Showing posts with label East Trip. Show all posts
Showing posts with label East Trip. Show all posts

Thursday, May 15, 2014

East Trip. Visiting The Old Beauty


Well, saya tahu kenapa mereka ngeliatin kami dengan tatapan heran campur nggak habis pikir.
Kami sedang memasuki gerbang sebuah hotel yang katanya berhantu.
Dan Tantri, dengan mantap dan tak ragu, begitu saja memasuki gerbangnya? Hahaha.

Kalau tadinya ada sedikit keraguan di hati saya (meskipun saya yang punya ide ini), tiba-tiba tidak lagi. Begitu memandang bangunan berlantai lima yang dicat warna merah pucat itu, semangat saya terhadap sejarah dan bangunan-bangunan kuno langsung menyala. Yes, kami berada di halaman Hotel Niagara, di kawasan Lawang, kota Malang. Kawasan Lawang ini mirip Puncak-nya Bogor. Dataran tinggi sejuk yang dikelilingi pegunungan dan perkebunan teh. Meskipun kesejukannya masih kalah dengan kawasan Batu sih.

Parkiran motor ternyata ada di sebuah beranda rumah lama, di sisi kanan bangunan hotel. Rumah itu berarsitektur sezaman dengan hotel, namun kumuh dan tampaknya agak terbengkalai. Bagian depan yang dijadikan tempat parkir tampaknya tidak terpakai. Berbeda dengan bagian sampingnya, yang tampak sedikit diwarnai 'kehidupan.'

Begini rencananya. Kami akan berpura-pura memesan makanan atau minuman, sambil melihat-lihat keadaan. Syukur-syukur kami bisa berkeliling tanpa harus menyewa kamar dulu.
Kami memasuki lobi resepsionis yang sangat sederhana. Tidak tampak keantikan di sana. Memesan minuman, dan kami dipersilakan menunggu di ruang makan, yang berada di balik dinding lobi. Begitu masuk, saya langsung tercengang. Barulah terasa keantikannya di mana-mana.

Itu adalah ruang makan yang tampak asli seperti zaman dulu kala. Dengan jendela-jendela lebar berkaca patri dan berlis lengkung. Langit-langit yang sangat tinggi, pintu ke bagian dalam yang lebar dan tinggi dari kayu jati terbaik (saya mengetuk-ngetuknya, terasa sangat padat dan tebal), dan terutama karena dinding-dindingnya menguarkan aroma masa lampau yang menerpa saya dengan suara musik klasik dari gramofon, denting alat-alat makan perak dan gelas-gelas kristal berisi anggur, dan gumaman percakapan dalam bahasa Belanda dan Mandarin.

Seketika itu saya langsung memutuskan. "Kita nyewa kamar aja deh. Biar bisa lihat-lihat bebas."
Selagi Tantri masih melongo, saya berjalan ke resepsionis dan memilih kamar. Harga kamar-kamarnya sangat mencengangkan. Murah sekali untuk ukuran bangunan semegah itu, antara 100-300 ribu. Saya pilih yang tengah-tengah, 125 ribu deh kayaknya, kalau nggak salah. Katanya kamar mandinya di luar. Ya nggak apa-apa. Malah lebih mirip aslinya. Sebab, saya pernah baca... asli zaman dulunya, semua kamar di hotel ini tidak pakai kamar mandi dalam. Kamar mandinya bersama, di lorong.

Habis itu, seorang petugas hotel cowok mengantar saya ke kamar, yang ternyata pintu masuknya menghadap ruang makan. Kirain di lantai atas hihihi...
Kami masuk dan voila! Kamarnya lumayan besar, dengan springbed modern yang nggak terlalu empuk. Langit-langitnya tinggi. Ada kipas angin berdiri, sofa panjang, meja sudut, dan meja lain yang di atasnya ada tivinya. Asyiknya, channel tivinya bagus. Nggak bersemut, meskipun siarannya lokal semua (nggak pake tivi kabel).

Kamar itu juga punya pintu kedua, yang pas kami buka bunyi deritnya mengerikan. Persis kayak di film-film horor! Hahaha... Begitu dibuka, ternyata langsung menghadap ke undakan teras samping, berhadapan muka dengan tempat parkir motor. Lalu di ujung lorong ada kamar mandi. Saya masuk ke sana untuk sekedar merasakan air (dan atmosfirnya). Airnya dingiiin, kayak air di rumah saya hihihi... dan bentuk baknya lucu. melingkar separuh bulatan, menempel di dinding. Dilapisi keramik hitam putih, dengan gayung plastik zaman sekarang warna oranye! What a colour! :))

Balik ke kamar, Tantri sedang gogoleran sambil mainan hape. Saya menyambar ransel yang berisi kamera di dalamnya. "Yuk, yuk!" Saya menggamit Tantri. "Kita liat-liat ke atas. Aku mau motret."
Dalam hati saya, saya nggak mau buang kesempatan menjelajah di hotel yang katanya berhantu ini. Lagipula hari masih siang. Nggak terlalu serem laaah hehehe...

............

Hotel Niagara ini dulunya adalah vila.pribadi milik keluarga Liem Sian Joe, pengusaha Tionghoa kaya pada era Hindia Belanda. Gedung ini dibangun tahun 1918 dengan rancangan arsitek Frits Joseph Pinedo, yang berkebangsaan Brazil. Baru selesai setelah 15 tahun kemudian. Inisial LSJ tertera di beberapa sudut bangunan. Ada di palang kayu dinding, tetapi yang jelas terlihat ada di kaca setiap jendela.

Baru tahun 1964, vila ini diubah menjadi hotel. Kepemilikannya juga sudah beralih dari keluarga Liem ke keluarga Ong. Namun, sejak itu renovasi hotel ini berjalan sangat lambat. Karena memperbaiki sebuah hotel dengan nilai cagar budaya yang tinggi butuh biaya sangat besar. Saya sih menduga, keluarga Ong ini sangat sadar sejarah, makanya mereka tidak merenovasi dengan membabi buta.

Saya melangkah ke atas, melalui tangga dengan pegangan besi yang anehnya bersih tak berdebu. Belakangan, saya tahu, ternyata para petugas hotel rajin mengelap susuran tangga dengan air dan sabun. Teladan banget! Padahal hotelnya sepi dan nyaris nggak ada tamu, tapi kebersihannya sangat dijaga.

Lantai dua masih belum ada apa-apa. Lantai ini masih merupakan lantai yang digunakan dan beberapa kamarnya disewakan. Tiba-tiba, kami berpapasan dengan seorang petugas hotel. Mas-mas yang tersenyum ramah, bahkan ketika melihat kamera di tangan saya. By the way, semua petugas hotel Niagara ramah-ramah. Setidaknya ke saya ya. Entah kalau ke orang lain, yang biasanya suka sengaja datang sok berburu hantu.

"Mau keliling, Mbak?" Dia nanya. "Mari, saya antar melihat-lihat."
Wow! Jelas dong, saya nggak keberatan! Kami ngikutin si petugas hotel itu menuju lantai berikutnya. Dan ia bahkan membukakan pintu kamar yang kosong, yang sedang tidak disewa, agar kami bisa melihat isinya.
"Memangnya tamu boleh melihat-lihat, ya Mas?" Tanya saya.
"Mbak kan tamu yang sewa kamar."
Oh... saya lantas ambil kesimpulan. Kalau nggak sewa kamar, tentunya nggak boleh sembarangan kelayapan di dalam hotel.

Si Mas menjelaskan tarif hotel, dan menunjukkan beberapa hal menarik di sudut-sudut hotel, antara lain gambar-gambar hewan yang tercetak di lantai. Saya memekik senang melihat seekor kupu-kupu di lantai ruang duduk, seekor harimau di lantai balkon, seekor anjing spaniel di lantai lemari penyimpanan barang. Dan seekor singa jantan gagah di dalam sebuah ruangan kecil, yang pintunya hanya selutut saya dan berupa pintu jeruji seperti sel.

"Lho, ini ruangan apa, Mas?" Ruangan dengan singa di lantai itu hanya cukup buat dua orang berdiri berdesakan.
"Dulunya ruang instalasi listrik, Mbak," sahut si Mas kalem. Saya membayangkan dulunya ada generator atau semacam itulah di ruangan sempit ini. Oke, bisa dipahami. Saya segera menutup kembali pintu jerujinya dan berdiri dari posisi membungkuk saat melongok ke dalam. Di pojokan ada sesuatu yang memperhatikan, saya abaikan saja.

