggil.
"Oke, oke." Dengan susah payah, saya menggerakkan tubuh saya yang kaku, menapaki anak tangga terakhir.
Di depan kami sebuah ruangan memanjang, sepanjang separuh gedung. Gelap gulita. Jendela-jendela di kiri kanannya terbuka menghadap pekarangan dan langit malam. Hanya sedikit cahaya yang berhasil menembus kegelapan di ruangan ini.

Saya menggigil. Betul-betul menggigil secara harfiah. Udara terasa berat dan sesak. Saya seperti merasakan sedang dipandangi banyak mata dari dalam kegelapan. Belum pernah saya merasa sangat ketakutan seperti itu. Ada hawa kemarahan di seluruh ruangan, bercampur hawa kepedihan. Lamat-lamat saya seperti mendengar bunyi derit dari berbagai sudut. Saya takut. Kalau tangga ke bawah tidak segelap, securam dan serusak itu, saya sudah meninggalkan tempat itu tanpa menunggu si pemandu.

"Mas, ruangan apa ini?" Tanya saya cemas.
Mas pemandu saya itu sedang mengarahkan senternya ke ujung ruangan nun jauh di sana, yang bahkan tak tertembus cahaya.
"Di lantai tiga ini dulunya tempat para tentara Jepang menyekap dan memperkosa perempuan-perempuan yang mereka culik. Pernah dengar jugun ianfu?"

Ya Allah, Gusti.
Tempat seluas ini? Selebar ini? Hanya untuk perbuatan biadab keparat sialan brengsek tak bermoral itu? Khusus banget ya, nyet!
Jugun ianfu adalah budak-budak perempuan yang khusus untuk melayani kebutuhan seksual para tentara Nippon itu. Mereka benar-benar diperbudak dan diperlakukan secara tidak manusiawi. Kadang-kadang, mereka diperkosa beramai-ramai hanya demi kesenangan para penjajah brengsek itu.
Sewaktu masih menjadi jurnalis, saya pernah membuat tulisan tentang ini. Saya mewawancarai beberapa perempuan tua yang pernah menjadi jugun ianfu. Mereka hidup dalam trauma dan kenangan menyakitkan.

Tolong...
Eh? Saya celingukan.
Suara itu entah dari mana, seolah terbawa angin melewati telinga saya. Saya tambah ketakutan. Tidak mau. Saya tidak mau berkomunikasi dengan mahluk-mahluk di tempat ini. Semuanya begitu penuh kemarahan. Penuh kesakitan. Penuh dendam.

"Mbak, kita nggak usah jalan sampai ke sana ya?" Dalam cahaya senter yang membias, wajah mas pemandu saya tampak gelisah. "Euh... nggak apa-apa kan, Mbak? Anu... di sana terlalu banyak. Mbak, ngerti maksud saya, kan?" Ia menatap saya, sepertinya bingung mau menjelaskan.
Saya mengangguk. "Iya, saya ngerti. Yuk turun aja."
Wajah pemandu saya mendadak lega. Ia memandu saya menuruni anak tangga dengan cahaya senternya. Meninggalkan aula yang gelap itu.

Di lantai bawah, dalam perjalanan menuju ke tempat peminjaman senter dan sepatu boot untuk memasuki ruang bawah tanah, ia bertanya. "Rupanya Mbak ini indigo ya? Bisa lihat mereka?"
"Nggak, saya bukan indigo. Bisa lihat juga kadang-kadang. Tapi kalau peka, iya. Saya peka."
"Untung aja. Jadi Mbak mau ngerti. Kadang ada pengunjung yang nggak paham sama kode saya. Mereka suka ngotot dan sok berani. Kadang-kadang itu berbahaya."

Saya pernah membaca tentang beberapa pengunjung yang kesurupan di gedung ini. Mungkin itulah maksud pemandu saya. Hanya saja, ia tidak bisa mengatakannya dengan gamblang. Juga soal keseraman gedung ini. Selama memandu, yang ia ceritakan hanyalah tentang sejarah kegunaan ruangan-ruangan yang ada. Saya bisa mengerti. Karena, manajemen gedung ini yang kini dibawahi PT Kereta Api Indonesia, telah memberi instruksi pada para pemandu untuk memperkenalkan Lawang Sewu sebagai tempat bersejarah, bukan tempat seram untuk uji nyali.

Di lantai satu, saya menukar sepatu dengan boot plastik dan membekali diri dengan sebuah senter. Lalu mengikuti pemandu saya menuruni anak tangga ke bawah tanah.

Kesan pertama? Sesak napas. Oksigen sangat tipis di bawah sana. Lantainya tergenang air semata kaki. Bunyinya berkecipak, memecah keheningan di antara langkah-langkah kami.
"Lantainya sengaja digenangi air untuk menambah kadar oksigen, Mbak."
"Oh, gitu."

Kami berjalan terus dalam gelap yang lebih pekat, karena memang tak ada cahaya sama sekali selain senter kami. Dan saya mulai merasakan aura tempat itu.
Beberapa orang yang pernah ke bawah tanah ini bercerita bahwa mereka merasa seram. Saya? Seram sedikit. Karena gelap dan sesak napas. Tetapi yang saya rasakan justru hawa kesedihan. Berlawanan dengan hawa kemarahan di atas sana barusan. Kesedihan di tempat itu kental sekali.

Kesedihan.
Putus asa.
Rindu.
Kepasrahan.
Dan tekad untuk tidak menyerah sampai mati.

Lalu saya menyadari. Itu adalah perasaan-perasaan para pejuang dan pesakitan yang ditangkap dan disiksa penjajah Jepang di penjara bawah tanah itu. Perasaan-perasaan yang diserap dinding-dinding tua di sekitar kami dan dipantulkan lagi.

Pemandu saya menunjukkan satu demi satu bekas penjara dan sistem penyiksaan yang dilakukan Jepang kepada para tahanan. Saya mendengarkan dan berusaha menahan isak. Saya kepengin menangis. Bukan karena penjelasan mas pemandu, tetapi karena aura di tempat itu.

"Mbak, kenapa?" Pemandu saya memandangi saya.
"Nggak apa-apa, Mas. Saya kok merasa sedih ya di tempat ini?"
"Wah, yang lain-lain sih merasa seram biasanya."
"Iya seram. Tetapi lebih banyak sedihnya."

Ada sebuah bekas patahan meja dari beton di sebuah ceruk. Katanya, itu untuk memenggal kepala tahanan. Kepalanya dipakai untuk tumbal membangun jembatan-jembatan. Saya nggak menyangka kalau penjajah Jepang ternyata juga percaya tahayul.

Ceruk demi ceruk. Ruang demi ruang, kami jelajahi dalam kegelapan. Sampailah kami di ruangan yang paling terkenal karena ada penampakan di sana, dalam acara uji nyali Dunia Lain. Cuplikannya bisa ditemukan di Youtube. Ada pipa air besar di sana. Ruang bawah tanah itu di masa Belanda memang gunanya untuk menampung dan mengalirkan air ke sungai, jika kawasan itu tengah dilanda banjir.

Hihihihihi
Eh? Siapa yang tertawa itu. Suaranya terdengar jelas dan nyaring, berasal dari salah satu ceruk gelap yang tak terlihat.
Hihihihihi
Sial! Jangan ganggu gue!
"Mbak, lewat sini." Pemandu saya melangkah lebih cepat.
Masa si mas takut sih? Biasanya yang asli punya indera keenam nggak penakut gitu deh. Atau mungkin dia mengira saya takut dan bermaksud menyelamatkan saya? Aww, so sweet! *salah fokus*

Di lantai satu, sambil menukar sepatu boot dan mengembalikan senter, mas pemandu saya bertanya. "Tadi dengar suara ketawa?"
"Dengar banget. Kayaknya di sebelah saya deh, Mas."
"Makanya saya ngajak cepat-cepat."
"Tenang Mas. Insya Allah, saya nggak akan kenapa-napa. Saya zikir terus dalam hati kok sejak masuk dari gerbang depan."
"Syukurlah, Mbak." Ia ketawa lega.

Saya juga lega. Dan puas. Dan senang.
Ketika melewati pintu gerbang Lawang Sewu malam itu, berjalan keluar menuju jalan raya yang mulai agak sepi, saya tersenyum lebar.
Akhirnya, kesampaian juga uji nyali di tempat terseram kedua di Asia, versi sebuah acara televisi I Wouldn't Go In There yang ditayangkan National Geographic Channel. Haha.

