Showing posts with label Spooky. Show all posts
Showing posts with label Spooky. Show all posts

Thursday, December 19, 2013

The Night Falls In The Thousand Doors

Memasuki gerbangnya malam itu, saya langsung merasa seolah-olah memasuki dunia lain, Langit yang menaungi Semarang malam itu pekat sekali rasanya. Oksigen yang saya hirup tiba-tiba menipis. Degup jantung saya bertalu-talu. Saya tidak takut. Hanya khawatir dengan apa yang akan saya lihat nanti.

Jadi, di sanalah saya berdiri. Tempat yang menjadi obsesi saya bertahun-tahun, yang ingin sekali saya kunjungi setelah melihat foto bangunannya di internet. Sebuah gedung kuno bergaya art deco yang dibangun tahun 1903, dan dulunya menjadi kantor perusahaan kereta api pemerintah kolonial Belanda, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij.

Saya, si penggemar bangunan kuno, akhirnya berdiri di depan gedung Lawang Sewu.
Yang katanya punya seribu pintu.
Yang katanya seram itu.

Harga tiket masuk gedung ini 10 ribu rupiah per orang, plus 30 ribu rupiah untuk membayar jasa pemandu. Malam itu, pemandu saya seorang anak muda bertubuh kecil dan ramah. Ia mengajak saya berjalan melewati halaman remang-remang, yang di tengahnya ada pohon beringin raksasa. Pohon itu, katanya, ditanam saat gedung diresmikan tahun 1907.

Mas pemandu (ah, saya lupa namanya, padahal ia sudah memperkenalkan diri) minta maaf karena dari dua gedung induk yang ada, malam itu pengunjung hanya bisa menjelajahi satu saja. Gedung paling depan sedang direnovasi, sehingga sedang ditutup untuk umum. Sayang sekali, padahal gedung itulah yang ingin sekali saya lihat. Ada serangkaian jendela berkaca patri besar dengan mozaik indah di sana. Di setiap film tentang Lawang Sewu (dokumenter maupun horor), jendela-jendela itu menjadi fokus kamera.

Gedung yang satu lagi, adalah gedung di mana terdapat ruang bawah tanah penampung air, yang di masa penjajahan Jepang dijadikan penjara dan tempat hukuman.
Jadi, sepertinya penjelajahan saya malam itu ditakdirkan untuk full spooky. Wew. Baiklah. Let's explore.

Kami mulai memasuki gedung, yang sengaja digelapkan. Cahaya hanya berasal dari lampu-lampu di koridor depan. Ruangan demi ruangan yang kami masuki sangat remang, terkadang gelap gulita. Pemandu saya yang sudah mengenal setiap inchi ruangan-ruangan itu, memandu langkah-langkah saya dengan suaranya.

Ruangan pertama, tepat setelah melewati koridor. Hanya ada kekosongan dalam cahaya remang-remang. Merinding? Tidak tuh. Tetapi, tunggu. Saya melihat sekilas, tangan pemandu saya mengetuk pintu saat ia hendak masuk.

Kami pindah lagi ke ruangan lain. "Ini tadinya aula untuk pesta dansa, Mbak," kata pemandu saya. Itu memang ruangan yang lapang berbentuk segiempat. Gelap dan sunyi. Rupanya ini ballroom, pikir saya sambil membayangkan puluhan orang Belanda berdansa berputar-putar di ruangan ini, seratus tahun yang lalu.

Lagi-lagi, saya melihat tangan si mas mengetuk pintu saat mau masuk tadi. Kenapa?

Kami menyusuri lagi ruangan demi ruangan. Saya nyaris tidak mendengar keterangan pemandu saya. Asyik sendiri menikmati aura masa lalu dalam cahaya remang-remang. Membayangkan seperti apa dulu ruangan-ruangan ini. Mungkin penuh sofa dan kursi-kursi tempat duduk para meneer yang mengurusi perkeretaapian Hindia Belanda. Beberapa pribumi berlalu lalang menjadi jongos dan pegawai rendahan yang ditugasi ini itu. Menurut pemandu saya, ada beberapa ningrat pribumi yang beruntung punya jabatan cukup tinggi di jawatan itu. Namun, mereka memiliki ruangan kerja terpisah dari para penjajah itu. Diskriminasi dan rasialisme ternyata dipraktekkan juga di kantor ini. Cih!

Kami tiba di tengah gedung, yang ruangannya bersambung-sambung. Yang ambang pintunya berderet-deret itu. Saya mulai merinding. Tetapi tidak berhenti menjepretkan kamera.
Di tengah-tengah ruangan yang sambung menyambung seperti pantulan cermin, di ujung sana, saya mulai melihat sesuatu.

"Mbak, kita keluar saja," kata mas pemandu. Ia memberi isyarat pada saya untuk segera mengikutinya. Saya menurut. "Silakan memotret di sini. Deretan daun pintu ini bagus kalau difoto," katanya sambil menyingkir dari jarak pandang kamera saya. Wajahnya agak tegang.

Di balik salah satu daun pintu, di ujung sana, saya melihat sekelebatan bayangan perempuan. Oh, sekarang saya mengerti kenapa ia mengetuk pintu seperti semacam salam sebelum masuk ke setiap ruangan. Pemandu saya rupanya punya indera keenam. Saya lega.

Kenapa lega?
Begini lho. Di tempat spooky seperti ini, saya lebih memilih pemandu yang punya indera keenam. Soal keterangan sejarah, sebetulnya tidak perlu repot-repot, karena saya biasanya sudah meriset sebelum datang ke suatu tempat. Pemandu yang punya indera keenam akan menghindarkan kita dari hal-hal yang menyeramkan sebelum terjadi.

"Ayo Mas, kita ke tempat lain!" Saya mengajaknya. Malas kan ya, memotret sembari diamati perempuan di ujung sana itu.

Si mas pemandu mengajak saya ke lantai tiga. Kami menapaki anak-anak tangga dari semen, yang sudah rusak dan somplak dalam kegelapan. Si mas bawa senter sih. Tapi dia malah menerangi arah depan, bukan arah kaki. Jadilah saya, si mata lamur, naik sembari terantuk-antuk dan berpegangan erat pada pinggiran tangga. Masih belum cukup dengan anak tangga yang somplak dan rawan tergelincir, susunan tangga itu rupanya dibuat cenderung tegak lurus. Menyebalkan sekali orang-orang Belanda ini! Mentang-mentang jangkung-jangkung, jadi langkahnya panjang-panjang dan anti gamang! Huh!

Nyaris di puncak tangga, saya berhenti mengomeli para meneer itu. Langkah saya juga berhenti. Pemandu saya ada di depan, berdiri menunggu saya dengan senternya. Tetapi, bukan dia yang membuat saya mendadak tertegun.

Perasaan saya. Perasaan tidak enak yang tiba-tiba menyerbu. Membuat saya ingin mundur dan meninggalkan tempat itu. Seperti ada sesuatu yang memerintahkan saya untuk tidak usah melangkah ke ruangan atas itu. Seperti ada yang bilang 'Pergi! Pergi!'
Suasana kesedihan, kemarahan dan rasa sakit yang dalam melingkupi diri saya. Apa ini?

"Mbak?" Pemandu saya memanggil.
"Oke, oke." Dengan susah payah, saya menggerakkan tubuh saya yang kaku, menapaki anak tangga terakhir.
Di depan kami sebuah ruangan memanjang, sepanjang separuh gedung. Gelap gulita. Jendela-jendela di kiri kanannya terbuka menghadap pekarangan dan langit malam. Hanya sedikit cahaya yang berhasil menembus kegelapan di ruangan ini.

Saya menggigil. Betul-betul menggigil secara harfiah. Udara terasa berat dan sesak. Saya seperti merasakan sedang dipandangi banyak mata dari dalam kegelapan. Belum pernah saya merasa sangat ketakutan seperti itu. Ada hawa kemarahan di seluruh ruangan, bercampur hawa kepedihan. Lamat-lamat saya seperti mendengar bunyi derit dari berbagai sudut. Saya takut. Kalau tangga ke bawah tidak segelap, securam dan serusak itu, saya sudah meninggalkan tempat itu tanpa menunggu si pemandu.

"Mas, ruangan apa ini?" Tanya saya cemas.
Mas pemandu saya itu sedang mengarahkan senternya ke ujung ruangan nun jauh di sana, yang bahkan tak tertembus cahaya.
"Di lantai tiga ini dulunya tempat para tentara Jepang menyekap dan memperkosa perempuan-perempuan yang mereka culik. Pernah dengar jugun ianfu?"

Ya Allah, Gusti.
Tempat seluas ini? Selebar ini? Hanya untuk perbuatan biadab keparat sialan brengsek tak bermoral itu? Khusus banget ya, nyet!
Jugun ianfu adalah budak-budak perempuan yang khusus untuk melayani kebutuhan seksual para tentara Nippon itu. Mereka benar-benar diperbudak dan diperlakukan secara tidak manusiawi. Kadang-kadang, mereka diperkosa beramai-ramai hanya demi kesenangan para penjajah brengsek itu.
Sewaktu masih menjadi jurnalis, saya pernah membuat tulisan tentang ini. Saya mewawancarai beberapa perempuan tua yang pernah menjadi jugun ianfu. Mereka hidup dalam trauma dan kenangan menyakitkan.

Tolong...
Eh? Saya celingukan.
Suara itu entah dari mana, seolah terbawa angin melewati telinga saya. Saya tambah ketakutan. Tidak mau. Saya tidak mau berkomunikasi dengan mahluk-mahluk di tempat ini. Semuanya begitu penuh kemarahan. Penuh kesakitan. Penuh dendam.

"Mbak, kita nggak usah jalan sampai ke sana ya?" Dalam cahaya senter yang membias, wajah mas pemandu saya tampak gelisah. "Euh... nggak apa-apa kan, Mbak? Anu... di sana terlalu banyak. Mbak, ngerti maksud saya, kan?" Ia menatap saya, sepertinya bingung mau menjelaskan.
Saya mengangguk. "Iya, saya ngerti. Yuk turun aja."
Wajah pemandu saya mendadak lega. Ia memandu saya menuruni anak tangga dengan cahaya senternya. Meninggalkan aula yang gelap itu.

