Showing posts with label Puasa. Show all posts
Showing posts with label Puasa. Show all posts

Thursday, July 19, 2012

Before Ramadhan 2012

Hola!

Barangkali ini jadi posting random saya yang kesekian, dan di tengah-tengah sakit kepala sejak pagi. Menjelang ramadhan lagi, dan ketetapan hari yang 'agak' simpang siur lagi seperti tahun lalu. Saya cuma berharap, hari Lebaran tahun ini tidak akan bikin banyak orang kecele lagi seperti tahun lalu.

Ini ramadhan kedua tanpa Ibu. Kalau sudah begini maka saya akan berubah menjadi orang cengeng. Meskipun tidak akan selebay kakak perempuan saya dan adik laki-laki saya, sih :P

Sejak kemarin, orang-orang menanyakan hal yang menurut saya paling nggak penting sedunia: "Mau masak apa buat sahur pertama?"
Sesuatu yang nggak pernah terpikirkan, bahkan waktu ramadhan pertama tanpa Ibu tahun lalu. Saya biasa go with the flow. Memasak apa pun bahan makanan yang ada di kulkas saat itu. Jadi kenapa harus menyusun menu?

Mau nggak mau, gara-gara pertanyaan itu saya jadi kepikiran. Masak apa ya? Enaknya masak apa sih? Akhirnya pagi ini saya menunda rencana mencuci pakaian demi pergi ke pasar berbelanja bahan-bahan makanan. Mirip emak-emak sejati, kan? *sigh*

Menu sahur pertama, checked.

Sambil menulis ini, saya sedang meriset bahan-bahan proyek novel dadakan yang saya ceritakan kemarin. Sudah dua hari ini saya belum mulai menulis apa pun, karena masih harus riset. Saya menamakan proyek ini Flamenco Project, dan mendadak jadi kepingin kursus tari flamenco. Aw aw! :))

Riset saya rasa cukup. Nanti ini akan dikompilasikan dengan sejumlah wawancara dengan orang-orang. Saya sudah punya daftar para korban hahaha... Siap-siap dibawelin ya! Hihihi.

Riset novel, checked.

By the way, sesekali saya akan menulis semacam jurnal tentang kemajuan novel saya di blog ini. Kemungkinan akan berlabel 'Flamenco Project.' Sebenarnya itu lebih bertujuan meneguhkan motivasi dan mood menulis saya yang akhir-akhir ini sering turun naik, lebih labil daripada para abege di luar sana itu *sigh*

Saya cuma punya waktu 3 bulan, lebih lama dari waktu yang saya punya untuk menulis 'Kisah Abe' sih. Tapi kali ini bukan novel tentang kehidupan anak sekolah. Isinya lebih kompleks, dan saya benar-benar harus terlibat secara psikologis dengan para tokohnya yang berkarakter unik.

Perlahan-lahan mereka tumbuh di benak saya. Menguasai saya bergantian, memunculkan percakapan-percakapan monolog di dalam sana. Mencoba memberitahu saya apa yang mereka inginkan saat saya 'melahirkan' mereka ke dunia kelak.

Begitulah. Sepertinya saya harus mulai menulis, karena kalimat pertama untuk paragraf pertama di bab pertama tiba-tiba muncul.

Selamat menunaikan ibadah puasa untuk teman-teman sesama muslim. Semoga ramadhan tahun ini membersihkan kita dari alpa dan dosa. Maafkan saya lahir batin, ya....

Hasta luego. See you.


pioct from here

Image and video hosting by TinyPic

Thursday, August 4, 2011

Mencari Ibu

Ramadhan hari keempat.

Sejak Ibu pergi, saya mencarinya pada setiap sosok yang menjadi saksi kehidupannya. Mencarinya dalam diri saudara-saudara perempuannya. Dalam intonasi suara mereka, dalam tawa yang menyipitkan mata hingga segaris. Efek yang diwariskan secara genetis.

Saya mencarinya dalam diri saudara-saudara lelakinya. Dalam kosakata yang biasa digunakan. Dalam humor lama yang selalu diulang-ulang setiap acara. Menemukan jejak periang Ibu dalam diri mereka. Mungkin dari merekalah Ibu belajar bercanda.

