Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts

Tuesday, April 28, 2015

Nyalakan Lampu di Lampegan

Sebuah terowongan. Tidak cukup besar. Temaram, dingin, dan memanggil-manggil untuk ditelusuri. Tetapi, saya bergeming saja. Bertahan hanya beberapa meter dari mulutnya.
Masih ada sisa bau asap dan bahan bakar, yang menguar dari bebatuan dan rel besinya yang licin.

Kereta terakhir sudah lama lewat.

Stasiun Lampegan di Cianjur akhirnya saya datangi. Satu lokasi heritage, tidak jauh dari desa di mana Gunung Padang berada. Kami mampir dulu ke Lampegan, sebelum menuju Gunung Padang. Menyempatkan diri melihat terowongan kereta api kuno itu dan membayangkan sejarahnya.
Tidak ada guide di sana. Sayang sekali.

Stasiun itu memang masih berfungsi, meski hanya untuk satu kereta api dengan rute Sukabumi-Cianjur dan sebaliknya.
Stasiunnya bersih. Sudah tertata dengan cat baru dan pot-pot tanaman hias. Terowongannya juga bersih. Mulutnya juga dicat. Mungkin, karena stasiun ini sering dikunjungi peminat sejarah, sehingga mereka berbenah. 
Lampegan memang mendapat perhatian pemerintah. Setelah sempat runtuh di beberapa bagian pada tahun 2001, stasiun ini dibuka kembali dan difungsikan tahun 2010, dengan peresmian oleh Presiden SBY.

Terowongan Lampegan dibangun oleh perusahaan kereta api Staats Spoorwegen, pada periode 1879 - 1882. Tahun tersebut tertulis di pintu atas liang terowongan. Sementara itu, ada beberapa pendapat tentang asal kata "Lampegan". Ada yang mengatakan, berasal dari bahasa Belanda ketika masinis kereta melewati terowongan yang gelap dan menyuruh anak buahnya menyalakan lampu. "Lampen aan! Lampen aan!"
Ada juga, yang mengatakan berasal dari perkataan van Beckman, mandor Belanda yang mengawasi pembangunan terowongan. Saat memeriksa dalam terowongan, ia menyuruh anak buahnya memegangkan lampu. "Lamp pegang!" 

Lamp dalam bahasa Belanda berarti lampu, by the way :D

Jadi, seperti saya bilang, saya tidak masuk terlalu dalam. Tidak sempat menemukan ceruk di dinding untuk menepi ketika kereta api lewat sementara kita tengah berada di terowongan. Saya benar-benar nggak berminat menelusur, karena hawa di dalam dingin dan berangin.
Julie dan Adit ada di depan saya, mencoba berjalan sambil menjaga keseimbangan di atas besi rel. Setelah memotret kaki-kaki mereka, saya memanggil mereka untuk keluar.

"Udah, yuk!"
Adit, seperti biasa, paling sudah diajak sudahan. Padahal, saat itu dialah yang saya khawatirkan. Ia masih sibuk mengutak-atik kameranya. Saya kepengin dia segera pergi ke tempat terang.
"Adit!"
"Iya, iya, bentar, Mbak. Kayaknya batere kameraku low ni..."

Di Stasiun Lampegan, masih ada rumah lama yang sepertinya dulu adalah rumah dinas kepala stasiun. Rumah itu sekarang kosong, meski telah direnovasi dan dicat ulang. Tak jauh darinya ada lingkaran dengan bekas tiang, terbuat dari baja. Mirip semacam tuas atau penggerak.
Kata Aries, kemungkinan itu adalah semacam alat penggeser rel jika lokomotif akan langsir.

Rombongan kami tidak terlalu lama berada di stasiun ini, karena masih harus ke Gunung Padanng. Maka, kami pun segera kembali ke mobil, untuk meneruskan perjalanan yang sudah dekat. 

Belakangan, setelah saya kembali ke rumah, seorang teman asal Cianjur bercerita tentang sebuah kisah tentang terowongan itu.

Menurut kisah yang turun temurun di kalangan penduduk setempat, pada tahun 1882, terowongan Lampegan selesai dibangun. Untuk meresmikannya, Belanda mengadakan pesta dan mengundang penari ronggeng terkenal pada masa itu, Nyi Sadea.

Pertunjukan usai menjelang dini hari, Nyi Sadea pulang diantar seorang lelaki melalui terowongan yang baru resmi itu, Konon, sejak itu keberadaanya tidak diketahui. Nyi Sadea tidak pernah kembali ke rumah. Penduduk setempat menganggap Nyi Sadea sudah diperistri oleh penunggu terowongan.

Wallahu alam ya. Namanya juga mitos penduduk. Yang jelas, buat peggemar kereta api, terowongan Lampegan bisa untuk belajar perkereta apian.


Wednesday, April 22, 2015

Kabut di Puncak Bukit Leluhur

Hujan rintik-rintik yang tadi membuat kami terpaksa berteduh di warung, akhirnya berhenti. Saya memberanikan diri keluar dari warung, sementara teman-teman masih duduk mengobrol riuh rendah. 

Benar, hujan berhenti. Namun langit yang tadi cerah saat kami baru tiba kini mendung.
Ayo menjelajah lagi, kata saya dalam hati. Melangkah memasuki area pemujaan kuno itu. Saya masih harus melihat banyak, memotret banyak, mempelajari banyak.
Beberapa teman seperjalanan diam-diam mengikuti saya di belakang.


Tetiba, angin dingin berhembus kencang dan segumpal asap dingin melayang di atas kepala. Semakin lama semakin tebal. Membawa titik-titik air. Kabut! Seru saya. Ini kabut!
Saya tak mengira akan datang kabut. Dan tahukah kalian seperti apa kabut yang datang itu? Ia tebal, pekat, dingin dan basah. Seperti selimut yang memerangkap tanpa bisa dilepas. Sekeliling kami mendadak gelap dan tampak menyeramkan. Saya merasa sedang terjebak dalam sebuah film horor.
"Ayo kita foto rame-rame!" Teman-teman berseru gembira. Sama sekali tak merasa takut. Saya merasa lega. Setidaknya, mereka tidak melihat apa yang saya lihat bermunculan dari balik kabut.

......

Siang itu, kami berada di atas sebuah bukit yang sebenarnya adalah punden berundak zaman nenek moyang. Kami mengunjungi Gunung Padang, Cianjur. Situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara.
Sudah lama saya kepengin ke sini. Tahu kan, saya ini si Reina yang suka banget arkeologi. Syukurlah akhirnya kesampaian juga, setelah berhasil membujuk Julie untuk merancang open trip ke tempat ini. Waktu tahu kami mau pergi ke Gunung Padang, teman termuda dalam grup kami-Adit-kepengin ikut juga. Senanglah hati karena banyak teman.

Tempat ini persis seperti yang saya bayangkan dan saya baca di internet. Bukit dengan anak tangga curam dan terjal dari susunan bebatuan tanpa semen (untungnya sekarang ada besi susuran tangga), teras-teras berundak, dan batu-batu hitam andesit dengan bentuk columnar jointed (pasak tegak) berserakan dan bertumpukan, sebagian lagi tampak membentuk formasi tertentu.
Ketika yang lain mengerumuni guide yang mengantar kami ke atas, saya berkeliling di teras pertama untuk melihat-lihat dan mengambil foto. Alam di sekitar bukit sangat indah, sungguh. Ada beberapa bukit lain di sekitar Punden Berundak Gunung Padang. Konon, di bukit-bukit itu juga ditemukan artefak-artefak yang mirip dengan artefak di Gunung Padang. Ada punden berundak lebih kecil, juga columnar jointed yang serupa.

Saya berkeliling sendiri, tak mempedulikan orang-orang. Tapi masih sempat sih menyuruh si Juleha alias Julie pasang aksi buat difoto. Dia ini model saya (selain Ricky), dalam setiap perjalanan grup traveling kami. Adit juga saya suruh bergaya bak model. Saya suka ekspresi ala anak SMA-nya. Culun, polos, dan setengah bingung. Hahahaha.

Keindahan seluruh situs pemujaan ini baru tampak jelas ketika saya naik ke Teras Tiga. Teras ini ditandai dengan sebuah pohon tua (saya lupa tanya pohon apa). Pohon ini mungkin juga beringin, menilik akarnya yang bertonjolan dari dalam tanah, mencengkeram bebatuan di sekitarnya.

Berdiri membelakangi pohon ini, akan tampak seluruh teras pertama di bawahnya. Tampak susunan batu-batu kuno membentuk segi panjang, yang menurut guide kami adalah tempat mementaskan ritual kesenian. Di luar formasi batu itu, tepat menghadap ke depan ada dua buah batu memanjang yang jika dipukul dengan batu lagi berdenting seperti bunyi gamelan dan memiliki nada. Batu itu mengandung besi, kata Pak Guide. Dulunya berfungsi sebagai alat musik.

Jadi, saya berdiri di situ. Memejamkan mata. Mencoba membayangkan apa yang dulu terjadi. Sekumpulan orang menari, dua orang menabuh batu, dan yang lain menonton. Saya rasa, mungkin ada raja dan para pendeta.

Di Teras Tiga sampai Teras Lima, kami menemukan batu-batu pasak tegak berserakan. Ada yang rebah tapi masih menampakkan formasi sesuatu, ada yang berlubang disebut Batu Tapak Macan (karena ada lekukan seperti telapak macan), yang mitosnya bekas duduk seorang petapa sakti. Ada sisa-sisa jalan setapak dan lantai batu, lalu guide menunjukkan kepada saya sepetak tanah di tepi Teras Lima yang tampak baru saja diratakan, ketika saya menanyakan bekas eskavasi yang dilakukan arkeolog di tempat itu.

"Apa yang ada di dalam, Mang?" Tanya saya.

Kata guide kami, di bawah sana ditemukan susunan batu andesit lain. Semacam lorong atau apalah, yang usianya jauh lebih tua dari artefak di atasnya. Uji karbonnya dilakukan di Miami, Amerika, katanya. Setelah itu lubang eskavasi ditimbun kembali, sampai penelitian lanjutan ditetapkan.
Gunung Padang diyakini sebagai tempat pemujaan dan berkumpulnya para tetua adat Sunda kuno. Tapi umurnya jauuuh sangat tua dari peradaban Sunda yang kita kenal sekarang. Para arkeolog itu memperkirakan punden berundak ini sudah ada antara periode 2.500-4.000 SM. Tapi batuannya berusia 4.000-9.000 SM.
Artinya, situs ini lebih dulu ada 2.800 tahun sebelum Borobudur, dan lebih tua dari Machu Picchu di Peru.
Diduga sezaman dengan piramida Giza di Mesir. Huwow!

