Sunday, December 19, 2010

Kiara

Orang-orang selalu heran kenapa aku berani datang ke pemakaman desa sendirian hampir setiap sore. Bahkan saat langit sedang gelap oleh mendung dan bergerimis, atau saat senja mulai temaram.

Mereka bilang, jangan ke sana sendirian. Harus ditemani. Dan aku balas menatap mereka dengan kening berkerut. Memangnya kenapa? Toh itu cuma sebuah pemakaman biasa. Ada nisan-nisan berjajar tidak terlalu rapi, pohon-pohon kamboja dan singkong karet di sana-sini, dan dua buah pohon kiara tua yang sangat besar di tengah pemakaman.

Pemakaman itu terletak di atas sebuah bukit. Angin sore yang semilir seringkali terasa lebih kencang di sana. Angin menabrak daun-daun pepohonan, menimbulkan suara gemerisik yang samar dan misterius. Bahkan jarang terdengar cericit burung atau sekedar dengung kumbang. Di hari-hari biasa suasananya begitu sunyi, karena pemakaman itu hanya akan ramai dikunjungi menjelang puasa dan Lebaran.

Agak di tepinya terletak kompleks pemakaman keluarga besarku. Ibuku dimakamkan di sana, itu sebabnya sekarang aku sering datang ke sana. Membacakan surat-surat Al Quran yang Ibu sukai, mengganti bunga segar di dalam vas tanah liat di atas makamnya, membersihkan rumput-rumput liar dan daun-daun kering yang mengotorinya, atau hanya duduk saja beberapa menit di sana untuk menyapa Ibu.

Di sana banyak arwah penasaran, kata tetangga-tetanggaku yang sudah tua. "Ulah angkat nyalira, Neng. Sieun."

Menyeramkan? Sepertinya begitu. Ada aura ketakutan dan kengerian yang kurasakan di bukit itu. Dulunya, di sana belum ada pemakaman desa seperti sekarang. Bukit itu hanya berupa tanah kosong berilalang setinggi lutut yang oleh TNI dijadikan tempat mengeksekusi para anggota pemberontak. Entah berapa ratus anggota pemberontak Darul Islam dan PKI yang dibunuh di sana.

Menurut cerita mendiang Kakek waktu aku masih kecil, para pemberontak itu ditembak mati, bahkan dipenggal. Teriakan kengerian terdengar membahana ke seantero desa seiring rentetan letusan senapan atau tetakan pedang. Menurut para tetua desa, gema suaranya masih terdengar puluhan tahun kemudian, bahkan sampai sekarang. Itu sebabnya tak satupun penduduk desa yang berani datang sendirian ke pemakaman desa.

Kecuali aku.

Tapi kisah seram yang paling sering disebut-sebut adalah tentang dua pohon kiara raksasa yang sejak dulu sudah ada. Entah berapa ratus tahun usianya. Di sana konon ada hantu perempuan yang suka menampakkan diri pada orang-orang yang kemalaman di jalan. Ada cerita tentang perempuan yang suka mencegat delman. Ikut menumpang sampai desa tetangga, tapi tiba-tiba saja menghilang di tengah jalan. Atau cerita tentang salah seorang tetangga yang menghilang dua hari dua malam, tiba-tiba ditemukan sedang tidur memeluk nisan sebuah makam di bawah pohon kiara.

Cerita-cerita itu tidak membuatku takut. Tapi sebaliknya membuat Usi tidak pernah mau ziarah ke makam Ibu sendirian. Ia suka mendesak-desak aku supaya mengantarnya, meskipun saat itu siang hari bolong.

"Kita membacakan Yassin untuk Ibu. Setannya langsung kabur begitu dengar kita membaca ayat Al Quran," sergahku, jengkel pada sikap penakutnya yang tak sembuh-sembuh.
"Habis pohon kiaranya kelihatan dari sini," ujarnya.
Memang dua pohon kiara itu tampak jelas, menghadap langsung ke pemakaman keluarga kami.
"Yuk ah, pulang!" Ia bangkit terburu-buru begitu selesai berdoa. Mendahuluiku berjalan menuruni undakan tangga.
Tiba-tiba kulihat sesuatu di undakan tangga paling bawah. Sesuatu yang mematung di sana, yang membuat bulu kudukku meremang seketika. Ups!
Dari belakang, aku meraih tangan Usi, menariknya lebih ke pinggir. "Jalannya agak ke sini, Kak."
"Apa? Kenapa?"
"Sudah deh, pokoknya agak minggir ke kanan aja."
"Memangnya kenapa?" Ia memandangku lekat-lekat. Mencari sebuah mimik yang sudah ia hapal. "Jangan-jangan..." Matanya terbelalak ketakutan. "Kamu lihat apa? Kamu kumat ya? Mata ketiga kamu lagi terbuka ya? Hiiii...!" Usi meninggalkanku setengah berlari.

Di tepi jalan, di depan undakan yang menuju kompleks makam keluarga kami, aku menoleh lagi. Sosok perempuan berkebaya ungu tengah berdiri membelakangiku. Rambutnya sepunggung berkibar-kibar. Itu pasti perempuan penunggu kiara yang sering diceritakan orang-orang. Akhirnya aku melihatnya juga.

Kamu nggak boleh ganggu kami, kataku dalam hati. Lalu bergegas menyusul Usi.



___________
Catatan:

Ulah angkat nyalira, Neng. Sieun (bahasa Sunda): Jangan berangkat sendiri, Neng. Takut.

Pohon kiara (ficus Sp): disebut juga pohon ara atau beringin pencekik, yang mengawali hidup sebagai parasit dari pohon lain. Kemudian setelah besar mematikan inangnya dengan cara mencekik.

Foto di atas itu adalah pohon kiara, tapi yang di pemakaman desa kami jauh lebih tinggi dan besar lagi.



Image and video hosting by TinyPic

11 comments:

Icang said...

entah kenapa, saya kok malah berasa mencekamnya pas baca deskripsi tentang pohon kiara..hehe

Arman said...

doh.. serem amat no.. hehe

owly said...

seram.

chici said...

wah mbak enno beneran punya mata ketiga ya?
Huuuaaa sereeeem....

Alil said...

Cool....
you have that thing...
hmmm...

how do you cope with it, Enno..?

Ceritaeka said...

Kangen kamu No...

Enno said...

@icang: hehe memang bkn utk bikin mencekam kok :)

@arman & owly: mau gue ajak kesana? :P

@chici: gak selalu bisa kok chi...

@alil: lama2 kan terbiasa, dan jangan dipikirin. gitu aja sih :)

@eka: hehe... bknnya serem malah kangen... aneh :P

liendsay said...

salam kenal, tulisan mbk enno benar2 menyentuh....

Yeoja said...
This comment has been removed by the author.
M. Faizi said...

Saya solak tulisan ini. Kunci yang saya dapat; doa, makam, sendirian, keberanian.

Enno said...

@liendsay: thx liendsay :)

@mas faizi: hahaha... yah ditolak... tar kukirim hantunya baru tau rasa lho mas! :))

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...