Wednesday, July 17, 2019

Algernon Project: Toko Buku Berpintu Mahoni

Liebe Marie,

Tahukah kau, betapa senangnya hatiku kemarin? Aku menemukan sebuah toko buku kecil yang menarik.

Itu toko buku yang dari depannya saja sudah terlihat unik. Berjendela besar dengan lis-lis hitam, tetapi pintunya terbuat kayu kokoh sewarna mahoni. Ia seperti memanggil-manggilku untuk masuk ke dalamnya. Nama tokonya juga membuatku bertanya-tanya. Das Wunder.

Aku masuk, tentu saja. Bunyi lonceng di atas pintu mengiringi langkahku, dan memunculkan satu sosok lelaki setengah baya berkumis tebal dari balik meja kasir besar.

“Selamat datang!” Senyumnya lebar dan tulus di balik kumisnya. “Silakan melihat-lihat. Mungkin ada satu dua buku yang berjodoh dengan Anda, fräulein.”

Lelaki yang periang dan ramah. Orang Jerman paling periang dan ramah yang pernah kutemui sejauh ini, selain kau tentu saja.

Keramahannya itu membawa kami dalam sebuah percakapan. Ia sangat senang ketika tahu aku berasal dari Indonesia.

“Ah, salah satu pelanggan saya juga seorang gadis Indonesia!” serunya. “Ia sedang berkuliah di sini. Mungkin Anda kenal.”

“Mungkin juga tidak,” sahutku, tertawa. Aku baru beberapa hari di kota ini, dan tentu saja tak mungkin aku pernah bertemu semua orang Indonesia yang tinggal di Würzburg,  maupun yang sedang berwisata. Hanya satu orang setanah air yang pernah kutemui. Gadis yang bertabrakan denganku di jembatan Alte Mainbrücke.

Namun, tak kusangka, si pemilik toko menyebut namanya. “Ah, gadis itu namanya Demitria. Ia perempuan muda yang sangat menyenangkan. Nona agak sedikit mirip dengannya, kukira. Apakah semua gadis Indonesia bermata coklat dan murah senyum?”

Ia bergurau tentu saja. Sedang mencoba memujiku dengan cara Jermannya yang sedikit kaku. Seperti kau, Marie. Aku selalu mengejek humormu garing dan kurang lucu.

“Gadis Indonesia bernama Demitria yang Anda maksud itu, yang senang membaca buku-buku sastra klasik?”

Mata lelaki tua itu melebar. “Ya, dia. Nona mengenalnya rupanya!”

“Kami bertemu tak sengaja beberapa hari lalu, lalu mengobrol sebentar. Anda benar, gadis itu sangat menyenangkan. Saya berharap bisa bertemu lagi dengannya kapan-kapan selagi masih berada di kota ini.”

“Ia bekerja sambilan di sebuah restoran tak jauh dari Alte Mainbrücke, nona. Kalau Anda pergi ke sana, mungkin bisa bertemu dengannya jika sedang gilirannya bekerja. Saya merekomendasikan restoran itu. Namanya Alte Stauss. Pemiliknya salah satu teman karib saya. Tetapi, percayalah. Bukan karena hubungan pertemanan kami, saya memuji masakan di sana. Bagaimana pun, nona harus mencoba beberapa makanan lokal Franconia terenak mereka.”

Makanan! Aku selalu tertarik pada makanan enak. Tolong catatkan untukku, Marie. Siapa tahu aku lupa nama restoran itu. Jika aku tak sempat berkunjung ke sana segera, mungkin kita bisa pergi ke sana setelah kau tiba di sini.

Setelah itu, sikapnya kepadaku semakin ramah. Aku memberitahu namaku, dan ia memintaku memanggilnya Jurgen. Lalu, menuntunku ke rak-rak buku yang menyimpan koleksi terbaiknya. “Orang-orang mengira, merekalah yang memilih buku yang hendak mereka baca. Mereka keliru, Fräulein Elinor. Bukulah yang memilih pembacanya. Ketika kau memegang sebuah buku, ia akan memberikan padamu halaman-halaman yang kau butuhkan atau tidak kau butuhkan. Ketika buku itu diletakkan kembali, buku itu yang menyuruhmu pergi.”