Di lantai bawah, dalam perjalanan menuju ke tempat peminjaman senter dan sepatu boot untuk memasuki ruang bawah tanah, ia bertanya. "Rupanya Mbak ini indigo ya? Bisa lihat mereka?"
"Nggak, saya bukan indigo. Bisa lihat juga kadang-kadang. Tapi kalau peka, iya. Saya peka."
"Untung aja. Jadi Mbak mau ngerti. Kadang ada pengunjung yang nggak paham sama kode saya. Mereka suka ngotot dan sok berani. Kadang-kadang itu berbahaya."

Saya pernah membaca tentang beberapa pengunjung yang kesurupan di gedung ini. Mungkin itulah maksud pemandu saya. Hanya saja, ia tidak bisa mengatakannya dengan gamblang. Juga soal keseraman gedung ini. Selama memandu, yang ia ceritakan hanyalah tentang sejarah kegunaan ruangan-ruangan yang ada. Saya bisa mengerti. Karena, manajemen gedung ini yang kini dibawahi PT Kereta Api Indonesia, telah memberi instruksi pada para pemandu untuk memperkenalkan Lawang Sewu sebagai tempat bersejarah, bukan tempat seram untuk uji nyali.

Di lantai satu, saya menukar sepatu dengan boot plastik dan membekali diri dengan sebuah senter. Lalu mengikuti pemandu saya menuruni anak tangga ke bawah tanah.

Kesan pertama? Sesak napas. Oksigen sangat tipis di bawah sana. Lantainya tergenang air semata kaki. Bunyinya berkecipak, memecah keheningan di antara langkah-langkah kami.
"Lantainya sengaja digenangi air untuk menambah kadar oksigen, Mbak."
"Oh, gitu."

Kami berjalan terus dalam gelap yang lebih pekat, karena memang tak ada cahaya sama sekali selain senter kami. Dan saya mulai merasakan aura tempat itu.
Beberapa orang yang pernah ke bawah tanah ini bercerita bahwa mereka merasa seram. Saya? Seram sedikit. Karena gelap dan sesak napas. Tetapi yang saya rasakan justru hawa kesedihan. Berlawanan dengan hawa kemarahan di atas sana barusan. Kesedihan di tempat itu kental sekali.

Kesedihan.
Putus asa.
Rindu.
Kepasrahan.
Dan tekad untuk tidak menyerah sampai mati.

Lalu saya menyadari. Itu adalah perasaan-perasaan para pejuang dan pesakitan yang ditangkap dan disiksa penjajah Jepang di penjara bawah tanah itu. Perasaan-perasaan yang diserap dinding-dinding tua di sekitar kami dan dipantulkan lagi.

Pemandu saya menunjukkan satu demi satu bekas penjara dan sistem penyiksaan yang dilakukan Jepang kepada para tahanan. Saya mendengarkan dan berusaha menahan isak. Saya kepengin menangis. Bukan karena penjelasan mas pemandu, tetapi karena aura di tempat itu.

"Mbak, kenapa?" Pemandu saya memandangi saya.
"Nggak apa-apa, Mas. Saya kok merasa sedih ya di tempat ini?"
"Wah, yang lain-lain sih merasa seram biasanya."
"Iya seram. Tetapi lebih banyak sedihnya."

Ada sebuah bekas patahan meja dari beton di sebuah ceruk. Katanya, itu untuk memenggal kepala tahanan. Kepalanya dipakai untuk tumbal membangun jembatan-jembatan. Saya nggak menyangka kalau penjajah Jepang ternyata juga percaya tahayul.

Ceruk demi ceruk. Ruang demi ruang, kami jelajahi dalam kegelapan. Sampailah kami di ruangan yang paling terkenal karena ada penampakan di sana, dalam acara uji nyali Dunia Lain. Cuplikannya bisa ditemukan di Youtube. Ada pipa air besar di sana. Ruang bawah tanah itu di masa Belanda memang gunanya untuk menampung dan mengalirkan air ke sungai, jika kawasan itu tengah dilanda banjir.

Hihihihihi
Eh? Siapa yang tertawa itu. Suaranya terdengar jelas dan nyaring, berasal dari salah satu ceruk gelap yang tak terlihat.
Hihihihihi
Sial! Jangan ganggu gue!
"Mbak, lewat sini." Pemandu saya melangkah lebih cepat.
Masa si mas takut sih? Biasanya yang asli punya indera keenam nggak penakut gitu deh. Atau mungkin dia mengira saya takut dan bermaksud menyelamatkan saya? Aww, so sweet! *salah fokus*

Di lantai satu, sambil menukar sepatu boot dan mengembalikan senter, mas pemandu saya bertanya. "Tadi dengar suara ketawa?"
"Dengar banget. Kayaknya di sebelah saya deh, Mas."
"Makanya saya ngajak cepat-cepat."
"Tenang Mas. Insya Allah, saya nggak akan kenapa-napa. Saya zikir terus dalam hati kok sejak masuk dari gerbang depan."
"Syukurlah, Mbak." Ia ketawa lega.

Saya juga lega. Dan puas. Dan senang.
Ketika melewati pintu gerbang Lawang Sewu malam itu, berjalan keluar menuju jalan raya yang mulai agak sepi, saya tersenyum lebar.
Akhirnya, kesampaian juga uji nyali di tempat terseram kedua di Asia, versi sebuah acara televisi I Wouldn't Go In There yang ditayangkan National Geographic Channel. Haha.

Dan saya berhasil lolos dari usaha mahluk-mahluk itu untuk berkomunikasi. Mereka di sana terlalu penuh dengan emosi. Terlalu kuat. Terlalu dalam. Saya bisa ikut depresi menyerap energi negatif mereka.

Sampai ketemu lagi, The Thousand Doors. Saya akan datang lagi lain kali di siang hari. Untuk fotografi, bukan uji nyali.

--------------------------------

PS: Foto menyusul. Belum diedit ;)



Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, April 5, 2011

Jeruk Purut Malam Itu

Malam itu bulan bersinar terang di langit. Malam hening. Terlalu hening. Tak ada suara jengkerik yang mengerik. Bahkan tak ada angin yang bertiup. Kelima anak muda itu usai berkeliling kompleks pemakaman itu  tujuh kali.
Keheningan yang ganjil itu tidak mereka rasakan. Naya, yang memimpin rombongan, mengajak teman-temannya berkeliling diantara blok-blok pemakaman.
"Kita liat apa yang bakal terjadi," katanya. Berharap handycam di tangannya akan merekam suatu fenomena aneh yang memang mereka cari malam itu.

Tiga blok sudah mereka telusuri. Nyala senter di tangan mereka masing-masing menyorot kian kemari, menari-nari di antara nisan-nisan beku kelabu dan bayang-bayang pepohonan di sekitarnya. Mereka baru akan berbelok ke blok berikutnya ketika sesuatu melenting ke tangan Yadi. Tuk!
"Eh, ada yang ngelempar gue!" Seru Yadi sambil celingukan.
Tuk! Kali ini bahu Toto yang kena. Sebutir kerikil tampak menggelinding jatuh.
"Ada yang ngelempar kerikil," kata Toto.
Mereka berlima menyorotkan senter ke segala arah. Tak terlihat apa-apa sesaat. Namun tiba-tiba sesuatu terbang melintas, menebarkan aroma....
Suli memekik. "Lu nyium bau aneh nggak?" Suli mengendus-endus udara. "Tadi itu ada yang terbang, lu liat nggak?" Ia mulai panik.
"Paling burung gagak," kali ini Burhan yang menyahut.
"Putih-putih gitu sekilas tadi. Gagak kan item, Han."
"Udah, udah, kita jalan lagi!" Ajak Naya. Ia semakin waspada dan mulai mengarahkan kameranya ke antara pepohonan. 

Dan ia tersedak. 
"Guys... guys.... itu di atas coba deh lu perhatiin..." Tangannya yang tidak memegang kamera menarik-narik lengan jaket Toto di sebelahnya.
Toto mengikuti arah kamera Naya. Ia membeku. Yang lain juga.

Di atas pohon tak jauh dari tempat mereka berdiri, sesuatu sedang duduk mengayun-ayunkan kaki. Berpakaian panjang putih, berambut panjang, menatap lurus ke arah mereka dengan matanya yang besar melotot di wajah sepucat kertas. Lalu tiba-tiba mahluk itu tertawa mengikik. Keras, melengking, memantul-mantul di antara pepohonan dan nisan-nisan.

Kelima anak muda itu mundur. Perlahan-lahan berbalik lalu lari lintang pukang sambil menjerit-jerit.

.................................................

Dua jam sebelumnya.

Naya mengetuk kamar kost saya malam itu. Ketika saya membuka pintu, ia dan empat orang temannya sudah menunggu. Lengkap dengan jaket, sepatu keds dan sebuah senter besar di tangan masing-masing.

"Ya?" Tanya saya setengah mengantuk. Jam dinding menunjukkan waktu pukul sebelas malam.
"Mau ikut nggak, Mbak?"
"Kemana?"
"Ke Jeruk Purut. Gue kan udah cerita tadi siang. Nih, temen-temen udah jemput." Naya menunjuk ke arah teman-temannya. Dua diantaranya, Yadi dan Suli, saya kenal. "Ayo dong Mbak, ikut. Kan Mbak Enno bisa ngeliat yang nggak bisa diliat."
Saya teringat apa yang diceritakan Naya tadi siang. Mereka mau ke Taman Pemakaman Jeruk Purut yang terkenal angker itu.
"Nggak ah," tolak saya. "Emangnya kalian nggak takut? Di sana kan angker."
"Itu sebabnya kami pengen kesana. Siapa tau bisa kerekam kamera." Naya mengacungkan handycam ditangannya. Saya tertegun.
"Bahaya, Nay. Nggak boleh main-main sama yang kayak gitu."
"Kita kan derajatnya lebih tinggi, Mbak. Masa manusia takut sama mahluk halus? Lagian belum tentu juga mahluk halusnya ada. Siapa tau itu cuma urban legend di Jakarta untuk nakut-nakutin orang."
"Nay, kalo pastor tanpa kepala itu ternyata ada gimana?" Tanya saya. "Kalian mau ngapain?"
"Emangnya Mbak pernah liat?" Yang bertanya adalah Suli.
"Kesana aja nggak pernah," sahut saya. "Gue cuma lewat aja, nggak pernah masuk ke pemakamannya. Gue bilang kan seandainya ada... gimana coba?"
Naya tertawa. "Kita wawancara aja. Ya nggak?"
Saya menggeleng-geleng, kesal. Teman kost saya yang satu ini memang susah dikasih tahu.
"Ah gue nggak ikut, Nay. Kalian juga nggak usah deh kalo bisa."
"Ya udah kalo Mbak nggak mau ikut. Kami berangkat dulu ya!" Mereka beranjak.