Dan saya berhasil lolos dari usaha mahluk-mahluk itu untuk berkomunikasi. Mereka di sana terlalu penuh dengan emosi. Terlalu kuat. Terlalu dalam. Saya bisa ikut depresi menyerap energi negatif mereka.

Sampai ketemu lagi, The Thousand Doors. Saya akan datang lagi lain kali di siang hari. Untuk fotografi, bukan uji nyali.

--------------------------------

PS: Foto menyusul. Belum diedit ;)



Image and video hosting by TinyPic

Thursday, November 21, 2013

Perjalanan Kemarin

Maafkan, saya baru menulis lagi hari ini.
Akhir-akhir ini hidup saya dipengaruhi mood yang buruk. Levelnya jauh di atas mood saat sedang PMS. Bukan mood yang membuat saya kepengin marah-marah sih. Bukan juga mood kepengin nangis atau histeris.
Ini sejenis mood yang membuat otak saya blank. Hampa. Menghilangkan segala kehendak apa pun dari diri saya. Saya kena kram otak barangkali. Atau cuma sekedar virus malas yang sudah kronis.

Lalu saya melemparkan diri saya ke tengah-tengah hiruk pikuk tempat asing, jauh dari kampung halaman. Surabaya, Bali, Mojokerto, Madura. Belum melampaui provinsi yang jauh dari pulau Jawa memang. Tetapi, buat orang yang sedang kram otak, pergi kemana pun dalam kondisi blank ya sama saja. Sama-sama membahayakan diri sendiri, ibarat orang mabuk disuruh menyetir.

Jadi, jangan minta saya bercerita tentang perjalanan saya kali ini.
Sungguh saya tidak ingat. Hanya beberapa detail saja yang menempel di benak. Yang paling diingat hanya tentang orang-orang yang berada dalam rangkaian perjalanan itu. Ada tiga orang yang menemani saya kemarin, bergantian.

Satu orang yang sangat tidak asing, namun kemudian bersikap seperti orang asing. Saya merindukan banyak hal tentang kami dulu. Caranya menggenggam tangan saya, menatap saya, tersenyum atas lelucon saya. Saya rindu kernyit dahinya ketika sedang memikirkan sesuatu, senandungnya yang sepenggal-sepenggal.... saya merindukan semuanya. Dan itu membuat saya pedih.

Satu orang teman baru, yang menemani saya melintasi selat Madura dan menyusuri puing-puing kraton Majapahit dengan motornya. Ia juga traveler seperti saya, yang jam keluyurannya lebih banyak. Traveling dengannya asyik banget.

Satu orang teman seprofesi, yang menemani saya selama di Bali. Mengantar saya ke Ubud, dan duduk bersama saya menanti sunset di Kuta. Menyenangkan rasanya menemukan orang yang ternyata punya beberapa kebiasaan dan kesukaan yang sama. Rasanya, seperti bersama orang yang sudah dikenal bertahun-tahun, padahal itu baru kedua kalinya kami bertemu.

Saya memotret banyak, tentu saja. Tetapi, bahkan sampai hari ini pun, saya belum melihat ulang hasil foto itu di dalam memori card. Sejak pulang ke rumah, pekerjaan saya adalah menulis dan tidur. Meski pun tidak bisa dibilang tidur juga sih, kalau setiap satu jam sekali terbangun.

Nanti saja kapan-kapan, saya share cerita dan hasil fotonya ya. Saya harus menulis. Ada proyek baru yang harus saya kerjakan. Sama seperti Barcelona Te Amo, yang adalah bagian dari serial Setiap Tempat Punya Cerita (STPC), proyek ini pun bagian dari serial, meski temanya bukan lagi tentang negeri tetangga. Proyek Sol ditunda lagi. That's my fault. Ada satu sebab yang tidak akan saya ceritakan di sini, yang membuat saya sakit hati dan mempengaruhi mood saya saat mengerjakan Proyek Sol.
Untungnya, saya punya editor yang pengertian.

By the way, saya akan keluar kota lagi bulan Desember.
Tahun depan, travel plan saya banyak sampai bikin bingung.
Saya kepengin berkunjung ke tempat tinggal Hans di Bukittinggi. Kepengin ke Raja Ampat, sekaligus menengok keluarga kakak angkat saya yang bertugas sebagai tentara di Sorong. Saya kepengin ke Weh, bersama sepupu-sepupu saya. Entah mana yang akan terlaksana. Semua saya catat di agenda.

Tetapi ada satu yang insyaAllah sudah pasti. Awal 2014, saya HARUS ke Jawa Timur lagi. Kali ini Lumajang, sekalian ke Jember yang cuma berjarak satu jam. Kenapa saya bilang HARUS? Karena... ah, masih rahasia ;)

See ya!


Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, April 9, 2013

Triangle

Aku tidak terlalu mengenalnya. Gadis yang berdiri di bawah rinai hujan, tanpa payung itu. Dia diam saja di situ, memandang ke arah sebuah jendela terbuka, yang sayup-sayup mengirimkan musik dansa waltz. Membuat bekunya hujan menjadi terasa lebih hangat.

Aku tahu sedikit kisahnya, tetapi tak tahu bagaimana persisnya. Tentang seorang laki-laki yang pernah menjadi mataharinya. Mengisi hidupnya, mengajaknya berdansa waltz, bahkan salsa.

Laki-laki itu, sudah pergi. Gadis itu yang mengusirnya suatu hari.

Aku bahkan tak tahu kenapa si gadis mengusir mataharinya dan membiarkan dirinya dalam gelap dan sunyi. Ketika akhirnya ia memiliki rembulan untuk dirinya sendiri, itu tak seperti matahari. Rembulan beku dan dingin. Tak ada nyala, tak ada kehangatan seperti ketika mereka berpelukan di lantai dansa.

Matahari memilih bintang, memberi sinarnya yang paling kuat agar bintang semakin berkilau. Mereka berdua berkelana menjelajah langit. Berlayar di antara planet-planet tak bernama. Berdansa, tertawa, berkejaran di angkasa.

Bulan padam. Sinarnya beku seperti ujung-ujung ranting yang dikecup salju. Gadis itu mengusir bulan. Berkelana sendiri tanpa tujuan. Lalu, ia menemukan jendela itu. Ada suara yang dikenalnya tertawa. Ada musik yang disukainya mengalun. Ia berdiri di sana sampai hujan. Ingin memanggil tetapi ragu. Ada suara yang lainnya di sana. Denting malam dan kerlip bintang.

Gadis itu berdiri di sana. Dalam rinai hujan, tanpa payung. Berdiri saja, mendengarkan tawa dan simponi waltz. Berharap ia tak pernah membuang kebahagiaan yang pernah digenggamnya. Berharap ini hanya mimpi resah, dan terbangun dalam kehidupan lama yang ia rindukan.

Aku tahu, ia menyesal. Aku tahu, ia sesungguhnya tak pernah berhenti mencintai matahari. Aku tahu, seharusnya mereka masih berdansa waltz dan salsa, karena mereka berdua yang serasi di muka bumi.

Hujan.
Hujan menderas. Aku berlari, memberinya payung. Ia memberiku sehelai kertas yang kubaca perlahan:

Cinta sejati tak akan henti sampai mati.


pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Thursday, January 31, 2013

Kalau Saya

Pagi ini, di tengah obrolan random saya dan si pacar, saya berpikir...
Belakangan ini orang-orang menentukan destinasi wisatanya berdasarkan tiket promo maskapai penerbangan.

Bertaburannya tiket promo di awal-awal tahun kayak gini, bikin orang-orang kalap dan membeli sana-sini. Banyak sih yang ngomong ke saya, beli aja dulu. Bikin itinerary-nya belakangan.
Lho kok gitu? Jadi sebenarnya nggak punya tujuan bepergian kemana? Jadi cuma nurut aja gimana tiket promo membawa?

Sejujurnya, itu bukan cara saya bepergian. Saya selalu bikin rencana per bulan, atau per tahun, mau pergi ke mana dan mau apa di sana. Apa yang akan saya kunjungi, apa yang akan saya lihat, apa yang akan saya serap. Apa tujuan besar saya sebenarnya saat melakukan perjalanan...

Iya sih, salah satu keasyikan traveling apa lagi backpacking alias ngegembel itu adalah unsur kejutan di dalamnya. Seperti yang dibilang filsuf Cina, Lao Tzu, "a good traveler has no fixed plans and is not intent on arriving."

Tapi biarlah itu terjadi saat kita ada di perjalanan dan sudah ada di tempat tujuan. Kalau soal destinasi, saya tetap bikin perencanaan. Tahun ini, misalnya. Saya sudah memasukkan empat trip ke dalam agenda, dua di antaranya berbeda pulau.

