Showing posts with label Books. Show all posts
Showing posts with label Books. Show all posts

Tuesday, December 15, 2015

Anak Ketiga, Melupakanmu Sekali Lagi


Halo...

Saya menulis ini malam-malam, sambil menunggu kantuk. Akhir-akhir ini, saya nggak bisa tidur. Entah kenapa. Bukan karena semacam firasat buruk, tetapi lebih cenderung pada kesalahan si benak yang berpikir terus. Susah disuruh off.

Hikmahnya, saya akhirnya punya waktu menulis blog lagi.

Ini posting pertama di akhir tahun. Nggak ada kabar personal tentang diri saya, kok. Nggak ada perkembangan apa-apa. Saya masih saya. Yang semakin sinis terhadap banyak hal (atau itu memang bawaan lahir), yang masih kecanduan ngetrip, masih kesal dengan berat badan yang turun naik kayak main yoyo, masih malas olahraga, dan... masih mencoba merampungkan utang-utang tulisan saya pada beberapa penerbit di sela-sela tidur-ngetrip-jadi babu rumah-main Instagram.

Iya. Saya lebih sering curcol di Instagram sekarang. Bukan curcol galau, tapi nulis latar belakang perjalanan di setiap tempat yang saya singgahi.

Oh iya, trip terakhir saya tahun ini adalah Malang, Bromo dan Madakaripura. Itu ketiga kalinya saya ke Bromo. Suka sekali gunung ini gara-gara savananya (berarti saya suka savana dink), dan Madakaripura adalah air terjun idaman saya sejak dulu, setelah saya tahu Gajahmada bertapa di sana dan moksa.

Ini kenapa jadi random ya? Hahaha. Kan sebenarnya mau ceritain novel ketiga yang baru terbit bulan Oktober kemarin. Judulnya Melupakanmu Sekali Lagi. Bagian dari serial Love Cycle-nya GagasMedia.

Novel ini temanya Patah Hati. Tapi bukan patah hati yang termehek-mehek gitu. Ini tentang gimana caranya melanjutkan hidup dan petualangan mencari jati diri.

Selain novel Melupakanmu Sekali Lagi, sebelumnya saya ikutan menulis cerpen untuk buku Glenn Fredly 20. Itu adalah buku kumpulan cerpen dari penulis-penulis GagasMedia, dalam rangka memperingati 20 tahun Glenn Fredly berkarya. Cerpen saya di buku itu berjudul: Ketika Hujan Pagi Itu.

Di postingan habis ini, nanti saya ceritain lengkap tentang proses menulis Melupakanmu Sekali Lagi, ya, Sekarang segitu dulu.
Cuma buat laporan aja, gitu. Hahaha,
Ini akhirnya kantuk datang. Bye bye. Doakan semoga mood saya untuk ngeblog akhirnya bergelora lagi.


Image and video hosting by TinyPic

Thursday, August 30, 2012

The Most Absurd Day

Siang ini adalah siang yang paling tak masuk akal, 
ketika aku menangisi kau karena rindu.

......

Lappy saya memutar sejumlah lagu yang saya pilih sebagai teman menulis draft kedua ini. Satu lagu yang selalu saya ulang adalah lagunya Amber Davis, Back Into You. Liriknya sama sekali nggak nyambung dengan kisah kerinduan saya pada seseorang itu. Tapi irama lagu itu betul-betul 'kena.' Damn! Itu yang menyebabkan saya nangis.


"Kirim SMS sana!" Rona yang sedang liburan di Lombok memberi saran--tidak, memerintah lebih tepatnya--lewat pesan teks.
"Nggak mau."
"Jangan jaim deh."
"Aku bukan orang yang jaim. Tapi ini rumit. Pokoknya nggak bisa."

Terus saya nangis lagi.
Dan tiba-tiba, dikirim pelukan sama Wuri dari Jogja sana.
Saya tambah nangis. Heu!


Hari ini, saya sedang malas melanjutkan draft. Hanya sekedar mencocokkan beberapa fakta dan merevisi paragraf yang terkait supaya lebih masuk akal. Ironisnya tingkah sayalah yang hari ini tidak masuk akal. Menangis karena merindukan seorang cowok? Please deh.
Tapi, dia memang bukan sekedar 'cowok.' Dia seorang laki-laki, dewasa, mature, dan sangat tidak pantas ditangisi, meski karena rindu.
Dia bukan jenis orang seperti saya (baca: romantik-melodramatik).

Saya, ratu dari negeri dramatis. Dan siapakah dia?
Hanya laki-laki sederhana yang akan menertawakan drama ini.

Dan ya Tuhan... kenapa di tengah-tengah hati yang merindu, tiba-tiba malah datang beruntun inspirasi untuk menulis novel berikutnya? Aneh. Mengerikan.
Apakah saya harus tercabik-cabik dulu supaya dapat inspirasi? Hancur dong hati ini.

Yeah, well, jadi akhirnya saya punya dua calon cerita, yang sampai sekarang masih awet nempel di otak, sampai saya nggak fokus melanjutkan kisah si Mister M.
Boleh deh saya share... bahwa saya sedang menimbang-nimbang untuk membuat novel yang masih ada hubungannya dengan novel Selamanya Cinta.

Hoho, apakah dalam benaknya ada yang membunyikan lonceng pernikahan untuk Reina dan Abe? Saya nggak bilang ini sekuel atau lanjutannya lho. Tapi memang ada hubungannya dengan Persaudaraan Flamboyan sih.

Tapi itu baru pemikiran iseng ya...

Inspirasi yang satu lagi, sepertinya lebih ke genre petualangan. Bukan, bukan fiksi fantasi. Saya nggak punya ide untuk genre fikfan. Jujur ya, saya suka banget baca cerita-cerita itu, tentang malaikat jatuh, dewa yang cool dan ganteng, vampir yang hot, atau warlock-warlock sexy dan macho (kayak di film The Covenant). Tapi itu nggak orisinal lagi, sodara. Saya maunya ide yang segaaar, yang belum pernah ditulis.

Jadi, selagi diri ini dilanda demam rindu yang terasa sangat dangdut sekali--layaknya sinetron siang di Indosiar yang suka ditonton pembantu saya dulu, Tuhan yang Maha Baik malah memberi saya inspirasi. Hebat kan?

Saya nggak tahu nih, adakah yang menyukai ide saya soal kelanjutan novel Selamanya Cinta.
Kumaha? Kasih feedback dong dong dong...

Terakhir, saya mau kasih quote dari young adult novel genre fikfan yang sedang saya gila-gilai saat ini. Hush Hush Saga!
Beberapa teman bilang, mereka nggak suka saga ini karena nggak bagus. Tapi saya tak tergoyahkan dan beli. Dan ternyata benar, intuisi saya tidak pernah jarang salah. Apa yang orang lain nggak suka, belum tentu saya juga nggak suka. Baydewey, setelah baca versi English-nya terasa lebih 'dalem.'

Oh, Patch! I love you, Patch!
*ndusel-ndusel bantal*


“Biggest dream?” I was proud of this one because I knew it would stump him. It required forethought.
“Kiss you.”
“That’s not funny,” I said, holding his eyes, grateful I didn’t stutter.
“No, but it made you blush.”
- Becca Fitzpatrick, Hush Hush


pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Thursday, May 31, 2012

Journey to Batavia #2

There is no frigate like a book 
To take us lands away, 
Nor any coursers like a page 
Of prancing poetry. 
This traverse may the poorest take 
Without oppress of toll; 
How frugal is the chariot 
That bears a human soul! 