Buat penduduk luar Jakarta, urban legend tentang Pemakaman Umum Jeruk Purut mungkin tidak begitu dikenal. Pemakaman umum ini konon angker. Hantu yang paling terkenal di pemakaman ini adalah hantu pastor tanpa kepala, yang kemunculannya selalu ditemani seekor anjing hitam. Konon, jika ingin bertemu sang pastor, kita harus datang ke pemakaman dalam jumlah ganjil dan mengelilingi pemakaman itu sebanyak 7 kali. Kalau 'beruntung', sang pastor akan menampakkan diri di depanmu menenteng kepalanya itu. Hiii...!!!

Itulah yang sengaja dicari Naya dan teman-temannya. Mereka sedang mengerjakan tugas kuliah dan rencananya akan membuat film dokumenter tentang pemakaman angker itu.

Paginya, Naya mengetuk kamar saya. Mukanya kusut seperti tidak tidur semalaman. Ia lalu bercerita tentang pengalamannya semalam. Mereka berhasil meninggalkan pemakaman itu dengan selamat. Tapi....

"Sebelum mobil Yadi ninggalin tempat parkir, ada anjing item di depan mobil kesorot lampu mobil. Anjing itu langsung lari nggak tau kemana."
"Anjing liar kali, Nay."
"Memangnya ada ya Mbak anjing yang matanya warnanya merah banget gitu? Merah kayak darah?"
Saya tertegun.

Sejak Naya pulang dari Pemakaman Jeruk Purut, suasana di rumah kost agak ganjil. Mungkin cuma saya saja yang merasakan. Bulu kuduk saya kerap berdiri kalau melintasi kamar mandi yang gelap karena lampunya putus. Saya meminta pemilik kost membetulkan lampunya, tetap saja bulu kuduk saya masih berdiri. Keadaan itu baru berakhir setelah saya cerita pada bapak pemilik kost. Besoknya ia mengajak kami semua sholat magrib berjamaah dan membaca Al Quran bersama.

"Gue mimpi aneh semalem, Mbak," kata Naya paginya.
"Mimpi apaan?"
"Ada cowok bilang selamat tinggal sama gue."
"Haha... mantan kamu kali, Nay."
"Bukan, Mbak. Yang bikin aneh itu matanya. Merah kayak darah."
Lagi-lagi saya tertegun.


foto dari sini


Image and video hosting by TinyPic

Monday, February 14, 2011

Perkumpulan Para Hantu

Jangan bicara mesum. Jangan ketiduran. Jangan berisik. Jangan mengejek dosen. Jangan takabur dan sok berani. Kalian akan tahu akibatnya.

............

Kami pikir cerita tentang ruang kelas di pojok lantai dua itu hanya untuk menakut-nakuti mahasiswa baru seperti kami. Para senior itu bercerita sambil senyum-senyum, sama sekali tidak memasang muka serius. Mereka memberi wanti-wanti itu dan bilang kami tidak boleh melanggarnya.

Lalu tibalah saatnya semester di mana kami mengambil mata kuliah Penologi yang berlangsung di kelas yang menjadi obyek cerita. Kelas itu ternyata luas, paling luas di antara kelas-kelas yang lain sehingga kadang dipakai untuk kuliah umum oleh guru besar. Kelas yang kami ikuti itu juga memang gabungan beberapa angkatan sekaligus. Ada yang baru mengambil, ada juga yang mengulang untuk perbaikan nilai.

Anak-anak baru seperti kami sudah lupa cerita itu. Kami sangat senang dengan ruang kelas yang luas dan sejuk itu. Kebanyakan mahasiswa yunior memilih duduk di belakang, supaya bisa mengobrol berbisik-bisik.

Saya tidak. Meskipun saya juga lupa pada cerita tentang kelas itu, saya memilih duduk di depan. Aura di belakang kelas tidak enak. Terasa dingin dan tidak nyaman. Kalau udara lembab, saya suka bersin-bersin, itu saja alasannya.

Kami belajar tentang control of crime. Tidak terlalu rumit, dosennya sangat mengandalkan text book dan membuat kami mengantuk. Saya lebih suka mencoret-coret agenda, menulis puisi. Sahabat saya, Wiek, asyik menggambar manga kesukaannya. Demikian setiap minggu berlangsung sampai akhirnya ada yang tak tahan untuk mengacau.

Kelas mulai berisik, kami mulai sibuk sendiri. Mulai banyak yang datang terlambat. Saya tahu, Mr Twinky (itu julukannya), mulai terganggu dan jengkel. Saya agak kasihan padanya. Tapi salahnya sendiri tidak bisa membuat kuliah menjadi menarik.

Yang tidak kami sadari, yang merasa terganggu bukan cuma dosen kami. Saya mulai merasakan hawa tidak enak itu lagi. Kelas terasa lembab, udara terasa berat. Saya bersin-bersin, sukar bernapas dan mulai mencari alasan untuk izin ke toilet.

Begitulah sampai akhirnya suatu hari ketika saya baru kembali dari toilet dan masuk ke kelas, saya melihat sesuatu di sudut belakang kelas. Saya tidak bisa bilang itu apa. Hanya serupa gumpalan asap dan bayang-bayang. Seperti asap rokok yang bergulung-gulung lalu lenyap. Padahal tentu saja tak ada yang merokok di dalam kelas.

Dosen kami, Mr Twinky, sibuk mengetuk-ngetuk mikrofon di mimbar kelas. Pengeras suara mendadak mati.

"Sebentar, sebentar," ujar Mr Twinky. "Sepertinya mike-nya mati. Saya bisa minta dipanggilkan divisi maintenance?"
Seorang teman kami mengangguk dan beranjak keluar.

Udara yang pekat terasa menyesakkan. Seorang teman di belakang menjerit, katanya ada yang mencubit. Saya ingin sekali bilang pada Mr Twinky agar kuliah diakhiri. Suasananya sangat tidak enak, seperti pernah saya alami saat caving di sebuah gua yang didalamnya penuh mahluk halus yang mencoba berkomunikasi. Creepy!

Lalu petugas maintenance datang dan memeriksa mikrofon. Dia bilang mikrofonnya baik-baik saja, dan ternyata memang menyala lagi. Begitu petugas pergi, mikrofonnya mati lagi. Demikian terus berulang-ulang.

Sesuatu berdiri di dekat kursi saya. Sesuatu yang menimbulkan hawa dingin. Saya bersin, tidak berani melirik. Berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan kelas ini, yang sekarang menjadi hening seolah-olah semua menyadari ada yang tidak beres sedang terjadi.

"Kuliah kita akhir saja," ujar Mr Twinky. Thanks God. Saya mungkin orang pertama yang langsung keluar setelah Mr Twinky meninggalkan kelas. Di belakang, ada seorang teman yang menjerit karena dicubit lagi. Hiii....!

..........

Dua bulan kemudian.

Seorang senior ditemukan mati bunuh diri di hutan wisata yang biasa digunakan mahasiswa-mahasiswa kampus kami untuk belajar menjelang ujian. Beberapa mahasiswa menemukan jasadnya tergantung di atas sebatang pohon randu menggunakan tali ranselnya.

Kematiannya yang tragis menghebohkan kami, bukan hanya karena dia salah satu senior kami yang tercerdas dan punya wajah tampan, dia juga sedang menyusun skripsi dan hendak menikah setelah wisuda. Menurut desas desus, ia mengalami depresi.

Setelah upacara pemakamannya yang kami hadiri dengan rasa prihatin dan sedih, kami kembali pada rutinitas kami di kampus. Mata kuliah yang sebagian membosankan (bagi saya), terutama kuliah penologi yang diajarkan Mr Twinky.

Hari itu adalah pertemuan terakhir untuk kelas Penologi karena minggu depan kami sudah ujian. Saya berjalan masuk ke kelas yang masih sepi sambil sibuk memilih lagu di iPod, ketika melihat DIA duduk di bangku paling belakang.

Dia, senior kami yang beberapa waktu lalu kami makamkan itu. Wajah pucatnya menerawang, menatap saya. No way! Saya langsung balik kanan dan kabur.

Sejak itu saya tahu, kelas itu menjadi tempat perkumpulan para hantu mahasiswa di kampus kami.

foto dari sini


PS: happy valentine guys! kenapa aku malah cerita serem ya? haha ketuker sama haloween kayaknya :))


Image and video hosting by TinyPic

Sunday, December 19, 2010

Kiara

Orang-orang selalu heran kenapa aku berani datang ke pemakaman desa sendirian hampir setiap sore. Bahkan saat langit sedang gelap oleh mendung dan bergerimis, atau saat senja mulai temaram.

Mereka bilang, jangan ke sana sendirian. Harus ditemani. Dan aku balas menatap mereka dengan kening berkerut. Memangnya kenapa? Toh itu cuma sebuah pemakaman biasa. Ada nisan-nisan berjajar tidak terlalu rapi, pohon-pohon kamboja dan singkong karet di sana-sini, dan dua buah pohon kiara tua yang sangat besar di tengah pemakaman.

Pemakaman itu terletak di atas sebuah bukit. Angin sore yang semilir seringkali terasa lebih kencang di sana. Angin menabrak daun-daun pepohonan, menimbulkan suara gemerisik yang samar dan misterius. Bahkan jarang terdengar cericit burung atau sekedar dengung kumbang. Di hari-hari biasa suasananya begitu sunyi, karena pemakaman itu hanya akan ramai dikunjungi menjelang puasa dan Lebaran.

Agak di tepinya terletak kompleks pemakaman keluarga besarku. Ibuku dimakamkan di sana, itu sebabnya sekarang aku sering datang ke sana. Membacakan surat-surat Al Quran yang Ibu sukai, mengganti bunga segar di dalam vas tanah liat di atas makamnya, membersihkan rumput-rumput liar dan daun-daun kering yang mengotorinya, atau hanya duduk saja beberapa menit di sana untuk menyapa Ibu.

Di sana banyak arwah penasaran, kata tetangga-tetanggaku yang sudah tua. "Ulah angkat nyalira, Neng. Sieun."