Pokoknya situs ini keren banget, buat yang tergila-gila sama arkeologi kayak saya. Bisa belajar tentang arkeologi, tentang benda purbakala, tentang kebudayaan leluhur
.
Sayangnya, zaman kekinian gini, traveler-traveler muda nggak banyak yang niat mengenal sejarah. Banyak anak muda traveling cuma buat numpang foto-foto di tempat bagus, lalu diunggah ke sosial media. Buat pamer kalau udah pernah ke sana ke sini.


Cih! Kayak lo nggak upload aja, No!
Iye, gue juga suka upload di Instagram. Tapi tujuan gue buat ngenalin keindahan Indonesia ke dunia. Makanyaaa, captionnya pake bahasa Inggris, sampe gue dibilang sok gaya.

Soriii kalau saya agak sinis. Tapi memang begitu kenyataannya. Beberapa kali saya traveling, di tempat wisata yang saya datangi, mayoritas orang cuma datang untuk numpang foto dan selfie. Nggak ngerti konservasi, nggak paham sejarah lokasi, nggak peduli soal sanitasi.
Nggak heran kalau banyak gunung dan cagar alam berubah jadi tempat konser (karena berisik) dan sekotor TPA Bantar Gebang

.......

Saya sedang mengamati sebuah lantai batu di Teras Tiga. Tiba-tiba angin basah berkesiur di sekitar. Kabut kembali datang, kali ini lebih tebal, kelabu dan membawa titik air yang lebih rapat. Dingin dan menggigilkan.

Kali ini, teman-teman saya mulai beranjak satu per satu. Lalu seperti ada yang memberi komando meninggalkan teras-teras atas.

"Pulang, pulang! Keburu hujan!"

Mereka turun menyusuri tepi bukit, menuruni tangga semen yang berbeda dengan tangga batu untuk naik.

Saya dan Adit masih berdiri sejenak di tengah kabut. Tempat itu berubah, terasa lebih magis. Kabut membawa bunyi-bunyian dari masa lalu, dari ribuan tahun sebelum saya lahir di sebuah lereng gunung api purba yang kini menjadi sebuah kota bernama Bandung.

Di dieu asal muasal sakabeh anjeun. Di dieu awal kahirupan.
(Di sini asal mula kalian semua. Di sini awal kehidupan)

Pohon tua itu seakan berbisik. Menyuarakan pesan para leluhur.

"Adit, ayo pergi." Saya menggapai lengannya. Ia masih saja berdiri mematung menatap teras bawah di tengah kabut. Di tangannya, action camera-nya dalam keadaan merekam. "Adit!"
"Ya, Mbak?"
"Ayo! Bantuin jalan, ya. Aku lupa nggak pake kacamata".

Kami berdua turun beriringan. Di belakang saya ada Eva, Aldi, dan Aries, yang akhirnya juga turun setelah keasyikan memotret artefak (Aries peminat sejarah juga).

Kabut tidak mengikuti kami. Ia bergulung-gulung di puncak  punden berundak kuno itu, seolah melindungi tempat itu dari mata manusia.
Ada yang berdiri di bawah pohon besar, menatap lurus ke kejauhan. Sosoknya tak jelas, tetapi tampaknya seorang pria.
Mungkin tadi dia yang berbisik itu. Leluhur.

......

FAKTA GUNUNG PADANG, CIANJUR

Lokasi: Desa Karyamukti, Kec. Campaka, Kab. Cianjur.

Ketinggian: 885 mdpl

Luas: bangunan purbakala 900 m2, areal 3 ha. Tetapi diperkirakan areal sebenarnya meliputi 25 ha.

Jenis batuan: andesit, basaltik, basal.

Arti kata padang: padang = terang, atau bisa juga dari kata padahyang = tempat agung para leluhur.

Mitos setempat: reruntuhan dan artefak yang ada di sana adalah peninggalan Prabu Siliwangi yang gagal membangun istana dalam semalam.

Laporan tentang keberadaan situs: dokumen penelitian arkeolog Belanda tahun 1914. Tahun 1979, dilaporkan lagi oleh penduduk setempat ke pemerintah setempat.

Tiket masuk: Rp 4.500/orang, parkir mobil Rp 10.000

Pemandangan dari Teras Tiga

Sunday, November 23, 2014

Get Lost Journey -- Day 2

"Tulung, Neng. Tulung..." Sesosok tubuh seperti jatuh tersungkur ke dekat kaki saya, membentur dinding. "Tulung, bebaskeun abdi..."
Saya tertegun, lalu kembali melanjutkan langkah. Hati saya sedih sekali. Tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakannya.
Lalu sosok berbaju seragam militer tersorot ketika cahaya senter saya menerangi sebuah ceruk. Saya menahan kebencian saya dan berlalu. 
Oh, betapa tempat ini menguras emosi.

...................................


Hari kedua di Bandung dibuka dengan lokasi yang lagi hit bingit di socmed.
Berpose kekinian di Tebing Kraton.

Dan saya kecewa.
Cuma gitu-gitu aja? Nanjak ke sebuah kampung yang lokasinya di atas bukit, lalu ada sebidang tanah di ujung kampung dengan tebing menjorok ke jurang. Bebatuan yang bertonjolan di situ kemudian dipakai sebagai sandaran untuk berfoto dengan latar belakang jurang..
Really? Nggak ada obyek lain?
Bah! Bagusan Garut Selatan kemana-mana. Iya sih, buat orang yang nggak pernah mblusukan ke kampung alias turis koper, tebing ginian dibilang bagus.

Waktu baca-baca pengalaman yang sudah ke sana di internet, banyak yang menggambarkan jalan ke desa Ciburial di mana tebing itu berada seram banget.
Jalanannya rusak paraaaah, katanya. Sempit bangeeet, katanya. Licin, katanya. Hati-hati masuk jurang, katanya. Mending naik motor, katanya. Pokoknya bikin kesannya itu bahaya banget.
Saya sampai sempat wanti-wanti ke sopir mobil rentalan untuk beneran hati-hati.

Nggak taunya, jalanan nggak seseram yang digambarkan orang-orang. Iya rusak, sempit, berbatu-batu, dan ada satu tanjakan tajam mendekati lokasi.
Tapi itu mah biasa aja. Buat saya.
Masih lebih bahaya rute ke Garut Selatan keleus...
Mungkin kebanyakan yang mereview rute ke Tebing Kraton adalah orang kota atau yang tinggal di daerah-daerah dataran rendah. Jadi rute off road tak beraspal, geradakan penuh batu dan menanjak bukit itu dianggap hal yang luar biasa berbahaya. No offense lho...

Justru, tebingnya yang berbahaya.
Kebanyakan menulis bahwa tebingnya menampilkan view yang indah, seolah di dunia lain, romantis dan dramatis.
Well, iya sih.
Tapi berapa banyak yang bilang kalau batu yang menjorok ke jurang ratusan meter di bawah itu berbahaya?
Bebatuan itu hanya menempel di dinding tebing. Sebagian menjorok ke luar, sebagian tertanam di dinding tanah yang mudah longsor atau tercongkel (kalau beban di atasnya terlalu berat). Padahal kalau lihat foto-foto yang beredar di socmed, banyak yang berdiri ramai-ramai di situ untuk berpose groufie.

Mari kita tinggalkan tebing yang biasa-biasa aja itu.
Saya dan Morgan turun dari kawasan tebing dan menuju ke Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ir. H. Djuanda. Hutan lindung ini dan Tebing Kraton sama-sama di bawah pengawasan Perhutani. 
Nah, di Tahura ini banyak pohon pinus. Lumayan buat foto-foto ala adegan Bollywood.

Goa Jepang dan Goa Belanda

Dan inilah yang mau saya ceritakan. Di kawasan Tahura ada dua buah gua peninggalan Jepang dan Belanda. Dulunya digunakan ketika perang, untuk menimbun logistik dan perlindungan dari musuh.
Sudah lama banget saya kepengin ke dua gua ini, karena saya suka gua... dan tentu saja semua teman saya tahu, saya suka sejarah.

Kami jalan kaki menyusuri jalan setapak hutan. Mudah kok, karena ada papan penunjuk arahnya. Yang pertama dijangkau dari arah kami datang adalah Gua Jepang. Seorang pemuda yang bekerja sebagai guide menyambut kami. Saya--yang biasanya sotoy ogah pakai guide--kali itu merasa butuh. Soalnya, saya kan ingin diceritai sejarah gua sambil menyusuri lorongnya.

Guide kami masih muda. Saya dan Morgan (yang ragu-ragu hahaha) mengikutinya masuk ke dalam. Pintu masuk gua itu lebar dan kira-kira setinggi dua meter. Di dalam gelap. Saya menyalakan senter yang harus disewa seharga lima ribu, menyorotkannya ke depan lorong.

Dan si guide mulai menceritakan sejarah gua, sambil menyusuri lorong demi lorong dan menyinari ceruk demi ceruk.

"Guanya dingin ya, A..," komentar saya. 
"Iya, Teh," sahutnya. "Jepang bikin beberapa ventilasi, jadi banyak udara dan angin yang masuk."
"Tapi ini dingin sekali..."

Morgan berjalan di belakang saya. Diam saja sambil menyorotkan senternya lurus ke depan. Saya tahu, sebenarnya dia takut.

"Bade naon kadieu? (mau apa ke sini?)"
"Eh?" Saya menoleh ke Morgan. Tapi ia tampak bungkam. Siapa yang nanya tadi?
"Kade, ulah lami teuing di dieu. Seueur nu jail... (awas jangan terlalu lama di sini. Banyak yang usil)"
Suara itu terdengar dari sebelah saya. Kini lebih jelas, dan terdengar seperti suara seorang kakek.
Sementara itu, si Aa Guide masih berjalan di depan kami. Ia tidak tahu apa yang saya dengar. Kakek tak kasat mata itu lalu terdengar batuk-batuk. Saya ngerti, ia menunggu jawaban saya.
"Muhun (iya)," sahut saya dalam hati. "Moal lami (tidak lama)."

Kemudian, saya berusaha mengalihkan fokus saya dan bertanya-tanya tentang sejarah gua lagi kepada guide. Gua itu, kata guide kami, dulunya dibangun Jepang sebagai tambahan dari Gua Belanda, yang sudah ada sejak tahun 1800-an. Belanda membangun gua pertama sebagai tempat reservoir atau penyimpanan cadangan air dari mata air yang ada di pegunungan sekitar.
Goa Jepang dibangun sekitar tahun 1942, menjelang Perang Dunia Kedua, untuk dijadikan tempat logistik dan perlindungan dari tentara Sekutu.

Saya membayangkan berapa banyak orang yang diangkut ke tempat ini, dipaksa untuk membuat gua. Melubangi dinding batu cadas yang kerasnya minta ampun, membuat lorong dan ceruk-ceruk lebar. Sementara Sekutu sudah mulai mendarat di Indonesia.
Perlu ratusan orang yang bekerja siang malam, ngebut untuk mengejar deadline, agar Sekutu tidak keburu menyerbu.