Bagi saya pribadi, bepergian karena 'mumpung ada tiket promo' itu nggak 'kena' di hati.
Soalnya saya pergi bukan cuma sekedar senang-senang dan menikmati obyek wisata. Saya menyerap semuanya, menyimpannya di sel-sel kelabu otak saya, untuk diolah, digunakan, dimanfaatkan, atau paling sedikit, menjadi bahan pemikiran. Setiap menentukan suatu destinasi, maka di benak saya sudah ada sederet tujuan, termasuk jawaban dari pertanyaan: untuk apa saya ke sana?
Biasanya itu berkaitan dengan survei, riset dan bahan-bahan untuk tulisan.
Setiap destinasi mempunyai tujuan. Jadi kalau destinasi dadakan, saya nggak bakal mau, karena akan mengobrak-abrik rencana per satu tahun.

Setiap saya pulang bepergian, saya jarang sekali merasa girang. Aneh? Nggak juga. Karena seperti saya bilang, saya menjadikan apa yang temukan selama perjalanan sebagai bahan kajian setelah pulang.
Kalau saya habis masuk gua, maka saya akan keluar dari sana sambil berpikir betapa indahnya gua itu. Tapi sampai kapan akan lestari.
Kalau saya habis naik gunung, maka saya akan turun dari sana sambil memikirkan padang-padang edelweiss di atas sana, yang entah sampai kapan akan terhampar tak tersentuh peradaban.
Kalau saya pulang dari pantai, maka saya memikirkan tentang sampah-sampah yang berserakan di pantainya, tebing karang yang dicoret-coret, ombak yang semakin mendekat ke daratan karena abrasi.

Saya tidak pernah pulang dengan hati girang dan cerita-cerita dengan gegap gempita ke seluruh dunia bahwa saya habis bersenang-senang di sana-sini.
Ya, saya memang menceritakan sebagian pengalaman itu di blog. Tetapi jika yang membaca cukup jeli, akan terasa nada pahit di dalamnya. Belakangan ini, saya bahkan mulai malas posting untuk menceritakan perjalanan saya. Karena toh memang bukan sekedar untuk bersenang-senang.

Saya nggak bermaksud mengkritik orang-orang yang senang berburu tiket promo ya.
Silakan saja. Itu seru kok. Setiap orang kan punya cara masing-masing.
Lagian, kalau destinasinya ternyata sama dengan rencana trip saya, pasti saya ikutan beli juga ;)

Saya cuma mau bilang, kalau saya sih nggak pernah membiarkan maskapai-maskapai penerbangan itu menyetir tujuan traveling saya.

Begicuuu...

Btw, saya menemukan sebuah artikel yang cukup menampar lho, dan sejujurnya saya harus setuju dengan sebagian besar isi artikel itu. Ini tentang 'Responsible (Travel) Writer.'  Kalian yang suka jalan-jalan dan  cerita-cerita tentang perjalanan kalian di blog atau di mana-mana, harus klik di sini, dan baca. 

Have fun! Semoga nggak tertampar! :D

forgot the source :(
Image and video hosting by TinyPic

Thursday, January 24, 2013

My Life, My Rules, My Random Thoughts

Bermula dari 'interogasi' seorang anggota keluarga besar, tentang rencana-rencana traveling saya, yang dibocorkan kakak saya si mulut besar, sebelum waktunya.

Muncul pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya merasa balik lagi ke umur 15 tahun. Pertanyaan model: Pergi kapan? Sama siapa? Berapa orang? Nginap di mana? Ngapain aja? Dalam rangka apa? Pulang kapan? Mimik si penanya tanpa senyum. Serius habis. Membuat saya merasa seperti anak SMP yang sedang berusaha untuk diizinkan jalan-jalan dengan teman-teman.
Padahal, siapa juga yang minta izin? *sigh*

Saya hampir saja menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan lagi: 'Menurutmu?'
Tapi, saya masih takut kena kualat laaah...

Pertanyaan itu lantas berlanjut dengan: Jadi sekarang punya pacar baru, ya? Saya jawab 'iya.' Dan seperti sudah saya duga sebelumnya tentu saja, muncullah kata-kata: "Kamu sudah bukan lagi waktunya pacaran! Cepat menikah!"
Hiyaaa!!! Cetar membahana, sodara-sodara! Hahaha... 

Kenapa ya, orang-orang ini? Maksud saya, orang-orang yang jalan pikirannya sesimpel itu. Kalau punya pacar, menikahlah. Helooow! Memangnya pergi ke KUA segampang pergi beli ayam goreng di KFC?

Mungkin bagi sebagian orang, itu memang mudah. Sorry to say, buat saya enggak.
Kalau ada yang bilang, janganlah suka mempersulit yang semestinya mudah. Sorry to say again, you know nothing about my life, people! 
Kalau menurut saya ribet, ya memang demikianlah kondisinya.
Terima saja. Percaya saja. Saya toh bukan abege alay yang suka lebay. Saya orang dewasa yang punya pertimbangan sendiri.

Tapi okelah, kalau soal getting married, saya mah sebenarnya sudah kebal kalau ada yang mengungkit-ungkit. That's not a big deal anymore. Buktinya, saya nggak pernah kan bergalau ria di blog ini tentang topik itu?

Yang bikin saya jengkel justru topik pekerjaan. Profesi. Dan topik itu dimunculkan setelah topik 'menikah' di-blow up ke forum *udah kayak rapat menteri ye? kekekek*
Muncul dalam bentuk kalimat: Daripada nulis-nulis kayak gitu mendingan cari pekerjaan kantoran lagi. Masa dengan pengalaman sebanyak kamu, nggak ada yang mau mempekerjakan?
Hmmm. Haha..

Saya dicap tukang main, tukang jalan-jalan? Oke.
Saya disuruh cepat menikah? Masih oke. Cuek. Ongkang-ongkang kaki.
Tapi kalau saya disuruh kerja kantoran lagi dan meninggalkan profesi kepenulisan saya? Saya nggak mau. Ogah. Emoh. Nehi.

Gila apa? Menjadi penulis, yang menghasilkan buku-buku dengan nama saya terpampang di cover depannya. Dengan dunia yang saya reka di dalamnnya. Dengan imajinasi yang saya terjemahkan berbulan-bulan di setiap lembarnya. Saya harus meninggalkan ini? Ini cita-cita saya dari kecil, mamen.
Saya merintisnya dari zaman masih SMA dengan menulis cerpen. Menulis cerpen akhirnya tinggal kenangan setelah saya menjadi wartawan. Tapi bukankah menjadi wartawan juga menghasilkan tulisan dan dibaca banyak orang? Jadi, kepuasannya tetap sama.

Mereka berpikir, karir itu adalah kalau bekerja nine to five di sebuah gedung yang disebut kantor. Dapat gaji tetap tiap bulan, dapat cuti tahunan (yang nggak selalu bisa diambil kapan saja), dihantam stress dan politik teman sekerja, diperas keringatnya kayak budak belian. Masih pula diomelin boss dan atasan.
Hoho. Saya sudah melalui hal-hal kayak gitu bertahun-tahun. Sudah cukup tahulah. Pernah menjadi bawahan, juga akhirnya menjadi atasan. Lalu apa lagi yang saya cari? Kedamaian. Ketenangan. Kepuasan batin. Nah, itu.

Pantas saja, kadang ada yang nyinyir kalau melihat saya sedang menekuni laptop. "Jangan mainan laptop aja!" "Nulis melulu!" "Cari kegiatan lain, jangan di kamar aja!" "Bergaul dong!"
Wow banget ya, encouragement-nya?

Mereka yang ngomong kayak gitu, pikirannya nggak bakal nyampe ke fakta bahwa saya bekerja, bukan main laptop. Bahwa menulis adalah memang bagian dari profesi saya dan itu menghasilkan uang (yang minimal cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar saya). Bahwa kegiatan lain itu sebenarnya ada, cuma mereka tidak serumah dengan saya, jadi tidak tahu dong ya. Bahwa saya bergaul, masih bergaul, bahkan dengan teman-teman SD, karena internet itu spread us to the world kan?

Yah. Pokoknya gara-gara itu, saya bete. Bukan bete pada orang yang kemarin menyuruh saya bekerja kantoran lagi sih. Tapi bete pada kenyataan, bahwa sudah sedewasa ini, setua ini, mereka masih tidak sudi melihat jati diri saya. Menganggap saya remeh temeh di antara para sepupu yang bekerja kantoran dan terima gaji bulanan, meskipun faktanya tetap saja mereka pun belum ada yang kaya raya. Sepupu yang baca harap tidak tersinggung. Sori jek, tapi itu kenyataan kan?

