Showing posts with label The Transvestite Crab. Show all posts
Showing posts with label The Transvestite Crab. Show all posts

Tuesday, July 26, 2011

I Cursed You

Pagi berkerudung kabut, hari itu ketika aku mengutukmu. Sejak tak lagi kusimpan gambarmu yang kotor dan lusuh. Sejak janji-janjimu berubah menjadi duri dalam dagingku. Menusuk-nusuk pedih ingatan yang tak pernah bisa ditepis, bahkan sekarang.

Sejak awal seharusnya kucamkan. Bahwa segala yang sempurna hanya khayali, bukan untuk digenapi.

Begitu saja. Seperti aku mencintaimu tiba-tiba, aku pun membencimu tiba-tiba. Lebih dalam dari cinta itu, lebih riuh dari janji-janjimu yang berderet penuh dalam catatanku di pinggir almanak itu.

Kupahat dirimu dalam diriku sebagai tugu bagi kecoak pengecut yang lari sehabis mencuri. Ya, kaulah itu yang mencuri banyak dariku. Waktu, harapan, perasaan. Kau bahkan tak peduli ketika almanak telah berganti tiga kali. Lalu ketika segalanya tak sanggup kau penuhi, kau lari seperti banci.

Hantu putih itu pandai berdansa ya? Barangkali ia berdansa di atas ranjang merahnya yang kau puja sebagai altar? Di negeri dingin itu, mungkin kau butuh kehangatan dan memuja kepahlawanan.

Aku mengutukmu di pagi hari yang berkabut, yang datang bergulung-gulung dari gunung. Yang menyelinap ke saluran pernapasanku, menjadikan hatiku beku.

Maka dengarkanlah ini. Kutukanku untukmu:
Kau tak akan pernah mengerti rasanya bahagia. Karena kau telah meninggalkannya padaku.
Kutunggu hari ketika kau terjatuh lagi dan luka yang menganga seperti kupunya.
Kuharap kau selalu mengingat dosamu padaku, di setiap langkah dan perbuatan.

Dan kuharap kau tersedak oleh janji-janjimu itu!


pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Thursday, July 21, 2011

Dumb

Seorang laki-laki labil yang selalu pesimis pada tujuan hidupnya, pergi ke negeri dingin yang jauh. Seorang perempuan yang keringatnya berbau keju berpapasan dengannya, di suatu tempat, entah di lorong mana. 
 Ia yang kesepian mengajaknya berkenalan. Berkencan. Hari itu, hari setelahnya. Mengajaknya minum-minum suatu malam. Mengantarnya ke apartemennya yang hangat oleh nyala perapian. Perempuan itu mengajaknya masuk, menawarinya sekedar secangkir kopi untuk menghalau bergelas anggur yang diminum tadi. 
Musik mengalun pelan. Laki-laki itu mengajak si perempuan berbau keju berdansa. Pengaruh anggur. Pakaian-pakaian yang terlepas kemudian. Tubuh-tubuh yang saling membelit setelahnya.

(adegan sebuah film, lupa berjudul apa)

.....


Kau puas kan? Aku yakin kau sudah puas berlatih denganku mengucapkan kata-kata tentang cinta. Kau yang dulu mengaku 'less practice', kukira hanya bercanda tetapi rupanya itulah kebenaran.

Kuharap kau berjaya dengan keahlian barumu. Menaburkan kata-kata semanis madu yang melenakan perempuan yang kau tuju. Belajar banyak dariku, menyerap keahlianku, merangkai dan menyusun kata demi kata, lalu kau pakai berdusta.

Sekarang aku tahu, memang seperti itulah jenismu. Kepiting banci. Jenis yang berlindung di balik sikap manis dan melankolis. Jenis yang suka mengumbar tragedi untuk dikasihani, mengambil sebanyak mungkin yang bisa didapat untuk kepentingan sesaat.

