Showing posts with label History. Show all posts
Showing posts with label History. Show all posts

Monday, June 27, 2011

Kelor #6

Ze zijn hier .... (Mereka di sini)

Wie, Mariana? Nederlandse militairen die zijn omgekomen sinds de oorlog? De mensen die ziek zijn op het eiland Onrust? (Siapa, Mariana? Serdadu Belanda yang mati karena perang? Orang-orang yang sakit di Pulau Onrust?)

De Inlanders die stierf op het schip Zeven ProvinciĆ«n. De rebellen .... (Inlanders dari kapal Zeven Provincien yang mati. Pemberontak…)

Deze beenderen bij hen horen? (Ini tulang belulang milik mereka?)

Ja en nee ....(Ya dan tidak)

Wie dan wel anders? (Lalu siapa yang lain?)

.........

Mariana, wie anders? (Mariana, siapa yang lain?)

.........

Mariana, ben je nog hier? (Mariana, kamu masih di sini?)

_____________________

Jakarta, Agustus 2005

Saya sebenarnya ingin membawa contoh tulang itu ke Jakarta untuk diperiksa atau diperlihatkan pada orang-orang yang mungkin bisa memastikan kepada saya siapa saja mereka yang dikubur di sana. Tapi teman-teman saya tidak setuju. Tata langsung histeris takut dihantui si pemilik jasad. Sementara yang lain berpendapat sebaiknya mencari tahu tanpa harus melibatkan tulangnya, takut urusannya jadi panjang.

Saya tahu apa yang dipikirkan Dokter Anton, Amir dan Pak Rusdi. Mau tak mau kami teringat tentang sebuah peristiwa di Jakarta pada tahun 80-an. Dalam peristiwa itu ratusan orang tewas dibantai aparat, banyak juga orang hilang. Mereka dibawa dengan paksa, dimasukkan ke truk-truk militer dan tak ketahuan rimbanya sampai sekarang. Kalau mereka mati, jasad mereka tentu harus dikubur di suatu tempat yang tak menarik perhatian, kan?

Tapi itu cuma dugaan. Dugaan yang mengerikan dan membuat kami mesti berhati-hati karena tidak ingin terlibat urusan politik masa lalu.

Bagaimanapun juga saya merasa wajib untuk menceritakannya pada seseorang yang kompeten, yang mungkin bisa membantu mencari tahu. Maka saya sampaikan tentang tengkorak-tengkorak itu pada Pak Ton, seorang politikus anggota DPR yang sudah saya anggap sebagai mentor.

“Baiklah,” ujar Pak Ton. “Nanti saya cari tahu.” Tapi berita darinya tak kunjung ada, bahkan sampai beliau meninggal karena sakit.

Mariana memberitahu saya tentang para pelaut yang katanya dikubur di pulau itu, yang akhirnya membawa saya pada hasil riset tentang pemberontakan kapal Zeven Provincien. Mereka di sini, katanya. Mariana lalu menggunakan kata ‘inlander’ saat menjelaskan lagi kepada saya. Inlanders yang mati, katanya. Inlander? Berarti pribumi, kan. Padahal saya pernah membaca, pemberontakan itu juga melibatkan beberapa anak buah kapal berdarah Belanda dan indo Eropa.

Pelaut Belandanya konon dimakamkan di Pulau Bidadari. Tapi tak ada yang tahu pasti. Peristiwa pemberontakan itu memang luput dari catatan sejarah yang dipelajari di sekolah-sekolah. Tak semua orang tahu tentang pemberontakan itu. Padahal beberapa pelakunya pernah menulis memoar tentang peristiwa itu.

Saya akhirnya pergi ke Perpustakaan Nasional untuk mengaduk-aduk arsip, koran, dan majalah lama. Saya ingin tahu apa yang terjadi di kapal itu.

“Saya merasa jenuh, karena semalaman tidak bisa tidur. Keesokan harinya Ko¬mandan dengan sia-sia mencoba berunding dan mengambil hati pelaut Indonesia yang kini menjadi majikan di kapal perang Belanda itu.” Itu keterangan Maud Boshart dalam ma¬jalah De Ulienspiegel edisi 3 Februari 1963, yang dikutip dalam Surat Pembaca nomor 3 Komisi Indonesia CPN.

Saya menemukan juga salinan memoar tentang Boshart, yang sayangnya ditulis dalam bahasa Belanda yang sulit saya mengerti. Namun yang pasti, Gubernur Jenderal De Jonge mendapat kecaman atas peristiwa itu, apalagi kejadian itu di ambang pecahnya Perang Dunia II. Membuat Jerman dan Jepang langsung menilai kelemahan Angkatan Laut Kerajaan Belanda.

Dunia internasional pada masa itu menyamakan pemberontakan De Zeven Provincien dengan pemberontakan di kapal Potemkin II dalam sejarah revolusi Rusia. Bahkan pers Amerika menggambarkannya sebagai yang pertama kali terjadi di dunia, di mana anggota Angkatan Laut pribumi di sebuah kapal perang kolonial mengambil alih sebuah kapal perang penjajahnya.

Kelak, Andre Therik, seorang pelaku dalam peristiwa itu mengatakan, “Penurunan gaji hanya momentum bagi meletusnya pemberontakan itu. Para pelaut pribumi yang menginginkan kemerdekaan Indonesia yang mendorong kami memberontak.”

…………………

Pulau Kelor, Jakarta, Juli 2007

Saya berdiri di Pulau Kelor lagi dan mulai memahami peristiwa sejarah yang bertautan dengannya. Tulang belulang yang berada di bawah benteng ini adalah tulang belulang para pejuang tak dikenal. Siapapun mereka. Para pelaut pribumi kapal Zeven, atau orang-orang yang tak dikenal, bahkan mungkin para serdadu Belanda yang juga dikubur di sini. Mereka ikut andil dalam proses kemerdekaan negeri ini.

Bahwa dulu, presiden pertama republik ini juga merasakan penghargaan yang sama terhadap mereka. Di masa pemerintahannya, Soekarno sebenarnya pernah menginstruksikan untuk memindahkan kerangka para kelasi pribumi kapal Zeven di Pulau Kelor ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Namun entah kenapa tak dilaksanakan.

Mariana hadir. Saya merasakan aura kekosongan yang sedih dari arwahnya. Kembali teringat penampakan dirinya yang melompat dari atas benteng dan tubuhnya disambut karang-karang tajam yang dengan kejam merobek tubuhnya.

Hari itu saya menanyakan apa yang selama ini mengganggu pikiran saya. Kisahnya sendiri. Ia belum pernah menceritakannya.

Mariana, kenapa kamu bunuh diri?

Papa zou me terug naar Nederland toen ik genezen was. Ik wil niet. (Papa akan membawa saya kembali ke Belanda kalau sudah sembuh. Saya tidak mau)

Kenapa? Apa yang terjadi?

Ik hield van het leven in het Nederland-Indiƫ. Ik hou van iemand hier. (Saya senang tinggal di Hindia Belanda. Saya mencintai seseorang di sini)

Siapa?

Hening sesaat, lalu terdengar bisikannya yang mengandung kesedihan.

Thomas. Werknemers in plantage Papa's. (Thomas. Pekerja perkebunan Papa)

Kata Mariana, Thomas adalah lelaki muda indo Belanda yang menjadi mandor di perkebunan ayahnya di Bogor. Ayah Thomas yang orang Belanda tadinya juga mandor, menikah dengan gadis pribumi. Thomas menggantikan ayahnya yang kemudian meninggal karena dibunuh. Ayah Mariana tidak menyukai hubungan mereka (mungkin karena Thomas setengah pribumi) dan memutuskan menitipkan Mariana pada keluarganya di Belanda. Setidaknya itu yang bisa saya simpulkan dari tanya jawab saya dengan Mariana.

Ik ben hier geboren. Ik kan niet gaan. Ik hoop dat Papa tilde me op, maar niet bij dit land te verlaten ... (Saya lahir di sini. Saya tak bisa pergi. Saya berharap Papa menjemput saya, tapi bukan untuk pergi dari negeri ini…)

Ya. Saya mengerti. Lebih dari yang kamu sadari, saya mengerti.

Lalu yang terdengar kemudian hanya debur ombak memecah beton penahan abrasi, gemerisik pasir ditiup angin dan teriak camar yang terbang di atas benteng. Di tepi pantai, tiga orang teman saya yang sudah naik ke dalam perahu motor berteriak mengajak saya untuk segera pergi sebelum senja menjadi terlalu gelap dan perahu kami terjebak arus pasang.

“Enno! Lu mau kita terpaksa kemping di sini?”

“Iya, iya! Ayo pulang!” Saya berlari mendekat. Menoleh sebentar pada reruntuhan benteng ketika perahu motor mulai melaju membelah air. Samar-samar melihat seseorang dengan gaun melambai dalam tiupan angin berdiri di pantai menatap perahu kami.

Zie je later. Sampai bertemu lagi, Mariana….

SELESAI


Empat orang pelaut yang memberontak, dalam pengawasan sipir di Pulau Onrust

…………………

Catatan

Saya menulis cerita ini berdasarkan ingatan tentang suatu kunjungan ke Pulau Kelor dan pengalaman merasakan asyiknya naik kapal perang KRI Dewa Ruci dalam suatu peliputan.

Penemuan tulang-tulang itu benar terjadi, nama-nama teman saya disamarkan atas permintaan mereka. Pemberontakan di kapal De Zeven Provincien benar-benar terjadi, namun dialognya saya kembangkan sendiri berdasarkan plot yang ada di catatan sejarah, kutipan memoar, hasil riset internet (saya tidak bisa menyebut situsnya satu persatu karena banyak, tapi silakan googling di internet. Akan muncul situs-situs terkait sehingga saya tidak tahu yang mana penulis yang asli, bagaimanapun terima kasih untuk semuanya) dan arsip Perpustakaan Nasional.

Sementara memoar Boshart dengan sangat menyesal tidak terlalu terpakai karena sulit saya pahami dengan bahasa Belanda saya yang pas-pasan.

Nama-nama orang yang terlibat dalam pemberontakan adalah nama yang sebenarnya, kecuali nama Ruud van der Bilt dan markonis Karel. Saya tidak bisa menemukan nama markonis yang bekerja sama dengan Maud Boshart tersebut.

Foto-foto saya cari di Google, karena foto-foto milik saya tentang Pulau Kelor dan tulang-tulang tersebut terhapus dari laptop saya yang kena virus beberapa waktu lalu (hiks…)

Kisah ini ditulis bukan untuk menguak luka atau memojokkan pihak manapun, melainkan semata-mata untuk mengisahkan salah satu episode perjuangan dalam proses merebut kemerdekaan negeri ini. Sebuah epik yang terlupa dan luput dari pelajaran sejarah di sekolah-sekolah.

Trims sudah membaca! ^^

Image and video hosting by TinyPic

Sunday, June 26, 2011

Kelor #5

Aku tak tahu dimana aku akan mati

Aku melihat samudra luas di pantai selatan ketika datang kesana dengan ayahku, untuk membuat garam;

Bila ku mati di tengah lautan, dan tubuhku dilempar ke air dalam, ikan hiu berebutan datang;

Berenang mengelilingi mayatku, dan bertanya : "siapa antara kita akan melulur tubuh yang turun nun di dalam air?"

Aku tak akan mendengarnya.


(kutipan Saija dan Adinda, dari novel Max Havelaar, Multatuli)

....................