Kalau yang pada akhirnya dijadikan ukuran adalah harta dan kekayaan. Atau materi. Atau kemapanan. Mereka harusnya melihat para penulis beken di luar sana. Tidak usah saya sebut nama satu per satu. Banyak kan penulis yang kaya?
Baiklah. Berhenti ngedumel. Sepertinya saya harus membuktikan kalau saya juga akan mapan suatu saat nanti.

Just wondering. Kalau saya sukses dan kaya, masih pada protes sama kerjaan saya sebagai penulis nggak ya?
Cus ah!

The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams
- Eleanor Roosevelt


pict from here

               Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, November 7, 2012

Ini Tentang Fokus

Liburan, H-7.
Dan saya masih kehilangan fokus.

Aneh rasanya melihat keril kosong teronggok di pojok kamar. Biasanya, jauh-jauh hari sebelum berangkat, saya sudah heboh sendiri mempersiapkan ini itu.
Sekarang? Obat-obatan yang harus dibawa saja belum saya lengkapi. Baru hari ini saya menyetrika baju-baju yang akan dibawa, membiarkannya terlipat menumpuk di atas tempat tidur.
Sambil mengobrol dengan dia di telepon, saya membongkar lemari. Menumpuk handuk, mukena, kaos kaki, jaket dan lingerie.
Dia mendengar saya menghitung, "Satu, dua, tiga, empat..."
"Kamu menghitung apa?" tanyanya.
"Bra."
Sesaat hening. Hahaha.
"Banyak amat." Ia berkomentar setelah mampu mengatasi mati gayanya.
"Iya dong. Perempuan kan."
Diteruskan dengan gerundelan saya tentang ribetnya packing bra berkawat dan bahwa saya harus segera membeli bra yang tidak berkawat supaya bisa dilipat. Di seberang sana ia cuma mendengarkan karena topiknya sungguh 'mencerahkan.' *ngakak*

Seharusnya saya sudah harus memikirkan jenis masakan apa yang harus saya buat untuk ayah saya selama saya tinggalkan seminggu. Masakan yang bisa tahan seminggu dalam tupperware dan mudah dihangatkan kalau hendak dimakan. Harusnya saya juga memikirkan urusan pabrik, dan memindahkan tanggung jawab pembukuan ke kakak saya.

Tapi lagi-lagi, saya tidak melakukannya.
Liburan kali ini saya santai sekali. Tenang. Seperti tidak akan pergi ke mana-mana.
No, no. Bukan berarti saya punya firasat buruk atau apa. Jangan sampai ya. Doakan saya dan teman-teman serombongan saya selamat ya, guys.
Ini masalahnya cuma di satu soal.

Dia.
Orang ini membuat hidup saya tenang akhir-akhir ini. Seolah-olah saya tidak butuh apa-apa lagi.
Melengkapi saya, mengisi saya.

Tapi dia juga yang membuat fokus saya lurus, nggak bisa kemana-mana. Lurus ke dia, maksudnya. Hehehe.

Sepertinya, mulai besok saya harus benar-benar konsentrasi ke persiapan liburan ini.
Soalnya ini bukan liburan biasa, sejenis tinggal di hotel, berenang pagi di kolam renang, foto-foto di pantai dengan gaya paling narsis di muka bumi, atau makan-makan enak sambil ketawa-ketawa, seolah-olah di dunia ini nggak pernah ada masalah penting.
Sebenarnya ini petualangan. Wisata ekstrim.
Turun ke gua vertikal dengan kedalaman puluhan meter, cave tubing di tengah kegelapan gua dan sungai bawah tanah, kemping di pantai (kemungkinan di hutan juga, kalau teman-teman memaksa), dan ada kemungkinan rock climbing! Yay!

Saya nggak sabar segera hari H. Menggendong keril, pakai jaket gunung saya yang baru, naik kereta api ke Jogja (saya selalu suka perjalanan dengan kereta api), bertemu Wuri, Ridwan, Thya dan Zona.
Kedatangan saya bertepatan dengan perayaan malam 1 Syuro di Kraton Jogja. Biasanya suka ada parade siang hari dan malamnya ada ritual mubeng benteng (mengelilingi benteng kraton) yang dilakukan orang-orang kraton dan masyarakat sekitar tanpa bersuara (membisu).
Saya mau berburu foto dengan Oly, si kamera baruuu! Hahaha...

Sekarang sepertinya semangat saya sudah muncul. Meskipun di sisi lain ada yang agak bete karena ditinggal ke lokasi-lokasi yang sulit sinyal. *nyengir jail*

"Lihat ni, aku baru beres-beres sekarang. Habis fokusnya bukan ke liburan, tapi ke kamu."
Hening.
"Hei, kok diam?"
"Hmm... kamu tahu nggak, orang-orang lewat semua ngelirik ke aku?"
"Lho, emang kenapa?"
"Iya, itu, tadi kamu ngomong apa?"
"Aku ngomong soal fokus. Fokus ke kamu."
"Ya, itu."
"He? Oh... (nyengir). Kamu mati gaya? Trus senyum-senyum sendiri ya? Hahaha..."

"Maybe you feel bored about this. But one thing for sure, I love you.” 
— Him, 5112012

pict from tumblr.com

Image and video hosting by TinyPic

Saturday, October 20, 2012

Preparation for The Journey


Jadi mendadak jaket outdoor saya agak kesempitan. Menyebalkan!
Padahal saya akan membutuhkannya untuk kemping di gua dan pantai bulan depan.
Akhirnya beli baru dengan ukuran satu nomor lebih besar. Sigh!
Ini pasti gara-gara kurang gerak selama tiga bulan mengerjakan novel kedua. Hehe.

Saya sudah menyiapkan peralatan untuk petualangan berikutnya.
Rencananya caving dan camping, mungkin juga climbing. Jadi selain mengeluarkan si keril, saya juga mengobrak-abrik isi lemari mencari senter caving dan slayer biru kesayangan.
Selain membeli jaket outdoor, saya membeli headlamp dan sleeping bag. Berhubung banyak peralatan lama saya ada di Jakarta, dan saya sedang malas mengambilnya ke sana.

Setiap kali belanja ke toko peralatan outdoor, reaksi penjualnya selalu kocak deh. Biasanya mereka berpikir saya membelikan alat-alat itu untuk pacar atau saudara laki-laki. Nggak ada yang percaya saya beli untuk dipakai sendiri.

Masuk akal sih sebenarnya, karena dandanan saya bukan seperti penggiat outdoor.
Kemarin, waktu membeli jaket outdoor, headlamp dan sleeping bag, saya datang ke toko dengan dandanan seperti mau pergi ke mall. Saya pakai skinny jeans, blus rajut, wedges pink dan tote bag Miu Miu. Di kerudung saya ada korsase bunga ukuran besar.

"Ini buat Mbak?" tanya si pemilik toko.
"Iya. Saya mau caving lagi nih, bulan depan," sahut saya santai.
Lalu si pemilik toko memandangi saya dari atas ke bawah, dengan mimik yang mencerminkan isi pikirannya: tapi-cewek-ini-nggak-ada-tampang-tukang-keluyuran-di-gua.

Ya, terus saya harus gimana?
Pakai baju asal-asalan? Gaya sok cuek? Ih, tak usah ya! :D

My baby boy, Lil' Oly

I introduce, my baby boy Lil' Oly.  My new camera, Olympus PEN E-PL1 that suddenly I bought. Though, at first I wanted to buy Nikon D3100 for my first DLSR camera. I also bought an underwater housing for Oly, so he can dive with me one day ;)

Someone has fanned me to buy this mirrorless camera. Haha.
And with 'him', I'm designing schedule for next year's trip.
Jadi, mau kemana aja kita? *senggol orangnya* ^^


Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, October 10, 2012

Dreamers


Ending draft saya sedikit lagi. Hari ini harus selesai semua.
Yah, harusnya sih kemarin.
Tapi kemudian ada 'interupsi' sampai tengah malam.
Melibatkan adegan melingkar di sofa seperti janin, dan ada yang pindah-pindah lokasi seperti kucing habis beranak. Haha.

Ada perjalanan imajiner.
Rencana-rencana yang dipetakan tanpa tahu kapan dilakukan.
Tapi itu menyenangkan.
Sudah berapa abad saya tidak berangan-angan? *sigh*

Jadi siang ini, saya akan bertapa demi ending yang sudah nyaris jebol dari kepala.
Sebelum ada interupsi lagi. Sampai tengah malam lagi.

