Showing posts with label confession. Show all posts
Showing posts with label confession. Show all posts

Sunday, November 16, 2014

Shit Happened -- Part 2

Saya masih bad mood. Gila, parah banget gegara terlalu banyak yang cari perkara.
Sampai hari ini masih menjauh dari manusia, kecuali orang-orang yang berkepentingan atas beberapa urusan, dan beberapa teman mengobrol random sehari-hari.

Ini adalah bagian kedua dari curhatan panjang saya.

.......................................


06.04 WIB

Dear kamu, Tukang Ngadu...

Semoga kamu puas ya sudah mengadukan omongan saya kepada si X. Semoga kamu mendapatkan award dari si X atas keloyalan kamu kepada dirinya. Dan congratulation juga bahwa kamu mendapatkan segerbong perasaan hina dari saya kepada kamu.

Seharusnya kamu tahu, bahwa apa yang saya katakan kepada kamu waktu itu, tidak bermaksud memojokkan teman kita si X itu. Saya hanya mengatakan prinsip pribadi saya, yang berseberangan dengan prinsip pribadi si X. Apakah prinsip saya itu merugikan si X? Dalam konteks kasus ini, saya rasa tidak.
Prinsip saya adalah milik saya, dan apa yang sedang atau akan dilakukan si X merupakan haknya.
Jika kami kemudian berseberangan, bagi saya SANGAT TIDAK MASALAH jika saya mengalah agar tidak terjadi tabrakan kepentingan. Dan itu sudah saya sampaikan dengan jelas kepada kamu, kalau-kalau kamu mendadak belagak pikun atau kena amnesia.

Seharusnya, sebagai orang dewasa, kamu bisa menyaring mulut dan otakmu. Seharusnya kamu tahu, mana yang perlu untuk disampaikan, mana yang tidak.
Ketika saya bicara kepada kamu, saat itu saya mempercayai kamu secara penuh. Tidak pernah terbetik dalam otak saya bahwa kamu akan mengadu, dengan alasan apa pun. Seingat saya, saya bahkan mengatakan kepada kamu agar tidak menyampaikannya kepada si X.
Hal itu, karena saya sadar, meskipun saya tidak membicarakan keburukan siapa pun (hanya tentang prinsip saya), kemungkinan orang yang berpikiran picik akan salah paham terhadap saya.

Dan itu akhirnya terjadi. Well, good job, fella!

Oh tentunya saya tidak bakal menerima alasan apa pun seandainya kamu mencari pembenaran atas apa yang sudah kamu lakukan. Tidak ada sedikit pun unsur kebaikan dan kemaslahatan dalam kasus ini.
Kamu sudah menghancurkan image saya di mata seorang teman, dan membuat sikapnya kepada saya berubah. Meskipun seumur hidup saya tidak peduli dengan image saya di mata orang lain, tetapi kali ini hal itu telah merusak silaturahmi antara saya dengan orang lain. Membuat pertemanan saya dengan seseorang yang tadinya baik-baik saja menjadi dingin dan tidak nyaman.
Maaf aja, itu perbuatan yang parah banget buat saya, dan terus terang saya memaki-makimu dalam hati.

Meskipun demikian, saya tidak sepenuhnya menyalahkanmu. Kamu begitu mungkin memang sudah sifatmu.
Saya lebih marah kepada diri sendiri karena betapa tololnya saya sudah begitu naif terhadap kamu.
Saya salah karena keliru menilai orang. Keliru menaruh kepercayaan kepada orang.
Sebenarnya, kalau dipikir-pikir lagi, itulah mengapa saya ini orang yang sangat pilih-pilih dalam berteman. Kenapa saya lebih sering terlihat kemana-mana sendirian atau cukup berdua.
Lalu ketika sekarang, kejadiannya seperti ini...
Yah, saya sungguh tolol.

Jadi, mari kita balik lagi ke kamu, wahai Tukang Ngadu....
Nasehat saya buat kamu.
Jadi orang jangan terlalu suka bicara deh. Jangan terlalu banyak ngomong. Kadang-kadang, kita nggak bisa mengendalikan apa yang keluar dari mulut kita. Hal-hal yang tidak penting yang terlontar begitu saja bisa mencelakakan kamu atau orang lain.

Satu lagi, jangan suka memusingkan anggapan orang terhadap kamu. Nggak usah ingin dianggap positif oleh orang lain, karena hal seperti itu nggak bisa dipaksakan. Nggak usah insecure, lalu sok-sok mengadu biar dianggap setia. Kalau kamu memang aslinya menyenangkan, orang lain juga akan mengapresiasi. Kalau kamu memang menyebalkan, kamu nggak akan bisa apa-apa. Kedokmu akan terbuka suatu hari.

Di masa mendatang, ingatlah satu hal.
Jangan bersikap palsu di depan saya. Cepat atau lambat saya akan tahu, meskipun tidak ada yang memberitahu.

I can see right through your bullshit act. 
I can see your true colors. 
I observed you.

.........................................