Selat Sunda, 10 Februari 1933

Zeven Provincien membelah laut dengan mantap. Langit pagi biru cerah seperti kemarin. Doa para awak kapal agar tak ada badai yang datang menghalangi perjalanan mereka sejauh ini terkabul. Seekor burung camar hinggap di atas moncong meriam di haluan. Seorang kelasi dengan wajah mengantuk karena tak tidur semalaman meraih teleskopnya.

Ia memutar tubuhnya ke semua arah dengan mata menempel di teleskop itu. Di belakang Zeven tampak sebuah kapal membuntuti. Itu kapal Java. Lalu dilihatnya dua titik tak jauh dari Java, yang malam sebelumnya tak dilihatnya.

Ia bergegas mencari Martin Paradja. Tapi yang dijumpainya adalah Maud Boshart. Sedang mondar mandir di geladak, memeriksa meriam.

“Dua kapal torpedo di belakang, Kopral!” Lapornya. “Mengiringi Java. Sepertinya tiba sejak semalam.”
Maud meraih teleskop dan pergi ke buritan. Benar. Ada dua kapal yang dikenalnya di sana.

“Mereka mengirim kapal torpedo Piet Hien dan Evetsen,” ujarnya pada Martin Paradja yang muncul di buritan dan ikut mengarahkan teleskopnya sendiri ke kejauhan.

Paradja mengangguk. Wajahnya keruh oleh firasat yang datang tiba-tiba. Belum sempat ia bicara, terdengar suara pesawat melintas di udara, di atas Zeven. Pesawat itu berputar-putar di sana, seolah tengah menakut-nakuti mereka.

“Mereka juga mengirim Dornier,” gumam Boshart, sambil menatap pesawat pembom milik Angkatan Laut Kerajaan itu.

Tapi tampaknya teman-teman pribuminya tak merasa gentar. Mereka tetap tak ingin menyerah, meski pesawat pembom itu terus mengintimidasi dengan terbang rendah di atas mereka.

“Kita tetap lanjutkan perjalanan,” ujarnya kemudian pada semua pelaut Belanda yang ikut mendukung pemberontakan. “Kita berjuang demi solidaritas pada teman-teman pribumi.”

Tepat pukul 09.18 pagi, bom pertama berukuran 50 kg mulai dijatuhkan, tetapi belum mengenai sasaran. Bom kedua dijatuhkan dan tepat mengenai geladak kapal. Pemberontak kapal Zeven memberikan perlawanan dengan tembakan meriam dan senjata api. Beberapa orang mengalami luka-luka.

“Pelupessy terluka, sedangkan Sugiono kehilangan satu biji matanya,” tulis Maud Boshart dalam memoarnya.

Kapal itu ternyata tidak dilengkapi dengan meriam penangkis serangan udara. Martin Paradja tewas saat pemboman itu, juga kedua temannya Rumambi dan Gosal.

“Martin tewas!” Seorang kelasi memberitahu Kawilarang yang sedang membidikkan meriam ke kapal musuh.
“Bagaimana yang lainnya?”
“Rumambi dan Gosal juga tewas!”
“Mana Boshart? Panggilkan dia!”

Kelasi itu berlari mencari Boshart yang tadi dilihatnya sedang di ruang navigasi. Di tengah desing peluru meriam, salakan senjata api dan deru pesawat Dornier di atas kepala, Boshart berlari menghampiri Kawilarang.

“Boshart, sepertinya aku yang harus memimpin sekarang!” Ujarnya. “Aku akan menggantikan Paradja memberi komando pada yang lain. Kau yang mengurus navigasi dan mesin!”

Tak berapa lama, jumlah orang yang tewas semakin banyak. Korban terbanyak ada di pihak pelaut pribumi. Belakangan menurut catatan sejarah sebanyak 20 awak Indonesia dan 3 awak Belanda dinyatakan tewas akibat serangan itu.

Zeven Provincien tidak dilengkapi meriam penangkis serangan udara. Menimbang begitu banyak korban yang jatuh, Kawilarang memutuskan untuk menyerah. Ia memerintahkan untuk mengibarkan bendera putih dan mengirim telegram ke kapal Java untuk meminta bantuan medis segera.

Para pemberontak pribumi yang masih hidup dibawa dengan Kapal Java dan pemberontak berkebangsaan Belanda dibawa dengan Kapal Orion. Mereka ditahan sementara di Pulau Onrust.

Sebanyak 545 awak kapal pribumi dan 81 awak kapal Belanda ditahan akibat pemberontakan itu. Kawilarang, karena dianggap memimpin pemberontakan, dijatuhi hukuman 18 tahun penjara. Begitu juga dengan Maud Boshart, yang dikenai hukuman 16 tahun penjara. Sedangkan yang lainnya dijatuhi hukuman 6 tahun dan 4 tahun. Mereka dipindahkan ke penjara militer di Sukolilo, Madura, dimana secara keseluruhan para pemberontak dituntut 644 tahun oleh Mahkamah Militer.

Media Jepang mengutip komentar Kawilarang tentang hukumannya. “Dihukum mati pun saya bangga, karena bagaimanapun saya pernah memimpin De Zeven Provincien, kapal perang kebanggaan Kerajaan Belanda.”


-bersambung….


Para kelasi Belanda yang ikut memberontak di kapal Zeven, dibawa ke Raad van Justisie (pengadilan).

Pemberontak Zeven Provincien ditahan di Penjara Pulau Onrust



Image and video hosting by TinyPic

Saturday, June 25, 2011

Kelor #4

Mau terus kau injak kami
Hatimu menulang kerna uang
Kau tuli ‘kan tuntutan hak dan rasa
Menghasut kelembutan jadi kekerasan?
Maka kami bercontoh pada kerbo
Yang jemu diejek lalu meruncing tanduk
Melambung penunggangnya bengis ke atas
Jatuh menimpa tahi ternaknya sendiri

(bait pertama puisi Hari Terakhir Olanda di Tanah Jawa, Chairil Anwar dari Max Havelaar)

......................

Pulau Ulee Lheue, Aceh, 4 Februari 1933

Kapal perang Zeven terus berlayar dengan tenang, seolah tak terjadi apa-apa di geladak dan kabin-kabinnya yang gelap. Padahal, situasi di kapal itu mulai memanas. Semua awak kapal gelisah dan mulai merasakan gejolak di bawah permukaan.

Maud Boshart diam-diam menyelinap ke ruang markonis menemui Karel.
“Aku butuh bantuanmu, Kawan,” bisik Boshart meski di ruang markonis itu hanya ada mereka berdua.
“Katakan saja,” sahut Karel, meski sebenarnya ia sudah bisa menduga apa yang harus ia lakukan.
“Kirimkan telegram ke Surabaya, pada teman-teman yang melakukan aksi mogok di sana. Cukup berita singkat. Teruskan aksimu, itu saja.”
“Baik. Akan kukirim sekarang.” Karel menepuk bahu Boshart. Tersenyum.

Sementara itu, para perwira kapal mencoba melunakkan hati para kelasi pribumi dengan mengadakan pesta di kantin KNIL di Ulee Lheue saat mereka berlabuh di pulau itu. Pesta itu menghabiskan dana 500 gulden, dengan mengundang noni-noni Belanda yang siap berdansa dengan para pelaut pribumi. Tetapi para pelaut pribumi itu menolak hadir.

Pukul 22.00. Sementara pesta berlangsung di darat, bunyi peluit panjang yang ditiup Martin Paradja terdengar di atas Zeven Provincien yang tengah bersandar. Itu adalah tanda bagi semua pelaut pribumi dan teman-teman Belandanya untuk merebut kendali kapal.

Malam itu, seorang letnan yang habis berpesta memerintahkan Kopral Boshart yang mengawalnya untuk mengantarnya kembali ke kapal. Tanpa banyak cakap, Boshart membawanya ke kapal. Sang perwira nyaris tersandung sesosok tubuh di tangga kapal.

Wat is dit?”1) Sang letnan yang setengah mabuk memperhatikan tubuh itu. “Is dit Ruud, toch?" 2) Ruud van der Bilt adalah perwira jaga di kapal itu.
“Ja, Luitenant. Dit is Ruud. Ruud lijk.”3) Boshart menjawab tenang.
Letnan itu terbelalak. “Wat bedoel je? Waarom doet hij sterft?”4)
“Deze opstand, Luitenant. Onze boten zijn al onder de knie.”5)


Sang letnan tak keburu menyadari dirinya dalam posisi bahaya, di atas kapal bermunculan pada pelaut pribumi dengan senjata api yang ditodongkan ke arahnya. Martin Paradja melangkah ke depan. “Selamat malam, Letnan. Kapal ini sekarang di bawah kendali kami.”

Di bawah komando Martin Paradja, semua pemberontak bergerak. Meriam sudah terisi, lampu sein dicopot. Belakangan dalam memoir yang ditulisnya, Boshart menggambarkan raut wajah para pelaut pribumi yang bersenjata terlihat sangat keras penuh tekad.

Seorang perwira, Baron De Vos van Steenwijk, yang semula masih mencoba menguasai ruang markonis, akhirnya mundur dan meletakkan senjatanya. Sedangkan dua perwira Belanda, Vels dan Bolhouwer, berhasil meloloskan diri setelah menjebol jendela. Mereka melompat ke laut dan berenang hingga ke daratan.

Esok harinya, pimpinan pemberontakan mengeluarkan siaran pers dalam tiga bahasa, yaitu Belanda, Inggris, dan Indonesia, yang memberitahukan bahwa Kapal perang “Zeven Provincien” sudah mereka ambil-alih dan sedang bergerak ke Surabaya. “Kami memprotes pemotongan gaji yang tidak adil dan menuntut agar rekan-rekan kami yang ditahan pada waktu berselang segera dibebaskan!” tulis pemberontak dalam siaran persnya.

“Saya yakin Batavia sedang kalang kabut saat ini, Kopral Boshart,” ujar Paradja setelah markonis mengirimkan siaran pers itu.

Ja, Martin,” sahut Boshart. “Itu sudah pasti.”

Boshart memang yakin sekali kejadian ini menjadi tamparan telak bagi Angkatan Laut Hindia Belanda. Mereka selama ini begitu sombong dan meremehkan para pelaut pribumi yang kebanyakan tidak pernah mengenyam sekolah pelayaran formal.

“Lihatlah Martin Paradja, Dooyeweerd,” katanya pada temannya sesama Belanda, yang juga mendukung aksi itu. “Ia tidak mengenyam pendidikan pelayaran tapi mampu memberikan komando untuk merebut kapal ini dan memimpinnya berlayar ke Surabaya. Dan lihatlah Kelasi Kelas Satu Kawilarang mampu menjadi navigator hanya berkat pengalamannya pernah bekerja di Eropa. Rumambi di bagian komunikasi telepon, Hendrik sebagai pengatur bahan bakar, dan Kopral Gosal yang mengurusi bagian kesehatan. Mereka semua tidak bisa kita remehkan.”

Di Batavia, Gubernur Jenderal De Jonge meradang. Angkatan Laut segera mengirim sebuah kapal untuk mengejar Zeven Provincien.

“Kapal di arah jam tiga!” Teriak seorang kelasi dari arah lambung kanan. Martin Paradja , Boshart dan beberapa yang lain berlarian untuk melihat. Tampak di kejauhan sebuah kapal perang berbendera Belanda.

“Putar haluan. Tambah kecepatan! Siapkan senjata!” Paradja berseru. “Menurutmu apa itu, Kopral Boshart?” Tanyanya pada sang kopral. “Sepertinya itu Aldebaren yang sedang mengejar kita.”