Kurasa sakit hati yang kau tunjukkan itu tak berarti. Mungkin sudah lama kau sadari bahwa kaulah penyebab tragedi itu. Bukan tidak mungkin kaulah pengacaunya. Oh, maafkanlah kalau aku salah. Tapi kurasa aku benar.

Ya. Kau hanya butuh beristirahat sejenak di perapianku yang selalu hangat. Mendengarkan aku tanpa sungguh-sungguh peduli, yang dengan bodohnya mengeja isi hati. Memperalatku agar mau mengobati lukamu sambil memujamu seperti pejalan yang merindukan tempat bersinggah.

Memang seperti itulah jenismu. Yang tak pernah berani menghadapi ironi. Pergi menjauh ketika tak lagi butuh. Kaulah itu. Yang tak pernah berusaha menjelaskan. Yang tak pernah berusaha meminta maaf. Pengecut paling malang yang pernah ada.

Perapian di sana lebih hangatkah? Kurasa tentu begitu. Barangkali lengkap dengan suguhan tubuh yang bisa kau sentuh, dan seseorang yang membuat hatimu luluh.

Hey maaf kalau tak ada seks selama bersamaku. 
Maaf kalau aku tak punya anak cacat yang bisa membuatmu jadi pahlawan, oke?

Harap kau percaya, aku akan terus mengabadikan kepengecutanmu dengan huruf-hurufku. Dengan keahlian yang kau curi untuk merayu perempuan asing berkeringat keju. Sampai aku bosan. Sampai aku memaafkan. Dan kau tak pernah tahu kapan itu.

Dasar dungu.
Bukan. Bukan kau. Kau hanya seekor kepiting banci. Yang dungu itu aku.


pict from here




Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, July 13, 2011

The Cabin

It's not about I love you.
It's about you never loved me.

.........................

Seseorang mengguncang-guncang tubuhnya ketika ia tengah bersenyawa dengan mimpi. Bangun! Bangun! Ia mendengar suara itu mulanya samar teredam, lalu semakin keras seiring datangnya kesadaran. Ia menggeliat dengan mata yang setengah terpejam. Bersiap terjun lagi ke dalam ketidaksadaran dimana ia bisa menjadi apa saja. Tapi suara itu menembus ke otaknya langsung dari telinga. Banguuuun!!!

Ia melupakan keinginannya untuk kembali ke dunia mimpi.  Ada apa? Tanyanya parau, dengan mata yang terkerjap silau. Kebakaran! Teman yang membangunkannya menyahut. Ia tertegun.

Kau masih ingat pondok itu? Pondok kecil indah yang kita bangun beberapa tahun yang lalu di tengah padang berumput hijau dan berbunga putih kecil-kecil. Kita membangunnya dari papan jati keping demi keping hingga akhirnya menjadi pondok yang cantik. Engkau menghiasi halamannya dengan tanaman berbunga. Aku menggantungkan pot-pot kecil di beranda.

Pondok yang mana? Ia tak ingat satu pondok pun di dekat tempat tinggal mereka.
Di tepi hutan, sahut temannya. Ingat kan? Pondok kecil cantik bercat coklat dengan pintu dan ambang jendela yang dipernis mengkilap. Yang di halamannya ditumbuhi hibiscus merah dan kuning, dan bunga-bunga dandelion juga daisy liar berwarna biru.

Oh, pondok itu...

Iya, pondok itu. Kenapa kau diam saja? Kita harus ke sana membantu memadamkan api! Temannya sudah melompat duluan, menyambar mantel dan sarung tangan. Di luar dingin, kau harus pakai baju yang hangat! Serunya di ambang pintu.

Di dalam pondok itu aku menyimpan cinta kita dalam stoples permen. Menaruhnya di atas perapian bersama janji-janji yang terbingkai kayu berukir dan berlapis kaca. Menghiasi dindingnya dengan kisah-kisah kita. Agar setiap kali kita menghangatkan diri di sana, saling memeluk dan bersandar satu sama lain, kita selalu ingat bahwa kita saling memiliki.

