Showing posts with label Spring. Show all posts
Showing posts with label Spring. Show all posts

Tuesday, January 11, 2011

Two Chapter of Our Sweetest Days

[Chapter One]

Oke deh, saya perkenalkan dia.
Karena banyak yang nanya dia itu siapa... ya sudahlah, saya kasih tau aja.

Namanya Kenzo. Blasteran Batak-Jepang. Marganya Sianipar. Tinggi, 184 cm (dan saya cuma 158 hehe...)
Berbahasa Inggris terus karena besar di Jepang dan sekolah di Inggris.

Namanya kayak parfum, kata teman saya, Ifa, yang calon dokter itu. Orangnya pasti wangi, ya?

"Tampangnya kayak pemaen film Jepang nggak No?" Tanya teman gokil saya Popi, yang hobi nonton dorama sepertinya.
"Hmm, ya gitu deh."
"Oh, aku meleleh..." katanya dengan hiperbola.

Orang yang cenderung serius. Boss yang galak sama anak buah kalau ada kerjaan yang kacau. Tapi baik dan lucu sama saya (bawahannya nggak ada yang percaya kalau dia bisa lucu hahaha)

Orang yang mengajak saya melihat salju, yang katanya salju itu mengingatkannya pada saya. Orang yang cemburu pada novel Harry Potter saya. Begini katanya:

"Now I am jealous to that little Potter. Cause he can be touched by you, read by you, slept beside you, waited untill you really slept. Most of all, seeing you for the first time at the morning."

Orang yang ingin saya selalu ada disampingnya, menyemangati hari-harinya. Yang bilang bahwa dia merindukan saya sampai terbawa mimpi. Dia menuliskan perasaannya itu dalam sebait puisi yang ditulisnya susah payah dibantu turor kursus bahasa Indonesianya selama satu jam pelajaran. Lalu ketika sang tutor bertanya untuk siapa itu ditulis, dia menjawab dengan mantap bahwa puisi itu untuk isterinya.

Dia yang memanggil saya Kireina, yang artinya 'beautiful'. Segombal apapun itu terdengar, tetapi tetap saja membuat saya tersanjung. (Perempuan itu memang senengnya digombali ya hehe)

Jadi, sodara-sodara... Namanya Kenzo. Pohon kehidupan saya sekarang :)

Ditulis pada 25 Oktober 2008.

.......

[Chapter II]

Dia bilang ayahnya memanggil saya Kireina Yuki. Artinya Salju yang Cantik. Ayahnya, satu-satunya orangtua yang dimilikinya sejak ia berumur tiga bulan, selalu mendukung dia. Bahkan ketika dia memiliki saya, ayahnya ikut bahagia.

"Your dad called me Beautiful Snow?" Tanya saya terpana.
"Ya. He read some of your blog. By the way, Denny told him a million things about you."
"Why did Denny promote me, not you? Why should si dodol itu?"
"Because my father know that I can't explain as well as him."

Ah. Ayahnya bahkan belum bertemu saya. Tapi dia tertawa setiap putranya menceritakan tentang saya. Ayah seperti apa yang begitu tulus mencintai anaknya, sehingga turut mencintai semua yang dicintai anaknya? Saya jadi ingin mengenalnya.

"I shall take you to the Sapporo Snow Festival then."
"Really? I want to see the snow with you."

"Thank you to brighten my everydays, Enno."

Seberarti itukah diri saya baginya? Ketika, seperti adik saya Denny bilang, ia menjadi lebih riang, lebih banyak tertawa. Dan lagu-lagu instrumental jazz di ruangannya tiba-tiba berganti menjadi lagu Julio Iglesias 'It's Imposibble.'

"I hear love everywhere," kata Denny sambil tertawa.

Saya. Kireina yuki-nya. Saya mau menjadi saljunya. Saya memang senang menjadi yang berarti dalam hidupnya. Persetan dengan sikap sok jaim itu. Kamu bahkan sudah tahu ya Denny? :)

Ditulis pada 15 Oktober 2008
______________

Dua tulisan itu saya tulis ulang dari blog privat saya My Hectic World.
Entah kenapa saya kepingin kalian ikut membacanya di sini. Dan supaya dia juga membacanya dan ingat hari-hari kami yang manis dulu.

Boku ga iru, Kenzo...


foto dari sini



Image and video hosting by TinyPic

Saturday, January 1, 2011

Salju Tahun Baru

Masihkah kau mengingatku? Perempuan yang kau tinggalkan di gubuk kosong di tengah padang ilalang setinggi pinggang? Tanpa kata, tanpa suara. Bahkan kau tak menorehkan tanda apapun di tiang-tiang yang melapuk itu.

Kau masih melacak jejakku? Masih menyuruh seseorang menerjemahkan setiap kata hatiku untuk ditulis ulang ke dalam bahasa batinmu? Masihkah? Atau kau sudah bosan dan memilih memandangi salju di luar jendelamu?