Ja, ja.” Boshart menurunkan teleskopnya. Mengerutkan kening dengan mimik serius.“Het schip Aldebaren die na ons komen op bevel van De Jonge. “ 6)

Ketika kapal Aldebaren mendekat, Kawilarang memberi sinyal peringatan dan mengarahkan meriam ke kapal itu. Aldebaren pun mundur dan berhenti mengejar. Sebagai gantinya dikirim kapal penyebar ranjau, Goudenleeuw. Tetapi kapal ini juga tidak berani terlalu dekat. Kedua kapal pengejar ini memiliki meriam lebih kecil dan kalah persenjataan dibanding Zeven.

…………………….

Selat Siberut, 9 Februari 1933

De Zeven Provincien telah memasuki perairan Selat Siberut yang tenang, ketika sebuah telegram diterima markonis. Rumambi yang bertanggung jawab di bagian telekomunikasi berlari-lari mencari Martin Paradja yang kini memegang tampuk pimpinan di kapal itu.

“Hei Martin! Telegram! Mereka menyuruh kita menyerah!”

Telegram itu berisi peringatan bahwa Zeven berada di bawah pengawasan Kapal Penjelajah Java, dan memerintahkan pemberontak untuk menyerah. Tentu saja Martin Paradja menolak mentah-mentah dan membalas telegram: “Kami tidak mau diganggu dan akan tetap berlayar ke Surabaya”.

Komandan Kapal Penjelajah Java, Kapten van Dulm, terus membuntuti Zeven Provincien. Ia kembali mengirim ultimatum agar pemberontak segera menyerah dan mengibarkan bendera putih.

“Kita tidak akan menyerah,” ujar Paradja gusar. Wajahnya menggelap oleh tekad sekeras baja. “Mereka harus tahu bahwa kita bukan anjing yang bisa ditendang dan dipermainkan. Mereka menjajah negeri ini dan menganggap kita bangsa yang lebih rendah dan layak dijadikan kacung. Kita teruskan perlayaran sampai Surabaya dan bergabung dengan aksi teman-teman di sana!”

Tak seorang pun anak buahnya membantah. Mereka sepakat.

Di Kapal Java, Van Dulm juga gusar. Mengetahui bahwa peringatannya tidak digubris para pemberontak, ia memutuskan mengambil tindak kekerasan untuk menghentikan pemberontakan itu.
“Waar de marconist?7 )Teriaknya murka. “Omiddellijk een telegram naar Batavia. We geven de rebellen een lesje!” 8)
 

-bersambung…..


de Zeven Provincien

Kopral Maud Boshart


______________________

Terjemahan:

1. Apa ini?
2. Bukankah ini si Ruud?”
3. Ya, Letnan. Ini Ruud. Mayat Ruud.
4. Apa maksudmu? Kenapa dia mati?
5. Ini pemberontakan Letnan. Kapal ini sudah kami kuasai.
6. Itu kapal Aldebaren yang mengejar kita atas perintah De Jonge.
7. Mana markonis?
8. Segera kirim telegram ke Batavia sekarang! Para pemberontak itu harus diberi pelajaran!





Image and video hosting by TinyPic

Thursday, June 23, 2011

Kelor #3

Pulau Kelor, Jakarta, Agustus 2005

Jeritan Tata bisa mengalahkan lengking suara burung-burung camar yang terbang di atas pulau. Beberapa ekor kucing di dekat kami bahkan sampai lari ke dalam belukar.

“Jadi ini kuburan? Aduuuh, kenapa lu nggak bilang dari tadi! Tau gitu gue males ikut ke sini!” Ia duduk meringkuk di pasir sambil menutup muka, merapat di kaki Pak Rusdi.

“Pulau kuburan? Wah, saya baru denger tuh. Gimana, gimana ceritanya?” Dokter Anton tampak semakin antusias. Saya tidak mengira, seorang dokter yang kelihatan serius seperti dia ternyata bisa tertarik pada sejarah juga.

“Ini bukan kuburan, Tata!” Ujar saya. Hal yang paling menjengkelkan buat saya adalah mengajak jalan-jalan orang manja dan panikan seperti dia. “Tapi di sini memang banyak kuburan.”

“Hmmm...” Dokter Anton manggut-manggut. “Kuburan siapa sih memangnya?”

Lalu saya bercerita pada Dokter Anton tentang Pulau Onrust dan beberapa pulau di sekitarnya yang pernah dipakai pemerintah Hindia Belanda sebagai galangan kapal, tempat karantina dan rumah sakit haji, kemudian terakhir sebagai penjara tahanan politik.

“Pulau Kelor ini dulu lumayan luasnya sebelum tergerus abrasi, dan jadi bagian dari aktifitas di Pulau Onrust. Ini adalah benteng terluar untuk menahan serangan dari laut. Selain itu konon dijadikan tempat untuk mengubur para tahanan yang dihukum mati dan beberapa jemaahS haji yang sengaja dibunuh.”

“Membunuh haji-haji itu? Kenapa?” Tanya Pak Rusdi. Sementara mimik ngeri di wajah Tata semakin kentara mendengar kata ‘pembunuhan’.

Di masa itu, kata saya, biasanya orang-orang yang pergi melaksanakan ibadah haji akan menetap di tanah Arab paling sedikit 3 bulan. Kesempatan itu digunakan untuk belajar agama kepada ulama-ulama terkemuka. Munculnya ide gerakan Pan-Islamisme di Timur Tengah yang menentang kolonialisme Barat memberi dampak militansi pada mereka yang menunaikan ibadah haji.

Itu sebabnya tidak sedikit jemaah haji yang tidak kembali ke kampung halamannya karena di karantina di Pulau Onrust. Bahkan tidak sedikit mereka yang dinilai ‘berbahaya’ saat di karantina haji disuntik mati dengan bermacam alasan.

“Nah, setelah tidak dipakai jadi karantina haji lagi, Onrust dipakai sebagai penjara tahanan politik. Menurut catatan, mereka yang mati atau sengaja dibunuh dikuburnya di pulau Kelor ini.”

Tata bergidik. “Jadi semua tengkorak ini tadinya orang-orang yang baru naik haji yang mati dibunuh?”

“Mungkin. Tapi kalau mereka disuntik mati, tengkoraknya nggak mungkin bolong kan?” Cetus Amir.

“Bener juga ya…” Yang lain tercenung, sementara Tata celingukan.

“Hiii….di sini angker nggak?”

Saya baru saja akan menjawab saat sebuah suara halus tiba-tiba berbisik dalam bahasa Belanda di kuping saya. “De matrozen werd hier begraven...1)"

Hey! Itu suara yang saya kenal. Suara Mariana! Ah, Mariana muncul! Saya tidak berpikir ia akan muncul lagi setelah pertemuan terakhir kami dulu.

Mariana? Hoe gaat het? 2)

“Angker nggak?” Tata bertanya lagi sambil mengusap-usap tengkuknya. “Kok gue tiba-tiba merinding ya?”

“Enggak,” sahut saya. “Nggak ada hantu. Adanya kucing. Nih!” Saya meraih seekor kucing dan menyodorkannya, membuat ia lari menjauh sambil mengomel.

Saya nyengir. Menatap sekeliling, merasakan kehadiran Mariana di antara kami.

Mereka tak perlu tahu tentang kamu. Iya kan, Mariana?

-bersambung…

Benteng Martello di Pulau Kelor. Pict from here

_________________

Terjemahan:

  1. Para pelaut dimakamkan disini…
  2. Mariana. Apa kabar?


Image and video hosting by TinyPic

Monday, June 20, 2011

A Man Named Tadamichi

"I don't know who he is, but the Japanese General running this show is one smart bastard."
-Letnan Jenderal Holland Smith, komandan pasukan AS dalam pertempuran Iwo Jima-

.....

Dari semua orang yang pernah menjadi lawan dalam perang sepanjang sejarah mereka, Amerika tidak akan pernah melupakan dia. Laki-laki yang lahir di perfektur Nagano dari keluarga samurai dan bangsawan rendah, yang kemudian menjadi lawan paling cerdik, menghabisi ribuan prajurit Amerika dan sekutunya dalam sebuah pertempuran alot memperebutkan sebuah pulau kecil di Samudera Pasifik.

Laki-laki ini, yang pernah menjadi rekan mereka di negeri Paman Sam ketika menjadi deputi atase militer negaranya, menggelar taktik yang menakutkan ketika pulau kecil itu, Iwo Jima, hendak mereka ambil alih sebagai jalan masuk untuk menaklukkan Jepang di Perang Dunia II.

Laki-laki sederhana dengan pikiran luar biasa itu, Tadamichi Kuribayashi, memimpin 22 ribu prajuritnya menghadapi lebih dari 100 ribu prajurit Sekutu sampai titik darah penghabisan. Saat itu, tahun 1944, pangkatnya mayor jenderal. Perdana Menteri Hideki Tojo memberinya tugas mempertahankan Iwo Jima.

Saat pertama kali dirinya menginjakkan kaki di pulau kecil itu, ia sudah tahu bahwa cepat atau lambat, dengan kekuatan persenjataan Sekutu yang sangat besar, Iwo Jima akan jatuh ke tangan musuh. Ia tahu, dirinya akan mati di pulau itu. Jauh sebelum pasukan musuh mendarat, ia menulis surat untuk isterinya, Yoshie.

"It must be destiny that we as a family must face this. Please accept this and stand tall with the children at your side. I will be with you always."

Dalam catatan sejarah, perang di Iwo Jima adalah perang yang luar biasa membuat pusing Amerika. Para komandan dan jenderal perang AS merutuki Tadamichi Kuribayashi dan taktiknya yang jenius. Tadamichi tahu pasukannya sangat mungkin dikalahkan. Tapi ia tidak ingin membuatnya menjadi mudah. Amerika harus membayar mahal sebelum mereka berhasil merebut Iwo Jima. Maka atas idenya, pasukan Jepang dan para insinyur di pulau itu membuat pertahanan berupa gua-gua di bawah tanah sebagai benteng sepanjang lima ribu meter, yang saling berhubungan seperti jaring laba-laba.

Dengan taktik itu, pasukan Jepang yang jumlahnya lebih sedikit dari pasukan Amerika bisa bertahan lebih dari perkiraan. Selama delapan bulan pesawat-pesawat tempur Sekutu membombardir pulau itu. Bahkan 72 hari sebelum mereka mendarat, pulau sudah menjadi lautan bom. Kapal perang Sekutu tak ketinggalan menjatuhkan berton-ton peluru ke pulau itu selama tiga hari. Hasilnya nihil. Amerika mulai frustasi.

Sesungguhnya para prajurit yang bertahan di gua-gua itu juga harus menahan penderitaan mereka. Meski demikian tak satupun yang keluar untuk menyerah. Tadamichi adalah pimpinan yang sangat pandai memotivasi anak buah.

"Kita akan mempertahankan pulau ini dengan seluruh kekuatan sampai titik darah penghabisan. Melemparkan diri kita ke tank musuh dengan bahan peledak di tangan untuk meledakkannya. Kita akan membantai musuh, berdiri gagah di antara mereka untuk membunuh. Setiap tembakan kita harus kena sasaran dan membunuh musuh. Kita tidak akan mati sampai kita sudah membunuh sepuluh musuh. Kita akan terus mengusik musuh dengan taktik gerilya, meskipun hanya tinggal satu dari kita yang tetap hidup."

Dengan musuh yang mengepung di luar, di seluruh pelosok pulau, pasukan Kuribayashi terisolir dan harus bertahan di dalam gua-gua yang gelap dan lembab dengan persediaan makanan dan air yang semakin menipis, hingga akhirnya habis.