Tetapi, mulai dari situ... saya mulai merasa sedang diawasi. Sebetulnya, nggak aneh kan. Setiap bangunan, yang lama pasti memiliki kehidupan lain yang tak terlihat. Jangankan hotel kuno seperti Niagara, di rumah setiap orang juga ada.

Kami menaiki lantai empat yang tidak digunakan. Sungguh mengenaskan keadaannya. Dinding yang catnya mengelupas, kamar mandi yang rusak, dan kamar-kamarnya dikunci. Ada satu kamar yang saya coba buka, dan memang terkunci. Yang pernah saya baca, kamar terkunci di lantai empat adalah kamar yang dpernah dipakai seorang nyonya Belanda bunuh diri. 

"Ini kamar apa, Mas?" Tanya saya.
"Ini tempat simpan perabotan pribadi pemilik hotel, Mbak. Makanya dikunci."
Oh. Mengertilah saya.

Lantai lima juga keadaannya tidak lebih baik. Namun di sini saya menemukan ballroom dengan kaca besar menghadap ke pemandangan pegunungan di kejauhan. Dulu, pastinya belum ada jalan raya dan deretan rumah penduduk serta toko-toko di depan jendela itu. Mungkin hanya pepohonan, rerumputan dan pegunungan. 

Oh iya. Hampir lupa. Yang paling diperhatikan pengunjung hotel Niagara adalah lift-nya yang kuno dan dijalankan secara manual dengan tuas yang digerakkan manusia (seperti di film-film barat lama). Sayangnya, lift itu sudah nggak bisa dipakai lagi. Kondisinya sudah rapuh dan membahayakan bagi pengunjung.

Halo

Saya mendengar orang berbisik tepat di telinga saya. Tak mungkin pura-pura tak mendengar. Suara itu suara perempuan yang lembut dan berlogat asing.
Wie ben jij? (Kamu siapa?)

Terdengar tawa halus. Oh, saya bisa bahasa Indonesia kok. Boleh mengobrol? Kebanyakan tamu di sini tidak bisa diajak komunikasi.

Tidak. Sahut saya dengan malas. Pandangan saya masih menatap ke luar jendela. Agar si mas pegawai hotel dan Tantri tidak melihat saya sedang 'ngomong sendiri'.

Cuma sebentar. Suaranya terdengar kecewa. Hidup di sini membosankan. Keluhnya.

Kamu nggak hidup. Balas saya. Lupa?

Oh jaa! Dia tertawa lagi. Suara yang normal, tidak menakutkan. 

Saya memutuskan kontak dan mengajak si mas dan Tantri pindah ke ruangan lain. Saya tidak menoleh dan sibuk berseru kagum, memotret dan tanya ini itu pada si mas pegawai.

Dari lantai lima, kami menuju ke rooftop. Di sana, berdiri sebuah tangki penampungan air yang sangat besar. Di atas tangki itu ada menara pengintai yang anak tangganya curam, terbuat dari besi tempa. Tentu saja saya naik ke sana. Dari tempat yang tinggi itu, saya bisa menatap ke mana-mana. Tampak pegunungan yang mengelilingi kawasan Lawang, lalu lintas di sekitar hotel dan rumah-rumah penduduk. Angin yang sejuk menerpa tubuh saya dan rasanya ingin merentangkan tangan sambil berseru senang.
Masalahnya, kami berdiri di atap saja, orang-orang di bawah sudah pasti memperhatikan. Hotel yang konon berhantu di atapnya ada dua cewek nongkrong foto-foto.
Kalau tiba-tiba saya berseru-seru, jangan-jangan dikira kesurupan.

Si Mas menunggu kami dengan sabar sampai akhirnya kami turun dari menara pengintai yang konon dulu digunakan tentara Belanda dan Jepang untuk mengintai situasi sekitar.
Tur berakhir, dan kami kembali ke kamar di lantai dasar. 

"Eh, tunggu di sini, ya," kata saya pada Tantri. "Aku mau motret dulu bagian belakang hotelnya." 
Sekilas saat baru datang, saya melihat sebuah bangunan lain di belakang hotel. Entah itu bekas istal atau kapel. Tapi saya lebih cenderung menduga itu tadinya semacam kapel untuk berdoa.

Saya sedang memotret di antara rerimbunan tanaman pagar hijau cemerlang, ketika perempuan bertubuh transparan itu datang lagi. Dia masih penasaran kepada saya rupanya.
"Iya deh," kata saya. Mumpung saya sendirian. "Cerita deh."
Lalu dia bercerita. Lebih tepatnya mengeluh bahwa dirinya menjadi arwah yang tidak tenang dan terjebak di tempat itu. Anehnya dia tidak mau menyebut namanya.

"Saya dipanggil Ilse," katanya. Ilse bisa berarti singkatan dari Lisa, Elsa, Elizabeth, atau Elize. Dia tersenyum lebar membaca pikiran saya yang sedang mengira-ngira. "Saya sudah melupakan nama asli saya. Entah siapa itu. Nama itu membawa kenangan pahit dari akhir kehidupan saya."
"Terus kenapa mau menceritakannya ke saya sekarang?"
"Oh, lihat tangan-tangan itu..." Ia melambai ke arah tangan-tangan saya yang sedang menggenggam kamera. "Itu tangan seorang penulis," ujarnya lembut. "Seorang sahabat saya dulu juga penulis. Ia punya tangan-tangan mungil dengan jari-jari montok seperti bayi, tetapi lentur dan lincah jika menggenggam pena dan menarikannya di atas kertas. Kamu datang ke sini untuk menulis sesuatu, kan?"

Saya menghela napas dan mengangguk. Ini obrolan dua arah yang mulai menyenangkan. Seperti bercakap-cakap dengan mahluk hidup. Saya membayangkan Ilse yang masih hidup adalah sosok perempuan Eropa dewasa, bergaun penuh renda dan mengembang seperti kurungan ayam, dengan topi lebar berpita dan payung hias kecil berwarna krem, berjalan-jalan di taman hotel ini yang dulu tentu sangat indah.

"Memotretlah," ujarnya. "Jangan berhenti, sementara saya akan menceritakan kehidupan saya di masa itu."

................................

Saya akan mempersingkat obrolan saya dan Ilse, dengan statement ini:
Saya tidak akan menceritakan kembali apa yang dikisahkan Ilse kepada saya, meskipun saya sempat bercerita secara lisan pada beberapa teman yang saya percayai.
Kenapa? Karena saya ingin orang-orang melihat hotel ini sebagai peninggalan sejarah-cagar budaya yang harus dinikmati keindahannya. Bukan ditakuti sebagai sarang hantu, seperti yang didesas-desuskan orang selama ini. Yang diceritakan Ilse kepada saya, sesungguhnya hanyalah penggalan masa lalunya sebagai manusia hidup, yang tidak berkaitan langsung dengan hotel indah ini.

Begini deh.
Semua tempat tidak pernah kosong dari 'penunggu' yang tak terlihat. Bahkan, di tempat-tempat ibadah ada jin-jin baik yang turut menjaga kesucian tempat itu dan ikut beribadah jamaah bersama umat manusia. Di setiap rumah juga ada penghuni lain yang tak terlihat. Jadi kenapa harus takut? Karena kalau kita baik-baik saja, mereka tidak akan mengganggu. Kalau hati kita bersih dan niat kita lurus, dan selalu ingat kepada Allah, tidak akan ada satu pun mahluk halus yang berani mengganggu, karena Allah memberikan penjagaan-Nya.

Saya ingin sekali, hotel ini suatu hari nanti menjadi bangunan heritage yang megah dan dibanggakan, seperti halnya hotel Majapahit dan hotel Tugu. Sungguh sayang kalau semua pernik asli dari masa kolonial di tempat ini rusak dan hilang ditelan zaman.

Sejarah adalah cermin kehidupan.

Ciyeee... gue jadi serius gini. Yah, pokoknya gitu deh.
Sori kalau ada yang nggak puas dengan akhir ceritanya. Hehehe...
Kalau penasaran, berkunjung aja ke hotel ini. InsyaAllah, nggak ada apa-apa, selain bangunan indah yang menanti dipugar.

Ruang makan merangkap restoran

Bangunan luar yang masih asli dan hanya dicat dengan warna sesuai warna aslinya

Pintu antar ruangan yang tinggi dan bergaya Latin

Lukisan harimau di lantai balkon

PS:
Dengan ini East Trip dinyatakan selesai :)




Image and video hosting by TinyPic

Friday, May 9, 2014

East Trip. Menyelundup di Yamato

Hujan menyambut saya ketika menjejakkan kaki lagi di Kota Pahlawan.
Tantri yang akan menjemput saya, belum tiba. Maka saya menghangatkan badan dulu dengan semangkok soto ayam dan segelas teh manis.

