Showing posts with label Phoebus. Show all posts
Showing posts with label Phoebus. Show all posts

Friday, February 3, 2012

Absurd

Seharusnya kau bertanya kenapa aku tidak pernah menulis tentang teh. Kenapa selalu kopi? Aku akan mengangkat alis, memandangmu penuh tanya. Tapi kan kau suka kopi! Protesku.

Kau bilang, teh juga bisa terasa romantis. Teh camomille hangat yang wangi dan membuat tubuh relaks.
Kau menyesapnya di kafe mana, Sayang? Mengapa tak mengajak aku?

Kuberitahu padamu satu hal. Tak ada teh camomille di sini. Ini dusun kaki gunung. Kau hanya bisa mendapatkan teh hitam, hasil fermentasi teh lokal, yang bahkan tak dicampur kembang melati agar lebih wangi. Hanya teh, hitam, kental dan tak senikmat teh di Jogja sana. Kau pasti pernah meminumnya kan? Aku tergila-gila pada racikan teh di sana, tetapi sungguh menyebalkan tak pernah berhasil menirunya.

Tehku biasa saja. Teh agak encer karena sakit maagku, tanpa gula, dan harus panas. Sambil menunggu bisa dihirup, kutempelkan dinding gelasnya yang panas di pipiku.

Kopi bagimu adalah falsafah kehidupan yang lebih pelik dari sekedar menyeduhnya dengan air panas, kan? Bagaimana kalau kubilang segelas kopi juga mengajarkan pada kita kekuatan menghadapi hidup? Aku percaya segala cobaan dan musibah akan berujung pada rencana indah dari Tuhan. Ibarat bubuk kopi dan gula yang disiram air panas, menguarkan wangi harum dan kenikmatan saat disesap.

Lalu kau tersenyum sambil menganggukkan kepala. Sudah kuduga.

Kurasa kau memang lebih mencintai kopi daripada teh. Lebih mencintai menulis daripada menghitung. Lebih mencintai sendirian daripada keramaian.

Kuharap kau juga mencintai aku.

I have measured out my life with coffee spoons.
-T.S. Eliot


pict from here
Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, January 25, 2012

You Are

Kadang-kadang muncul pertanyaan dalam benakku, perempuan seperti apa yang kau sukai? Tinggi, langsing, berkulit pualam dengan wajah seayu rembulan? Perempuan dengan langkah gemulai dan senyum anggun keibuan? Atau hanya perempuan biasa yang bisa menjadi teman diskusi yang hangat, setelah membuatkanmu secangkir kopi panas yang harum dan sepiring penganan kesukaanmu?

Aku bukan salah satu di antaranya, seandainya kau berpikir begitu. Suatu saat, kapan saja, tiba-tiba aku akan duduk di sebelahmu ketika kau sedang menulis. Membuyarkan konsentrasimu dengan celoteh tak pentingku, meski aku sadar itu mengganggumu (karena aku juga suka menulis seperti dirimu). Aku akan membuatmu sejenak lupa pada plot yang sudah kau susun di kepala. Mengacaukan alur yang sedang kau buat dengan seksama. Menceritakan padamu anekdot yang tak ada hubungannya dengan tema. Dan yakinlah, aku akan membuatmu tergelak, tertawa.

Diskusi yang hangat versiku adalah percakapan spontan ketika ide melintas, meski di saat yang tak tepat. Akan ada kopi dan penganan kesukaanmu nanti. Ketika duduk di beranda senja hari, menikmati matahari terbenam dengan saling berdiam diri. Aku tak suka mengganggu momen itu dengan percakapan semacam: "Jadi menurutmu gaya minimalisme Hemingway punya pengaruh penting pada perkembangan fiksi abad ke-20?"
Jangan tanyakan itu padaku, karena aku pasti akan menjawab dengan tak acuh: "Yang jelas Hemingway muda itu ganteng sekali, Sayang."