Penyakit diare mulai mewabah dan menewaskan banyak prajuritnya. Tadamichi bukannya tidak mengetahui hal itu. Namun ia pun mengalami keprihatinan yang sama seperti mereka. Di dalam gua tempat ia bermarkas, ia menulis surat untuk keluarganya:

"Tak ada sumber air di sini, jadi kami menggunakan air hujan. Saya merindukan segelas air dingin, tapi tak ada yang bisa dilakukan. Jumlah lalat dan nyamuk mengerikan. Tak ada koran, tak ada radio, tak ada toko. Ada beberapa peternakan lokal, tetapi tidak ada tempat penampungan yang cocok untuk apapun selain ternak. Prajurit kami mendirikan kemah atau merangkak ke dalam gua. Gua-gua yang pengap dan panas dan kelembaban tidak dapat ditoleransi. Aku, tentu saja, bertahan dalam kondisi hidup yang serupa ... Ini adalah neraka dan aku belum pernah mengalami apa pun yang seperti ini seumur hidupku."

Akhirnya, sang jenderal menggiring sisa-sisa pasukan Iwo Jima ke dalam jurang yang dijaga ketat yang dijuluki Korps Marinir, "The Gorge."

Gua tempat Tadamichi bermarkas adalah sebuah ceruk yang gelap, pengap, dan remang-remang diterangi cahaya lilin. Di tempat itu, ia memberikan instruksi-instruksi, membahas strategi-strategi dengan perwira-perwiranya yang tersisa. Tanpa beristirahat, tanpa tidur, hari demi hari. Sementara itu, rakyat Jepang terus memberinya semangat melalui siaran-siaran radio, majalah dan suratkabar.

Komandan Korps Marinir AS Jenderal Graves Erskin yang mulai kesal dan tak sabar, mengirim prajurit marinir AS keturunan Jepang untuk membujuk Tadamichi dan pasukannya agar menyerah. Tapi sia-sia.

Tadamichi dan 400 prajurit langsung di bawah komandonya yang tersisa saat itu tetap melanjutkan perlawanan dan gerilya, meski pasukan AS mengepung perbukitan tempat benteng bawah tanah mereka tersembunyi, menembakkan peluru dan menyemburkan api ke lubang-lubang gua dari tank-tank mereka. Garis depan musuh hanya 300 meter dari benteng mereka.

Tadamichi semakin meyakini bahwa akhir perjuangan dirinya dan pasukannya semakin dekat. Tanggal 17 Maret 1945, ia mengirim pesan radio ke markas pusat.

“Kami menyesal karena tidak dapat mempertahankan pulau ini dengan baik. Kini saya, Kuribayashi, yakin bahwa musuh akan menginvasi Jepang dari pulau ini. Saya sangat menyesal karena dapat membayangkan bencana yang akan menimpa kekaisaran kita. Namun, setidaknya saya bisa sedikit menghibur diri dengan menyaksikan para perwira dan prajurit saya gugur tanpa rasa penyesalan dalam memperjuangkan setiap jengkal medan perang ini menghadapi musuh yang melebihi jumlah kami, yang dilengkapi tank dan membombardir kami dengan cara yang tak bisa dilukiskan. Saya juga meminta maaf pada para senior dan rekan-rekan perwira atas kekuatan saya yang tidak cukup untuk menghentikan invasi musuh.”

Pada 22 Maret, Jenderal Cattes, salah satu komandan marinir AS, secara pribadi berbicara melalui loudspeaker agar orang-orang Jepang itu menyerah. Tapi Tadamichi dan pasukannya tertawa dan menganggap trik itu kekanak-kanakan.

Namun pada akhirnya tak ada lagi yang bisa dilakukan Tadamichi dan prajuritnya yang tersisa. Kekuatan musuh terlalu besar, terlalu banyak dan terlalu kuat. Sementara mereka yang bertahan di bawah tanah sudah tak lagi makan dan terpaksa meminum air seni. Sebagian prajurit tewas karena diare dan kelaparan, sementara amunisi juga mulai menipis.

Pada 23 Maret, Tadamichi mengirim pesan radio terakhir kepada Mayor Yoshitaka Hori yang membawahi stasiun radio di Chichi Jima.

"All officers and men of Chichi Jima -- goodbye from Iwo."

Mayor Hori mencoba menghubungi Iwo Jima tiga hari berturut-turut setelah pesan itu, namun tak pernah ada balasan.

Amerika akhirnya berhasil mengambil alih Iwo Jima pada tanggal 26 Maret 1945. Hanya 1,083 dari 22,786 prajurit Jepang yang masih hidup dan ditangkap. Namun kematian Tadamichi Kuribayashi masih menyisakan misteri.

Jenasah Tadamichi tidak ditemukan. Kepastian kematiannya masih tetap misterius. Namun berdasarkan kesaksian prajurit Iwo Jima yang masih hidup, kemungkinan besar sang jenderal tewas dalam aksi pagi hari tanggal 26 Maret 1945, saat memimpin sisa pasukannya melakukan penyerangan tiga arah terhadap marinis AS dan kru Angkatan Udara yang tengah tidur.

Ia dan orang-orangnya diam-diam menyayat tenda, membunuh dengan bayonet dan melemparkan granat kepada para prajurit yang sedang tidur itu. Penyerangang itu mencapai klimaks dengan perkelahian tangan antara dua pihak. Sang jenderal terbunuh namun mayatnya tak bisa diidentifikasi karena ia sudah menyingkirkan semua lencana dari seragamnya, dan melawan sebagai prajurit biasa.

Dalam perang, sudah menjadi aturan umum, bahwa tawanan yang paling berharga adalah pimpinan pihak lawan. Tadamichi tentu tidak ingin dikenali sebagai jenderal pasukan yang kemungkinan akan ditawan dan dipergunakan untuk keuntungan pihak Sekutu.

Teori lain adalah bahwa Tadamichi melakukan seppuku (bunuh diri). Di kemudian hari, puteranya, Taro Kuribayashi, mewawancarai beberapa saksi hidup garnisun Jepang setelah perang. Ia lebih percaya bahwa ayahnya tewas dalam serangan artileri pada malam sebelum serangan terakhir itu.

Bahkan Jenderal Smith pun menghabiskan waktunya sehari penuh mencari jenasah Tadamichi Kuribayashi di seluruh penjuru pulau. Ia ingin menunjukkan rasa hormatnya dengan memakamkan sang jenderal secara layak. Namun pencariannya sia-sia.

Tadamichi Kuribayashi adalah seorang tentara yang luar biasa. Ia cerdik, stategis dan pandai memotivasi. Ia seorang yang tegas, punya pendirian dan nasionalisme yang meluap-luap. Dalam film Iwo Jima, ada adegan yang menggambarkan seperti apa dirinya sebagai seorang prajurit. Seorang perwira menuduhnya mengkhianati Bushido (kode etik ksatria/samurai), dan Tadamichi (yang diperankan Ken Watanabe) menjawab:

 "The tunnel-digging may be futile. The stand on Iwo Jima may be futile. Maybe the whole war is futile. Would you give up then? We will defend this island until we are dead! Until the very last soldier is dead! If our children can live safely for one more day, it would be worth the one more day that we defend this island!"

Sebagai laki-laki, kepala rumah tangga, suami dan ayah dari tiga anaknya, Tadamichi Kuribayashi adalah seseorang yang lembut, kebapakan, dan berbakat sastra. Ia menciptakan syair-syair tentang tanah air, diantaranya berjudul Aikoku Koshin Kyoku (Lagu Cinta Tanah Air). Ia adalah laki-laki yang akan melindungi keluarganya dengan nyawanya sendiri. Namun, sebagai prajurit, tugas negara di atas segalanya. Maka dalam salah satu surat untuk isterinya, ia menulis:

"The enemy may land on this island soon. Once they do, we must follow the fate of those on Attu and Saipan. Our officers and men know about death very well. I am sorry to end my life here, fighting the United States of America, but I want to defend this island as long as possible and to delay the enemy air raids on Tokyo. Ah! You have worked well for a long time as my wife and the mother of my three children. Your life will become harder and more precarious. Watch out for your health and live long. The future of our children will not be easy either. Please take care of them after my death."

Tadamichi Kuribayashi menjadi sumber kekaguman lawan-lawannya, Sekutu yang memenangkan perang itu. Dalam otobiografinya, Corral and Brass, Letjen Holland Smith memberikan penghargaan tertingginya untuk lelaki itu. Smith menulis: "Of all our adversaries in the Pacific, Kuribayashi was the most redoubtable." Dari semua musuh kita di Pasifik, Kuribayashi adalah yang paling tak tertandingi.

Bagi Sekutu, Tadamichi Kuribayashi adalah orang yang harus mereka takuti ketika masih hidup, namun berbahaya setelah meninggal karena ia sanggup menjadi pahlawan perang yang pasti dipuja-puja kalau saja nasionalisme baru tumbuh lagi di Jepang. Maka tidak heran kalau Jenderal Smith ketika itu berkata, “Semoga Jepang tidak pernah memiliki orang lain seperti dia.”

Sadness overcomes me as I am unable to fulfill my duty for my country,

Bullets and arrows are no more
I, falling in the field without revenge,
Will be reborn to take up my sword again.
When ugly weeds run riot over this island,
My heart and soul will be with the fate of the Imperial nation

-puisi kematian (samurai) yang ditulis Kuribayashi beberapa hari sebelum Iwo Jima jatuh-

____________________________________________


Ada tiga orang pahlawan perang yang saya kagumi. Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman dan Jenderal Tadamichi Kuribayashi.

Mungkin sebagai tentara dari negeri yang menjajah Indonesia sejak sebelum masa Perang Dunia II kala itu, Kuribayashi boleh dikatakan ada di pihak 'musuh.' Tapi saat ini, di masa damai, semua orang bisa meneladani semangat dan kegigihannya yang menyala-nyala.

Kita bisa belajar dari siapa saja. Bahkan dari (bekas) lawan, kan? ;)

Jend. Tadamichi Kuribayashi

Foto yang monumental ketika beberapa marinir AS menancapkan bendera AS di Iwo Jima yang ditaklukkan

Ken Watanabe sebagai Kuribayashi dalam film "Iwo Jima."


Kumpulan surat bergambar untuk puteranya, Taro, saat sang jenderal masih bertugas di Amerika. Harus dilihat, keren banget!


Note: bahan riset dari google.com, wikipedia.com, youtube.com, film "Iwo Jima", dan catatan pribadi.

salam,

Image and video hosting by TinyPic

Thursday, June 2, 2011

Kelor #2

Part II

Pulau Sabang, Aceh, 27 Januari 1933

Laut di perairan Sabang tampak jernih. Warna langit pagi yang sangat biru memantul cemerlang di permukaannya. Sebuah kapal perang Belanda yang tengah berpatroli di bagian barat Sumatera bersandar di pulau Sabang. Di lambungnya tertulis besar-besar ‘Zeven Provincien’. Sebagian perwira kapal masih berada di kabinnya, sementara para kelasi bawahan telah sibuk menjalankan tugas masing-masing.

Sebuah telegram dari Surabaya diterima markonisnya pagi itu. Berita yang membuatnya tersentak dan segera memanggil kelasi yang selama ini menjadi teman baiknya.

“Hei Boshart, ada telegram penting dari Surabaya barusan,” bisik Karel. Di ruang radio hanya ada mereka berdua. Berita itu datang beberapa menit yang lalu, komandan kapal perang itu pun belum diberitahu.

“Berita apa, Karel?” Maud Boshart adalah kelasi muda berpangkat kopral, yang bertubuh tinggi, kurus, dengan wajah ramah. Dibandingkan mayoritas marinir Belanda di kapal itu, pemikiran Boshart dianggap paling radikal. Ia selalu condong berpihak pada para kelasi pribumi.