Ketika akhirnya Tantri datang dan saya duduk manis di boncengan motornya, hujan turun dengan sangat deras gila-gilaan. Damn! Meskipun saya sudah memakai mountaineering coat saya yang waterproof plus ditambah jas hujan dari Tantri, tetap saja saya basah kuyup.

Dari Terminal Bungurasih menuju rumah Tantri di kota Sidoarjo, saya sudah mirip kucing kecebur sumur. Hahaha.
Alhasil, begitu sampai di rumah Tantri, tempat saya akan menginap, semua baju di ransel saya basah!
Oh tidaaaak! *ceritanya histeris* :))
Padahal, ranselnya sudah pakai rain cover lho. Tetap saja, baju-baju paling bawah kena rembesan air. Padahal, malam itu rencananya saya dan Tantri akan mencari Samsung Service Center untuk memperbaiki hape saya yang mendadak sering restart sendiri.

Akhirnya malam itu, pakaian saya 'nggak genah' alias nggak jelas. Saya pakai celana tidur saya yang modelnya alibaba warna biru kembang-kembang, kaos lengan pendek warna oranye (satu-satunya yang secara ajaib selamat dari kebanjiran lokal dalam ransel) dan cardigan hitam lengan kalong (yang entah kenapa saya bawa bekpekingan-am I nuts?). Belum cukup konyol, saudara-saudara... sepatu converse saya basah kuyup, jadi saya meminjam sandal jepit Tantri.
Nah, dengan busana 'sekeren' itulah saya pergi ke mall untuk nyamperin Samsung Service Center. Diliatin orang? Iya sih, kayaknya, Untungnya malam. Jadi diriku masih bisa sembunyi di balik bayang-bayang pilar, eskalator dan etalase-etalase gitu deh. Hahaha.

Sudah bela-belain kayak gitu pun, tetep nggak beruntung. Service Centernya sudah keburu tutup. Huks!

Hotel Majapahit

Esoknya, setelah akhirnya berhasil membetulkan hape saya, si Mimin yang rewel (ternyata baterenya gembung), kami cus ke Hotel Majapahit untuk ikut tur siang yang namanya Afternoon Tea Tour. Kita bayar 75 ribu per orang dan akan dipandu seorang pegawai hotel berkeliling hotel, diperlihatkan lokasi-lokasi bersejarahnya dan diceritakan riwayatnya. Seperti semua orang yang pernah belajar sejarah ketahui, Hotel Majapahit dulunya bernama Hotel Yamato, yang terkenal dengan peristiwa perobekan bendera belanda di atapnya, 18 September 1945.

Di Hotel Majapahit ini, karena setelah parkir motor, kami masuk melalui pintu bagian belakang, yang tepat menghadap tempat parkir. Karena tidak ada yang menjaga, kami leluasa nyelonong ke selasar dalam, dan sempat kelayapan sendiri tanpa dicurigai. Saya sebetulnya agak bingung dengan longgarnya penjagaan di hotel ini. Kalau ke hotel-hotel di Jakarta, ribetnya minta ampun. Setiap tamu yang penampilannya nggak representatif diliatin udah macam terindikasi terorisme. Fyuh!

Jadi, pokoknya kami bisa keluyuran dari koridor ke koridor. Dan sepertinya, kalau mau, kami bisa leluasa juga naik ke selasar atas, dekat tiang bendera yang bersejarah itu. Mungkin, lolosnya kami karena faktor hotel itu sedang banyak tamu anak muda sih...
Ceritanya, hari itu, sebuah perusahaan rokok sedang mengundang pelajar dan mahasiswa yang mereka beri beasiswa.Mereka berlalu lalang, bergerombol dengan pakaian kasual yang sama dengan kami. Bedanya, mereka menggeret koper, mencari kamar masing-masing. Saya juga menggeret sih... menggeret Tantri, Hehehe.

Saya rasa, kecil kemungkinan kami ditegur sekuriti. Bukan karena tidak ada sekuriti di hotel itu, atau karena tampang kami begitu awet mudanya sehingga menyerupai anak-anak pelajar dan mahasiswa-para penerima beasiswa. Bukaaaan. Eh, awet mudanya sih iya dikit. Dikit doang.
Tetapiii... kalau tidak ikut tur resmi, kami tidak akan bisa melihat-lihat isi kamar hotel, yang sangat keren. Saya tahu itu keren, karena saya pernah ikut tur sendirian setahun lalu di hotel ini.

Waktu itu, dalam Periode Kegelapan (ceile), jadi saya tidak terlalu intens untuk menikmati keindahan arsitektur hotel ini. Boro-boro meresapi sejarah, datang ke hotel itu pakaian saya 'ngasal' banget. Saya pakai rok terusan coklat moka, celana pensil hitam, kardigan coklat tanah, dan jilbab segiempat kotak-kotak hijau. Pakai sepatu converse abu-abu, dan menyampirkan tas hitam lusuh kesayangan yang dibeli dari gaji pertama, zaman dahulu kala. Berjalan kaki sepanjang Jalan Tunjungan sambil mengayun-ayunkan tas, sampai (saya masih ingat) seorang cowok ganteng yang berpapasan dengan saya di trotoar, menatap dari atas ke bawah dengan kening berkerut.Wakakakak.

Dipikir-pikir, gue ternyata lumayan sering pake gaya baju ngasal deh :))

Nah, akhirnya kamu daftar tur yang diadakan hotel Majapahit untuk wisatawan yang ingin napak tilas kejadian bersejarah di sana. Namanya Afternoon Tea Tur. Diadakan dari jam sembilan pagi sampai jam lima sore. Setiap orang dikenai biaya Rp 75 ribu ++. Itu sudah termasuk hidangan minum teh ala Eropa, yakni teh dan kue.

Mbak petugas hotel yang ditugasi menjadi guide kami orangnya sangat pengertian deh. Ih seneng gue! Dia ngebolehin kami motret isi kamar-kamar yang kami masuki. Waktu kunjungan saya yang pertama, guidenya melarang memotret isi kamar. Mungkin juga aturannya sudah berubah, atau mungkin mbak guide yang ini di dunia luar hotel sana sejenis dengan kami yang suka narsis. Soalnya, dia malah yang menawarkan diri memotret kami untuk berpose di mana-mana. Saya jadi punya banyak foto berdua dengan Tantri hihihi...

Yang paling berkesan dalam kunjungan ke Hotel Majapahit tentu saja kamar-kamarnya. Tiang benderanya yang bersejarah nggak bisa didekati sih, karena sudah rapuh bagian atapnya. Pengunjung cuma boleh memandang dari kejauhan di rooftop seberangnya.

Ada dua kamar yang kami masuki. Pertama, Merdeka Room yang dulunya dijadikan markas oleh sekelompok Belanda durjana yang nekat memasang bendera mereka di atap Hotel Majapahit waktu masih bernama Hotel Yamato. Kamarnya paling pojok di koridor itu. Perabotannya bagus. Dan kamar ini dulunya punya pintu keluar lain, selain pintu di depan koridor. Pintu itulah yang dipakai para Belanda itu melarikan diri saat ratusan pemuda Surabaya yang marah menyerbu hotel.

Kamar berikutnya adalah, president suite yang dulunya adalah paviliun tempat tinggal Meneer Sarkies, pendiri hotel Majapahit. Soal sejarah pendirian hotel, silakan browsing sendiri aja ya. Banyak sumbernya di Google hehe...
Pokoknya, bangunan President Suite ini terpisah sendiri, berada di tengah-tengah deretan kamar-kamar yang ada. Mempunya dua lantai, yang ketika kita berada di dalamnya, berasa seperti berada di sebuah rumah mewah-bukan di dalam bangunan hotel.

Kata Mbak Guide, setiap Miss Universe nginap di President Suite ini saat datang ke Indonesia. Dia tinggal di situ sendirian. Dan saya melongo.

"Enak banget!" Gerutu saya, yang kemudian berubah pikiran seketika mengingat sungguh tak ada enaknya tinggal di paviliun sebesar itu sendirian. "Dia ngapain ya di kamar dua lantai segede gini? Gelutukan sendirian. Kasian. Pasti iseng banget tuh."
Si Mbak Guide menatap saya dengan sorot mata sudahlah-mbak-yang-gitu-aja-kok-dipikirin.
Iya deeeh :))

Sayangnya, tur saya yang kedua itu nggak menyeluruh seperti tur saya yang pertama. Dulu meskipun nggak boleh motret di dalam kamar, guide-nya mengajak saya benar-benar melihat keseluruhan hotel. Semua restoran yang ada di hotel itu, ruang pertemuan dan ruang rapat yang boleh disewa, balkon kecil yang menghadap ke jalan (sepertinya bekas pos pengamatan). Tur yang kedua hanya menjelajahi kamar-kamar dan bagian atap saja.

