Akulah hujan yang datang senja ini. Hujan yang mengguyur Jakarta yang mulai kerontang. Mengisap habis debu-debu yang berkelana ke paru-paru. Aku, hujan yang ditunggu-tunggu."Hujan!" Seorang teman berseru girang. Yang lainnya meributkan rute pulang yang pasti akan digenangi banjir. Aku menyimak perdebatan kecil itu dan memperhatikan titik-titik air yang menderas, jatuh bersamaan ke atas genting rumah sebelah.
"Alhamdulillah..." Seseorang berbisik. Barangkali bersyukur karena perdu mawarnya tak jadi mati kekeringan.
Akulah hujan yang menumbuhkan segala hidup. Meresapi pori-pori Gaia. Mempersembahkan nyawa bagi sulur-sulur yang lara. Aku hujan yang darinya tercipta sungai, danau, laut, bahkan bencana banjir. Aku, musik bagi pesta para kodok di sawah-sawah tergenang sehabis tanam.
Tak ada yang terlewat oleh ranting-ranting airku yang melebar seperti jemari, mengalirkan segala mimpi.
(Ada yang memutar lagunya Fergie 'Big Girls Don't Cry' dari Youtube dengan volume maksimal)
Dan kenangan melintas dari waktu dan ruang yang lain. Akulah hujan yang mengaburkan kaca-kaca mobil yang merayap menuruni bukit curam itu. Aku, yang datang bersama kabut dan angin topan. Aku yang semula membujuk mereka untuk tak berlalu segera.
(Berharap seseorang masih ingat sebuah perjalanan yang melelahkan. Sebuah petualangan yang menyenangkan. Sebuah kenangan yang tak lekang)
Di luar matahari padam. Bulan datang menyingsing malam. Galaksi menyalakan bermiliar lentera. Di jendela, tak lagi tercurah titik air. Awan mengempis. Muatan sudah habis.
(Menatap jendela lain. Sebuah noktah dan nama yang tak kunjung menyala. Aku berharap kamu tahu, aku menunggu)
"Nggak ada bulan kembar. Dimana-mana bulan ya cuma satu."
Itu katanya kemarin dulu.