Musim dingin ini begitu parah. Di sana sudah jelas. Aku melihat segalanya putih dalam foto-foto yang dikirimkan temanku. Tapi terpikirkah olehmu tentang musim dingin di sini? Yang kualami sendirian di gubuk kosong kita, yang kau biarkan tanpa lentera? Mungkin hatimu yang hangat itu sudah membeku sedingin salju. Kurasa begitu.

Suatu hari, ingatlah, mungkin aku akan pergi. Kutinggalkan gubuk ini dengan pintu-pintu terkunci. Kubuat jalan setapak menerobos ilalang menuju dunia luar. Aku mungkin tak akan menoleh lagi. Meski kau memanggil-manggil aku kembali.

Sungguh. Aku mencintaimu dengan debar-debar yang sama seperti dulu. Menulis bait-bait untukmu masih saja membuat aku merindukanmu. Masih saja membuatku merasa dunia begitu indah.

Tapi sepertinya itu tak pernah cukup bagimu. Kau bergeming di sana. Bahkan di saat hal yang paling menyedihkan bagiku, kau bergeming saja. Kau ini sungguh egois. Kejam. Jadi kenapa aku juga tidak bisa? Dengarkanlah detak waktu membunuh hari. Di batas kesabaran yang lenteranya semakin redup.

Bagaimana pun selamat tahun baru.

Kau boleh saja menyiksaku dengan bermain petak umpet seperti tahun lalu. Kau boleh saja sembunyi seperti biasa. Meskipun harusnya kau bilang terus terang kalau ini sudah berakhir. Apa yang kau takutkan?

Aku hanya ingin mengirimimu satu pertanyaan penting. Kau, masihkah musim semiku?

I did not know what to say,
my mouth
had no way with names
my eyes were blind,

and something started in my soul,

fever or forgotten wings,

and I made my own way,

deciphering
that fire
and I wrote the first faint line,
faint,
without substance,
pure
nonsense,
pure wisdom

of someone who knows nothing,

and suddenly
I saw
the heavens unfastened and open,
planets,

palpitating plantations,

shadow perforated,

riddled
with arrows, fire and flowers,
the winding night, the universe. *


-dari Poetry, Pablo Neruda-




foto dari sini



Image and video hosting by TinyPic

Thursday, December 23, 2010

Chasing Pirates

In your message you said,
you were goin' to bed,
but I'm not done with the night.

So I stayed up and read,
but your words in my head,
got me mixed up so I turned out the light.


Bahwa aku masih berdiri disini, di tempatmu meninggalkan aku berbulan-bulan yang lalu, aku juga tidak mengerti. Entah mungkin karena lagu Chasing Pirates-nya Norah Jones yang kau kirimkan itu, yang kucoba pahami dengan terlalu berlebihan, atau karena intuisiku sendiri. Kau dulu pernah bicara tentang intuisi perempuan kan? Intuisi yang biasanya tajam dan jarang salah.

Lalu, memangnya apa intuisiku tentangmu?
Tidak usah bertanya. Soalnya aku juga tak bisa menjelaskannya.
Intuisi itu hanya menyuruhku tetap di sini. Entahlah kalau suatu hari menyuruhku pergi.




foto dari sini




Image and video hosting by TinyPic

Monday, November 29, 2010

Yang Paling Kuinginkan

You can cut all the flowers but you cannot keep spring from coming.
-Neruda-


Seolah-olah aku tidak pernah memikirkanmu. Seolah-olah kamu hilang begitu saja dari benakku. Padahal tahukah kamu, tak pernah sebesar ini aku membutuhkanmu. Kamu, yang bergeming saja di negeri dingin yang jauh, sedang apa? Apakah kamu masih sempat mengingatku di sela-sela waktu senggangmu yang hanya sedikit itu?

Mungkin di sana semakin dingin. Desember akan tiba dan mempersembahkan lebih banyak salju. Kamu tidak suka terlalu banyak salju kan? Kamu, seperti aku, mencintai wangi segar tanah lembab ketika matahari datang mengusir es dan udara beku. Kamu mencintai putik-putik tanaman yang mengintip dari rekah tanah, mengucapkan selamat datang pada dewi musim semi yang hadir kembali.

Seolah-olah aku tenggelam dalam kedukaanku dan melupakanmu, padahal tidak. Aku tak pernah menghapus dirimu. Yang paling kuinginkan saat ini adalah keberadaanmu. Di sampingku. Meminjamkan dadamu untuk tangisku. Memberikan senyummu untuk sepiku.

We walk, and walk, and face mountains to climb.
We live and live, and encounter new things to learn.
We eat three times a day, but digest it all.
How can we live a lifetime on one experience?
Every time we love we learn
When a mountain appears we climb it
The times I thought I knew life
The times I was thrown by a small rock
Now I’m learning anew
Spring is coming
This man who brought spring to me
I want to remain by his side for a long long while
Today, with a hundred times the courage

-Lee Shin-young's quote, from The Woman Who Still Wants to Marry-



foto dari sini



Image and video hosting by TinyPic

Thursday, October 21, 2010

Saya Selingkuh

Dear Kenzo,

Saya mau mengaku. Saya selingkuh.
Saya perlihatkan foto-fotonya, supaya kamu mengerti kenapa saya tidak bisa menolak.


