Kau bilang, teh juga bisa terasa romantis. Teh camomille hangat yang wangi dan membuat tubuh relaks.
Kau menyesapnya di kafe mana, Sayang? Mengapa tak mengajak aku?
Kuberitahu padamu satu hal. Tak ada teh camomille di sini. Ini dusun kaki gunung. Kau hanya bisa mendapatkan teh hitam, hasil fermentasi teh lokal, yang bahkan tak dicampur kembang melati agar lebih wangi. Hanya teh, hitam, kental dan tak senikmat teh di Jogja sana. Kau pasti pernah meminumnya kan? Aku tergila-gila pada racikan teh di sana, tetapi sungguh menyebalkan tak pernah berhasil menirunya.
Tehku biasa saja. Teh agak encer karena sakit maagku, tanpa gula, dan harus panas. Sambil menunggu bisa dihirup, kutempelkan dinding gelasnya yang panas di pipiku.
Kopi bagimu adalah falsafah kehidupan yang lebih pelik dari sekedar menyeduhnya dengan air panas, kan? Bagaimana kalau kubilang segelas kopi juga mengajarkan pada kita kekuatan menghadapi hidup? Aku percaya segala cobaan dan musibah akan berujung pada rencana indah dari Tuhan. Ibarat bubuk kopi dan gula yang disiram air panas, menguarkan wangi harum dan kenikmatan saat disesap.
Lalu kau tersenyum sambil menganggukkan kepala. Sudah kuduga.
Kurasa kau memang lebih mencintai kopi daripada teh. Lebih mencintai menulis daripada menghitung. Lebih mencintai sendirian daripada keramaian.
Kuharap kau juga mencintai aku.
I have measured out my life with coffee spoons.
-T.S. Eliot
![]() |
| pict from here |