Menyeramkan? Sepertinya begitu. Ada aura ketakutan dan kengerian yang kurasakan di bukit itu. Dulunya, di sana belum ada pemakaman desa seperti sekarang. Bukit itu hanya berupa tanah kosong berilalang setinggi lutut yang oleh TNI dijadikan tempat mengeksekusi para anggota pemberontak. Entah berapa ratus anggota pemberontak Darul Islam dan PKI yang dibunuh di sana.

Menurut cerita mendiang Kakek waktu aku masih kecil, para pemberontak itu ditembak mati, bahkan dipenggal. Teriakan kengerian terdengar membahana ke seantero desa seiring rentetan letusan senapan atau tetakan pedang. Menurut para tetua desa, gema suaranya masih terdengar puluhan tahun kemudian, bahkan sampai sekarang. Itu sebabnya tak satupun penduduk desa yang berani datang sendirian ke pemakaman desa.

Kecuali aku.

Tapi kisah seram yang paling sering disebut-sebut adalah tentang dua pohon kiara raksasa yang sejak dulu sudah ada. Entah berapa ratus tahun usianya. Di sana konon ada hantu perempuan yang suka menampakkan diri pada orang-orang yang kemalaman di jalan. Ada cerita tentang perempuan yang suka mencegat delman. Ikut menumpang sampai desa tetangga, tapi tiba-tiba saja menghilang di tengah jalan. Atau cerita tentang salah seorang tetangga yang menghilang dua hari dua malam, tiba-tiba ditemukan sedang tidur memeluk nisan sebuah makam di bawah pohon kiara.

Cerita-cerita itu tidak membuatku takut. Tapi sebaliknya membuat Usi tidak pernah mau ziarah ke makam Ibu sendirian. Ia suka mendesak-desak aku supaya mengantarnya, meskipun saat itu siang hari bolong.

"Kita membacakan Yassin untuk Ibu. Setannya langsung kabur begitu dengar kita membaca ayat Al Quran," sergahku, jengkel pada sikap penakutnya yang tak sembuh-sembuh.
"Habis pohon kiaranya kelihatan dari sini," ujarnya.
Memang dua pohon kiara itu tampak jelas, menghadap langsung ke pemakaman keluarga kami.
"Yuk ah, pulang!" Ia bangkit terburu-buru begitu selesai berdoa. Mendahuluiku berjalan menuruni undakan tangga.
Tiba-tiba kulihat sesuatu di undakan tangga paling bawah. Sesuatu yang mematung di sana, yang membuat bulu kudukku meremang seketika. Ups!
Dari belakang, aku meraih tangan Usi, menariknya lebih ke pinggir. "Jalannya agak ke sini, Kak."
"Apa? Kenapa?"
"Sudah deh, pokoknya agak minggir ke kanan aja."
"Memangnya kenapa?" Ia memandangku lekat-lekat. Mencari sebuah mimik yang sudah ia hapal. "Jangan-jangan..." Matanya terbelalak ketakutan. "Kamu lihat apa? Kamu kumat ya? Mata ketiga kamu lagi terbuka ya? Hiiii...!" Usi meninggalkanku setengah berlari.

Di tepi jalan, di depan undakan yang menuju kompleks makam keluarga kami, aku menoleh lagi. Sosok perempuan berkebaya ungu tengah berdiri membelakangiku. Rambutnya sepunggung berkibar-kibar. Itu pasti perempuan penunggu kiara yang sering diceritakan orang-orang. Akhirnya aku melihatnya juga.

Kamu nggak boleh ganggu kami, kataku dalam hati. Lalu bergegas menyusul Usi.



___________
Catatan:

Ulah angkat nyalira, Neng. Sieun (bahasa Sunda): Jangan berangkat sendiri, Neng. Takut.

Pohon kiara (ficus Sp): disebut juga pohon ara atau beringin pencekik, yang mengawali hidup sebagai parasit dari pohon lain. Kemudian setelah besar mematikan inangnya dengan cara mencekik.

Foto di atas itu adalah pohon kiara, tapi yang di pemakaman desa kami jauh lebih tinggi dan besar lagi.



Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, October 12, 2010

Pohon Mangga Depan Rumah

Malam itu hawa terasa panas. Pengap. Di luar gelap, tak ada bulan. Cuma cahaya samar yang menerangi halaman depan rumah, berasal dari lampu beranda. Seharusnya halaman lebih terang jika dua lampu taman yang mati dua hari lalu segera diganti.

Batang pohon mangga dekat tembok pagar memantulkan bias sinar lampu. Daun-daunnya tampak samar, gelap, gemerisik ditiup angin malam. Dahan-dahannya yang besar dan kokoh tampak seperti lengan-lengan berotot yang menjulur ke depan dengan ujung-ujung yang sudah dipangkas. Dan seseorang tengah duduk mengayun-ayunkan kaki di dahan yang paling besar.

Seseorang, apa? Tunggu dulu. Tengah malam begini? Tapi itu sungguh-sungguh siluet seseorang. Terlihat jelas dari balik tirai jendela kamar yang disibakkan. Seseorang duduk menghadap ke jalan, membelakangi jendela. Tampak rambutnya yang panjang terurai sepinggang dan memakai semacam daster berwarna putih.
Apa? Rambut panjang dan daster putih? Oh tidak, pasti Cuma salah lihat! Coba intip sekali lagi!

Tapi tidak, ia masih disitu. Duduk membelakangi jendela, di atas dahan besar itu sambil mengayun-ayunkan kaki.

....

RW sebelah gempar sejak kematian seorang ibu muda yang melahirkan bayinya. Nyawa keduanya tak tertolong. Seperti kepercayaan sebagian orang disitu, perempuan yang meninggal seperti itu arwahnya akan gentayangan.

Tak lama kemudian laporan-laporan penampakan hantu pun bermunculan. Kisah-kisah yang menyeramkan menyebar dari mulut ke mulut. Dari yang klasik sampai yang terlalu mengada-ada. Lalu penampakan di pohon mangga itu pun lama-lama tersiar. Giliran RW kami yang gempar. Mereka menganggap hantu itu pindah ke RW kami dari RW sebelah.

"Jadi sekarang dia ngontrak rumah disini?" Tanyaku pada sepupuku, si pemilik pohon mangga.
"Apa sih," ia merengut. "Kebiasaan deh! Giliran orang-orang lagi ketakutan, elu malah bercanda."
"Lho kan katanya pindah dari RW sebelah. Udah kayak pindah kontrakan aja. Semoga dia nggak mutusin ngekos. Nanti pindah pula dia ke rumah gue hahaha..."
"Lu ketawa-ketawa soalnya belum lihat sendiri."
Aku nyengir. Aku sudah lihat kok. Tapi diam saja, daripada ribut-ribut. Buktinya sekarang satu kampung ribut setelah tahu dari sepupuku.
"Ini gara-gara elu suka duduk di dahan mangga itu."
"Kok nyalahin gue?"
"Elu kan suka ngajak anak-anak gue duduk disitu sambil makan es krim. Mungkin hantunya jadi kepingin ngikutin."
"Hahahaha..." Aku terbahak-bahak. "Yang bener aja!"
"Malah ketawa," keluhnya sambil beranjak meninggalkan aku dengan sisa tawaku.

..........

Pohon mangga itu berdiri dekat tembok halaman. Daun-daunnya yang rimbun gemerisik ditiup angin. Dahan-dahannya yang besar dan kokoh seperti lengan yang menjulur ke depan.

Seseorang duduk di sana, membelakangi jendela. Mengayun-ayunkan kaki di dahan paling besar. Tampak jelas dari balik jendela sosok itu berpakaian biru.

Lho? Sejak kapan hantu suka berpakaian biru?

Bukaaaaan. Itu kan aku. Sedang duduk sambil makan es krim. Langit biru, matahari bersinar terik. Keponakan-keponakanku sedang bermain kejar-kejaran di bawah pohon. Lalu terdengar teriakan sepupuku dari beranda.

"Tuh kan! Duduk lagi disitu!"
Dasar bawel!



foto dari sini



Image and video hosting by TinyPic

Monday, April 12, 2010

Keris

Kamar itu letaknya di ujung rumah. Pintunya selalu tertutup rapat. Pak Lurah sudah mewanti-wanti agar kami berempat tidak masuk ke sana. Ia memberi kami dua kamar, masing-masing untuk aku dan Endah di kamar tengah, Toni dan Bagas di kamar depan. Kami mematuhinya. Tak sekalipun kami mendekat ke sana.

Kehidupan di desa itu berjalan dengan lambat. Kami disibukkan dengan berbagai program untuk penduduk desa yang sebagian besar miskin dan buta huruf. Kadang-kadang kami ikut Pak Lurah ke kebun semangkanya di tepi pantai atau ke kandang sapi milik penduduk binaan Dinas Peternakan setempat.

Kami menikmatinya, meski tanpa listrik, kakus di kebun belakang yang gelap, masakan sederhana Bu Lurah dan akses ke kota yang sangat jauh sehingga kami merasa dibuang ke ujung dunia.

Kami melupakan kamar itu sama sekali, sampai suatu hari.

Malam itu saya terbangun. Ada suara-suara entah apa di luar kamar. Kucing, pikir saya. Marjono, anak sulung Pak Lurah penyuka kucing seperti saya. Kucing-kucingnya ada yang suka tidur bersamanya di kamar dan sering mencari tikus di dalam rumah pada malam hari.

Klotrakk!

Itu bunyi pintu dibuka. Saya menatap jam beker yang saya bawa dari kota. Jam 2 dinihari. Siapa yang bangun tengah malam?

Keluarga Pak Lurah adalah keluarga yang mengamalkan ajaran Kejawen. Mereka bukan muslim, jadi tak mungkin ada yang terbangun untuk sholat malam. Pencurikah? Pikir saya. Tapi tak mungkin ada yang berani mencuri di rumah Pak Lurah.

Perlahan-lahan saya bangun dan membuka pintu kamar. Tengok kiri kanan, tak ada seorang pun saya lihat. Lalu lamat-lamat saya mendengar suara dari ujung rumah. Suara orang sedang membaca doa atau mantra.

Saya merasa ada sesuatu yang seharusnya saya tidak tahu. Maka saya masuk lagi ke kamar dan mencoba melanjutkan tidur.

Seminggu kemudian.

Tepat sebulan kami tinggal di desa itu. Kulit saya sudah hitam gara-gara udara panas dan lembab di desa yang letaknya di tepi pantai itu. Saya menceritakan kejadian aneh malam itu pada teman-teman dan mereka menyuruh saya tidak usah terlalu memikirkannya. Toni yang katolik bilang bahwa mungkin itu ada kaitannya dengan keyakinan yang dianut keluarga Pak Lurah dan bagaimana pun kami harus menghormatinya sama seperti terhadap penganut keyakinan yang lain.

