Showing posts with label My Novel. Show all posts
Showing posts with label My Novel. Show all posts

Saturday, December 24, 2016

What I Learn from Pinky Promise

Uhm, well, hello...
Here I am, the owner of this blog. How are you?

Sudah beberapa lama ingin mulai menulis lagi di sini. Terutama mengenai novel terbaru saya, Pinky Promise. Tetapi, selalu saja ada hal-hal lain yang bikin saya menunda-nunda.

Hari ini. tetiba ada sedikit waktu. Kebetulan juga baru isi kuota hehe...

Jadi ceritanya, novel terbaru saya yang judulnya Pinky Promise sudah terbit sejak bulan Oktober lalu. Novel itu diadaptasi dari skenario film berjudul sama, yang ditulis Gina S. Noer. Pernah dengar namanya, kan? Dia bukan penulis skenario sembarangan. Sering mendapat penghargaan perfilman. Selain itu. salah satu filmnya, Perempuan Berkalung Sorban, adalah film favorit mendiang ibu saya.
Omong-omong, film Pinky Promise pun sudah ditayangkan di bulan Oktober.

Trus, kenapa tiba-tiba saya kepengin nulis tentang novel ini, padahal dua bulan sudah berlalu?
Pertama, karena saya belum dengan resmi pengumuman di blog ini, bahwa novelnya sudah cetak dan beredar di toko-toko buku.
Yang kedua, malam ini nggak sengaja saya lihat foto-foto Ria Irawan dan Julia Perez di internet. Mereka sedang menjalani kemo, untuk melawan kanker yang menggerogoti tubuh mereka. Saya jadi ingat malam-malam yang terasa sedih dan mencekam, saat saya menulis Pinky Promise sebagai draft utuh, yang dikembangkan dari dialog-dialog di skenario Gina

Mudah?
Tidak.
Bisa dibilang, ini adalah pengalaman saya menulis novel yang paling menguras tenaga dan pikiran . Tidak hanya secara teknis. tetapi juga secara psikologis.

Mengadaptasi sebuah skenario menjadi novel ternyata nggak segampang yang saya bayangkan.Terutama, jika kamu dituntut untuk mengembangkan plotnya secara utuh. Skenario cuma berisi adegan dan dialog-dialog untuk kebutuhan visual. Jauh bedanya dengan sebuah novel, yang harus bisa membuat pembaca memahami sekaligus bisa mengimajinasikannya.

Saya harus membentuk lagi karakter-karakter setiap tokoh, memberi mereka sejarah dan latar belakang, menciptakan plot-plot penunjang, dialog-dialog tambahan. Sementara itu, kisahnya sendiri menguras emosi kesedihan dalam diri saya.

Tahu nggak, kenapa?

Pinky Promise adalah kisah tentang orang-orang yang berjuang melawan kanker payudara di tubuh mereka. Mereka berjuang untuk tetap hidup. Dan saya, punya seorang sepupu, yang tahun ini meninggal karena penyakit yang sama. Sepupu yang dulu teman bermain saya saat kami masih kecil. Meski, tahun-tahun belakangan hubungan kami menjadi renggang, ketika ia meninggal, saya menangis berjam-jam di kamar. Ia meninggalkan tiga orang anak. Saya mencemaskan mereka.

Perasaan duka itu terungkit lagi ketika saya mengerjakan draft Pinky Promise. Berkali-kali, saya menulis sambil bercucuran air mata. Terlebih karena memang dalam skenario itu, ada dialog-dialog yang menyentuh hati, yang kemudian harus saya jelmakan menjadi plot yang utuh. Membikin saya memahami, mungkin apa yang dirasakan para pejuang kanker dalam kisah ini (Gina melakukan riset dan wawancara dengan para pejuang kanker sungguhan sebelum menulis) seperti itu pula dulu yang dirasakan mendiang sepupu saya.

Saya pun melakukan riset saya sendiri. Mencoba memahami situasi yang dirasakan seorang pejuang kanker. Saya menemukan beberapa blog para pejuang kanker. Favorit saya adalah blog mendiang Sima Gunawan. Mbak Sima almarhum adalah orang yang sangat optimis dan tegar menghadapi kankernya yang sudah stadium 4. Ia sangat mirip dengan karakter Anind yang ceria, dalam novel Pinky Promise. Berkunjung deh, ke blognya. Meskipun Mbak Sima sudah tiada sejak awal tahun 2012 lalu, blognya masih menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi para pejuang kanker lainnya sampai sekarang.

Thank you for inspiring us, Mbak Sima.
May you rest in peace in Heaven.

Sebenarnya, yang mau saya bilang saat memutuskan menulis di sini hari ini adalah, bahwa menulis Pinky Promise memberi saya banyak pelajaran. Pertama, tentu saja teknik mengadaptasi skenario menjadi novel. Saya beruntung, editor saya, Iwied, sabar banget membantu mengoreksi dan memberi masukan-masukan dalam diskusi online kami. Selain Iwied, tim penulis skenario dan production house juga ikut memberi masukan. Kalau boleh jujur, mengakomodir sekian banyak masukan dari banyak kepala itu agak gimanaaa gitu. Hehe. Bikin panik dan bingung mesti gimana menerapkannya. Lagi-lagi, Iwied mengajak saya mendiskusikannya, dan akhirnya saya bisa mengakomodir semua masukan. Selain itu, masukan dari Gina adalah yang saya jadikan summary dari semua masukan lainnya.
Mungkin, karena Gina sendiri adalah penulis, ia mengurutkan kritik dan sarannya step by step dan terstruktur. Thanks, Iwied dan Gina!

Dan memanglah, semua masukan itu jadi membuat novel Pinky Promise ini utuh dan lengkap.

Novel ini juga mengubah mindset saya soal menghadapi musibah. Kita nggak bisa menjauhi dunia ketika hidup sedang kedatangan masalah. Nggak bisa sembunyi atau pura-pura nggak terjadi apa-apa dalam hidup kita. Kadang-kadang, beban itu harus dibagi dengan orang-orang yang peduli dan kita percayai.
Seperti mendiang Mbak Sima. Ia membagi bebannya dengan menulis di blog. Menceritakan penyakitnya, perjuangannya, dan memberi semangat buat orang-orang yang senasib dengannya. Dari blog itu, dia jadi punya banyak teman. Mereka saling berceloteh riang di kolom komentar, mungkin juga ada yang kopi darat dan menjadi teman di dunia nyata.

Berbagi beban bagi para pejuang kanker itu tidak selalu tentang minta dikasihani. Salah banget kalau ada yang mengira begitu. Sejauh riset saya dan selama saya menulis novel ini, saya kemudian paham, bahwa mereka cuma ingin kehidupan mereka berjalan normal seperti biasa. Mereka kepengin didukung supaya kuat dan menularkan kekuatan itu kepada orang lain.

Saya, secara pribadi, sukaaa sekali tokoh Anind dalam novel itu. Tokoh favorit saya. Dan betapa diri saya menginginkan kepribadian seperti dia.

Dan ternyata, saya berjumpa dengan banyak orang seperti dia, saat premier film Pinky Promise.

Saya berjumpa dengan pejuang-pejuang kanker dari Yayasan LovePink Indonesia yang juga diundang untuk menonton tayangan perdana film Pinky Promise. Saya melihat wajah-wajah mereka yang sumringah, dengan senyum dan tawa, dan kegembiraan yang murni. Berkelompok dengan pakaian-pakaian berwarna pink, beberapa menutup kepalanya dengan kerudung atau turban, yang menurut dugaan saya mungkin mengalami efek kemo yang biasa terjadi pada kulit dan rambut.
Ada juga yang didorong dengan kursi roda, atau dipapah dengan tongkat. Wajahnya? Sama saja. Tegar dan berseri-seri.

Melihat perempuan-perempuan yang memancarkan aura ketabahan dan kekuatan sebesar itu, saat itulah saya bersyukur menjadi penulis novel Pinky Promise. Bersyukur diberi kesempatan ikut menginspirasikan kekuatan untuk terus berjuang bagi siapa saja yang sedang terpuruk, apa pun masalahnya, bukan hanya penderita kanker payudara.

Saya belajar dari para pejuang kanker, bahwa sekecil apa pun kesempatan, hidup harus diperjuangkan.






Launching novel Pinky Promise
bersama beberapa pemeran utama film Pinky Promise




Sunday, June 26, 2016

New Project: Pinky Promise

Hai...

Sudah lama banget nggak ngeblog. Yuhuuu!
Apa kabar, semuaaa? *ala penyanyi dangdut*

Eh, berdebu banget ini blog. Sambil nyapu, saya mau ngerumpi ah.

Siapa yang sudah baca novel "Melupakanmu Sekali Lagi"?
Makasih ya yang sudah baca. Yang belum baca, baca dong. *kedipkedip*

Eh iya. Saya sedang menggarap novel baru. Saat ini sedang tahap revisi atas petunjuk editor.
Judulnya PINKY PROMISE.
Cute ya, judulnya?

Jangan-jangan ada yang mikir, ini tentang janjian pake warna pink.
Ish, bukan keles! Wkwkwk.
Pinky promise artinya janji di antara dua orang yang bersifat sakral dan rahasia. Harus dijaga dan ditepati. Disebut juga pinky swear.
Pinky artinya jari kelingking. Jadi saat berjanji, caranya mengaitkan jari kelingking masing-masing.