"Tulungan abdi, Neng...(tolonglah saya, Neng)"
Lamat-lamat, saya mulai mendengar rintihan minta tolong dari segala penjuru. Shit! 

"Aa, ini teh lorongnya masih panjang?"
"Enggak, Teh. Ini belokan ke pintu keluar."
Ketika pintu keluar tampak, Morgan mendahului kami keluar. Hahaha. Meskipun belakangan dia ngakunya malas gelap, saya nggak bisa dibohongi dan tahu dia takut.
Di dalam gua Jepang, meski ventilasinya cukup bagus, namun udara pengap oleh bau amoniak dari guano (kotoran kelelawar). Gua itu memang menjadi sarang koloni kelelawar. Mereka bergantungan di langit-langit gua, di atas kepala kami sepanjang lorong.

Terbebas dari hantu-hantu para romusha di dalam gua dan menyengatnya amoniak dari guano, semangat saya muncul lagi. Saya ingin segera melihat Gua Belanda, yang letaknya satu kilometer dari Gua Jepang.
Ada orang-orang yang menyewakan motor. Namun, kami menolak dengan alasan ingin memotret sepanjang jalan, maka kami wajib jalan kaki.

Mengobrol dengan guide saya (sengaja namanya nggak disebut) menyenangkan. Ia dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, yang nggak bisa lepas dari gaya wartawan lagi ngorek informasi hehehe. Tidak sampai lima belas menit, kami sudah sampai di depan sebuah tebing tinggi, dengan pintu gua terbuka seolah-olah mempersilakan kami masuk, namun kali ini Morgan tidak mau ikut. Ia memilih menunggu di luar.

Keadaan di dalam Gua Belanda tidak segelap di Gua Jepang. Lorongnya lebih lebar, dengan lantai berubin di beberapa bagian lorong depan. Dinding gua ditembok dan dikapur, dan tampak bahwa strukturnya lebih modern. Ceruk-ceruk di sepanjang lorong menyerupai kamar-kamar berdinding lengkung. Tampak beberapa rak semen di dinding dan ada rak-rak besi bekas menaruh mesin dan radio komunikasi.

Gua Belanda tidak terlalu dingin seperti Gua Jepang. Di bawah kaki kami, tertutup ubin tua, adalah saluran air yang dulu dibangun Belanda.

Menurut guide kami, Jepang menjadikan Gua Belanda sebagai markas tentara. Lengkap dengan sel tahanan, ruang interogasi dan kamar-kamar istirahat para perwira. Saya sih bisa ngerti. Soalnya gua Belanda lebih mirip benteng daripada gua. Mungkin karena ditembok dan lebih luas, ya...

Tetapi dulunya, pembangunan gua ini di masa penjajahan Belanda, juga menyisakan kisah pedih para pekerja rodi. 

"Ini dulunya sel tahanan dan tempat penyiksaan." Senter Aa Guide menyorot sebuah lubang yang hanya cukup dimasuki dengan berjongkok. Di baliknya ada sebuah ceruk berlantai tanah yang dindingnya tidak ditembok.
"Oh," sahut saya sedih. Karena berbagai gambaran seram mulai terbentuk di kepala, juga tampak di mata batin saya. Mereka yang disekap di sini, dibiarkan sekarat sampai mati. "Semoga yang meninggal di sini diterima amal ibadahnya," bisik saya.

"Aamiin." Ada sebuah suara menyahut lirih.

Selepas dari ceruk penyiksaan, lalu ceruk sel tahanan yang lebih beradab (besar dan tampak bekas engsel pintu dari besi), kami akhirnya sampai di pintu keluar. Oh iya, ada rel juga di dalam gua ini, bekas lori yang mengangkut logistik berat.

Kalau ditanya, apa yang saya lihat di kedua gua itu, oh banyak sekali. Dan beberapa merupakan bayangan kejadian menyeramkan dan memilukan. Seperti adegan yang biasa saya saksikan di film-film tentang perang kemerdekaan.

Orang-orang pribumi yang dipaksa bekerja, kurus kering dengan tulang iga bertonjolan. Wajah-wajah putus asa dan menahan lapar. Yang mereka kenakan hanya sepotong cawat kumal, tidak lebih.

Ngomong-ngomong, mungkin karena saya jadi terlalu emosional, pertahanan saya lemah. Beberapa mahluk dari gua itu ternyata ada yang mengikuti saya. Pantesan, setelah sampai di rumah, saya masih saja merinding. Tukang urut yang dipanggilkan adik saya ternyata bisa melihat hal-hal yang seperti itu. Ia memastikan bahwa saya 'ketempelan'.

Hadeeeh... 
Sungguh menyebalkan yang nempel bukan cowok keren, malah setan! Hahaha...
Saya lalu 'dibersihkan', dipijit di lipatan-lipatan badan. Karena katanya mereka suka sembunyi di situ. 
Rambut saya dijambak, kepala saya diguncang-guncang sambil dibacain ayat suci. Trus si mamah tukang pijitnya ngomong, "indit siah!" Pergi kamu!

Duh gile, sakit bingit! Itu si mamah, makin saya teriak sakit, makin kenceng mijitnya. Padahal yang teriak sakit kan saya, bukan setannya... zzzzz....

Eh tapi benar saja...badan saya jadi enteng dan tidak merinding lagi sehabis sesi exorcism wakakakak...

Oh iya... Saya masih punya Part 3 dari kisah Get Lost Journey ini.
Beberapa hari lagi, ya. Sekarang saya mau kembali ke draft.

See ya! ^^


Gua Belanda di Tahura Djuanda
Gua Jepang di Tahura Djuanda.


Wednesday, November 19, 2014

Get Lost Journey -- Day 1

Ketika saya ingin pergi, maka saya akan mengemasi tas dengan pakaian secukupnya, dan pergi.
Terkadang sendiri. Terkadang, mengajak seorang teman yang terpikir saat itu juga.
Hanya sekedar bertualang sejenak ketika jenuh mulai menggerogoti jiwa dan raga.
Saya memang impulsif.
Dan di sinilah saya sekarang. Menulis blog tengah malam di sebuah homestay di Bandung yang disiram gerimis setiap siang menjelang sore.
Di kamar sebelah, ada seorang teman yang saya culik tanpa pikir panjang. Dengan pertimbangan bahwa dia yang paling available waktunya kalau ajakannya mendadak begini.
Benarlah dia bisa. Dan bersedia traveling pakai cara saya. Get lost journey.
Ketika saya post beberapa foto trip Bandung saya di Instagram, hasil ekplorasi sepanjang siang, beberapa teman kirim chat japri untuk memprotes keras karena tak diajak. Beberapa malah sedikit lebay dan bilang ke saya, kalau saya perginya sok rahasia-rahasiaan.
Saya ketawa hambar.
Wajibkah saya lapor kalau mau pergi ke setiap orang yang saya kenal? Wajibkah saya menawari mereka semua ikut?
Wajibkah saya kasih pengumuman ke seluruh dunia kalau saya mau pergi?
Well, saya kasih tahu...
Hidup saya tidak terikat pada siapa-siapa. Pada seseorang, pada grup, pada perkumpulan, pada sebuah jaringan, bahkan sekelompok orang, bahkan pada organisasi.
Saya hanya terikat pada Tuhan. Pada keluarga dan pekerjaan. Lain tidak.
Kalau saya pergi tidak ajak-ajak, atau tidak pengumuman dulu, ya terimalah sebagai mana adanya.
Saya ini ya cuma mau pergi tanpa mikir, dan menyambar siapa pun yang teringat dan paling sempat waktunya.
Saya selalu bilang, saya ini aslinya manusia soliter. Kebutuhan saya untuk menyendiri lebih banyak dari orang lain. Sejak masih kecil dan selamanya, saya orang yang seperti itu.
Jadi...
Di sinilah saya. Tengah malam tergeletak di sebuah kamar homestay dan mengeluhkan kenapa orang-orang senang sekali bikin saya jengkel. Hehehe.
Sudahlah. Mungkin ini cuma saya yang lagi suka mengomel. Mood saya masih agak gloomy, meskipun sejak journey dimulai mulai terobati.
Hari ini awal journey dimulai dengan tersesatnya saya ke terminal Ledeng, yang asing dan kecil... di tengah hujan deras. Lalu setelah balik lagi dengan Damri rute yang sama akhirnya bisa juga ketemu teman saya di meeting point kami, di Paris van Java Mall.
Lalu sorenya ada petualangan menunggu bus city tour Bandung yang bernama Bandros itu, di depan Taman Lansia (diturunkan di sana sama sopir taksinya).
Bus dan antrian yang biasanya berjubel tak tampak, barangkali bus tidak beroperasi karena hujan yang kian menderas. Saya dan teman saya, Morgan, melipir ke sebuah kafe terdekat bernama Pasar Cisangkuy.
Lalu menyadari bahwa kafe itu interiornya keren dan ternyata makanan dan minuman yang kami pesan tidak mengecewakan rasanya.
Jelang magrib, kami jalan kaki tanpa arah mencari taksi, tahu-tahu lewat Gedung Sate dan Sabuga. Taksi ketemu, mengantar kami ke Cihampelas Walk karena masih terlalu dini pulang ke homestay.
Menemukan lagi kafe lucu bernama Tea House dan kami minum teh poci hangat dan Singkong Thailand. Pulangnya jalan kaki ke homestay yang (ternyata lumayan jauh) dipandu Google Map, melalui jalan-jalan perumahan yang basah dan gelap. Hahaha.
Get Lost Journey Mission 1 - accomplished!
See you on next mission tomorrow!
- Enno -
(Ditulis tengah malam tanggal 18 Nov 2014, diedit jam 04.39 tanggal 19 Nov 2014)

Sunday, July 6, 2014

The Travel Mates

Pantai Bama, Taman Nasional Baluran, Banyuwangi
Akhir Mei 2014

Kami sedang asyik memperhatikan Egi dan Riana yang mencoba berlevitasi di depan kamera. Latar belakang mereka adalah laut biru yang tenang. Pasir di bawah kaki kami semua terasa lembut dan hangat. Tentu saja matahari sedang bersinar sangat cerah saat itu.

Ricky, abang Egi, membidikkan kameranya ke arah mereka. Yang lain, duduk maupun berdiri, menonton di pasir. Endang meneriakkan arahan bak pengarah adegan dalam sebuah syuting film. Dua sejoli di depan kami cengengesan setengah grogi.
Well, ini memang anniversary satu tahun mereka berpacaran.

Barangkali, saya satu-satunya yang sejak awal menyadari ada seekor hewan yang mengintai diam-diam di belakang punggung kami. Seekor monyet betina dengan wajah tanpa dosa tampak menatap penuh damba ke arah tumpukan barang kami di atas pasir. Saya meliriknya dan sempat ngomong: jangan mendekat. Tidak boleh. Awas ya.
Kenyataannya, begitu saya meleng, si monyet secepat kilat menyerbu ke arah tumpukan barang dan menyambar dompet bunga-bunga milik Endang.