Dan malam itu kejadiannya terulang lagi. Saya terbangun oleh suara-suara yang datang dari ujung rumah.

Saya membangunkan Endah dan kami berdua mengendap-endap keluar. Di ujung koridor ada nyala lampu minyak remang-remang datang dari kamar paling ujung yang pintunya tak tertutup rapat.

Endah menarik tanganku supaya kami kembali saja ke kamar, tapi aku yang penasaran terus mengendap-endap mendekat ke pintu. Dari celah pintu yang terbuka, kulihat pemandangan yang tidak biasa.

Kamar itu tidak seluas kamar yang kami tempati. Tak ada perabotan selain sebuah tikar tua yang digelar di lantai. Di sudut kamar ada sebuah rak yang dipenuhi bermacam-macam keris. di tengah tikar ada sebuah perapian dupa dari besi berukir. Asap dupa masih mengepul menyebarkan bau harum menyengat ke seantero kamar. Lalu terlihat oleh kami sebuah keris di atas sebuah nampan. Besar, gagah dan indah. Tampak sangat kuno dan memancarkan aura mistis.

Endah gemetar di sebelahku. "Keris itu bersinar," bisiknya ketakutan.
Saya memperhatikannya lebih cermat. Tiba-tiba saya melihat keris itu bergeser sedikit, nyaris tak kentara. Tapi saya yakin memang bergeser.
"Bergerak," bisik saya padanya.
"Aduuuuh... ayo ah kita balik ke kamar lagi, No!"
"Nanti dulu."
Endah mencubit tangan saya. "Takut nih... itu bukan sembarangan keris kayaknya."
Saya tahu.
Keris itu bergerak lagi. Seperti ada tangan yang menggesernya.
"Bergerak lagi!"
Endah nyaris menangis. "Nooo... udah yuk. Takut."
Aku baru akan menyahut ketika seseorang berdeham di belakang kami.

Pak Lurah! Kami kepergok.

"Sedang apa Nduk?"
"Eh Pak.. anu... tadi seperti ada suara dari sini..."
Saya pikir Pak Lurah akan marah, tapi ternyata ia tersenyum.
"Itu keris leluhur kampung sini," katanya menunjuk keris di nampan itu. "Namanya Kyai Kebo Kuning."
Ia mengajak kami masuk ke kamar tapi Endah tidak mau.
"Ya sudah. Kalian kembali saja ke kamar. Nanti kalau masih mau saya ceritakan tentang keris itu."
"Mau Pak," sahut saya. Soalnya saya penasaran pada keris indah yang bergerak sendiri itu. Itu kan fenomenal.

Paginya, sambil sarapan ketela rebus di teras rumah, Pak Lurah bercerita. Kyai Kebo Kuning akan dimiliki setiap kepala desa atau lurah di desa itu. Ia berpindah tangan dari satu lurah ke lurah lain. Pemilihan lurah di desa itu memang masih bersifat tradisional, berdasarkan adat dan kesepakatan penduduk, kadang-kadang berdasarkan wangsit. Kadang-kadang Kyai Kebo Kuning akan pindah sendiri ke rumah seseorang yang dianggapnya layak menjadi lurah selanjutnya.

"Kyai Kebo Kuning itu pindah sendiri ke sini," kata Pak Lurah. "Tiba-tiba saja ia sudah ada di bawah bantal saya saat orang-orang sedang sibuk mencari calon lurah baru."
Kami melongo. Berarti benar yang saya lihat itu. Keris itu bergerak seolah-olah menggoda saya.
______________

Di beberapa desa di pedalaman pulau Jawa, hal seperti lumrah terjadi. Pemilihan lurah tergantung pada pusaka desa. Kadang-kadang terjadi perebutan pusaka desa secara terang-terangan (perkelahian) maupun diam-diam melalui kejadian mistis.


Image and video hosting by TinyPic

Friday, November 13, 2009

Cordelia's Ghosts

Kalau kau menganggapku pemberani dengan segala hantu yang kulihat itu, kau salah. Aku tetap saja penakut. Aku suka menjerit ketakutan jika hantu yang kulihat begitu mengerikan atau begitu mengganggu. Dan aku tidak selalu bisa melihat mereka, karena aku memang tidak menginginkannya.

Tapi Cordelia tidak. Ia melihat lebih banyak hantu daripadaku. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik. Dimana-mana ada mereka, katanya.

Cordelia percaya bahwa salah satu leluhurnya yang berdarah Mongol adalah penyihir. Kadang-kadang aku ingin percaya karena ia begitu aneh. Ia suka bercakap-cakap sendirian, yang bagi orang awam kelihatan seperti orang gila. Ia suka tiba-tiba membelokkan arah kami saat sedang asyik berjalan karena katanya ada sesuatu sedang menghadang disitu. Kadang-kadang ia suka memberitahu kami hal-hal yang tidak kami lihat, dengan cara yang membikin ngeri.

Ia sangat manis dengan mata sipit dan kulit putih warisan neneknya yang Mongol itu. Dan percaya atau tidak, ia bilang leluhurnya dulu penyihir.

"Penyihir?" Anna, teman kami, terperangah.
Cordelia mengangguk. Aku tertawa.

Tidak. Aku tidak percaya tentang penyihir. Itu hanya ada dalam cerita-cerita fantasi dan legenda yang tak jelas kebenarannya. Barangkali leluhurnya memang memiliki indera keenam yang kini diwariskan kepada keturunannya si Cordelia ini. Seperti juga dulu, entah di ranting mana dalam pohon silsilahku, ada seorang leluhurku yang kadang-kadang bisa melihat hal-hal tak kasat mata seperti aku.

Lalu suatu hari, kulihat ia membuka pintu gerbang rumah kostnya yang terkunci. Seharusnya kami memang tak bisa masuk karena pulang terlalu malam dan sudah melanggar jam malam di rumah kost-nya.
"Li? Kok bisa? Itu kan digembok. Barusan kulihat digembok. Kok bisa? Wah beneran bisa sihir ya?"
Ia cuma tersenyum.
"Kamu yakin bukan keturunan Houdini, Li?"
Ia masih tersenyum.
Lalu kudengar suara di belakangku. "Kamu ngomong sama siapa, No?"
Aku menoleh dan kulihat Anna memandangiku keheranan.
"Lho?" Aku menoleh lagi ke pintu gerbang yang sudah terbuka. Tak ada siapa-siapa di sana. "Ngomong sama Lia. Masa dia buka gerbang tanpa kunci! Gila, sakti bener!"
"Lia masih di sana kok!" Anna menunjuk ke ujung gang. "Mampir sebentar di kios rokok beli obat maag."
"Ha? Yang tadi siapa dong? Yang kuajak ngomong dan buka gerbang kan Lia."
Anna langsung pucat dan mendekat ke arahku sambil bergidik. "Ih! Siapa tuh? Sohib hantunya si Lia kali ya!"

Dan kalau kau masih menganggapku pemberani, kau tetap saja salah. Aku tak nyaman dengan penglihatan-penglihatan Cordelia. Dan tak suka dengan mahluk-mahluk di sekitarnya. Mereka senang mengerumuninya, mengikuti kemana ia pergi, seolah-olah ingin menjaganya entah dari apa.

Yang paling tidak kusukai, hantu-hantu Cordelia gemar menyerupai dirinya. Terus terang itu membuatku takut. Aku tak mau mengobrol atau tertawa-tawa dengan Cordelia yang ternyata bukan dirinya. Aku tak pernah dan tak ingin bergaul senyata itu dengan mahluk-mahluk tak kasat mata.

"Kamu bisa mengasah indera keenammu supaya lebih tajam," kata Cordelia tanpa tedeng aling-aling.
Aku melotot padanya. "Aku malah mau membuangnya. Pokoknya kubuang jauh-jauh karena aku tidak suka. Karena aku ketakutan."

Kalau kau menganggapku pemberani, kau salah besar. Aku ini manusia biasa.
Aku masih selalu membangunkan ayahku jika ingin pergi ke toilet di tengah malam.


Image and video hosting by TinyPic

Sunday, September 13, 2009

Mariana

Kemana kau akan pergi, Mariana
Saat bulan bersinar, saat angin berdesir
dan gelombang membawa pecahan kenangan
Kau dan seluruh pulau yang tertidur
menjadi bayang-bayang di balik malam

.....

-Musim kemarau, bertahun-tahun yang lalu.

Pulau Onrust

Aku tak bisa tidur. Bukan karena kami hanya menggelar alas tidur karet di tengah alam terbuka, bukan juga karena angin laut yang dingin berhembus ke pantai tempat kami berbaring dalam kantong tidur. Aku tak bisa tidur, karena terus menerus ada yang berbisik di telingaku dalam bahasa Belanda.

Mariana.... mijn naam is Mariana.... wat is je naam?1)

Aku mengerti bahasa Belanda sedikit. Setiap mahasiswa hukum pasti mendapat mata kuliah bahasa Belanda paling sedikit satu semester.

Mijn naam is Mariana... Ik was eenzaam...2)

"Ada apa?" Widi, yang berbaring di sebelahku berbisik ketika merasakan aku gelisah. Ia sedang mencoba tidur.
"Lu denger nggak ada yang bisik-bisik?"
"Enggak. Memangnya ada yang bisik-bisik? Suara angin kali, atau suara ombak."
Ombak mana mungkin berbahasa Belanda. Tapi aku memilih tak mengatakannya pada Widi.
"Gila ya Kak Opi. Kirain kita bakal bikin tenda. Nggak taunya malah tidur di alam terbuka. Untung bukan musim hujan." omel Widi.
Aku cuma tersenyum.

Kami sedang ikut ekspedisi keliling Kepulauan Seribu dengan kapal Phinisi Nusantara. Kapal layar tradisional legendaris, yang pernah melayari Samudera Pasifik sejauh 11 ribu kilometer sampai ke Vancouver, Kanada, selama 68 hari. Kapal layar kecil ini bahkan sempat bersandar di pelabuhan San Diego, AS.

Aku yang selalu mabuk laut kalau berlayar tanpa pikir panjang ingin ikut karena Widi mengiming-imingi petualangan.