PS: banyak teman blogger mengeluh karena nggak bisa post komentar di beberapa postingan ini. Maaf ya. Saya tahu kok, banyak yang ingin menghibur dan menyemangati. Terima kasih sebelumnya.
Tapi kali ini saya cuma ingin 'didengarkan' saja. Dan terima kasih juga sudah 'mendengarkan.'
*kiss kiss*


pict from here




Image and video hosting by TinyPic

Thursday, November 13, 2014

Shit Happened -- Part 1

Belakang ini, saya menjauh dari pergaulan. Memilih membaca tumpukan novel yang tertunda di sela rehat menulis.
Saya sedang bad mood berat. Banyak yang terjadi, yang mengganggu ritme nulis saya.
Tulisan ini anggap saja sebagai curhat terbuka, dan karena takut kepanjangan dipenggal jadi beberapa bagian.

Nah, ini bagian pertama.
.............................

22. 36 WIB

Jadi di sela-sela menulis Project Lost malam ini, ada percakapan random dengan Monica alias Momon. Agak tidak biasanya saya kepengin berinteraksi dengan manusia (bahaha). Mungkin karena saya sudah lama sekali nggak chat sama dia.
Seperti biasa, obrolan saya dengannya tidak pernah normal.
Tapi kali ini topiknya bikin kami ketawa-ketawa miris.

Kami mengobrol tentang cowok. Klasik bukan? :)

Baru-baru ini, kami berdua punya kasus mirip, berkaitan dengan pria yang ... ya begitu lah. If you know what I mean (jelas nggak bakal tahu juga sih hehe).

Saya nggak berhak cerita tentang kasus Momon tanpa seizin dia. Tapi untuk kasus saya, bolehlah saya bilang di sini, bahwa saya nggak punya waktu buat meladeni kode-kodean dan no mention dari siapa pun.
Ini bukan tentang orang tertentu, ya. Jadi garis bawahi: dari siapa pun.

Kalau ingin kenal saya lebih dekat, just reach me personally. Lelah sekali harus berbalas kode atau status no mention, atau berbalas komentar random tanpa juntrungan di media sosial. Lagian sejak dulu saya nggak pernah kayak gitu. Mau mengobrol dengan saya jangan di ruang publik dan ditonton seluruh dunia. Apa lagi kalau pertanyaannya: kamu sedang apa?

Duh. Please, man. DM aja keleus.

Nggak usah posting sedang mendengarkan lagu apa, yang liriknya kode untuk saya sebagai wakil dari perasaanmu. Jangan. Nggak usah. Kirim lagunya secara personal aja napa. Itu lebih manis (bukan berarti juga bikin saya jadi meleleh sih--kan saya belum tentu naksir juga).
Setidaknya itu lebih gentle. Berani. Manly, kalo istilah Momon.

Jangan posting gambar yang isinya quote buat kodein saya juga.
Ngomong aja langsung. DM. Private message. Aku kangen kek. Apa kabar kek. Sedang apa kek.
Saya belum tentu bilang 'gue juga kangen' (kan belum tentu naksir). Tapi setidaknya, saya hargai perhatiannya.

Pada akhirnya, karena cuma kode-kodean dan no mention, jangan salahkan kalau saya malah ilfil.
Ya ampun, capek tahu ditimbunin hal-hal kayak gitu setiap hari, sembari nggak ada action nyata. Urusan saya sudah banyaaaak.

Saya sedang menulis novel.
Saya mengurus bokap dan beberes rumah dan masak dan segala urusan kerumahtanggaan lainnya.
Saya lagi merancang liburan akhir tahun buat adik saya-bikin itinerary-cari hotel-sewa mobil-perincian budget-kasih tips dan trik, karena adik saya ini blas orang rumahan yang nggak pernah kemana-mana, jadi saya khawatir dia nyasar.
Saya bikin daftar trip saya pribadi untuk 6 bulan ke depan selama musim hujan.
Saya juga sibuk memikirkan hal-hal lain.
Pokoknya nggak ada waktu.

Karena itu, mohon maaf kalau saya bergeming saja. Semoga mereka-mereka itu nggak menganggap saya PHP.
Gimana saya PHP? Yang flirting siapa?

Begitulah terkadang, pembawaan saya yang mudah akrab sama cowok suka disalahartikan sama beberapa orang. Dikira saya naksir, padahal saya memang lebih nyaman bergaul sama cowok ketimbang sama cewek (kecuali kalo sama sintingnya). Begitulah saya sedari kecil.

Atau terkadang juga awalnya saya sedikit naksir, tetapi seiring waktu--karena kelakuan si cowok--saya jadi ilfil (saya sekarang gampang ilfil, dan cenderung apatis).
Nah, beberapa dari mereka kadang-kadang masih ge-er aja (telat geer-nya). Lalu sok kecakepan. Lalu sok dingin (karena merasa pret-gue-gak-demen-sama-lo-gak-level)

Halaaah. Pengin rasanya ngakak depan muka cowok-cowok model begini.
Cuy, kalo Nicholas Saputra sih gue taksir abadi. Nah elo? Get a life. Justru karena elo songong begitu, gue jadi ilfil.

Duh. Capek lagi! :))

Sesungguhnya, saya menyesal kalau sampai ada yang merasa terluka (atau ge-er berkepanjangan) karena sikap dan prinsip saya tersebut di atas.
Maaf juga, kalau saya nulisnya agak sarkas dan terkesan belagu.
Nggak, saya nggak belagu.
Apalah saya ini. Cuma remah-remah kerupuk di kaleng Khong Guan...