Saya mencarinya dalam diri saudara-saudara saya. Dalam suara Usi ketika ia mengomeli anak-anaknya. Dalam gelak nyaring adik lelaki kami saat tak bisa membendung geli. Karena demikianlah Ibu meramaikan rumah kami dulu.

Mencarinya dalam diri Ayah. Lelaki yang dicintai dan mencintainya. Ketika ia tengah berdiri berlama-lama di depan foto Ibu yang besar dan berbingkai. Sesuatu yang sering dilakukan Ibu, dulu sekali. Ketika Ayah bertugas ke Australi, dan Ibu rindu setengah mati.

.........

Suatu hari di rumah sakit itu.
Para perawat yang mengurus Ibu bertanya saya ini siapa.
"Anak Ibu," sahut Ibu.
"Kok nggak mirip ya. Saudara-saudaranya yang dua itu mirip. Bongsor-bongsor, sama seperti Ibu. Kalo teteh ini kecil."
"Memang nggak mirip Ibu. Tapi anak Ibu yang ini lebih pintar, lebih mandiri, lebih supel. Dari kecil sudah begitu." Ibu mengelus lembut lengan saya. Seolah memberitahu saya, seperti apapun saya, Ibu sayang dan bangga pada saya.

..........

Saya mencari Ibu dalam diri saya, meskipun saya tak mirip dia kata mereka. Berdiri di depan cermin besar yang tergantung di kamar, saya tersenyum. Dan itulah Ibu. Tersenyum pada saya di kaca itu. Senyum khasnya dengan bibir terkatup tak kelihatan gigi.

Mata yang menatap saya di cermin itu mulai membasah. Kesadaran menghunjam pelan. Ah, itu bukan Ibu. Itu saya dengan senyum yang diwariskannya.

Ramadhan hari keempat.

Saya masih saja mencari Ibu. Dalam setiap sosok, setiap benda, setiap sudut rumah kami. Tak kuasa melengkapi rindu.


I like for you to be still, and you seem far away.
It sounds as though you were lamenting, a butterfly cooing like a dove.
And you hear me from far away, and my voice does not reach you:
Let me come to be still in your silence.

-Pablo Neruda

pict from here




Image and video hosting by TinyPic

Saturday, July 30, 2011

Shopping and Forgiving

Kemarin saya ke kota. Jadwal tujuan sudah disusun di kepala. Pergi ke bank, pergi ke toko komputer mencari wireless mousse, lalu ke toko sepatu, mampir ke butik sepupu, makan siang dengan menu kupat tahu dekat butiknya yang lumayan enak, mencari film-film korea terbaru di toko DVD langganan dan membeli pembersih muka.

Di bank, satpam yang membantu saya mentransfer uang dengan ATM bertanya, "Rumahnya di mana, Neng?"
Ia pasti heran karena saya berlogat Jakarta. Jadi saya jawab saja saya dari Jakarta.
"Masih kuliah ya?"
Saya speechless.
"Kuliah dimana?" Ia masih bertanya dengan yakin.
"Saya kerja, Pak. Udah kerja."
"Oh, enak ya. Baru lulus langsung dapet kerja."
Saya speechless lagi. Lalu mengamati diri sendiri di pantulan dinding kaca ATM. Bertanya-tanya, apakah saya masih terlihat sebagai seorang fresh graduate? Hahaha.

Di toko komputer, pemilik toko yang merangkap kasir memanggil saya 'dek'. Aw! Padahal saya tahu umurnya sebaya dengan saya, karena dia adalah teman sekolah sepupu saya yang seangkatan dengan saya.

Di toko sepatu, untungnya peristiwa jual beli berlangsung normal. Meskipun ada seorang cowok kuliahan melirik-lirik saya. *Apaansih!*

Saya makan kupat tahu di butik sepupu saya. Ia malah ada di butik sebelah yang khusus menjual baju muslim, sedang menjahitkan kristal-kristal svarovski ke sebuah baju muslim yang katanya harganya 800 ribu. Omaigod! Saya ngiler tapi tidak mampu membelinya!

Pemilik butik itu, teman sepupu saya bertanya, "Fina, ini adik kamu ya?" Padahal Fina itu adik sepupu saya, dan saya lebih tua dari dia.