Lee Min-ho

Dipeluk dia, bikin saya meleleh...



Kim Bum

Dicium dia, bikin saya pingsan...


Maaf ya, sayang...



Fyuh! ;)

Image and video hosting by TinyPic

Friday, October 1, 2010

For Our Togetherness





Sudah dua tahun empat hari.
Nyaris terlupa, nyaris lewat terlalu lama, karena fokus menjaga Ibu.



Happy 2nd anniversary , darling...





love you, will never decreases,

Image and video hosting by TinyPic

Thursday, August 12, 2010

Bintang yang Paling Terang

Kau bisa melihatku dengan jelas, Leonard. Di sini selalu terang. Kau selalu tahu jika aku sedang gembira atau sedih. Sedang kesal atau marah. Kau tahu hari-hariku seperti apa, karena aku memang ingin kau tahu.

Tapi aku tidak bisa melihatmu. Kau terlihat buram dari sini. Berkelip-kelip samar di langit gelap. Kau terlalu jauh untuk terjangkau mataku yang minus ini. Bahkan jika kupakai kacamataku, kau tetap saja terlihat samar-samar.

Leonard, kau berdiri terlalu jauh. Aku tak bisa menggapaimu. Kau seperti bintang redup yang sinarnya perlahan memudar. Selalu ada, selalu membayangi, tapi tetap saja tak teraih.

Lihat tanganku. Menggapai-gapai pada sinarmu. Aku berharap. Selalu berharap bisa melihatmu sejelas kau melihatku. Pernahkah terpikir olehmu untuk memberiku kesempatan? Agar kutahu apakah kau masih bintang yang sama. Yang dulu menjadi satelit di porosku. Berputar bersama dalam rotasi yang sama denganku.

Tentu saja, dalam hatiku kau tetap bintang yang paling terang, Leonard. Kau tetap sesuatu yang menggerakkan rotasiku selalu. Tapi aku membutuhkanmu lebih dekat. Di sini, di sisiku. Agar bisa kuceritakan padamu hari-hariku dengan mulutku sendiri. Bukan lewat teropong bintang ke langit gelap.

Bagaimanapun, Leonard, kau akan selalu bisa melihatku dengan jelas. Di sini, dimana pun. Aku mengizinkannya untukmu.
Tapi bersikaplah adil padaku. Aku juga ingin melihatmu dengan jelas. Sebentar saja. Lalu kau boleh melayang-layang lagi di angkasa sampai kau temukan galaksi terbaik untuk kita tempati berdua. Kau mengerti kan?


Leonard, there's something I want to share. Please....




foto dari sini

_______________


PS:
watashi wa anata ni tsutaete koto ga arimasuga,
anata no meeru ga zenzen inai ne,
chotto meeru o mite ne,
sono koto wa hontou ni taisetsu na koto desu






Love you,

Image and video hosting by TinyPic

Saturday, July 24, 2010

Ikan Pari

Kadang langit terlalu cerah
atau terlalu berawan.
Atau dihiasi burung-burung beterbangan

Jauh di sana matahari bersinar terang

mengingatkanku akan dirimu


..........

Tentu saja hari ini lagi-lagi aku berpikir tentangmu. Sesuatu yang tak bisa kuhentikan, sampai seseorang mencabut benakku dan menenggelamkannya di laut. Aku akan tetap mengingatmu dalam serpihan kenangan.

Juli sudah nyaris berlalu. Ulangtahunmu sudah berlalu. Sudah nyaris Agustus, ramadhan segera tiba. Dan ini akan jadi ramadhan ketiga setelah perjumpaan kita.
Hey, siapa yang dulu berkisah tentang rindu seusai libur lebaran? Kali ini mungkin tak ada lagi oleh-oleh cerita lucu dari kalian.

"Kamu suka makan ikan pari?" Tanyamu, setelah liburanmu yang tanpa aku itu. Waktu itu kau dan adikku pergi memancing ke Danau Toba.
Aku tertawa. "Nggak, sekarang nggak lagi."
"Ha, kau sudah dengar ceritanya ya?"
"Ya. Nelayan itu menceritakan sesuatu pada kalian. Adikku sudah cerita padaku kemarin."
Kamu nyengir. Aku tertawa.

Cerita itu tampaknya akan membuat kita bertiga tidak akan pernah lagi makan ikan pari. Oh, tidak tahu sih kalau kalian cowok-cowok yang kadang-kadang lupa pada detail. Tapi aku tidak akan pernah lupa. Tidak akan pernah makan ikan pari lagi seumur hidup, di negara ini.

"Kenapa sih kalian harus mendapat cerita seperti itu?" Omelku. Padahal aku suka sekali ikan pari asap.
"Tahu-tahu saja nelayan itu cerita," katamu. "Dia mengobrol dengan adikmu. Well, aku tidak akan makan ikan pari lagi."
"Aku juga."

Sebentar lagi ramadhan, lalu lebaran. Setelah lebaran biasanya kita mengobrol tentang liburan. Selalu saja kuingat kisah ikan pari yang kalian ceritakan, dan tekad kita untuk tidak lagi memakannya.
Tapi kamu jauh dari Danau Toba sekarang. Jauh dari negeri tempatku merindukanmu.