Intinya sih dari omelan tulisan saya dari atas ke bawah, pesan moral untuk kaum pria:
Kalo lo suka sama cewek, ngomong langsung. 
Jangan pake kode-kodean.
Malesin, cuy!

Gitu aja. Sekian. Peace. No hard feeling ya :)

................................




pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Monday, June 10, 2013

Day 227 of Ours #2

Rindu ini seperti darah yang menderas dari luka yang menganga, Tuan.
Seperti akar yang tercabut tanpa meminta pohon bersabar.
Seperti hujan yang terus menerus turun, tak peduli segalanya tenggelam.
Seperti detik yang maju tak kenal jeda.

Di dahan mana harus kucegat angin untuk menitipkan selendang harapan muram dan cinta, yang anehnya, berkilauan?

Dadaku sesak sejak hari-hari yang kau robek dari almanak.
Berpura-pura semuanya tak pernah ada. Harapan. Janji-janji. Semangat yang kita rajut sambil berjalan ke tujuan.

Kaulah yang menciptakan sungai di mataku, Tuan.
Mengangkat sauh dan mengendap menuju bulan.
Di pelabuhan mana harus kucari nakhoda yang meyakinkanmu untuk teguh?

Rindu ini seperti ruh yang melayang tanpa tubuh. Dirimu jalan pulang.


Sungai di mataku menderas. Arusnya melubangi hatiku. 



Image and video hosting by TinyPic

Day 227 of Ours

Apa kabar, Tuan?

Hari ini hari ke-227 kita.
Aku menemukan sebuah tanggal di ponselmu kemarin. Aku terkejut senang dan menatapmu. Tak mengira kamu mencatatnya. Maka aku ingin kau tahu bagaimana caraku mencintaimu.
Sebelum kau memutuskan untuk melupa.

Tahukah kau.
Mencintaimu...
Seperti awan yang memeluk langit siang. Berbagi cerita dengan matahari.
Tentang hari-hari menjemput mimpi.
Mencintaimu...
Seperti bintang yang bangga pada rembulan. Berbagi kelambu saat malam.
Menyetia sampai padam.
Mencintaimu...
Seperti napas menghidupi ruh. Membawakan darah ke jantung.
Tak putusputus. Tak pernah ragu.
Mencintaimu...
Seperti sesuatu yang telah mati lalu hidup kembali.
Seperti api yang mencintai air. Mengulurkan sulur-sulurnya yang rindu kepada hujan.
Meski harus musnah.
Meski harus punah.

Kau ingin aku bahagia. Begitu katamu.
Maka kuberitahu sekarang, Tuan, apa arti bahagiaku.
Bahagia itu adalah menyusuri jalan ini bersamamu. Sampai hari tak terhitung lagi.
Selamanya, tak berjeda.


Ini tentang Gadis Api yang mencintai Pangeran Air. 
Ketika suatu hari, langit mengirimnya melalui hujan di balik kaca jendela.


Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, April 30, 2013

Surat Angin

Rona,
Seharusnya waktu itu, angin tidak usah berbelok mampir ke padang sabana, ya...
Ketika ia terusir dari hutan, seharusnya berhembus saja ke gurun.
Seharusnya ia tak hiraukan lambaian ilalang menghijau di dekat danau. Seharusnya ia terus menatap lurus. Gurun menunggu.

Di gurun, kesunyian meraja dan ia bisa menjelma petapa. Kau tahu kan, di sekeliling hanya ada pasir yang berdesir. Gurun mungkin saja berbatasan dengan laut. Angin bisa tamasya ke sana. Menyapa ombak, menenggelamkan diri mengejar buih, dan bermain di sela karang bersama ikan-ikan. Sendiri tak berarti sunyi.

Oh, ya. Tentu.
Kau sudah memperingatkan angin untuk teguh, ketika angin memutar arah ke sabana. Hati-hatilah, katamu. Sayapmu sudah tak utuh lagi. Tercabik setiap kali kau tersakiti kebodohanmu. Bisakah kali ini kau lebih berpikir panjang?
Namun angin terlalu keras kepala rupanya. Ia bilang padamu, ini akan mirip kisah Putri Salju, kau tahu. Pangeran mencium putri yang mati suri, dan mereka bahagia di akhir cerita.

Rona,
Padang sabana di dekat danau itu indah sekali. Selalu begitu, kau tak usah sangsi. Angin masih menari-nari di sana bersama ilalang dan kupu-kupu di atas mahkota dandelion. Tetapi matahari mencuri air danau dan mengubahnya menjadi mendung. Mengejarnya, memerangkap tawa dan bahagia.

Tentu saja angin tak sudi terjebak bersamanya, meniupnya jauh-jauh ke seberang samudera. Agar hujan hanya lewat sekejap, dan tak memaksanya melengkapi badai.

Tetapi Rona,
Seperti pernah kau bilang, seharusnya angin tidak pernah mengubah arah ke sabana, iya kan? Seharusnya ia di gurun, berhembus tenang membelai pasir.
Tetapi tentu saja sekarang sudah terlambat. Ia terikat pada ilalang dan danau yang memantulkan kilau perak di wajahnya. Ia akan tetap di sana. Meski gelap. Meski hujan. Meski harus menjadi badai.
Angin merangkum sayapnya yang compang-camping dalam kelindan duka. Kalau ia tak lagi bisa terbang, tak mengapa.