Setelah berhasil mendapatkan film, saya keliling pertokoan dan menemukan sebuah toko kain kiloan di lokasi paling ujung yang jarang dilalui orang. Kain-kain itu, meski hanya digulung seadanya dan bahkan ada yg tinggal satu-dua meter saja ternyata mutunya bagus dan motif-motifnya keren. Saya, yang senang cuci mata selama tinggal di Jakarta, tahu benar bahwa kain-kain itu sama dengan gaun-gaun di mall-mall besar di sana, yang harganya tentu saja mahal. Hohoho. Rasanya seperti menemukan surga. Saya memborong? Tentu saja.

Dan si pemilik toko berkata begini, "Si Eneng pasti belum nikah ya?"
"Kok tau Teh?"
"Masih muda gitu. Baru lulus kuliah ya?"
Aw! Again?

Setelah berabad-abad melepaskan status mahasiswa, ternyata sampai hari ini masih saja banyak yang mengira saya mahasiswa. Ya ampun!

Kesimpulannya, jalan-jalan saya kemarin membuat saya terhibur. Saya pulang dengan wajah tersipu-sipu karena dikira masih imut. Hahaha. Terima kasih ya buat teman-teman yang sudah menghibur saya waktu sedang mellow kemarin. Kalian memang teman-teman terbaik. Maaf ya sudah merepotkan, ikut mencemaskan saya, buru-buru menulis komentar untuk menghibur saya. Kalian berhasil membuat mood saya membaik.

Karena lusa sudah bulan ramadhan, saya sekalian memohon maaf kalau ada salah kata, salah perbuatan, salah iseng atau salah ledek ya. Selamat menunaikan ibadah puasa buat sesama teman muslim dan muslimah. Semoga ramadhan tahun ini membawa berkah.

sorry if i keep on hurting you
sorry if you don't like the things i say or do
sorry if with you i always put up a fight
sorry i just can't do anything right

sorry if i'm way far from being an angel
except compared to an angel from hell
sorry if you think my excuses are lies
sorry if it's so difficult quiting my vice

sorry if i'm not too understanding
sorry for all the headaches and pain i bring
sorry if often it's hard for me to swallow my
pride
sorry if often i'm too blinded by anger to see
your side

sorry if i'm so complicated
sorry i keep making you feel frustrated
sorry i can't fight back the tears
sorry if i keep you away from your peers

sorry if i always complain about you not meeting
my expectations
sorry if sometimes i can't fight all these
temptations
sorry if i seem like a joke to you
sorry if i don't appreciate all those sweet
things you do

sorry if i keep on repeating the same mistakes
sorry i say stupid things and i can't find the
breaks
sorry i keep on hitting you when i'm mad
or ruin your day when mine's bad

the poem above was Joelle Xiao's, pict from here


Peluuuuuuk!!!

Image and video hosting by TinyPic

Monday, September 7, 2009

Lari ke Jakarta

Pesan pendek untuk Denny:

Disini panasnya nggak ketulungan. Aku tepar. Finally aku bisa cuci mata lagi di mall dan liat cowok-cowok ganteng. Oh senangnya! Salam ya buat Kenzo.

...........

Hihihi. Saya bukan sedang membuatmu cemburu, darling. Saya kan punya mata. Ya mau nggak mau cowok-cowok ganteng itu terlihat oleh mata saya yang indah ini. Eh, saya baru melarikan diri ke Jakarta lho. Mencari udara panas dan keramaian. Saya bosan di tempat dingin dan sepi ini. Sendirian, tanpa kamu.

Udara panas langsung menyambut saya seperti taburan confetti dari jarum-jarum panas yang menusuk kulit. Saya naik metromini ke rumah kost yang dulu. Aneh, saya kangen metromini dan rasanya senang sekali bisa mengukur jalan lagi bersama sopir batak yang hobi ngebut. Tidak ada karpet merah dan taburan confetti di kost. Tapi peluk cium dan sorak gembira teman-teman tersayang.

"Wah Enno tambah gendut! Rambutnya kok panjang? Belum potong rambut lagi?"
"Di sini lama kan? Nginap di kamarku ya?"
"Untung aja aku nggak jadi pergi! Rupanya firasat kamu bakal datang!"