Sayangku, di Inggris sana kamu makan ikan pari tidak? :)





____________

PS: Kisah ikan parinya tidak akan di-share karena dikhawatirkan mengganggu selera para penggemar ikan tersebut, dan berdampak buruk terhadap perekonomian para penjualnya di pasar ikan hahaha....


xoxo,

Image and video hosting by TinyPic

Friday, July 16, 2010

Elegi Sunyi

: K

Angka-angka itu berlari cepat di atas kalender bergambar langit. Di dinding ruang tamu, angin menyibakkan lembar-lembarnya yang telah berlalu. Di luar, bintang-bintang luruh satu per satu. Bulan tertinggal di beledu hitam. Mengambang perlahan.

Itu bulan yang sama. Yang semalam menatapmu di balik jendela, bukan? Mengantarkan cahayanya yang senyap, bersama tetabuhan serangga-serangga malam yang mencari hiburan.

Dulu, berbulan-bulan yang lalu, aku memulai malam dengan mencoret kolom hari dalam kalender itu. Kubekalkan doa kepada angin yang berjanji singgah di negerimu yang jauh.

"Melintasi benua?" Tanyaku terpana.
"Tentu saja, kenapa tidak," jawab angin. "Untuk itulah aku diciptakan."

Entah menjejak di mana, tampaknya angin lupa menyapamu. Doaku tak sampai, tercecer saat menyeberangi samudera.

"Ia di sana," gerutu bulan. "Kekasihmu itu. Matanya terpejam. Bermimpi tentang salju abadi. Padahal kan ia punya musim semi!"

Sementara di sini, musim-musim menggelincir dari pelukanku yang gemetar. Melemah oleh penantian lelah. Musim apa di sana? Summer? Tapi di sini selalu saja hujan tak bosan berkunjung. Sedikit demi sedikit mengikis harapan yang kutimbun hangat di perapian.

Di taman kota, bunga-bunga rontok, meski autumn tak jelas jadwalnya. Bulan yang sama. Di malam yang serupa.

"Angin bodoh itu seharusnya menerbangkan ia kepadamu." Bulan menggerutu lagi. "Kekasihmu itu terlalu sibuk dengan sepinya sendiri. Seharusnya ia berbagi."

Maka kuguncang-guncang angin yang sayapnya seperti selendang pelangi. "Seharusnya kau selipkan doaku di bawah pintunya atau di celah jendelanya! Untuk itulah kau diciptakan!" Seruku marah.




Angin tersudut di dahan-dahan mati. Selendangnya terkoyak seperti juga musimku yang terhangat. Summer di sini sepi. Bagaimana summer-mu di sana?

______

foto dari sini



Love,

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, July 7, 2010

Sebuah Rongga di Hatiku

When I say I love you
it means I love you what you are,

what you do, how you try

I've seen your kindness and your strength

I've seen the best and the worst of you

And I understand with perfect clarity
what and who you are

Don't make me wait
just because you know I will

-----------

Di hatiku ada sebuah rongga yang besar sekali. Dulu pernah ada istana di situ. Halamannya penuh kembang yang tumbuh subur. Dipupuk harapan dan janji-janji. Aku biasa berlari-lari di padangnya yang luas. Berbukit-bukit menuju langit. Berhenti di batas horison sambil tertawa, melambai-lambaikan tangan pada matahari di atas sana.

Mengejar kupu-kupu, berpacu dengan awan dan bayang-bayang. Apa saja yang bisa kulakukan. Kadang-kadang sendiri, kadang-kadang bersamamu. Lalu seperti balon, kita terbang ke angkasa. Menyentuh bintang, membelai bulan.

Dulu ada danau juga di sana. Pantainya landai dengan rumput-rumput melambai. Sejuknya memenuhi setiap sudut hati. Teratai-teratai merah jambu melayang di airnya. Rasanya damai sekali.

Kini yang ada hanya rongga. Rongga yang besar sekali, sejak kau pergi .

Aku ingin menjelma burung. Mengepakkan sayap mengikuti petunjuk angin. Melintasi samudera menuju ke benua dimana kau berada. Bertengger di atapmu yang kelabu oleh debu dan pahat waktu.

Aku mungkin hanya sebentar. Sekedar mencari matahari yang kau bawa lari dari langit kotaku, untuk mengisi lagi rongga itu. Dan jika tak kutemukan lagi matahari itu, akan kucari serpihan bulan yang tergilas rindu setiap malam. Yang selalu terlihat dari balik jendelamu ketika malam berdenting muram.

Aku dan kamu serupa bayang-bayang yang tertinggal di dimensi waktu. Dan pesan-pesan tentang sepi, rindu dan airmata seperti goresan tua di dinding-dinding piramida.

Mungkin memang seharusnya aku menjelma burung. Merebut lagi matahari dari tanganmu. Dan membawamu pulang sekalian.

Jadi, sampai ketemu nanti.