Novel ini akan sedikit berbeda dengan novel-novel saya sebelumnya.
Pertama, ini novel adaptasi dari skenario film. Skenarionya ditulis Gina S. Noer, yang karyanya sudah sering mendapat penghargaan. Skenarionya, Perempuan Berkalung Sorban, adalah film favorit saya dan mendiang Ibu.
Bisa bayangin kan senangnya saya mengembangkan skenario Gina?

Kedua, ini berkisah tentang persahabatan. Novel-novel saya sebelumnya kan pure romance.
Kali ini, kisahnya akan berfokus pada perjuangan bertahan hidup dan menemukan makna hidup seandainya pun kalah.
Pinky Promise mengisahkan perempuan-perempuan dengan latar belakang berbeda yang akhirnya menemukan persahabatan yang tulus, saat sama-sama melawan ketakutan mereka.
Ada kisah romance-nya juga pastinya sih. Hahaha.

Bikin baper, nggak? Ih, bangeeet.
Ini yang nulis aja sampe nangis-nangis nyesek sendiri. Mana lagi puasa yaelah. Jadi kan nggak bisa minum secangkir teh tarik hangat untuk menenangkan diri. #eh
Wkwkwk

Btw, saya sudah nonton hasil editing offline-nya lhooo.
Pada suatu sore yang agak mendung, ditemani editor saya Iwied dan Resita-pemred GagasMedia. Iya, nanti akan diterbitkan GagasMedia. Jadi cekidot aja akun Gagas. Pada waktunya pasti akan ada cuitannya.

Filmnya direncanakan tayang di bioskop bulan Oktober. Novelnya terbit sebelum itu. Nggak lama lagi kok, insyaAllah. Sudah dapat tanggal naik cetak, edar, dan launching dari Iwied. Nanti di-share kalau sudah naik cetak aja ya.

Oiya, pada pengin tau pemain filmnya siapa? Pemainnya adalah aktor dan aktris yg aktingnya semua nggak diragukan lagi.
Buat penggemar Chelsea Islan dan Derby Romero siap-siap ya. Mereka juga main, lho.
Derby cute banget seperti biasa. Hihi.

Yang seru, nantinya akan ada road show sebelum film tayang. Kata mbak PR prod house-nya, saya diikutsertakan.
Duh, gimana ini? Road show sama artis, ya ampun! Semoga nggak ada yang ngajak saya main film habis itu. Huhu.
Nggak bakal kuat menanggung popularitasnya. *digaplok*

Udah ah, jadi random gini. Entar lama-lama lapar pulak awak.

Buat yang mau kepo tentang PINKY PROMISE, sila kunjungi Instagram @pinkypromisemovie dan Twitter @pinkypromisemov yaaa...

Kalian bisa lihat siapa aja aktor dan aktris kece yang main di film ini.

Kepoin akun saya juga gapapa banget. Harus malah! #maksa :))
Nanti saya akan ngeblog lagi tentang progress novel dan serba serbi kisah ini.
Akan ngetwit juga dan nyetatus di FB.

So, selamat penasaran. Dan selamat berpuasa hari ini. Yang kuat, ya!

Kiss kiss

ENNO


Tuesday, December 15, 2015

Anak Ketiga, Melupakanmu Sekali Lagi


Halo...

Saya menulis ini malam-malam, sambil menunggu kantuk. Akhir-akhir ini, saya nggak bisa tidur. Entah kenapa. Bukan karena semacam firasat buruk, tetapi lebih cenderung pada kesalahan si benak yang berpikir terus. Susah disuruh off.

Hikmahnya, saya akhirnya punya waktu menulis blog lagi.

Ini posting pertama di akhir tahun. Nggak ada kabar personal tentang diri saya, kok. Nggak ada perkembangan apa-apa. Saya masih saya. Yang semakin sinis terhadap banyak hal (atau itu memang bawaan lahir), yang masih kecanduan ngetrip, masih kesal dengan berat badan yang turun naik kayak main yoyo, masih malas olahraga, dan... masih mencoba merampungkan utang-utang tulisan saya pada beberapa penerbit di sela-sela tidur-ngetrip-jadi babu rumah-main Instagram.

Iya. Saya lebih sering curcol di Instagram sekarang. Bukan curcol galau, tapi nulis latar belakang perjalanan di setiap tempat yang saya singgahi.

Oh iya, trip terakhir saya tahun ini adalah Malang, Bromo dan Madakaripura. Itu ketiga kalinya saya ke Bromo. Suka sekali gunung ini gara-gara savananya (berarti saya suka savana dink), dan Madakaripura adalah air terjun idaman saya sejak dulu, setelah saya tahu Gajahmada bertapa di sana dan moksa.

Ini kenapa jadi random ya? Hahaha. Kan sebenarnya mau ceritain novel ketiga yang baru terbit bulan Oktober kemarin. Judulnya Melupakanmu Sekali Lagi. Bagian dari serial Love Cycle-nya GagasMedia.

Novel ini temanya Patah Hati. Tapi bukan patah hati yang termehek-mehek gitu. Ini tentang gimana caranya melanjutkan hidup dan petualangan mencari jati diri.

Selain novel Melupakanmu Sekali Lagi, sebelumnya saya ikutan menulis cerpen untuk buku Glenn Fredly 20. Itu adalah buku kumpulan cerpen dari penulis-penulis GagasMedia, dalam rangka memperingati 20 tahun Glenn Fredly berkarya. Cerpen saya di buku itu berjudul: Ketika Hujan Pagi Itu.

Di postingan habis ini, nanti saya ceritain lengkap tentang proses menulis Melupakanmu Sekali Lagi, ya, Sekarang segitu dulu.
Cuma buat laporan aja, gitu. Hahaha,
Ini akhirnya kantuk datang. Bye bye. Doakan semoga mood saya untuk ngeblog akhirnya bergelora lagi.


Image and video hosting by TinyPic

Sunday, December 7, 2014

[Project Dawn ] Revisi

Hai!

Get Lost Journey Part 3, ditunda dulu ya. Saya lagi mau cerita tentang perkembangan draft.

Ini hari kelima saya mangkal di sofa ruang tamu.
Draft Project Dawn saya sudah selesai diperiksa editor, dan dikembalikan dengan beberapa catatan untuk revisi.

Revisi, sodara-sodari!

Baru kali ini saya diminta merevisi draft. Soalnya biasanya storyline saya sederhana, jadi plotnya nggak aneh-aneh. Nah, draft kali ini memang agak complicated.

Bukannya saya tidak senang.
Senang, tahu!
Apa lagi waktu tahu yang mengedit kali ini bukan cuma Iwied, tapi juga Gita. Dua-duanya adalah orang-orang yang gaya tulisannya saya sukai sejak pertama kali kami bertemu di dunia maya sebagai blogger.
Boleh dong bangga, bahwa draft saya kali ini 'diurusi' teman-teman bermain kata yang sudah lama saya kenal. Semoga hasilnya nanti lebih memuaskan dari novel-novel saya sebelumnya.

Dan revisinya?
Hahahahahahaha... fyuh!
Mereka memang teliti banget ye. Rasa bangga dan senang saya bercampur dengan kepanikan. Soalnya, hasil diskusi menghasilkan keputusan untuk memundurkan setting waktu ke masa 25 tahun yang lalu.

Duh, tolong.
Saya kan belum lahir! *kibas poni*
Hihihihi.

Jadilah, alih-alih menulis, kemarin saya menggalau cari lokasi baru. Mana bukan di Jakarta pulak. Kalau Jakarta sih saya nggak akan galau. Wong saya orang situ.
Ini settingnya di Surabaya, kakak. Meneketehe Surabaya 25 tahun lalu kayak apa. Saya akhirnya sibuk chatting sana-sini dengan teman-teman asli Surabaya untuk menggali informasi set lokasi.

Dapat.
Malah bukan dari orang Surabaya asli, tapi dari teman penulis asal Situbondo, Helga Rif. Hahahaha.

Jadi, saya cerita di BBM lagi cari lokasi di Surabaya yang sudah ada sejak 25 tahun lalu.
Tiba-tiba dia nyerocos aja tentang sebuah taman bermain tempat dia dulu liburan waktu masih kecil-dari Situbondo ke Surabaya.
Nggak nyangka, teman saya yang penulis-atlet penembak-peragawati-pengajar ini dulunya bolang. Bocah petualang.

Saya suka tempat yang dia ceritakan itu. It's such a romantic place untuk.ukuran akhir tahun 80-an. Saya harus riset lagi tentu saja.
Inilah bagian dari menulis yang paling krusial menurut saya.
Riset itu penting. Berkaitan dengan plot, karakter, adegan, dialog, gaya hidup, dan logika.

Menulis tanpa riset, sekecil apapun adalah nonsense.

Kemudian, sekarang muncul kegalauan baru. Alih-alih mencari data di internet, saya kepengin datang sendiri ke tempat itu untuk riset. Tapi waktunya mepet sekali.
Duh, bingung.

Ya sudahlah. Sementara ini, saya usahakan riset literatur dan wawancara.

Saya sedang bersemangat sekali sejak revisi dimulai. Karena revisi artinya draft ini sedang dalam proses penerbitan.

Ah, senang!

Thanks Iwied, Gita, Helga.
Mari tenggelam lagi di lautan kata! ^^

- Enno -

Saturday, May 11, 2013

Kontes Review Barcelona Te Amo & Maksi Bersamaku

Yuhuuu!