“Demonstrasi besar di Surabaya, Maud. Kemarin ratusan pelaut melakukan pemogokan menentang kebijakan Angkatan Laut Hindia Belanda yang menurunkan gaji pegawai pribumi dan orang-orang indo.”

Memang benar. Ratusan pelaut di Surabaya melakukan pemogokan umum tanggal 27 Januari 1933 untuk memprotes keputusan penurunan gaji pegawai pemerintah Hindia Belanda bagi pribumi dan indo Belanda/Eropa sebesar 17%, yang diumumkan pada tanggal 1 Januari. Dan berita itulah yang ditelegramkan markonis dari Surabaya ke seluruh kapal laut Belanda yang sedang berpatroli di luar Surabaya.

Sebetulnya ketika pemogokan itu terjadi, para perwira pelaut Belanda berusaha menutupi kejadian ini. Segala pemberitaan mengenai pemogokan dilarang, dan orang-orang dilarang membicarakan kejadian itu.

“Akhirnya terjadi juga,” gumam Maud. “Kau teruskan telegram itu pada komandan sepuluh menit lagi. Beri aku kesempatan memberitahukan ini pada yang lain.”

“Baiklah,” ujar Karel.

Maud Boshart meninggalkan ruang radio menuju buritan. Tadi ia melihat Martin Paradja sedang memeriksa sesuatu di sana. Martin harus tahu berita ini. Beberapa hari yang lalu, mereka telah membicarakan soal penurunan gaji yang menyebabkan ketidakpuasan di kalangan pelaut pribumi. Meskipun gajinya tidak ikut turun, tapi Boshart bisa merasakan kemarahan terpendam teman-teman pribuminya di kapal itu. Sesuatu yang dianggapnya sebagai ketidakadilan dan perbedaan perlakuan dari pemerintahnya, yang sejak lama membuatnya muak.

Martin masih ada di sana. Ia sedang bicara dengan seorang kelasi Belanda. Boshart memberinya isyarat untuk mengikutinya ke tempat yang aman dari kecurigaan orang. Diceritakannya apa yang didengarnya dari markonis Karel.

“Apa yang akan kita lakukan?” Tanya Boshart. Sudah lama ia menghargai Martin Paradja sebagai orang yang punya kemampuan dan inisiatif di antara kelasi-kelasi pribumi lainnya di kapal perang itu.

“Sudah waktunya kita mendukung mereka, Kopral Boshart.”
“Maksudmu?”

“Zeven Provincien harus kembali ke Surabaya dan bergabung dengan pemogokan umum itu.”

“Kau gila, Martin. Kapal ini sedang tugas patroli. Bagaimana caranya mempengaruhi Komandan supaya kembali ke Surabaya?”

Martin Paradja tersenyum tenang. “Kita akan temukan caranya. Besok malam kita adakan rapat.”

Esok malamnya, 28 Januari 1933, menjelang hari raya Idul Fitri, para pelaut pribumi dan Belanda menggelar rapat tertutup, mempersiapkan pemogokan. Kepada para perwira kapal mereka beralasan rapat itu untuk membahas rencana penyambutan hari raya lebaran.

Tetapi, perwira-perwira Belanda sempat mencurigai rapat itu, karena beberapa pelaut Belanda yang dipimpin Boshart juga ikut rapat. Beruntung, sebuah kebakaran besar terjadi di pusat kota, sehingga Polisi Belanda dikerahkan ke sana dan tidak jadi menggerebek rapat itu. Rapat berjalan lancar, diisi dengan pidato-pidato. Pertemuan ditutup dengan menyanyikan lagu “Internasionale,” lagu gerakan buruh internasional yang terkenal itu.
…………….

Perairan Ulee Lheue, Aceh, 30 Januari 1933

Zeven Provincien angkat sauh meninggalkan Sabang. Markonis Karel kembali memanggil Boshart.

“Pemogokan masih berlangsung, Maud!” Bisiknya waswas. “Telegramnya tiba beberapa menit yang lalu.” Ia menunjukkan telegram yang disalinnya itu dengan tangan gemetar. Ia menyadari sesuatu akan segera terjadi di Zeven Provincien, karena ia mengetahui rapat rahasia yang digelar Boshart dan para pelaut pribumi.

Benar saja. Begitu mendengar berita itu dari Boshart, para pelaut pribumi di kapal perang itu kembali mengadakan rapat. Namun mengetahui bahwa kabar ini sudah tersiar, komandan kapal mengumpulkan semua anak buah kapal untuk briefing.

Kapten Eikenboom, komandan kapal itu, berdiri di depan mereka. “Saya harap kalian tidak meniru contoh buruk orang-orang di Surabaya untuk mengadakan pemogokan juga di kapal ini. Saya tidak mau dengar alasan bahwa kalian tidak menyetujui penurunan gaji,” katanya tegas bernada ancaman.

Peringatan itu tidak menurunkan semangat perlawanan anak buah kapal berdarah pribumi. Martin Paradja dan temannya, Rumambi, sepakat memimpin pemberontakan dan membawa kapal perang itu ke Surabaya.
Para kelasi pribumi dan teman-teman Belandanya yang mendukung mulai menyusun rencana.


-bersambung….

Kapal perang AL Hindia Belanda, Zeven Provincien


Image and video hosting by TinyPic

Sunday, May 29, 2011

Kelor

Part I

Kepulauan Seribu. Jakarta, Agustus 2005

Hari itu kami berlima memutuskan berlayar ke Pulau Kelor, salah satu pulau kecil di gugusan Kepulauan Seribu. Saya, Tata, Amirudin, Dokter Anton, dan Pak Rusdi, naik kapal motor yang dikemudikan seorang nelayan bernama Pak Johar.

Kami meninggalkan kapal phinisi yang menjadi basecamp kami selama mengelilingi Kepulauan Seribu, turun ke perahu bermotor yang menjemput kami jam sembilan pagi. Tidak ada lagi yang mau ikut, padahal perahu masih muat. Teman-teman yang lain lebih memilih berlayar ke Pulau Bidadari untuk berenang daripada menyusuri jejak sejarah.

Naik perahu motor tidak membuat saya mabuk. Syukurlah. Lima belas menit berselang, di depan kami tampak pulau kecil dengan puing sebuah benteng di tengahnya.

“Itu benteng Martello kan namanya?” Tanya Dokter Anton. “Hehe… maklum, saya lebih hapal nama obat daripada catatan sejarah.”
“Iya Dok, itu benteng Martello,” sahut Tata.

Perairan di sekitar pulau itu agak kotor, tidak sejernih yang diharapkan. Pak Johar bahkan harus bermanuver untuk menghindari beberapa sampah yang mengapung di sekitar perahu kami. Menurutnya, tak jarang perahu terjebak sampah dan harus berhenti saat menuju Pulau Kelor.

Ketika kami mendarat, pulau itu ternyata tengah dipasangi beton penahan ombak. Sejumlah kuli tampak sibuk menggali dan membersihkan semak yang merimbun di sekeliling pulau dan benteng. Mereka menyambut kami dengan ramah, apalagi setelah Amir membagikan rokoknya.

Kami mengelilingi pulau yang luasnya tidak sampai satu hektar persegi karena terkikis air laut selama ratusan tahun. Benteng Martello yang ada di sini lebih utuh daripada yang ada di Pulau Onrust dan Pulau Cipir yang hanya tinggal pondasinya saja. Benteng ini berfungsi sebagai pertahanan militer, dimana dulu ditempatkan meriam-meriam anti serangan udara. Bahkan, seorang teman di Dinas Purbakala DKI bercerita, tembok benteng ini tadinya berlapis-lapis dan tebal, sehingga tahan dari tembakan meriam. Benteng yang dapat dilihat sekarang sebenarnya hanya lapisan bagian dalam. Tadinya dinding luar benteng ada di tempat yang sekarang sudah menjadi batas pantai.

“Rusak gara-gara letusan Krakatau, ya? Sayang banget…” Gumam Amir pada dirinya sendiri. Kebiasaan yang sudah menjadi ciri khasnya.

Di pulau ini juga banyak kucing liar. Kata Pak Johar, kemungkinan ada beberapa nelayan iseng yang membuang kucing ke pulau ini, lalu beranak pinak. Kucing-kucing ini makan dari pemberian turis-turis seperti kami, juga dari para pemancing ikan yang singgah di pulau ini.

Tiba-tiba kami mendengar teriakan Tata yang tadi memang memisahkan diri karena takut kucing. Membuat kami segera berlari ke arah suaranya di bagian lain pulau. Ia sedang berdiri di bawah sebatang pohon sambil menunjuk-nunjuk empat karung besar tak jauh darinya. Dua orang kuli tengah menggali dan tak menghiraukan kepanikan Tata.

“Apaan sih Ta? Lu kayak ngeliat setan aja!” Sergah Amir.
“Lu liat dong itu apa yang di dalam karung!”

Kami serentak mendekati karung. Amir menguak bagian atasnya, dan kami nyaris melompat mundur ke belakang.

Tengkorak! Tulang belulang dan tengkorak manusia! Dan sepertinya itulah isi semua karung yang ada.

Dokter Anton yang lebih cepat pulih dari rasa terkejutnya, mungkin karena dia sudah biasa dengan segala tulang, daging, darah dan jeroan manusia, meraih sebuah tengkorak. Tata menjerit lagi. Dua kuli yang sedang menggali berhenti dan memperhatikan kami.

“Hm…” Gumamnya dengan wajah tertarik. Membalik-balik tengkorak di tangannya, menyusuri permukaannya dengan jarinya. “Coba lihat tempurung kepalanya. Berlubang nih.”

Saya ikut meraih satu tengkorak dari dalam karung. Melihatnya dengan seksama. “Kalo yang ini tempurungnya retak, Dok.”

“Mungkin yang satu ditembak kepalanya, yang satu lagi dipukul sampai retak dan mati karena pendarahan otak?” Tanya Pak Rusdi, yang paling tua dan paling pendiam diantara kami.

“Wah, Pak Rusdi jago forensik ya?” Saya tertawa. “Boleh juga tuh diagnosanya.”

“Tengkoraknya kenapa masih kalian pegang-pegang sih? Ngeri tau!” Seru Tata.

Dokter Anton malah mengaduk-aduk isi karung lagi. Dua kuli yang tadi mendekat. “Tulangnya masih banyak, Pak,” kata salah satu dari mereka. “Kemarin kami dapat empat karung juga.”

“Bapak-bapak udah berapa hari kerja di sini?” Tanya Pak Rusdi.

“Sudah tiga hari, Pak. Kami disuruh memasang beton penahan ombak. Di pulau ini selama kami semua menggali memang banyak sisa-sisa kerangka manusia.”

Saya bahkan menemukan tengkorak dengan dua lubang di tempurungnya. “Dok, bisa diperkirakan nggak sudah berapa lama kematiannya? Biasanya kan dokter ngerti forensik, meskipun bukan spesialisasinya.”

Dokter Anton mengamati tulang-tulang itu. “Wah, mesti diuji di bagian forensik kalo mau akurat, No. Tapi ini ada yang udah lama, ada yang belum lama banget.” Ia mengambil sebuah tulang yang sepertinya tulang paha. “Yang ini sudah sangat rapuh. Rentang waktunya bisa sampai seratus tahun. Tapi ada juga yang sekitar tiga puluh tahunan, seperti ini.” Ia meraih sebuah tulang belikat. “Cuma saya heran, kok disini banyak banget ya tulang belulang manusia?”

“Pulau ini kan memang pulau kuburan, Dok.” Amir menyahut kalem.
"Pulau kuburan?" Tata si penakut menjerit.


-bersambung....



Pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, May 25, 2011

The Prince & The War

“Rakhmanudin dan kau Akhmad, jadilah saksi saya, kalau-kalau saya lupa, ingatkan padaku, bahwa saya bertekad tak mau dijadikan pangeran mahkota, walaupun seterusnya akan diangkat jadi raja, seperti ayah atau nenenda. Saya sendiri tidak ingin. Saya bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Besar, berapa lamanya hidup di dunia, tak urung menanggung dosa

(Babad Diponegoro, jilid 1 hal. 39-40).

……………….

Kalau keras kepala saya kumat, mendiang Ibu biasanya selalu mengomel, “Kok makin mirip Pangeran Diponegoro ya kamu ini!” Karena saya memang satu-satunya anak Ibu yang pemberontak, ‘mbalelo’ dalam istilah Jawa. Dan memang Pangeran Diponegoro kan seperti itu. Tidak mau naik tahta sebagai sultan Jogja karena yang mengangkat adalah Belanda, dan memilih menjadi oposan melawan penjajah.

Yang keturunan langsung Pangeran Diponegoro itu eyang putri saya, Sekaroem. Beliau keturunan ketujuh atau kedelapan, saya lupa. Ayah malah menyuruh saya bertanya pada kakak sepupunya di Pemalang, karena beliau yang menjadi juru catat silsilah keluarga. Pikir saya, kalau eyang putri masih keturunan langsung, mungkin namanya juga tercatat di Tepas Darah Dalem Kraton Jogja, yakni catatan silsilah semua keturunan sultan Mataram.

Apapun itu, saya cuma penasaran. Ketertarikan saya sebenarnya bukan soal keturunan siapakah saya, tapi pada tokoh Pangeran Diponegoro itu sendiri. Sejak saya melihat lukisan tentang penangkapan dirinya karya Raden Saleh di Museum Fatahillah. Sejak saya membaca di buku sejarah tentang Perang Jawa (Java Oorlog) yang beliau kobarkan, yang nyaris membangkrutkan pemerintah Belanda dan menewaskan separuh rakyat Jogja dan sekitarnya.

………………

Magelang, 28 Maret 1830

Namaningsun Kangjeng Sultan Ngabdulkamid. Wong Islam kang padha mukir arsa ingsun tata. Jumeneng ingsun Ratu Islam Tanah Jawi” (Nama saya adalah Kanjeng Sultan Abdul Hamid, yang bertugas untuk menata orang Islam yang tidak setia, sebab saya adalah Ratu Islam Tanah Jawa).

Itu yang diucapkan Pangeran Diponegoro saat berhadapan dengan Jenderal De Kock, ketika mereka saling menatap dan menilai satu sama lain.

“Jadi inilah jenderal penjajah itu,” pikir Diponegoro. “Pemimpin orang-orang yang selama ini menjadikan rakyat Jawa sebagai budak dan boneka. Yang menjadikan keraton Jogja sebagai kepanjangan tangan-tangan kotor mereka, bekerjasama dengan Patih Danurejo yang pengkhianat itu.”

“Lihatlah wajahnya yang tenang itu seolah begitu polos,” pikir De Kock. “Dibaliknya tersembunyi pikiran-pikiran yang membahayakan pemerintah Hindia Belanda. Pangeran bodoh ini menolak tahta raja demi idealismenya yang tak masuk akal. Mau jadi apa rakyat Jawa tanpa pemerintah Hindia Belanda? Mereka itu orang-orang bodoh yang tak bisa apa-apa. Seharusnya mereka berterimakasih kepada kami.”

De Kock berhasil memaksa mengadakan perundingan. Hari itu ia mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Pemerintah Hindia Belanda hampir bangkrut gara-gara perang sialan ini, pikirnya. Selain itu jumlah korban yang jatuh juga tidak sedikit. Korban yang tewas di pihak Belanda 15 ribu jiwa, dan biaya perang 20 juta gulden. Di pihak Diponegoro, total orang Jawa yang meninggal, baik rakyat jelata maupun pengikutnya 200 ribu orang. Padahal total penduduk Hindia Belanda waktu itu baru tujuh juta orang, dan jumlah itu berarti separuh penduduk Yogyakarta terbunuh.

“Saya tidak akan menghentikan perang sampai kalian meninggalkan tanah Jawa,” ujar Diponegoro tegas.

De Kock mencibir dan manggut-manggut. Tiba-tiba saja seluruh ruangan dikepung oleh para serdadu kompeni yang menodongkan senjatanya kepada Diponegoro dan sejumlah pengikutnya. De Kock rupanya sudah menyiapkan jebakan itu. Bersedia atau tidak untuk menghentikan perang, sang pangeran tetap akan ditangkap.

Dalam lukisan karya Raden Saleh digambarkan betapa sang pangeran tak sedikitpun merasa kalah. Ia mendongak dan menatap tajam kepada sang jenderal yang licik itu. Keris di pinggangnya tak disentuhnya, tangannya malah memilin tasbih tanda bahwa tak sedetikpun ia berhenti berzikir.

Yang tampak marah justru para pengikutnya. Mereka serentak memegang keris, siap dihunus untuk membela sang pangeran. Diponegoro meminta untuk tenang dan menyarungkan kembali keris mereka. Pihak Belanda bahkan takut dan terkesan dengan karismanya. Meski ia menjadi tawanan, Belanda memperlakukannya dengan hormat sesuai statusnya. Ia dibiarkan berjalan tanpa diikat. Bahkan kendaraan yang membawanya pun kereta kuda yang bagus.

……………………

Waktu saya mengunjungi bekas kraton Taman Sari di Jogja, laki-laki tua yang menjadi guide saya sepintas lalu mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro memiliki tiga isteri. Empat sebenarnya, namun seorang meninggal dibunuh Belanda. Salah satu isterinya adalah putri Cina.

Saya jadi ingin tahu. Dengan mata sipit, tubuh kecil dan kulit yang waktu kanak-kanak seputih susu, apakah saya adalah keturunan dari istri yang putri Cina itu? Wah, apa saya harus ketemu pakde saya di Pemalang itu untuk mencari tahu ya? :)
…………………….

Kapal Pollux, 5 April 1830

Diponegoro menatap daratan yang semakin jauh ketika kapal yang membawanya pergi berlayar menuju tempat asing. Mereka akan membawanya ke Batavia setelah sebelumnya ia dibawa ke Ungaran kemudian menahannya di Gedung Karesidenan Semarang. Bersamanya ikut sebagian keluarganya. Salah satu isterinya, Raden Ayu Retnaningsih, pengikut-pengikut setianya: Tumenggung Diposono dan istri, Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno.

Hatinya sedih namun tetap tawakal. Ia tahu mungkin tak akan pernah lagi dilihatnya tanah Jawa sampai akhir hayatnya. Tak akan lagi ia dapat bersua dengan isteri-isterinya dan anak-anaknya yang lain, yang ia tinggalkan. Namun jika ini kehendak Allah, ia ikhlas. Ia yakin Allah akan melindungi mereka semua.

Ia benar. Belanda sudah memutuskan untuk mengasingkannya jauh dari tanah kelahirannya, dari rakyatnya dan orang-orang yang menjunjungnya sebagai raja yang sesungguhnya. 11 April 1830 mereka sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch.

Pada 30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro dan seluruh pengikutnya dibuang ke Manado. Bulan berikutnya, Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam. Empat tahun kemudian dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan. Di Benteng Rotterdam, Diponegoro menulis "Babad Diponegoro" sebanyak 4 jilid dengan tebal 1357 halaman. Pada 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di kampung Jawa Makassar.

…………………………..

Kalau saya datang ke Jogja, maka rasanya selalu seperti pulang. Tadinya saya tidak pernah berpikir kenapa. Tapi sekarang saya kira itu mungkin semacam ikatan darah. Bahwa sebagai ranting, batang pohon dan akar saya ada di sana.

Mungkin itu sebabnya ketika saya bosan atau gundah, Jogja selalu menjadi tempat favorit untuk kabur sejenak dari rumah. Sampai saya hapal peta kotanya dan bisa membayangkan rute jalan rayanya.

“Nginep aja di Kraton. Mereka kan sodara lu,” kata seorang teman.

“Heh, lu kira kayak bertamu biasa? Ngetok pintu terus disuruh masuk? Lagian mereka nggak bakalan kenal sama gue. Keluarga eyang Roem udah lama sekali menjauh dari kraton.”

………………..

Keluarga Eyang Putri Sekaroem adalah keluarga berlatar belakang agamis. Saya tidak heran, karena leluhur mereka, Diponegoro memang seorang santri. Mereka tidak lagi menganggap penting keningratan mereka. Buktinya ayah saya dan saudara-saudaranyapun tidak mencantumkan gelar ningrat pada nama anak-anak mereka di dokumen formal.

Sebagai seorang yang berjiwa Islam, ia sangat rajin dan taqwa sekali hingga mendekati keterlaluan
 (Louw tentang Pangeran Diponegoro dalam De Java Oorlog Van 1825 – 1830)

Diponegoro lahir pada 1785 dengan nama kecil Raden Mas Ontowiryo, sebagai putra tertua dari Sultan Hamengkubuwono III. Ibunya, Raden Ayu Mangkarawati, keturunan Kyai Agung Prampelan, ulama yang sangat disegani di masa Panembahan Senapati sang pendiri kerajaan Mataram. Bila ditarik lebih jauh lagi, silsilahnya sampai pada Sunan Ampel Denta, salah satu walisongo dari Jawa Timur. Saat masih kanak-kanak, buyutnya, Sultan Hamengkubuwono I, meramalkan Ontowiryo akan menjadi pahlawan besar yang melawan orang kafir (di masa itu Belanda disebut ‘orang kafir’).

Karena tidak mau ahlaknya terpengaruh karena masa itu kraton penuh intrik akibat campur tangan Belanda, ibunya mengirim Ontowiryo ke Tegalrejo, sebuah pesantren dimana nenek buyutnya, Ratu Ageng, tinggal. Ontowiryo menyamar menjadi rakyat biasa supaya bisa bergaul dengan para petani dan santri, dan mulai mendalami agama.

Ontowiryo benci keglamoran istana. Ia hanya sowan pada ayahnya setahun dua kali, yakni Idull Fitri dan Garebeg Maulid. Ia menolak rencana ayahnya, Sultan Hamengkubuwono III untuk mengangkatnya sebagai putra mahkota dan naik tahta. Hak itu akhirnya diberikan pada adiknya, Raden Mas Ambyah alias Pangeran Jarot yang saat itu baru 13 tahun.

Belanda dan Patih Danurejo kemudian mematok tanah milik Diponegoro di Tegalrejo untuk dijadikan jalan raya tanpa pemberitahuan. Para pengikut Diponegoro mencabutinya. Diponegoro minta Belanda untuk mengubah rencananya tersebut. Juga untuk memecat Patih Danurejo. Namun, pada 20 Juli 1825, pasukan Belanda dan Danurejo malah mengepung Tegalrejo. Diponegoro mengungsikan warga setempat ke bukit-bukit Selarong. Di sana,di sebuah goa, ia mengorganisasikan pasukan. Perang pun pecah.

Yang masih mengherankan para ahli sejarah dalam dan luar negeri hingga hari ini adalah fakta bahwa perjuangannya didukung oleh ratusan kyai dan ulama. Padahal, pasca pembunuhan massal ulama dan santri oleh Sunan Amangkurat I tahun 1647, hubungan santri dengan kraton sangat tidak harmonis. Ternyata Diponegoro sebagai keturunan kraton sekaligus ulama berhasil mempersatukan kembali dua golongan tersebut.