Rona,
Seharusnya, ini kisah cinta yang abadi dan tak habis-habis. Seharusnya.


A wind has blown the rain away and blown the sky away and all the leaves away, and the trees stand. 
I think, I too, have known autumn too long. 
 - E.E. Cummings


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Sunday, April 28, 2013

Hari Abu-Abu

Setiap kali mendengar berita kematian, saya selalu teringat Almarhumah Ibu dan hari kepergiannya. Saya teringat hari ketika saya menangis sambil berteriak-teriak, marah kepada Allah, karena Ia memanggil Ibu. Beberapa anggota keluarga mengelilingi saya di tempat tidur. Mencoba menenangkan, memberi nasehat agar bersabar. Tapi saya tidak mau mendengar.

Saya terus berteriak-teriak marah kepada Allah. Bertanya kepadaNya, kenapa ibu saya yang Ia ambil. "Ibu orang lain saja, jangan ibuku! Jahat, ya Allah! Engkau jahat!"

Saya baru bisa ditenangkan ketika Ibu hendak dimandikan. Mereka memapah saya ke belakang, untuk turut memandikan Ibu.

Itu peristiwa yang tidak akan pernah saya lupakan.
Ibu saya, yang selalu cantik dan murah senyum itu, yang tubuhnya selalu hangat dan wangi sabun, terbaring diam di atas dipan pemandian.

Ya. Ia seperti sedang tidur. Tetapi tubuhnya kaku dan dingin. Dan seperti film yang dipercepat, tiba-tiba berkelebat kilas balik kami berdua dalam benak. Saat saya masih kecil, menari-nari di halaman dan Ibu bertepuk tangan... lalu terakhir kalinya saya mendorong kursi rodanya ke teras untuk berjemur dan menyisiri rambutnya.

Mata saya membasah. Napas saya tersumbat sedu sedan.
Mereka menyiraminya dengan air, menyabuninya, memijat-mijatnya. Perlahan, saya mendekat. Mengusap pipinya. Matanya tetap saja terpejam. Padahal, saya berharap ia bangun dan bilang bahwa ia cuma pura-pura meninggal untuk menghukum saya, anaknya yang sering menyusahkan.

Namun, setelah pemakaman Ibu, saya mulai memahaminya.

Allah pasti menulis skenario ini untuk kebaikan Ibu dan kebaikan kami yang ditinggalkan.
Ibu saya, perempuan baik dan sabar, yang diam saja meski disakiti orang lain. Disuruh-suruh ini itu. Dimanfaatkan. Dibohongi. Orang-orang yang dulu melakukan itu kepada Ibu, kini memikul beban dosanya. Karena orang yang bisa memupusnya dengan maaf sudah tak ada lagi.

Sekarang saya tahu, Allah tidak jahat. Ia memberi Ibu waktu istirahat yang damai, yang tak akan lagi membuatnya lelah dan resah. Memberi saya kesempatan untuk dewasa dan menjadi apa yang saya inginkan. Penulis. Ibu tidak pernah setuju saya mewujudkannya. Memberi saya waktu lebih dekat dengan Bapak. Dulu, saya selalu saja bertengkar dengannya. 

Kemarin, Ustaz Jefri Al Buchori meninggal dunia. Hari yang kelabu lagi di hati saya. Mengingatkan saya pada hari kepergian Ibu. Membuat saya menangis melihat isterinya yang terpukul seperti saya dulu.

Sejak Ibu pergi, orang-orang yang saya kenal menyusul pergi satu demi satu, dan kemarin Ustaz Jefri juga pergi, kematian menjadi pengingat yang tajam. Bahwa setiap orang akhirnya akan pergi. Bahwa setiap orang sesungguhnya tengah menunggu giliran. Bahwa dunia hanya tempat kita mengumpulkan koin agar bisa membeli tiket ke surga.

Ya Allah, koin saya belum cukup banyak. Dan selalu saja ada yang hilang terjatuh, ketika saya lengah saat melakukan hal-hal yang tak Engkau sukai. Berilah saya waktu untuk menabung, agar cukup membeli tiket surga itu.

Aamiin.


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Monday, February 4, 2013

Those Eyes

Ia tidak tahu saya menyukai matanya. Mata yang biasa saja, agak mirip dengan mata saya. Sipit dan menghilang jika tertawa. Namun bukan itu yang membuat saya suka. Bukan bola matanya yang hitam-sementara saya cokelat tua. Bukan binarnya yang usil kalau sedang menggoda saya. Bukan tatapan lembutnya jika ia sedang menatap saya yang sedang tertawa-tawa karena berhasil mengerjainya.

Saya jatuh hati pada momen ketika ia tengah fokus menatap sesuatu melalui kamera di tangannya.

Wajahnya mengeras dengan tatapan sekaku batu. Ia bahkan akan melupakan saya sejenak dalam keasyikannya. Ia berubah menjadi sosok lain yang tidak saya kenal. Sosok si pencuri waktu yang menyimpan segala momen dalam kotak ajaib berwarna hitam itu.

Ia tidak tahu saya menyukai matanya. Yang berubah sedingin es batu saat sedang memerangkap waktu. Ia tidak tahu, dan saya akan menyimpan sendiri rahasia itu.