Hey you!
Seems it will become your habit, eh? ^^

“You know what charm is: a way of getting the answer yes without having asked any clear question.” 
 ― Albert Camus


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Monday, October 1, 2012

Enno The Explorer

Keren kan judulnya?
Tapi si Enno kepalanya ditutup kerudung, dan model rambutnya nggak bob ala batok kelapa deh. Hehehe.

Kenapa judulnya begitu? Karena saya sedang siap-siap liburan akhir tahun. Bukan di bulan Desember, tapi November. Saya dan beberapa teman akan pergi lagi ke Jogja, ke Gunung Kidul lagi. Tapi kali ini nggak mengeksplorasi pantai-pantainya, melainkan guanya.

Destinasi utama yang sudah dibicarakan dengan adik saya, Ridwan, adalah Gua Jomblang di Kecamatan Semanu, Gunung Kidul. Gua yang fenomenal banget (Amazing Race #9 syuting di sini kemarin) dan bikin saya penasaran sejak lama.

Siang ini, saya membicarakan itinerary kami dengan Ridwan. Rencananya lima hari di sana. Hari pertama, sepertinya kami harus latihan rappelling dulu untuk melemaskan otot-otot. Rappelling itu metode naik-turun dengan seutas tali. Bergelantungan kayak Tarzan gitu deh. Tau kaaan?
Dan buat yang belum tahu Gua Jomblang, ini gua yang bentuknya vertikal, seperti sumur. Dari bibir gua sampai dasarnya, kedalamannya 60-90 meter. Diameter mulut guanya 50 meter. Bisa bayangkan nggak, sumur yang lebarnya 50 meter dan dalamnya 90 meter? Wiiih! mungil banget deh! *dipentung*

Rencananya, kami juga mau kemping di pinggir entrance gua. Ala Pramuka gitu deh. Secara saya sudah lama lho nggak kemping. Mudah-mudahan nggak ada ular nyasar ke tenda saya. Gua Jomblang ini soalnya di tengah hutan jati.

Intinya sih dari itinerary yang dibicarakan sambil cekakak cekikik tadi (saya dan Ridwan kalau ngobrol memang begitu), kami mau eksplorasi Gunung Kidul lagi. Ada air terjun yang baru kan, ya? Sri Gethuk kalau nggak salah. Lalu cave tubing lagi! Yihaaa! Saya belum nyoba tubing di Gua Kalisuci lhooo... (Kemarin yang di  Gua Pindul).

Tapi kalau mereka ngajak ke pantai lagi, boleh aja sih. Asal jangan Pantai Baron-Kukup-Krakal. Tiga pantai itu udah pasaran banget. Ramai dan nggak perawan. Juga nggak usah ke Pantai Indrayanti. Isinya tempat makan semua dan ramai sama musik dangdut. Eww!

Karena selama di sana kami akan nyewa mobil, mau nggak ya kira-kira mereka saya rayu ke pantai-pantai paling ujung di Gunung Kidul? Kemarin kan saya ke Pantai Siung. Masih ada lho yang lebih pelosok lagi. Saya kepingin ke Pantai Sadeng. Letaknya paling ujung. Pantai ini dulunya muara Bengawan Solo Purba.

Ada satu hal yang mengganggu pikiran saya sebenarnya. Ibunda Wuri kan baru pulang haji pas exploration week kami. Jangan-jangan Wuri nggak bisa gabung. Saya pastinya akan menyuruh dia membantu-bantu keluarganya dulu di rumah, kalau memang sibuk syukuran atau apa.

Tabahkan hatimu ya, Wur! :)

Untuk sementara ini, karena masih sebulan lagi, tentunya saya harus konsentrasi dulu menyelesaikan Flamenco Project yang tinggal sedikit lagi. Soal tiket transportasi, peralatan kemping, mobil sewaan dan penginapan, Ridwan yang menguruskan. Saya tinggal berangkat. Itu salah satu gunanya adik. *ketawa puas*

Yasud, gitu aja.
Novel saya sudah mulai di puncak konflik. Ibarat tabel, kurvanya menanjak ke atas lalu pelan-pelan akan menurun ke bawah lagi. Lalu selesai deh.
Jadi capcus dulu yaaaa!

"Take nothing but pictures. Leave nothing but footprints. Kill nothing but time. Do nothing but caving."
- Caver's creed


Pintu masuk Gua Jomblang. Sumur raksasa! :D
Photo by Heru Hendarto

Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, September 25, 2012

[Flamenco Project] It's So Hard to Finish

Angin menari sebelum sunyi. 
Senja mengecup matahari. 
Ini gerbang malam, sebelum segalanya kelam.

Belakangan agak sulit menciptakan kalimat puitis seperti itu. Tidak ada trigger-pemicunya. Saya tidak sedang patah hati, tidak sedang jatuh cinta. Saya sedang sibuk dikejar-kejar deadline Flamenco Project pertengahan bulan depan. Juga pusing mengurusi karyawan pabrik yang semakin lama semakin tidak disiplin. Bikin saya berandai-andai bisa memecat mereka semua supaya sakit kepala saya sembuh.

Okay, belakangan ini saya memang jadi manusia yang nggak sabaran. Saya butuh ketenangan, butuh suasana yang nyaman, yang bisa menumbuhkan ide di kepala. Saya kepingin menyewa rumah barang satu-dua bulan untuk menyendiri dan menyelesaikan satu novel tanpa harus dirungsingi (bahasa apa ini?) oleh urusan-urusan lain.

Masalahnyaaa... hati kecil saya berkata, ini semacam latihan dasar keprajuritan kepenulisan untuk kelak kalau saya jadi emak-emak rumahtangga, yes?
Saya pasti juga akan sibuk mengurusi ini itu, sementara terpaksa harus menyumbat dulu luapan kalimat dan dialog di kepala, sampai anak-anak pergi ke sekolah atau tidur, atau makan, atau apalah.
Sepertinya saya pasti akan mencuri-curi waktu. Kalau dibandingkan dengan sekarang, pasti lebih senggang sekarang. Hahaha.

Ih, saya ngoceh apa sih?
Saya kan mau cerita kemajuan Flamenco Project. Sudah di akhir Bab 8, dan akan melaju ke bab terakhir, yaitu Bab 9. Setelah itu, saya akan membuat Prolog dan Epilog.
Yup! Aneh ya, saya bikin Prolog belakangan?
Soalnya, saya mau prolognya diambil dari situasi di salah satu bab. Saya sudah punya gambaran adegannya. Tidak akan panjang, mungkin sekitar dua halaman. Dan sepertinya, lagi-lagi saya terpengaruh James Patterson, novelis detektif favorit saya.
Hahaha. Wes, embuhlah! Biar diperiksa dulu sama editor deh!

Menyelesaikan novel kedua ini benar-benar perjuangan. Saya sampai harus kena serangan maag beberapa hari dalam seminggu. Kadang-kadang sepanjang hari saya menulis sambil menahan nyeri lambung. Maag saya ini berasal dari gejala psikosomatis. Nggak elit banget ya? Tapi masih untung daripada psikopat :P

Tapi bukan berarti saya nggak enjoy. Saya sukaaaa sekali sama tokoh-tokoh saya. Jatuh cinta sama tokoh utama prianya yang ganteng, keren, cool, dan mature. Ehem!
Ada nggak ya cowok kayak gitu buat saya? *menadahkan tangan dengan khusyuk*

Hehehe.
Sudah dulu ya. Nanti saya tambah ngelantur. Mau balik lagi ke draft dan Mr M tercintah.
Bubye!

pict from ugh. sorry, I forgot the source :P
Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, August 14, 2012

Just The Way I Am On Twitter

Well, ini tentang Twitter. Tentang diri saya juga.
Kemarin, seorang follower protes karena merasa mentionnya nggak dibalas. Dia bilang dia udah lama beli novel saya dan baca berulang-ulang, mentionnya nggak saya balas. Tapi orang lain yang baru pertama mention malah saya balas.
Reaksi saya? Membatin 'ya ampun dasar abege', lalu nyengir.

Kata Rona, dibalas mention-nya oleh seorang saya memang penting. Saya nggak sependapat. Memangnya siapa saya? Kalau saya Dee atau Clara Ng, atau seleb-seleb itu, mungkin itu penting. Meskipun, buat saya sendiri, kalau saya mention mereka, saya nggak berharap dibalas dan kalau mereka balas pun perasaan saya biasa-biasa saja.

Balik lagi ke soal Twitter dan follower. Banyak yang minta follow back (folbek). Kalau bukan teman di kehidupan nyata atau bukan teman blogger satu link, biasanya saya abaikan. Jangan salah lho, keluarga dan saudara-saudara saya sendiri pun nggak saya folbek kok (siapa tahu mengandung gosip keluarga, saya malas).