Malam pertama di Jakarta, saya pergi ke mall tempat biasa saya belanja keperluan bulanan. Kangen nongkrong di depan gerai bakerinya, menunggu banana cake panas dikeluarkan dari oven.

"Mas, tolong ambilkan ya. Panas."
"Wah Mbak, udah lama nggak kelihatan."
Ah, si koki pembuat roti ternyata mengenali saya!

Menjelang buka puasa, ada teman yang memasak untuk saya. Padahal ia sedang tidak puasa.
Pertama, ia memasak sup. Menggoreng telur dadar. Menggoreng tempe.
"Wah, supnya enak tuh kayaknya!"
Eh, dia masih membuat bihun goreng.
"Astaga! Masak melulu! Siapa yang mau makan?"
"Ya kamu."
"Hah?"
Dia masih menyiapkan lagi sesuatu.
"Woy! Mau ngapain lagi?"
"Masih punya kornet nih."
"Aaaaaah! Udaaaah!"

Buka puasa bersama-sama. Seperti tahun lalu. Saya yakin, sepertinya saya bakal berat meninggalkan mereka lagi.

Tahu tidak, malam itu kami mengobrol sampai malam. Akhirnya tidur beramai-ramai di satu kamar, dengan televisi yang terus menyala sampai waktu sahur tiba.

..........

Hari kedua.
Kami ke Tanah Abang. Mereka ingin belanja baju lebaran, saya cuma ingin melihat-lihat.
Tanah Abang menjelang Lebaran. Panas, padat, penuh sesak. Ribuan orang sibuk berburu pakaian baru.

"Cuma beli legging?"
"Ya. Di kampungku dingin. Kalau pakai legging malah hangat lho."
"Nggak beli baju? Pakaian muslim buat ke masjid?"
"Nggak. Yang lama juga masih ada."
Darling, saya tidak sampai hati membeli pakaian baru. Sementara tak jauh dari kampung saya terhampar tenda-tenda tempat para korban gempa bertahan hidup.

.........

Hari ketiga.
Mereka meninggalkan saya di kost pagi-pagi. Berangkat ke kantor masing-masing.
"Mau kemana hari ini?"
"Ke Blok M."
"Wah mau ketemu sopir-sopir metromini favorit?"
"Hahaha."

Saya ke Blok M. Menyusuri jalan-jalan kecil pengap diantara deretan kakilima yang menjual segala macam barang. Saya lebih suka bertualang di sini daripada plazanya yang ber-AC. Teriakan-teriakan pedagang menarik pembeli yang sangat familiar, bahu-bahu yang saling bersenggolan, tawar menawar harga yang alot, barang-barang kecil yang murah meriah, pengemis berkaki satu di tengah lorong. Saya mencarikan sesuatu untuk Ussy. Sesuatu berwarna pink, warna favoritnya.

"Retno, jangan kelamaan. Titip anak-anak, aku mau periksa ke dokter di Bandung!"
"Iya, iya."

Menjelang sore, saya memutuskan pulang. Kembali ke kota leluhur yang sangat dingin, meninggalkan kota panas yang saya cintai.

"Jakarta aja dikangenin! Panas, macet, semrawut!" Seseorang berkata sinis kepada saya.
"Ya itu kan kata orang kampung kayak kamu!"
Tuh kan. Kumat deh judes saya.

Image and video hosting by TinyPic

Friday, August 21, 2009

(Bukan) Ramadhan Terakhir


Jauh-jauh hari selalu ia bilang, tahun ini barangkali Ramadhan terakhirnya. Aku marah padanya dan segudang nasehat kulemparkan ke mukanya. Tetapi ia masih saja berceloteh tentang itu. Ramadhan yang mungkin terakhir baginya.

"Gue benci tau gak kalo denger lu ngomong begitu!"
"Tapi itu nggak mustahil kan?"
"Tuhan yang ngatur, bukan lu!"
"Tapi seperti semua kitab suci bilang, Tuhan bisa mencabut nyawa kita sewaktu-waktu."
"Tapi bukan gitu cara memahaminya. Bukan dengan berpikir bahwa tahun ini atau tahun besok lu akan mati. Seolah-olah lu yang memastikan, bukan Dia."