Matamu 
adalah langit tak berawan 
dilintasi camar-camar perak tak berkesudahan
Matamu 
adalah samudera tak berbatas
saat badai melambai dan bergegas
Matamu 
menyimpan hatiku di dalamnya,
hangat dan menyala.

pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Sunday, January 13, 2013

Jogja Kemarin

Jogja kemarin, tidak seperti Jogja yang biasanya.
Tahu kenapa? Karena saya menyusuri jalan-jalannya yang teduh bersamanya. Hari itu, melihatnya di Stasiun Tugu membalas lambaian tangan saya, seperti ada retakan hati yang kembali utuh. Melihatnya tersenyum, menggenggam tangan saya dan balas tertawa, Jogja tak lagi muram.

Tidak. Jogja memang tak pernah muram. Namun kemarin, Jogja yang biasa menjelma taman Tuileries di musim panas. Dengan bunga-bunga yang bermekaran, alih-alih kristal hujan yang menderas.

Jogja kemarin, adalah Jogja yang berwarna sehangat tanah. Bahkan ketika saya duduk di boncengan motornya saat menerobos hujan yang tak sudi berbaik hati untuk berhenti. Kehangatan yang sama mengalir dalam kebisuan di antara denting sendok dan piring berisi nasi goreng kari, atau ketika saya menatap punggungnya, sosoknya yang jangkung saat mengantri tiket bioskop Twenty One.

Jogja kemarin, adalah Jogja yang membuat saya menemukan diri sendiri. Ketika saya menjadi saya, yang pernah ada bertahun-tahun lalu, sebelum segala kesedihan yang menyebalkan itu.
Bersamanya, Jogja kemarin, melebur dalam memori hujan Januari.
Dalam ingatan tanpa jeda, tak akan pernah lagi terasa sama.

Menatap sosoknya, 22 sentimeter menjulang lebih tinggi dari saya, menunduk dan tersenyum pada saya. Bahagia itu sungguh sederhana.

..................

"Kamu tahu nggak arah jalannya?"
"Kayaknya agak lupa."
"Nah lho.. kok bisa lupa?"
"Iya. Tapi kan kalau jalan ke hatimu aku nggak lupa."
                             - E dan B, di atas motor



Image and video hosting by TinyPic

Monday, July 9, 2012

Rahasia

"Kok aku jadi tersipu-sipu gini ya, Ceu?"
"Hayooo... makanya sering-sering disapa. Dia kangen, tuh..."

(Rona dan Enno, percakapan malam menjelang tidur)

...................

Hei,
Kamu adalah rahasia saya. Rahasia paling besar abad ini. Nah mulai hiperbol!
Kamu bahkan tidak tahu sudah saya jadikan rahasia. Begitulah. Saya menyembunyikannya rapat-rapat. Di balik bantal, di balik baju dalam lemari, di balik tanah. Di balik sikap yang pura-pura. Saya bahkan menaburinya dengan bubuk kopi banyak-banyak, supaya aromanya tidak terendus siapa pun.

Tentu kamu bukan bangkai. Manalah mungkin saya tersipu-sipu oleh bangkai.
Kamu terdiri dari sebentuk rasa suka, yang terjalin sejak saya masih lebih muda. Kekaguman lama. Lalu muncul seiring kebetulan yang ajaib.

Kalau saya suka sesuatu, saya tidak pernah berharap lebih. Sekedar memorabilia pun tidak. Lagipula memangnya kamu artis? Tak ada poster, tak ada foto bertanda tangan, tak ada apa pun selain bahwa saya merasa suka. Sudah, itu saja.

Kalau ada yang bisa membuat saya ambigu, itulah kamu. Saya memilih, mencoba menangguhkan perasaan saya pada seseorang yang lain, karena lebih menyukaimu.
Duh, tapi saya malu.
Saya menyimpannya rapat karena malu.
Malu kalau kamu tahu saya suka.
Malu kalau orang-orang lalu menduga yang tidak-tidak.
Di rumah maya ini sudah terlalu banyak saya mengumbar cerita. Kali ini, biar untuk saya saja. Oh, dan Rona tentunya.

Saya tidak akan menggambarkan kamu seperti saya menggambarkan apa pun, siapa pun, yang sudah-sudah. Kamu tidak seperti angin, laut, ranting, gunung atau semua benda, sungguh pun mungkin ada lambang yang tepat untukmu.

Kamu tidak akan jadi label, karena itu hanya akan membuatmu sama dengan yang lain, yang semuanya ternyata brengsek itu.
Tidak ah. Saya akan menjagamu sebagai rahasia. Tidak berharap apa-apa.

*tutup muka karena malu*

..............................


“Why is it," he said, one time, at the subway entrance, "I feel I've known you so many years?"
"Because I like you," she said, "and I don't want anything from you.”
Ray Bradbury, Fahrenheit 451


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, July 4, 2012

Till We Meet Again

"Manis deh..." Kata saya pada Rona, siang itu.
"Dan kau masih bilang nggak naksir?"
"Dikit sih, tapi tengsin heheh..."

...................

Bahwa aku sedikit naksir kamu, itu benar. Hanya sedikit. Dan itu pasti gara-gara bicaramu yang lembut sebelum pamit.
Dammit! Pikirku di tempat tidur malam itu, beberapa menit setelah kamu menghilang dari hadapanku. Jangan ngomong selembut itu. Jangan menatap sedalam itu. Jangan bikin aku terpesona, karena ini bukan waktunya.