Aku tidak terlalu mengerti apa yang ia katakan, Marie. Aku tidak pandai berfilsafat. Namun begitu, lelaki ini sangat baik hati. Ia bertanya padaku jenis buku kesukaanku. Ketika ia tahu aku tidak terlalu lancar berbahasa Jerman, ia menumpuk buku-buku berbahasa Inggris yang sekiranya sesuai dengan minatku.

“Datanglah ke sini kalau ingin membaca buku, selama dirimu sedang berada di Würzburg, fräulein,” ujarnya sambil meletakkan novel Othello-nya Shakespeare di tumpukan paling atas.

“Oh!” Aku meraih buku itu dan tersenyum lebar. Seorang sepupuku menyukai buku-buku Shakespeare. Suatu hari, Othello miliknya hilang entah dipinjam siapa, dan ia menangis kesal di depanku. Buku ini mungkin akan menjadi oleh-oleh yang membahagiakan untuknya. “Saya ambil yang ini.”

“Pilihan yang bagus,” komentarnya senang. Ia membungkuskan buku itu dengan beberapa buku lain yang kupilih sebelumnya.

“Bolehkah saya bertanya tentang nama toko buku ini? Mengapa namanya Das Wunder? Apa yang begitu ajaib dari tempat ini?” tanyaku di depan meja kasir saat hendak membayar.

“Nona yang baik,” ia tersenyum. “Sebuah buku adalah keajaiban. Di dalamnya tersimpan petualangan-petualangan yang bisa mengubah hidupmu.”

“Wah, tentang itu saya setuju.” Kukatakan itu sembari menyodorkan beberapa lembar uang untuk membayar. “Terima kasih, Jurgen. Menyenangkan mengobrol denganmu. Saya akan datang lagi kapan-kapan.”

“Senang bertemu denganmu juga, Fräulein Elinor. Kedatanganmu kembali saya nantikan. Anda adalah gadis Indonesia kedua yang saya kenal, dan sama menyenangkannya.”

Aku tersenyum dan melambaikan tangan sebelum berbalik dan keluar dari toko buku itu. Di sisi luar pintunya, angin musim gugur yang dingin menerpaku. Aku sangat nyaman berada di dalam sana, dan ingin lebih lama mengobrol dengan lelaki tua itu, jika saja tak punya janji untuk bertemu narasumber.

Si pemilik toko buku itu hangat dan baik hati, tetapi tampak agak kesepian. Apakah ia punya keluarga? Ia seperti seorang ayah atau paman yang penyayang. Aku tak berani menanyakannya, karena ini bukan di negaraku sendiri yang terbiasa dengan keingintahuan pribadi.

Marie, lekaslah kemari. Kurasa, banyak sekali hal yang bisa kuceritakan dan kutuliskan dari kota kecil yang cantik ini. Tidak hanya tentang lanskapnya, bangunan-bangunan kunonya, tetapi juga tentang beberapa orang yang kukenal baru-baru ini.

Sepertinya aku akan makan di Alte Stauss nanti malam. Siapa tahu bertemu Demitria lagi. Aku berharap urusanmu di Berlin segera tuntas. Lekas tendang lelaki itu dari hidupmu, Marie. Aku tak sanggup lagi melihatmu menerima kekejamannya.
Salam sayang dari kota negeri dongeng bernama Würzburg. Akan kusurati kau lagi dengan cerita baru nanti.

PS: Aku belum mendengar kabar apa pun dari teman kuliahmu. Algernon Katz menghilang bagai ditelan bumi, meskipun bukan salahnya juga tak segera mengabari. Kami memang tidak menyepakati tanggal pertemuan berikutnya. Aku harus menunggu. Namun, selagi menantikan kabar darinya, insting jurnalistikku menumbuhkan rasa penasaranku terhadapnya.

Liebe Gruβe,
Elinor

----------

Disclaimer

Hai teman-teman Blogger!
Tahukah kalian bahwa novel terbaru saya "A DAY TO REMEMBER" akan segera terbit?
Yes! Algernon Project mewujud novel dan segera bisa dibaca.