Foto dari sini


Image and video hosting by TinyPic

Monday, July 5, 2010

Sebelum Kau

: my spring

Bisakah kita lupakan hari ini sejenak saja? Kembali menoleh ke dinding kenangan sebelum tirainya melapuk dan menguning. Pada hari pertama itu, ketika kita saling memperkenalkan diri. Kau, yang aku yakin masih ragu. Dan aku, yang acuh tak acuh saja.
Aku mengabadikan kenangan itu dengan bingkai yang paling besar dan indah. Itu monumen kita. Sebuah awal mula.

Dan kenangan yang satu lagi. Pertengkaran pertama kita. Ah tidak. Kau yang marah. Kau cemburu karena telepon itu. Kau membuatku bingung sampai menangis. Itu juga monumen kita. Sebuah warna.

Sebelum kau, langit mendung, dan kau matahari yang muncul tiba-tiba. Aku tak bisa lagi menikmati gerimis, karena hangatmu telah memelukku erat-erat. Sejak itu, tak ada lagi hujan di langitku. Diberkahi sinarmu kehidupan tumbuh demikian subur di hatiku. Jarak dan waktu tak bisa melayukan itu.

foto dari sini

Kenzo, aku mencintaimu seperti tak pernah mencintai sebelum ini.
Dengan gugup, ragu, gembira dan melayang.
Aku mencintaimu sampai dadaku terasa sakit.


Selamat ulangtahun, sayang.




love you,
Image and video hosting by TinyPic

Thursday, July 1, 2010

Jendela Kenangan

Jendela itu berada di antara dua dunia. Terhubung oleh birai-birai yang mulai memuai karena cuaca. Aku menjenguk ke dalam dan melihat seseorang yang kukenal.

Kamukah itu? Duduk membelakangi udara terbuka. Tengkukmu yang telanjang dibelai angin. Dan kudengar suaramu bicara pada seseorang yang tak tampak dari tempatku berdiri. "Pergi," katamu. "Pergilah."

Lalu kamu menoleh. Tatapanmu melekat padaku. Kedua tanganmu mengembang, dan aku berlari ke sana. Ke tempat seharusnya aku berada. Alangkah hangatnya. Alangkah tentramnya.

Lalu, kedua birai jendela melebar. Di luar gelap melahap semua bayang. Malam mengendapkan seribu tanya yang ingin kusampirkan pada bahumu. Kenapa kamu tak juga datang? Kenapa aku harus menyeberang mimpi untuk bisa begini?

Pernah ada hari ketika kita saling menuang rindu dalam cangkir-cangkir penuh canda dan tawa riang. Pernah ada hari ketika kita tak bisa tidur untuk mencari bahan percakapan esok pagi.

Kamu dan aku, dan percakapan-percakapan sambil makan siang itu. Terkadang membuatku rindu dan tak bisa tidur sampai dini hari.

Akulah si pengelana. Aku si penakluk dasar bumi yang lorong-lorongnya buta tak tercantum dalam peta. Aku ingin kamu ikut denganku mencari cahaya. Lalu kita akan temukan ujung lorong dengan kembang-kembang di pelatarannya.

Kita mungkin akan melihat hantu-hantu. Dan kamu pernah bertanya seperti apa hantu itu. Tapi kamu tak pernah tertawa. Tak pernah menertawai aku dan mata ketiga di dahiku.

Foto dari sini


Kamu tahu, semua kenangan itu akan selalu terbingkai di jendela. Direkat embun dan matahari yang apel jam enam pagi. Kalau aku menjenguk ke sisi yang berbeda, selalu ada kamu di sana. Mengusir pergi seseorang yang tak tampak dari sini dan kedua lenganmu akan memelukku selamanya.


Image and video hosting by TinyPic

Monday, June 21, 2010

Cupcakes

When you look at a cupcake,
you've got to smile.
..

-someone's quote-

.........

Wangi yang paling menggiurkan bagi saya bukan wangi parfum mahal yang mereka sebut-sebut itu. Bukan wangi bunga apapun, bukan. Tapi wangi roti yang baru keluar dari oven. Menguarkan aroma mentega, gist, rhum dan tepung yang mengapung.

Saya suka roti kadet (cadet brood), roti Belanda yang tawar dan alot. Biasanya dipanggang berdempetan dalam satu loyang dan harus disobek jika akan dimakan satu per satu. Ibu mengajari saya mendapatkan rasa yang lebih lembut dengan mengukusnya.

Kak Usi suka roti krim keju, yang taburan kejunya berhamburan kemana-mana. Ia selalu mencari roti itu ke toko roti manapun ia pergi. Memakannya dua buah sekaligus.

Roti sus mengingatkan saya pada masa kecil, ketika Ibu sering membuatkan kami berloyang-loyang roti kecil berisi vla dengan wangi susu bercampur rhum. Ibu menyimpannya di laci meja makan, sehingga saya mudah mencomotnya setelah pulang bermain sore hari.

Sepupu saya, Tatiana, suka sekali muffin. Setiap kali ke Jakarta, ia selalu menyeret saya ke Breadtalk dan membeli semua jenis muffin di sana. Ia akan memakannya sambil telungkup di atas tempat tidur saya dan mengobrol. Remah-remahnya membuat saya waswas rombongan semut akan menyerbu sebentar lagi.