"Hey, balikiiiin!" Saya kontan bangkit dari atas pasir dan berteriak. "Hey, itu! Dompet Endang diambil monyeeet!" Teriak saya pada yang lain.
Bubarlah pemotretan itu. Semua orang menghambur ke arah si monyet nakal yang lantas melarikan diri sambil membawa dompet itu.

"Dompet gueee!" Endang mengerang panik. "Seluruh harga diri gue ada disituuuh!"
Maksudnya, dompet itu berisi ponsel, uang, kartu-kartu penting dan ATM. Dia memang suka lebay hehehe...

Adegan mengejar-ngejar monyet pun terjadi. Semua berlarian ke segala arah mengepung si monyet.
Morgan yang paling jangkung mencoba mendekati si monyet, yang malah mendesis-desis marah. Julie dan Endang lari-lari ke sana kemari seperti kebakaran jenggot. Ricky... well, entah dia melakukan apa terhadap si monyet, soalnya saya langsung berbalik ke tempat barang-barang kami yang lain menumpuk di pantai. Saya tidak mau monyet-monyet lain menjarahnya (nggak seorang pun ingat hal ini ckckck).

Akhirnya si monyet menyerah dan melemparkan dompet itu ke tanah sebelum melarikan diri ke pepohonan.

Setelah itu, kami semua tertawa terbahak-bahak di atas pasir. Saya yang paling keras, soalnya saya tidak ikut mengejar monyet dan paling jelas menonton adegan kejar mengejar dan kepung mengepung itu sambil menjaga barang-barang yang mereka tinggal. Kocak banget pokoknya. Sampai saya nyesel nggak merekam dengan video di kamera.

....................

Jakarta, pertengahan Juni 2014

Kami berkumpul lagi malam itu. Makan mie di Jalan Sabang dan nongkrong di coffee shop setelahnya.
Tertawa-tawa lagi seperti beberapa minggu yang lalu saat traveling bersama. Mengobrol ngalor ngidul tanpa juntrungan meskipun tetap berkisar tentang traveling, passion kami semua. Minus Julie, yang tak bisa datang.

Tak ada yang berubah. Tetap dengan pembawaan masing-masing. Endang yang ceriwis dan hobi bercerita, Morgan yang kocak dan suka difoto, saya si pengamat yang tertawa paling keras, dan Ricky si pendengar yang baik dan ahli menggunakan tongsis. Kami merindukan Julie dengan cengiran lebar dan kesukaannya untuk selfie di setiap posisi hahaha...

..................................

Kami berlima adalah orang yang berbeda-beda, bertemu di persimpangan takdir karena passion yang sama: TRAVELING. Entah kenapa terasa klop dan saling melengkapi.

Namun terkadang memang demikian. Kita tidak pernah tahu siapa yang akan kita temui di ujung perjalanan, dan siapa yang akan menemani langkah kita berikutnya. Terkadang beberapa hal bagai dijatuhkan Tuhan dari langit ke depan kita.

Seperti yang dijatuhkan Tuhan ke depan saya sebulan yang lalu saat merasa berada di titik terendah dalam hidup saya. Teman-teman baru, yang secara tidak sadar mengubah perspektif saya, bahwa hidup bagaimana pun juga akan indah pada waktunya.

Terima kasih Allah.
Terima kasih, guys. We are friends and always be :)

..............................

PS: Dear Juls, we love you. Please join on October, ya... :)



Ki-ka: Morgan, Endang, Enno, dan Ricky (Julie nggak bisa datang)

Enno dan Julie waktu turun dari kawah Ijen

Image and video hosting by TinyPic

Thursday, May 15, 2014

East Trip. Visiting The Old Beauty


Well, saya tahu kenapa mereka ngeliatin kami dengan tatapan heran campur nggak habis pikir.
Kami sedang memasuki gerbang sebuah hotel yang katanya berhantu.
Dan Tantri, dengan mantap dan tak ragu, begitu saja memasuki gerbangnya? Hahaha.

Kalau tadinya ada sedikit keraguan di hati saya (meskipun saya yang punya ide ini), tiba-tiba tidak lagi. Begitu memandang bangunan berlantai lima yang dicat warna merah pucat itu, semangat saya terhadap sejarah dan bangunan-bangunan kuno langsung menyala. Yes, kami berada di halaman Hotel Niagara, di kawasan Lawang, kota Malang. Kawasan Lawang ini mirip Puncak-nya Bogor. Dataran tinggi sejuk yang dikelilingi pegunungan dan perkebunan teh. Meskipun kesejukannya masih kalah dengan kawasan Batu sih.

Parkiran motor ternyata ada di sebuah beranda rumah lama, di sisi kanan bangunan hotel. Rumah itu berarsitektur sezaman dengan hotel, namun kumuh dan tampaknya agak terbengkalai. Bagian depan yang dijadikan tempat parkir tampaknya tidak terpakai. Berbeda dengan bagian sampingnya, yang tampak sedikit diwarnai 'kehidupan.'

Begini rencananya. Kami akan berpura-pura memesan makanan atau minuman, sambil melihat-lihat keadaan. Syukur-syukur kami bisa berkeliling tanpa harus menyewa kamar dulu.
Kami memasuki lobi resepsionis yang sangat sederhana. Tidak tampak keantikan di sana. Memesan minuman, dan kami dipersilakan menunggu di ruang makan, yang berada di balik dinding lobi. Begitu masuk, saya langsung tercengang. Barulah terasa keantikannya di mana-mana.

Itu adalah ruang makan yang tampak asli seperti zaman dulu kala. Dengan jendela-jendela lebar berkaca patri dan berlis lengkung. Langit-langit yang sangat tinggi, pintu ke bagian dalam yang lebar dan tinggi dari kayu jati terbaik (saya mengetuk-ngetuknya, terasa sangat padat dan tebal), dan terutama karena dinding-dindingnya menguarkan aroma masa lampau yang menerpa saya dengan suara musik klasik dari gramofon, denting alat-alat makan perak dan gelas-gelas kristal berisi anggur, dan gumaman percakapan dalam bahasa Belanda dan Mandarin.

Seketika itu saya langsung memutuskan. "Kita nyewa kamar aja deh. Biar bisa lihat-lihat bebas."
Selagi Tantri masih melongo, saya berjalan ke resepsionis dan memilih kamar. Harga kamar-kamarnya sangat mencengangkan. Murah sekali untuk ukuran bangunan semegah itu, antara 100-300 ribu. Saya pilih yang tengah-tengah, 125 ribu deh kayaknya, kalau nggak salah. Katanya kamar mandinya di luar. Ya nggak apa-apa. Malah lebih mirip aslinya. Sebab, saya pernah baca... asli zaman dulunya, semua kamar di hotel ini tidak pakai kamar mandi dalam. Kamar mandinya bersama, di lorong.

Habis itu, seorang petugas hotel cowok mengantar saya ke kamar, yang ternyata pintu masuknya menghadap ruang makan. Kirain di lantai atas hihihi...
Kami masuk dan voila! Kamarnya lumayan besar, dengan springbed modern yang nggak terlalu empuk. Langit-langitnya tinggi. Ada kipas angin berdiri, sofa panjang, meja sudut, dan meja lain yang di atasnya ada tivinya. Asyiknya, channel tivinya bagus. Nggak bersemut, meskipun siarannya lokal semua (nggak pake tivi kabel).

Kamar itu juga punya pintu kedua, yang pas kami buka bunyi deritnya mengerikan. Persis kayak di film-film horor! Hahaha... Begitu dibuka, ternyata langsung menghadap ke undakan teras samping, berhadapan muka dengan tempat parkir motor. Lalu di ujung lorong ada kamar mandi. Saya masuk ke sana untuk sekedar merasakan air (dan atmosfirnya). Airnya dingiiin, kayak air di rumah saya hihihi... dan bentuk baknya lucu. melingkar separuh bulatan, menempel di dinding. Dilapisi keramik hitam putih, dengan gayung plastik zaman sekarang warna oranye! What a colour! :))

Balik ke kamar, Tantri sedang gogoleran sambil mainan hape. Saya menyambar ransel yang berisi kamera di dalamnya. "Yuk, yuk!" Saya menggamit Tantri. "Kita liat-liat ke atas. Aku mau motret."
Dalam hati saya, saya nggak mau buang kesempatan menjelajah di hotel yang katanya berhantu ini. Lagipula hari masih siang. Nggak terlalu serem laaah hehehe...

............

Hotel Niagara ini dulunya adalah vila.pribadi milik keluarga Liem Sian Joe, pengusaha Tionghoa kaya pada era Hindia Belanda. Gedung ini dibangun tahun 1918 dengan rancangan arsitek Frits Joseph Pinedo, yang berkebangsaan Brazil. Baru selesai setelah 15 tahun kemudian. Inisial LSJ tertera di beberapa sudut bangunan. Ada di palang kayu dinding, tetapi yang jelas terlihat ada di kaca setiap jendela.

Baru tahun 1964, vila ini diubah menjadi hotel. Kepemilikannya juga sudah beralih dari keluarga Liem ke keluarga Ong. Namun, sejak itu renovasi hotel ini berjalan sangat lambat. Karena memperbaiki sebuah hotel dengan nilai cagar budaya yang tinggi butuh biaya sangat besar. Saya sih menduga, keluarga Ong ini sangat sadar sejarah, makanya mereka tidak merenovasi dengan membabi buta.

Saya melangkah ke atas, melalui tangga dengan pegangan besi yang anehnya bersih tak berdebu. Belakangan, saya tahu, ternyata para petugas hotel rajin mengelap susuran tangga dengan air dan sabun. Teladan banget! Padahal hotelnya sepi dan nyaris nggak ada tamu, tapi kebersihannya sangat dijaga.

Lantai dua masih belum ada apa-apa. Lantai ini masih merupakan lantai yang digunakan dan beberapa kamarnya disewakan. Tiba-tiba, kami berpapasan dengan seorang petugas hotel. Mas-mas yang tersenyum ramah, bahkan ketika melihat kamera di tangan saya. By the way, semua petugas hotel Niagara ramah-ramah. Setidaknya ke saya ya. Entah kalau ke orang lain, yang biasanya suka sengaja datang sok berburu hantu.

"Mau keliling, Mbak?" Dia nanya. "Mari, saya antar melihat-lihat."
Wow! Jelas dong, saya nggak keberatan! Kami ngikutin si petugas hotel itu menuju lantai berikutnya. Dan ia bahkan membukakan pintu kamar yang kosong, yang sedang tidak disewa, agar kami bisa melihat isinya.
"Memangnya tamu boleh melihat-lihat, ya Mas?" Tanya saya.
"Mbak kan tamu yang sewa kamar."
Oh... saya lantas ambil kesimpulan. Kalau nggak sewa kamar, tentunya nggak boleh sembarangan kelayapan di dalam hotel.