Siang tadi, kami menjelajah pulau Onrust. Pulau yang dulu pernah dijadikan galangan kapal-kapal perang, gudang mesiu, penjara, bahkan karantina haji. Tak ada keanehan yang kutemukan, bahkan ketika kami mencoba masuk ke dalam terowongan air, yang katanya tembus di bawah laut sampai ke daratan Jakarta.

Je hoort? Mijn naam is Mariana.... 3)

Ya, ya, Mariana. Saya mendengarmu. Kamu siapa?

Mariana van den Berg. Ik woon hier..... 4)

Kenapa kamu mengganggu saya?

Ik vraag om hulp.... 5)

Minta tolong apa?

Ik was eenzaam.... Ik wachtte op mijn vader... 6)

Saya harus bagaimana, Mariana? Saya tidak kenal keluargamu, apalagi ayahmu. Dia pasti sudah lama meninggal sekarang. Zamanmu sudah lama berlalu.

Hening. Tak ada lagi bisikan sampai pagi.

...........

Pulau Cipir

Kami menyeberang ke pulau Cipir dengan perahu motor kecil.
"Pulau ini dulu jadi tempat karantina jemaah haji yang sakit," ujar Widi. Kami sedang berdiri bersama yang lain di depan reruntuhan bekas bangunan rumah sakit.
"Serem ya?" Heru menyenggolku.
"Enggak ah."
"Ah sok berani!" Heru terkekeh.

Dit is mijn ziekenhuis.... 7)

Ah, bisikan itu lagi!

Ik ben ziek tyfus .... 8)

Kamu sakit tipus, Mariana?

Ja.... 9)

Tampaknya rumah sakit ini bukan hanya untuk merawat jemaah haji saja. Barangkali juga keluarga-keluarga pegawai pemerintah yang ditempatkan di pulau ini.

Tiba-tiba Mariana mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti. Bahasa Belanda yang terlalu panjang dan cepat.

Mariana, saya tidak mengerti.

Neem mij niet kwalijk, Enno... 10)

.........

Pulau Kelor

Nama asli pulau Kelor adalah Kerkhof, yang artinya tempat pemakaman karena di pulau ini dimakamkan para prajurit Belanda yang tewas karena perang. Ada sebuah benteng berbentuk lingkaran di pulau yang mulai tergerus abrasi air laut ini, namanya benteng Martello. Konon meniru benteng Martello asli di pulau Corsica, Perancis.

"Katanya di sini kuburan prajurit Belanda ya?" Bisik Widi. "Tapi kok nggak keliatan, No?"
"Apanya?"
"Gundukan tanahnya, nisannya..."
"Ya udah rata. Apalagi disini abrasinya gila-gilaan. Dulu juga pernah kena letusan gunung Krakatau."
"Kok lu tau aja?" Heru yang jahil lagi-lagi menyela. Selama ekspedisi kami selalu bertiga kemana-mana.
"Ya baca buku dong makanya!"

Hun graf is hier.... 11)

"Tuh, kuburan prajuritnya ada di sini!"
"Ha? Kata siapa lu?" Heru menatapku kaget.
"Kata gue."
"Sok tau!"

Lalu kudengar tawa Mariana yang merdu.

.............

Tiga hari berlayar, mengelilingi Kepulauan Seribu, mendarat di beberapa pulaunya untuk observasi, kami kembali ke pulau Onrust untuk terakhir kali sebelum kembali ke dermaga Marina, Ancol.

Kuputuskan mengunjungi pemakaman Belanda yang ada di pulau itu dan bertekad mencari makam Mariana.

Pemakaman itu sunyi dan suram. Nisan-nisan tua dengan grafir kuno berselang-seling di antara pepohonan yang meranggas dan rumpun ilalang setinggi lutut.

Teman-temanku asyik membaca nama-nama indah yang tertera di nisan-nisan itu. Aku berjalan diam di antara mereka, mencoba mencari nama Mariana.

Ik ben hier niet... 12)

Lalu kamu dimakamkan dimana, Mariana?

Sunyi. Hanya ada suara angin berdesir di antara rumpun ilalang.

................

Phinisi Nusantara yang membawa kami pulang ke daratan Jakarta membelok di antara beting karang, dekat pulau Kelor. Benteng Martello yang coklat suram tampak di depan kami. Tegak, sendirian, menantang zaman.

Aku sedang memikirkan Mariana yang tak lagi berbisik sejak kami meninggalkan Onrust. Bertanya-tanya mengapa makamnya tak ada di sana. Tiba-tiba di atas bekas menara benteng Martello, kulihat sesosok perempuan berdiri. Bergaun abu-abu panjang, dengan rambut pirang berkibar-kibar ditiup angin.

Tangannya terentang lebar seperti burung yang hendak terbang. Dan mendadak ia terjun ke laut.

"Ya Tuhan!" Aku memekik tanpa sadar.
"Kenapa lu?" Widi yang sedang sibuk memotret menoleh.
"Eh? Nggak apa-apa."

Belakangan aku baru menyadari kenapa Mariana tak memiliki makam seperti yang lainnya. Ia menunjukkan padaku bagaimana ia mati. Menceburkan diri ke laut lebih dari seabad lalu. Jasadnya tak ada di pemakaman tua itu, melainkan di antara karang-karang di kedalaman laut. Namun kenapa ia bunuh diri, aku tak tahu.

"Di pulau-pulau itu banyak yang seram-seram ya, Pak?" Aku bertanya pada seorang ABK kapal.
"Banyak, Mbak. Namanya juga tempat kuno, ada kuburannya, dan disitu dulu ada penjara tempat orang-orang disiksa sampai mati."
Aku ingin bertanya apakah ia pernah mendengar sesuatu tentang Mariana van den Berg, tapi tak jadi. Firasatku mengatakan, Mariana hanya menunjukkan dirinya padaku.

Beberapa tahun kemudian, firasatku itu terbukti benar.

________________

Catatan:

1) Nama saya Mariana, siapa namamu?
2) Nama saya Mariana, saya kesepian

3) Kamu dengar? Nama saya Mariana

4) Mariana van den Berg. Saya tinggal di sini

5) Saya minta tolong

6) Saya kesepian. Saya menunggu ayah saya

7) Ini rumah sakit saya

8) Saya sakit tipus

9) Ya

10) Maafkan saya, Enno

11) Makam mereka di sini

12) Saya tidak ada di sini



Maaf kalau bahasa Belandanya ada yang salah. Sudah banyak yang lupa :)

Image and video hosting by TinyPic

Friday, August 28, 2009

Lorong Terlupakan

I dwell in a lonely house I know
That vanished many a summer ago,
And left no trace but the cellar walls,
And a cellar in which the daylight falls,
And the purple-stemmed wild raspberries grow.

(Ghost House, Robert Frost)


Mang Udin melarangku keluyuran di belakang gedung pertemuan itu. Gedung yang tidak seberapa besar, bersambungan dengan gedung lain yang tadinya dipakai sebagai restoran. Aku pernah melongok sebentar dari jendela yang kaca dan bingkainya sudah lepas. Ada bekas dapur yang sangat luas, meja keramik sepanjang dinding, beberapa meja dan kursi rotan yang sudah rusak juga onggokan kardus-kardus tua.

"Seram, Neng. Jangan kesitu," kata Mang Udin. "Suka ada suara perempuan ketawa kalau malam."
Aku mana bisa dilarang. Semakin dibilang seram, aku malah semakin ingin tahu.

Sore itu aku ke sana. Mengendap-endap supaya tidak ketahuan Mang Udin yang sedang menyapu halaman gedung. Terpaksa kucing-kucingan. Kalau ia tahu, pasti ia akan mencoba melarangku lagi.

Mengambil jalan melingkar, aku masuk ke dalam restoran kosong itu. Tidak segelap yang kuduga ternyata. Cahaya matahari menerobos masuk lewat jendela-jendela tanpa kaca. Ada bau lembab dan sisa-sisa asap. Sarang laba-laba seperti lampion di sudut langit-langit. Kursi-kursi tua yang terjungkir dekat meja reyot tampak mengenaskan.

Tiba-tiba, di tengah keheningan ada suara berbisik di belakangku. "Sssst...."
Aku menoleh. Tak ada siapa-siapa. Kulanjutkan langkah semakin ke dalam.
"Sssst...."
"Siapa sih?"
Senyap. Tak ada jawaban dan tak ada siapa-siapa.

Di belakang restoran ada beberapa ruangan lain. Tampaknya bekas kamar para karyawan. Semuanya tertutup dan terkunci. Aku tiba di ruangan paling ujung. Ada tumpukan kursi tua dan kardus-kardus lagi. Ada secercah cahaya redup dari ambang pintu. Sebuah lorong, entah menuju ke mana.


Masuk, tidak, masuk, tidak.

Aku melangkah memasuki lorong. Bau lembab lumut dan kotoran tikus memaksaku menutup hidung.
"Ssst..."
"Jangan ganggu deh!" Sentakku gusar pada apapun itu.

Lorong itu berakhir, tepat di halaman belakang. Ada tangga besi yang melingkar ke atas. Hey, ada ruangan di atas? Kok aku tidak pernah diberitahu ya?


Naik, tidak, naik, tidak.
Bisa ditebak, aku pasti naik.

Sebuah selasar tersembunyi, terhalang oleh pagar besi setinggi dada. Ada sebuah pintu di ujung sana. Tertutup. Ah, tidak. Tidak tertutup rapat. Ada celah terbuka dan samar-samar tercium aroma tajam tembakau.


Eh, tembakau?

Aku berjalan menghampiri pintu itu. Tak ada suara apapun terdengar dari dalam. Kenapa ada aroma tembakau yang begini tajam? Seharusnya bangunan yang sudah sangat lama ditinggalkan berbau lumut dan lembab.

Dari celah pintu kulihat sesuatu yang menarik perhatian. Tampaknya memutuskan untuk masuk lebih baik ketimbang cuma mengintip.

Aku masuk.
Kulihat sebuah lipstick tergeletak di atas karpet kusut masai. Sebuah kasur busa tipis. Lampu baterai. Bantal. bungkus rokok dan kaleng-kaleng bir yang sudah kosong.

Hmm... apa yang ada di pojok situ? Sebungkus kondom? Astaga....!!!

.........

"Apaan, nggak ada hantu yang suka ketawa-ketawa," ujarku pada Mang Udin. "Di halaman belakang situ suka dipakai untuk berbuat mesum. Mang Udin lihat aja sendiri ke selasar di atas."