Dan muncul lagi pertanyaan baru, apa yang akan kau lakukan jika aku menjawab begitu? Menggeleng-geleng dengan wajah kesal? Atau memberiku penampakan dekik di pipimu ketika tersenyum, menjangkau kepalaku dengan tanganmu dan mengacak-acak rambutku?

Atau barangkali reaksimu tak semanis dugaanku. Mungkin kau akan membuyarkan acara menikmati sunset itu dan kembali berkurung di kamar kerjamu. Kembali ke dunia imajimu yang di dalamnya tak ada diriku menemanimu.

Kamu hebat, kata temanku. Penulis hebat di kolong langit.

Kadang-kadang, terlintas dalam benakku pertanyaan. Siapa sebenarnya yang kau tunggu dalam pengasinganmu? Perempuan mana? Seperti apa? Bukan aku?


You are the smell before rain.
You are the blood in my veins.


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, January 11, 2012

It was So Fun...

It was so fun when I saw you digging in the yard.

Sinar matahari, kilau di mata cangkulmu, rambut gondrong yang beriap ditiup angin pantai berbau garam. Itu hanya dalam sebuah foto.
Aku membayangkan senyummu yang lebar, dengan dua dekik di pipi, ketika tengah mematri kalimat demi kalimat di layar yang berkedip itu. Barisan kata yang bercahaya, seperti matahari siang di halaman rumahmu.

"Dia lucu, ya kan?"
"Cerdas dan agak sinting."
"Jadi penasaran melihat ekspresinya waktu menuliskan fragmen-fragmen lucu itu."
"Kurasa wajahnya biasa saja. Datar."
"Tidak. Aku membayangkan matanya berbinar-binar. Alisnya terangkat sedikit. Ada seringai kecil di sudut bibirnya. Mungkin juga akhirnya dia tergelak setelah menulis satu paragraf utuh. Mungkin ada segelas kopi di sebelah komputernya. Pahit, masih panas, uapnya mengepul-ngepul menyebarkan wangi ke seantero ruangan. Aku membayangkan ia punya ruang kerja yang kecil. Mungkin juga merangkap kamar. Sebuah ranjang ukuran sedang, sebuah meja tulis dan kursi ergonomic. Ada beberapa foto perjalanannya di Eropa di atas meja. Beberapa poster pemain sepakbola dan bendera klub kesayangannya di dinding. Kurasa ia tidak merokok. Jadi kamar itu pasti bersih. Tidak wangi, tapi juga tidak berbau apak. Hanya aroma khas laki-laki. Feromon. Itu saja."
"Bagaimana kau bisa membayangkannya seperti itu?"
"Dengan membaca tulisannya tentu saja."
"Jadi kau pikir dia laki-laki yang menyukai kebersihan?"
"Cukup bersih, tapi bukan freak."
"Dia suka sepakbola? Kau yakin dia memajang poster atau bendera?"
"Yakin. Satu atau dua, kurasa. Tidak seheboh abege."
"Kau... sampai seperti itu...kau suka sama dia?"

Bagaimana aku harus menjawabnya? Sukakah aku padamu, wahai orang sinting yang cerdas? Aku tertawa tergelak-gelak membaca fragmen-fragmen konyol yang kau tuliskan. Bertanya-tanya sendiri darimana kau dapatkan imajinasi selucu itu? Apakah kau memang orang yang sekonyol tokoh dalam tulisanmu? Kenapa aku tak bisa berhenti membayangkan dirimu di depan komputer, menuliskan kata demi kata yang sinting itu?

It was so fun when I imagine you wrote it with a smile.

Dengan dua dekik di pipimu ketika senyummu semakin lebar dan akhirnya kamu tergelak sendirian. Sangat menyenangkan ketika membayangkan aku pergi ke tempatmu suatu hari nanti dengan beberapa teman. Berjalan-jalan di pantaimu yang indah, lalu kita berpapasan. Lalu teman-temanku akan mendorongku untuk menyapamu.

It was so fun when I realize that I'm falling in love with you.

pict from here

Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...