Tur berakhir dengan sajian teh manis dan apple strudle, sejenis pie dengan selai apel ala Belanda.
Habis itu, kami masuk lagi ke koridor bagian dalam hotel, karena memang harus lewat sana lagi kalau menuju tempat parkir. Kami masih foto-foto lagi lho hahaha... dan tetep nggak ketauan sekuriti juga. Soalnya anak-anak beasiswa itu masih berkeliaran di penjuru hotel.

*Pasang wajah unyu ala abege*
Hahahaha

PS:
Oh iya.. ghost story di next post yaaa.
Buat yang nanya-nanya ada penampakan nggak di Majapahit.. ada laaah. Namanya juga bangunan kuno. Tapi nggak ada komunikasi ya.
Mereka cuma menatap saya dengan tatapan datar ala zombi, yang mengingatkan saya pada mimik Annesya kalau lagi foto iseng ala hantu.
Mirip Nes! Hahahaha...


Ruang duduk ini di masa kejayaannya adalah lobby dan bagian resepsionis



View from South Garden

Tiang bendera yang bersejarah itu.
Menatap ini sambil terharu hiks. Merdeka!


Image and video hosting by TinyPic

Thursday, May 1, 2014

East Trip. Benteng Kuno Balik Kanan

Siang itu....

"Waaah! Ayo kita manjat!"

Saya naik ke gundukan batu bata merah yang sebagian hancur menjadi tanah, menuju ke atap dinding persegi empat yang terbuat dari batu bata serupa. Gundukan itu tidak terlalu tinggi, sekitar 2,5 meter saja. Lumayan membuat saya terhuyung-huyung, karena ada ransel 42 liter nemplok di punggung saya. Mas Ari masih di bawah, mengobrol dengan penjaga tempat itu. Seorang lelaki tua ramah yang menjelaskan kepadanya sejarah tempat itu dalam bahasa Jawa dialek Lumajang. Errr.... *jelas saya jadi gagap bahasa* :))

Jadi, saya tinggalkan mereka dulu. Masih ada waktu 'mewawancarai' bapak itu nanti. Saya keluarkan Oly dari ransel dan mulai mencari obyek bidikan.

Yang saya lihat dari atas atap bangunan, adalah dinding-dinding yang membentuk ruangan segi empat seukuran kira-kira lima atau enam meter persegi. Tak ada pintu, tak ada jendela. Satu-satunya jalan yang terbuka adalah dinding-dinding atas yang saya pijak. Saya tidak tahu apakah dulunya ada atap. Belakangan, menurut bapak penjaga, kalau ada pengunjung yang penasaran ingin turun ke bawah, beliau akan membawakan tangga bambu. Katanya, para arkeolog menduga tinggi bangunan ini dulunya 8-10 meter.

Maka, disitulah saya berada siang itu.
Di lokasi bekas benteng dari sebuah kerajaan kuno di zaman kejayaan Majapahit yang disebut SITUS BITING. Biting berarti 'benteng.'

Adakah yang pernah mendengar kerajaan Lamajang Tigang Juru?
Ada? Tidak ada?  Oh, baiklah. Sini, sini, saya kasih tahu.

Lamajang Tigang Juru adalah kerajaan kuno di kawasan yang sekarang menjadi kota Lumajang. Kerajaan itu merupakan kerajaan bawahan dari Majapahit yang lebih besar. Namun meski kerajaan kecil, kerajaan ini dianggap penting oleh Majapahit, atau setidaknya rajanya lah yang dianggap penting. Rajanya, Aria Wiraraja, tadinya adalah adipati Sumenep di bawah kerajaan Singasari. Ketika Singasari runtuh di bawah pemerintahan Kertanegara, Aria Wiraraja membantu Raden Wijaya-menantu Kertanegara, untuk mendirikan Majapahit. Ia adalah penasehat yang sangat dipercaya Raden Wijaya. Sebagai seorang negarawan senior, ia membantu sang raja muda menyusun strategi membendung serangan kerajaan Mataram dan serangan pasukan Mongol.
Sebagai balas jasa, Aria Wiraraja diberi daerah kekuasaan yang kemudian menjadi kerajaan Lamajang Tigang Juru atau Majapahit Timur.

Lengkapnya cek link Wikipedia ini, yes! ;)

Situs Biting ini berada di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Lumajang.
Karena kesamaan waktu saat didirikan (10 November 1293, berdasarkan Prasasti Puddadu), artefak-artefak yang ditemukan di Situs Biting serupa dengan artefak-artefak peninggalan Majapahit. Ngomong-ngomong, benteng ini berdiri di areal seluas 135 hektar. Merupakan benterng kuno terluas dari masa kerajaan-kerajaan Nusantara. Kalau pun ada benteng yang luasnya lebih dari itu, biasanya merupakan benteng era kolonial.

Dari atap benteng tempat saya berdiri, saya melihat sungai yang mengelilingi kawasan ini. Saya nggak tahu, apakah sungai itu alami, ataukah sengaja dibuat sebagai pertahanan dari serangan musuh. Tapi lingkarannya pas banget lho. Saya sih cuma bisa melihat sungai di dua sisi benteng saja, dua sisi lainnya tidak. Tapi dari dua sisi itu saja sudah terlihat posisinya tampak melingkar seperti busur. Jangan-jangan sungai buatan ya?

Sebetulnya, Mas Ari yang pertama-tama menunjukkan saya sungai itu. Dia akhirnya ikut naik ke atas dan menunjuk-nunjuk.
"Itu lho, ada sungainya," ujarnya. Dan di balik rerimbunan belukar dan pepohonan kebun milik Perhutani maupun penduduk di sekitar benteng, saya melihat air coklat yang mengalir tenang. "Kata bapak yang jaga, petilasan benteng ini masih luas sampai ke belakang-belakang sana itu. Malah sampai ke perumahan sebelah sana, masih ditemukan artefak."
"Sek, Mas. Perumahan piye maksud e? Perumahan developer?"
"Iyo."

Heh. Nyebelin! Saya langsung kepengin marah-marah. Kenapa tanah situs sampai bisa jatuh ke tangan developer? Ini Pemdanya gimanaaaa?

Sambil kesel, saya mulai memotret lagi. Meskipun yaaaa... nggak banyak yang bisa diabadikan dari sebuah bangunan batu bata segi empat yang bolong di tengahnya. Saya juga malas turun ke bawah. Karena benar-benar tidak ada apa-apa di sana. Hanya tanah berumput pendek dan empat dinding yang mengurung, serta sinar matahari di atas kepala.

Masih ada yang perlu dikunjungi. Sebelum menuju ke bangunan ini, tadi kami melewati sebuah kompleks makam. Ada plang besar di pagar depannya. Menceritakan sejarah Aria Wiraraja dan kerajaan Lamajang Tigang Juru, dan bahwa yang dikuburkan di pemakaman itu salah satunya adalah sang raja sendiri, bersama para pengikutnya.

Setelah mengobrol tentang sejarah dan lokasi situs itu dengan si bapak penjaga (yang ini dalam bahasa Indonesia tentunya ya hehehe), kami berpamitan. Saya memberinya tips sekedarnya dan dia sangat senang. Di mana-mana, yang namanya penjaga atau juru kunci lokasi purbakala itu honornya kecil, meskipun yang memberi honor adalah pemerintah. Jadi, sekedar tambahan seperti itu akan membuat mereka semangat untuk tetap menjaga kebersihan situs yang mereka jaga. Percayalah. Hitung-hitung sedekah juga, kan :)

Meninggalkan bekas benteng, saya dan Mas Ari menuju ke kompleks makam di depan situs. Kompleks ini persis di tepi jalan beraspal. Bukan jalan yang dilalui angkot sih, ini jalan kecil yang dilewati motor penduduk atau mobil pick up pengangkut hasil kebun mereka. Ngomong-ngomong, ada kebun jeruk lho. Saya baru tahu, Lumajang menghasilkan jeruk! Padahal, di Garut yang dulu terkenal Jeruk Garutnya, sekarang sudah jarang dijumpai kebun jeruk.

