Sunday, November 13, 2011

Patroli Obelix: Rest in Peace

Anjing itu selalu menatap saya dengan mata coklatnya yang lembut. Menjulurkan lidahnya, menggoyang-goyangkan ekornya, mendengking-dengking ketika saya tepuk-tepuk kepalanya. Roldo, meskipun dilatih sebagai pemburu, tetaplah anjing yang manis. Wajahnya adalah wajah anjing paling ramah yang pernah saya tahu.

Ia selalu terikat pada rantainya, yang dipegang erat-erat majikannya. Tetapi jika saat berburu tiba, ia dibebaskan. Lari menyerbu sesemakan terus masuk ke dalam hutan bersama teman-temannya, anjing-anjing pemburu lain, mengendus jejak babi hutan yang sudah dikenalnya.

Kadang-kadang ia menghampiri saya dan Chris, mengendus-endus. Dan saya selalu mengomelinya. "Jangan endus-endus gue, Roldo. Males bersihinnya!" Tapi ia akan segera pergi setelah kepalanya ditepuk-tepuk dan dipuji. "Good boy, Roldo. Good boy." Barangkali itu yang sebenarnya dia minta.

Saya baru melihat Roldo di perburuan beberapa hari yang lalu. Tetapi sekejap ia bagaikan teman lama. Anjing itu mengingatkan saya pada Doggy, anjing keluarga kami sewaktu saya masih kecil. Doggy selalu mengikuti saya kemana-mana dan menunggu saya pulang sekolah di depan jalan.

Sejak Doggy mati ditabrak mobil, saya agak menjauhi anjing. Saya sedih. Trauma. Dan tidak berminat lagi memiliki anjing.

..............

Ketika ajakan berburu itu datang lagi kemarin siang, saya langsung mengiyakan. Saya berniat untuk mencoba menembak, meskipun kemungkinan tidak akan kena sasaran karena saya baru satu kali berlatih. Anehnya, ketika sore itu Chris menjemput saya, firasat saya sudah tak enak.

Saya terbiasa memperhatikan intuisi, karena kadang-kadang sesuatu memang terjadi. Saya agak ragu ketika melemparkan ransel saya ke jok belakang jip Chris. Ia memperhatikan wajah saya yang muram lalu bertanya.

"Nggak enak badan? Nggak usah ikut aja daripada tambah parah."
"I'm fine kok," sahut saya. "Ayo jalan!"
"Lu yakin?" Ia masih belum memutar kunci kontaknya.
"Yakin. Yuk, buruan!"

Setelah memberi kesempatan pada anggota tim perburuan yang menumpang sholat magrib di rumah seorang peladang di kaki gunung, kami siap naik. Anjing-anjing mulai dilepas ketika kami sudah semakin jauh ke dalam hutan. Chris dan saya berjalan paling belakang. Wak Ujang dan teman-temannya seperti biasa berjalan cepat mengikuti suara salakan anjing-anjing itu. Situasi rutin yang biasa dalam setiap perburuan yang kami ikuti.

Di kejauhan kami mendengar anjing-anjing menyalak lebih keras dan ribut.
"Ada satu!" Chris menarik tangan saya agar melangkah lebih cepat. Lebih aman bagi kami mendekati rombongan ayahnya, karena bisa saja babi hutan yang kepergok itu berlari ke arah kami.
Kami mendengar suara Wak Ujang berseru pada teman-temannya. Kami setengah berlari, tidak mau ketinggalan menonton pengejaran dan pertempuran antara anjing-anjing dan babi hutan yang terjebak itu.

Kami tertegun di balik semak. Babi hutan itu besar. Paling besar yang pernah kami lihat selama ini. Taringnya mencuat panjang mengerikan. Ia sedang berputar-putar, menghadapi Roldo dan tiga ekor anjing pemburu lainnya. Terkepung, namun pantang mundur. Roldo, yang paling besar di antara yang lain mencoba menerkamnya, babi itu mengibaskan tubuhnya sehingga si pemburu terpelanting. Tiba-tiba ia menyeruduk Roldo. Saya menjerit. Taringnya menusuk perut anjing itu.

"Roldo!" Chris hampir saja menghambur ke tengah arena perkelahian untuk menyelamatkan anjingnya. Saya menarik tangannya. Terdengar beberapa letusan senapan, tetapi babi hutan itu masih tetap bisa melawan. Roldo terlontar keluar arena, terkapar sambil mendengking-dengking. Tiga ekor anjing lainnya masih mengepung si babi hutan sambil menggeram dan menyalak ribut.

Lalu setelah pulih dari rasa kagetnya, Chris membidikkan senapannya ke tengah arena. Saya merasakan kemarahannya, terlalu lama mengenalnya sejak kami masih balita untuk tahu bahwa Chris tidak akan segan-segan mencincang babi itu dengan tangan kosong jika memungkinkan.
"Hati-hati," kata saya. "Nanti kena anjing-anjing."
Ia membidik satu kali. Chris, si penembak jitu. Dan babi itu menggelepar, roboh dengan kepala berlubang.

Kami mengelilingi Roldo. Ia terkapar di tanah dengan perut robek. Matanya yang coklat lembut menatap kami. Napasnya terengah-engah menahan sakit. Dengkingannya pelan, terdengar seperti rintihan. Saya mulai menangis.

"Kita harus bawa Roldo ke dokter hewan, Pi," kata Chris pelan. Tangannya mengusap-usap kepala anjingnya.
"Papi nggak yakin bisa diselamatkan, Chris," Wak Ujang menjawab sama pelannya. Ia yang melatih sendiri anjing-anjingnya. Tentu perasaannya yang paling sedih melihat anjingnya itu terluka parah.
"Bisa Pi, bisa. Kita buruan turun yuk, Pi. Ntar aku pinjam motor di bawah. Kita bawa pake motor aja biar cepat."
Wak Ujang menggeleng.