Ia tersenyum seraya membelai tanganku dengan lembut.
"Tangan ini," katanya sambil menekan jari-jarinya di telapak tanganku. "Halus, terawat. Nggak seperti tangan gue yang kapalan dan pecah-pecah. Gue sudah melakukan banyak hal untuk keluarga gue. Untuk suami dan anak-anak gue. Dari pagi sampai malam melayani mereka dengan sabar. Kalau gue sudah nggak ada, siapa yang akan melakukannya untuk mereka? Cuma satu hal itu yang bikin gue resah."
"Lu nggak akan kemana-mana, Kak. Damned you! Gue males banget kalo lu mulai ngomong gitu lagi!"
"Ck ck ck." Ia tertawa kecil. "Dasar pemarah kecil. Bisa nggak sih dengerin aja omongan gue, nggak usah pake protes?"

Ia minta dipahami, tapi aku tak bisa mengerti apa yang ada di kepalanya. Aku cuma ingin ia berhenti bersikap pesimis dan memandang penyakitnya sebagai dewa maut. Aku ingin ia mensugesti dirinya untuk sembuh.

"Sebenernya lu kepingin sembuh kan?"
Ia tersenyum. Sial! Lama-lama aku bisa membenci senyumnya yang sok tenang itu!
"Bilang sama gue, lu kepingin sembuh kan? Kalo kepingin sembuh, lu harus bilang sama diri lu sendiri bahwa lu pasti sembuh."
"Ya, gue kepingin sembuh."
"Kalau gitu berhentilah ngomongin topik sialan favorit lu itu. Berhenti. Stop sampai disini. Case closed!"

Ia menghela napas. Sekilas kulihat kesedihan melintas di wajahnya. Aku ingin memeluknya. Haruskah kupeluk ia? Tapi aku kan tidak mau ikut-ikutan terhanyut melankolia yang ia ciptakan. Peluk, jangan, peluk, jangan....
Ia berbalik pergi, meninggalkan aku terpana di depan kamar.

....

Hari ini kupandangi diriku sendiri di dalam cermin. Bayangan buram. Wajah yang mirip wajahku membalas tatapanku dengan mata yang cemas. Sesuatu terjadi. Akhirnya pasti akan kusadari juga. Sesuatu yang sekian lama kubiarkan dan kuanggap tidak ada. Tapi nyatanya ada, berdetak seperti bom waktu.

Tik tok tik tok tik tok.

Kini aku tahu perasaan itu. Maut yang membayang-bayangi itu.

Aku berlari mencarinya. Kutemukan ia di dapur, memasak seperti biasa. Harum masakannya menguar di seluruh ruangan.

"Kak, lu tau nggak. Ada hal lucu yang terjadi sama gue hari ini."
"Hm?" Ia menoleh, tersenyum lebar. "Apa sih yang nggak lucu kalo soal lu? Semuanya dibikin lucu."
"Serius nih."
"Katanya lucu, sekarang kok jadi serius."
"Kak, tahun ini kayaknya Ramadhan terakhir gue."
Ia tertawa. "Ngeledek gue ya? Nyindir? Sana, sana, gue lagi sibuk. Nanti masakannya jadi aneh gara-gara lu gangguin!"
"Kak, sekarang gue ngerti perasaan lu."
Ia mendorong bahuku ke arah pintu. "Gangguin yang lain aja sana! Bye-bye!" Katanya.

Aku melangkah gontai menjauhi dapur. Kudengar senandungnya yang fals sayup-sayup diantara ketukan pisau di atas talenan, denting sendok beradu mangkok, desis minyak panas di penggorengan.

Sesuatu di dalam kepalaku berdenyut nyeri. Seperti ada yang meronta-ronta ingin keluar dari tempurungnya. Hantu yang menjadi nyata. Hantu yang meraja. Bodohnya aku yang berpura-pura semua kejanggalan itu tak ada.

"Tidak apa-apa. Bisa sembuh," kata dokter itu kemarin. "Bisa kita jadwalkan operasinya dari sekarang. Tolong jaga kondisi Anda supaya tetap fit."