Si Mas menjelaskan tarif hotel, dan menunjukkan beberapa hal menarik di sudut-sudut hotel, antara lain gambar-gambar hewan yang tercetak di lantai. Saya memekik senang melihat seekor kupu-kupu di lantai ruang duduk, seekor harimau di lantai balkon, seekor anjing spaniel di lantai lemari penyimpanan barang. Dan seekor singa jantan gagah di dalam sebuah ruangan kecil, yang pintunya hanya selutut saya dan berupa pintu jeruji seperti sel.

"Lho, ini ruangan apa, Mas?" Ruangan dengan singa di lantai itu hanya cukup buat dua orang berdiri berdesakan.
"Dulunya ruang instalasi listrik, Mbak," sahut si Mas kalem. Saya membayangkan dulunya ada generator atau semacam itulah di ruangan sempit ini. Oke, bisa dipahami. Saya segera menutup kembali pintu jerujinya dan berdiri dari posisi membungkuk saat melongok ke dalam. Di pojokan ada sesuatu yang memperhatikan, saya abaikan saja.

Tetapi, mulai dari situ... saya mulai merasa sedang diawasi. Sebetulnya, nggak aneh kan. Setiap bangunan, yang lama pasti memiliki kehidupan lain yang tak terlihat. Jangankan hotel kuno seperti Niagara, di rumah setiap orang juga ada.

Kami menaiki lantai empat yang tidak digunakan. Sungguh mengenaskan keadaannya. Dinding yang catnya mengelupas, kamar mandi yang rusak, dan kamar-kamarnya dikunci. Ada satu kamar yang saya coba buka, dan memang terkunci. Yang pernah saya baca, kamar terkunci di lantai empat adalah kamar yang dpernah dipakai seorang nyonya Belanda bunuh diri. 

"Ini kamar apa, Mas?" Tanya saya.
"Ini tempat simpan perabotan pribadi pemilik hotel, Mbak. Makanya dikunci."
Oh. Mengertilah saya.

Lantai lima juga keadaannya tidak lebih baik. Namun di sini saya menemukan ballroom dengan kaca besar menghadap ke pemandangan pegunungan di kejauhan. Dulu, pastinya belum ada jalan raya dan deretan rumah penduduk serta toko-toko di depan jendela itu. Mungkin hanya pepohonan, rerumputan dan pegunungan. 

Oh iya. Hampir lupa. Yang paling diperhatikan pengunjung hotel Niagara adalah lift-nya yang kuno dan dijalankan secara manual dengan tuas yang digerakkan manusia (seperti di film-film barat lama). Sayangnya, lift itu sudah nggak bisa dipakai lagi. Kondisinya sudah rapuh dan membahayakan bagi pengunjung.

Halo

Saya mendengar orang berbisik tepat di telinga saya. Tak mungkin pura-pura tak mendengar. Suara itu suara perempuan yang lembut dan berlogat asing.
Wie ben jij? (Kamu siapa?)

Terdengar tawa halus. Oh, saya bisa bahasa Indonesia kok. Boleh mengobrol? Kebanyakan tamu di sini tidak bisa diajak komunikasi.

Tidak. Sahut saya dengan malas. Pandangan saya masih menatap ke luar jendela. Agar si mas pegawai hotel dan Tantri tidak melihat saya sedang 'ngomong sendiri'.

Cuma sebentar. Suaranya terdengar kecewa. Hidup di sini membosankan. Keluhnya.

Kamu nggak hidup. Balas saya. Lupa?

Oh jaa! Dia tertawa lagi. Suara yang normal, tidak menakutkan. 

Saya memutuskan kontak dan mengajak si mas dan Tantri pindah ke ruangan lain. Saya tidak menoleh dan sibuk berseru kagum, memotret dan tanya ini itu pada si mas pegawai.

Dari lantai lima, kami menuju ke rooftop. Di sana, berdiri sebuah tangki penampungan air yang sangat besar. Di atas tangki itu ada menara pengintai yang anak tangganya curam, terbuat dari besi tempa. Tentu saja saya naik ke sana. Dari tempat yang tinggi itu, saya bisa menatap ke mana-mana. Tampak pegunungan yang mengelilingi kawasan Lawang, lalu lintas di sekitar hotel dan rumah-rumah penduduk. Angin yang sejuk menerpa tubuh saya dan rasanya ingin merentangkan tangan sambil berseru senang.
Masalahnya, kami berdiri di atap saja, orang-orang di bawah sudah pasti memperhatikan. Hotel yang konon berhantu di atapnya ada dua cewek nongkrong foto-foto.
Kalau tiba-tiba saya berseru-seru, jangan-jangan dikira kesurupan.

Si Mas menunggu kami dengan sabar sampai akhirnya kami turun dari menara pengintai yang konon dulu digunakan tentara Belanda dan Jepang untuk mengintai situasi sekitar.
Tur berakhir, dan kami kembali ke kamar di lantai dasar. 

"Eh, tunggu di sini, ya," kata saya pada Tantri. "Aku mau motret dulu bagian belakang hotelnya." 
Sekilas saat baru datang, saya melihat sebuah bangunan lain di belakang hotel. Entah itu bekas istal atau kapel. Tapi saya lebih cenderung menduga itu tadinya semacam kapel untuk berdoa.

Saya sedang memotret di antara rerimbunan tanaman pagar hijau cemerlang, ketika perempuan bertubuh transparan itu datang lagi. Dia masih penasaran kepada saya rupanya.
"Iya deh," kata saya. Mumpung saya sendirian. "Cerita deh."
Lalu dia bercerita. Lebih tepatnya mengeluh bahwa dirinya menjadi arwah yang tidak tenang dan terjebak di tempat itu. Anehnya dia tidak mau menyebut namanya.

"Saya dipanggil Ilse," katanya. Ilse bisa berarti singkatan dari Lisa, Elsa, Elizabeth, atau Elize. Dia tersenyum lebar membaca pikiran saya yang sedang mengira-ngira. "Saya sudah melupakan nama asli saya. Entah siapa itu. Nama itu membawa kenangan pahit dari akhir kehidupan saya."
"Terus kenapa mau menceritakannya ke saya sekarang?"
"Oh, lihat tangan-tangan itu..." Ia melambai ke arah tangan-tangan saya yang sedang menggenggam kamera. "Itu tangan seorang penulis," ujarnya lembut. "Seorang sahabat saya dulu juga penulis. Ia punya tangan-tangan mungil dengan jari-jari montok seperti bayi, tetapi lentur dan lincah jika menggenggam pena dan menarikannya di atas kertas. Kamu datang ke sini untuk menulis sesuatu, kan?"

Saya menghela napas dan mengangguk. Ini obrolan dua arah yang mulai menyenangkan. Seperti bercakap-cakap dengan mahluk hidup. Saya membayangkan Ilse yang masih hidup adalah sosok perempuan Eropa dewasa, bergaun penuh renda dan mengembang seperti kurungan ayam, dengan topi lebar berpita dan payung hias kecil berwarna krem, berjalan-jalan di taman hotel ini yang dulu tentu sangat indah.

"Memotretlah," ujarnya. "Jangan berhenti, sementara saya akan menceritakan kehidupan saya di masa itu."

................................

Saya akan mempersingkat obrolan saya dan Ilse, dengan statement ini:
Saya tidak akan menceritakan kembali apa yang dikisahkan Ilse kepada saya, meskipun saya sempat bercerita secara lisan pada beberapa teman yang saya percayai.
Kenapa? Karena saya ingin orang-orang melihat hotel ini sebagai peninggalan sejarah-cagar budaya yang harus dinikmati keindahannya. Bukan ditakuti sebagai sarang hantu, seperti yang didesas-desuskan orang selama ini. Yang diceritakan Ilse kepada saya, sesungguhnya hanyalah penggalan masa lalunya sebagai manusia hidup, yang tidak berkaitan langsung dengan hotel indah ini.

Begini deh.
Semua tempat tidak pernah kosong dari 'penunggu' yang tak terlihat. Bahkan, di tempat-tempat ibadah ada jin-jin baik yang turut menjaga kesucian tempat itu dan ikut beribadah jamaah bersama umat manusia. Di setiap rumah juga ada penghuni lain yang tak terlihat. Jadi kenapa harus takut? Karena kalau kita baik-baik saja, mereka tidak akan mengganggu. Kalau hati kita bersih dan niat kita lurus, dan selalu ingat kepada Allah, tidak akan ada satu pun mahluk halus yang berani mengganggu, karena Allah memberikan penjagaan-Nya.

Saya ingin sekali, hotel ini suatu hari nanti menjadi bangunan heritage yang megah dan dibanggakan, seperti halnya hotel Majapahit dan hotel Tugu. Sungguh sayang kalau semua pernik asli dari masa kolonial di tempat ini rusak dan hilang ditelan zaman.

Sejarah adalah cermin kehidupan.

Ciyeee... gue jadi serius gini. Yah, pokoknya gitu deh.
Sori kalau ada yang nggak puas dengan akhir ceritanya. Hehehe...
Kalau penasaran, berkunjung aja ke hotel ini. InsyaAllah, nggak ada apa-apa, selain bangunan indah yang menanti dipugar.

Ruang makan merangkap restoran

Bangunan luar yang masih asli dan hanya dicat dengan warna sesuai warna aslinya

Pintu antar ruangan yang tinggi dan bergaya Latin

Lukisan harimau di lantai balkon

PS:
Dengan ini East Trip dinyatakan selesai :)




Image and video hosting by TinyPic

Friday, May 9, 2014

East Trip. Menyelundup di Yamato

Hujan menyambut saya ketika menjejakkan kaki lagi di Kota Pahlawan.
Tantri yang akan menjemput saya, belum tiba. Maka saya menghangatkan badan dulu dengan semangkok soto ayam dan segelas teh manis.

Ketika akhirnya Tantri datang dan saya duduk manis di boncengan motornya, hujan turun dengan sangat deras gila-gilaan. Damn! Meskipun saya sudah memakai mountaineering coat saya yang waterproof plus ditambah jas hujan dari Tantri, tetap saja saya basah kuyup.

Dari Terminal Bungurasih menuju rumah Tantri di kota Sidoarjo, saya sudah mirip kucing kecebur sumur. Hahaha.
Alhasil, begitu sampai di rumah Tantri, tempat saya akan menginap, semua baju di ransel saya basah!
Oh tidaaaak! *ceritanya histeris* :))
Padahal, ranselnya sudah pakai rain cover lho. Tetap saja, baju-baju paling bawah kena rembesan air. Padahal, malam itu rencananya saya dan Tantri akan mencari Samsung Service Center untuk memperbaiki hape saya yang mendadak sering restart sendiri.