Saya suka dikelilingi wangi roti dan kue-kue. Wangi lembut mentega, rhum, dan segala isian roti. Saya suka selai blueberry di atas bolu hangat yang baru selesai dipanggang. Itu sebabnya sejak kecil saya punya angan-angan memiliki toko kue. Sampai sekarang mereka suka menggoda saya, bertanya kapan tokonya berdiri, mereka ingin segera membeli.

"Membeli?" Saya menatap saudara-saudara saya dengan apatis. "Paling-paling kalian yang menghabiskan semuanya sebelum pembeli yang sebenarnya datang!"
Mereka tertawa.

Lalu suatu hari, dia, pacar saya, menunjukkan gambar cupcake di tengah-tengah obrolan kami tentang ayahnya.
"Kenapa?" Tanya saya. "Ayahmu suka cupcake?"
"Bukan," sahutnya sambil nyengir. "Tadi tak sengaja menemukan gambar ini. Lucu kan?"
"Ya, bentuknya lucu-lucu."
"Remind me of you...," katanya lagi.

Entah apa maksudnya. Saya tak merasa seimut cupcake. Tapi sejak itu saya memasukkan cupcake ke dalam daftar 'Harus Bisa Membuat.'


foto dari sini

Darling, saya akan belajar membuat cupcake. Entah kamu suka atau tidak pada kue itu. Cupcake akan ada di etalase toko kue saya kelak. Remind me of us.


xoxo

Image and video hosting by TinyPic

Thursday, June 10, 2010

Anti Capuccino

: my spring


Jadi kamu belum tahu? Sungguh? Kamu belum tahu kalau aku tak boleh minum kopi lagi? Tak ada lagi capuccino di pagi hari. Tak ada capuccino saat sedang menulis, tak ada capuccino menemaniku menatap langit sore yang buram sambil mengingatmu.

Kami tak lagi bersahabat. Dipisahkan dengan kejam oleh lambungku yang tak mau kompromi, keras kepala seperti kita. Kubilang padanya, izinkanlah aku minum kopi barang secangkir, agar aku bisa tetap menulis di malam hari, tanpa diganggu rasa kantuk. Ia menjawabnya dengan semburan asam lambung banyak-banyak yang membuatku kesakitan.

Jadi kamu belum tahu ya, aku kini menulis dengan pikiran yang bebas dari kafein. Terkadang sembari terkantuk-kantuk, menguap lebar, tapi terus saja menulis. Nyatanya aku tetap bisa mengingatmu dengan jernih.

Kamu lebih penting dari kafein. Lebih penting dari semua kopi di dunia. Aku tak akan menggantimu dengan apapun, sekalipun seluruh organ tubuhku, bahkan seluruh dunia menentangmu.

Bahkan jika harus kutinggalkan seluruh hal yang kusukai dalam hidupku, kau akan selalu kupertahankan.

Adalah kau yang melebihi efek kafein dan semua zat adiktif itu. Mencintaimu membuatku kecanduan.

I love you, I love you, I love you.



picture from here
__________


PS: Denny send you an e-mail, Kenzo...



Image and video hosting by TinyPic


Saturday, June 5, 2010

Hujan Pagi

Dear K,
aku adalah gerimis kecil yang mengetuk kaca jendela kamarmu pagi-pagi, setelah mengembara semalaman dengan bulan dan bintang-bintang. Aku menjelma segera setelah mimpi yang tak mengenakkan. Meninggalkan jejak ketakutan akan pertanda.

Dalam mimpiku kau mengirim e-mail.

Enno, you are the one that I wait all these years and I love you. But the way you love me makes me overwhelmed. So I decided to part with you.

Aku, dalam mimpi itu, pergi menyusulmu ke sana. Tapi teman-temanmu menghalangiku dan berkata kau sudah mencintai seseorang yang lain. Aku menangis dan berkata itu tidak mungkin. Itu tidak mungkin. Dan masih menangis saat terbangun.

Maka kuputuskan melarut bersama angin, menyusup dalam gumpalan awan-awan, agar menjadi gerimis yang turun pelan-pelan.

K, tidakkah kau lihat rinainya memercik di kaca jendela? Serupa jari-jari kristal yang basah, menjadikan pagi begitu dingin dan sendu. Semestinya kau buka jendela itu agar aku bisa menyentuhmu, meyakinkan diriku bahwa kau masih milikku.

Bukankah itu benar? Bahwa kau masih milikku? Aku tak ingin mimpi itu jadi pertanda bahwa aku akan kehilanganmu. Bahkan jangan pernah kau memikirkan kemungkinannya, meski hanya sedetik. Jangan.

Kau dimana? Apakah sudah kau tinggalkan?
Betapa rindunya aku pada kebersamaan kita yang hangat. Tawaku, kecanggunganmu dan segala yang kucatat rapi dalam buku harianku. Buku yang membuatmu iri karena kuperuntukkan buat anakku.

Kau boleh membacanya, aku janji. Hanya kalau kau segera kesini dan tak pergi dariku lagi.