(Emily Dickinson, A Book)

.......................

Sejak menginjakkan kaki di Terminal Lebak Bulus, saya sudah bertekad menyisihkan satu hari khusus untuk nongkrong di toko buku. Itu ritual wajib saya waktu masih tinggal di Jakarta.

Maka, pagi-pagi saya sudah mandi dan bersiap. Gramedia Matraman adalah favorit saya, tetapi saya juga kangen Gramedia Blok M. Karena setiap hari, sepulang kerja malam-malam, saya selalu mampir ke sana sampai waktunya tutup dan satpamnya menyuruh saya pulang dengan sopan. Hehehe.

Saya langsung ke rak Novel Indonesia, dan kali ini benar-benar melihat dengan mata kepala saya sendiri novel saya Selamanya Cinta tersandar dengan manis di sana. Bangga? Hmm... bangga nggak sih? Kayaknya perasaan saya biasa-biasa saja. Sumpah, bukan sombong. Mungkin karena saya sangat-sangat terbiasa melihat majalah yang saya terbitkan dengan redaksi kami dulu terpajang di mana-mana. Di lapak-lapak, di toko-toko buku, di bandara, di gedung bundar Senayan ;)

Mungkin, seperti itu jugalah perasaan rekan-rekan jurnalis lain yang akhirnya menerbitkan buku sendiri. Senang, tetapi tidak eforia.

Novel saya ada di sebelahnya novel teman-teman penulis yang saya temui di Kelas Nulis Bukune. Jadi, saya comoti tuh buku-buku mereka, saya masukkan ke keranjang belanja di tangan. Hey gals! Saya baca buku kalian lho! :D

Sambil berkeliaran melihat-lihat buku-buku, saya terkenang pada suatu masa. Seseorang berjalan di sebelah saya. Saya tarik-tarik tangannya ke rak fiksi, tetapi ia maunya ke rak buku-buku yang lebih serius.

"Ini bagus deh, kamu baca ya?" Saya menyodorkan novel Stephen King
Ia menggeleng. "Kamu itu kok sukanya fiksi horor sih? Baca ini nih, biar pinter." Ia menepukkan sebuah buku tentang IT ke jidat saya pelan.
"Idih! IT sih tinggal nanya aja sama kamu! Ini, kamu baca fiksi sekali-kali dong!"
"I don't have much time, darling."
"Ah, hidupmu nggak menarik banget sih. Sediakan waktunya buat membaca dong." Saya jejalkan novel itu di keranjang belanja yang dijinjingnya dan sudah diberati oleh buku-buku serius pilihannya.
"Dasar tukang maksa."
"Tapi suka kaaan?" Saya cengengesan.

Buat saya, itu kenangan yang manis. Nggak tau deh kalau dia. Saya suka sorot matanya yang melembut saat menatap buku-buku. Karena sebenarnya dia juga suka buku seperti saya, hanya selera bacaan kami yang berbeda.

Saya suka ritual menarik-narik tangannya, pura-pura memaksa dia memilih buku di rak fiksi. Dan ia akan pasang tampang mendelik lebay kalau saya menyodorkan novel drama percintaan. Hahaha.

Saya kembali ke masa kini.
Menatap nanar ke buku-buku IT kesukaan dia. Mengambil satu judul tentang hacking. Bagus sih, dan bikin penasaran. Tetapi, tanpa dia yang membimbing, saya malah akan bingung sendiri. Jadi saya letakkan lagi.

Di rak novel terjemahan, mulailah saya galau. Saya sedang mengincar American Gods-nya Neil Gaiman. Wiih! Saya penggemar beratnya Om Neil, lho! Pertama kali membaca novelnya yang berjudul Neverwhere. Lalu suatu hari Rona cerita tentang novel bagus berjudul Coraline dan The Thirteenth Tale. Dia nggak bilang itu novelnya Om Neil, dan saya juga lupa. Karena di kaki gunung ini toko buku lengkap itu bagaikan mencari fosil dinosaurus di halaman belakang rumah (alias belum tentu ada), maka Rona dengan baik hatinya meminjami koleksinya, plus The Anansi Boys juga. Saya langsung tergila-gila! Buat yang belum pernah baca novelnya Om Neil Gaiman, baca gih! Nggak rugi.

Kembali lagi ke soal galau, saya juga mengincar trilogi The Hunger Games. Masalahnya ya, kalau mengikuti nafsu, saya pasti bakal beli 20 buku sekaligus. Bangkrut deh! Padahal saya kan punya rencana beli keril baru juga. Tau kan, harga keril berapa? Uhuk.

Jadi setelah mondar-mandir sekitar setengah jam dari The Hunger Games ke American Gods, saya putuskan beli American Gods dulu.

Begitu saya keluar dari Gramedia... huaaaa! Sudah sore! Saya kelamaan nongkrong di Gramedia Blok M. Soalnya sempat membaca kumpulan cerita horor dulu, baca komik dulu, ngintip beberapa buku biografi yang bikin saya penasaran ..hehe...

Saya putuskan langsung ke toko perlengkapan outdoor untuk membeli keril.

Jeng jeng! Yang jaga tokonya imut gitu mukanya. Layak jadi cover boy deh :P
Saya jadi betah, ihik... Dia tanya, saya mau kemana beli keril baru. Saya bilang mau bekpeking dan telusur gua. Mimik mukanya seperti bilang 'wow'. Iya lah, saya lagi pakai busana agak feminin gitu.  Kan nggak nyangka :P

Akhirnya, saya dapat keril yang 60 liter. Kata sepupu saya yang tukang manjat gunung (sampai ke Afrika malah), itu agak kegedean buat cewek.
Tapi keril lama saya 35 liter up to 40, dan rasanya nggak terlalu leluasa bongkar muatnya. Makanya saya beli yang lebih besar. Meskipun jadinya tekad saya untuk traveling light alias bepergian dengan beban seringkas mungkin akhirnya gagal deh :))

Jadi begitulah. Hari itu saya dapat buku-buku dan keril baru. Besoknya saya keluyuran di Pasar Senen dan ngeliat hantu.

Tunggu part 3 ya...

pict from here

Friday, March 9, 2012

Selamanya Cinta: Behind The Pages #3

Abe!” Ia berusaha mengejar sahabatnya. Abe terus saja berlari meninggalkannya. Ia terhuyung dan tersungkur jatuh. Kakinya sakit sekali. Ia menggapai-gapai, berusaha bangkit, tetapi tak bisa. Kakinya pasti terkilir. “Abe, jangan!”


Ia berteriak. Terus berteriak memanggil-manggil Abe yang dalam sekejap menghilang di antara koridor-koridor rumah sakit. Ketakutan memenuhi rongga dadanya. Ia tahu apa yang akan dilakukan Abe. Ia ingin mencegahnya.


- dikutip dari novel Selamanya Cinta -

......................

Setelah pemakaman Mama, bude saya, ada reuni kecil di rumah. Selalu begitu sih, sejak masih ada Ibu. Sepupu-sepupu, para om dan tante, senang tumplek blek di rumah. Kemarin, mereka mulai meledek soal novel saya.