Benar, kamu menghilang dalam benakku. Hanya sebentar, untuk muncul lagi akhir-akhir ini. Berjalan hilir mudik tak kunjung lelah dalam angan yang tak bisa dihapus.

Hellooo....
Tidak capek ya, mondar-mandir disitu?
Sana enyah! Kamu membahayakan diriku yang sedang rentan. Yang bertekad hanya fokus pada satu hal: MENIKMATI HIDUP.
Jangan bikin aku galau. Itu melelahkan. Menyedot seluruh daya hidupku, tahu.

Begini saja.
Mari kita buat perjanjian.
Bagaimana kalau kamu tetap di sana, di sudut benak terjauh dan tergelapku, hm?
Sampai suatu hari takdir mempertemukan kita lagi, lalu kita lihat apa yang akan terjadi.
Deal?
........................

"Ini bukan jatuh cinta!" Saya ngotot.
"Yah, kalo jodoh nggak akan kemana..." Rona sama ngeyelnya. Saya membayangkan, dia mesem-mesem di sana.


“Just when you think it can't get any worse, it can. And just when you think it can't get any better, it can.”
― Nicholas Sparks, At First Sight



pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Sunday, April 8, 2012

Secuil Waktu

Saya cuma punya secuil waktu luang dalam sehari sekarang. Pembukuan dan urusan pabrik benar-benar menyedot seluruh daya dan tenaga dan pikiran juga. Badan saya kadang terasa remuk. Itu pasti karena saya suka ikutan angkat karung-karung plastik yang harus ditimbang (sekitar 6 kiloan, tapi karungnya besar-besar) dan hilir mudik di seantero pelosok pabrik.

Akibatnya, karena kecapekan, begitu malam tiba saya sudah mengantuk. Jangankan membaca, menulis pun harus berjuang ekstra keras. Kadang-kadang, judes saya kumat. Seperti semalam, ketika saya sedang menonton tivi, kakak saya mengirim pesan pendek menanyakan harga satu item barang di pabrik. Saya bilang, saya tidak melayani urusan pabrik di luar jam kerja. Silakan tanyakan ulang di hari Senin, di jam kerja. Malam hari adalah dunia saya sendiri. Menonton tivi, mengobrol dengan teman di telepon, membaca, dan menulis.

Akhir-akhir ini frustasi mulai menyerang, ketika novel kedua mulai digarap. Saya butuh pikiran yang tenang, sunyi, sehingga bisa tenggelam dalam dunia imajinasi yang saya ciptakan. Kenyataannya otak saya dipenuhi hitungan dan angka-angka, dan segala masalah di pabrik. Akhirnya paragraf pertama di bab pertama stuck sampai sekarang.

Orang-orang di pabrik juga tidak membuat hidup saya mudah. Ada saja yang membuat ulah dan menghabiskan kesabaran. Permintaan ini-itu, tuntutan ini-itu, dan ketidakjujuran yang berujung pada kerugian finansial. Damn!

Bekerja dengan orang kampung tidak sama dengan orang kota seperti saat saya di Jakarta. Maaf kalau saya bilang, orang-orang kampung tidak berpikir analitis, metodologis dan sistematis. Mereka hanya tahu mengeluarkan tenaga, lalu berharap bayaran. Yang saya bicarakan bukan orang kampung yang sekolahan tentu saja. Bukan yang sarjana, tentunya. Kebanyakan karyawan di pabrik ini adalah orang-orang yang bahkan hanya lulusan SMP.

Kemarin dua orang karyawan laki-laki bertengkar. Salah satunya sudah memegangi kepala goloknya yang terselip di pinggang. Untungnya ada abang ipar saya. Thanks God, sekarang ada dia di pabrik ini membantu saya (baru seminggu sih). Keributan dilerai, si pembawa golok yang memang pencari gara-gara dimarahi. Abang ipar saya itu jenis yang tenang dan pendiam seperti ayah saya. Tetapi soal pekerjaan, dia sangat tegas. Sehaluan dengan saya.

Sudah tiga hari ini saya bedrest di tempat tidur karena diserang flu berat, dan mungkin juga stress berat.

Saya sungguh sudah muak dengan segala urusan pabrik ini. Saya kepingin keluar dari urusan ini. Tetapi saya bagaikan sudah terjebak di dalamnya.

Saya cuma kepingin menulis. Please, God....


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Thursday, February 9, 2012

Serpihan

Tentang 'Old Story' beberapa hari ini. Tentang seorang lelaki, yang pernah mengisi hidup saya. Tahun 2006 sampai 2008. Seorang laki-laki yang dulu sangat saya cintai. Mungkin, sampai sekarang pun masih. Meski tak sebanyak dulu. Meski hanya tinggal serpih-serpih yang mengendap di relung hati. Tetapi ia masih tersimpan di sana. Dalam kenangan yang berdebu.

Ini tentang serpihan kisah lama yang tak sudi dihanyutkan waktu. Tentang cinta yang harus terpenggal karena perbedaan dan kebenaran yang disembunyikan. Tentang perjuangan untuk bisa bersatu oleh satu pihak, dan belitan masa lalu di pihak lain.