Akhirnya malam itu, pakaian saya 'nggak genah' alias nggak jelas. Saya pakai celana tidur saya yang modelnya alibaba warna biru kembang-kembang, kaos lengan pendek warna oranye (satu-satunya yang secara ajaib selamat dari kebanjiran lokal dalam ransel) dan cardigan hitam lengan kalong (yang entah kenapa saya bawa bekpekingan-am I nuts?). Belum cukup konyol, saudara-saudara... sepatu converse saya basah kuyup, jadi saya meminjam sandal jepit Tantri.
Nah, dengan busana 'sekeren' itulah saya pergi ke mall untuk nyamperin Samsung Service Center. Diliatin orang? Iya sih, kayaknya, Untungnya malam. Jadi diriku masih bisa sembunyi di balik bayang-bayang pilar, eskalator dan etalase-etalase gitu deh. Hahaha.

Sudah bela-belain kayak gitu pun, tetep nggak beruntung. Service Centernya sudah keburu tutup. Huks!

Hotel Majapahit

Esoknya, setelah akhirnya berhasil membetulkan hape saya, si Mimin yang rewel (ternyata baterenya gembung), kami cus ke Hotel Majapahit untuk ikut tur siang yang namanya Afternoon Tea Tour. Kita bayar 75 ribu per orang dan akan dipandu seorang pegawai hotel berkeliling hotel, diperlihatkan lokasi-lokasi bersejarahnya dan diceritakan riwayatnya. Seperti semua orang yang pernah belajar sejarah ketahui, Hotel Majapahit dulunya bernama Hotel Yamato, yang terkenal dengan peristiwa perobekan bendera belanda di atapnya, 18 September 1945.

Di Hotel Majapahit ini, karena setelah parkir motor, kami masuk melalui pintu bagian belakang, yang tepat menghadap tempat parkir. Karena tidak ada yang menjaga, kami leluasa nyelonong ke selasar dalam, dan sempat kelayapan sendiri tanpa dicurigai. Saya sebetulnya agak bingung dengan longgarnya penjagaan di hotel ini. Kalau ke hotel-hotel di Jakarta, ribetnya minta ampun. Setiap tamu yang penampilannya nggak representatif diliatin udah macam terindikasi terorisme. Fyuh!

Jadi, pokoknya kami bisa keluyuran dari koridor ke koridor. Dan sepertinya, kalau mau, kami bisa leluasa juga naik ke selasar atas, dekat tiang bendera yang bersejarah itu. Mungkin, lolosnya kami karena faktor hotel itu sedang banyak tamu anak muda sih...
Ceritanya, hari itu, sebuah perusahaan rokok sedang mengundang pelajar dan mahasiswa yang mereka beri beasiswa.Mereka berlalu lalang, bergerombol dengan pakaian kasual yang sama dengan kami. Bedanya, mereka menggeret koper, mencari kamar masing-masing. Saya juga menggeret sih... menggeret Tantri, Hehehe.

Saya rasa, kecil kemungkinan kami ditegur sekuriti. Bukan karena tidak ada sekuriti di hotel itu, atau karena tampang kami begitu awet mudanya sehingga menyerupai anak-anak pelajar dan mahasiswa-para penerima beasiswa. Bukaaaan. Eh, awet mudanya sih iya dikit. Dikit doang.
Tetapiii... kalau tidak ikut tur resmi, kami tidak akan bisa melihat-lihat isi kamar hotel, yang sangat keren. Saya tahu itu keren, karena saya pernah ikut tur sendirian setahun lalu di hotel ini.

Waktu itu, dalam Periode Kegelapan (ceile), jadi saya tidak terlalu intens untuk menikmati keindahan arsitektur hotel ini. Boro-boro meresapi sejarah, datang ke hotel itu pakaian saya 'ngasal' banget. Saya pakai rok terusan coklat moka, celana pensil hitam, kardigan coklat tanah, dan jilbab segiempat kotak-kotak hijau. Pakai sepatu converse abu-abu, dan menyampirkan tas hitam lusuh kesayangan yang dibeli dari gaji pertama, zaman dahulu kala. Berjalan kaki sepanjang Jalan Tunjungan sambil mengayun-ayunkan tas, sampai (saya masih ingat) seorang cowok ganteng yang berpapasan dengan saya di trotoar, menatap dari atas ke bawah dengan kening berkerut.Wakakakak.

Dipikir-pikir, gue ternyata lumayan sering pake gaya baju ngasal deh :))

Nah, akhirnya kamu daftar tur yang diadakan hotel Majapahit untuk wisatawan yang ingin napak tilas kejadian bersejarah di sana. Namanya Afternoon Tea Tur. Diadakan dari jam sembilan pagi sampai jam lima sore. Setiap orang dikenai biaya Rp 75 ribu ++. Itu sudah termasuk hidangan minum teh ala Eropa, yakni teh dan kue.

Mbak petugas hotel yang ditugasi menjadi guide kami orangnya sangat pengertian deh. Ih seneng gue! Dia ngebolehin kami motret isi kamar-kamar yang kami masuki. Waktu kunjungan saya yang pertama, guidenya melarang memotret isi kamar. Mungkin juga aturannya sudah berubah, atau mungkin mbak guide yang ini di dunia luar hotel sana sejenis dengan kami yang suka narsis. Soalnya, dia malah yang menawarkan diri memotret kami untuk berpose di mana-mana. Saya jadi punya banyak foto berdua dengan Tantri hihihi...

Yang paling berkesan dalam kunjungan ke Hotel Majapahit tentu saja kamar-kamarnya. Tiang benderanya yang bersejarah nggak bisa didekati sih, karena sudah rapuh bagian atapnya. Pengunjung cuma boleh memandang dari kejauhan di rooftop seberangnya.

Ada dua kamar yang kami masuki. Pertama, Merdeka Room yang dulunya dijadikan markas oleh sekelompok Belanda durjana yang nekat memasang bendera mereka di atap Hotel Majapahit waktu masih bernama Hotel Yamato. Kamarnya paling pojok di koridor itu. Perabotannya bagus. Dan kamar ini dulunya punya pintu keluar lain, selain pintu di depan koridor. Pintu itulah yang dipakai para Belanda itu melarikan diri saat ratusan pemuda Surabaya yang marah menyerbu hotel.

Kamar berikutnya adalah, president suite yang dulunya adalah paviliun tempat tinggal Meneer Sarkies, pendiri hotel Majapahit. Soal sejarah pendirian hotel, silakan browsing sendiri aja ya. Banyak sumbernya di Google hehe...
Pokoknya, bangunan President Suite ini terpisah sendiri, berada di tengah-tengah deretan kamar-kamar yang ada. Mempunya dua lantai, yang ketika kita berada di dalamnya, berasa seperti berada di sebuah rumah mewah-bukan di dalam bangunan hotel.

Kata Mbak Guide, setiap Miss Universe nginap di President Suite ini saat datang ke Indonesia. Dia tinggal di situ sendirian. Dan saya melongo.

"Enak banget!" Gerutu saya, yang kemudian berubah pikiran seketika mengingat sungguh tak ada enaknya tinggal di paviliun sebesar itu sendirian. "Dia ngapain ya di kamar dua lantai segede gini? Gelutukan sendirian. Kasian. Pasti iseng banget tuh."
Si Mbak Guide menatap saya dengan sorot mata sudahlah-mbak-yang-gitu-aja-kok-dipikirin.
Iya deeeh :))

Sayangnya, tur saya yang kedua itu nggak menyeluruh seperti tur saya yang pertama. Dulu meskipun nggak boleh motret di dalam kamar, guide-nya mengajak saya benar-benar melihat keseluruhan hotel. Semua restoran yang ada di hotel itu, ruang pertemuan dan ruang rapat yang boleh disewa, balkon kecil yang menghadap ke jalan (sepertinya bekas pos pengamatan). Tur yang kedua hanya menjelajahi kamar-kamar dan bagian atap saja.

Tur berakhir dengan sajian teh manis dan apple strudle, sejenis pie dengan selai apel ala Belanda.
Habis itu, kami masuk lagi ke koridor bagian dalam hotel, karena memang harus lewat sana lagi kalau menuju tempat parkir. Kami masih foto-foto lagi lho hahaha... dan tetep nggak ketauan sekuriti juga. Soalnya anak-anak beasiswa itu masih berkeliaran di penjuru hotel.

*Pasang wajah unyu ala abege*
Hahahaha

PS:
Oh iya.. ghost story di next post yaaa.
Buat yang nanya-nanya ada penampakan nggak di Majapahit.. ada laaah. Namanya juga bangunan kuno. Tapi nggak ada komunikasi ya.
Mereka cuma menatap saya dengan tatapan datar ala zombi, yang mengingatkan saya pada mimik Annesya kalau lagi foto iseng ala hantu.
Mirip Nes! Hahahaha...


Ruang duduk ini di masa kejayaannya adalah lobby dan bagian resepsionis



View from South Garden

Tiang bendera yang bersejarah itu.
Menatap ini sambil terharu hiks. Merdeka!


Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, May 7, 2014

Singing-Dancing-Screaming

Throwback

Jangan tugasin si Enno ke konser lagi. Plis, jangan. Dia asik sendiri, bukannya liputan.
Lho, itu gue liputan, Nyuk! Harus menghayati dong supaya artikelnya baguuus!
Aduh No, tapi nggak perlu kan pake ikut jejeritan dan bilang I love you! I love you! Sambil ngangkat-ngangkat ketek! Jaim dikit dong sebagai reporter!
Hahaha. Apa sih lo! Gue kan pake jaket! Mana ada ketek gue tampak! Pokoknya, liputan konser adalah domain gue! Nggak boleh di-rolling. Titik.
Terserah lo deh. Paling entar gue pura-pura nggak semedia sama lo. Malu-maluin.
Hih! Punya kolega manis gini kok maluuuu! *sandal jepit melayang*

.................

Kemarin.
"Tebak coy, gue abis dari mana?"
"Dari WC?"
"Ih lo penting banget sih jawabannya!"
"Lo kan biasanya juga gitu, laporan dari WC."
"Gue abis nonton Kampoeng Jazz di almamater lo, Buluk!"
"Aaaah! Sial!" Giri teriak di seberang sana. Ribuan kilometer dari tempat saya tengkurap di atas tempat tidur. Jam berapa sih di Perth? Tengah malam? Ngapain dia teriak-teriak? Bisa dipanggilin polisi sama tetangga. Dasar si bulukan!