Operasi? Oke. Akan kulakukan. Lalu setelah itu apa? Apakah aku akan tetap hidup? Bagaimana kalau operasinya gagal dan semuanya telah sangat terlambat?

Tuhan, aku masih ingin hidup. Aku punya banyak orang yang kucintai dan mencintaiku. Aku ingin hidup, agar bisa kubuktikan kepada kakakku yang pesimis itu bahwa ia juga bisa mengalahkan monster itu.

Suara langkah kaki di belakangku terdengar sayup-sayup.
"Adek, sedang apa disitu?"
Aku menoleh, menemukan dirinya bersidekap menatapku.
"Nangis? Ya ampun, lu nangis? Berantem lagi sama pacar lu ya?"
Aku menggeleng.
"Jangan cengeng ah. Nggak pantes tau! Makan yuk, udah mateng tuh. Habis itu lu boleh ceritain masalah lu sama gue, oke?"
"Kak?"
"Hm?"
"Lu harus janji, tahun ini bukan Ramadhan terakhir lu."
Ia tersenyum geli. "Jadi itu yang bikin lu nangis? Astaga, Adek!" Ia mengacak-acak rambutku. "Iya, iya, gue janji. Puas? Sekarang kita udah bisa makan?"
Aku mengangguk.

Ia menatapku, dan aku tahu, ia berpikir seperti yang aku pikirkan jika tengah menatapnya dengan sorot mata seperti itu.

Peluk, jangan, peluk, jangan.

"Peluk," ujarku padanya sambil merentangkan lengan.
Ia memelukku sambil tertawa.

Tuhan, ini bukan ramadhan terakhir kami, kan? Engkau harus janji.

....................

Marhaban ya Ramadhan.
Selamat menunaikan ibadah puasa ya, teman-teman. Maaf lahir batin.

Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, October 9, 2007

Selamat Liburan!

Besok gue mau mudik. Hari ini terakhir gue nongkrong di depan internet, soalnya di Garut gak bakalan sempet internetan. Gue akan berubah dari 'jurnalis sexy' menjadi 'pelayan sexy' hahaha... bohong dink! Yang bener jadi kacungnya nyokap gue!
Hilir mudik di dapur, disuruh ngiris bawang, nyuci sayuran, ngelapin piring dan gelas, yah... asal gak disuruh masaknya aja. Bakalan dilemparin orang serumah, karena hmm.. mungkin nggak enak. Tapi ini baru mungkin lho ya... bisa aja kan ternyata enak ;p

Amron udah mudik duluan hari ini. Sukurlah akhirnya tu' anak bisa mudik juga. Opung borunya udah kangen banget di kampung sana.
Azizah besok siang. Pak Sam lusa. Arief milih lebaran di Bojong sama tantenya... Pak Suryo tadi pulang cepet mau beres-beres rumah menjelang kedatangan anak-cucu.

Wow! Lebaran bentar lagee!

Selamat liburan ya teman-teman!
Minal aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir batin.
Sampe ketemu lagi!

Adioooos.......

Tuesday, September 25, 2007

Baju Lebaran

Berdasarkan pengalaman setiap tahun, gue dah janji sama diri sendiri, untuk tidak menuruti hawa nafsu berburu baju lebaran di bulan puasa. Hanya orang-orang berjiwa heroik dan pantang menyerah yang mampu melewati badai tantangan lautan manusia yang menyemuti semua toko dan lantai-lantai mall.

Oh no! Saya tidak setegar itu. Saya nyaris pingsan tahun kemaren. Makasih aja deh kalo harus begitu lagi.

Tak dinyana, tak diduga. Gue terpaksa harus mencemplungkan diri lagi ke dalam kesulitan bernama 'Lebaran clothes hunting.' Dibilang terpaksa sebenernya gak juga sih. Niat ingsunnya mau berburu DVD Korea dan survei kameranya si darling di Harco Mangga Dua. Dan kebetulan, sepupu gue juga mau cari kado lebaran dan film Korea 'Prince Hours' yang lagi diputer di tv. Kebetulan lagi, Mbak Lani, temennya si darling juga mau ikutan. Ya udah, akhirnya gue dan sepupu gue brangkat naik busway ke Mangga Dua.