Saya dan dia. Dua orang yang dipertemukan Tuhan tanpa sengaja. Saya dan dia. Dua orang yang dipisahkan Tuhan (tampaknya) dengan sengaja. Agar kami mengerti makna hidup, cinta dan kebenaran.

Dia nasrani. Saya muslim. Ini bukan tentang agama mana yang terbaik, atau keyakinan mana yang lebih utama. Ini hanya tentang titik temu yang tak ketemu. Kawin lari yang pernah menjadi opsi, kemudian tak jadi. Saya ingin terus maju, dia mundur. Sejuta alasan, semuanya demi kebaikan saya. Tentu ada benarnya. Saya sesungguhnya tak mau mengecewakan orangtua. Dia mungkin begitu juga.

Lalu saya temukan kebenaran yang sesungguhnya.

Dia ragu. Karena dia masih dibelit bayang-bayang itu. Seseorang yang lain. Cinta lama yang datang sebelum saya.

Saya bisa saja bilang: dia jelek, tak bisa kau bandingkan dengan aku.
Atau bilang: kau suka dia karena dia pintar. Tapi aku juga pintar.
Saya bisa bilang: Dia mencintaimu, dulu. Tapi aku lebih mencintaimu sekarang. Apa yang bisa dia lakukan untukmu, aku bisa berkali lipatnya.
Saya mungkin harus bilang: dia meninggalkanmu. Tapi aku bersamamu, dan bersedia berkorban. Kehidupanku sekalipun.

Tapi mulut saya bungkam. Karena saya tahu, bahwa saya sesungguhnya tidak tahu apa-apa. Karena saya juga tahu, cinta yang memilih. Bukan kita.

Jadi kami putus baik-baik. Saya hanya tersenyum samar ketika sekali lagi dia mengemukakan alasannya tentang perbedaan. "Anak kita. Dengan ajaran seperti apa kelak kita mendidiknya? Kita tak bisa berebut pengaruh bukan? Tidak, kita memang tidak akan saling memaksakan. Tetapi dia akan bingung nantinya."

Klise. Karena semua agama mengajarkan kebaikan, cinta dan perdamaian. Bagian mana yang sulit untuk diajarkan kepada seorang anak dari semua hal itu?

Kamu pergilah, pikir saya sedih. Kamu tidak cukup pandai berbohong dan aku terlalu pandai kau bohongi dengan cara seperti ini. Pergilah. Terbang jauh-jauh menuju impianmu. Pada perempuan yang tak bisa kamu lupakan.

Suatu saat, kalau kamu membaca ini, kamu harus tahu, Mas.
Sakit itu tak kunjung terbayar. Ketika aku menangis dalam pelukanmu, saat kita memutuskan selesai. Ketika aku mengantarmu ke bandara dan melihatmu pergi dari anjungan pengantar. Ketika setelah itu kamu kirimkan pesan-pesan tentang cinta yang masih ada.


Belum terbayar. Kamu harus tahu.

pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, November 2, 2011

Intermezzo #4. After You Dumped Me

Hei, tahu tidak? Baru saja terpikir olehku betapa pandainya kau berbohong.
Semua yang pernah kau katakan padaku itu. Yang kupikir datang dari lubuk hatimu.
Ternyata hanya usahamu menutup ragu.

Kau tidak sungguh-sungguh, ketika mengajakku melihat masa depan.
Semua mimpi-mimpi yang kita satukan, semua angan yang kita abadikan, dan bahkan kuhapus jejak masa laluku untukmu.
Semua itu hanya lelucon.

Kau berpikir lihat saja nanti.
Jalani ini dulu. Sebelum semuanya ditepiskan dalam semalam.
Mudah bagimu, karena bukan kau yang memunguti keping-keping hati patah.

Maaf jika aku sinis.
Karena kau diam saja.
Kau diam saja di sana, di tempatmu menekuri rasa bersalah.
Jika saja kau menyambut uluran tanganku untuk bicara
dan kita, dengan kepala dingin, menjernihkan masalah
Segalanya berakhir dengan baik sejak semula.

Gara-gara kau,
aku terus berpikir, berpikir, berpikir tiada henti.
Tertawa dalam kesedihan, meski itu lebih baik daripada berdiam diri dan bersembunyi dari dunia.
Kau sudah memilih ini, darl.
Kau terkucil dari dunia yang menyenangkan.
Dan aku berpikir, berpikir, terus saja berpikir.




Let him know that you know best
Cause after all you do know best
Try to slip past his defense
Without granting innocence
Lay down a list of what is wrong
The things you've told him all along
And pray to God he hears you

-The Fray, How to Save A Life-


 ... and pray to God he hears me
pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Monday, October 17, 2011

Ini Saya

Hola.

Apa kabar kalian, guys? Tadinya saya pikir saya tidak perlu turun gunung lagi setelah tulisan saya yang terakhir lima hari yang lalu. Setidaknya saya masih bisa 'tega' membiarkan e-mail menumpuk di inbox saya, yang isinya meminta saya mengurungkan niat berhenti menulis di sini.

Ya, saya tahu. Ini bukan yang pertama kalinya saya memutuskan untuk berhenti menulis dan bukan pertama kalinya juga inbox saya menjadi penuh.