Apa kabar? Banyak yang tanya kenapa saya menghilang setelah menelurkan (emang ayam) postingan sendu agak-agak galau sebelum ini. Nggak, saya nggak sedang patah hati. Tenang saja.

Saya sibuk menulis, kakak-kakak.
Nah, sekarang muncul dengan sebuah ajakan yang menggiurkan. Apakah itu?

Jadi begini...
Saya mau mengajak pembaca novel Barcelona Te Amo untuk makan siang sambil mencicipi menu masakan Spanyol, tanggal 18 Mei ini.
Mau dong? Mauuu *dijawab sendiri*

Syaratnya mudah. Teman-teman harus membuat review novel Barcelona Te Amo di blog/tumblr masing-masing, jangan lupa picture-nya adalah novel tersebut ya (boleh covernya aja). Nah, setelah itu, kasih tahu saya via Twitter.
Format mentionnya begini:

Judul review + link blog kamu + mention @kireinaenno @Bukune @nyunyuCOM

Review teman-teman ditunggu sampai tanggal 16 Mei 2013 ya. Akan diumumkan setelahnya.
Karena, butuh sehari sebelum hari H untuk menghubungi pemenang dan konfirmasi kehadiran. Selain itu supaya seleksinya nggak buru-buru.

Saya akan pilih LIMA orang yang review-nya paling oke untuk saya ajak makan siang ala Espanola tanggal 18 Mei 2013, sambil ngobrolin Barcelona Te Amo. Yang mau tanya-tanya tips menulis juga boleh banget. Kita having fun deh pokoknya ^^

Yuk, mau kan? Kan? Buruan bikin review yang paling oke ya! ^^

Barcelona Te Amo di Gramedia Bekasi.
Pict by Rona. Tq! ^^




Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, April 2, 2013

Barcelona Te Amo. Manuel's Side

Aku melihatnya sedang duduk di kursi taman, di Placa de Catalunya. Memandangi merpati-merpati yang terbang berputar-putar di langit biru lalu hinggap untuk mematuki remah roti yang disebarkan para pelancong. Aku duduk tak jauh darinya. Mengarahkan moncong kameraku pada kerumunan merpati, namun ekor mataku memandanginya.

Lelaki yang tampan, gumamku dalam hati. Rapi, dengan kemeja lengan pendek dan wajah yang bersih sehabis bercukur. Ada jas sport yang digulung di pangkuannya. Ia duduk seperti patung, matanya menerawang jauh.

Kupikir, akan sangat bagus kalau ia menjadi obyek fotoku sore itu. Kalau ia mengizinkannya, dan aku akan memintanya sebentar lagi.

Langkah-langkahku yang bergegas ke arahnya tak membuatnya menoleh. Ia bagaikan tenggelam dalam dunia di pikirannya.

"Selamat sore, boleh minta izin mengambil foto Anda?"
Ia memandangiku dengan matanya yang sehangat cokelat cair. Mengamati ekspresi memelas yang kutampilkan demi persetujuannya. Tiba-tiba, ia tersenyum.
"Dari Indonesia?"
Aku mengangguk. "Benar, Senor..."
"Saya mengenal gadis yang mirip denganmu di sini. Dia dari Indonesia juga."
"Oh, siapa namanya?"
"Katya. Katya Sadewi. Dia mahasiswi di Universitas Barcelona."
Aku mengangguk. "Oh, Katya. Ya, saya kenal. Kami pernah bertemu di Indonesian Embassy. Ada satu lukisannya terpajang di kantor Duta Besar."
"Sudah saya duga." Ia tak lagi kaku seperti patung. Tubuhnya yang jangkung berguncang oleh tawa kecilnya. "Kamu bilang mau memotret saya? Di sini? Seperti ini?"
"Ya. Kalau Anda tidak keberatan?"
"Tentu," ujarnya. "Tidak masalah selama itu untuk keperluan pribadimu. Kamu bukan wartawan, kan?"
Aku menggeleng. "Saya penulis, Senor..."
Ia mengulurkan tangannya. "Estefan. Manuel Estefan."

........

Sejak itu, ia menjadi temanku. Laki-laki yang matanya seperti cokelat  cair. Yang diam-diam menghabiskan sore di Placa de Catalunya, bersama merpati-merpati liar.
Ia bercerita tentang Katya. Gadis yang kukenal tak terlalu dekat, yang kata Manuel adalah salah satu peserta pamerannya.

"Dia sedang pulang ke Indonesia," katanya. "Saya khawatir, ia terlambat ikut pameran."
"Kamu senang sekali bercerita tentang dia," ujarku padanya.
"Dia sangat berbakat."
"Bukan. Bukan itu maksudku. Kamu bercerita tentang dirinya dengan mata yang berbinar-binar dan senyum yang terlalu lebar."
"Qué quieres decir? Apa maksudmu?"
"Sepertinya ini bukan semata-mata tentang pameran dan pelukis yang berbakat."
"Oh, ayolah. Saya selalu bersikap profesional."
"Sí a la derecha. Usted ha intentado, pero no te. Yeah right, you've try, but you failed. Akui saja, Senor Estefan."

Jadi, demikianlah akhirnya.
Estefan, laki-laki bermata cokelat cair itu menunggu Katya kembali ke Barcelona. Berharap Katya masih sempat ikut pameran, katanya. Tetapi ia tak bisa membohongi aku, tentu saja.

Maka, untuk dirinya pula kutulis kisah ini.
"Kau akan menulis kisah ini?" Tanyanya padaku, setelah kami melemparkan remah roti terakhir pada kumpulan merpati kelabu.
"Kamu keberatan?"
"Tidak. " Ia tersenyum. "Katya dan aku akan bertemu di sini besok. Datanglah, dan duduklah agak jauh sebagai pengamat. Kamu tidak akan menyesal melakukannya."
"Memangnya, apa yang mau kamu lakukan?"
"Lihat saja besok, mi bella amiga. Lihat saja besok."

...............................

Just read my new novel 
"Barcelona Te Amo" 
if you want to know what will happened ;)



Image and video hosting by TinyPic

Sunday, March 24, 2013

Barcelona Te Amo. Novel Kedua Sudah Terbit!


Dear Katya,

Kali ini kisah tentangmu. Tentang jalan-jalan sempit beralas batu berabad lalu, tentang angin di sela-sela pilar gotik yang membawa kabar dukamu. Tentang pengorbanan dan harapan untuk membahagiakan seseorang.

Aku menulis. Menggiring benakku melintasi kota yang di tanahnya ditanamkan pondasi-pondasi para seniman. Di gang itu, di Gothic Quarter, kau tahu, sang maestro Picasso membuka studionya untuk pertama kali. Menunjukkan kepada dunia keahliannya memindahkan keindahan ke atas kanvas. Dan Joan Miro menghabiskan masa remajanya di sepanjang jalan bersejarah dan katedral yang dikunjungi Columbus, sebelum menjadi pelukis terkenal. Aku juga bisa melihat puncak katedral Sagrada Familia, mahakarya sang arsitek Gaudi. Lalu berhenti dan menari bersama air mancur ajaib di pelataran Museum Nasional.

Dan aku mengenal Manuel, Kat. Laki-laki yang menyuruhmu melukis dan melupakan kesedihanmu dengan caranya yang tak kau sukai. Ia baik, tapi kau menganggapnya angkuh dan tak punya hati. Berilah padanya kesempatan untuk menjelaskan.

Katya, bahwa aku menulis semuanya untukmu demi kebaikanmu. Agar kau pahami, bahwa pengorbananmu sudah cukup. Hentikan itu sampai di sini, Katya. Karena kau juga berhak untuk mendapatkan hidupmu lagi.

Alexandra dan Evan punya hidupnya sendiri. Biarkan mereka menjauh pergi.
Kau, seperti juga aku, adalah merpati-merpati bebas di alun-alun Plaza de Catalunya. Mari kita terbang. Langit biru sudah menunggu.

Con amor,

- Kireina Enno -

.............................


Hai guys,

Akhirnya Flamenco Project sudah menjadi novel!
Novel kedua saya "Barcelona Te Amo" sudah bisa didapatkan di toko-toko buku terdekat ya. Yuk serbu!
Ini adalah rangkaian dari seri Setiap Tempat Punya Cerita, yang digagas penerbit Bukune dan Gagasmedia.
Kali ini, ceritanya berbeda dengan novel pertama saya "Selamanya Cinta."
Untuk sinopsis, trailer dan bookshelf, check it out di:
Sinopsis 
Youtube's trailer
Goodreads bookshelf
Semoga kalian suka. Happy reading!




Image and video hosting by TinyPic

Sunday, December 30, 2012

Nominasi Itu...

Ciao amici...

Jadi, sebenarnya saya mau cerita kalau nggak disangka-sangka, beberapa waktu lalu novel pertama saya "Selamanya Cinta" masuk nominasi Novel Pendatang Baru Terbaik dalam kompetisi menulis cerita fiksi dan non-fiksi bertema "Ragam Cerita Hidup di Indonesia". Nama kompetisinya sendiri adalah Tulis Nusantara 2012. Periode lombanya dari 17 November - 15 Desember 2012.

Beritanya sudah disampaikan editor saya Iwied, bahwa penerbit Bukune mengirimkan judul novel dan nama saya, juga dua novel dan nama teman penulis lainnya ke kompetisi itu. Itu adalah beberapa hari sebelum saya membaca pengumuman pemenangnya di akun twitter seorang teman penulis, Alvi Syahrin.