Nah ini kenapa jadi membahas jeruk, kakaaaak?

Balik ke soal makam. Saya masuk ke dalam kompleks mendahului Mas Ari, yang entah kenapa kayak yang ragu melangkahkan kaki. Takutkah dirimu, Mas? Hehehe...

Saya langsung menuju sebuah makam yang dinaungi sebuah pendopo. Makam itu berukuran besar dan panjang. Sementara, di sebelah kirinya, ada deretan makam-makam di areal terbuka yang di pagari, dengan nisan-nisan yang diselimuti kain putih. Makam yang besar itu konon makam Raja Minak Koncar alias Aria Wiraraja (tapi ada juga pendapat bahwa Raja Minak Koncar itu anak dari Aria Wiraraja), selebihnya makam para pengikutnya. Saya berdoa di depan makam raja, membacakan Al Fatihah sebagai sedekah. Namun tidak minta apa-apa (ya iyalah, minta mah sama Allah).

Ada bayangan samar berdiri di ujung makam, saya tidak tahu siapa. Namun kemudian saya berkata, "Izinkan saya mengambil foto ya. Saya cuma seorang 'anak' yang ingin mengerti sejarah." Bayangan itu melambaikan tangan seolah-olah mengiyakan, lalu menghilang.

Di belakang saya, tiba-tiba sudah berdiri Mas Ari. Heh, dia denger saya ngomong sama hantu nggak ya? :}}
Tapi wajahnya kalem sih, dia malah nanyain spesifikasi kamera saya. Lalu saya tinggal keliling-keliling kuburan untuk motret. Dia pasti heran, ngapain sih ni cewek motretin kuburan sampe segitunya. Ih, dia nggak tau aja, saya kan demen berkunjung ke kuburan kuno. Hehehe.

Iya, gue cewek aneh. Udah nggak usah pada geleng-geleng kepala gitu :p

Di pemakaman itu ada sebuah sumur kuno. Entah berapa meter kedalamannya. Airnya masih ada lho. Saya melongok sedikit ke bawah. Berdoa nggak ada yang balas memandang. Alhamdulillah nggak ada. Hahaha. Saya potretin beberapa kali, lalu memutuskan untuk menyudahi 'ziarah' itu.

Waktu saya sedang memotret, muncul ibu-ibu-yang sepertinya isteri penjaga makam, dia menyapu areal pemakaman sambil memperhatikan saya. Saya pamit sama dia, sambil memasukkan sekedar uang kebersihan ke kotak amal yang tergantung di saung untuk duduk pengunjung.
Entah ya, kok keliatannya wajah si ibu kecewa liat saya masukin duitnya ke kotak. Saya lupa, harusnya saya kasih ke dia aja. Duh, maap Bu, otomatis kalo liat kotak amal hihihi....

"Nah terus mana lagi nih situsnya?" Tanya saya, di boncengan motor Mas Ari, saat melaju meninggalkan pemakaman.
"Udah cuma itu aja."
"He? Yaaaah..."

Saya pikir tadinya bisa lah liat tempat penggalian artefak-artefak di sekeliling areal benteng yang seluas seratus hektar lebih itu. Hahaha...
Iya nggak mungkin sih. Biasanya itu tertutup untuk umum, lagipula Mas Ari mana tahu lokasinya di mana. Selain itu, saya harus segera ke terminal dan kembali ke Surabaya, kalau tidak mau kesorean atau bahkan kemalaman.

"Ya udah, saya boleh minta antar langsung ke terminal nggak, mas? Saya harus balik ke Surabaya. Lagian kelamaan ngeluyur diantar-antar gini, ganggu kerja Mas Ari. Maaf ya."
Sekedar info, Mas Ari adalah pemilik biro travel wisata di Lumajang. Seperti saya, dia bekerja di jalur passion-nya. Kalau saya suka menulis, dan sekarang menjadi penulis. Maka, dia sejak dulu adalah traveler.

Sejak masih kuliah, dia itu pendaki gunung dan backpacker. Makanya, sekarang dia menikmati banget pekerjaannya sebagai 'tukang ngantar jalan-jalan' berbayar alias penyelenggara tur wisata hehehe...
Mungkin itu alasannya kenapa dia dengan senang hati nganter-nganter saya, karena saya tukang jalan-jalan-sama kayak dia. Menemukan teman sehaluan gitu deh :D
Eh, dia malah nawarin saya untuk bantu-bantu turnya sesekali, kalau obyek wisatanya ke Jawa Barat. Katanya, sebetulnya dia kekurangan orang sebagai pemandu klien-kliennya.

Ih, sayang ya.. Garut-Lumajang jauh bingiiit. Susah koordinasinya. Padahal kan asyik tuh saya ikutan jalan-jalan gratis, dikasih honor pulak! Hehehe...Entar aja deh kalau pas travel bironya ngadain jalan-jalan ke Jawa Barat. Aku bantuiiin! ^^

Siang itu.....

Saya diturunkan di depan terminal Minak Koncar sama Mas Ari dan kami saling pamitan. Tak lama bus Patas jurusan Surabaya lewat dan saya naik tanpa ragu.
Di bus, saya memilih tempat duduk dekat jendela, dekat pintu masuk juga. Bus itu melaju kencang, anehnya saya tidak takut. Saya nikmati perjalanan kebut-kebutan itu dengan hati senang. Mungkin juga ada sedikit senyum di bibir saya (semoga yang pas ngeliat ke saya, nggak nyangka saya sakit jiwa).

Yang jelas, perjalanan saya di Lumajang dan Jember lumayan menyenangkan bangetttt. Menghadiri pernikahan teman baik, berkumpul lagi dengan teman lama dan dapat teman baru. Ketawa-ketawa gila lagi (sudah berapa abad ya kesintingan saya mengendap?), solo traveling lagi, belajar sejarah lagi.... dan balik lagi ke Surabaya, untuk petualangan berikutnya yang sudah menunggu.

Nantikan cerita selanjutnya. Saya mau memburu hantu! Hehehe

---------------------

Kayaknya saya harus ngebut menamatkan nulis East Trip ini deh. Soalnya, takut keburu traveling lagi bulan Mei ini. Tulisan saya bakal numpuk kayak utang kredit panci! #eh :))

Still stay tune yaaaah!


Bagian atas dinding salah satu sisa bangunan benteng
kerajaan Lamajang Tigang Juru.

Konon ini adalah makam Aria Wiraraja, adipati Sumenep, penasehat politik Raden Wijaya,
yang juga adalah raja kerajaan Lamajang Tigang Juru.

Ini foto-foto Papuma yang kemarin (seperti biasa, saya pelit gambar hehe):

Hutan jati milik Perhutani dalam perjalanan menuju Pantai Watu Ulo dan Tanjung Papuma.
Daun-daunnya dirontokkan untuk persiapan penebangan,

Tiga atol {pulau karang) yang menjadi ciri khas Tanjung Papuma.
Kalau laut surut, pengunjung bisa menyeberang ke sana dengan berjalan kaki.


Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, April 8, 2014

East Trip. Bodyguard di Papuma

Hai hai!

Sori baru nongol lagi dimari untuk melanjutkan ocehan saya tentang perjalanan ke Lumajang.

Sampai mana ya kemarin?

Olrait. Jadi pagi itu, saya dijemput Mas Ari, teman Rona, untuk diantar ke tempat menungggu bus jurusan Ambulu Jember. Ambulu itu nama kecamatan di Jember, di mana pantai Tanjung Papuma berada. Tetapi kenyataannya sih nanti dari Ambulu, masih lumayan jauh lagi ke pantainya yang berada di pedalaman.

Bus yang langsung ke Ambulu itu jarang, sodara-sodara. Nunggunya lama banget. Kata Mas Ari, bisa aja naik bus yang ke terminal Tawang Alun Jember, nanti minta diturunkan di pertigaan Balung. Dari sana cari angkot yang ke Ambulu.
Benar saja. Bus ke Ambulu lamaaa banget. Jadi saya putuskan naik bus jurusan Tawang Alun. Perjalanan ke Jember menyenangkan. Jalan antar kotanya melewati pedesaan. Sepanjang jalan, pemandangannya adalah perkampungan, persawahan, kebun, sungai, pasar tradisional. Ada beberapa rumah kuno yang bentuknya masih asli. Udaranya oke, nggak panas, tapi juga nggak sejuk. Jalanannya juga lurus, nggak berkelok-kelok kayak jalanan di daerah pegunungan Selatan. Jadi, saya bebas mabuk. Hehehe.
Dua jam kemudian, saya diturunkan di pertigaan Balung, sesuai pesan saya pada kondektur saat baru naik.