"Itu gimana cara nulisnya sih?" Tanya seorang tante, sambil memperhatikan pdf novel saya di lappy yang saya gelar di meja makan. "Kamu ngelamun duluuuu, terus nulis. Terus ngelamun lagi. Gitu ya?" Katanya sambil mempraktekkan gaya orang melamun bertopang dagu dengan konyol.

Mereka memang mengenal saya sebagai 'Si Tukang Melamun.' Kadang-kadang, kalau dipanggil pun tidak mendengar, karena pikiran saya asyik mengembara kemana-mana. Kenapa ya saya begitu? Nggak tahu deh. Hahaha.

Yang jelas, tanggapan mereka di luar dugaan saya. Karena saya pikir, mereka akan apriori, mengingat semuanya orang awam di dunia tulis menulis, hanya beberapa orang yang senang membaca, dan satu-dua orang tampak meremehkan.

"Ayo sini, Tante promosikan di BBM!" ujar seorang tante yang lain.
"Bagusnya promo di FB nih!" Sepupu saya berkata.

Alhamdulillah. Tidak ada yang lebih menyenangkan dari apresiasi keluarga, kan? :)

Well, menulis Selamanya Cinta, membuat saya menemukan banyak hal, banyak hikmah, banyak pembelajaran. Proses menulis novel yang kemarin itu menyakitkan, mengharukan sekaligus menyenangkan.

Kok menyakitkan?
Kan saya sedang patah hati, jadi harus 'memaksa' diri saya untuk kerja keras, disiplin dan fokus menulis, meskipun hati sedang tidak karuan. Dan ternyata, hal itu malah menyembuhkan :)

Mengharukan, karena kalau bukan karena dorongan teman-teman, novel itu tidak akan pernah ada. Iwied 'menodong' tulisan saya dan sejak awal percaya saya bisa melakukannya (menulis novel).
Eka, my old buddy sejak zaman kami dia masih lajang. Ia selalu bilang: "Ayo No, mendingan lu bikin novel. Salurkan perasaan lu jadi hal positif. Lu pasti bisa." Ia bilang berulang-ulang dengan sangat bawel.

Rona, yang 'mengasuh' saya saat patah hati. Memaketkan novel-novelnya dari Bekasi sana, supaya saya punya cukup bahan bacaan penghilang bete. Memberi banyak waktu di sela-sela angka-angka di laporan akuntingnya untuk mendengarkan saya curhat, merengek, bahkan marah-marah. Rona juga yang memberi beberapa masukan untuk novel saya, terutama untuk plot 'menyatukan kembali Abe dan Reina.'

Menyenangkannya di bagian mana, hayooo?

Oh, 80 hari menyelesaikan novel ini memberi pengalaman yang bisa jadi pembelajaran untuk menulis novel berikutnya. Pengalaman itu sangat berharga. Iye tak? :)

Novel Selamanya Cinta sudah beredar di toko-toko buku Gramedia, guys. Untuk sementara baru wilayah Jakarta dulu, ya.

Saya tidak menjanjikan novel ini akan menjadi masterpiece. Saya cukup tahu diri dengan kemampuan saya sendiri. Saya juga tidak akan (sok) merendah dengan menyebut novel ini tidak memuaskan dan kurang bagus. Karena itu sama saja meremehkan semua orang yang ikut andil menjadikan novel ini ada. They are the best team.

Sekarang, saya sedang bersiap-siap untuk proyek kedua. Next will be better!


cover novel Selamanya Cinta


regards,

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, February 29, 2012

Selamanya Cinta: Behind The Pages #2

Day 13. Lancar Jaya


Hari ini berhasil menulis sampai sekitar 5-6 halaman gitu deh. Alhamdulillah yah, sesuatu banget.
Udah benar-benar tau apa yang mau dimasukin, penggalan postingan yang mana dan tambahan ceritanya seperti apa. Kalau besok bisa lima halaman lagi, kali 30 hari aja udah 150 halaman! Hihihi... Itu mungkin udah ending ya...


Ini proyek 30 hari yang gila! Gue nulis novelnya dari nol, meskipun dibantu postingan yang ada, itu cuma selipan.


Ini jadi tantangan buat gue. Bisa nggak ya? Kayaknya sih nggak 30 hari deh. Pasti molor jadi 2 bulan wahahaha...

- a post from Hidden Galaxy, my private blog -

....................

Sesungguhnya saya benar-benar tersandung-sandung waktu menulis novel Selamanya Cinta ini. Terlebih karena saya sedang muak dengan banyak hal, dan galau karena patah hati. Hati saya ketika itu masih berdarah-darah, sampai-sampai blog privat yang harusnya tentang penulisan novel ini pun ternoda oleh beberapa paragraf 'drama' patah hati itu.

Untungnya editor saya, Iwied, sabar dan pengertian. Tidak bawel bertanya-tanya, menggubrak-gubrak supaya cepat selesai, apalagi ketika saya melewati tenggat sebulan yang awalnya saya janjikan.

Sempat lho, dalam perjalanan menulis ini, saya malah terus-terusan mundur ke bab-bab awal untuk memoles ini-itu. Jalan ceritanya malah nggak berkembang, sampai saya bosan sendiri baca adegan yang itu-itu saja. "Habis ini mereka ngapain?" Pertanyaan itu jawabannya blank. Saya cuma bengong sendiri. Hahaha.

Dari outline yang saya kasih ke Iwied, yang juga dibaca editor Gagasmedia, Gita, mereka kasih input supaya chemistry Reina dan Abe lebih greget lagi. Iwied berkomentar, tokoh dalam novel saya banyak sekali. Akhirnya, dalam proses penulisan, saya hilangkan beberapa tokoh yang tidak penting, saya sederhanakan beberapa relationship, dan saya potong beberapa kisah yang tidak terlalu berpengaruh dalam kehidupan tokoh utama.

Jadi agak berbeda dengan outline awal sih. Alhamdulillah, editornya nggak protes :D

Seperti kata Mbak Clara Ng, salah satu penulis kesayangan saya, di sharetwit-nya: alur cerita harus berjodoh dr awal, tengah, dan belakang. Semuanya hrs kait-mengait, bersebab-akibat. Cerita memang diketik dgn proses maju, tapi persiapannya bergerak mundur. Pertanyaan "kenapa, bagaimana bisa begini?" merujuk pd awal.

Saya setuju.

Dan seperti saya tulis dalam posting sebelumnya, bagian yang sulit adalah memilah-milah sekian posting Kisah Abe yang sudah ada itu untuk dimasukkan ke dalam bab demi bab yang berbeda. Saya harus pisah-pisahkan setiap potongan cerita itu ke dalam waktu yang berbeda: saat mereka kelas 10, 11 dan 12. Baru setelah semua posting yang pernah di-publish di blog sudah masuk ke dalam kerangka cerita, saya membuat adegan-adegan baru, juga episode ketika tokoh utama sudah lulus SMU.

Mas M. Faizi, salah satu penyair favorit saya, pernah bilang, saya cocok menulis novel petualangan. Saya belum tanya, kenapa dia berpendapat begitu. Tapi sepertinya ada benarnya juga, tanpa saya sadari, waktu saya menulis novel Selamanya Cinta, di paruh akhir draft tiba-tiba saja saya menambahkan adegan tegang ala novelnya James Paterson (halaaah!), padahal di outline sama sekali nggak ada.