Ia menghela dirinya dari ranjang dengan enggan. Hanya karena sebuah pondok yang terbakar ia harus merelakan jam tidurnya. Lalu sekarang ia mesti bagaimana? Seperti orang-orang lain itu, berlarian ke sana kemari dengan seember air untuk menyiram api?

Aku tidak akan meninggalkanmu, kau mengatakannya padaku suatu hari. Janji yang turut kubingkai dan kusimpan di atas perapian bersama stoples cinta. Tapi ternyata itu dusta. Suatu pagi aku terbangun tanpa dirimu di sampingku. Kau pergi, membawa stoples itu dan cinta yang mekar di dalamnya. Meninggalkanku hanya dengan janji-janji pada bingkai itu, yang berderet di sana bagai mengejekku.

Ini, bawa ini! Temannya menyerahkan seember air padanya. Jangan sampai tumpah. Kita harus membantu orang-orang memadamkan apinya.

Hari itu, musim semi yang lain. Setelah beberapa musim semi yang kita lewati sejak membangun pondok. Hari ketika kau pergi membawa stoples cintaku untuk kau berikan pada orang lain. Kau bahkan tidak mengatakan apapun padaku. Mencuri cinta itu dan menghilang seperti asap rokok yang selalu kau hembuskan ke udara.

Orang-orang dengan ember di tangan berlarian kesana kemari. Berteriak agar api dipadamkan segera. Di antara riuh rendah kepanikan ia seperti mendengar suara lolongan. Ia tidak yakin itu suara manusia atau bukan. Anjing hutankah itu? Masih adakah anjing hutan di tempat ini?

Aku harus tahu kenapa kau meninggalkan aku. Jadi kucari dirimu ke setiap tempat, semua pelosok, segala penjuru bumi, hanya untuk menemukan kau sedang memberikan stoples cintaku pada perempuan lain. Lancang sekali kau! Aku yang membuatnya mekar, aku yang menjaganya agar terus tumbuh. Bahkan tak kubiarkan satu orangpun menyentuhnya! Tapi kau... kau membiarkan perempuan asing sialan itu menyematkannya di dadanya yang murahan dan lembek!

Brengsek! Itu cinta milikku! Kembalikan padaku! Kau tidak berhak memberikannya pada orang lain! Apa kau lupa janji-janjimu? Apa kau lupa pondok yang kita bangun itu di musim semi itu?

Ia memandang temannya. Kenapa orang-orang begitu peduli? Itu kan bukan pondok mereka. Biar saja terbakar. Apinya sudah terlanjur besar.

Kau ini bicara apa? Sentak temannya. Kita harus menyelamatkan seseorang di dalam sana. Ada yang terjebak api!

Stoples itu jatuh ke tanah. Pecah. Satu-satunya yang terpikir olehku saat itu adalah meraih sepotong pecahannya yang runcing dan menusuk dada perempuan itu. Mengambil cinta milikku yang disematkan di jantungnya barusan. Entah bagaimana caranya aku bisa melepaskan diri dari cengkeramanmu dan menusuk dadamu, mengambil cintamu yang seharusnya menjadi hakku. Kau terbaring di sana, menatapku ngeri dan penuh teror ketika aku berlari pergi.

Kiki! Ia memanggil temannya, yang segera datang menghampiri. Tak ada seorang pun di dalam sana, Ki. Tak ada. Itu hanya pondok yang telah kosong dan stoples berisi cinta di dalamnya. Sekarang semuanya terbakar habis. Musnah untuk selama-lamanya. Tak ada pondok, tak ada janji-janji, tak ada harapan, tak ada kebohongan lagi.

Kau mengigau ya?

Sssstt, dengar! Kau dengar lolongan itu, Ki? Aku baru menyadarinya. Itu bukan suara manusia. Itu cinta, harapan dan janji-janji palsu yang sedang terbakar.