Pre Order-nya sudah dimulai dari 12-26 Juli 2019. Ada special offer lho. Buku bertanda tangan dan tas serut cantik.

Pemesanan bisa melalui saya atau toko buku-toko buku online yang terdaftar. Untuk list toko buku online-nya silakan meluncur ke web, facebook dan Instagram Penerbit KataDepan, ya.

Untuk PO melalui saya, ada HADIAH TAMBAHAN, yaituuu.. jeng jeng!
Satu set (berisi 3 lembar) POST CARD yang didesain khusus oleh Algernon dan Demitria untuk para pembaca tersayang.
Yang ingin mendapatkannya, bisa mengisi form pemesanan di link:
http://bit.ly/PreOrderADTR
Jumlahnya terbatas.

Yuk buruan PO sebelum kehabisan!

Regards,
Enno

Tuesday, September 25, 2018

Algernon Project: Meet Demitria

Liebe Marie,

Kemarin sungguh menyenangkan! Aku bertemu seorang gadis Indonesia saat sedang berjalan-jalan di jembatan tua di atas Main River. Kami berpapasan dari arah berlawanan. Ia hampir melewatiku ketika tiba-tiba setumpuk buku yang dibawanya berjatuhan. Ia berseru dalam bahasa Indonesia, “Aduh!” Dan, aku tanpa sadar berkata, “Ya ampun!”

Sesaat kami saling pandang, lalu sama-sama tertawa.

“Senang sekali bertemu saudara setanah air!” serunya.

Kami akhirnya duduk di teras sebuah kafe, tak jauh dari Alte Mainbrucke, jembatan tua yang cantik itu. Seperti biasa, aku memesan Espresso, sementara si gadis muda memesan Caramel Machiatto.

Marie, gadis ini manis sekali. Rambutnya lurus sepundak dan matanya bulat besar seperti beruang Teddy, di wajah yang mungil berbentuk daun sirih. Kulitnya agak pucat, tetapi itu tidak menghilangkan kesan dirinya yang berkilauan dalam bias cahaya matahari sore. Ada energi positif dalam dirinya yang membuatku merasa hangat.

“Saya Demitria. Panggil saja Demi.” Ia mengulurkan tangan kepadaku. “Sekarang sedang kuliah di Universitas Würzburg.”

“Hebat.” Aku menjabat tangannya. “Jurusan apa? Teknik?”

“Sayangnya, otak saya nggak cocok dengan jurusan itu, Mbak.” Ia menyengir ceria. “Saya ambil Manajemen Bisnis. Mbak sedang melancong di Würzburg, ya? Menyusuri Romantic Road yang terkenal?”

Romantic Road, Marie. Jangan lupa bahwa kau janji akan mengajakku menyusuri rute terkenal itu setelah urusan perceraianmu dengan suamimu yang berengsek itu beres. Kita akan memulainya dari kota kecil yang cantik ini.

“Maunya sih, begitu. Tapi, sekarang prioritas utamanya pekerjaan dulu. Saya wartawan, sedang mengumpulkan bahan tulisan dari beberapa narasumber di Jerman. Salah seorang dari mereka tinggal di kota ini.”

“Mbak wartawan? Wah, keren sekali!”

Lalu, Demi bercerita kepadaku bahwa ia pernah menjadi pengantar koran saat masih sekolah di Bandung.

“Saya selalu berpikir, wartawan-wartawan itu adalah orang-orang yang hebat, yang punya kekuatan untuk mempengaruhi dunia dengan tulisan-tulisannya.”

“Kalau begitu, kenapa kamu tidak jadi wartawan saja?”

Ia tergelak. “Saya tidak punya bakat menulis, Mbak. Sudah mencoba, tetapi rupanya memang bukan panggilan jiwa. Tetapi, saya tetap mengagumi pekerjaan para wartawan sampai sekarang.”

Marie, gadis ini sangat menyenangkan. Ia terbuka, dan punya banyak cerita. Terutama tentang buku-buku sastra klasik yang rupanya menjadi favoritnya.

“Apa sastra klasik kesukaanmu?” tanyaku iseng. Bukan berarti aku sangat paham dengan topik itu. Aku bukan penggila sastra klasik. Namun, aku punya beberapa buku favorit, terutama karya Edgar Allan Poe.