Maaf banget ya, sumpah deh bukan saya sombong. Bukan saya nggak menghargai orang-orang yang mengikuti ocehan nggak penting saya di Twitter.
Alasannya: Satu, karena mereka nggak saya kenal secara pribadi. Dua, karena bahasa percakapan mereka adalah bahasa percakapan remaja. Nggak semuanya alay, tapi tetap saja bikin saya geleng kepala. Pembaca-pembaca novel saya itu dikisaran usia SMP-SMA-awal kuliah.Timeline saya akan terlalu penuh dengan percakapan-percakapan yang tidak saya pahami.  Yeah, you can imagine what teenagers talk about :)

Saya pernah unfollow seorang follower yang memenuhi timeline dengan mention-mention membabibutanya kepada seorang idola Korea-nya. Dia melakukannya lima detik sekali, dan saya hitung ada puluhan mention berurutan. Saya tahu, dia sedang memancing si orang Korea untuk membalas mentionnya. Tapi kalau saya jadi si Korea, saya juga nggak bakal balas. Bete malah. Hehe....
Nah sejak itu, saya nggak sembarang 'following a friend.'

Bagaimanapun, saya berusaha untuk membalas mention yang terbaca oleh saya. Itu pun biasanya hanya mention-mention awal mereka. Kebiasaan teman-teman muda ini, kalau mention dibalas terus, obrolan nggak habis-habis. Banyak hal yang ditanyakan. Padahal saya juga punya banyak hal yang harus dilakukan selain twiteran lho, adik-adik. Saya harus mengerjakan pembukuan, harus meneruskan draft, harus bolak-balik ini itu.
Meskipun begitu, kalau saya sedang ada waktu, saya nggak keberatan untuk mengobrol sebentar. Saya senang kok. Cuma ya itu, waktu luang kayak gitu langka.

Dari dulu sampai sekarang, akun Twitter saya untuk bersenang-senang, berteman dan sedikit 'nyampah.' Bukan untuk kelihatan sok bijak dengan banyak-banyak bikin kultwit atau sok kocak dengan status-status ala komedi. Bukan juga untuk menyerang orang nggak bersalah dengan cara melempar status no-mention, hanya karena nggak sependapat dengan dia. Meskipun saya pernah melakukannya ke mantan saya yang labil-plinplan-nggakjelas-yang-entah-kenapa-dulu-saya-tolol-sekali-suka-sama-dia.
Sekali-kalinya cuma nyindir ke dia saja, but he deserved it.

Yah, ada sih yang nggak sependapat dengan saya soal prinsip saya menggunakan Twitter, dan nyindir saya bego. Ya sudah, saya banned deh.  Saya kejam? Keji? Tak berperikemanusiaan? Enggak ah. Saya cuma menolong orang yang sudah nggak nyaman melihat saya di timeline-nya (terlihat dari sindiran-sindirannya), tapi nggak enak untuk unfollow saya. Dengan kata lain, memudahkan dia saja :)

Satu lagi, banyak yang mengira saya ini lemah lembut dan cewek banget gara-gara tulisan-tulisan mellow saya. Kata Rona sih, yang saya tulis itu mencerminkan diri saya yang sebenarnya. Hati saya yang perempuan banget.
Tapi ssssttt....saya yang sehari-hari tampak nggak seperti itu!
Tanya Rona dan Wuri, yang pernah beberapa hari tinggal seatap sama saya. Saya nggak tahu mereka melihat saya bagaimana, tapi yang jelas saya nggak lemah lembut deh kayaknya. Hehehe... *bilang gue lemah lembut, kalian gue jitak*

Jadi, yah... kalau kadang-kadang di Twitter saya cuek dan jutek, diri saya sehari-hari memang begitu. Nggak dibuat-buat. Lemah lembutnya di dasar hati paling dalam ajyaaah hahaha...
Harap maklum. Dan makasih banyak buat yang sudah dan akan mem-follow akun Twitter saya.
Trust me, I'm happy and appreciate it! ^_^

Hari ini tidak ada laporan draft. Saya menemukan kesulitan sedikit tentang konflik, jadi libur tidak menulis dua hari untuk merenung. Day 26-27, still on page 51, chapter IV, with 13.443 words.


... DAN ITU BOHONG!
pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Saturday, May 5, 2012

Quick Update: Siaran Selamanya Cinta

Jadi begitu ya rasanya diwawancara? Hahaha...

Saya yang biasanya mewawancara, sore ini keadaannya dibalik. Saya diwawancara untuk radio Pro1 FM. Disiarkan di udara, live. Itu radio RRI kan? Jangkauannya luas sekali. *glek*

Saya yang biasa bekerja di belakang layar, sekarang mendadak harus berada di depan. Langsung menghadapi khalayak. Setelah siaran radio ini, dua minggu lagi saya jadi narasumber di gathering penulis Bukune. Duduk di depan sekian puluh orang yang siap bertanya... hadeeeh! Grogi!

Setelah novel Selamanya Cinta terbit, sekarang saya jadi punya teman-teman baru anak sekolahan (saya nggak suka istilah fans/penggemar). Abege, masih kinyis-kinyis. Mereka juga jatuh cinta pada Abe dan berharap ada sekuel Selamanya Cinta.

Ada nggak yaaa? :P 

Ngomong-ngomong, cerita dong, ada nggak yang dengar siaran obrolan saya sore tadi? Suara SMP saya yang legendaris akhirnya mengudara! Kyaaaa!

Sejak novel Selamanya Cinta terbit pula, saya 'kehilangan' beberapa teman. Entah kenapa mereka menjauh. Padahal, saya merasa saya tidak berubah. Tetap ngocol, tetap preman, tetap ganjen.
Dan apakah saya jadi sombong? Rasanya pun tidak. Buat saya, punya tulisan yang dicetak, diterbitkan, dibeli dan dibaca itu sudah biasa. Toh, saya pernah jadi jurnalis. Saya membuat majalah dengan tim redaksi. Mencetaknya, menerbitkannya, menjualnya. lalu dibaca ribuan orang seluruh Indonesia karena media kami berskup nasional. Dan lagi-lagi, kalimat di atas itu bukan bermaksud menyombongkan diri. Itu hanya bukti bahwa saya tidak punya hal yang bisa disombongkan.

Gue ini siapa sih? Plis deh!

Tapi sudahlah... saya malas mikirinnya. Jadinya saya malah tahu, yang mana teman sejati bagai kepompong itu. Ya kan? Ya kan? :D

Lagi-lagi quick update-nya kepanjangan! Sudah ya. Sudah waktunya menakut-nakuti diri sendiri. Mau nonton film Children of the Corn: Genesis. Hiiiiy!


pict from here


 Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, March 27, 2012

Saya dan Nina

Menulis adalah mengumpulkan serpihan-serpihan kenangan dan perasaan. Menyatukannya sebagai prasasti, simbol keberadaan.

Dalam otak saya penuh berjejalan potongan-potongan adegan dan dialog yang entah kenapa selalu mendesak-desak minta dikeluarkan. Mungkin itu sebabnya saya suka menulis. Dan saya melakukannya bahkan sejak masih di sekolah dasar. Mencoret-coret bagian tengah buku tulis dan entah kenapa selalu membubuhkan tanda tangan dengan nama Nina.

Barangkali Nina adalah alter-ego saya. Nina yang menulis di semua buku diary itu. Di semua cerpen yang pernah dimuat di majalah-majalah remaja dahulu kala. Di blog ini, dan bahkan di novel itu.

Seringkali saya terheran-heran sendiri membaca hasil tulisan saya setelah beberapa waktu kemudian. "Kemarin gue nulis ini? Kok bisa gini ya?" Biasanya itu pikiran saya. Saya ingat bahwa memang saya yang menulis. Tetapi saya tak ingat proses ketika menorehkan kata demi kata menjadi tulisan itu. Seolah-olah saat menulis saya mengalami trans.

Setelah dewasa, saya tidak lagi menandatangani coret-coret saya dengan nama Nina. Tidak ada tanda tangan sama sekali. Tetapi Nina yang dulu masih ada di dalam sana. Nina yang melankolis, yang sangat suka menulis dan tak pernah bisa melewati satu hari pun tanpa merangkai kata. Bagi Nina, menulis adalah candu.

Maka, ketika saya menulis novel Selamanya Cinta itu, saya menyuruh Nina keluar dari persembunyiannya. Memaksa dia menolong saya menyelesaikan bab demi bab, dalam waktu kurang dari tiga bulan. Saya dan Nina menjadi partner yang kekompakannya tak tertandingi.