Saya tau kenapa dia teriak. Dia kan emang doyan jazz. Dia doyan segala macam musik sih. Dia bisa main gitar, dan untuk saya, yang sering dimainkannya adalah lagu-lagu kesukaan saya yang ngepop, ngerock dan ngepunk. Sementara, kalau lagi sendirian di kamar, dia suka memetik gitar dengan nada-nada jazzy. Katanya, latihan kepekaan batin. Gaya banget! :))

Jadi begitulah. Siang itu, tanggal 3 Mei, saya dan Niken naik angkot dari kosnya di Sekeloa menuju Kampus Universitas Pajajaran, tempat festival Kampoeng Jazz berada. Dasar si Niken, yang nggak pernah ngelayap kemana-mana (giling ya rugi bingit, kos di Bandung nggak pernah ngelayap-kata gue sih hehe), maka ketika naik angkot ke Unpad, masih harus tanya-tanya dulu. Padahal itu kampus sebenernya jalan kaki juga bisa sih dari daerah Sekeloa, kalau kepepet.

"Mang, ini teh lewat Unpad?" Saya dengan logat Sunda tentunya, berhubung Niken mah Jawa tulen.
"Iyah, Neng. Sok naek, Neng!"
Cus, kami naik. Nggak berapa lama, emang deket sih, Unpad yang pintu gerbangnya terlihat heboh pun tampak.
"Kiri, Mang!" Mobil melaju terus. "Ih si Mamang. Kiriii!"
"Sabar atuh Neng, kagok brenti di tengah jalan raya bisi macet."
Angkot pun akhirnya menepi. Saya celingukan. "Eh, ini teh udah boleh turun?"
"Ya terserah Eneng. Mau apa enggak," sahut si Mamang Angkot kalem.
Baru setelah kami berdua turun dari angkot, ironisme itu terasa dan tawa kami berdua meledak.
"Lha, kenapa tadi gue nanyanya bloon gitu ya?"
"Iyaaa. Makanya si mamang angkot tadi jawabnya terserah mau enggak."
Kami ngakak lagi di pinggir jalan sampai diliatin orang.

Di gerbang Unpad, antrian calon penontonnya banyak euy! Mengular. Dan kami berdua berada di tengah-tengah anak-anak mahasiswa-yang semuanya modis dan fesyenebel. Bandung gitu. Bikin daku merasa kumel jadinya.
Pemeriksaan sebelum masuk juga ketat. Kami diraba-raba #eh. Hahaha. Diperiksa apakah membawa senjata tajam atau tidak. Bawa minuman keras atau tidak. Tapi... masa bawa senjata tajam ke konser jazz ya? Mau bacok pemain saksofonnya kalo fals? :))

Dan masuklah kami berdua ke dalam area konser.
Ada dua panggung yang disediakan panitia. Lounge dan Main Stage. Waktu kami datang, Maliq & The Essentials yang diincar Niken sudah di refrain lagu terakhir. Yaaah... Tapi untunglah, di Main Stage, Maliq langsung disambung dengan penampilan RAN.
Aduuuh Rayiiiii! Hahahaha... Senyumnya manis banget dia! Saya langsung sikut kiri kanan biar bisa ke depan, nempel di pagar pembatas dan bisa mengabadikan senyum Rayi. Ya ampun! Emang manis yaaa...
Hahaha. Penampilan RAN oke banget seperti biasa. Saya belum jingkrak-jingkrak tuh. Baru datang, masih pemanasan. Tapi jerit-jerit juga. Dikiit.

Habis RAN, kami bergegas pindah ke Lounge di areal Fakultas Hukum. Niken ngincer Tulus!
Saya sebetulnya agak malas nonton Tulus hiks.. ada beberapa lagunya yang makjleb. Bener aja, sementara kami kegencet-gencet di tengah lautan mahasiswi yang histeris, pada sebuah lagu, Niken bisik-bisik ke saya. "Mbak, lagumu banget ni." Ish! Pedih... :))

Masih tentang Tulus. Suaranya kalo live gitu lebih gimana gitu ya. Nggak heran cewek-cewek jejeritan dan bawel request lagu. Saya sampai nggak bisa motret. Beneran kegencet-gencet, meskipun msh ada ruang sedikit untuk dance. Itu pun barengan sama para abege itu. Huhuhu. Diriku tak bisa berekspresi...
Masih pula ditambah Niken yang ikut jejeritan, pas di kuping saya. Yaoloh... ternyata dia alay juga ya. Wakakak...

Yang lucu itu, ketika Tulus selesai pentas, depan stage-nya langsung ditinggalin rame-rame oleh penonton. Semuanya berduyun-duyun berlalu meninggalkan tempat. Yang tadinya sesak napas, kini kosong melompong. Jadi rupanya semuanya cuma mau nonton Tulus ya? Hihihi.

Saya dan Niken tentunya bergegas lagi ke Main Stage. Kami mau nonton Krakatau. Lapangan di depan stage masih kosong. Saya bisa cari tempat agak lumayan, nggak terlalu pinggir seperti waktu nonton RAN. Saya pengen motret Krakatau soalnya. Dan Krakatau mentas dengan sukses. Lha mereka paling senior dan termasuk band jazz Indonesia yang legendaris. Lucunya, waktu pembawa acara bilang Krakatau mau main sebentar lagi, beberapa mahasiswi di belakang saya bertanya-tanya satu sama lain, "Yang mana sih ya?"
Tapi begitu, pembawa acaranya nyebutin nama Trie Utami, mereka langsung teriak. "Oh, Trie Utami! Mbak Iie!!!" Lalu jejeritan.

Rupanya mereka lebih mengenal Mbak Iie karena suka jadi juri Akademi Fantasi Indosiar, dan terkenal dengan komennya soal pitch control, hahaha....

Sesi terakhir yang manggung, pas jam 24.00 adalah Tompi featuring Monita. Saya dan Niken cuma nonton dua lagu lalu pulang. Anu... ada yang mau kencan besok paginya... hahaha....
Plus, saya juga harus pulang. Cuma bisa menginap semalam di kos Niken, karena banyak kerjaan di rumah.

Kemarin, ngecek hasil foto dan mindahin semua file dari kamera ke eksternal disk khusus foto. Ngedit-ngedit sedikit, cuma sekedar nostalgia zaman masih suka liputan di Jakarta. Dipajang di Instagram beberapa, sekedar curhat-bukan buat pamer.

Itu pun masih ada yang nyinyir bilang foto saya jelek. Hahahaha....
Lucu deh. Ya biar aja foto-foto konser gue jelek. Secara gue penulis, bukan fotografer. Fotografi cuma hobi iseng gue, bukan passion seperti menulis.
Gue motret untuk dinikmati sendiri. Dan untuk bahan riset tulisan. Kalau serius mau jadi fotografer, kamera yang gue punya pasti yang kelas pro. Beli lensa tele sekalian, lengkap dengan segala aksesoris dan tetek bengeknya. Trus gue beli buku-buku tentang fotografi dan ikut kursus sekalian.

Si Oly, kamera mirrorless saya, itu nggak pernah dianggap alat. Dia teman. Partner traveling. Dia membantu saya merekam jejak dan mengingat pesan.

Hehehe...
Secara garis besar, keren lah acara Kampoeng Jazz 6th. Salut buat Fakultas Hukum Unpad. Nggak cuma berkutat sama pasal-pasal dan yurisprudensi ya hidupnya hihihi...
Cuma kalau boleh saran, lain kali kalo ada panitia yang bodinya segede gajah, plis dong jangan biarkan dia berdiri di depan pagar pembatas penonton. Kalo dia juga mau motret sih nggak apa-apa. Lha ini cuma nonton doang. Ngeblok pemandangan, tau gak. Apalagi yang mau motret kayak saya. Sementara mau maju ke bawah panggung mana bisa. Itu khusus buat media. Hiks.

Padahal para fotografer di depan panggung aja, abis motret minggir dulu. Karena tahu, penonton juga ada yang mau motret dari balik pagar...
Lain kali perhatikan ya, adek-adek. Ngeblooook pisan! Sampe nggak terlalu bagus angle foto-foto RAN gue! Hih! :))

Sekian dan terima kasih :D

Trie Utami dan Krakatau Band

Image and video hosting by TinyPic

Thursday, May 1, 2014

East Trip. Benteng Kuno Balik Kanan

Siang itu....

"Waaah! Ayo kita manjat!"

Saya naik ke gundukan batu bata merah yang sebagian hancur menjadi tanah, menuju ke atap dinding persegi empat yang terbuat dari batu bata serupa. Gundukan itu tidak terlalu tinggi, sekitar 2,5 meter saja. Lumayan membuat saya terhuyung-huyung, karena ada ransel 42 liter nemplok di punggung saya. Mas Ari masih di bawah, mengobrol dengan penjaga tempat itu. Seorang lelaki tua ramah yang menjelaskan kepadanya sejarah tempat itu dalam bahasa Jawa dialek Lumajang. Errr.... *jelas saya jadi gagap bahasa* :))

Jadi, saya tinggalkan mereka dulu. Masih ada waktu 'mewawancarai' bapak itu nanti. Saya keluarkan Oly dari ransel dan mulai mencari obyek bidikan.

Yang saya lihat dari atas atap bangunan, adalah dinding-dinding yang membentuk ruangan segi empat seukuran kira-kira lima atau enam meter persegi. Tak ada pintu, tak ada jendela. Satu-satunya jalan yang terbuka adalah dinding-dinding atas yang saya pijak. Saya tidak tahu apakah dulunya ada atap. Belakangan, menurut bapak penjaga, kalau ada pengunjung yang penasaran ingin turun ke bawah, beliau akan membawakan tangga bambu. Katanya, para arkeolog menduga tinggi bangunan ini dulunya 8-10 meter.

Maka, disitulah saya berada siang itu.
Di lokasi bekas benteng dari sebuah kerajaan kuno di zaman kejayaan Majapahit yang disebut SITUS BITING. Biting berarti 'benteng.'

Adakah yang pernah mendengar kerajaan Lamajang Tigang Juru?
Ada? Tidak ada?  Oh, baiklah. Sini, sini, saya kasih tahu.

Lamajang Tigang Juru adalah kerajaan kuno di kawasan yang sekarang menjadi kota Lumajang. Kerajaan itu merupakan kerajaan bawahan dari Majapahit yang lebih besar. Namun meski kerajaan kecil, kerajaan ini dianggap penting oleh Majapahit, atau setidaknya rajanya lah yang dianggap penting. Rajanya, Aria Wiraraja, tadinya adalah adipati Sumenep di bawah kerajaan Singasari. Ketika Singasari runtuh di bawah pemerintahan Kertanegara, Aria Wiraraja membantu Raden Wijaya-menantu Kertanegara, untuk mendirikan Majapahit. Ia adalah penasehat yang sangat dipercaya Raden Wijaya. Sebagai seorang negarawan senior, ia membantu sang raja muda menyusun strategi membendung serangan kerajaan Mataram dan serangan pasukan Mongol.
Sebagai balas jasa, Aria Wiraraja diberi daerah kekuasaan yang kemudian menjadi kerajaan Lamajang Tigang Juru atau Majapahit Timur.