“The Sorrows of Young Werther.”

“Ah, Goethe!” seruku. Agak sedikit bangga pada diri sendiri, karena bisa mengenali salah satu karya penulis Jerman yang satu itu.

“Mbak juga pembaca sastra?” Ia tampak takjub.

“Tidak juga,” elakku sambil terkekeh. “Hanya kebetulan pernah membaca beberapa. Wartawan kan, harus membaca bermacam-macam buku.”

Kami mengobrol banyak sepanjang sore itu. Sembari menyesap isi cangkirnya dan makan Apfelkuchen, ia bertanya padaku, sampai kapan aku berada di Würzburg. Kubilang, aku sedang menunggu seorang teman yang akan menyusul dari Berlin (yaitu kau), sekaligus menunggu dengan penuh harap narasumberku di kota ini sudah siap bercerita dan segera menghubungiku. 

Kukatakan padanya, bahwa aku punya firasat buruk tentang narasumberku itu. Bahwa aku menyesal memintanya bercerita lebih dalam dari sekedar kisah-kisah petualangan yang biasa. Wajahnya yang tak terbaca itu masih membayang di mataku. Aku takut ia tak akan pernah menghubungiku lagi. Atau, yang lebih parah, aku mendengar kabar buruk tentang dirinya dari orang lain.

Ia tersenyum padaku. “Jangan khawatir, Mbak,” ujarnya. “Kalau dia tak ingin bercerita apapun, sudah sejak awal dia menolak bertemu Mbak. Mungkin dia cuma butuh waktu untuk berpikir. Memilah-milah cerita. Menimbang-nimbang yang paling menarik.”

Aku ingin berkata, bahwa bukan itu kesan yang kudapatkan saat pertemuan kami waktu itu. Namun, kulihat ketulusan di wajah gadis ini. Ia tampak yakin pada ucapannya. Lebih dari itu, ia tampak berharap aku tidak cemas lagi.

Sungguh, Marie, kalau kau bertemu dengan gadis ini, kau pasti akan langsung menyukainya seperti aku. Keberadaannya seperti lampu jalan yang terang dan hangat di tengah kegelapan. Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Berharap memiliki adik seperti dirinya. Ah, kurasa ia tak keberatan jika aku memintanya.

Marie, aku menunggu kedatanganmu di Würzburg. Aku punya firasat, kita akan menemukan banyak keajaiban di sini.

Liebe Gruβe,
- E -

....

Catatan:

Demitria adalah tokoh utama dalam novel “A Day to Remember”, yang akan diterbitkan Penerbit KataDepan.

Penggalan adegan dalam post Meet Algernon dan Meet Demitria bukanlah penggalan adegan di dalam novel tersebut, melainkan fragmen untuk mengenalkan mereka berdua kepada pembaca.

Next time, saya akan bercerita lagi tentang novel “A Day to Remember”. Tunggu, ya!

Sunday, September 23, 2018

Algernon Project: Meet Algernon

Liebe Marie,

Aku sudah bertemu dengan lelaki yang kau rekomendasikan itu di sebuah kafe di Altstadt―kawasan kota paling tua di Würzburg. Aku datang sepuluh menit lebih awal dari waktu janjian. Karena, yah, kalian orang Jerman kan punya punktlichkeit alias budaya tepat waktu. Aku tidak mau mencoreng nama bangsa dan negaraku di mata lelaki ini, kalau aku sampai datang terlambat. Jangan sampai ia mengira bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak menghargai waktu (walaupun kadang-kadang, kupikir itu ada benarnya juga).

Pokoknya, kemarin itu akhirnya aku datang ke kafe itu. Mencari-cari sosoknya.

Kau bilang padaku, ia jangkung dan tampan. Ketampanan yang menyolok mata (yang membuatku pura-pura muntah saat kau mengatakannya dengan lebay). Aku berdiri dekat meja bar, menjulurkan leher panjang-panjang ke seantero ruangan (yang untungnya tidak terlalu ramai), sampai seseorang yang duduk di kursi bar, tak jauh dari posisiku berdiri menyapaku dalam bahasa Inggris.

