Wednesday, May 7, 2014

Singing-Dancing-Screaming

Throwback

Jangan tugasin si Enno ke konser lagi. Plis, jangan. Dia asik sendiri, bukannya liputan.
Lho, itu gue liputan, Nyuk! Harus menghayati dong supaya artikelnya baguuus!
Aduh No, tapi nggak perlu kan pake ikut jejeritan dan bilang I love you! I love you! Sambil ngangkat-ngangkat ketek! Jaim dikit dong sebagai reporter!
Hahaha. Apa sih lo! Gue kan pake jaket! Mana ada ketek gue tampak! Pokoknya, liputan konser adalah domain gue! Nggak boleh di-rolling. Titik.
Terserah lo deh. Paling entar gue pura-pura nggak semedia sama lo. Malu-maluin.
Hih! Punya kolega manis gini kok maluuuu! *sandal jepit melayang*

.................

Kemarin.
"Tebak coy, gue abis dari mana?"
"Dari WC?"
"Ih lo penting banget sih jawabannya!"
"Lo kan biasanya juga gitu, laporan dari WC."
"Gue abis nonton Kampoeng Jazz di almamater lo, Buluk!"
"Aaaah! Sial!" Giri teriak di seberang sana. Ribuan kilometer dari tempat saya tengkurap di atas tempat tidur. Jam berapa sih di Perth? Tengah malam? Ngapain dia teriak-teriak? Bisa dipanggilin polisi sama tetangga. Dasar si bulukan!

Saya tau kenapa dia teriak. Dia kan emang doyan jazz. Dia doyan segala macam musik sih. Dia bisa main gitar, dan untuk saya, yang sering dimainkannya adalah lagu-lagu kesukaan saya yang ngepop, ngerock dan ngepunk. Sementara, kalau lagi sendirian di kamar, dia suka memetik gitar dengan nada-nada jazzy. Katanya, latihan kepekaan batin. Gaya banget! :))

Jadi begitulah. Siang itu, tanggal 3 Mei, saya dan Niken naik angkot dari kosnya di Sekeloa menuju Kampus Universitas Pajajaran, tempat festival Kampoeng Jazz berada. Dasar si Niken, yang nggak pernah ngelayap kemana-mana (giling ya rugi bingit, kos di Bandung nggak pernah ngelayap-kata gue sih hehe), maka ketika naik angkot ke Unpad, masih harus tanya-tanya dulu. Padahal itu kampus sebenernya jalan kaki juga bisa sih dari daerah Sekeloa, kalau kepepet.

"Mang, ini teh lewat Unpad?" Saya dengan logat Sunda tentunya, berhubung Niken mah Jawa tulen.
"Iyah, Neng. Sok naek, Neng!"
Cus, kami naik. Nggak berapa lama, emang deket sih, Unpad yang pintu gerbangnya terlihat heboh pun tampak.
"Kiri, Mang!" Mobil melaju terus. "Ih si Mamang. Kiriii!"
"Sabar atuh Neng, kagok brenti di tengah jalan raya bisi macet."
Angkot pun akhirnya menepi. Saya celingukan. "Eh, ini teh udah boleh turun?"
"Ya terserah Eneng. Mau apa enggak," sahut si Mamang Angkot kalem.
Baru setelah kami berdua turun dari angkot, ironisme itu terasa dan tawa kami berdua meledak.
"Lha, kenapa tadi gue nanyanya bloon gitu ya?"
"Iyaaa. Makanya si mamang angkot tadi jawabnya terserah mau enggak."
Kami ngakak lagi di pinggir jalan sampai diliatin orang.

Di gerbang Unpad, antrian calon penontonnya banyak euy! Mengular. Dan kami berdua berada di tengah-tengah anak-anak mahasiswa-yang semuanya modis dan fesyenebel. Bandung gitu. Bikin daku merasa kumel jadinya.
Pemeriksaan sebelum masuk juga ketat. Kami diraba-raba #eh. Hahaha. Diperiksa apakah membawa senjata tajam atau tidak. Bawa minuman keras atau tidak. Tapi... masa bawa senjata tajam ke konser jazz ya? Mau bacok pemain saksofonnya kalo fals? :))

Dan masuklah kami berdua ke dalam area konser.
Ada dua panggung yang disediakan panitia. Lounge dan Main Stage. Waktu kami datang, Maliq & The Essentials yang diincar Niken sudah di refrain lagu terakhir. Yaaah... Tapi untunglah, di Main Stage, Maliq langsung disambung dengan penampilan RAN.
Aduuuh Rayiiiii! Hahahaha... Senyumnya manis banget dia! Saya langsung sikut kiri kanan biar bisa ke depan, nempel di pagar pembatas dan bisa mengabadikan senyum Rayi. Ya ampun! Emang manis yaaa...
Hahaha. Penampilan RAN oke banget seperti biasa. Saya belum jingkrak-jingkrak tuh. Baru datang, masih pemanasan. Tapi jerit-jerit juga. Dikiit.

Habis RAN, kami bergegas pindah ke Lounge di areal Fakultas Hukum. Niken ngincer Tulus!
Saya sebetulnya agak malas nonton Tulus hiks.. ada beberapa lagunya yang makjleb. Bener aja, sementara kami kegencet-gencet di tengah lautan mahasiswi yang histeris, pada sebuah lagu, Niken bisik-bisik ke saya. "Mbak, lagumu banget ni." Ish! Pedih... :))

Masih tentang Tulus. Suaranya kalo live gitu lebih gimana gitu ya. Nggak heran cewek-cewek jejeritan dan bawel request lagu. Saya sampai nggak bisa motret. Beneran kegencet-gencet, meskipun msh ada ruang sedikit untuk dance. Itu pun barengan sama para abege itu. Huhuhu. Diriku tak bisa berekspresi...
Masih pula ditambah Niken yang ikut jejeritan, pas di kuping saya. Yaoloh... ternyata dia alay juga ya. Wakakak...