Lengkapnya cek link Wikipedia ini, yes! ;)

Situs Biting ini berada di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Lumajang.
Karena kesamaan waktu saat didirikan (10 November 1293, berdasarkan Prasasti Puddadu), artefak-artefak yang ditemukan di Situs Biting serupa dengan artefak-artefak peninggalan Majapahit. Ngomong-ngomong, benteng ini berdiri di areal seluas 135 hektar. Merupakan benterng kuno terluas dari masa kerajaan-kerajaan Nusantara. Kalau pun ada benteng yang luasnya lebih dari itu, biasanya merupakan benteng era kolonial.

Dari atap benteng tempat saya berdiri, saya melihat sungai yang mengelilingi kawasan ini. Saya nggak tahu, apakah sungai itu alami, ataukah sengaja dibuat sebagai pertahanan dari serangan musuh. Tapi lingkarannya pas banget lho. Saya sih cuma bisa melihat sungai di dua sisi benteng saja, dua sisi lainnya tidak. Tapi dari dua sisi itu saja sudah terlihat posisinya tampak melingkar seperti busur. Jangan-jangan sungai buatan ya?

Sebetulnya, Mas Ari yang pertama-tama menunjukkan saya sungai itu. Dia akhirnya ikut naik ke atas dan menunjuk-nunjuk.
"Itu lho, ada sungainya," ujarnya. Dan di balik rerimbunan belukar dan pepohonan kebun milik Perhutani maupun penduduk di sekitar benteng, saya melihat air coklat yang mengalir tenang. "Kata bapak yang jaga, petilasan benteng ini masih luas sampai ke belakang-belakang sana itu. Malah sampai ke perumahan sebelah sana, masih ditemukan artefak."
"Sek, Mas. Perumahan piye maksud e? Perumahan developer?"
"Iyo."

Heh. Nyebelin! Saya langsung kepengin marah-marah. Kenapa tanah situs sampai bisa jatuh ke tangan developer? Ini Pemdanya gimanaaaa?

Sambil kesel, saya mulai memotret lagi. Meskipun yaaaa... nggak banyak yang bisa diabadikan dari sebuah bangunan batu bata segi empat yang bolong di tengahnya. Saya juga malas turun ke bawah. Karena benar-benar tidak ada apa-apa di sana. Hanya tanah berumput pendek dan empat dinding yang mengurung, serta sinar matahari di atas kepala.

Masih ada yang perlu dikunjungi. Sebelum menuju ke bangunan ini, tadi kami melewati sebuah kompleks makam. Ada plang besar di pagar depannya. Menceritakan sejarah Aria Wiraraja dan kerajaan Lamajang Tigang Juru, dan bahwa yang dikuburkan di pemakaman itu salah satunya adalah sang raja sendiri, bersama para pengikutnya.

Setelah mengobrol tentang sejarah dan lokasi situs itu dengan si bapak penjaga (yang ini dalam bahasa Indonesia tentunya ya hehehe), kami berpamitan. Saya memberinya tips sekedarnya dan dia sangat senang. Di mana-mana, yang namanya penjaga atau juru kunci lokasi purbakala itu honornya kecil, meskipun yang memberi honor adalah pemerintah. Jadi, sekedar tambahan seperti itu akan membuat mereka semangat untuk tetap menjaga kebersihan situs yang mereka jaga. Percayalah. Hitung-hitung sedekah juga, kan :)

Meninggalkan bekas benteng, saya dan Mas Ari menuju ke kompleks makam di depan situs. Kompleks ini persis di tepi jalan beraspal. Bukan jalan yang dilalui angkot sih, ini jalan kecil yang dilewati motor penduduk atau mobil pick up pengangkut hasil kebun mereka. Ngomong-ngomong, ada kebun jeruk lho. Saya baru tahu, Lumajang menghasilkan jeruk! Padahal, di Garut yang dulu terkenal Jeruk Garutnya, sekarang sudah jarang dijumpai kebun jeruk.

Nah ini kenapa jadi membahas jeruk, kakaaaak?

Balik ke soal makam. Saya masuk ke dalam kompleks mendahului Mas Ari, yang entah kenapa kayak yang ragu melangkahkan kaki. Takutkah dirimu, Mas? Hehehe...

Saya langsung menuju sebuah makam yang dinaungi sebuah pendopo. Makam itu berukuran besar dan panjang. Sementara, di sebelah kirinya, ada deretan makam-makam di areal terbuka yang di pagari, dengan nisan-nisan yang diselimuti kain putih. Makam yang besar itu konon makam Raja Minak Koncar alias Aria Wiraraja (tapi ada juga pendapat bahwa Raja Minak Koncar itu anak dari Aria Wiraraja), selebihnya makam para pengikutnya. Saya berdoa di depan makam raja, membacakan Al Fatihah sebagai sedekah. Namun tidak minta apa-apa (ya iyalah, minta mah sama Allah).

Ada bayangan samar berdiri di ujung makam, saya tidak tahu siapa. Namun kemudian saya berkata, "Izinkan saya mengambil foto ya. Saya cuma seorang 'anak' yang ingin mengerti sejarah." Bayangan itu melambaikan tangan seolah-olah mengiyakan, lalu menghilang.

Di belakang saya, tiba-tiba sudah berdiri Mas Ari. Heh, dia denger saya ngomong sama hantu nggak ya? :}}
Tapi wajahnya kalem sih, dia malah nanyain spesifikasi kamera saya. Lalu saya tinggal keliling-keliling kuburan untuk motret. Dia pasti heran, ngapain sih ni cewek motretin kuburan sampe segitunya. Ih, dia nggak tau aja, saya kan demen berkunjung ke kuburan kuno. Hehehe.

Iya, gue cewek aneh. Udah nggak usah pada geleng-geleng kepala gitu :p

Di pemakaman itu ada sebuah sumur kuno. Entah berapa meter kedalamannya. Airnya masih ada lho. Saya melongok sedikit ke bawah. Berdoa nggak ada yang balas memandang. Alhamdulillah nggak ada. Hahaha. Saya potretin beberapa kali, lalu memutuskan untuk menyudahi 'ziarah' itu.

Waktu saya sedang memotret, muncul ibu-ibu-yang sepertinya isteri penjaga makam, dia menyapu areal pemakaman sambil memperhatikan saya. Saya pamit sama dia, sambil memasukkan sekedar uang kebersihan ke kotak amal yang tergantung di saung untuk duduk pengunjung.
Entah ya, kok keliatannya wajah si ibu kecewa liat saya masukin duitnya ke kotak. Saya lupa, harusnya saya kasih ke dia aja. Duh, maap Bu, otomatis kalo liat kotak amal hihihi....

"Nah terus mana lagi nih situsnya?" Tanya saya, di boncengan motor Mas Ari, saat melaju meninggalkan pemakaman.
"Udah cuma itu aja."
"He? Yaaaah..."

Saya pikir tadinya bisa lah liat tempat penggalian artefak-artefak di sekeliling areal benteng yang seluas seratus hektar lebih itu. Hahaha...
Iya nggak mungkin sih. Biasanya itu tertutup untuk umum, lagipula Mas Ari mana tahu lokasinya di mana. Selain itu, saya harus segera ke terminal dan kembali ke Surabaya, kalau tidak mau kesorean atau bahkan kemalaman.

"Ya udah, saya boleh minta antar langsung ke terminal nggak, mas? Saya harus balik ke Surabaya. Lagian kelamaan ngeluyur diantar-antar gini, ganggu kerja Mas Ari. Maaf ya."
Sekedar info, Mas Ari adalah pemilik biro travel wisata di Lumajang. Seperti saya, dia bekerja di jalur passion-nya. Kalau saya suka menulis, dan sekarang menjadi penulis. Maka, dia sejak dulu adalah traveler.

Sejak masih kuliah, dia itu pendaki gunung dan backpacker. Makanya, sekarang dia menikmati banget pekerjaannya sebagai 'tukang ngantar jalan-jalan' berbayar alias penyelenggara tur wisata hehehe...
Mungkin itu alasannya kenapa dia dengan senang hati nganter-nganter saya, karena saya tukang jalan-jalan-sama kayak dia. Menemukan teman sehaluan gitu deh :D
Eh, dia malah nawarin saya untuk bantu-bantu turnya sesekali, kalau obyek wisatanya ke Jawa Barat. Katanya, sebetulnya dia kekurangan orang sebagai pemandu klien-kliennya.

Ih, sayang ya.. Garut-Lumajang jauh bingiiit. Susah koordinasinya. Padahal kan asyik tuh saya ikutan jalan-jalan gratis, dikasih honor pulak! Hehehe...Entar aja deh kalau pas travel bironya ngadain jalan-jalan ke Jawa Barat. Aku bantuiiin! ^^

Siang itu.....

Saya diturunkan di depan terminal Minak Koncar sama Mas Ari dan kami saling pamitan. Tak lama bus Patas jurusan Surabaya lewat dan saya naik tanpa ragu.
Di bus, saya memilih tempat duduk dekat jendela, dekat pintu masuk juga. Bus itu melaju kencang, anehnya saya tidak takut. Saya nikmati perjalanan kebut-kebutan itu dengan hati senang. Mungkin juga ada sedikit senyum di bibir saya (semoga yang pas ngeliat ke saya, nggak nyangka saya sakit jiwa).

Yang jelas, perjalanan saya di Lumajang dan Jember lumayan menyenangkan bangetttt. Menghadiri pernikahan teman baik, berkumpul lagi dengan teman lama dan dapat teman baru. Ketawa-ketawa gila lagi (sudah berapa abad ya kesintingan saya mengendap?), solo traveling lagi, belajar sejarah lagi.... dan balik lagi ke Surabaya, untuk petualangan berikutnya yang sudah menunggu.

Nantikan cerita selanjutnya. Saya mau memburu hantu! Hehehe

---------------------

Kayaknya saya harus ngebut menamatkan nulis East Trip ini deh. Soalnya, takut keburu traveling lagi bulan Mei ini. Tulisan saya bakal numpuk kayak utang kredit panci! #eh :))

Still stay tune yaaaah!


Bagian atas dinding salah satu sisa bangunan benteng
kerajaan Lamajang Tigang Juru.

Konon ini adalah makam Aria Wiraraja, adipati Sumenep, penasehat politik Raden Wijaya,
yang juga adalah raja kerajaan Lamajang Tigang Juru.

Ini foto-foto Papuma yang kemarin (seperti biasa, saya pelit gambar hehe):

Hutan jati milik Perhutani dalam perjalanan menuju Pantai Watu Ulo dan Tanjung Papuma.
Daun-daunnya dirontokkan untuk persiapan penebangan,

Tiga atol {pulau karang) yang menjadi ciri khas Tanjung Papuma.
Kalau laut surut, pengunjung bisa menyeberang ke sana dengan berjalan kaki.


Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...