Bukan saya yang menang sih. Novel saya hanya masuk nominasi.
Tetapi saya kaget bukan kepalang ketika membaca ulang artikel tentang kompetisi ini.
Ini kompetisi serius, sodara-sodara setanah air. Diselenggarakan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang menterinya Ibu Mari Elka Pangestu itu, bersama Nulis Buku dan Plot Point. Heu! Saya memelototi lappy sembari speechless.
Novel saya termasuk yang masuk nominasi dari 3.418 judul karya yang masuk ke meja juri. Wow!

Lebih senang lagi karena dua teman penulis yang satu penerbitan, Alvi dan Aiman, juga sama-sama masuk nominasi, Well guys, we did it! 

Yah, mungkin buat orang lain, perkara ini biasa-biasa saja. Tidak buat saya.
Ini adalah pembuktian bagi diri saya sendiri, bahwa apa yang selama ini saya lakukan untuk mewujudkan keinginan saya menjadi novelis seperti para penulis yang saya kagumi ada hasilnya. Bahwa menentang keinginan orangtua untuk berkarir di jalur hukum, meninggalkan karier jurnalistik dan jabatan di Jakarta, bahkan tinggal di kampung nan membosankan ini, ternyata tidak sia-sia.

Ini memang perkara biasa saja. Masuk nominasi penghargaan pemerintah dari sekian ribu karya.
Oh well...Terserah, orang mau bilang saya norak.
Intinya, seperti pernah saya tulis di akun twitter saya: menang atau tidak, bukan itu poinnya. Tapi bahwa karya saya dihargai dan masuk nominasi dari 3.418 judul yang diterima juri, itu yang membanggakan.

Selamanya Cinta hanya sepenggal kisah sederhana ala remaja, yang semua orang pun pernah mengalaminya. Tapi nggak ada seorang pun yang tahu, bahwa saya menulisnya dengan effort yang sangat besar. Dengan perasaan ragu, degdegan, terbata-bata, dan nggak percaya diri.
Ketakutan terbesar dalam dirimu, jika kamu sedang menulis novel pertamamu, adalah jika tak ada seorang pun akan menyukainya. That's the fact! ;)

Pengumuman dan penyerahan penghargaannya sudah berlangsung tanggal 22 Desember kemarin. Bisa dilihat disini ya. Total hadiahnya 112,5 juta rupiah. Yah, cukup bikin garuk-garuk aspal karena nggak menang sih... hahaha...
Selain mengadakan kompetisi menulis ini, Kemenparekraf sebenarnya juga mengadakan workshop menulis di 12 kota di Indonesia. Padahal, saya pengen ikutan tuh. Fyuh!

Tahu nggak, kenapa saya menceritakan ini semua?
You guys, salah kalau bilang saya mau pamer. Ini cuma sekedar share ke teman-teman yang selama ini sudah  mendukung saya. Terutama teman-teman blogger yang bertahun-tahun saling bersilaturahmi di dunia maya ini. Saya mau bilang terima kasih dan mau bilang juga ke teman-teman yang selama ini ragu untuk menulis.
Menulislah. Jangan dulu memikirkan apakah nanti akan bagus atau buruk. Akan disukai atau dimaki. Akan diterima atau ditolak.
Menulis itu nggak susah, yang penting dari hati. Setiap ada kemauan, pasti ada jalan. Iya nggak sih? Iya dong ah! :P

Udah, gitu aja. Saya harus mengedit lagi novel saya yang akan terbit awal tahun depan. Iwied sudah memelintir jilbab karena saya lelet. Addio!

“If you want to be a writer, you must do two things above all others: read a lot and write a lot.” 
 ― Stephen King



Image and video hosting by TinyPic

Monday, December 17, 2012

Introducing: The Rain Project

Haiiii....
*nyengir lebar*

Akhirnya, cita-cita saya untuk menovelkan  postingan di label Hujan tercapai.
Saat ini, saya resmi dalam proyek penulisan draft yang saya beri nama Rain Project. Ceritanya pasti beda dengan apa yang saya tulis di label Hujan. Kalau label Hujan itu memang asli tentang kisah saya, kalau Rain Project ini cuma terinspirasi saja. Tokoh-tokoh dan karakternya berbeda.

Bisa dibilang, sebenarnya proyek ini akan mengungkit kisah lama sih ya...
Soalnya saya akan menelaah dan merangkai bagian-bagian kisah dari postingan-postingan itu (klik label Hujan kalau penasaran).
Tapi untungnya, ini bukan kisah yang bikin saya sakit hati. Kisah asli berakhir dengan cara baik-baik. Itu sebabnya, saya mengambilnya sebagai ide cerita. Kalau kejadiannya bikin eneg, mana mungkinlah saya abadikan di novel. Iya nggak sih? Hehehe.

Saya punya waktu sampai bulan Maret 2013 untuk merampungkan draft ini. Untungnya semua bahan riset sudah siap. Kebetulan juga karena ini melibatkan kegiatan outdoor, khususnya caving, ingatan saya masih sangat segar sehabis caving kemarin. Dan sejujurnya, niat pergi caving kemarin itu memang sekaligus riset untuk bahan draft ini.

Jadi ceritanya, bahan-bahan draft ini sudah lama saya persiapkan. Jauh sebelum 'Selamanya Cinta" dan "Flamenco Project." Saya benar-benar kepengin banget label Hujan itu jadi novel. Riset dan pencarian bahan terus dilakukan selama saya mengerjakan proyek-proyek lain. Termasuk ketika saya merasa harus caving lagi, untuk menyegarkan memori.

Nah, saat saya pulang liburan terakhir itu, saya ditodong naskah lagi. Dan outline Rain Project-lah yang akhirnya saya sodorkan. Karena saya nggak mau kehilangan moment ingatan yang masih fresh tentang caving dan kegiatan outdoor kemarin.

Jadi, inilah saya sekarang. Kembali masuk petapaan untuk menciptakan lagi sebuah kisah tentang cinta. Mengumpulkan puing-puing kenangan dan ingatan yang terserak. Berharap semuanya akan lancar dan baik-baik saja. All is well. All is well.

Jatuh cinta padamu membangkitkan segala puisi indah dalam jiwa. Aku menulis beribu kata untukmu dan kau sesungguhnya tahu.
-- Enno, in Hujan


pict from here
Image and video hosting by TinyPic

Friday, December 7, 2012

New Project: Cerita Hati

Haiii....

Cerita traveling-nya dikasih breaking news dulu ya. Hehe...
Kumpulan cerpen saya dan teman-teman penulis di penerbit Bukune sudah terbit. Judulnya Cerita Hati. Ini Cinta Pertama.
Ada cerpen saya berjudul "Sayap Kupu Kupu." 

Selain cerpen saya, ada juga cerpennya Bernard Batubara (Kata Hati), Dannie Faizal (Manjali), Erditya Arfah (Merah Putih di Benua Biru), Indra Widjaya (Idol Gagal), Dian Purnomo (Rahasia Hati), dan Risa Saraswati (Danur).
Penulis-penulis Bukune berkolaborasi dengan 10 pemenang lomba menulis cerpen tentang cinta pertama, yang diselenggarakan Bukune beberapa waktu lalu. Hasilnya, sebuah buku kumpulan cerpen yang di dalamnya kisah-kisahnya seru semua.

Yah, bayangkan aja. Ini kisah nyata kami semua (setidaknya saya dan teman-teman penulis). Dan saya yakin, sebagian besar pemenang lomba juga menulis kisah cinta pertamanya sungguhan. Soalnya memang nggak ada kisah yang mengada-ada. Benar-benar nyess, gitu. Hahaha....

Nggak rugi punya buku ini. Terutama buat kalian, teman-teman pembaca saya yang selama ini selalu nanya gimana caranya mengolah kisah nyata menjadi sebuah buku.
Nggak usah langsung bikin novel, deh. Cerpen aja dulu. Sering-sering menulis cerpen, dan kirimkan ke media. Itu bisa menjadi latihan untuk menulis lebih panjang lagi (baca: novel). Dan ujian mental juga. Kalau masih ditolak-tolakin, jangan putus asa. Saya juga berangkat dari cerpenis kok, sebelum menulis novel.

Kembali ke buku Cerita Hati. Kalian bisa membaca kisah cinta pertama saya. Yang jelas bukan sama Abe (pasti banyak yang nebak dia). Aslinya, saya dan Abe kan nggak pernah jadian. Dulu pun saya memang nggak jatuh cinta sama Abe. Bedakan kisah nyata saya (yang ada di blog ini) dengan novelnya :))

Jadi, kalau penasaran sama cinta pertama saya dan teman-teman penulis di atas, silakan beli! Harus beli dink! Ayo serbuuu!

Kaulah yang kali pertama menyentuh dasar hatiku, meninggalkan hangat yang tak pernah dilupakan memori.
-  blurb dari buku Cerita Hati. Ini Cinta Pertama

Buku Cerita Hati sudah ada di toko buku.
pict by my B ;)

Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, September 18, 2012

Selamanya Cinta Sejauh Ini

Saya belum pernah cerita ya, bahwa sejak novel pertama saya terbit, saya suka memantau feedback pembaca dari internet. Beberapa kali seminggu, saya iseng searching di Twitter. Mencari tahu ocehan orang-orang tentang novel saya "Selamanya Cinta" dengan berbagai kata kunci.
Dan apa yang saya dapatkan membuat saya terkejut senang.