Yang lucu itu, ketika Tulus selesai pentas, depan stage-nya langsung ditinggalin rame-rame oleh penonton. Semuanya berduyun-duyun berlalu meninggalkan tempat. Yang tadinya sesak napas, kini kosong melompong. Jadi rupanya semuanya cuma mau nonton Tulus ya? Hihihi.

Saya dan Niken tentunya bergegas lagi ke Main Stage. Kami mau nonton Krakatau. Lapangan di depan stage masih kosong. Saya bisa cari tempat agak lumayan, nggak terlalu pinggir seperti waktu nonton RAN. Saya pengen motret Krakatau soalnya. Dan Krakatau mentas dengan sukses. Lha mereka paling senior dan termasuk band jazz Indonesia yang legendaris. Lucunya, waktu pembawa acara bilang Krakatau mau main sebentar lagi, beberapa mahasiswi di belakang saya bertanya-tanya satu sama lain, "Yang mana sih ya?"
Tapi begitu, pembawa acaranya nyebutin nama Trie Utami, mereka langsung teriak. "Oh, Trie Utami! Mbak Iie!!!" Lalu jejeritan.

Rupanya mereka lebih mengenal Mbak Iie karena suka jadi juri Akademi Fantasi Indosiar, dan terkenal dengan komennya soal pitch control, hahaha....

Sesi terakhir yang manggung, pas jam 24.00 adalah Tompi featuring Monita. Saya dan Niken cuma nonton dua lagu lalu pulang. Anu... ada yang mau kencan besok paginya... hahaha....
Plus, saya juga harus pulang. Cuma bisa menginap semalam di kos Niken, karena banyak kerjaan di rumah.

Kemarin, ngecek hasil foto dan mindahin semua file dari kamera ke eksternal disk khusus foto. Ngedit-ngedit sedikit, cuma sekedar nostalgia zaman masih suka liputan di Jakarta. Dipajang di Instagram beberapa, sekedar curhat-bukan buat pamer.

Itu pun masih ada yang nyinyir bilang foto saya jelek. Hahahaha....
Lucu deh. Ya biar aja foto-foto konser gue jelek. Secara gue penulis, bukan fotografer. Fotografi cuma hobi iseng gue, bukan passion seperti menulis.
Gue motret untuk dinikmati sendiri. Dan untuk bahan riset tulisan. Kalau serius mau jadi fotografer, kamera yang gue punya pasti yang kelas pro. Beli lensa tele sekalian, lengkap dengan segala aksesoris dan tetek bengeknya. Trus gue beli buku-buku tentang fotografi dan ikut kursus sekalian.

Si Oly, kamera mirrorless saya, itu nggak pernah dianggap alat. Dia teman. Partner traveling. Dia membantu saya merekam jejak dan mengingat pesan.

Hehehe...
Secara garis besar, keren lah acara Kampoeng Jazz 6th. Salut buat Fakultas Hukum Unpad. Nggak cuma berkutat sama pasal-pasal dan yurisprudensi ya hidupnya hihihi...
Cuma kalau boleh saran, lain kali kalo ada panitia yang bodinya segede gajah, plis dong jangan biarkan dia berdiri di depan pagar pembatas penonton. Kalo dia juga mau motret sih nggak apa-apa. Lha ini cuma nonton doang. Ngeblok pemandangan, tau gak. Apalagi yang mau motret kayak saya. Sementara mau maju ke bawah panggung mana bisa. Itu khusus buat media. Hiks.

Padahal para fotografer di depan panggung aja, abis motret minggir dulu. Karena tahu, penonton juga ada yang mau motret dari balik pagar...
Lain kali perhatikan ya, adek-adek. Ngeblooook pisan! Sampe nggak terlalu bagus angle foto-foto RAN gue! Hih! :))

Sekian dan terima kasih :D

Trie Utami dan Krakatau Band

Image and video hosting by TinyPic

5 comments:

Langit Senja said...

kereen! :D
btw sepertinya nama Geri sudah nggak asing lagi kak :D

vita masli said...

gak ada yang lebih menyenangkan daripada ikutin irama, nyanyi dan ikutan ngedance di sebuah konser. Sayangnya gk pernah diutus kantor untuk ngeliput konser makanya harus beli tiket sendiri (ohh pencinta gratisan hihihi). Tapi bukankah dengan uang sendiri rasanya jadi lebih menyenangkan bukan sih?

Enno said...

@Langit senja: Giri dengan I bukan E, sayangku :) Hehehe Giri yang mana emang?

@vita: hahaha enggak vit. lebih menyenangkan pake press ID. absolutely fun. soalnya kita bebas mau berkeliaran sampai ke belakang panggung pun dan nyapa2 pengisi acaranya sambil ngajak selfie :))

Anonymous said...

ayo hunting tiket murah jak jazz taon ini :D *mrs aank :p

Enno said...

@mrs aank: Ronaaaa! duile anonim pulak! yuk mari kita geret pak aank yang rock 'n roll (kayak gue sih sebenernya) ke konser jazz biar dia ngantuk hihihi...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...