Beberapa temannya, para pemburu yang sama-sama berpengalaman seperti dirinya juga menggeleng.
"Nggak bisa diselamatkan, Chris," ujar Pak Heru. "Terlalu parah."

Roldo sekarang memejamkan matanya. Napasnya semakin tersengal-sengal. Kalau saja bisa bicara, mungkin ia akan mengatakan betapa sakit lukanya itu. Saya tak tega. Menembaki seribu ekor babi hutan, bagi saya tak masalah. Tapi menyaksikan seekor anjing terluka dan meregang nyawa, hati saya ikut terluka.

"Wak, kita harus bawa Roldo ke dokter hewan."
Wak Ujang menggeleng lagi. "Uwak ngerti kamu sama Chris sedih. Tapi Roldo memang udah sekarat."
"Sebaiknya dipercepat aja, Pak Ujang," ujar salah seorang temannya. "Kasihan, kelihatannya tersiksa."
Wak Ujang mengangguk. Ia meraih senapannya yang tergeletak di tanah. Wajahnya muram.
"Pi, jangan Pi!" Chris mencoba menahan.
"Kasian Chris. Sekaratnya bisa lama, menderitanya juga jadi lama."
Saya melongo. "Uwak mau ngapain?"
"Bantuin Roldo..."
"Jangan, Wak!" Saya berseru kaget. "Jangan, Wak. Plis.. plis...jangan ditembak..."

Sebuah tangan menarik saya mundur. Chris. Sepertinya ia sudah bisa menerima kenyataan bahwa anjingnya tak tertolong lagi.
"Kasian. Kita ikhlasin aja. Papi bener, ke dokter hewan terlalu jauh dari sini. Roldo pasti keburu mati di jalan."
"Tapi kenapa ditembak? Nanti kan mati sendiri..."
"Anjing-anjing yang udah dilatih kayak gini daya tahannya kuat. Kalau sekarat biasanya lama. Kasian..."
"Kita tungguin aja." Saya menatap Wak Ujang yang mulai membidik kepala Roldo. "Wak, kita tungguin aja!"

Chris malah menarik saya ke belakang punggungnya.
"Jangaaaaan!" Jeritan saya tenggelam oleh bunyi letusan senapan. Saya menangis terisak-isak. Chris membiarkan punggungnya menjadi tempat saya menyembunyikan wajah, merelakan jaketnya basah oleh air mata.

Jadi hanya begitu saja perjalanan hidup seekor anjing pemburu bernama Roldo? Anjing yang baru saja saya sukai karena mirip Doggy. Betapa menyedihkan. Ia mati dalam tugasnya.

Sungguh saya menyesal memarahinya setiap kali ia mengendus-endus saya. Seharusnya saya biarkan saja ia berbuat begitu. Saya tidak akan keberatan membersihkan liurnya dengan tanah tujuh kali, empat belas kali, dua puluh satu kali, bahkan ratusan kali, asal mata coklatnya yang lembut itu masih bisa menatap saya.

Rest in peace, good boy....



“Does it hurt?' The childish question had escaped Harry's lips before he could stop it. 'Dying? Not at all,' said Sirius. 'Quicker and easier than falling asleep.”
― J.K. Rowling, Harry Potter and the Deathly Hallows


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

9 comments:

rabest said...

turut bersedih atas kematiannya..

kasian ya..harus "dipercepat".. :'(

Wuri SweetY said...

wahhh mbak pdhl aku kl ama anjing tetangga suka sia2...abis rese bgt anjingnya.
Kayaknya beda bgt ma Si Roldo.

Annesya said...

:"(
kasian...
jadi keinget anjing tetangga yang ilang satu2 tiap minggunya, dimakan sama yang punya

fika said...

hik...hik...sedih,RIP ya roldo..

Gloria Putri said...

hua mbaaaa
aq juga menyesalll
sering marahin syahrini-ku (anjing cewe dirumah),
tau2 tadi pagi dikasih mama ke orang :( dan aq blm sempet cerita ttg dia di blog juga :(
pdhl itu anjing baik bgt sama aq, ga segalak rocky...hikssss

Lita said...

Aku masih punya 2 anjing, mbak Enno. Hachi dan Chiko, jadinya kalo digabung jadi Hachiko... hak hak hak...

Tapi aku sedih untuk Roldo...
Semoga Roldo baik2 aja di atas sana...

Btw, I always love Lisa Loeb...

Enno said...

@rabest: klo dipikir2 lbh baik gtu sih, biar ga klamaan kesakitannya :)

@wuri: perilaku anjing itu biasanya cerminan dari majikannya lho hehe..

@annesya: waduuh! :(

@fika: lebih ngenes lagi pas terpaksa liat dia ditembak hiks...

@lita: ahaha anjingmu jenis kintamani bkn? itu dianggap anjing ras lho sm org barat. pdhl kt kita kan kayak anjing kampung biasa ya... iya, aku suka lisa loeb. sebenernya lbh suka lagi sm gaya fesyennya yg aneh. antara feminin, cuek tapi juga tomboy...

chiekebvo said...

Saya memang bkn penyuka anjing mbak,tapi tiap kali baca ato mendengar ada binatang peliharaan mati seperti ini,mata saya berkca kaca mbak,saya jadi bayangin kucing di rumah :((

Enno said...

iya chi.. aku juga :(

dan paling males nonton acara binatang2an di tipi sebenernya. ga tega liat yg dimangsa.. apalagi klo critanya ttg binatang yg terlantar atau ditinggal induknya... hiks...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...