….Ontowiryo diam
“Eyang Puteri besok aku akan hadap ayahanda Raja”
Aku tiada sedia menjadi Raja
Aku bukanlah putera permaisuri
Dan aku muak dengan Danureja
Yang injak tanah Jawa dengan akal buaya
Dia undang tentara Batavia
Sambil lupa di Madiun sana
Ada pemberontak bergaris panah
Dengan kutipan para Cina
Mereka membakar loji dan rumah wedana
Bersiap menuju Lasem
Tapi aku akan menyatukan mereka
Untuk siap mendekap cinta
Terimalah hormatku Eyang Puteri
Aku menolak jadi Raja
Dan aku adalah peneguh Pangeran Jawa
Yang dimatanya tersimpan mata cinta
Dan tidak dikalahkan Hujan Air Jingga
…Aku pamit Eyang Ratu
Salamku untukmu….

(Anton, Sajak-sajak Babad Diponegoro)


Arrest of Diponegoro by General de Kock on 28 March 1830, collection of Rijksmuseum Amsterdam.

Pangeran Diponegoro, leluhur saya yang hebat itu :)

Goa Selarong, markas pasukan Diponegoro



Image and video hosting by TinyPic

Saturday, May 14, 2011

The Treasure Ships

Kapal laut yang saya tumpangi bertolak dari pelabuhan Sunda Kelapa sejak empat jam yang lalu. Hari menjelang senja. Saya berdiri di atas geladak, merasakan angin laut yang kencang menampar wajah dan mengacak-acak rambut. Saya paling tidak tahan naik kapal laut. Selalu saja mabuk laut. Hanya keinginan untuk mengisi liburan dengan pengalaman bahari yang akhirnya mengalahkan keengganan saya naik kapal laut.

Menahan mual dan pusing, saya bersandar di pagar dekat buritan bersama beberapa penumpang lainnya. Menatap ke barat, memperhatikan matahari yang memerah dan turun perlahan di cakrawala, seolah hendak tenggelam di lautan.

Tiba-tiba terlintas dalam benak saya. Sunset seperti inilah yang dipandangi para pelaut zaman dahulu yang mengarungi samudera, mencari dunia baru. Seperti Vasco da Gama. Seperti Columbus. Seperti Laksamana Cheng Ho.

……………………


Zhu De adalah kaisar Cina paling ambisius di zaman Dinasti Ming, di era Yongle (Kegembiraan Abadi) yang berdiri tahun 1402. Ia ingin kekaisaran Cina diakui dunia luar dan dihormati sebagai penguasa besar. Maka tercetuslah ide untuk mengadakan pelayaran besar-besaran ke Samudera Barat.

“Kau yang memimpin armadaku,” titahnya pada Cheng Ho, salah seorang kepercayaannya. “Bangunlah armada yang besar, buat kapal-kapal raksasa dan pilih pelaut-pelaut paling tangguh untuk berlayar denganmu.”

Atas mandat dari Kaisar, Cheng Ho mulai membangun armadanya yang raksasa. Kapal-kapal kayu yang besar dibuat. Ukurannya raksasa, bahkan lebih besar dari kapal penjelajah Eropa sesudah era penjelajahannya. Sebagai perbandingan, kapal-kapal induk armada Cheng yang disebut baochuan berukuran panjang 122 meter dengan lebar 52 meter. Sedangkan kapal-kapal induk Vasco da Gama, penjelajah Portugis terkenal itu, hanya sepanjang 23 meter dengan lebar 5 meter.

………………

Kapal yang saya tumpangi adalah jenis kapal cepat yang ukurannya lebih kecil dari kapal penumpang biasa. Dengan kapal ini, kami bisa menghemat perjalanan satu hari lebih cepat, meskipun ongkosnya lebih mahal. Saya juga senang karena dua orang tetangga saya yang asal Kalimantan mudik dan seperjalanan dengan saya.
“Dek, lekas masuk ke dalam, tiduran dulu. Sunsetnya sudah selesai. Nanti mabuknya makin parah lho,” kata Bang Jalil, penumpang asal Tangerang yang bepergian dengan isterinya.
“Iya, sudah pucat gitu. Kalau mau muntah, keluarkan saja. Biar perutnya lega,” sahut Kak Deta, isterinya.

Saya mengangguk dan bergegas meninggalkan geladak. Memalukan. Baru berlayar menyeberangi selat saja sudah mabuk. Bagaimana kalau mengarungi samudera selama bertahun-tahun? Saya pasti mampus.

…………………

“Laksamana Cheng,” ujar Kaisar. “Ingatlah bahwa engkau membawa amanat kerajaan. Yakni membawa ketertiban ke empat penjuru bumi. Ini adalah misi yang mulia. Tunjukkanlah kepada dunia kemuliaan dan kekuasaan kekaisaran Cina.”

Pada 11 Juli 1405, pelayaran pertama Laksamana Cheng Ho dimulai. Armadanya yang dijuluki ‘Armada Harta’ bertolak dari pelabuhan Nanjing (ibukota Cina sebelum pindah ke Beijing), terdiri lebih dari 300 kapal besar menuju Samudera Barat. Menjelajahi rute Asia, Timur Tengah sampai Afrika. Diawaki sekitar 30 ribu pelaut, ratusan pejabat, tabib, ahli nujum, teknisi, tukang kayu, pandai besi, akuntan dan penerjemah.

Kapal-kapal itu memuat berton-ton sutera, uang logam, emas, perak dan keramik, yang nantinya akan ditukar dengan rempah-rempah, bahan tambang, batu berharga bahkan satwa.

Sang laksamana berdiri tegak di haluan, menatap ke depan. Sementara di sekitarnya para pelaut sibuk menjalankan tugasnya masing-masing. “Hong! Ukurlah kecepatan kapal!” Serunya pada seorang ABK.

Di masa itu, cara mengukur laju kecepatan kapal adalah dengan memerintahkan seorang awak berjalan di geladak, menghitung langkah dari haluan ke buritan mengikuti pelampung di laut.

Admiral Cheng Ho

Tinggi tubuhnya dua meter dengan suara yang lantang, namun wajahnya ramah dan tutur katanya lembut. Itulah Cheng Ho atau dikenal juga dengan ejaan Zheng He. Ia seorang muslim, yang saat masih kecil diambil paksa oleh tentara kekaisaran dari tanah kelahirannya di provinsi Yunan, Asia Tengah, dikebiri untuk dijadikan kasim istana. Ia menjadi orang kepercayaan Pangeran Yan, yang kelak menjadi Kaisar Zhu De. Karirnya menanjak sejak menjadi ahli strategi sang kaisar. Nama aslinya Ma He. Ma berarti Muhammad.

Sepanjang 4.000 tahun, Laksamana Cheng Ho adalah tokoh yang berpengaruh dalam sejarah negeri Cina. Ia menjalin kerja sama, perdagangan dan hubungan politik internasional dengan negara-negara lain, jauh sebelum Dunia Barat memulai pelayarannya dan imperialismenya. Ekspedisi-ekspedisinya mengubah kekaisaran Cina menjadi kekaisaran yang terbuka bagi perdagangan dan hubungan internasional.

Meski demikian, ia adalah sosok yang bersahaja, menjunjung tinggi kebaikan dan toleransi beragama. Itu semua ia teladani dari Haji Ma, ayahnya.

“Ayah Ma tidak tertarik pada kekuasaan dan kedudukan. Ia puas hidup sebagai orang kebanyakan. Ia berani dan tegas dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ada orang yang tidak beruntung, yang tidak punya tempat bersandar, ia selalu menawarkan perlindungan dan bantuan pada mereka. Ayah Ma adalah teladan kemuliaan.”

Itu adalah gambaran Cheng Ho tentang sang ayah yang dipahatkan di batu nisan Haji Ma, di tanah kelahirannya Kunyang, provinsi Yunan.
…………

“Sudah mendingan?” Kak Deta menyapa saya di ruang makan, saat kami antri mengambil makan malam.
“Lumayan, Kak,” sahut saya sambil nyengir malu. Kepala saya masih pusing, perut saya masih mual. Belum pernah saya merindukan daratan sehebat itu.

Saya tidak mungkin berlayar bertahun-tahun, pulang pergi sampai tujuh kali seperti Laksamana Cheng Ho. Wong baru segini saja sudah ‘tewas.’ Padahal tadinya saya berharap ini akan menjadi pelayaran yang menarik, seperti bayangan saya tentang pelayaran Armada Harta.

……………

Armada Harta yang dipimpin Cheng Ho


Yang besar adalah replika kapal Cheng Ho, yang kecil kapal Columbus. Bandingkan :)


Tahun 1407, Selat Malaka dikuasai armada bajak laut yang dipimpin Chen Zuyi. Cheng Ho telah menerima laporan itu dari anak buahnya, ketika armada mereka sedang mengarah ke sana. Chen bermarkas di Palembang. Ia menjadi bajak laut paling ditakuti yang menguasai jalur perdagangan strategis itu. Menghadang setiap armada yang lewat, merampok dan menenggelamkan ratusan kapal, membunuh ribuan awaknya. Kejahatannya tak terkendali.

Cheng Ho hanya berkata dengan tenang. “Kita hadapi mereka. Carilah orang yang bisa memberikan informasi tentang pergerakan pasukan Chen,” katanya pada para perwira maritimnya. “Janjikan kedudukan dan hadiah emas jika bisa memberikan keterangan berharga. Chen bukan orang bodoh. Ia pasti juga menyusun strategi.”

Chen memang sudah menyusun rencana licik yakni suatu serangan mendadak saat dirinya pura-pura menyerahkan diri pada pasukan Cheng Ho. Namun rencana itu sudah bocor duluan berkat informasi orang dalam yang disuap Cheng Ho, sehingga seluruh pasukan Chen dihancurkan. Chen Zuyi sendiri dibawa ke Nanjing dan dieksekusi.

Di Sri Lanka, armada Cheng Ho juga bertempur dengan salah satu suku pemberontak beragama Buddha, yang lebih dulu menyerang anak buahnya saat baru turun dari kapal. Ia berperan dalam resolusi damai antara tiga agama di negeri itu, lalu membuat prasasti perdamaian antara agama Islam, Hindu dan Buddha yang dipahat dalam bahasa Tamil, Cina dan Persia di atas lempengan batu.

Cheng Ho juga menjadi saksi perang saudara di kerajaan Majapahit antara keluarga Wikramawardhana dengan Bhre Wirabumi, ketika tahun 1405-1406 armadanya singgah di Pulau Jawa. Perang itu bahkan ikut menewaskan 170 orang anggota rombongan Cheng Ho. Ia juga singgah di Kerajaan Samudera Pasai dan menghadiahkan sebuah lonceng kepada raja. Lonceng itu diberi mana Cakradonya dan kini tersimpan di Museum Banda Aceh.

…………………

Sholat di atas kapal laut adalah sesuatu hal yang baru bagi saya. Untuk mengetahui arah kiblat, saya terpaksa bertanya-tanya pada ABK. Arah kiblat terkadang berubah-ubah sesuai arah kapal. Pengalaman yang baru itu ternyata membuat saya lebih merasa dekat pada Yang Maha Kuasa.

Ya Allah, di atas kapal ini hanya kepada Engkau aku berpasrah. Begitu kecilnya kami, begitu tak berdayanya. Hanya dalam lindungan Engkau kami berserah diri. Lancarkanlah perjalanan ini agar kami selamat sampai tujuan. Amin.
……………..

Sebagai seorang muslim, Cheng Ho tidak melupakan kota Mekah dalam rencana pelayarannya. Itu adalah pelayarannya yang ketujuh, yang menjadi akhir dari rangkaian ekspedisi raksasa kekaisaran Cina. Cheng Ho meninggal dua tahun setelah pelayaran armadanya ke Semenanjung Arab.