Supaya tidak lupa pada poin-poin penghubung antar adegan, saya menuliskannya di kertas post-it dan menempelkannya di cermin, karena saya memang lebih pe-we menulis di meja rias (sambil ngetik, sambil ngaca--ganjen). Ini bisa jadi tips juga untuk kalian yang sedang mencoba menulis novel atau cerita pendek, guys. Karena sering melintas ide untuk narasi, dialog, penajaman atau tambahan adegan yang sayang kalau tidak segera dicatat. Jadi, siapkan kertas post-it di sebelah laptopmu, oke ;)

Ini contoh catatan di post-it saya:
Notes:
Di Bagian I paragraf awal, deskripsi setting kurang lengkap!
Chemistry Abe dan Reina kurang!
Karmel adalah teman sebangku Reina!
Post-it yang lain:
Penajaman
Karakter Reina lebih di-riangkan
Bahasa jangan terlalu gaul, lebih dewasa, bukan teenlit. 
Membalas kematian Teddy, Abe tawuran. Ditahan polisi, lalu pindah sekolah ke swasta (padahal udah dekat kelulusan). Setelah itu Na dan Dinda tidak lagi mendengar kabarnya sampai mereka kuliah.
Masih banyak post-it yang lain lho. Fyuh! :D

Saya  bilang ke Lita, dalam komen saya di blognya kemarin, bahwa saya punya motivasi menyelesaikan novel ini setelah Iwied 'menodong' saya hari itu. Motivasi itu adalah sembuh dari rasa sakit hati. Menunjukkan kepada orang yang sudah menyakiti saya bahwa saya tetap maju tanpa dia. Saya ingin mengejek dia dengan cara yang elegan.

Menulis novel ini, dalam waktu 80 hari, membuat saya terengah-engah karena mengumpulkan kenangan masa sekolah yang sudah lama berlalu. Meskipun nggak pede dengan hasilnya, saya cukup puas. Menulis di majalah dan punya buku sendiri adalah mimpi saya sejak masih TK, waktu pertama kali bisa membaca. Amazing, saya bahkan masih ingat pernah bilang pada Ibu, "Retno mau bikin buku sendiri, nanti kalau sudah gede ya Bu..."

Menulis di majalah sudah kesampaian, saya pernah menjadi jurnalis dan sampai sekarang masih menulis lepas. Dan sekarang... jeng jeng! Saya akhirnya punya buku sendiri!

So, thanks to Iwied yang menjadikan tulisan saya lebih mengalir, thanks to Gita yang ikut membaca outline, thanks to Bukune, yang memberi saya kesempatan dan kepercayaan menulis novel ini. Thanks to teman-teman blogger yang selalu memberi semangat dan masukan, terutama karena ikut jatuh cinta sama Abe.

Writing Selamanya Cinta... was such a hard journey with the broken heart, tears, sadness, and 'galau', hahaha...

xoxo,

Image and video hosting by TinyPic

Friday, February 24, 2012

Selamanya Cinta: Behind The Pages

Reina adalah seorang gadis dengan penampilan sederhana. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, berpipi chubby dan rambut sebahu yang diikat ekor kuda tinggi di atas kepala. Kulitnya putih, agak pucat. Gayanya agak tomboy dengan sepatu keds dan tas ransel, juga jam tangan plastik besar berwarna hijau metalik. Identik dengan sapu tangan handuk yang terselip di saku rok dan berguna di segala situasi. Cerdas tapi kompleks. Suka berteman tapi juga suka menyendiri. Terkadang naif dan tergila-gila pada prinsip. Membenci pelajaran olahraga dan tidak bisa berenang.

Abe juga berpenampilan sederhana, kecuali sepatunya. Sepatu basket keluaran terbaru yang bahkan belum beredar di Indonesia. Atlet basket sekolah, jangkung dan badung setengah mati. 
Cuek tapi sensitif. Suka merokok di belakang sekolah. Langganan dipanggil guru BP dan kepala sekolah, tetapi sangat cerdas dan sehingga selalu dimaafkan. 

-dirangkum dari outline novel Selamanya Cinta-


.............


Tidak terlalu sulit mereka-reka penampilan dua karakter utama dalam novel saya. Saya punya banyak model untuk Reina, termasuk diri saya sendiri (hehehe), dan khusus untuk tokoh Abe, saya membayangkan Yoo Ah-in, aktor Korea yang selama ini jadi ikon dalam serial Kisah Abe versi blog.

Kesulitan pertama adalah menyusun ulang postingan-postingan Kisah Abe yang sudah dipublish di blog ke dalam kerangka cerita novel. Seperti main puzzle, tapi ini bukan potongan gambar, melainkan potongan cerita. Tidak sekedar menempatkan potongan-potongan kisah itu di tempat yang benar, karena harus pakai logika sambil membangun alur cerita.

Kesulitan selanjutnya, dan ternyata yang terbesar adalah di awal melangkah, ketika harus menulis paragraf pertama. Seminggu pertama saya lebih sering bengong menatap monitor lappy, dan akhirnya malah memilih main game online. Padahal saya sudah kadung janji pada editor, novel ini akan selesai dalam waktu sebulan. Tetapi begitu menginjak bagian kedua, perjalanan saya menulis tidak lagi tersendat-sendat seperti sebelumnya.

Membangun mood juga sulit sekali. Apalagi waktu mulai menulis novel ini saya baru saja patah hati. Hehehe.

Akhirnya, novel ini memang baru selesai setelah lebih dari sebulan. Dalam jurnal privat itu tercatat 80 hari. Hampir tiga bulan! Tapi memang sebatas itulah kemampuan saya.


-bersambung-


Image and video hosting by TinyPic

Sunday, February 19, 2012

Coming Soon My Novel!

Saudara-saudara setanah air,

Akhirnya tibalah saatnya bagi saya untuk memberitahukan bahwa novel kisah Abe sedang dicetak oleh Penerbit Bukune. Judulnya bukan lagi Kisah Abe seperti versi blognya. Berdasarkan pertimbangan, akhirnya berjudul "Selamanya Cinta."

Kalau dalam versi blog, apa yang saya tulis hanya berupa penggalan-penggalan kenangan, potongan-potongan adegan. Maka, dalam versi novel saya menjahitnya menjadi sebuah cerita utuh yang memiliki prolog dan ending. Tentu saja saya merangkainya dengan imajinasi demi kenikmatan membaca dan kesyahduan suasana. *mulai nggak jelas*

Hehehe....

Ini tentang dua sahabat, Reina dan Abe. Yang satu jatuh cinta diam-diam, satu lagi malah sibuk naksir cowok-cowok lain. Yang satu menodai masa abegenya dengan kegalauan cinta, yang satu lagi sibuk menyangkal perasaannya sendiri. Sebuah peristiwa tragis yang berujung maut semakin menjauhkan keduanya. Bertahun-tahun setelah itu, ketika yang satu mulai pasrah, yang satu lagi mencoba menyiasati takdir supaya mereka bisa bersatu.

Berhasil nggak? Baca aja ya novelnya. Endingnya kemungkinan menimbulkan gumaman 'eh?'
Hehe...