Aku adalah hujan pagi yang rindu padamu setengah mati, Kenzo. Yang berharap mimpi malam itu hanya bunga tidur yang tak berarti. Sangat berharap cintaku padamu tak membebani.


Wish you were here,
Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, May 26, 2010

Bertahan


: a half of my soul


Darling,
jika aku marah, bisakah kau tetap sabar? Karena aku tak pernah marah tanpa alasan. Dalam marahku tak pernah ada caci maki. Tapi mungkin aku akan mengatakan hal-hal ngawur, membuatmu penasaran dan bertanya-tanya.

Mungkin dalam marahku, aku sengaja membuatmu cemburu. Tapi itu hanya caraku untuk mendapat perhatianmu. Karena kau juga membuatku cemburu. Menunggu begini lama, membuatku bertanya-tanya, kapan kau selesai dengan semua yang sedang kau kerjakan itu.

Jika aku marah, bisakah kau tetap sayang? Jangan ragukan perasaanku. Meski kutulis nama ratusan lelaki, meski kusebut ribuan perhatian yang kudapat. Aku justru ingin menunjukkan padamu bahwa aku bertahan dari semua itu.

Jika aku marah lalu bersikap seolah-olah tak cinta lagi, seolah-olah aku bosan dan benci, lalu aku pergi meninggalkanmu terduduk di sofa itu, bisakah kau kejar aku? Peluklah aku erat-erat. Karena jika kau hanya diam, lalu berbalik pergi, kau akan membuatku menangis bermalam-malam.

Kau tahu aku. Si perajuk dan pemarah, yang mencintaimu setengah mati. Apakah kau pikir aku akan benar-benar meninggalkanmu? Apakah kau pikir aku akan benar-benar bermain-main dengan seseorang di belakangmu? Apakah kau tak paham bahwa aku hanya ingin membuatmu sadar bahwa kita akan saling kehilangan jika kita saling mengabaikan?

Darling,
jika aku marah, bisakah kau tetap mencintaiku tanpa syarat? Aku dan sifat kekanak-kanakanku yang suka kumat, aku dan sikap keras kepalaku yang tak bisa lunak, aku dan sikap manjaku yang tak bisa hilang. Bisakah kau tetap bertahan di sisiku selamanya? Bersamaku menjaga pondok kita agar tetap utuh dan penuh tawa, membangun lagi kamar-kamar baru dan menghias dindingnya dengan kenangan-kenangan yang akan tetap utuh di masa depan.

Jika aku marah, ingatlah satu hal ini. Aku. Mencintaimu.

---------------

Jika tak berujung denganmu, tak apa-apa.
Tapi ada luka menganga dan rasa hampa.


PS: ini juga untuk adik-adikku D dan S.


xoxo
Image and video hosting by TinyPic

Friday, May 21, 2010

Lalu Musim Semi Pun Tiba

Sit quietly,
doing nothing,

spring comes,

and the grass grows by itself.


-a zen quote-
......

Semula hanya hening. Sebutir biji disekap tanah beku. Terkubur badai salju. Senyap.
Tak ada langkah-langkah menggema di padang, tempat ia bertapa. Pengap.
Tak ada udara berdenyut.
Hanya dengung lebah kedinginan, bingung mencari arah pulang.

Bayangkanlah aku sebagai biji itu.
Yang pernah bertanya pada seseorang, mengapa aku harus terkubur begitu lama.
"Kamu mengubur dirimu sendiri," jawabnya. "Jangan salahkan cuaca."

Ah, ya. Baiklah. Aku mengubur diriku karena hutan membeku.
Dinginnya memeluk padang. Meratapi udara yang tipis menyekap.
Langit berubah senja. Terlalu cepat untuk gelap.

Bayangkanlah aku sebagai biji itu.
Berjingkat di sela kerikil dingin yang diinjak para pejalan kaki,
yang bertanya pada seseorang, mengapa matahari belum juga muncul.
"Matahari masih cuti," jawab orang itu.

Lalu suatu hari ada musik menggema.
Daun-daun menari bersama angin.
Tanah rekah oleh ketukan pagi.
Bayangkanlah aku sebagai biji itu.
Mengintip malu-malu, pada udara yang melambai mesra.

Dan lihatlah di sana, matahari menghalau mimpi.
Si biji mekar di tengah padang yang tak lagi lengang.
"Siapa yang datang?"
"Kekasihmu."

Ah, musim semi tiba.
Itu kamu.

.........

Inspired by The Little Plant, Kenzo's favorite poem when he was a little child ^^

Friday, May 14, 2010

I Can't Be Beautiful

Sayang, maafkanlah aku.

Aku tak bisa menjadi indah untukmu. Atau ramping, atau cantik.
Aku cuma perempuan biasa, yang sekarang susah payah berdiet karena sedang agak gemuk. Bermata minus dua dan moody kalau sedang PMS.

Aku tak bisa menjadi aksesori yang berkilau di pesta-pesta, tak bisa menjadi ratu di lantai dansa dan hanya bisa bicara tentang kehidupan yang sederhana.