Banyak sekali yang membicarakan novel itu. Kebanyakan anak-anak sekolah, yang memang cocok dengan genre novel saya itu. Mereka mengoceh, mengobrol, saling merekomendasikan, saling melempar mention dengan topik Abe dan Reina. Betapa mereka ingin punya sahabat seperti keempat tokoh novel saya, ingin punya pengagum rahasia seperti Abe, ingin seberuntung Reina, dan lebih banyak lagi yang merasa punya nasib yang sama dengan dua tokoh utama saya itu. Cinta pada sahabat, yang tak tersampaikan.

Yang melempar mention langsung kepada saya juga banyak. Hampir setiap hari selalu ada. Memuji, menanyakan ini itu, memberi semangat untuk menyelesaikan novel berikutnya, menunggu dengan tidak sabar...
Saya terharu dengan penerimaan atas novel itu. Sungguh di luar ekspektasi. Sebab, waktu menulis novel itu, sebetulnya saya tidak benar-benar enjoy.
Saya sedang patah hati, dan saya tidak siap menulis genre remaja belasan tahun. Dengan susah payah, saya mengumpulkan semua ingatan masa sekolah yang tercecer 'seabad' lalu, meskipun sudah punya beberapa potongan tulisan dari blog.

Be my Abe, then I'm your Reina.

Kalian berdua udah baca selamanya cinta kaann?astagaa abenyaaa

Pengen punya sahabat cowok kayak di novel selamanya cinta


Novel Selamanya Cinta itu inspiratif banget sumfah!!!!


Selesai baca novel selamanya cinta. Hufff sampe nangis bombay di bagian bab terakhirnya



Saya menemukan status-status itu di Twitter. Tentunya yang punya akun masih SMA :)
Dan itu masih banyak lagi. Sayangnya, seminggu sekali Twitter menghapus hasil pencarian lama, dan memperbaharui dengan hasil terbaru. Padahal, masih banyak status tentang Abe dan Reina yang oh-so-sweet.
Setiap selesai searching, saya nyengir lebar. Membaca status-status di akun-akun berbeda, mengenai novel Selamanya Cinta, membuat saya terkekeh sendiri. Kadang geleng-geleng kepala. Kalian lucu sekali, adik-adik... :D

Menurut kamu novel apa yang bagus untuk difilmkan?
Selamanya Cinta!

Di Twitter, akun-akun yang menanyakan hal seperti itu dijawab demikian. Begitu juga dengan pertanyaan 'pasangan paling serasi dalam novel menurutmu?' Saya menemukan beberapa orang menjawab 'Abe dan Reina.'
Saya meleleh...

Novel saya mungkin tidak sefenomenal "Laskar Pelangi", "Ayat-Ayat Cinta", "Perahu Kertas" atau novel apa pun yang kini sudah difilmkan. Selamanya Cinta hanya sebuah novel sederhana, yang bahkan tidak membuat saya merasa puas karena merasa ditulis dengan tekad tidak maksimal (oh, seandainya tidak sedang patah hati...)
Tapi saya nggak mengira, kesederhanaannya bisa menyentuh hati anak-anak sekolah di luar sana, yang sering galau karena cinta. Nggak mengira bakal dicetak tiga kali dan dijadikan topik obrolan saat jam istirahat sekolah (yang ini survei langsung atas bantuan para keponakan-sepupu-kerabat teman yang masih SMP-SMA).

Saya tahu, banyak yang bilang novel ini jelek. Saya tahu kok. Saya tahu ada yang meremehkan. Saya cuma mau bilang, nggak perlu jadi pujangga dulu untuk bisa memenuhi apa yang pembaca mau. Buktinya novel saya dicetak sampai tiga kali. Dua belas ribu eksemplar dalam enam bulan, wahai kamu! Tidakkah itu 'sesuatu'? Boleh saja dirimu meremehkan saya, hanya karena novel saya tidak 'nyastra' seperti seleramu (yang kamu buktikan dengan cara menulismu yang nyastra juga). Bukan berarti saya tidak bisa menulis seperti itu. Lihat saja sendiri di laman blog ini. Prosa liris saya bebas kamu baca. Masalahnya, saya tidak mau terikat dengan gaya mendayu-dayu berbunga-bunga, yang nggak realistis.
Buat saya, novel adalah dimensi kedua tempat saya hidup. Jadi tetap harus realistis. Saya kan nggak ngobrol pakai bahasa prosa dalam keseharian. Barangkali kamu yang seribet itu?

Well, well. Lupakan.
Bagaimana pun juga, saya ambil hikmahnya saja deh. Semua ini membuat saya termotivasi untuk menulis lebih baik lagi. Karena sebenarnya saya juga kan masih belajar di ranah novel.
Buat kalian yang sudah baca Selamanya Cinta (dan yang baru mau baca juga hehe), thank you so much. Ciyum basah untuk semuanya! #Eaaa!

----------------

Btw, draft novel kedua sudah mulai diteruskan lagi, setelah berhasil memenuhi deadline untuk cerpen yang akan disertakan dalam antologi Ini Cinta Pertama.
Buku antologinya terbit bukan Oktober. Dan novel kedua sudah dijadwalkan terbit bulan Desember. Semoga nggak ada halangan, aamiin. 

Ciao!

Writing isn't something that makes me happy like a good cup of coffee. It's just something I do because not writing, as I've found, is so much worse.”
― Quentin R. Bufogle


pict from here
Image and video hosting by TinyPic

Saturday, September 8, 2012

Quick Update: Panic

Dikejar deadline
Tercekam, waswas, panik
ingin menghilang

Nah, haiku di atas menggambarkan keadaan saya di markas saat ini. Eh, kok markas? Yah, bolehlah kamar saya ini disebut markas. Hehe.

Di sela-sela menyelesaikan draft novel, saya ditodong satu proyek antologi cerpen oleh penerbit. Saya harus menyetor satu cerpen, based on true love story of mine. Heh! Pada kepo aja dengan kisah cinta saya, ya? Belum cukup ya saya jejerkan di blog ini? Hehe... pis, Wied! *mlipir*

Akan ada (kalau tidak salah) 17 penulis untuk antologi ini. Saya belum bisa bilang temanya apa. Nanti aja deh. Yang pasti kisah nyata cinta-cintaan. Jujur ya, saya sampai harus berpikir lama dengan kegalauan maksimal untuk memilih kisah cinta yang mana lagi yang mau saya ekspos. Bukan karena saya punya banyak kisah cinta. Bukaaan! *sok polos*
Tema yang ditentukan penerbit itu sangat spesifik. Dan sebenarnya saya memang punya kisah yang memenuhi syarat. Masalahnya, ini agak memalukan dan bisa jadi bahan olok-olok teman-teman dekat.
Damn, damn, damn! Tapi demi profesionalitas dan sudah kadung menyanggupi, akhirnya saya keluarkan juga kisah mendebarkan ini, guys.

Apa kabar novel kedua? Oh, saya sudah di bab 7 sekarang. Sepertinya jumlah bab akan bertambah, sementara saya hanya punya beberapa minggu lagi sampai batas deadline. Bisa dibayangkan betapa paniknya saya? Bisa? Bisa nggak? Harus bisa, dong! *mendelik*

Yah pokoknya, cerpennya akan selesai malam ini. Dan saya sudah senyum-senyum dari tadi, karena akhirnya ikhlas melepaskan kisah ini ke hadapan publik. Hihi.. sok gaya ah saya! :P
Dan ngomong-ngomong, saya juga sedang belajar membuat haiku. Seperti puisi paling atas itu.
Haiku adalah puisi tradisional Jepang kuno, yang terdiri dari 3 baris kalimat dengan struktur suku kata 5-7-5.
Seru deh bikinnya! :D

Senja menghilang
Matahari berlari
Rinduku batu


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, August 1, 2012

Flamenco Project: Saya Jatuh Cinta (Day 11 -14)

Ada kejutan di bulan Ramadhan saat saya sedang fokus menulis novel kedua ini. Editor saya, Iwied, menelepon dan bilang novel saya Selamanya Cinta cetak ulang ketiga!
Alhamdulillah, saya senang dan nggak nyangka. Kalian segitu ngefansnya kah sama Abe? Hihihi.

Kadang-kadang saya kangen nulis lagi tentang Abe di sini, tapi nanti saya akan didesak untuk bikin sekuelnya. Saya belum siap bikin novel dwilogi, trilogi dan sejenisnya. Itu mudah tapi juga susah. Mudah, karena karakter tokoh-tokohnya sudah ada, sudah fix. Tapi membuat sekuel itu bawa beban yang nggak sedikit. Dia harus lebih bagus, atau sama bagusnya dengan yang pertama. Kalau nggak, bisa dikritik sebagai novel gagal atau aji mumpung.

Yeah well, pokoknya cetak ulang tiga kali, sodara-sodara! Saya nari flamenco dulu ya! *kayak yang bisa*

Baydewey, saya lagi jatuh cinta lhooo... *kedipkedip*
Yak! Semua langsung duduk tegak, mencondongkan badan ke layar kompi dan mulai memasang radar gosip hihihi...nyante dong ah!

Project Flamenco sudah mulai lancar jaya. Mau tahu kenapa? Ya karena saya lagi jatuh cinta....
sama salah satu tokoh disitu.
Dan saya juga akan bikin kalian jatuh cinta sama dia.... hahaha....