Yang jelas, berhubung banyak yang bertanya ke saya, terutama teman-teman yang lebih muda, soal apakah saya pernah jatuh cinta sama sahabat sendiri (bahkan sampai konsultasi segala hihi), novel ini bisa jadi jawaban buat yang bertanya: "terus harus gimana yaaa?"

Ehm... trus buat yang belum pernah ketemu saya secara langsung alias kopdar, atau belum sempat 'ngefren' di FB personal saya yang lama (yang sudah deactivated), maka di novel ini akhirnya kalian akan melihat muka culun saya. Horeee!

Saya tidak lagi memamerkan foto-foto kaki saya yang seksi. Muka culun saya akan terpajang dengan kepercayaan diri yang prima. Jadi, buat yang terlanjur mencap saya cantik, jelita, ayu, beautiful maupun kece, barangkali harus menurunkan pujiannya.... sedikit aja, menjadi manis, keren, imyut, unyu, atau berkharisma, bolehlah! *pret*

Kalau mau pre-order biar sekalian saya kasih cap jempol (kaki), boleh...
Pesan di kotak komentar posting ini, silakan. Tapi lebih afdol japri di ...
E-mail: bidadari_jatuh@yahoo.com
Twitter: @kireinaenno
Fan page blog ini: di sini

By the way, saya belum bisa kasih tahu harganya. Kemarin lupa nanya ih sama editor saya. Maklum, sama-sama orang sibyuk geto. Dia sibuk dikejar-kejar deadline, saya sibuk ngurusin pabrik. Nanti saya update harganya ya. Hayo, dibujet dulu aja dari sekarang hihihi...

Oke, ini dia penampilan covernya. Jeng jeng!



Begitu dikirim editor saya via e-mail, saya langsung suka dengan ilustrasi dan warnanya. Saya suka ilustrasi yang berkaitan dengan rumah. Entah pintu, jendela atau perabotan. Kesannya hommy. Nyaman. Pulang.
Lalu warnanya coklat pula, tambah terasa hangat kan? Yang mendesain sampul, namanya Gita Mariana. Thanks ya Mbak Gita *sok akrab* wkwkwk

The last but not least, guys, pokoknya kalian harus beli yaaaa... 

*wink*

Image and video hosting by TinyPic

Thursday, June 16, 2011

Aloha! A Quick Update

Halo lagi, teman-teman!

Flu saya berangsur-angsur sembuh. Iya sih, suara saya masih mirip anak bebek. Yang penting hidung sudah tidak disumpal tisu. Saya cuma mau 'ngerumpi' sebentar dan mengucapkan terima kasih lagi.

Terima kasih yaaaa sudah menyambut dengan begitu gembira 'hanya' karena saya memutuskan menulis blog lagi. Sini peluuuuk! Padahal tadinya saya sudah memutuskan akan menulis di blog privat untuk dibaca sendiri, dan di buku diary yang disimpan di lemari, yang akan dibaca anak-cucu saya kelak.

Sekarang ini saya sedang mengerjakan proyek pribadi (dan satu proyek berdua yang kayaknya bakal asyik banget). Jadi mohon maklum kalau tiba-tiba belum ada tulisan baru di sini ya, hehehe. Saya lagi ngebut soalnya.

Nah, seperti Jeng Maya pernah bilang, sepertinya saya harus bersyukur karena huru-hara kemarin itu membawa hikmah. Jadi, thanks ya mbak-mbak dan mas-mas yang mencuri tulisan saya. Tapi siap-siap juga ya saya tuntut Rp 5 miliar. Hehe.

Saking (masih) geramnya saya sama para maling itu, saya ikutan daftar tools protektor anti plagiat berbayar, DMCA Protector. Trackingnya oke banget. Ada versi gratisnya juga kok. Tracking record terbaru saya beberapa hari yang lalu memunculkan lagi beberapa laman blog yang menampilkan jiplakan tulisan saya. Sigh! Nggak habis-habis! Pelakunya bahkan sampai merambah ke negeri jiran. Wah, saya sampai bingung. Mau jengkel atau terharu ya, sampai orang sana ada yang 'mengagumi' tulisan saya? Pret! Untungnya setelah saya tegur, post tersebut dia hapus. Good.

Ng.. masih menyangkut soal ini, saya bikin page 'DISCLAIMER' di head bar. Coba lihat deh. Kata yang udah baca, gahar banget! Ya harus, dong. Saya kan nggak mau dijiplak terus-terusan. Hehe.

Oh iya! Hadiah kuis dari Sheila Publishing sudah sampai lho. Thanks ya buat teman-teman di Sheila! Novel Lajang & Nikah yang ditulis Okke Sepatu Merah dan Nita Sellya! Saya suka Okke, suka novelnya, suka main ke blognya.

Saya juga sedang membaca Lolita-nya Vladimir Nabokov (versi e-book, ada yang mau? klik di sini). Buat yang belum tahu, novel ini sejak dipublikasikan tahun 1955 sempat dilarang beredar di Amerika Serikat, karena mengisahkan jenis percintaan yang 'tidak normal', antara seorang profesor setengah baya (Humbert) dengan anak tirinya yang masih 12 tahun (Dolores a.k.a Lolita).

Meskipun berbau pedofilia, tapi novel ini oleh Time dianggap sebagai salah satu dari tiga novel yang berpengaruh di dunia. Nuansa psikologis tokoh-tokohnya kental sekali dan ditulis dengan gaya memoar.

Ternyata istilah 'lolita' atau 'loli' yang sekarang dipakai untuk menggambarkan anak perempuan di bawah umur gara-gara novel ini! Hayo cowok-cowok yang suka ngintip situs XXX pasti manggut-manggut.
*Kok kamu juga tau, No?*
Lho, malah nggak ada yang percaya kalau saya pura-pura nggak tahu :P

Oya, saya sekalian mau mengucapkan terima kasih buat Mei, silent reader blog ini, yang sedang kuliah di China. Dia kirim e-mail yang riang gembira, yang disisipi attachment foto seniornya, seorang cowok Korea ganteng. Katanya buat penyemangat saya supaya mau menulis lagi. Hmm... boleh juga. Ada yang mirip Lee Min-ho, nggak Mei? Hehehe...

Mei agak nelangsa blogging dan surfing disana. Soalnya pemerintah China memblokir website luar negeri dan menggantinya dengan konsep yang sama tapi buatan dalam negeri, yang otomatis isinya juga lokal sana.

Situs Youtube.com pengganti lokalnya adalah situs Youku.com. Kata Mei, nggak harus buffering saking cepatnya. Wah! Coba Indonesia bisa secanggih itu ya? ;)

Website luar masih bisa dibuka dengan software gelap, katanya. Tapi ada kalanya keamanannya benar-benar nggak bisa ditembus dan website luar China hanya tinggal khayalan.

Nah itu cerita dari Mei yang menambah pengetahuan saya betapa 'parno'nya Negeri Tirai Bambu itu terhadap pengaruh luar. Meskipun saya juga tahu kalau itu salah satu ciri pemerintahan komunis.

Oke, sampai sini dulu. Ocehan saya sudah selesai. Kalau panjang namanya bukan quick update lagi. Saya harus balik lagi ke pangkalan! Bumi memanggil!



pict from here^^

Ciao ^^
Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, May 31, 2011

Menulis Itu Gampang

Menulis itu gampang.
Masa sih?
Iya kok.