Mang Udin tergopoh-gopoh pergi untuk memeriksa. Tak berapa lama ia kembali sambil melongo. Di tangannya ada bungkusan kondom yang tadi.

Aku nyengir. Misteri terpecahkan.

__________

"Terus yang bisik-bisik itu siapa dong?" Ussy menatapku, berharap kali ini tidak ada cerita horor.
"Ya hantu beneran sih."
Harapannya tidak terpenuhi. Hehehe.


Image and video hosting by TinyPic


Monday, August 10, 2009

Seseorang di Belakangmu

"Jangan main sama dia. Anak dukun!"
"Si Nul kan aneh. Suka ngomong sendiri, komat-kamit kayak lagi baca mantera."
"Iya. Nanti kamu disihir lho!"
"Ayo sini! Jangan dekat-dekat sama manusia aneh!"

......

Ia bersandar di bawah pohon jambu air di halaman taman kanak-kanak kami yang teduh. Kumbang-kumbang tanduk berjatuhan dari atas pohon ke tanah. Kami menyebut peristiwa itu 'hujan kumbang.' Biasanya banyak anak-anak yang berlomba mencari kumbang paling besar untuk dibawa pulang dan dipelihara dalam kotak korek api. Tetapi kali ini cuma seorang anak yang berdiri di situ.

Teman-teman sekelasku menganggapnya aneh. Mereka memanggilnya Anak Dukun. Tak ada yang mau berteman, bahkan bertegur sapa dengannya sekalipun. Ia dikucilkan, tapi tampak tenang-tenang saja.

Semuanya takut padanya, tetapi aku tidak. Mereka mencoba mempengaruhiku untuk tidak bicara dengannya, tetapi aku tidak peduli.

"Nul, itu ada kumbang besar dekat kakimu!" Aku menunjuk ke bawah. Ia menunduk, memungut seekor kumbang besar berwarna hitam.
"Ini!" Ia menyodorkannya padaku. Aku menggeleng. Aku tidak suka memenjarakan serangga malang itu di dalam kotak korek api yang sempit.
"Sudah makan bekalmu?" Tanyaku. Ia mengangguk. Seperti biasa, tidak banyak bicara. Aku menemaninya memperhatikan kumbang di bawah pohon jambu sampai lonceng masuk berbunyi.

Namanya Nuril. Aku sudah lupa nama lengkapnya, tetapi kami selalu memanggilnya Nul. Masih kuingat sosok ibunya. Perempuan tinggi langsing yang suka mengobrol dengan ibuku ketika mereka berpapasan di gerbang sekolah. Aku tidak percaya Nul anak dukun. Lagipula kata ibuku, ayah Nul pengusaha. Dan aku tidak percaya Nul aneh dan suka bicara sendiri. Kadang-kadang, aku melihatnya dijemput anak perempuan sebaya kami di gerbang sekolah, lalu mereka pulang bersama-sama sambil mengobrol dan tertawa-tawa. Aku juga pernah melihat anak perempuan itu bermain dengannya di taman perumahan kami.

Kupikir, teman-temanku hanya iri padanya. Karena Nul yang terpandai di kelas dan ia anak orang kaya.

"Nul bukan anak dukun!" Sergahku ketika mereka mulai menjelek-jelekkan Nul lagi.
"Dia suka ngomong sama setan!"
"Kapan?" Tanyaku. "Jangan suka bohong. Kata Bu Guru, bohong itu dosa!"
"Pokoknya dia suka ngomong sendiri! Kamu jangan dekat-dekat, nanti disihir jadi kumbang. Terus tinggal di pohon jambu itu!"
Aku jengkel sekali karena mereka tak pernah berhenti mengada-ada. Nul tidak seaneh itu. Nul tidak pernah bicara sendiri. Mereka saja yang iri.

Biasanya, kalau anak-anak sedang membicarakan dirinya, Nul cuma memperhatikan dari jauh. Kadang-kadang menjulurkan lidah dengan tampang mengejek, membuat teman-teman kesal. Tetapi hari itu Nul sedang tidak masuk karena sakit.

"Hai!" Seseorang berlari-lari menyusulku dari belakang. Aku menoleh dan melihat anak perempuan, teman Nul itu.
"Hai!" Aku berhenti, menunggunya menjajariku. "Cari Nul ya? Dia nggak masuk. Sakit."
Anak itu mengangguk. Dari dekat aku bisa mengamati wajahnya. Ia sangat manis. Rambutnya panjang diekor kuda. Agak sedikit lebih tinggi dariku. Pakaian seragamnya bagus sekali.
"Aku tahu kok," jawabnya sambil tersenyum. "Eh rumah kamu sekompleks sama Nul ya?"
Aku mengangguk. "Tapi agak jauh. Beda tiga blok."
"Aku juga tinggal di kompleks kok."
"Iya. Aku juga suka lihat kamu main sama Nul."
"Kapan-kapan kalau lihat aku dan Nul, main bareng sama kami ya."
"Ya. Nama kamu siapa?"
"Nina."
"Aku Retno."
"Aku sudah tahu." Nina tersenyum.

Tetapi aku tak pernah sempat bermain dengan mereka. Nul tiba-tiba pindah sekolah. Ia datang bersama ibunya dua minggu setelah sembuh dari sakitnya. Bu Guru mengumumkannya pagi-pagi sebelum kami mulai belajar.

Teman-teman tampaknya senang dengan kabar itu. Tetapi aku tidak. Aku berlari menyusul Nul yang berjalan keluar di belakang ibunya.

"Nul! Mau pindah kemana?"
Ia menoleh dan tersenyum. "Aku pindah ke Semarang."
"Sudah bilang Nina?"
Ia tertegun.
"Nina, yang suka main sama kamu. Suka jemput kamu pulang sekolah bareng."
Wajahnya berubah pucat. Ia melirik ibunya yang menunggu beberapa langkah di depan. Tersenyum menatap kami.
"Kamu... kamu bisa melihatnya?"
Aku mengangguk.
"Kamu bisa lihat Nina?"
"Iya."
Ia menatapku heran. "Jangan bilang siapa-siapa ya," bisiknya. "Yang lain nggak bisa lihat dia. Janji?"
"Janji."
Nul nyengir. Berbalik lari menghampiri ibunya. Meninggalkan aku berdiri di bawah pohon jambu air itu. Lalu kulihat Nina. Ia muncul entah dari mana, berjalan di belakang Nul. Sekali ia menoleh dan melambaikan tangannya padaku.

Aku tak pernah lagi bertemu mereka. Nul dan temannya Nina. Dan sejak itu aku menyadari, aku bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

Sunday, July 12, 2009

Menunggu Hantu


Music is silenced, the dark descending slowly
Has stripped unending skies of all companions.
Weariness grips your limbs and within the locked horizons
Dumbly ring the bells of hugely gathering fears.
Still, O bird, O sightless bird,
Not yet, not yet the time to furl your wings.


-Rabindranath Tagore-

........

Malam itu seperti malam-malam yang biasa. Sepi dan dingin. Ia membiarkan lampu kamar masih menyala. Kadang-kadang ia enggan tidur dalam gelap. Terutama jika malam terlalu dingin, dan angin berhembus terlalu kencang dari balik kisi-kisi jendela.

Entah kenapa, ada sesuatu yang memaksanya untuk tetap membuka mata meski kantuk telah menyerang sejak sore tadi. Ia memperhatikan seluruh isi kamar yang tidak terlalu besar itu. Lemari kayu model lama di sudut ruangan, sebuah cermin besar dan meja rias di depannya, lalu sebuah rak buku kecil berisi beberapa majalah dan buku lama.

Angin bertiup masuk. Tirai jendela bergoyang pelan. Udara dingin berputar-putar di dalam kamar. Ia merapatkan selimut ke dadanya.

Sebuah suara. Mirip desiran angin menggesek tirai. Semakin lama semakin keras. Kali ini seperti desisan.

Ia menoleh ke arah datangnya suara. Jendela itu rupanya. Sentuhan angin menyibak tirai. Seraut wajah bermata merah menatapnya.

Ia menjerit.

......

"Mau tidur di kamar atas?" Mak Ipah menatapku tak percaya.
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Di atas kan serem, Neng..."
"Kata siapa? Dulu pernah tidur sendirian di atas nggak ada apa-apa tuh."
"Ih si Neng, Emak nggak tanggung jawab ya kalo ada apa-apa."
"Nggak akan, Mak. Saya nggak akan menjerit-jerit."

Rumah itu berdiri di atas bukit. Bagus dan besar, terbuat dari kayu ulin. Halamannya sangat luas, dengan kolam ikan yang bahkan dua kali lebih besar dari kolam ikan di belakang rumahku. Itu rumah tanteku. Adik Ibu.

Aku suka menginap di sana, karena aku suka rumah kayu. Mengingatkanku pada rumah Nenek di masa kecil dulu. Rumah Nenek dulu berbentuk rumah panggung, terbuat dari kayu jati. Bilah-bilah lantainya di balik tikar pandan ada yang tidak terlalu rapat. Aku senang mengintip ke bawah, tempat ayam-ayam sibuk mengorek-ngorek tanah. Mencari cacing buat anak-anaknya. Terkadang aku sengaja menjatuhkan remah-remah makanan ke bawah dan tertawa melihat ayam-ayam itu berebut mematukinya.

Waktu pertama kali dibangun, banyak saudara yang antusias menginap di rumah Tante. Ia yang memang ramah dan baik, dengan senang hati menampung para keponakan yang datang untuk berlibur.

Kemudian cerita itu tersebar. Seorang kerabat yang menginap melihat hantu. Penampakan demi penampakan lain pun terjadi. Dan para keponakan yang hobi menginap pun bubar. Kecuali aku.

"Masih menginap di sana?" Seorang sepupu bertanya. "Nggak takut?"
"Enggak. Nggak ada apa-apa kok."
"Iiiih!" Ia menggigil. "Lu kok berani gitu sih? Sudah banyak yang lihat, tahu!"
Ia tidak pernah tahu, aku bukannya tidak pernah melihat hantu.
"Kalau hantunya ganteng kan asyik tuh!" Aku nyengir.
"Sinting! Nanti didatengin beneran lho!"
Aku cuma tertawa.