But it's true that I'm enjoying writing this project.
Maybe because I love the setting!
Spain! Omigod! Can you imagine the place with the gothic buildings, beautiful people, handsome matadors, Pablo Picasso's paintings, the gypsies, flamenco dance, et cetera, et cetera?
Or maybe... Enrique Iglesias, gals? Aw, aw! Hehehe...

Seperti saya pernah bilang, lancarnya novel ini mungkin juga karena saya sudah membuat outline-nya lebih terperinci menjadi per bab. Saya punya tujuh bab, dan perjalanan masih panjang, karena saya baru menulis di Bab 2. Tapi dengan ritme yang sudah mulai asyik ini, dan perasaan jatuh cinta yang bikin semangat, saya yakin novel ini bakal selesai sebelum deadline. Insya Allah... :)
Now, I'm on page 34 with 8.500 words. 

Oh iya, satu lagi. Saya dapat kabar dari teman saya LeLittle (nama kamu susah amat ya, cyin? Haha)
Coba kalian buka link iniAda seorang fotografer yang menjual beberapa fotonya untuk didonasikan ke Let's Adopt Indonesia.  Kalau teman-teman mau beli, silakan lho. Fotonya keren-keren banget! Atau bantu sebarkan di blog kalian, ya. Siapa tahu ada yang mau beli untuk donasi.
Dan di link yang satunya lagi (Let's Adopt Indonesia), kalian juga bisa lihat-lihat. Siapa tahu kalian tergerak untuk adopsi binatang-binatang malang (tapi lucu-lucu) yang ditampung sementara di sana. Saya kepingin adopsi salah satu kucingnya, tapi kucing di rumah saya sudah ada tujuh.
Adopsi anjing? Errr... mau sih, tapi takut nggak keurus. Nanti malah dosa kan yaaa. Soalnya selain tujuh ekor kucing, di rumah ada lima ekor kelinci hias (tiga Rex Satin, satu Dutch dan satu Hotot), sepasang angsa jenis Embden, dan ayam-ayam. Rame kan rumah saya?

Okay, saya balik dulu ke draft yaaa!
Ole!
*ngibasin kipas, ngedipin Enrique*


“All you have to do is write one true sentence. Write the truest sentence that you know.” 
― Ernest Hemingway

Enrique! Awww! :))
Image and video hosting by TinyPic

Saturday, July 28, 2012

Diplagiat Lagi (Day 7 - 10)

Di tengah-tengah kesibukan bayar gaji buruh pabrik, mengurus rumah dan menyelesaikan draft Flamenco Project ini, saya iseng tracing. Et voila! Saya menemukan beberapa plagiator baru (terlihat dari tanggal postingannya yang masih baru beberapa bulan belakangan ini).

Hadeeeh! Memang susah ya memberantas yang kayak gini. Karena orang-orang sakit jiwa memang ada di mana-mana.

Ada satu plagiator yang isi blognya membuat saya agak kasihan. Seorang isteri yang tidak bahagia tampaknya. Dia berkeluh kesah tentang suaminya, dan menyebut-nyebut nama perempuan yang saya kenal di dunia maya.

Saya ternganga. Jujur ya, saya nggak bermaksud mengintip kehidupan dia. Tapi gara-gara dia membuat judul dengan nama teman blogger saya itu, besar-besar pakai huruf kapital pula, saya jadi tertarik untuk membaca. Dan ternyata lebih banyak lagi post-nya yang isinya tentang teman saya. Well, ini bulan puasa, jadi saya tidak melanjutkan membaca yang lainnya dan hanya meninggalkan pesan di kolom komentar di bawah tulisan-tulisan saya yang dia plagiat.

Tulisan-tulisan saya yang dia plagiat banyak banget, bahkan cuplikan novel saya pun dia plagiat! Hadeeeh! Dia ganti judul aslinya, dan bagi saya itu artinya dia mengklaim tulisan itu menjadi miliknya.

Nah, persoalannya....jika dia tidak mengindahkan peringatan saya untuk menambahkan link pada tulisan saya yang dia plagiat, seperti biasanya saya akan memberi peringatan lebih keras dengan mengumumkan link blognya. Lebih ekstrim lagi, saya akan menampilkan akun-akun media sosial si plagiator. Ya kan, kalian hapal kalau saya marah sama orang-orang yang suka plagiat itu gimana...?
Tapi, kalau hal itu saya lakukan pada si nyonya yang stress ini, saya khawatir teman blogger saya yang dia ceritakan di blognya akan ikut berkunjung ke sana, lalu membaca tulisan tentang dia dan mungkin kesal atau marah. Lalu memberitahu suami si nyonya ini... lalu suami si nyonya akan marah pada isterinya dan mereka bertengkar.

Aish! Saya nggak mau jadi penyebab pertengkaran rumah tangga orang lain!

Harapan saya, si plagiator malang itu membaca posting ini dan segera mengindahkan permintaan saya untuk menambahkan link blog ini sebagai sumber. Sumpah, saya kasihan padamu. Apalagi setelah membaca keluh kesahmu tentang suamimu. Saya nggak akan membeberkan link kamu, tapi tolong kamu juga mengerti bahwa saya nggak suka kamu plagiat tulisan saya. Please Mbak, tambahkan link blog saya atau hapus sekalian, oke?

Ganti topik ke draft Flamenco Project. Laporan hari ke 7 - 10. 
I'm on page 26. Sudah masuk ke Sub-chapter 2 sekarang. Sejauh ini nggak ada kesulitan yang berarti selain konsentrasi yang kemarin terbagi untuk gajian buruh. Saya mulai enjoy menulis novel ini, dan semakin penasaran untuk kursus tari flamenco *apa sih!*

Itu dulu deh. Bye bye!

"This is how you do it: you sit down at the keyboard and you put one word after another until its done. 
It's that easy, and that hard.” 
― Neil Gaiman


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, July 24, 2012

Flamenco Project: The Soundtrack (Day 5 - 6)

Yang saya lakukan sebelum mulai intens menulis adalah belanja ke pasar.
Lho? Hehehe
Iya, saya serius. Saya menyusun menu untuk seminggu, membeli semua bahan-bahannya dan menyusunnya di kulkas. Itu berarti untuk seminggu ke depan, benak saya bebas dari kegalauan memikirkan menu harian dan pergi ke warung pagi-pagi. Cerdas kan saya? #nggakpenting

Kemajuan draft saya masih lambat sekali. Sejauh ini baru 15 halaman dengan 4.000 kata. Well, ini juga terjadi waktu saya nulis novel pertama sih. Mungkin karena awal-awal cerita masih belum seru. Biasanya, kalau sudah masuk ke konflik, saya semangat banget. Nulis terus dari pagi sampai malam.

Sambil nulis, saya mengumpulkan soundtrack. Lagu-lagu yang harus saya dengarkan di sela-sela mikirin adegan berikutnya, gitu. Buat saya ini penting, dan lagu-lagunya juga harus pas dengan tema.
Waktu nulis "Selamanya Cinta", folder soundtrack-nya isinya kebanyakan lagu-lagu Andrew Belle dan The Fray. Satu lagu yang selalu saya ulang-ulang sambil menulis adalah "How To Save A Life" punya The Fray.

Novel yang sedang saya garap dan saya sisihkan demi proyek dadakan yang sekarang dikebut ini, punya folder soundtrack yang kebanyakan isinya lagu-lagu Colbie Caillat.

Sekarang, Flamenco Project juga sudah punya folder soundtrack sendiri. Isinya kebanyakan lagu-lagunya Owl City. Tapi lagu yang selalu saya ulang-ulang sambil nulis malah lagunya Foreigners yang judulnya "I Wanna Know What Love Is." Itu liriknya epik bangetlah buat tema novel ini. Hehehe.

Saya juga sudah mulai nempel kartu-kartu berwarna untuk menulis lintasan ide untuk adegan atau plot berikutnya biar nggak lupa. Memastikan kuota internet saya selalu cukup, kalau-kalau saya butuh riset mendadak di tengah-tengah proses menulis. Sarung pantai Bali untuk selimut kaki, ponsel dalam jangkauan, print out outline di sebelah laptop dan memastikan bantalan duduk saya selalu empuk (waktu menulis novel pertama di meja rias, sekarang menulis di meja tulis saya yang model meja jepang-pendek).
Intinya, kenyamanan dan kemudahan saat menulis harus diperhatikan.

Gitu aja sih, kisah kasih kemajuan draft saya. Hari ini tragetnya harus 3.000 kata. Dan saya masih harus mikirin ending yang belum pas. Bismillah...


“You can make anything by writing.” 
― C.S. Lewis


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Sunday, July 22, 2012

Flamenco Project: Day 1 - 4

So, this is the 4th day.

Setelah dua hari penuh riset geografi dan antropologi, akhirnya kemarin saya mulai menulis. Hasilnya, saya punya Prolog dengan 400 kata dan Bagian I, episode 1, sebanyak 2.200 kata (sekitar 10 halaman A4). Lumayan juga, setelah diawali dengan munculnya ide untuk adegan dan dialog di paragraf awal.

Saya sedang 'berada' di salah satu kota paling gaya di Eropa. Menikmati musim panas, yang cahayanya memantul di dinding-dinding kuno. Menyusuri jalan-jalan beralas batu yang sudah ada di sana sejak abad pertengahan. Saya menyelinap di antara para turis, memperhatikan mereka belanja dan duduk-duduk di kafe pinggir jalan. Memperhatikan para pelukis menggoreskan kuasnya, menciptakan dunia ajaib di kanvas mereka.