Pukul 11 siang, saya berdiri di tengah kota yang asing. Jember lumayan panas karena ini kota pesisir, saya rasa. Tapi tetap nggak sepanas Surabaya.

"Mau ke Ambulu, Mbak? Ayo, Mbak!" Seorang sopir angkot menggiring saya ke angkotnya. Saya naik dengan sok yakin, padahal masih gamang. Saya nggak ngerti ke Ambulu dari Balung ini naik apa. Mas Ari tidak memberi gambaran jelas, karena dia kalau ke Papuma selalu naik motor katanya. Ya sudahlah, saya naik.

Saya duduk di samping sopir. Angkot itu masih ngetem, lalu tak lama naiklah beberapa anak SMA. Si sopir tiba-tiba berkata begini, "Mbak, mau ke mana? Ke Papuma ya?"
Apakah terlihat jelas ya di muka saya, kalau saya mau ke Papuma? Atau mungkin saya kelihatan sedang traveling dan setiap traveler yang turun di Balung pasti tujuannya ke Papuma?
"Iya," sahut saya.
"Mbak, saya antar deh langsung ke Papuma. Ongkosnya 150 ribu."
Saya sontak nengok ke dia. Nggak salah denger saya? "Berapa Pak?"
"150 ribu, Mbak. Sampai sana. Bener."
Saya ketawa. "Yang bener aja, Pak. Memangnya saya ini nggak tahu apa-apa? Saya cuma mau ke Ambulu. Nanti dari Ambulu saya cari kendaraan lagi."
"Tapi nggak ada angkot ke Papuma, Mbak."
"Saya tahu. Tapi ada ojek."
"Ojek bisa kena seratus ribu lho, Mbak. Sama aja jadinya. Lebih cepat saya antar langsung dari sini."
"Memangnya dari sini ke Ambulu, berapa?"
"Mbak nawarnya berapa?"
"Kenapa jadi saya yang nawar? Ongkosnya biasanya berapa?"
"Gini deh, Mbak. Sampai Papuma saya antar. Mbak bisanya berapa?"
Saya menghela napas. Mulai kesal. "Pak, ini sebenarnya angkot jurusan kemana sih? Saya cuma mau ke Ambulu. Ke Papumanya gimana saya aja."
"Sembilan puluh ribu deh Mbak sampai Papuma. Bensinnya aja udah mahal. Jauh, Mbak."

Saya mulai naik darah. Serius. Saya nggak suka dianggap bodoh dan dipermainkan.
Saya sudah cek google map dan jarak dari Balung ke Pantai Papuma nggak sejauh itu sampai harus dihargai ongkos 150 ribu. Saya juga pernah baca di sebuah blog traveler. Naik ojek dari Terminal Tawang Alun ke Papuma ongkosnya sekitar 30-40 ribu. Entah kalau dari Balung. Tapi saya tetap pegang patokan yang sama, karena saya belum tahu jaraknya.

Si sopir di sebelah masih menggumamkan bujukannya. Menakut-nakuti pula. Katanya daerah rawanlah. Susah kendaraan lah. Saya yang sudah jengkel dan kegerahan karena udara panas pun menjawab sewot.

"Percuma aja nakut-nakutin saya, Pak. Saya ini wartawan. Udah biasa pergi sendirian kemana-mana meskipun perempuan. Memangnya saya nggak tahu kalau Bapak lagi nyoba bohongin saya? Udah deh Pak, saya cari kendaraan lain aja." Saya langsung turun dari angkot itu dan berjalan ke pos polisi beberapa meter di belakang angkot.
Tadinya mau tanya polisi, tapi posnya kosong. Saya numpang duduk di sebuah warung samping pos itu.

Ibu warungnya bertanya dengan ramah. "Dari mana, Mbak?"
"Dari Lumajang, Bu. Saya mau ke Papuma. Naik apa ya dari sini?"
Suaminya muncul. "Naik ojek aja Mbak."
"Berapa ya Pak ongkosnya?"
"Biasanya 40 ribu."
Cocok dengan patokan saya.
Saya celingukan tapi nggak ada satupun saya lihat ojek mangkal. Tiba-tiba, sebuah sepeda motor berhenti di samping warung.
"Mbak, ini ojek. Aman kok." Si Bapak menunjuk.

Singkat cerita (lagi flu, jadi keliyengan nulisnya. Pengen cepet beres hehehe), saya diantar si mas ojek ini ke Papuma. Berhubung di Papuma nggak ada angkutan buat pulang ke terminal or ke Balung, saya bikin perjanjian sama mas ojeknya untuk sewa pulang pergi. Dia bilang, dia nggak keberatan nungguin saya sampai selesai di pantai. Jadi nggak perlu sistem jemput.

Maka perjalanan naik motor ini pun dimulai. Si Mas Ojek ini penampilannya serem lho. Tampang kayak preman tukang malak gitu dengan bodi lebar berotot. Saya seratus persen yakin dia punya tato di balik jaket kumalnya. Biar begitu, dia sopan dan wajahnya tenang. Iya sih, psikopat juga biasanya ramah dan berwajah polos. Tetapi, saya mengandalkan indera keenam, dan auranya tenang.
Bismillah aja deh.

Sepanjang jalan, si Mas Ojek cerita macam-macam. Tentang pengalamannya jadi tukang ojek, nangkap maling sampai tawaran jadi kepala satpam pabrik yang ditolaknya. Dari beberapa ceritanya, ada bagian-bagian yang sengaja dia skip, yang menghasilkan kesimpulan bahwa dia pernah masuk penjara. Anehnya, tetap saja saya nggak takut. Saya sudah nggak waras mungkin, atau saya terlalu logis. Atau ini efek dari saya juga sering keluar masuk penjara? Hehehe.
Maksud saya, dari zaman masih kuliah sampai kerja, penjara bukan tempat yang aneh, kan saya kuliah di Fakultas Hukum.

"Mbak'e mau langsung ke Papuma atau ke Watu Ulo dulu?"
Pantai Watu Ulo itu letaknya bersebelahan dengan Papuma. Pantai ini punya legenda tentang naga besar yang sedang bertapa. Kepala naga ini ada di Banyuwangi, tubuhnya di Jember dan ekornya menjalar sampai Jawa Tengah. Di pantai Watu Ulo ada gugusan batu karang yang teksturnya seperti sisik ular. Konon itulah tubuh naga yang sedang bertapa. Begitcuuu.
Nah tentu saja saya kepengin liat 'tubuh' si naga. Maka saya memilih kami melewati pantai Watu Ulo.

Tiba-tiba si Mas Ojek membelokkan motornya dari jalan beraspal ke jalanan setapak menuju rerimbunan hutan jati (milik Perhutani).
Wow! Pemandangannya keren banget. Beberapa kapling pepohonan tampak gundul tak berdaun. Saya pikir itu karena kemarau, daun-daunnya meranggas dan gugur. Tapi si Mas Ojek memberitahu saya, pepohonan jati itu sengaja digunduli dan dibiarkan beberapa lama untuk ditebang.
"Kalau mau nebang jati, memang harus digunduli dulu, Mbak. Biar kayunya kering dan lebih padat. Kayu-kayu dari daerah sini biasanya buat bikin meubel," jelasnya.

Asal tahu saja, jalanan lewat hutan jati itu rusak. Untung saya naik motor. Kalau naik mobil, pasti udah terpental-pental di tempat duduk karena ban menggilas jalanan berlubang. Sesekali si Mas Ojek berhenti dan membiarkan saya memotret. Lalu sekeluarnya dari hutan jati, kami harus melewati jalanan yang menanjak dan berkelok-kelok. Lalu, sampailah kami di Watu Ulo.

Saya cuma sebentar di sini. Pantainya tidak istimewa. Sepi karena bukan hari libur. Kata si Mas Ojek, Watu Ulo baru ramai kalau malam Minggu. Banyak orang pacaran di sini.

Iya. Saya menemukan karang yang bersisik-sisik itu. Yang sebenarnya bukan sisik. Namanya juga legenda.

Kami meneruskan perjalanan ke Tanjung Papuma, melewati jalanan menanjak berkelok-kelok di atas tebing, yang di sebelahnya tampak laut dari kejauhan.

Suatu kali, saya melihat view yang keren dari balik gerumbul semak, dan minta berhenti untuk memotret. Si mas ojek menurunkan saya di sebuah jalan setapak kecil dengan undakan tangga, yang nyaris tidak terlihat dari jalan, di bawah sebuah makam dan sesemakan.