Kali ini, saya akan membangunkan kembali Nina dalam diri saya, berkaitan dengan proyek novel kedua. Karena novel ini benar-benar dimulai dari nol, dibutuhkan segenap daya upaya dan konsentrasi.

Doakan kami, eh saya ya... ;)


Image and video hosting by TinyPic

Thursday, February 16, 2012

Quick Update: Hemat Energi

Hai hai...

Ini update kilat ya. Mau jawab e-mail yang numpuk di inbox, tapi nggak punya energi banyak. Jadi jawab semua di sini.
Soal Phoebus. Dia bukan pacar saya. Ehm, belum... (ngarep). Asal tahu aja, sejak kejadian putus eh diputusin sama si Pejalan Plinplan (iya, namanya udah ganti) yang payah, nggak jelas dan galau to the max (iya, dia juga reader, dan bodo amat dia baca ini), saya fokus dulu ke sejumlah draft novel yang tersimpan di folder dan rencana-rencana yang lain. Bukan trauma (apa-apaan trauma gara-gara cowok nggak mutu), toh jodoh nggak akan lari kemana, yes?
Soal jadi mandor di pabrik. Pembangunan pabriknya sudah selesai, pra produksi sudah berjalan sebulan. Minggu depan sudah produksi. Saya tidak tahu masih dilibatkan atau tidak. Kalau saya tidak dilibatkan lagi dalam proyek ini, saya bisa kembali menulis. Saya lebih mencintai menulis huruf, daripada menghitung angka. Saya tidak tertarik pada dunia bisnis (kecuali cita-cita punya bakery shop sih hehe).
Kesan-kesan mengurusi buruh? Ternyata mengurusi karyawan intelek dengan buruh beda ya? Mengurusi reporter-reporter yang semuanya lulusan sarjana beda jauh dengan mengurusi emak-emak yang beberapa di antaranya menulis tanda tangan pun tak bisa (ketika disuruh menandatangani tanda terima upah). Saya sekarang harus ekstra sabar dan ekstra senyum. Belum lagi saya ini membawa nama mendiang Ibu, karena beberapa emak-emak itu teman masa kecil Ibu. 
Soal novel. Judulnya sudah ketemu. Cover-nya belum saya lihat sudah saya lihat dan kereeen! (trims buat tim penerbit). Sudah siap cetak, besok saya harus kirim balik surat persetujuan cetaknya via pos/jasa kurir. Susah ya kalau jauh dari peradaban gini. Fyuh! Ngomong-ngomong, dengan noraknya saya nangis baca draft yang sudah diedit editor saya, Iwied. Soalnya jadi lebih mengalir dan 'dalem'. Inget Abe yang asli, hiks... Eh, tahu Iwied kan? Yang punya rumah sebelah sini. Tulisannya saya suka banget. Dia juga ngaku suka tulisan saya. Lho piye jadi saling menggemari? Hehe...
Soal Whitney Houston. Seriously, saya betul-betul berkabung. Sedih berat. Seolah-olah ditinggal kerabat sendiri. Di setiap lagunya ada momen ketika saya tumbuh dari seorang anak kecil tomboy suka memanjat pohon, ababil yang galau dan cewek dewasa (yang tetap galau). 
Soal traveling. Banyak teman di luar kota menagih janji, atau sekedar bertanya kapan saya merealisasikan rencana mengunjungi kota mereka. Dengan berat hati saya sampaikan, saya masih belum tahu waktunya yang pasti. Alasannya: Satu, dana terpakai dulu mengongkosi ayah saya umroh dua bulan lagi. Sebab, itu sudah menjadi resolusi saya paling awal sebelum resolusi traveling kemana-mana. Dua, bagaimana pun juga saya belum bisa melepas pabrik dalam waktu dekat, apalagi sebelum produksi pertama dalam satu-dua bulan ini. 

Ngomong-ngomong kok postingannya jadi panjang ya? Ini sih namanya buka quick update. Cih! Sebetulnya masih ada pertanyaan yang belum dijawab, tapi pembukuan pabrik sudah menanti. Huhuhu...
Get to go. Ciao!

“I am free, no matter what rules surround me. If I find them tolerable, I tolerate them; if I find them too obnoxious, I break them. I am free because I know that I alone am morally responsible for everything I do.”
― Robert A. Heinlein

pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Sunday, January 8, 2012

Aduh!

Jadi saya sakit leher.

Entah kenapa tiba-tiba saja kalau menoleh sakit dan ngilu. Lalu saya panggil tukang urut. Sesudahnya malah bengkak sampai ke bahu dan punggung! Sakitnya cenat-cenut nggak karuan. Mending kalau cenat-cenut karena jatuh cinta, ya kan? Saya nangis menggerung-gerung semalam karena tak tahan sakit. Memalukan sih sebenarnya. Hahaha...

Kalau kalian pikir penderitaan cukup sekian, kalian salah. Soalnya masih ada lagi. Kulit saya gatal-gatal kena virus entah apa. Gara-gara kualitas air di rumah sedang buruk sekali. Sepertinya gara-gara hujan terus menerus, sungai bawah tanah banjir dan mengandung lumpur. Keruhlah air sumur kami. Kami memang tidak menggunakan air PAM, namanya juga di dusun *sigh*
Orang-orang serumah sih kulit badak, tidak ada dampak apa-apa di kulit mereka. Tetapi kulit saya yang sejak dulu memang sensi langsung bentol-bentol, gatal dan rasanya panas. Kulit yang sensi ini yang bikin saya jadi orang yang gila kebersihan. Soalnya kulit saya mudah terkena virus. Oh kulitkuuu!

Kedua hal ini: sakit leher dan gatal2 kulit menyebabkan dampak yang sangat signifikan dalam perikehidupan saya akhir-akhir ini. Tidur tidak nyenyak, mengerjakan apa-apa tidak konsentrasi. Cenat-cenut di leher sebelah kiri ini benar-benar sesuatu deh, nggak alhamdulillah ah!

Saya sudah pakai krim khusus untuk meredakan nyeri otot yang rasanya hangat, semacam counterpain. Tapi masih bengkak. Ada yang bisa kasih saran krim apa yang manjur? Help me huhuhu....

Lalu masih ada satu pekerjaan lagi. Semacam finishing touch dari draft novel yang sudah saya kirim ke penerbit. Saya disuruh membuat kata pengantar/ucapan terima kasih dan profil penulis plus foto diriku. Oh ya ampuuun! Akhirnya tibalah saatnya saya harus menunjukkan wajah culun ini kepada dunia!

Tidaaak! Saya belum sempat ke Korea untuk operasi plastik mirip Yoon Eun-hye, gimana dong?

Kemudian untuk mengakhiri posting keluh kesah ini, saya akan memamerkan award dari Dek Joko a.k.a Shally, yang dengan baik hati memberi saya 5 pertanyaan juga. Ya ampun, Jok! Leher sakit masih dikasih PR juga? *jitak*

Ini pertanyaan dan jawabannya:


  1. Siapa guru favoritmu? Kalau maksudnya guru di sekolah, saya nggak punya. Saya nggak suka sekolah. Serius. Kalau waktu itu sudah ada homeschooling, pasti saya lebih memilih itu. Tapi kalau maksudnya guru kehidupan, wah banyak sekali guru saya. Mendiang ibu saya terutama. Ibu mengajari saya budi pekerti, dan menurut saya itu yang paling penting sebelum kita belajar apapun dan dari siapapun di luar sana.
  2. Apa makanan yang kamu sukai dan tidak disukai? Saya nggak terlalu suka makan-makan, dan makan saya porsinya sedikit. Teman-teman yang mentraktir saya suka mengeluh, katanya rugi mentraktir saya karena makanannya suka nggak habis hehe... tapi adakalanya saya makan banyak. Biasanya kalau baru sembuh dari sakit, atau kalau rasanya mirip dengan masakan buatan Ibu. Makanan yang tidak disukai? Yang berbau menyengat. Please deh, saya pasti muntah. Serius. Soal porsi makan yang nggak jelas ini bikin berat badan saya juga nggak jelas. Turun naik.
  3. Ceritakan pengalamanmu yang berkesan? Waktu pertama kali caving/telusur gua. Di dasar bumi sana gelap, sunyi, hening dan basah. Saya mengarungi sungai bawah tanah yang dalamnya sampai sedada, sampai di rongga gua tempat bersarang ribuan kelelawar dan mabuk bau guano (kotoran kelelawar) yang menyengat. Turun tanpa alat bantu dari atas jeram (masih di dalam gua) dan setelah 3 jam berada di perut bumi, waktu naik lagi ke atas rasanya huaaaaah! Oksigen! Lega! Hahaha
  4. Siapa cinta pertamamu? Ah siapa ya, lupa! Saya sudah naksir-naksiran dari jaman masih TK. Iya, saya memang ganjen dan sok tua haha... 
  5. Who is your best friend? Banyak. Teman saya banyak, dan semuanya saya anggap baik-baik. Saya sebenarnya agak menghindar dari istilah 'sahabat'. Saya ini soliter, nggak suka terikat sama embel-embel seperti itu. Tapi memang ada beberapa teman yang sesuai dengan kriteria 'sahabat.' Cuma tetap saja saya bilangnya 'teman.' Padahal novel Kisah Abe itu tentang persahabatan lho. Cih, saya ini sungguh tak konsisten! :))


Kata Joko ini harus dilempar lagi ke lima orang teman. Hmm... siapa ya korban berikutnya? Baiklah, ini dia pasukan galau dalam list saya! Hihihi...