Pertama, ngubek-ngubek ITC Mangga Dua dulu. Ini adalah sebuah pengalaman yang heroik dan penuh perjuangan... seenggaknya buat saya gitu...

Seperti sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa di ITC Mangga Dua itu hari biasa aja udah rame, apalagi hari gini jaman mau lebaran. Waduh! Kita bertiga harus merelakan diri menjadi sedikit gepeng karena terjepit di sana-sini, di tengah lautan manusia yang shopping beli baju lebaran. Khususnya gue, lebih kuatir dari yang lain akan kemungkinan menjadi gepeng ini... masalahnya selama ini gue kan dikenal sebagai si cewek sexy... kalo jadi gepeng gimana dooong... :p

Saking 'asiknya' berjuang di tengah-tengah lautan manusia yang eforia beli baju, tau-tau aja udah mau magrib! Untungnya apa yang dicari udah di tangan. Yah... gak bisa dipungkiri kalo akhirnya kita juga jadi beli baju hehehe... tapi dengan alasan yang berbeda. Bukan untuk Lebaran ya, catet. Sepupu gue beli kado buat temennya, Mbak Lani beli baju tapi bukan buat lebaran karena gak merayakan lebaran, dan gue 'sekedar' nyari blus yang matching sama rok batik yang gue beli sehari sebelumnya di pameran batik JCC (bukan buat lebaran. Buat kondangan, sumpah!)

Akhirnya gue jadi berpikir, kenapa sih Lebaran selalu identik dengan baju baru? Bahkan ada juga yang beli perabotan baru dan ngecat rumah dengan warna baru?
Bukankah yang penting adalah hati yang baru, perilaku baru yang lebih baik dan kalo bisa cara pandang baru yang lebih religius dalam menyikapi hidup...

Yah itu kata saya lho.. dan saya juga belum tentu bisa memperbaharui hati saya menjadi lebih putih dan bersih. Tapi insyaallah, sedang menuju ke arah sana...

Kalo ngomongin baju lebaran, ada pengalaman buruk yang membekas dari masa kecil gue. Lain kali aja gue ceritain...

Friday, September 21, 2007

Ketika Tuhan Datang Padamu

“Hai Musa, kami mau mengundang Tuhan untuk hadir di jamuan makan malam kami,” pinta tetua Bani Israil kepada Nabiyullah Musa.
“Ya Musa. Bicaralah kepada Tuhan agat Dia berkenan hadir,” timpal yang lain.

Nabi Musa agak sebal juga mendengar permintaan kaumnya. Di telinganya permintaan itu lebih mirip ejekan, hinaan. Dalam kondisi setengah marah dan kecewa, Nabi Musa naik ke bukit Sinai dan Tuhan berfirman, “Hai Musa, bukankah kaummu sudah mengundang Aku untuk hadir di jamuan makan malam mereka? Sampaikan salam kepada mereka, Aku bersedia hadir pada Jumat malam.”

Maka mulailah Bani Israil mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut Tuhan. Hari demi hari berlalu, maka tibalah hari yang ditunggu-tunggu itu.

Ketika tengah mempersiapkan jamuan makan malam itu, tiba-tiba datanglah seorang tua dengan pakaian lusuh. Dan ia mengetuk pintu hati orang-orang yang ada di tempat jamuan makan itu.
“Hai Tuan, adakah yang sudi memberikan saya makan walau sedikit dan minuman walau seteguk?”
Tak satupun yang peduli.
Hingga kemudian pak tua itu mendatangi Musa dan meminta padanya permintaan yang sama.
“Begini saja, engkau ambillah dulu air dari sumur itu dan penuhilah bak ini. Nanti aku akan beri upah.” Demikian ujar Musa.