"Neng, beneran mau tidur di atas?"
"Habis mau tidur dimana lagi?" Tanyaku pada Mak Ipah, pembantu Tante. "Kamar tamu kan memang di atas."
"Tidur sama Emak aja deh, kita gelar kasur di depan tivi, yuk!"
"Ah nggak mau, dingin." Aku membayangkan kamar tamu di lantai atas yang nyaman. Selimutnya tebal sekali. Aku malah sedang berpikir mau meminjam selimut itu untuk tidur di rumah Ibu, toh Tante punya beberapa cadangan yang sama. Hehehe.

.....

Lalu malam pun menjelang. Seperti dalam puisi Tagore. Kegelapan turun perlahan. Senyap menyekap. Dalam benakku, musik pengantar film horor mulai berkumandang. Haha. Dasar terlalu berlebihan!

Aku terjaga sampai tengah malam. Menunggu hantu? Tentu saja tidak. Buat apa! Aku sedang menamatkan novel yang kubawa dari Jakarta. Di luar terdengar bunyi kepak sayap kelelawar, suara burung hantu ber-uhu-uhu di kejauhan. Suara angin menggesek tanaman lavender di luar jendela kamar. Dingin mulai menusuk tulang.

Novelku tamat pukul satu pagi. Udara dingin semakin menggila dan selimut favorit ternyata tidak cukup menolong.

Aku meraih ponsel dan mulai menulis pesan pendek pada satu mahluk insomnia yang kukenal di Jakarta.
"Gue belum tidur. Lu lagi ngapain?"
Seperti yang kuduga, ia langsung membalas. "Lagi makan mie rebus."
"Sinting! Jam segini makan!"
"Lah lu ngapain belum tidur? Tumben."
"Nungguin hantu."
"Hahaha. Berani gitu?"
"Kalo serem ya enggak."
"Ya udah gue doain hantunya cowok ganteng!"

Menjelang subuh percakapan berakhir. Di luar embun mulai turun. Udara semakin dingin.
Tapi .....
Mana hantunya?
________________

Kenzo pernah bertanya, seperti apa hantu yang biasa kulihat. Macam-macam, jawabku. Tapi kebanyakan hanya berupa sosok transparan.
"Aku nggak pernah melihat hantu," ujar si pacar tersayang.
Yah, berdoa sajalah supaya tidak pernah, darling. Mereka bukan sosok yang menyenangkan, tau ;)



Image and video hosting by TinyPic

Sunday, June 14, 2009

Kutunggu Kau di Rest Room


Moaning Myrtle: Oh, Harry? If you die down there, you're welcome to share my toilet.
Harry Potter : Uh... thanks, Myrtle.


(Harry Potter and The Chamber of Secrets)

......

Ia selalu di sana, di depan cermin besar sepanjang dinding. Mematung menatap ke dalam cermin dengan wajah sayu habis menangis. Kadang-kadang kupergoki ia sedang berusaha membenahi dandanannya. Memoles lipstik, atau menyisir rambutnya yang panjang.

Jika aku ada di sana, keluar dari salah satu bilik toilet, ia masih berdiri tak bergerak di sudut wastafel. Aku menatapnya sekilas, meski ia tak pernah berusaha menoleh padaku. Aku mengernyitkan dahi melihat gaunnya yang kusut. Dan selalu saja ia hanya memakai yang itu-itu saja. Kalau tidak yang merah, ya yang putih. Modelnya juga sudah agak ketinggalan zaman.

Ia akan bergeser sedikit ke sudut rest room jika aku hendak ikut bercermin. Menundukkan wajahnya, menyembunyikan raut muka sedihnya di balik rambutnya yang tergerai.

Sebenarnya aku pernah memarahinya beberapa waktu yang lalu. Mungkin karena itu, ia jadi agak takut padaku? Tapi masa takut padaku sih? Bukankah seharusnya aku yang takut pada perempuan seaneh dirinya?

Waktu itu ia mengikutiku ketika aku selesai mencuci muka di rest room. Ia mencoba bersembunyi, tetapi tanpa menoleh pun aku tahu ia ada di belakangku.
"Ngapain sih ngikutin aku? Sana ah! Aku nggak nyaman, tahu!"
Ia masih mencoba membandel. Bersembunyi di belakang punggungku.
"Pergi!" Ujarku kesal. "Atau tidak lagi kami izinkan kamu memakai rest room!"
Dan ia pun akhirnya pergi.

......

Tetapi lama-lama tangisannya mengganggu. Membuat orang lain takut pergi ke rest room. Menimbulkan banyak keluhan, dan tentu saja sedikit kehebohan.
Kakakku selalu menyeretku untuk menemaninya kalau ingin buang air kecil di toilet. Begitu juga beberapa sepupu.

"Kenapa sih kamu selalu menangis?" Tanyaku padanya. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu"
Ia tidak menjawab. Masih saja menunduk di sudut, dengan wajah di balik rambut. Mengingatkanku pada tokoh Sadako di film The Ring.
"Siapa yang menyakitimu?"
"Seseorang," sahutnya pelan. "Seseorang."
"Laki-laki?"
Ia mengangguk.

Klise. Seorang perempuan yang disakiti laki-laki, lalu menangis berhari-hari. Dalam kasus ini, entah berapa tahun.... berapa puluh tahun...

"Boleh minta tolong?"
Ia mengangguk.
"Jangan menangis di sini. Atau kalau memang nggak ada lagi tempat buatmu untuk menangis selain disini, jangan menangis keras-keras. Semua orang jadi ketakutan dan merasa nggak nyaman. Semua orang punya hak untuk memakai rest room ini kan?"
Ia mengangguk.
"Makasih atas pengertiannya."

.......

If you could only read my mind
You would know that I've been waiting
So long
For someone almost like you
But with attitude, I'm waiting so come on


(Want You Bad - Offspring)


Ia masih menangis di tengah malam. Kadang-kadang masih memperlihatkan dirinya yang transparan dengan gaun merah atau putihnya yang kusut itu. Tetapi tidak sesering dulu dan cuma beberapa orang yang bisa mendengarnya.

Ia bilang, sedang menunggu seseorang menjemputnya. Siapa? Ia tak mau memberitahu.
Hmm... mungkin kamu?


Image and video hosting by TinyPic

Monday, February 25, 2008

Namaku Siti

Halo, kamu belum tidur? Bolehkah aku masuk? Dari balik jendela, aku sering melihatmu masih terjaga sampai larut malam. Tidak bisa tidur ya? Memikirkan apa? Ah seorang laki-laki! Orang yang kamu cintai kah? Dia sungguh beruntung ada yang selalu memikirkannya.
Boleh masuk kan? Permisi... Aku ingin mengobrol denganmu. Tampaknya cuma kamu yang menyadari keberadaanku. Yang lain tidak mempedulikanku meski aku duduk di depan mereka.

Jadi aku boleh menemanimu malam ini? Boleh? Oh, terima kasih ya. Aku tahu kamu orang yang baik. Sayang sekali kamu jatuh sakit begini. Begitulah hidup. Harus menghadapi banyak persoalan. Semuanya baru berhenti kalau kamu sudah mati.

Namaku? Ya ampun! Maaf ya, aku lupa mengenalkan diri. Sungguh tidak sopan aku ini. Padahal aku sudah tahu namamu. Itu ada di papan di kaki tempat tidurmu.
Panggil saja aku Siti. Nama lengkapku tidak penting. Sudah lama aku tidak mengurus KTP ataupun kartu Pemilu. Aku asli Jakarta, kelahiran tahun 1970. Oh, aku lebih tua dari kamu ya? Tapi jangan panggil aku Kak atau Mbak ya. Panggil nama saja biar lebih akrab.

Belum. Aku belum menikah. Belum sempat menikah. Aku keburu lari dari rumah waktu berumur 18 tahun. Kamu tanya kenapa aku bisa seperti ini? Ah ceritanya panjang sekali. Tapi baiklah aku persingkat saja. Aku ini anak yatim. Bapakku pemulung, suatu hari tidak pulang ke rumah, hilang entah kemana. Dua tahun kemudian, Ibu kawin lagi dengan seorang laki-laki pengangguran. Kerjanya cuma mabuk dan main judi. Dia juga sangat kasar dan suka memukuli kami. Entah kenapa Ibu mau sama dia. Ibu yang banting tulang jadi babu cuci untuk menghidupi aku dan dua adikku dan bapak tiri yang tidak tahu diri itu.

Dua hari setelah hari ulang tahunku yang ke 18, bapak tiriku mencoba memperkosaku, waktu Ibu tidak di rumah. Aku berhasil kabur keluar rumah dan sejak itu tidak pulang-pulang lagi.

Kasihan? Kamu kasihan padaku? Aduh, tidak usah. Semua itu mungkin sudah takdirku. Aku malah kasihan padamu. Sakit itu kan tidak enak. Apalagi kalau harus terbelenggu di ranjang rumah sakit seperti ini, sementara pikiranmu mengembara kemana-mana.
Sudahlah jangan banyak pikiran dulu. Nanti dokter tua yang baik itu marah padamu. Oh, dokter itu sudah kenal denganmu sejak kamu masih kecil? Dulu, dia pasti gagah sekali ya? Kenapa tidak tanya, mungkin dia punya anak bujang yang cocok untuk kamu.

Ahahaha... maaf ya, aku cuma bercanda. Iya, anak-anaknya sudah kawin semua. Aku tahu? Ya tahulah. Aku pernah ikut ke rumahnya. Menumpang diam-diam di jok belakang mobilnya.

Ah pertanyaan apa itu? Kamu bertanya kenapa aku kelihatan bahagia. Tentu saja aku bahagia. Aku bebas pergi kemana saja. Tidak perlu takut lapar, haus, sakit. Tidak ada lagi yang menyakiti aku dan mencoba memperkosaku.
Kembali ke rumah? Tidak ah. Sejak aku kabur, lalu tertabrak mobil sampai mati di jalan besar itu, aku memutuskan tinggal di sini. Sudah 13 tahun berlalu sejak orang-orang membawa jasadku ke rumah sakit ini dan menguburkannya sebagai mayat tak dikenal. Tak ada yang mencariku. Tak ada yang merasa kehilangan aku.

Aku baik-baik saja di sini. Ada banyak teman senasib. Kamu pasti bisa melihatnya beberapa, bukan...?

___________________________________________________

Siti adalah hantu di rumah sakit tempat aku dirawat. Setiap malam dia selalu menjengukkan wajahnya di balik jendela dan tersenyum.
Dia cantik kalau saja tidak ada luka besar di separuh wajahnya karena terseret aspal dalam kecelakaan maut itu.
Hidup yang ironis. Kematian yang tragis....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...