Saya menyaksikan tokoh-tokoh saya, mulai bermunculan dengan beban di benak mereka. Saya bisa melihatnya dalam raut wajah yang saya bentuk, dalam gerak-gerik yang saya perintahkan, dalam dialog yang saya tuliskan.

Sejauh ini, saya masih menulis berdasarkan gambaran besar dan naluri. Outline yang saya pakai masih outline yang saya kirim ke editor saya. Akibatnya, kadang ritme menulis tersendat, karena belum terpikir adegan selanjutnya. Dan saya terpaksa harus meninggalkan laptop dulu untuk mencari inspirasi, yang mana malah baru balik lagi ke laptop setelah berjam-jam kemudian. Buang waktu!

Mungkin sudah waktunya bikin outline lebih detail per episode? Saya coba deh.

Episode 1 belum selesai. Masih akan bertambah hari ini. Bela-belain nggak tidur lagi sehabis subuhan untuk memenuhi target.
Hiks, ngantuk....
*pukul-pukul pipi sendiri*


“Fiction is the truth inside the lie.” 
― Stephen King


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Thursday, July 19, 2012

Before Ramadhan 2012

Hola!

Barangkali ini jadi posting random saya yang kesekian, dan di tengah-tengah sakit kepala sejak pagi. Menjelang ramadhan lagi, dan ketetapan hari yang 'agak' simpang siur lagi seperti tahun lalu. Saya cuma berharap, hari Lebaran tahun ini tidak akan bikin banyak orang kecele lagi seperti tahun lalu.

Ini ramadhan kedua tanpa Ibu. Kalau sudah begini maka saya akan berubah menjadi orang cengeng. Meskipun tidak akan selebay kakak perempuan saya dan adik laki-laki saya, sih :P

Sejak kemarin, orang-orang menanyakan hal yang menurut saya paling nggak penting sedunia: "Mau masak apa buat sahur pertama?"
Sesuatu yang nggak pernah terpikirkan, bahkan waktu ramadhan pertama tanpa Ibu tahun lalu. Saya biasa go with the flow. Memasak apa pun bahan makanan yang ada di kulkas saat itu. Jadi kenapa harus menyusun menu?

Mau nggak mau, gara-gara pertanyaan itu saya jadi kepikiran. Masak apa ya? Enaknya masak apa sih? Akhirnya pagi ini saya menunda rencana mencuci pakaian demi pergi ke pasar berbelanja bahan-bahan makanan. Mirip emak-emak sejati, kan? *sigh*

Menu sahur pertama, checked.

Sambil menulis ini, saya sedang meriset bahan-bahan proyek novel dadakan yang saya ceritakan kemarin. Sudah dua hari ini saya belum mulai menulis apa pun, karena masih harus riset. Saya menamakan proyek ini Flamenco Project, dan mendadak jadi kepingin kursus tari flamenco. Aw aw! :))

Riset saya rasa cukup. Nanti ini akan dikompilasikan dengan sejumlah wawancara dengan orang-orang. Saya sudah punya daftar para korban hahaha... Siap-siap dibawelin ya! Hihihi.

Riset novel, checked.

By the way, sesekali saya akan menulis semacam jurnal tentang kemajuan novel saya di blog ini. Kemungkinan akan berlabel 'Flamenco Project.' Sebenarnya itu lebih bertujuan meneguhkan motivasi dan mood menulis saya yang akhir-akhir ini sering turun naik, lebih labil daripada para abege di luar sana itu *sigh*

Saya cuma punya waktu 3 bulan, lebih lama dari waktu yang saya punya untuk menulis 'Kisah Abe' sih. Tapi kali ini bukan novel tentang kehidupan anak sekolah. Isinya lebih kompleks, dan saya benar-benar harus terlibat secara psikologis dengan para tokohnya yang berkarakter unik.

Perlahan-lahan mereka tumbuh di benak saya. Menguasai saya bergantian, memunculkan percakapan-percakapan monolog di dalam sana. Mencoba memberitahu saya apa yang mereka inginkan saat saya 'melahirkan' mereka ke dunia kelak.

Begitulah. Sepertinya saya harus mulai menulis, karena kalimat pertama untuk paragraf pertama di bab pertama tiba-tiba muncul.

Selamat menunaikan ibadah puasa untuk teman-teman sesama muslim. Semoga ramadhan tahun ini membersihkan kita dari alpa dan dosa. Maafkan saya lahir batin, ya....

Hasta luego. See you.


pioct from here

Image and video hosting by TinyPic

Monday, July 16, 2012

On Writing: Proyek Mendadak dan Tips Membuat Plot

Dan datanglah tawaran itu, di tengah-tengah konsentrasi saya menulis novel kedua. Proyek yang seolah-olah disodorkan kepada saya bulat-bulat. Dengan setting dan tema yang menarik, dengan beberapa tenggat waktu yang bisa dipilih.

Yang ada dalam pikiran saya pertama kali? No way. Gue lagi fokus banget. Ini sudah sampai di bab kedua dari empat bab yang disiapkan. Di tengah jalan.


Tetapi kalian tidak pernah tahu, betapa saya menyukai deadline. Dan itulah satu-satunya yang mendorong saya untuk serta merta menerima ajakan ini. Dalam waktu beberapa detik, saya memutuskan dan bilang 'oke.' Memilih tenggat waktu yang sekiranya tidak terlalu lama, juga tidak terlalu cepat. Alhasil, saya punya tiga bulan untuk menyelesaikan proyek novel ini.

Itu berarti, bulan Oktober (pertengahan), draft harus sudah diterima penerbit.
Terlalu cepat? Tidak juga :)
Saya terbiasa berkejar-kejaran dengan deadline saat masih menjadi jurnalis aktif. Terkadang, satu jam sebelum berangkat ke percetakan, saya masih diberi tugas menulis sebuah artikel baru. What a wonderful job! :D

Untuk proyek ini, editor saya memberi waktu tiga hari untuk menyerahkan outline (padahal saya minta seminggu) *sigh*
Jadilah tiga hari berturut-turut, saya benar-benar bertapa di depan si Scarlet, lappy tercinta. Dari pagi sampai malam. Untungnya, semua orang rumah dan orang pabrik menghormati privasi saya dan membiarkan saya melongo-mengetik-melongo-garukgaruk kepala-mengetik-melongo lagi. Memperhatikan semua adegan itu dari luar kaca jendela kamar saya tanpa komentar. Hehehe...

Wangsit yang saya terima tak tanggung-tanggung. Sembilan halaman outline lengkap, full spoiler adegan, yang siap digarap. Saya membuat versi garis besarnya untuk dibawa ke rapat penerbit, tapi tetap mengirim versi lengkapnya kepada mpok editor ;)

Setelah ini saya sudah bisa tidur nyenyak dan mulai mengumpulkan konsentrasi baru untuk proyek ini. Dengan sangat menyesal, novel yang sedang saya garap harus disisihkan dulu. Tak apa, toh plot, spoiler, dialog dan adegan penting sudah tercatat dalam kartu warna-warni yang saya tempelkan di papan gabus samping meja tulis :P
Oh iya, ada yang nanya tentang plot.
Plot adalah pola dasar yang membangun situasi dan kejadian-kejadian penting dalam sebuah novel. Kadang-kadang kan ya, kita punya banyak ide cerita tapi nggak tahu gimana caranya menjadikannya sebuah kisah yang bisa dibaca dan dinikmati. Kita punya banyak tema, tapi nggak punya plotnya.

Ini ada beberapa tips untuk teman-teman yang kesulitan menyusun plot ketika akan mengawali menulis novel. Cekidot! ;)

  1. Deskripsikan cerita yang ingin kamu tulis dalam sebuah kalimat. Kalau kamu nggak bisa mengatakan tentang apa novel yang akan kamu tulis, itu berarti ide cerita kamu belum matang dan nggak jelas.
  2. Putuskan apa yang paling diinginkan tokoh utama kamu dalam hidupnya. Rangkaian kisah akan tumbuh dari keinginan itu.
  3. Tulis keterangan karakter tokoh-tokoh kamu. Misalnya penampilan fisiknya, apa yang dia suka dan tidak suka, ketakutannya, trauma masa kecil, pekerjaan, dan lain-lain. Plot adalah perilaku. Seperti halnya orang-orang di dunia nyata, pengalaman tokoh utama kamu di masa lalu akan menentukan bagaimana ia berperilaku di masa depan. Apa yang dia takutkan bisa mempengaruhi tindakannya. Plot tumbuh dari karakter. 
  4. Buatlah waktu untuk setiap event dalam novel kamu, karena dari situ juga kamu bisa mengembangkan plot/cerita. Waktu bisa menjadi titik awal atau titik akhir novel kamu.
  5. Buat peta dimana semua aksi dalam novel kamu akan berlangsung. Jadi kamu bisa mengukur jarak dan tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk memindahkan tokoh-tokoh kamu dari satu tempat ke tempat lain. 
Tips di atas itu bisa menghindarkan kamu dari kebiasaan jelek penulis pemula yang suka memilah-milah bab yang penting dan bab yang nggak penting. Sebaaab... dalam sebuah novel seharusnya semua bab itu penting karena saling terkait satu sama lain membentuk kisah yang utuh. Plot, karakter, cerita, tema dan setting harus terikat satu sama lain.