Hingga larut malam, Tuhan yang berjanji hadir tak kunjung hadir. Bani Israil mulai resah. Maka naiklah Musa ke Bukit Sinai untuk menunjukkan kesedihan dan kekecewaannya. Sebelum Musa berkata-kata, Tuhan berfirman, “Ketahuilah wahai Musa, Aku sudah datang, Aku sudah datang!
Aku sudah datang memenuhi janjiKu. Tapi tak satupun dari kalian menyambutKu. Aku datang bahkan dalam keadaan lapar dan haus. Dan tak ada satupun dari kalian sudi memberiKu makan, memberiKu air. Aku bahkan datang kepadamu Musa, dalam keadaan letih. Tapi engkau malah menyuruhKu memenuhi bak air untuk sekedar upah yang hanya bisa mengganjal perutKu dan membasahi tenggorokanKu.
Ketahuilah Musa, tidaklah sampai cintaKu kecuali engkau mencintai sesama. Dan ketahuilah pula kenikmatan adalah untuk berbagi.”

Lemaslah Musa. Sadarlah ia akan kekeliruannya dan kekeliruan umatnya. Tuhan ternyata hadir dalam rupa seorang tua yang papa.
_____________________________________________

Hikayat itu dikisahkan KH Yusuf Mansur, pimpinan Ponpes Daarul Quran Wisatahati, di rubrik Renungan Koran Tempo, 17 September 2007.
Hikayat yang kena banget ke gue. Mengingatkan gue kembali bahwa siapa saja yang ingin diangkat kesusahannya, hendaknya dia meringankan kesusahan sesamanya. Jika ingin diberi pertolongan oleh Allah, tolonglah sesama. Dan ringankanlah penderitaan sesama, maka Allah akan meringankan penderitaanmu. Begitu kira-kira intinya.

Thursday, September 13, 2007

Tarawih Pertama

Tiga kata untuk melukiskan kesan tarawih pertama? Macet, macet dan macet.
Giling, gue cabut dari kantor jam 4, baru sampe rumah uwak gue jam 6.30. Biasanya satu setengah jam juga dah nyampe. Orang-orang berebut pulang duluan. Pengen tarawih di mesjid juga kali ya...

Di sebelah gue di masjid, terdapatlah seorang nenek. Waktu imam mengumandangkan azan isya, dia nyolek-nyolek gue sambil menggumamkan sesuatu yang gak gue ngerti.
‘Apa bu? Maaf?’
‘@@@@@@@ ?‘
Gue mengerutkan kening. Menatap wajahnya yang keriput, tapi tetep aja gak ngerti.
‘@@@@@@@ ?’
Si nenek nanya apaan sih ? Hmm... bentaaar... ini kayaknya bahasa jawa deh... Gue nyolek Siti, pembokat Teteh, yang duduk di sebelah gue. ‘Ti, nenek di sebelah gue nanyain apaan sih ? Bahasa jawa, gue gak ngerti.’
‘Wonten nopo, bude ?’ Tanya si Siti
‘@@@@@@@’
‘Inggih. Sholat sunnah kalih rokaat.’
Oooh, rupanya si nenek nanya, orang-orang lagi sholat apa. Sholat isya atau sholat sunnah dua rakaat dulu... hehehe…. Kok bahasa jawanya Siti gue bisa nangkep, bahasa jawa si nenek gue gak ngerti ya?

Pas sholat tarawih dimulai, lama-lama gue baru sadar kalo si nenek itu kok malah ngimam ke gue ya? Maksudnya, dia baru akan bergerak kalo gue bergerak. Jadi kalo gerakan gue lambat, dia lambat. Kalo gue kelamaan sujud, dia juga sama. Baru bangun dari sujud atau ruku kalo gue udah bangun dari sujud dan ruku… Ih, nenek aneh nih !
Buat ngetes kecurigaan gue kalo dia ngikutin semua gerakan gue, gue pura-pura betulin mukena dulu. Eh, sama. Dia juga betulin mukenanya! Gue lama-lamain sujudnya, eh dia juga ngikutin. Gue kipas-kipas dulu, sama juga.
Hehehe... ngeselin deh, tapi juga lucu.

Hari ini gue kayaknya sholat tarawih di rumah aja. Minggu deadline, banyak kerjaan. Kayaknya malah buka puasa di kantor.

Wednesday, September 12, 2007

Met Puasa!

Marhaban ya ramadhan...

Gue seneng banget akhirnya bulan puasa lagi. Gue lagi pengen mendekatkan diri sama Allah. Lagi punya banyak bahan curhat.

Selamat menunaikan ibadah puasa!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...