Temannya menggeleng. Sejak kau pulang dari bepergian sebulan, kau jadi aneh!

Ia tersenyum. Kiki, biarkan saja pondok itu terbakar. Biarkan semuanya habis. Aku membakarnya dengan senang hati.

Seperti engkau, Kiki menatapku ngeri dan penuh teror. Embernya jatuh, ia tak menyadarinya karena sedang memandangi aku yang berjalan pergi. Aku, gadis yang kau tinggalkan dengan janji-janji palsu di atas perapian. Gadis yang kau permainkan habis-habisan. Gadis yang mengambil lagi cintanya dari dadamu dan dada perempuan itu, lalu membakarnya. Ya, sekarang aku ingat semuanya.

_______________

WARNING

Saya sedang dalam kondisi bad mood saat membuat tulisan ini. Agak sedikit susah payah menyelesaikannya. Jadi tolong siapapun punya sopan santun untuk tidak memplagiat tulisan ini. Trims.

pict from Flickr



Image and video hosting by TinyPic

Friday, July 8, 2011

An Elegy for Farewell

Langkah demi langkah angin mengundurkan diri dari gurun yang mengajaknya berkelana. Tahun-tahun berlalu, tak pernah dibelainya wajah daun. Ia rindu hinggap di dahan-dahan pepohonan. Mengajak burung menarikan tarian musim yang lain.

Langkah demi langkah angin mengundurkan diri dari gurun. Yang meski dicintainya lebih dari apapun, tak kuasa lagi ditanggungnya pengembaraan tak berujung.

Engkau mengubahku dalam semalam. Jadi siapakah aku?
Seseorang yang dulu suka menangis, lemah oleh begitu banyak perasaan.
Menjadi kuat demi mimpi-mimpi yang kau satukan keping demi keping, serakan puzzle yang menjadi utuh.

Tadinya kupikir kau ingin aku menjadi rumah. Tak peduli sejauh mana kau pergi, berapa lama pun. Aku tetap ada, menunggumu mengetuk pintu.
Tapi tahun-tahun berlalu. Kau tak pernah muncul di gerbang itu.

Langkah demi langkah angin mengundurkan diri dari gurun. Maafkan aku, katanya pada Sang Gurun. Sang Angin membungkuk, mundur dan berputar pergi.

...................

Lama tersimpan dalam memori ponsel. Lihatlah, bahkan Angin ingin berakhir dengan ucapan selamat tinggal yang layak. 


pict from here



Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, July 5, 2011

Kau Saja

Sebaiknya jangan berharap aku mati. Karena aku bertekad terus hidup. Baru saja aku merasa lega. Segenap beban yang menumpuk di bahu menguap ke udara. Lama sekali tidak merasa sehidup ini. Menyadari bahwa pagi adalah penanda hari baru.

Di halaman, rerumputan basah menyentuh kaki-kaki telanjang. Mengoleskan embun yang turun semalam. Dingin. Mengingatkanku pada hatimu yang beku itu. Nyaris tiga tahun. Dan semua itu hanya sandiwaramu yang lebih kacangan dari sinetron kejar tayang.

Kau jangan berharap aku mati. Aku baik-baik saja dan kini sedang tertawa. Dirimu tak lebih dari segores tinta merah yang mengotori tiga kalender di tahun-tahun silam yang sudah punah. Kau tak lebih dari seonggok kotoran di sudut hati, yang kini sudah kusapu bersih.

Aku tidak akan mati karena itu. Sebab aku menunggu hari dimana kulihat kau tertatih-tatih lagi mencari pegangan dan penghiburan, tanpa aku mengulurkan tangan. Dan itu pasti.

I brighten your days? It's bullshit!

Aku tidak akan mati.
Bagaimana kalau kau saja?
Supaya tak seorangpun lagi kau sakiti.

pict from here


Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...