Are you the Indonesian journalist?

Aku menoleh, mendapati seseorang lelaki tengah menatapku seraya beranjak dari kursinya. Kakinya begitu panjang dan ketampanannya menyolok mata. Oh, sial, Marie! Kenapa kau tidak bilang dia lebih mirip orang Asia? Matanya sipit dengan alis seperti golok, kulitnya putih tapi tidak pucat kemerahan. Rambutnya hitam seperti bulu gagak.  Sementara, sejak awal, aku mencari-cari sosok lelaki bule.

Ja bin ich. Bist du Algernon Katz?” Aku harus tengadah saat bicara dengannya. Badan pendek menyebalkan!

Sebelah alisnya terangkat, seolah tak mengira aku menyahut dalam bahasa Jerman. Kemudian, ia mengangguk, dan memberi isyarat agar mengikutinya ke sebuah meja yang jauh dari keriuhan. “Kita bisa bicara di sini. Tidak keberatan, kan? Oh, dan panggil aku Algernon. Tidak perlu bersikap formal.”

Dia sopan sekali, Marie. Soal yang ini kau juga tidak bilang padaku. Kami berdua memesan Espresso. Lalu kukatakan padanya, bahwa sebaiknya aku menjelaskan maksudku menemuinya.

Ich weiβ das. Marie Schneider sudah bilang padaku di telepon. Katanya, kau sedang mengumpulkan cerita-cerita perjalanan yang menarik dari seluruh dunia untuk bahan tulisanmu.”

Das stimmt.” Aku mengangguk. “Marie bilang, selama bertahun-tahun kau berkeliling ke banyak negara dan membaur dengan orang-orang lokal. Kau menantang maut dengan mencoba berbagai hal ekstrim di negara-negara itu. Menurutku, itu keren sekali.”

Espresso kami sudah datang. Ia tidak segera menjawab, melainkan memperhatikan isi cangkirnya, Marie. Wajahnya adalah wajah paling tak terbaca yang pernah kulihat, dari begitu banyak orang yang kutemui sepanjang karirku sebagai wartawan. Sekilas aku melihat sudut-sudut bibirnya melengkung ke bawah. Entah kenapa, ada aura kesedihan yang kurasakan dari dirinya.

“Itu sama sekali tidak keren.” Akhirnya dia menjawab. Mengalihkan tatapannya dari cangkir pada entah apa di belakang punggungku. Lalu, aku menyadari sesuatu. Matanya. Mata hitamnya yang menerawang itu, seperti tak memiliki cahaya. Semakin lama aku menatapnya, aku seperti terisap ke dalam terowongan gelap dan sunyi. Megap-megap kehabisan udara. Sihir apa ini?

Oh, hentikan! Aku memarahi benakku yang terlalu tinggi berimajinasi. Jangan menganggap pria menarik ini seperti penyihir!

“Kalau boleh jujur, aku sebenarnya enggan menjadi narasumber. Aku tidak terlalu pandai bercerita tentang diri sendiri, asal kau tahu. Marie berhasil membujukku. Itu memang keahliannya sejak dulu. Ia bilang, kau wartawan yang sudah sangat berpengalaman dan penulis yang handal. Aku mempercayai pendapat Marie. Karena itu, aku setuju untuk bertemu denganmu.”

Danke,” sahutku. “Semoga tulisanku kelak tidak akan mengecewakanmu. Ceritakan saja padaku perjalanan yang menurutmu paling menarik.”

“Entahlah. Aku sudah pergi ke banyak tempat. Yang terakhir adalah tinggal di Afrika selama enam bulan. Aku tidak tahu apakah itu akan menarik buat orang lain.”

Entah bagaimana, suatu pikiran terlintas begitu saja setelah aku bersamanya selama beberapa menit yang berjalan. Tidak, Marie. Aku tidak ingin cerita-cerita petualangannya. Itu bisa kudapatkan nanti dari narasumber-narasumberku yang lain. Dari lelaki ini, yang dirinya tampak begitu kompleks, aku ingin cerita yang lain. The story behind the adventures.