  1. Gloria
  2. Rona
  3. Fera
  4. Lita
  5. Annesya

Baiklah saya cukupkan sekian postingan kali ini. Berhubung leher saya kembali cenat-cenut minta perhatian dan saya harus berbaring manis dulu. Wassalam.


“I live in my own little world. But its ok, they know me here.”
― Lauren Myracle


ini dia award-nya!

Image and video hosting by TinyPic

Friday, January 6, 2012

Pecundang yang Sebenarnya

Orang-orang menganggapku berhati mulia, karena mau memaafkan si Pejalan dari Negeri Pagi. Tentu saja aku mau. Ia tidak berkhianat. Satu-satunya kesalahannya karena ia plinplan dan bodoh.
Tetapi ada satu-dua yang lain, yang berkhianat padaku, merekalah yang tak termaafkan.

.............................

"Seharusnya itu milik kamu ya?" Ujarmu sore tadi, saat kita berdua bersama melihat foto-foto itu. "Hidupmu, anakmu, dan kebahagiaanmu."

Aku tidak suka mendengar komentarmu, tapi hanya tertawa saja. Seharusnya begitu. Kalau si anak babu tidak merebutnya dariku. Tapi aku pikir-pikir lagi kok sepertinya aku yang beruntung.

"Beruntung gimana?" Kamu terbelalak. "Pacarmu direbut orang kok beruntung?"

"Kamu lihat sendiri aja."Aku menunjuk foto itu. "Perempuan itu dulu tidak begini. Sekarang? Acak-acakan, hitam, freckles di seluruh wajah, tubuh tidak berbentuk dan lihat anaknya. Kumal sekali. Aku tidak akan mengomentari wajah anaknya jelek atau tidak. Anaknya kan tidak berdosa. Tapi kalau melihat keseluruhan dari foto mereka sekeluarga, apa kau bisa bilang bahwa hidup mereka bahagia?"

"Nggak cukup secara materi?"

Aku menghela napas. "Aku nggak bicara soal materi, Er. Kurasa mereka tidak kekurangan. Aku bicara soal kenyamanan, kebahagiaan, ketentraman dan ketulusan. Perempuan seperti apa yang kusut masai begini saat ia baru saja memulai hidup barunya dan punya anak pertama? Teman-temanku, sepupu-sepupuku, mereka bertambah cerah, lebih gemuk, lebih segar, dan anak-anak mereka meskipun mungkin tidak tampan atau cantik, tapi terlihat sehat dan bersih. Kebahagiaan, kenyamanan dan ketulusan mendorong siapapun untuk mengurus diri dan keluarganya dengan baik."

"Tapi di foto-foto ini mereka senyum. Mereka kelihatan baik-baik aja."

Aku tersenyum. "Dalam hatinya siapa tau kan?"

Kamu Er, tidak tahu seperti apa cerita yang sebenarnya. Si anak babu itu mengambil semua kisah cintaku dan harapan yang tumbuh bersamanya. Tak bersisa. Mengawini lelaki itu dan tersenyum mengejek sambil memperlihatkan cincin kawin di jari manisnya padaku sehari setelah pernikahan sialan itu.

Lelaki itu lalu menyembah-nyembah memohon maafku dan aku mengusirnya meski dalam hati kumaafkan dia. Orang seperti apa aku jika tidak memaafkannya, sementara Tuhan saja Maha Pengampun? Lalu kau pikir si anak babu itu hidup tenang di habitatnya? Aku sudah mengutuknya, Er. Dan kau tahu, doa orang yang teraniaya selalu dikabulkan kan? Kudoakan ia membawa penyesalannya terhadapku seumur hidup sampai akhir hayatnya. Kudoakan ia selalu teringat dosanya padaku di setiap kali ia melakukan sesuatu. Kudoakan setiap kali ia melihat anaknya, ia sadar bahwa ia telah menyakiti aku.

Orang-orang bilang betapa sabarnya aku. Betapa baiknya aku menyikapi peristiwa itu.

Who's the good one? Me?

Biarkan aku tertawa terbahak-bahak. Mereka tidak tahu aku juga bisa jahat. Kuberikan baju-baju bekasku, dan tas-tas yang sudah bosan kupakai. Kuberikan semua benda bekas pakaiku kepada si anak babu, di depan lelaki itu. Kulemparkan (dalam arti harfiah) semuanya ke depan hidung si anak babu yang bodoh itu, yang memungutinya sambil tertawa girang. Tapi lelaki itu cukup pintar untuk mengerti maksudku melakukannya. Wajahnya mendadak murung.

Ya, aku memang bermaksud bilang padanya: Ambil perempuan itu. Perempuan yang levelnya jauh di bawahku. Perempuan yang hanya pantas memakai semua barang bekasku, termasuk kau. Kau juga barang bekasku. Karena ternyata seleramu memang serendah itu dan dengan begitu maka aku bersyukur kau melepasku.

"Hahaha. Ambil, bungkus, bawa pulang. Kamu biasanya ngomong gitu kalo lagi kesel." Kamu tergelak.
"Yea, I did. And I meant it, Er."

Lalu suatu hari, Er, Tuhan membukakan mataku. Tuhan memberitahu padaku mengapa Ia tidak memberikan lelaki itu padaku, dan memberikannya pada si anak babu itu.

Kau sudah melihat rumah itu. Aku tidak bicara tentang bagus atau jelek bangunannya. Rumah keluargaku sendiri pun bukan istana. Tapi kau lihat sendiri kamar mandi yang mengerikan itu. Yang sepertinya bertahun-tahun tidak pernah dibersihkan. Lumut dan sisa kotoran manusia yang mengerak di lubang WC-nya, bak yang airnya hijau oleh lumut dan debu langit-langit. Kau lihat sendiri tirai yang sobek-sobek di ruang tamu itu, dan bau kotoran kucing yang sayup-sayup menerpa hidung. Karpet yang bau pesing, dan tiga ekor anjing bau hilir mudik di dalam rumah.

Jujur, aku pun baru kali itu menginjak rumah keluarganya. Aku belum pernah datang lagi ke sana sejak masih kanak-kanak dulu. Aku tak ingat apa-apa karena dulu masih terlalu kecil.
Aku lupa keluarga seperti apa mereka.

Er, aku lega tidak menjadi bagian dari mereka. Tak mungkin tahan jadi menantu di keluarga itu. Aku tak akan tahan berkunjung ke tempat yang jorok itu. Aku pasti harus dipaksa dan akhirnya muntah-muntah. Aku tak akan bisa menginap di rumah seperti itu. Itu bukan kehidupan yang biasa kujalani. Jorok. Kumuh. Menjijikkan.

Tapi itu adalah kehidupan yang cocok buat si anak babu, Er. Orang rendahan seperti dia memang pantas di sana.

"Rendahan?"

"Ya. Rendahan. Aku nggak menilai dari status dia anak siapa. Bukan karena dia anak seorang babu yang ayahnya kabur setelah menghamili ibunya. Bukan begitu caraku menilai seseorang. Aku menilai dia dari apa yang sudah dia lakukan padaku. Menggoda kekasih orang dan merebutnya. Itu yang membuat dia jadi orang yang rendah."

Thanks God. Sekarang aku tahu, Erina. Bahwa sejak dulu bukan aku yang pecundang. Merekalah yang pecundang. Mencuri kebahagiaan orang lain. Mereka, bukan aku. Karena aku hanya perempuan yang beruntung.


Orang yang merebut kebahagiaan orang lain dialah pecundang yang sebenarnya.
-my selfquote-

pict from here

Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...