Banyak yang bertanya pada saya bagaimana caranya mulai menulis. Mereka melihat bahwa saya menulis apa saja. Dari hal-hal kecil sehari-hari sampai cerita horror. Kemarahan dan kekesalan di tangan saya bisa menjadi sebuah tulisan. Bahkan topik favorit saya, cinta, kadang-kadang hanya ditimbulkan oleh sebuah adegan kecil seperti melihat kupu-kupu yang hinggap di atas bunga, atau sebuah kenangan manis dari masa silam yang masuk ke dalam mimpi semalam.

Bagaimana caranya mulai menulis? Gampang kok. Tidak perlu harus mencomot ide, plot, judul atau kalimat-kalimat dari tulisan orang lain, seperti dari salah satu posting saya yang baru saya ketahui hari ini.

 Ini saya bagi langkah-langkahnya.
  • Mulai saja dengan banyak membaca. Bacalah apa saja. Membaca bisa membuka wawasan pikiran dan menimbulkan banyak gagasan di kepala. Membaca juga memberikan pemahaman bagaimana cara menulis dan menambah perbendaharaan kata, menambah pengetahuan tentang ejaan yang disempurnakan dan penggunaan tanda baca yang benar.
“Menulis dengan tanda baca yang kacau sama saja seperti naik angkot dengan sopir yang tidak bisa menyetir,” kata novelis Clara Ng di status twitternya.

Menurut saya, orang yang hobi membaca sebenarnya bisa menulis asal mau mencoba dan berusaha. Sepupu saya Andara, adalah orang yang sama kutu bukunya seperti saya, tapi ia merasa tidak bisa menulis. Suatu hari saya melihat ia sedang mengerjakan tugas-tugas kantornya, menulis laporan dan membuat berbagai macam korespondensi bisnis. Saya takjub ia menulisnya seolah tanpa berpikir, tanpa draft, dan bahasa dalam tulisannya tidak perlu diedit. Itu bukti bahwa sebenarnya ia bisa menulis.

  • Bagaimana mencari topik? Tidak perlu topik yang muluk dulu. Mulai saja dari hal-hal kecil di sekeliling kita. Kehidupan sehari-hari dan perasaanmu sendiri. Saya berlatih dengan menulis buku harian sejak kelas lima SD.

Ada sebuah cara berlatih mudah yang biasanya saya terapkan pada murid-murid kecil saya, bahkan pada Andara. Menyodorkan sebuah kata yang harus dijadikan sebuah cerita minimal satu paragraf.

Suatu hari saya menyodorkan sebuah kata ‘layang-layang’ pada Andara. Ia mengomel meski akhirnya menulis juga. “Layang-layang di angkasa biru itu terbang melenggak lenggok dengan sangat anggun. Ia pasti melihat seluruh kota dari atas sana. Membuat aku penasaran dan ingin ikut terbang. Apa ya yang dilihatnya?”

Sebuah kata ‘teman’ saya sodorkan pada Salsa, sepupu saya yang masih kelas empat SD. Ia menulis, “Temanku Nadya memberikan boneka beruangnya padaku hari Senin. Aku senang sekali karena aku memang suka boneka beruangnya. Tapi aku tidak bisa memberinya gantungan kunci kesayanganku karena Nadya meninggal kemarin. Demam berdarah membunuh teman baikku.”

Well, good job kan?

  • Kadang-kadang saya mendengar komentar teman-teman tentang hasil tulisannya sendiri. “Ini kacau banget.” “Tulisan saya terlalu jelek buat dibaca orang.” “Kok saya nggak bisa sebagus kamu?”
Well guys, jangan berharap tulisan kalian langsung sempurna begitu selesai ditulis. Begini nih caranya. Setelah tulisan selesai, baca ulang. Endapkan dalam hati. Perhatikan bagian mana yang tidak perlu ada, bertele-tele atau terlalu lebay. Endapkan lagi, kalau perlu satu hari. Kemudian baca lagi, perhatikan lagi adakah alurnya terlalu ganjil, atau ejaannya dan tanda bacanya salah? Jangan ragu mengubah atau menambah jika menemukan ide baru yang lebih menarik dan tepat.

Revisi itu perlu. Benar sekali kalau ada yang bilang bahwa saya mempersiapkan tulisan saya dengan matang. Meski cuma sebuah tulisan di blog, saya mempersiapkan judul dan topiknya beberapa jam sebelum ditulis. Menghabiskan hampir satu jam lagi untuk dibaca ulang dan direvisi.

  • Salah satu kunci sebuah tulisan (jika berupa diary, cerita pendek atau novel) adalah DIALOG. Bagaimana cara mendapatkan dialog yang hidup? Saya biasanya memvisualisasikan adegan yang saya tulis itu di kepala. Sehingga saya seolah-olah mendengar sendiri percakapan para tokoh itu, atau kadang-kadang menempatkan diri menjadi salah satu tokohnya.

Salah satu yang paling saya nikmati dalam menulis cerita adalah membuat dialog. Dengan dialog, saya bisa membantu pembaca mendapatkan gambaran lebih nyata dari sebuah cerita. Dialog juga secara tidak langsung memberikan pemahaman karakter para tokoh, tanpa harus susah-susah menguraikannya dalam kalimat yang njlimet dan malah membuat bosan pembaca.

  • Setiap kali memulai sebuah tulisan atau cerita, saya mempersembahkannya untuk diri sendiri. Menulis untuk saya baca dan nikmati, untuk mengabadikan sebuah kenangan atau gagasan. Saya tidak pernah menulis untuk dipuji, dikagumi, atau supaya terkenal. Saya juga tidak pernah menulis dengan pemikiran komersil.

Menulis dengan egois selalu tumbuh dari rasa cinta. Cinta terhadap kegiatan menulis itu sendiri. Saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa menulis. Writing is my life. Writing is my passion. Rasa cinta akan membuat tulisan kita tulus dan indah. Tulisan dengan usaha sendiri, bukan hasil plagiat atau penjiplakan. Tulisan yang seperti itu dinikmati dan disukai orang lain, dan pada akhirnya akan memberikan nilai jual dengan sendirinya.

  • Jangan lupa latihan. Semua penulis mencapai keahliannya merangkai kata dengan berlatih. Latihan menuangkan gagasan di kepala menjadi rangkaian kalimat yang bisa dipahami orang lain. Kadang-kadang memang dibutuhkan dorongan hati, tapi kadang-kadang kita butuh kedisiplinan. Setiap orang punya waktu luang favorit untuk menulis. Kalau saya, ide menulis biasanya muncul di pagi atau sore hari.

Semua tips itu tidak datang dengan sendirinya. Saya juga banyak belajar dari para penulis terkenal, terutama JK Rowling, penulis novel Harry Potter kesukaan saya. Beberapa dari tips di atas itu dia yang kasih tahu lho :)

Ada beberapa kesamaan di antara saya dan Miss Rowling, yakni suka menulis ide, potongan dialog atau deskripsi tokoh di sehelai kertas apa saja yang bisa ditemukan saat itu. Ia juga selalu menulis untuk dirinya sendiri.