Ketika itu kukatakan padanya, ia menatapku lama sekali. Kupikir ia akan marah, karena tiba-tiba saja terowongan di matanya menjadi kumparan. Mengirimkan gelombang rasa sakit yang membuatku menggigil. Aku ingin berkata padanya, ‘hentikan!’ Namun, mulutku seperti terkunci. Kau yakin, mantan teman kuliahmu ini bukan dukun atau penyihir, Marie? Kenapa aku tiba-tiba merasa sangat depresi saat bersamanya?

Lalu ia berkata, “Kurasa, kalau kau ingin cerita semacam itu dariku, kau harus menunggu. Kau ingin tahu kenapa aku melakukan perjalanan-perjalanan berbahaya? Kau akan mengetahuinya, kalau kau sedikit bersabar.”

“Kenapa aku harus menunggu? Kenapa tidak sekarang saja kau ceritakan padaku, Algernon?”

“Kalau tidak begitu, di mana letak keseruannya? Bukankah lebih hebat jika ada unsur suspense di dalamnya? Orang-orang menyukai twist ending, bukan?”

“Aku tidak mengerti apa maksudmu. Berapa lama aku harus menunggu?”

Ia tersenyum. Senyum yang begitu sendu.

Oh, Marie! Tiba-tiba aku mendengar tanda bahaya berdering di benakku. Aku seperti punya firasat buruk saat melihat senyum itu! Suspense apa? Twist ending apa?

Kuharap, tak akan terjadi apa-apa. Kuharap, ketakutanku tak beralasan, karena aku hanya sangat terpesona padanya sampai berhalusinasi. Kuharap, aku tak harus menunggu kabar darinya terlalu lama, untuk mengetahui segala alasan yang ia simpan. Bitte, Gott.

Liebe Gruβe,
- E -

**Catatan Penulis

Algernon adalah tokoh utama pria di dalam novel terbaru saya “A Day to Remember”, yang akan diterbitkan Penerbit KataDepan.

Sungguh menyenangkan, akhirnya mendapatkan judul yang final, setelah selama ini hanya sebagai Algernon Project saja.

Nantikan, tinjauan-tinjauan lainnya tentang A Day to Remember di blog ini. Terima kasih.

Bahasa:
*Ja bin ich. Bist du Algernon Katz? = Ya, saya. Apakah kamu Algernon Katz?
*Ich weiβ das = Aku tahu itu
*Stimmt = benar
* Liebe Gruβe = salam sayang
*Bitte, Gott = Tolong, Tuhan

Wednesday, October 4, 2017

[Allure] Lelaki yang Entah Datang dari Mana

Aku memandangi meja di sudut dekat jendela besar yang menghadap ke jalan raya. Ada seseorang duduk di sana, sendirian saja. Cangkir kopi di atas mejanya masih mengepul, baru saja diantar pramusaji. Itu cangkir kopinya yang ketiga.

Kau tahu, aku bukan orang yang suka memata-matai orang lain dan ikut campur urusan yang tidak ada sangkut pautnya dengan diriku, kan? Aku biasanya duduk diam di meja favoritku, di sebuah sudut yang lain yang berseberangan dengan sudut di sana itu. Aku biasa mengabaikan sekelilingku dan menulis kata demi kata di laptop merah kesayanganku.

Namun, sudah seminggu ini, aku tak bisa menghindari pemandangan di sebelah sana itu. Seorang lelaki, yang telah menjadikan meja itu sebagai meja favoritnya di kafe itu, sebagaimana kutasbihkan meja ini sebagai favoritku. Tujuh hari yang panjang, dan ia hanya duduk di sana tanpa orang lain menghampirinya. Yang dilakukannya selain meneguk bercangkir-cangkir kopi adalah mencoret-coret lembaran-lembaran tisue.

Ia akan pergi menjelang senja. Bangkit perlahan dari kursinya, menepuk-nepuk celana jinsnya dan tercenung sejenak sambil menatap ke luar jendela. Bisa kulihat gerak pelan bahunya, seolah-olah ia menghela napas dan menghembuskannya kuat-kuat. Lalu, ia akan menghampiri meja bar dan bertanya apakah ia bisa membeli secangkir kopi dan beberapa muffin untuk dibawa pulang.
Dalam rutenya ke pintu keluar, ia akan melewati mejaku. Mengangguk sedikit kepadaku--karena lagi-lagi aku terlambat mengalihkan tatapanku dari sosoknya. Ia tahu aku memandanginya, dan itu membuatku mengumpati diri sendiri.