"Tau aja si mas ada jalan ini."
"Saya biasa mancing sama temen-temen di sini, mbak."

Saya meninggalkan motor dan menuruni undakan yang menuju pantai. Tangganya curam, tertutup semak. Di belakang saya si mas ojek tergopoh-gopoh menyusul.
"Mbak, mbak, hati-hati, Mbak!" Serunya.

Langkah saya terhenti ketika undakan sesemakan semakin rapat. Harusnya bawa golok untuk menebas, melonggarkan jalan. Saya takut ada ular soalnya.

"Sini saya duluan, Mbak. Masih jauh ke bawahnya."
Saya menggeleng, teringat tujuan utama. "Kita ke atas lagi deh. Ke pantai yang sebenarnya."

Akhirnya kami di lokasi wisatanya. Oh iya tiket ke pantai ini 7 ribu rupiah per orang dan 4 ribu untuk sepeda motor.

Di Papuma banyak pondok milik Perhutani yang bisa disewa untuk bermalam. Ada sebuah mushola yang cukup besar dan bagus, dan banyak warung makan. Jauh berbeda dengan pantai-pantai perawan di Garut Selatan yang belum dikelola Pemkab.

Papuma singkatan dari Pasir Putih Malikan. Pantainya cukup bersih, dengan view khas tiga atol/pulau karang kecil berbentuk vertikal.
Salah satu atol itu bernama Narada, karena bentuknya mirip topi tokoh pewayangan Batara Narada.

Saya naik ke bukit tertinggi di pantai itu, namanya Siti Hinggil. Tadinya mau naik undakan, si mas ojek dengan sigap bilang ada jalan yang bisa dilalui motor. Wah asik! Tinggi bingit soalnya hihi...

Dari Siti Hinggil, pemandangan ke seluruh pantai tampak jelas. Dari sini bisa memotret deretan atol itu dengan angle yang bagus. Selain itu, bisa mendengar musik alami dari bunyi batu-batu malikan yang saling berbenturan ketika ombak berdebur ke pantai. Srek tik srek tik srek.

By the way, si mas ojek ikut naik lho ke gardu pandang yang agak lebih tinggi lagi melewati undakan. Saya jadi berasa punya bodyguard! Hihihi.
Kalau saya berdiri terlalu ke pinggir tebing dia akan mengingatkan. Mbak, hati-hati jatuh!

Dari bukit Siti Hinggil, dia punya ide mengajak saya ke sudut pantai yang dikenalnya. Katanya itu tempat dia melamun cari inspirasi. Haha busyet! Penampakan preman, hatinya melankolis!

Kata dia gini, "Kalau jalan-jalan jangan tanggung-tanggung, Mbak. Pokoknya jelajahin sampai ujung-ujungnya."
Haha satu aliran dia sama saya!

Bagian pantai yang dia tunjukkan sepertinya adalah cikal bakal nama Tanjung Papuma. Pantainya mentok di dinding tebing tinggi yang menjorok ke laut, berbatasan dengan perkebunan jati milik Perhutani.

Batu-batu pecahan karangnya lebih besar, disusun seperti tanggul. Sepi dan rindang. Memang cocok untuk melamun. Ada dua motor tak jauh dari tempat saya berdiri, dua pasang sejoli sedang mengobrol.

Si mas ojek langsung pasang posisi melamun di bawah pohon, huahaha! Sedangkan saya jalan mendekati tepi air dan mulai memotret. Ombak di sini lebih tenang. Dari kejauhan saya bisa melihat pulau-pulau kecil tempat favorit para pemancing arus deras (bukan atol). Lain kali, saya kepengin menyewa perahu dan mendatangi pulau-pulau yang itu.

"Ngadu nyawa sebenarnya kalau ke sana, Mbak," ujar si mas ojek. "Harus sama nelayan senior. Arusnya deras dan nggak bisa diduga. Banyak perahu terbalik kalau nelayannya nggak pengalaman ke pulau itu."
"Wah seru tuh, Mas! Kapan-kapan saya harus ke sana deh!"
"Ya memang asyik sih biarpun bahaya. Mbak e bisa berenang kan?"
"Enggak."
Dan si mas ojek menatap saya dengan tatapan cewek-ini-pasti-udah-gila.
Hahaha. Dia belum tahu saya.

Saya cuma menghabiskan dua jam di sana... tiga jam dengan perjalanan pulang pergi plus mampir di Watu Ulo sebelumnya. Ini pantai yang asyik untuk didatangi ramai-ramai dan berfoto ria, lalu makan seafood sepuasnya. Menginap di sini oke banget. Harga per malam murah. Kita bisa melihat pemandangan sunrise dan sunset. Pantai yang lengkap kan? :)

Si mas ojek mengantar saya kembali ke Balung. Lihat saya cuma foto-foto view dan mengamati sekitar, dia pikir saya lagi bikin skripsi tentang pariwisata! Hahaha.
Again? Tahun 2014 guweh masih dikira mahasiswa? Duh... wakakak..

*Bentar, ngaca dulu*

Nah, sampai di Balung, si mas ojek ini langsung mengantar saya ke tempat ngetem bus jurusan Lumajang yang siap berangkat (kalau naik dari terminal, ngetemnya lama).

Saya sodorin dia uang seratus ribu. Dia terperangah. Mungkin dia pikir cuma 80 ribu untuk pulang pergi sesuai kesepakatan.

"Ini saya tambahin, Mas. Ambil aja. Ikhlas kok. Kan udah nganterin saya bolak-balik dengan selamat. Makasih lho, Mas."
"Nuwun Mbak." Dia terima uang itu dengan khidmat. "Semoga selamat sampai tujuan, Mbak."
Lalu saya naik ke bus, yang tak lama kemudian melaju meninggalkan Jember.

Saya dapat satu pelajaran moral. Bahwa 'don't judge a book by its cover' itu memang benar. Si mas ojek yang mantan narapidana dan berpenampilan seram itu ternyata baik dan sopan. Dia bisa aja kan jahat ke saya, secara kami melewati tempat-tempat sepi.

Dan benar kata dosen mata kuliah Penologi saya dulu.. (penologi adalah ilmu tentang pemidanaan/pemberian hukuman). Tujuan pemidanaan adalah memberi efek jera. Efek itu pasti berdampak, sedikit atau banyak.
Tugas masyarakat adalah memberi kesempatan mantan napi untuk memperbaiki diri, bukannya menjauhi.

Aduh jadi kangen almamater! ^^

Perjalanan pulang ke Lumajang sama mengasyikkannya seperti berangkat. Belum terlalu sore waktu saya tiba di hotel. Malamnya, dijemput Rona untuk ngopi seperti yang sudah saya ceritakan duluan.

Lalu saya packing. Mas Ari akan mengantar saya pagi-pagi ke terminal untuk pulang ke Surabaya. Tapi sebelumnya, dia akan menunjukkan situs benteng kuno kerajaan Lumajang kuno.

Stay tune! ^^

- E -

Ps: foto menyusul ya, ini posting dari hape. Modem saya harus install ulang.

Friday, March 28, 2014

East Trip. The Prolog

Annesya joget-joget di depan sebuah rak novel fiksi di toko Gramedia. Tantri menatapnya takjub. Saya hanya tertawa saja. Kami bertiga bertemu tak sengaja di toko buku besar itu. Saya dan Annesya bermaksud 'survei pasar' novel-novel kami di sana. Tahu-tahu, Tantri juga sedang mencari buku. 
Saya perkenalkan keduanya satu sama lain. Begitulah. Tantri keheranan melihat tingkah laku Annesya yang ajaib, Annesya sendiri, seperti yang saya kenali selama beberapa hari main dengannya, cuek dengan penilaian orang lain.

.......................

Well. Journey saya di bulan Maret 2014 dimulai dari pernikahan Rona Siregar di kota kelahirannya, Lumajang, Jawa Timur. Saya dan Rona bertemu di sini, di dunia maya. Dia pembaca blog saya, lalu saling sapa di fesbuk, lalu bertemu, dan akhirnya berteman di dunia nyata.

Ketika mengatakan akan menikah, saya ngotot mau datang. Sepertinya teman-temannya yang lain juga begitu. Akhirnya, pernikahan yang rencananya sederhana berubah menjadi pesta di gedung. Hahaha. Ia mengundang teman-teman bloggernya yang sudah pernah kopi darat. Saya dan Wuri.
Lalu, saya tanya, bolehkah Annesya diundang juga?  Mahluk satu ini suka mengusili kami dengan gaya menggalaunya yang 'enggak banget.' Dia juga suka mengaku-aku saudara kembar Rona, karena tanggal lahir mereka sama (tahunnya jelas beda). Akhirnya, kami bertiga sepakat bertemu di Terminal Bungurasih, untuk sama-sama berangkat ke Lumajang.