Oke guys, menulis itu gampang. Saya berharap, setelah ini tidak ada lagi yang mengambil plot, judul atau bahkan kalimat per kalimat dari tulisan orang lain (karena jika tidak ditulis sumber atau referensinya sama dengan menjiplak).

Buat kamu yang di sana itu, sayang sekali kalau kamu menghancurkan potensimu  dengan menjiplak karya orang lain. Jadi diri sendiri lebih keren. Percaya deh...

Baydewey, ada yang mau nambahin tipsnya? Silakan lho ^^

pict dari sini

Image and video hosting by TinyPic

Thursday, March 3, 2011

Ucup & the Samurai

Malam ini saya bercerita tentang Musashi pada si Ucup. Topik itu muncul begitu saja ketika ia bilang boss-nya yang sekarang berkebangsaan Jepang juga seperti Kenzo. Dengan iseng saya bertanya, di kantormu nggak ada ya orang Jepang yang kayak tokoh Jepang kesukaanku, Musashi?

"Siapa sih dia?" Tanyanya dengan sangat naif, di sela-sela mengerjakan laporan yang bikin dia pusing dan kelaparan (ngomong-ngomong, tanpa harus mengambing hitamkan pekerjaannya, dia memang selalu kelaparan setiap waktu).

Lalu berkicaulah saya tentang siapa itu Musashi, yang novel fiksinya karya Eiji Yoshikawa saya baca waktu saya masih SMA . Lalu saya baca lagi waktu masih kuliah. Saya baca lagi waktu sudah bekerja. Entah berapa kali novel itu saya baca, dan saya tidak pernah bosan. Ingat kan kelakuan saya kalau menyukai sesuatu? Hehehe

Miyamoto Musashi, kata saya pada si Ucup (yang sibuk mengkhayalkan nasi, telur, ikan dan ayam goreng), adalah samurai hebat pada zamannya. Novel karya Eiji Yoshikawa itu memang fiksi, tapi tokoh Musashi benar-benar ada. Ia samurai dan ronin legendaris di Jepang, yang hidup di abad pertengahan. Bahkan buku karyanya yang berjudul Go Rin No Sho (Lima Cincin) dijadikan rujukan oleh peneliti Barat untuk mengenal kejiwaan dan pola pikir masyarakat Jepang. Sebenarnya buku itu merupakan buku seni perang yang berisi strategi perang dan metode duel.

Saya kasih Ucup link ini. Buat yang belum tahu dan belum pernah baca novel Musashi, bisa ikut ngintip tentang siapa Musashi di rumahnya Mas Wiki ini. Atau mau tanya Kenzo? Jauh, kelamaan. Sudah, tanya Mas Wiki deh...

"Jangan ngaku suka baca buku kalau belum baca novel Musashi," kata saya pada si Ucup (yang khayalannya beralih pada mie rebus pakai telur). Dan seperti biasa, promosi saya membuahkan hasil (sepertinya saya berbakat jadi sales promotion girl deh). Si Ucup langsung tertarik.
"Tapi kapan aku ketemu toko buku?" Keluhnya. "Aku dimana, toko buku dimana."
Yah, memang nasibmu malang hidup di tengah hutan rimba tempat jin buang anak, Cup.
"Ya sudah catat aja dulu. Nanti belinya kalau kau lagi ke kota."
"Ya udah, kucatat dimana ya?"
"Jangan di otakmu! JANGAN! Aku nggak percaya sama otakmu yang pikun itu!"
"Hahaha. Di hape, Mok!"

Akhirnya saya putuskan mencarikan dia e-book novel itu daripada mengandalkan otaknya yang Pentium 1 itu.
"Gitu dong," serunya girang. "Thanks ya Mok."

Jadi malam ini, saya masih berselancar di dunia maya dan menulis ini sambil mengunduh novel Musashi untuk si Ucup. Saya juga mengunduh e-book novel Taiko, kisah epik para shogun dan samurai yang juga ditulis Eiji Yoshikawa. Benar-benar heran saya, si Ucup yang suka buku sama sekali tidak pernah mendengar dua novel ini. Padahal ini novel lama, klasik dan terkenal.

Dulu waktu saya membeli edisi lamanya, kedua judul novel ini terbit dalam beberapa jilid. Novel Taiko bahkan sampai sepuluh jilid. Saat ini Gramedia mencetak ulang dua novel tersebut masing-masing menjadi satu jilid besar dan tebal, dan sampul lux karena memang dimaksudkan untuk edisi kolektor. Sama halnya seperti novel epik Indonesia yang sama legendarisnya 'Senopati Pamungkas'. Dulu terbit dalam beberapa jilid, sekarang terbit lagi dengan edisi kolektor.

By the way, ada yang belum pernah membaca novel Musashi dan Taiko juga? Kalau begitu saya komporin lagi deh. Baca ya, baca! Hehehe...

Ini link untuk mengunduh e-booknya!
__________________

Hans akhirnya menonton film Apocalyto juga berkat promosi saya! Dan benar kan filmnya keren, Hans? Dia sampai tulis itu di blognya. Silakan baca nih, karena ia menyebut-nyebut nama saya lho hahaha...
Yay! Saya memang SPG sejati!

*LOL*





Image and video hosting by TinyPic

Monday, January 21, 2008

Hi God, Can You Hear Me?

Gue baru selesai baca kumpulan cerpen seorang anak umur 16 tahun, Regina Pernong, yang judulnya Hi God, Can You Hear Me?

Buku yang amazing karena isinya nggak ABG sama sekali. Anak ini dengan gamblang bisa cerita tentang bunuh diri, perselingkuhan, pembunuhan, pelacuran, lesbian, incest… Wow! Kalo nggak disebutin dia baru 16 tahun, pasti pembaca mengira penulisnya udah dewasa.

Cara bertuturnya kadang memang agak berpanjang-panjang. Tapi juga lugas dan ada kedalaman pemikiran disana. Kok bisa ya anak 16 tahun mikirnya kayak gini, itu yang terlintas di benak gue saat membaca buku ini. Ini sama sekali bukan tulisan yang beraliran pop dan bertema cinta monyet, seperti lazimnya cara penulis seumurnya mengekspresikan idenya. Gaya tuturnya mirip-mirip Djenar Mahesa Ayu.

Ini kutipan dari cerpen yang judulnya Titian Semu: Perjalanan dari Masa Lalu.

Bisakah kau lihat sekarang? Dia yang di sana, itulah dirimu, wanita buncit yang sedang mengikatkan tali di tembok atas. Wanita yang menangis sambil mengusap perutnya tapi tidak punya harapan lagi. Kau taruh kursi di bawahnya dan kau masukkan kepalamu ke dalam lilitan itu.

Kutipan cerpen Nyanyian Bapak:

Dia sangat pintar. Kalau aku yang menindih orang pasti aku akan dijitak. Tapi ibu menindih orang dan menghasilkan uang. Kata tetangga, harusnya kita tidur dengan satu lelaki, yaitu suami sendiri. Kalau tidur dengan banyak lelaki mereka sebut itu melacur. Ibuku melacur, karena itu aku disebut anak pelacur. Aku tahu itu hinaan. Tapi kuanggap sebagai cobaan Tuhan. Karena aku tahu melacur itu punya arti baik. Selama ibuku yang melakukannya.

