There is no frigate like a book
To take us lands away,
Nor any coursers like a page
Of prancing poetry.
This traverse may the poorest take
Without oppress of toll;
How frugal is the chariot
That bears a human soul!
(Emily Dickinson,
A Book)
.......................
Sejak menginjakkan kaki di Terminal Lebak Bulus, saya sudah bertekad menyisihkan satu hari khusus untuk nongkrong di toko buku. Itu ritual wajib saya waktu masih tinggal di Jakarta.
Maka, pagi-pagi saya sudah mandi dan bersiap. Gramedia Matraman adalah favorit saya, tetapi saya juga kangen Gramedia Blok M. Karena setiap hari, sepulang kerja malam-malam, saya selalu mampir ke sana sampai waktunya tutup dan satpamnya menyuruh saya pulang dengan sopan. Hehehe.
Saya langsung ke rak Novel Indonesia, dan kali ini benar-benar melihat dengan mata kepala saya sendiri novel saya
Selamanya Cinta tersandar dengan manis di sana. Bangga? Hmm... bangga nggak sih? Kayaknya perasaan saya biasa-biasa saja. Sumpah, bukan sombong. Mungkin karena saya sangat-sangat terbiasa melihat majalah yang saya terbitkan dengan redaksi kami dulu terpajang di mana-mana. Di lapak-lapak, di toko-toko buku, di bandara, di gedung bundar Senayan ;)
Mungkin, seperti itu jugalah perasaan rekan-rekan jurnalis lain yang akhirnya menerbitkan buku sendiri. Senang, tetapi tidak eforia.
Novel saya ada di sebelahnya novel teman-teman penulis yang saya temui di Kelas Nulis Bukune. Jadi, saya comoti tuh buku-buku mereka, saya masukkan ke keranjang belanja di tangan.
Hey gals! Saya baca buku kalian lho! :D
Sambil berkeliaran melihat-lihat buku-buku, saya terkenang pada suatu masa. Seseorang berjalan di sebelah saya. Saya tarik-tarik tangannya ke rak fiksi, tetapi ia maunya ke rak buku-buku yang lebih serius.
"Ini bagus deh, kamu baca ya?" Saya menyodorkan novel Stephen King
Ia menggeleng. "Kamu itu kok sukanya fiksi horor sih? Baca ini nih, biar pinter." Ia menepukkan sebuah buku tentang IT ke jidat saya pelan.
"Idih! IT sih tinggal nanya aja sama kamu! Ini, kamu baca fiksi sekali-kali dong!"
"
I don't have much time, darling."
"Ah, hidupmu nggak menarik banget sih. Sediakan waktunya buat membaca dong." Saya jejalkan novel itu di keranjang belanja yang dijinjingnya dan sudah diberati oleh buku-buku serius pilihannya.
"Dasar tukang maksa."
"Tapi suka kaaan?" Saya cengengesan.
Buat saya, itu kenangan yang manis. Nggak tau deh kalau dia. Saya suka sorot matanya yang melembut saat menatap buku-buku. Karena sebenarnya dia juga suka buku seperti saya, hanya selera bacaan kami yang berbeda.
Saya suka ritual menarik-narik tangannya, pura-pura memaksa dia memilih buku di rak fiksi. Dan ia akan pasang tampang mendelik lebay kalau saya menyodorkan novel drama percintaan. Hahaha.
Saya kembali ke masa kini.
Menatap nanar ke buku-buku IT kesukaan dia. Mengambil satu judul tentang
hacking. Bagus sih, dan bikin penasaran. Tetapi, tanpa dia yang membimbing, saya malah akan bingung sendiri. Jadi saya letakkan lagi.
Di rak novel terjemahan, mulailah saya galau. Saya sedang mengincar
American Gods-nya Neil Gaiman. Wiih! Saya penggemar beratnya Om Neil, lho! Pertama kali membaca novelnya yang berjudul
Neverwhere. Lalu suatu hari
Rona cerita tentang novel bagus berjudul
Coraline dan
The Thirteenth Tale. Dia nggak bilang itu novelnya Om Neil, dan saya juga lupa. Karena di kaki gunung ini toko buku lengkap itu bagaikan mencari fosil dinosaurus di halaman belakang rumah (alias belum tentu ada), maka Rona dengan baik hatinya meminjami koleksinya, plus
The Anansi Boys juga. Saya langsung tergila-gila! Buat yang belum pernah baca novelnya Om Neil Gaiman, baca gih! Nggak rugi.
Kembali lagi ke soal galau, saya juga mengincar trilogi
The Hunger Games. Masalahnya ya, kalau mengikuti nafsu, saya pasti bakal beli 20 buku sekaligus. Bangkrut deh! Padahal saya kan punya rencana beli keril baru juga. Tau kan, harga keril berapa? Uhuk.
Jadi setelah mondar-mandir sekitar setengah jam dari
The Hunger Games ke
American Gods, saya putuskan beli
American Gods dulu.
Begitu saya keluar dari Gramedia... huaaaa! Sudah sore! Saya kelamaan nongkrong di Gramedia Blok M. Soalnya sempat membaca kumpulan cerita horor dulu, baca komik dulu, ngintip beberapa buku biografi yang bikin saya penasaran ..hehe...
Saya putuskan langsung ke toko perlengkapan
outdoor untuk membeli keril.
Jeng jeng! Yang jaga tokonya imut gitu mukanya. Layak jadi
cover boy deh :P
Saya jadi betah, ihik... Dia tanya, saya mau kemana beli keril baru. Saya bilang mau bekpeking dan telusur gua. Mimik mukanya seperti bilang 'wow'. Iya lah, saya lagi pakai busana agak feminin gitu. Kan nggak nyangka :P
Akhirnya, saya dapat keril yang 60 liter. Kata sepupu saya yang tukang manjat gunung (sampai ke Afrika malah), itu agak kegedean buat cewek.
Tapi keril lama saya 35 liter up to 40, dan rasanya nggak terlalu leluasa bongkar muatnya. Makanya saya beli yang lebih besar. Meskipun jadinya tekad saya untuk
traveling light alias bepergian dengan beban seringkas mungkin akhirnya gagal deh :))
Jadi begitulah. Hari itu saya dapat buku-buku dan keril baru. Besoknya saya keluyuran di Pasar Senen dan ngeliat hantu.
Tunggu part 3 ya...