Aku hanya bisa melengkapimu. Menjadi tawa ketika kamu sedih, menjadi matahari ketika hatimu mendung, atau menjadi hujan ketika duniamu kemarau. Aku akan menjadi burung ketika kamu ingin terbang, menjadi air ketika kamu ingin berenang dan menjadi oksigen ketika kamu merasa sesak.

Maafkanlah aku, karena tak ada lagi yang bisa kuberikan. Bukankah kamu sudah tahu aku ini galak, cerewet, keras kepala dan tak bisa diam? Aku akan mengomelimu kalau lupa makan. Mencerewetimu kalau terlambat pulang. Memaksamu mengambil cuti. Dan aku akan membawamu pergi ke tempat-tempat yang belum pernah kamu kunjungi.

Karena aku akan sedih kalau kamu sakit, akan rindu kalau kamu tak ada di dekatku. Karena aku cemburu dan ingin bersamamu, merajut keping-keping kisah untuk kita kenang di masa depan.

Sungguh. Maafkanlah aku yang tak bisa menjadi indah, atau ramping, atau cantik untukmu. Percayalah, aku akan menjadi seperti itu seandainya saja aku bisa.

Sayangku,
pikirkanlah lagi jika masih tetap ingin memilihku.

------------------

Terinspirasi dari quote ini:

I'm sorry, I can't be beautiful (or skinny, or pretty). Trust me. I would if I could.



Image and video hosting by TinyPic

Saturday, May 8, 2010

Malam Ini


Kamar yang sesak membuatku tak bisa tidur. Seolah ada yang memanggil-manggil dari jauh. Seperti nyanyian lama yang diputar ulang dari masa-masa bahagia. Aku membuka pintu. Malam sepekat kopi tanpa gula. Bulan sabit menggantung seperti mobil-mobilan dari sepotong kulit jeruk bali. Di balkon, angin meniup habis rasa kantuk.

Tahukah kamu, di kota ini aku tak bisa tidur. Mimpiku dicuri entah oleh siapa. Padahal aku terlalu lelah, aku ingin tidur. Tapi alunan nada pedih datang dibawa malam lewat jendela. Sungguh mengganggu saja.

Bisa tidak ya aku menghadapi hari esok? Aku sudah terlalu lelah berusaha meyakinkan mereka bahwa yang kita rasakan nyata. Ataukah tinggal aku sendiri yang bertahan menggenggamnya, sementara kau tidak? Aku tidak bisa memastikan jika kau terus saja membisu.

Sudah berapa lama kau diam? Apakah semuanya sudah tak berarti lagi bagimu? Kalau begitu lebih baik kau katakan saja sekarang: semua ini cuma khayalan di musim semi. Bangunlah, gadis bodoh!

Ayo, kenapa diam? Katakan! Karena aku sudah lelah berdusta pada mereka. Aku lelah menyaring kerikil-kerikil ragu dalam otakku. Lama-lama aku bisa mati rasa padamu. Atau memang itu yang kau harapkan terjadi?

Di balkon ini aku baru saja menyadari sesuatu. Suara rintihan pelan mengarungi atmosfir malam itu bukan khayalan. Itu hatiku yang memanggil-manggilmu.


Image and video hosting by TinyPic

Thursday, May 6, 2010

You are In My Head


: my spring


And yes, you are in my head,
but that doesn't make you here...
..............

Di sini, di kota yang pengap ini. Di tengah kebisingan ratusan desibel, aku merangkai lagi semua kenangan. Betapa sedihnya hanya bisa menggali-gali ingatan yang tertinggal, yang terdistorsi berbagai kejadian. Kamu dan aku, dan segala yang pernah dan belum terjadi.

Semua rencana yang tak terwujud, semua janji yang terlupakan, semua kata-kata cinta yang diabadikan hanya untuk dibaca dan digarisbawahi tebal lalu terabaikan.

Sesungguhnya aku tak pernah lupa. Tapi bagaimana denganmu?

Ini adalah kota yang sesak oleh peristiwa. Aku menyusuri setiap jengkalnya dengan tungkaiku yang letih. Mencari tahu apakah pernah ada jejakmu di salah satu persimpangan itu, atau sidik jarimu di meja restoran itu.

Tapi aku bukan Sherlock Holmes dan tak ada Watson untuk bertanya jika perjalananku melenceng arahnya, atau bertanya betapa anehnya kasusku. Tak ada seorangpun yang bisa kuajak berdiskusi tentang misteri perasaanku padamu.

Kamu, yang tak pernah lelah berlari dalam kepalaku, pernahkah terpikir olehmu bahwa aku membutuhkanmu untuk memastikan bahwa aku tetap waras? Karena aku telah terlanjur hidup dalam stigma orang-orang yang menganggapku gila. Nyaris saja, nyaris saja aku mempercayainya.

Here
pine trees shed their leaves, and rolls of waves
are routinely cast off.
Here
the season sights on earth,
sand, cold, and night,
as peace summons as fitfully
the wind upon your shivering self.
And woods bloom
into distant spaces: Please come!

-one stanza of The Window, Goenawan Mohamad-


Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...