Ma Huan adalah orang kepercayaan Laksamana Cheng. Ia juga seorang Cina muslim, meski dari provinsi yang berbeda. Ma pandai berbahasa Arab dan bertindak sebagai penerjemah senior di Armada Harta. cheng Ho mengutusnya ke Mekah.

Ma Huan menerbitkan catatan pelayarannya tahun 1416, yang dalam bahasa Inggris berjudul “The Overall Survey of the Ocean’s Shores.” Buku itu bagaikan ensiklopedi lengkap tentang negeri-negeri yang pernah mereka kunjungi.

Ia menulis introduksi untuk catatannya "Tahun ke sebelas Kaisar Yung Lo, Kaisar menerbitkan imperial order kepada kasim Cheng Ho untuk memimpin kapal angkut harta dan berlayar di laut barat demi membacakan perintah kaisar dan memungut upeti. Aku turut serta sebagai penerjemah kemanapun ekspedisi ini pergi, tak terhitung jutaan li, berbagai negeri dengan beda iklim, musim, topografi dan penduduk. Aku melihat keragaman ini dengan mata sendiri dan menjalaninya sendiri dengan kakiku. Banyak lagi keanehan dan keajaiban yang bisa disaksikan. Maka aku menulis penampilan orang-orang asing ini setiap negerinya, adat istiadat mereka dan membuka wawasan pembaca nantinya seberapa jauh pengaruh Kaisar kita dibandingkan dengan dinasti-dinasti sebelumnya."

……………..

David Mwinyi adalah kenalan saya yang dulu bekerja di Kedubes AS di Jakarta. Keluarganya berasal dari Kenya. Orangtua ayahnya berimigrasi ke Amerika di tahun 60-an.

Ia bercerita bahwa nenek moyangnya masih memiliki darah Cina, meski secara fisik sudah tak terlihat lagi.

“Kok bisa orang Cina nyasar ke Kenya?” Tanya saya.
“Mereka pelaut yang kapalnya tenggelam di perairan Kenya. Lalu menetap dan menikah dengan gadis-gadis setempat.”
Waktu itu, saya belum mengetahui sejarah ekspedisi Cheng Ho secara lengkap.
………………..

Di tengah hutan, di Pulau Pate, Kepulauan Lamu, Kenya, ada sebuah kompleks pemakaman tua. Arsitektur atapnya bergaya Cina klasik dari masa Dinasti Ming. Di tempat itulah konon para pelaut Cheng Ho yang kapalnya tenggelam dikuburkan. Mungkin salah satunya adalah leluhur David.

Makam Cheng Ho sendiri masih simpang siur. Sebagian sejarawan meyakini batu nisan bertuliskan namanya di lereng bukit Nanjing itu kosong, sama sekali tidak menyimpan jasad sang laksamana. Ada dugaan Cheng Ho meninggal dalam perjalanan pulang dan dimakamkan di pantai Malabar.

Nisan Cheng Ho di Kunyang, Yunan, yang dianggap kosong

………………….

Pelabuhan di depan mulai tampak jelas. Kesibukan yang tak asing. Kuli-kuli panggul, kegiatan bongkar muat, peti-peti kemas yang sedang dipindahkan melayang di udara, para penjemput dan calon penumpang berbaur. Daratan Kalimantan bagian barat! Berakhir sudah pelayaran saya!

“Daratan! Daratan!“ Saya berseru girang. Mabuk laut yang menimbulkan penderitaan itu mendadak hilang. Mata saya sibuk mencari-cari kakak ipar saya yang berjanji akan menjemput.

Seperti inikah rasanya kegembiraan para penjelajah lautan itu saat kembali ke darat setelah bertahun-tahun berlayar?

Kami telah mengarungi lebih dari 100 li kawasan air yang sangat luas, dengan ombak-ombak yang sangat besar laksana gunung yang menjulang ke langit. Kami bertatapan dengan wilayah kaum barbar yang jauh tersembunyi dalam kabut tipis kebiruan, saat layar-layar kami terkembang laksana awan di siang dan malam hari.
-prasasti Cheng Ho, dipahat dalam sebuah pilar batu, bertahun 1431-

____________________________________________________________

Catatan:

Li = satuan jarak tradisional di Cina
100 li = sekitar 65.000 km






Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, April 20, 2011

Perempuan dari Jepara

Aku dijuluki ’kuda kore’ atau kuda liar karena jarang sekali berjalan tetapi pecicilan. Dan mereka memanggilku apa lagi ya? Aku sering tertawa keras-keras, hingga gigiku kelihatan.

- Kartini -

..................

Jepara, Jawa Tengah, 1903.

Perempuan berparas ayu itu mengajukan syarat kepada lelaki yang meminangnya. Tidak ada upacara berlutut dan menyembah kaki mempelai pria dan ia akan berbahasa Jawa ngoko dengan suaminya. Syarat yang terlampau radikal bagi kaum ningrat di masa itu.

Lelaki itu, Bupati Rembang Raden Mas Adipati Aryo Djojo Adhiningrat menyetujuinya. Maka, 11 November 1903, sang bupati menikahi perempuan itu sebagai isteri keempat. Setelah menikah, perempuan itu pindah ke Rembang mengikuti suaminya.

Perempuan ayu yang tak biasa itu bernama Raden Ajeng Kartini, dilahirkan pada 21 April 1879 di Mayong bagian Jepara, Jawa Tengah. Ia anak perempuan Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Aryo Sosroningrat,dan merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri.

Di masanya, kewajiban kaum perempuan hanya menjadi ibu rumah tangga serta mengasuh anak-anaknya. Gadis-gadis sejak dini dididik untuk berbakti kepada suaminya, mereka harus pasrah dan sabar menghadapi segala masalah di tangan kaum pria.

Sejak kecil, Kartini senang membaca buku, terutama buku-buku berbahasa asing. Ia menyerap semua pengetahuan kaum Eropa dan punya motto pribadi: "Aku mau." Wawasannya yang luas membuatnya ingin melanjutkan sekolah ke Belanda dan menjadi guru di Betawi. Namun ia tahu betapa sulitnya untuk mewujudkan hal itu. Jauh-jauh hari ia sudah membayangkan peristiwa yang akan terjadi pada dirinya sebagai perempuan yang tak berdaya.

Dalam salah satu suratnya pada sahabat penanya Nyonya Abendanon, ia menulis: "Pasti tiba saat di mana aku akan disandingkan dengan seorang suami yang belum kukenal. Di Jawa, cinta hanya sebuah khayalan. Orang Jawa yang sangat beradab bisa dihitung dengan jari, tapi budaya dan pendidikan belum diperhitungkan dalam hal immoralitas. Carilah dan mintalah sesuatu dari dunia aristokrasi laki-laki itu tapi bukan ini, moralitas, karena akan sia-sia. Aku benci. Aku memandang rendah mereka semua."

Kartini hanya bisa menunda pernikahannya sampai usia 24 tahun, lalu terpaksa mengalah pada adat. Usia yang di masa itu termasuk telat untuk menikah. Namun, niatnya untuk memajukan kaum perempuan Jawa melalui pendidikan tak pernah surut.



Ketika saya masih anak-anak, ketika kata ‘emansipasi’ belum ada bunyinya, belum berarti bagi pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih jauh dari angan-angan saja, tetapi di kala itu telah hidup di dalam hati sanubari saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri.

- Surat Kartini kepada Estelle ‘Stella’ Zeehandelaar, 25 Mei 1899 - 


Kemoderatannya tercermin pula dalam pergaulannya dengan keluarga. Ia berusaha mengubah adat istiadat yang lama. Terhadap keluarganya yang lebih tua, Kartini masih menggunakan bahasa kromo inggil (bahasa halus) bila bercakap-cakap. Tetapi ia meminta adik-adiknya berbicara sesama mereka dengan bahasa Jawa ngoko (bahasa sejajar). Sikap setara itu dianggap lebih bersahabat dan akrab.

Kartini juga tidak terpengaruh pada kebangsawanannya. “Bagi saya ada dua macam bangsawan, yaitu bangsawan fikiran dan bangsawan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut pendapat saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya.” Demikian ia menulis kepada Stella, 18 Agustus 1899.

Pada sahabat penanya Estelle ‘Stella’ Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Ia juga mempertanyakan tentang agama (Islam) yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah dan tersedia untuk dimadu pula.

Tapi ia sangat yakin, suatu saat akan tiba zaman di mana pemahaman agama mempunyai perspektif keadilan pada perempuan, juga zaman baru yang memberikan kebebasan hak-hak dasar bagi perempuan dan keadilan bagi kaum pribumi. Menurut Kartini, Islam memberi ajaran yang baik, tetapi telah dinodai pemeluknya yang tidak tahu ajaran Islam yang suci dan menjadikan agama sebagai topeng perbuatannya.

Betapa hebatnya Kartini, puteri Bupati Jepara itu. Ia telah menyuarakan rekonstruksi terhadap ajaran agama yang menindas kaum perempuan pada zamannya, jauh sebelum gagasan-gagasan rekonstruksi ajaran agama yang berkeadilan pada perempuan disuarakan oleh para cendekiawan muslimah Aminah Wadud Hasim, Fatima Mernissi, Asghaar Eli Engineer, Rifaat Hasan, pada era 1980-an dan 1990-an.
 

Surat-surat Kartini kemudian hari dikumpulkan dan diterbitkan dengan judul “Door Duisternis Tot Licht” oleh Mr. J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda, yang juga adalah sahabat Kartini. Pujangga Baru Armijn Pane kemudian menerjemahkan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran.”

Buah pikiran Kartini tidak hanya mengundang kekaguman, tapi juga kritik. Ketika ia menyuarakan kesetaraan gender, ia dianggap mengkhianati perjuangannya dengan menerima poligami, sebagai isteri keempat suaminya.

Tetapi sebenarnya saat menjelang pernikahan, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu.

Dan terbukti bahwa suaminya, lelaki yang ia biarkan menikahinya, adalah orang yang memahami pemikiran dan cita-citanya. Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Pada 17 September 1904, Kartini meninggal di usia 25 tahun, empat hari setelah melahirkan putera pertamanya. Namun masa hidupnya yang singkat itu tidak serta merta menguburkan pemikiran-pemikirannya yang progresif untuk memajukan kaum perempuan bumiputera.

_____________________

Suatu kenangan yang tak akan hilang bagi sebagian besar kaum perempuan Indonesia saat mereka masih duduk di sekolah dasar:  mengenakan baju daerah (sebagian ada yang berkebaya ala Kartini lengkap dengan sanggul), berjalan perlahan-lahan dituntun ibunda menuju sekolah.

Entah kenapa, Hari Kartini yang jatuh pada 21 April selalu diperingati sekolah-sekolah dengan dengan lomba busana daerah atau lomba kebaya ‘mirip Ibu Kartini’, sementara alunan musik mengumandangkan lagu “Ibu Kita Kartini" yang semua orang hapal di luar kepala.

Tapi tahukah mereka apa yang sudah dilakukan Kartini? Tahukah pemikiran-pemikirannya yang progresif yang mendorong 'kaum pria' untuk memberikan kesempatan dan hak-hak setara bagi kaum perempuan?

Bagi saya, Hari Kartini lebih dari sekedar memperingati hari lahir sang puteri bupati Jepara. Hari Kartini adalah hari saya bersyukur karena telah mendapatkan kesempatan begitu besar menjadi perempuan yang merdeka.







Selamat Hari Kartini, gals!

Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...