Awalnya, aku tak tahu siapa dirinya. Di hari pertama itu, kulihat beberapa pengunjung kafe diam-diam menoleh padanya dan mulai berbisik-bisik satu sama lain. Wajah-wajah penasaran bercampur dengan wajah-wajah kesal dan tak suka. Sungguh membuatku heran.
Memangnya siapa dia? Kenapa orang-orang tampak begitu kesal melihatnya? Beberapa bahkan diam-diam mengacungkan jari tengah ke arah lelaki itu. Aku mengerutkan kening. Dosa apa yang dilakukan lelaki itu sampai harus diperlakukan begitu?

Di hari kedua, aku mendapatkan jawabannya dari beberapa pramusajiku.
"Oh, masa Kakak tidak tahu?" seru mereka. "Namanya menghiasi berita selama dua bulan belakangan ini." Seorang dari mereka menunjukkan laman sebuah situs berita dari smartphone-nya.
"Oh." Cuma itu komentarku setelah membaca isi berita dan mengetahui siapa lelaki itu.
"Seharusnya, dia kita larang datang ke kafe ini. Pengunjung lain jadi nggak nyaman, Kak."

Kau tahu, aku membenci segala bentuk tindakan diskriminasi, kan? Makanya, kubiarkan saja lelaki itu menghabiskan waktunya di kafeku. Aku tidak berhak melarang-larang orang lain menikmati kebahagiaannya, sesepele apa pun itu. Aku memang pemilik kafe ini, kusediakan kafe ini bagi orang-orang yang membutuhkan tempat berlindung dari kejamnya hidup sehari-hari. Kusiapkan apa yang membuat mereka nyaman dan senang. Lantas, jika lelaki itu menemukan kenyamanan dan kesenangannya dengan duduk di sudut sana sambil meneguk bercangkir-cangkir kopi, apakah aku berhak melarangnya? Tentu tidak, bukan? Jadi, kubiarkan saja ia di sana. Pengunjung-pengunjung picik yang merasa terusik boleh mencari kafe lain.

Kau akan merasa keheranan setengah mati, kalau tahu siapa lelaki itu, dan kenyataan bahwa aku malah bersikap lunak kepadanya.
Namun, aku tidak akan memberitahukannya kepadamu. Tidak sekarang. Jangan. Belum waktunya. Aku punya firasat, ia tidak seburuk yang dikatakan orang.

"Permisi," sebuah suara membuyarkan pikiranku. Aku mendongak dari keyboard laptopku. Sepasang mata coklat gelap menatap sejajar dengan mataku. 
Lelaki di sudut seberang itu tengah membungkuk dan mengambil sesuatu di dekat kakiku. Diletakkannya benda itu di mejaku. 
"Pulpenmu jatuh."
Aku tertegun sejenak, lalu hanya bisa menjawab, "Oh." Reaksi tolol, yang sedetik kemudian kusesali.
Lelaki itu sudah beranjak, berjalan menuju pintu. Aku tersadar dan memanggilnya.
"Tunggu!"
Ia menoleh.
"Anu..., terima kasih."Aku menelan kegugupanku. Lalu, melambaikan tangan ke arah jendela, yang menyuguhkan pemandangan hujan sore yang berkilau dalam sorot lampu jalan. "Di luar hujan. Kami meminjamkan payung untuk pelanggan setia kafe."

Ia mengerutkan kening. Sepertinya, belum menyadari bahwa aku pemilik kafe ini. Kemudian, ia mengangguk. "Terima kasih tawarannya. Tapi saya suka hujan." Ia meneruskan langkahnya menuju pintu keluar, lalu menghilang ke dalam senja yang berhujan.

Lelaki itu, entah dari mana datangnya dan kemana ia pulang. Semoga ia tidak kena flu. Aku ingin melihatnya lagi besok, duduk di sudut dekat jendela itu.


pic from here
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...