Tapi favorit gue cerpen yang judulnya Nama Saya…
Gue ketawa baca cerita ini. Lumayan kocak.

“Nama?”
“Syahfwat.”
“Apa? Syahwat?”
“Syah-fwat. S-y-a-h-f-w-a-t.”
“Nama kok aneh-aneh.”
PLEK. Terdengar bunyi stempel yang ditekan di selembar paspor.

Petugas imigrasi kelautan: “Neng Jamaleth dulunya lelaki ya?”
Saya: “Lohhh? Kok bisa bertanya begitu?”
Petugas imigrasi kelautan: “Habis di kampung saya ada juga yang namanya Jamal terus dia pergi ke luar negeri buat operasi jadi wanita. Eh, Neng teh bukan Jamal yang sudah jadi wanita kan?”
Saya: “Hahhh?????”

Gue kepingin suatu saat si sulung bisa berkembang kayak gini. Banyak cerpen-cerpennya yang bagus, tapi masih sepotong-sepotong karena keburu gak mood atau bosan. Sekarang sedang gue kasih semangat supaya diselesaikan. Alhamdulillah katanya sudah ada yang selesai. Kemaren ayahnya cuma kirim puisi-puisinya dan waktu gue tanya mana cerpen-cerpen anaknya, dia bilang si sulung nggak kasih tau untuk kirim cerpennya juga. Ah dasar…Padahal gue penasaran pengen liat dia sudah semaju apa.
Kalo puisi-puisinya sih sudah banyak kemajuan.

Uh, ambil sendiri ke Jogja aja lah!

Friday, January 4, 2008

Alice di Negeri Ajaib

-Jabberwocky, by Lewis Carroll-

'Twas brillig, and the slithy toves
did gyre and gimble in the wabe.
All mimsy were the borogoves,
And the mome raths outgrabe.
"Beware the Jabberwock, my son!
The jaws that bite, the claws that catch!
Beware the Jubjub bird, and shun
the frumious Bandersnatch!"
He took his vorpal sword in hand:
Long time the maxome foe he sought-
So rested he by the Tumtum tree,
And stood a while in thought.
As in uffish thought he stood,
The Jabberwock, with eyes of flame,
Came whiffling through the tulgey wood,
And burbled as it came.
One, two! One, two! And through and through
The vorpal blade went snicker-snack.
He left it dead, and with its head
He went galumphing back.
"Has thou slain the Jabberwock?
Come to my arms, my beamish boy!
O frabjous day! Calloh! Callay!
He chortled in his joy.
'Twas brillig, and the slithy toves
Did gyre and gimble in the wabe:
All mimsy were the borogoves,
And the mome raths outgrabe.

***
Swimming

Gue tumbuh bersama dongeng Alice di Negeri Ajaib yang di negerinya Eyang Ratu Elisabeth II berjudul asli Alice’s Adventures in Wonderland, tapi baru kemaren gue nyadar kalo penulisnya adalah laki-laki. Duh, dasar bloon. Kemane ajeee…?
Iya lho, padahal jelas-jelas gue tau penulisnya namanya Lewis Carroll. Lewis kan nama cowok. Kecuali dalam otak gue yang terbayang ejaannya adalah Louise Carol? Bisa jadi gue terjebak.

Gara-garanya gue baca artikel soal Alice di Ruang Baca Koran Tempo edisi 30 Desember 2007. Disitu dibahas soal si Carroll tersebut diatas. Deeeuuhh.. ternyata dikau adalah laki-laki ya hehehe…

Alice and Catterpillar

Tentang Carroll
Nama aslinya Charles Lutwidge Dodgson, lahir 27 Januari 1832 di sebuah desa kecil Daresbury, Cheshire, Inggris. Dia anak ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya seorang pendeta.
Selama bersekolah di sebuah sekolah khusus anak laki-laki, Richmond Grammar School, Dodgson kecil mulai menulis cerita untuk majalah sekolah. Tetapi di sekolah itu dia pernah disiksa oleh murid lain – sebuah pengalaman yang mungkin menjelaskan preferensi kehidupannya atas gadis-gadis kecil.
Alice di Negeri Ajaib awalnya terinspirasi dan ditulis untuk sahabat kecilnya, Alice Liddell, puteri dosennya. Awalnya berjudul Alice’s Adventures Underground. Novel itu selesai tahun 1864, tapi tidak pernah diterbitkan. Namun novel tersebut menjadi dasar bagi novel Alice’s Adventures in Wonderland yang terbit setahun kemudian. Nama samaran Lewis Carroll sendiri sudah dipakai Dodgson sejak 1856. Tahun 1875, sekuelnya berjudul Through the Looking Glass terbit.
Selain sebagai penulis, Dodgson juga dosen matematika dan menekuni fotografi dan menjadi fotografer kenamaan.
Mulai 1930-an, novel Alice banyak mendapat perhatian para kritikus sastra dan psikoanalis. Novel ini dianggap mencerminkan budaya masyarakat Inggris kala itu (abad 19). Alice dialihkan ke dalam berbagai bahasa, selain itu diadaptasi untuk layar lebar, acara televisi dan lagu. Begitu juga puisi berjudul Jabberwocky yang ada dalam novel itu diterjemahkan, meski dengan susah payah. Masalahnya, Dodgson menggunakan istilahnya sendiri dalam menyusun puisi itu.
Namun di balik kesuksesannya, beberapa psikoanalis menafsirkan karya hebatnya sebagai cermin dari orientasi seksual Dodgson yang menyimpang. Unsur-unsur kekerasan dan sadistik dalam novel Alice dianggap sebagai produk neurosisnya.

White Rabbit

Dodgson yang melajang sampai akhir hayatnya, digunjingkan sebagai pedofil heteroseksual yang mengoleksi gadis-gadis kecil sebagai ‘boneka.’
Mundurnya Dodgson dari dunia fotografi dikaitkan dengan gosip foto telanjang gadis di bawah umur. Setelah 1880, dia melanjutkan menggambar mereka telanjang.
Namun orientasi seksualnya itu dianggap menjadi pembangkit motivasi bagi kreativitasnya.

Well, jadi sekarang gue tau apa sebabnya selama ini gue menganggap penulis Alice itu seorang perempuan. Karena, Dodgson memang sangat memahami dunia gadis-gadis kecil yang menjadi sahabatnya…Soal orientasi seksualnya? Whatever lah. Yang penting kan karyanya diakui sebagai karya yang hebat.
--------------------------------

First, she tried to look down and make out what she was coming to, but it was too dark to see anything; then she looked at the sides of the well, and noticed that they were filled with cupboards and book-shelves; here and there she saw maps and pictures hung upon pegs.

(Chapter One-Down the Rabbit Hole)

Catterpillar

Bagian satu yang tentang Alice melongok-longok ke lubang kelinci sempet bikin gue jadi tergila-gila sama segala lubang yang ada di tanah waktu masih kecil.
Kalo liburan di rumah Nenek dan main ke sawahnya, gue selalu menyempatkan diri melongok-longok segala lubang yang ada. Kadang-kadang itu bikin buruh-buruh tani yang lagi ngurusin sawah nenek gue teriak-teriak, “Neng, jangan kesitu, nanti ada ularnya!”
Retno kecil langsung merengut kecewa. Yaaaah… lubang ular! Kirain lubang kelinci. Hehe.

***
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...