Gitu aja tipsnya. Semoga yang pada nanya soal plot terpuaskan. Met nulis!


pict from here
Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, May 30, 2012

Journey to Batavia

Some folks leave home for money 
And some leave home for fame, 
Some seek skies always sunny, 
And some depart in shame. 
I care not what the reason 
Men travel east and west, 
Or what the month or season-- 
The home-town is the best. 

(Edgar A. Guest, The Home-Town)
..............


Saat diminta mengisi Kelas Nulis yang diselenggarakan Bukune, novel saya bahkan belum kelar. Dan pengalaman saya bicara di depan banyak orang, bukan sebagai pembicara tamu. Saya main teater, dulu waktu masih SMA. Itu beda, karena saat berakting, kita berada di dunia imajinasi. Saya mengajar di sekolah darurat. Itu juga beda, karena yang saya hadapi anak-anak dengan suasana yang informal.

Tapi kalau harus bicara depan banyak orang (dewasa) dan sharing ilmu? Walah! Saya memang punya pengalaman sebagai editor (majalah). Tapi kan bukan novelis seperti Ayu Utami atau Dee Lestari, dan terutama terlalu jauh bedanya dengan NH Dini, Mira W., atau V. Lestari yang senior-senior itu. Fyuh!

Dipikir-pikir lagi, nggak ada salahnya juga saya coba. Toh Iwied bilang, acaranya juga informal. Pada dasarnya saya juga suka mendiskusikan hal-hal yang saya sukai. Nggak ada salahnya membagi pengalaman dengan teman-teman yang baru mulai menulis. Setidaknya, sebagai editor, saya cukup punya masukan untuk hal-hal yang mendasar tetapi sering dilupakan.

Oke, ayo kita diskusi! Saya pun mulai packing.

Jakarta menyambut saya acuh tak acuh seperti biasa, begitu saya turun dari bus antar kota di Terminal Lebak Bulus. Dimulai lagi acara mengejar-ngejar metromini, yang entah kenapa tahun ini sudah tidak masuk lagi ke dalam terminal. Sebagai anak (yang dibesarkan) di Jakarta, mengejar metro dan melompat ke dalamnya sih perkara mudah. Hehehe.

Begitu sampai di rumah tante, saya tidak kemana-mana, meskipun hari masih siang dan sebenarnya masih cukup waktu untuk sekedar pergi ke Gramedia Blok M. Saya malah mengobrol dengan tante saya, setelah sebelumnya berganti kostum kebangsaan di Jakarta: tanktop dan celana pendek. Sekarang hanya dipakai di dalam rumah, tentu saja ;)

Petualangan baru dimulai esoknya. Iwied mengirim pesan, saya akan dijemput oleh utusan Bukune bernama Pak Syarif. Tepat pukul setengah sebelas siang, seseorang muncul di depan pagar.

"Saya diminta menjemput Enno," katanya. Saya agak ragu. Masih muda? Ganteng?
"Ini dari Bukune?"
"Iya."
"Pak Syarif?"
"Iya, saya Syarif."
Oh, wow! Sejak tadi yang saya tunggu itu seorang bapak-bapak setengah baya. Hahaha.

Di Kafe Buku Margonda, Iwied sudah menunggu di parkiran. Dia langsung wara-wiri nggak jelas. Tapi saya sempat bilang ke dia. "Apaan, Pak Syarif?  Mas Syarif itu mah!"
Iwied menghampiri mobil yang sedang parkir, dan kembali ke saya sambil nyengir. "Iya ya. Aku juga baru tau."

Kelas nulisnya berlangsung fun. Saya malah juga ikut dapat banyak masukan dari Mbak Windy, saat giliran dia sharing. Dia jelas punya banyak tips dan teknik yang bisa dibagi sebagai editor fiksi.

Waktu giliran saya, ternyata mudah saja bercuap-cuap di depan banyak orang itu ya? Hahaha. Saya sebenarnya suka diskusi. Kolega-kolega saya tahu betul, setiap rapat redaksi, saya ini paling argumentatif.

Satu hal yang saya garis bawahi untuk teman-teman calon penulis hari itu, saya bilang supaya mereka jangan setengah-setengah.
"Waktu kalian memutuskan untuk menjadi penulis dan bilang 'saya kepingin jadi penulis', kalian nggak bisa mundur lagi. Apa pun motivasi kalian untuk jadi penulis itu, jangan setengah-setengah. Pengen ngetop, eksis, banyak duit? Fine. Meskipun seharusnya motivasi menjadi penulis itu karena suka menulis-tanpa embel-embel. Cuma satu yang harus diingat, penulis harus mau DIKRITIK. Kritikan paling pedas sekalipun harus bikin kita lebih maju, bukannya mundur dan berhenti. Kalau malah patah arang itu namanya cemen."

Agak sarkastis ya? Hehe. Saya kan memang begitu. Saya sengaja pakai istilah cemen alias pengecut. Supaya teman-teman calon penulis di depan saya termotivasi. Kelak, kalau mereka dapat kendala dan putus asa, pasti akan ingat kata-kata saya. 'Kata Mbak Enno, kalau patah arang itu cemen.'

Memangnya ada gitu orang yang mau disebut cemen? :P

After all, acaranya asyik. Santai dan kami kenyang karena makanannya banyak. Haha. Thanks ya teman-teman di Bukune :P
Saya juga ketemu beberapa teman penulis. Ada Mbak Dian Purnomo, Ninna Krisna dan Naura Laily. Saya ketemu teman-teman kru Bukune. Ketemu Gita dan puteri kecilnya. Ketemu Iwied lagi (yang hari itu seksi repot). Ketemu Mbak Windy Ariestanti yang saya sukai tulisan-tulisannya.

Pulangnya, saya di antar Pak... eh, Mas Syarif lagi. Naura yang dipanggil Nunu ikut sampai Stasiun Tanjung Barat. Nunu yang sudah saya ceritai soal peristiwa kecele itu bisik-bisik, "Eh iya, sopirnya ganteng hihi..."

Hari itu, perasaan saya lega. Akhirnya acara yang sudah digadang-gadang dari beberapa bulan yang lalu, terlaksana juga. Dan tunai sudah tugas saya. Semoga peserta kelas nulis yang jelas lebih muda semua dari saya, sukses dan menyelesaikan novelnya dengan lancar.

Saya masih punya cerita keluyuran di Jakarta sih. Tunggu di part 2 ya. 


pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, May 16, 2012

Penjelasan dari Pengarang

Hello...
Ini untuk teman-teman baru pembaca novel Selamanya Cinta, yang selalu bertanya: Itu kisah nyata bukan, Kakaaak?
Atau menimpuki saya dengan pertanyaan seperti: Abe itu beneran ada ya, Kak? Masih hidup? Udah meninggal? Masih pacaran sama Abe sampai sekarang?
Pertanyaan-pertanyaan yang sama terus bergulir dari para pembaca novel itu.

Seriously, saya senang kok. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu menandakan novel saya dibaca dengan sungguh-sungguh. Dihayati, diresapi. Kisahnya membuat pembaca terhanyut, seolah-olah ikut berada di dalamnya, menyaksikan langsung perjalanan hidup tokoh-tokohnya.

Balik lagi ke pertanyaan yang sering dilontarkan ke saya di twitter dan e-mail, sepertinya saya harus menyempatkan diri menulis khusus tentang itu, ya. Teman-teman blogger sih sepertinya sudah tahu jawabannya, karena selalu mengikuti Serial Kisah Abe di blog ini. Masalahnya, banyak teman-teman baru yang ketinggalan cerita. Baru mampir ke blog ini, setelah membaca novel Selamanya Cinta.

Baiklah. Jadi gini....

Novel itu ditulis dengan menjahit potongan-potongan kenangan saya dengan sahabat saya bernama Abe, yang sudah saya posting di blog ini. Cek label Kisah Abe.

Ketika berupa postingan-postingan di blog, itu adalah kisah nyata. Namun, ketika saya menjadikannya buku, maka saya harus membuat kerangka cerita. Sejak Prolog sampai Epilog. Sejak awal sampai ending. Karena demikianlah syarat kisah yang utuh dalam sebuah novel. Karena itu, saya membumbuinya dengan fiksi.

Dalam versi blog (kisah nyata), saya sudah lama kehilangan kontak dengan Abe. Maklumlah, itu kan pertemanan masa SMA, yang sudah lama berlalu.
Namun, dalam versi novel, tentu saya harus membumbuinya dengan konflik dan ending yang manis supaya seru.

Banyak yang mengira, tokoh Dita-Reina dalam novel itu adalah saya.
It's wrong, guys. Kedua tokoh itu tidak mewakili diri saya. Saya yang asli adalah si Saya di versi blog. Namun, ketika saya memindahkannya ke novel, saya menciptakan tokoh Dita-Reina yang berbeda. Saya menciptakan karakter fiktif, meskipun harus saya akui, saya memasukkan karakter saya sedikit di sana.

Ada juga yang berkomentar, kalau Abe itu benar-benar ada, pasti bahagia sekali punya sahabat seperti dia.
Of course, I did. Saya bahagia sekali saat masih menjadi sahabatnya. Masa-masa sekolah saya yang menyebalkan (sejak dulu saya suka cerita kan, kalau saya tidak suka sekolah dan berandai-andai di masa itu sudah ada home schooling?), menjadi 'mendingan' dengan adanya dia dan dua teman sebangku kami (yang menjadi tokoh Teddy dan Dinda).

Well, sepertinya itu penjelasan saya. Semoga memuaskan.
Administrasi pabrik menunggu huhuhu...


pict from here

Adios,

Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...