Wuri bertolak dari Jogja, dengan bus malam. Saya naik kereta ke Surabaya dan tiba sehari sebelumnya lalu menginap semalam di rumah sepupu saya. Annesya juga akan bergabung dengan kami di terminal itu.

Di ruang tunggu Terminal Bungurasih, dengan segera saya bisa menemukan Wuri, yang sedang duduk. Kami sudah bukan lagi teman dunia maya. Sering banget saya ke Jogja dan menginap di rumah orangtuanya, hehehe,
Annesya rupanya sudah ada di sana pula, tetapi kami tidak hapal dia yang mana. Dia cuma bilang pakai baju pink menyala. Tapi di antara penumpang di kursi-kursi itu tidak ada warna pink menyala. Lalu saya memperhatikan seorang cewek kurus dengan sweater belang-belang pink dan putih. Wajahnya ditutupi masker kain seperti pengendara motor.

"Nes, kamu itu mesti yang pake tutup muka, kan?" Saya kirim BBM.
"Iyooo. Kamu yang mana, Mbak?"
Saya melambaikan tangan kepada si cewek bertopeng. Dia bergegas menghampiri dan membuka maskernya. Jelaslah wajahnya yang selama ini nampang di blognya dan cover belakang novel-novelnya.

"Eaaaa! Kamu kenapa pake masker kayak teroris!"
"Mukaku jerawataaan!"
Alasan aneh! :))

Seperti saran Rona, kami naik bus patas jurusan Jember dan turun di terminal Minak Koncar, Lumajang.
Rona sudah menyiapkan kamar penginapan buat kami di hotel paling bagus di kota itu, Hotel Gajahmada. Kami naik angkot dan diturunkan persis di depan hotel. Rona sekeluarga sudah ada di hotel itu, karena mereka juga menginap di sana. Kami mulai ribut ketawa-ketawa dan saling ledek. Akad nikah Rona sudah berlangsung sehari sebelumnya. Jadi kami bertemu juga dengan suaminya.
Suaminya Rona sepertinya agak heran melihat kami sangat riuh dan pecicilan. Hahaha... maaf ya Mas. Beginilah kami :p

Ada satu teman baru dalam kelompok teman luar kota Rona, selain kami. Namanya Rience. Dia sahabat almarhum Mimi, adik Rona yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Rience sepertinya sudah dianggap adik oleh Rona, maka ia pun datang dari Jakarta. Pembagian kamar kami akhirnya: saya sekamar dengan Wuri, Annesya dan Rience masing-masing satu kamar.
Tetapi prakteknya, dua orang itu ngumpul di kamar saya dan Wuri setelah kami berempat makan malam di luar. Cerita macam-macam, terutama Annesya yang 'pecicilan' dan punya banyak cerita konyol. Begitu dia tahu profesi Rience adalah psikolog, dia langsung ribut konsultasi. Katanya, dia khawatir dia itu gila. Hahaha.

"Nggak usah repot konsultasi. Kamu memang gila kok," sergah Wuri, yang sedang nggak terlalu banyak ngomong, tapi sekali bersuara humor sarkasnya makjleb.
"Iya, udah pasrah aja deh..." Saya nimbrung sambil leyeh-leyeh nonton tv di atas tempat tidur. Annesya yang paling muda dalam kelompok kami harus rela dibully. Hahaha.
Kamar kami sangat ramai malam itu. Kami ketawa terpingkal-pingkal, plus Annesya yang kalau cerita pasti pakai bumbu dramatis dan teriakan ala Tarzan. Fyuh!

Besoknya, di hari pesta pernikahan itu, kami keluar dari hotel dengan dandanan rapi.
Saya yang tadinya nggak rencana pakai make up, didandani Annesya dengan dempulnya tipis-tipis. Hahaha.
Dia berceramah tentang perabotan lenong yang katanya saya harus punya sambil tangannya bergerak-gerak di muka saya.

Lalu. "Nah udah. Tuh liat kaca!"
Jeng jeng! Huwooow! Muka saya jadi kece hihihi... Ternyata si Ratu Galau ini pinter make up! Yah, nggak heran sih. Dia pernah kerja di sebuah bank di Jakarta, yang mana tentunya dibekali kursus make up dan harus bermake up setiap hari.

Empat bidadari dari empat kota berbeda ini akhirnya mencari becak untuk pergi ke gedung balai kota tempat resepsi. Lucunya, waktu kami menanyakan ongkos ke balai kota, nggak ada satu pun yang ngerti dialek bapak penarik becaknya. Orang Jawa tulen (Wuri dan Anes) aja melongo, apalagi yang separuh Sunda kayak saya dan anak Jakarta keturunan Minang yakni Rience. Wakakak.
Untunglah ada seorang ibu lewat, dia melihat kebingungan kami lalu menerjemahkan dialek Lumajang itu. Yang artinya ternyata: terserah anda saja.
Eaaaa! Hahahahaha.

Kata Wuri, "Di Jogja, bahasanya nggak gituuu..."
Balas Anes, "Aku ngerti arti kata per kata, tapi nggak ngerti kalo digabungin jadi kayak gitu."
Hihihi. Yasudahlah. Setiap daerah memang punya ciri khas dialek masing-masing. Yang saya ketahui belakangan, dialek Lumajang terpengaruh bahasa Madura, karena raja Lumajang berasal dari pulau penghasil garam itu :)

Hari itu adalah hari terakhir kami bersama-sama. Rience dan Annesya langsung naik bus jurusan Surabaya seusai dari resepsi. Wuri dan saya punya tujuan yang sama, ke Jember. Tapi Wuri berangkat duluan, sementara saya masih ingin menginap semalam lagi di Lumajang untuk keliling kota dan menyerap atmosfirnya.

Malamnya, Rona yang tahu saya sendirian di hotel, menjemput dan mengajak nongkrong di coffee shop dengan suami dan teman-temannya. Saya senang, karena sejak datang saya tak terlalu banyak ngobrol dengan Rona yang sibuk urus ini itu menjelang resepsi.
Saya kangeeeen! :))

Tengah malam, gerombolan kami bubar. Saya diantar lagi ke hotel. Bersiap untuk petualangan esoknya ke Jember.
Asyiknya lagi, salah satu teman Rona, namanya Mas Ari, bersedia mengantar saya ke tempat bus yang langsung menuju Ambulu. Karena tujuan saya ke Jember adalah mengunjungi Pantai Tanjung Papuma, di Kecamatan Ambulu. Mas Ari juga janji akan mengantar saya dulu ke petilasan keraton Lumajang kuno.

Lumajang kuno! Wow! Saya langsung semangat kalau akan mengunjungi situs purbakala. Hehehe.
Padahal sebelumnya bete banget lho, soalnya di awal perjalanan, hape andalan saya si Mimin error. Selalu saja restart kalau akan dipakai. Padahal, saya mengandalkan kameranya, selain kamera saya si Oly itu. Huhuhu....

...................................

Terlepas dari hape rusak yang bikin bete dan jadinya saya susah selfie (hehehe), journey saya kali ini adalah journey yang paling menyenangkan. It fills me with colors.
Saya bersenang-senang dan bertualang ke tempat-tempat yang keren.

Saya juga mendapati bahwa kalau kamu berusaha berbuat baik pada orang lain, orang lain pun akan berbuat baik padamu. Dalam journey ini, alhamdulilllah saya bertemu dengan orang-orang baik yang menolong saya dan memudahkan petualangan saya. Ada Mas Ari, yang mengantar-antar saya selama di Lumajang. Ada mas ojek di Jember yang entah siapa namanya, menjadi semacam bodyguard saya selama mengantar saya ke pantai Papuma dari berangkat sampai pulang.

Saya juga bertemu teman-teman yang menyenangkan. Annesya yang ajaib dan gokil, Wuri-salah satu partner mblusukan saya yang memang sedang saya kangeni, Rience yang pembawaannya kalem keibuan (apakah karena ia psikolog anak? Hihi), Rona dan Mbak Ucik yang hangat, dan Tantri-partner mblusukan jenis solo traveler semodel saya.

Cerita selengkapnya akan mengalir setelah ini ya. Semoga aja saya punya mood untuk cerita sampai habis.
Hehehe.


Rience, Wuri, Annesya & me, bertongsis ria! :D


Adios!

Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...