Saya tidak sedang mencari sensasi. Jika kemarin saya bilang saya akan berhenti menulis, itu benar-benar saya niatkan dalam hati. Saya sungguh muak dengan blog ini, sampai sekarang pun masih. Blog ini penuh dengan catatan-catatan tidak penting seorang perempuan yang galau tidak ada habis-habisnya.

Saya muak, sedih dan berulangkali menyalahkan diri sendiri karena merasa bahwa hidup saya begitu menyedihkan. Saya muak pada diri saya sendiri yang selalu saja tidak pernah belajar dari kesalahan. Terlalu mudah percaya, terlalu tulus mencintai. Sehingga ketika semuanya runtuh, saya ikut luruh.

Apa sih bagusnya isi blog ini? Apa yang kalian pelajari dari sini?
Ingin tahu bagaimana hati perempuan? Jangan di blog ini. Kalau kau lelaki, pemiliknya yang labil akan jatuh cinta padamu habis-habisan. Lalu ketika kau merasa sudah cukup banyak belajar dan memutuskan meninggalkannya, ia, si pemilik blog hanya akan menyalahkan dirinya sendiri alih-alih membencimu.

Teman saya, Vani, memberi saya nasehat. Lain kali jangan jatuh cinta di sini. Jangan jatuh cinta pada seseorang yang tahu bahwa saya penulis. Jatuh cinta saja di dunia yang nyata.

Saya tahu maksudnya. Saya tahu itu tentang mengantisipasi ekspektasi. Saya tahu nasehatnya itu untuk melindungi saya. Tapi kemarin, sebenarnya saya ingin sekali berkata padanya, bahwa dimanapun saya jatuh cinta, bagi saya semua itu nyata. Dan bagaimana mungkin saya menyembunyikan kepenulisan saya? Itu sudah seperti label yang tercetak di dahi saya besar-besar. Menulis adalah bagian dari hidup saya.

Hal yang terakhir itulah yang akhirnya menyadarkan saya, bahwa percuma saja saya memutuskan berhenti menulis di sini. Toh saya akan tetap menulis di mana saja. Tidak ada pengaruhnya bagi saya berhenti menulis di blog ini, kecuali hanya menimbulkan kesedihan dan kekecewaan bagi kalian, teman-teman saya di sini.

Saya sampai pada titik itu. Bahwa saya tidak boleh egois. Bahwa sejak saya membuat blog ini lima tahun lalu, tanpa saya benar-benar sadari, saya telah membangun sebuah rumah dan keluarga di sini. Jadi jika saya memutuskan berhenti, itu sama saja seperti anak yang kabur dari rumah dan menyusahkan keluarga.

Saya tidak tahu kapan saya akan sembuh. Mungkin masih jauh. Mungkin tidak akan pernah seratus persen, karena rasa sakit yang ini bukan disebabkan kebencian. Bagi saya lebih mudah menyembuhkan jika kebencian menjadi alasan bagi saya untuk melupakan.

Ya. Saya masih sedih. Masih sering menangis. Masih insomnia. Masih mencintai dia. Masih menyalahkan diri saya sendiri.

Tetapi saat ini ada satu pekerjaan yang harus saya selesaikan. Saya sedang menggarap Kisah Abe menjadi sebuah novel. Sebuah penerbit meminta saya menjadikan serial Kisah Abe itu menjadi sebuah novel, dan meminta saya mengirimkan outline-nya. Beberapa hari yang lalu setelah saya memutuskan berhenti menulis di sini, mereka memberi kabar bahwa outline saya disetujui, tidak perlu ada revisi lagi, disertai rasa optimis bahwa itu akan menjadi cerita yang bagus.

You manage your bad condition into good thing. Keep up the spirit, No! 
Itu pesan pendek dari teman lama saya, Eka Dia yang paling hapal seperti apa saya kalau sedang sedih. Saya tidak pernah menyembunyikan tangis, ratapan dan racauan saya di depan dia. Dan dia selalu memeluk saya meski dari jauh.

Terima kasih buat kalian juga yang selalu memberi saya pelukan dan dukungan.
Ini saya.
Menulis lagi di sini, meskipun mungkin tidak akan serutin sebelumnya, setidaknya sampai proyek novel saya selesai. Apakah ini kompromi yang adil, teman-teman? :)

Saya mengganti tampilan blog ini. Meskipun saya tahu, semua kenangan di dalamnya akan selalu tetap sama.


Still hurt.....
pict from here




Image and video hosting by TinyPic

Thursday, October 6, 2011

Ketahuilah Bahwa...



If you wake up all of a sudden in the middle of the night
If you get lost in your thoughts looking into the darkness
If you feel a warmth on your cold hands
And if the alarm clock rings times that are too late
Know that I am thinking of you

.............


Kemarin....

Di tepi danau itu ada pohon-pohon besar, tempat angin bermain-main, menyelinap di antara dedaunannya yang tumbuh bergantian sepanjang abad-abad yang merangkai sejarah. Dan aku mengamatimu berdiri menerawang di bawah pokok-pokok dahannya yang mirip kanopi. Tanpa kau ketahui. Tanpa kau sadari. Karena kau terhanyut dalam duniamu sendiri.

Dari sekian juta frasa yang kita rangkai dan kau simpan dengan sangat baik di laci ingatanmu yang tajam, aku lupa memberitahumu satu hal. Bahwa terkadang aku peka seperti Jasper Hale, yang bisa merasakan emosi. Aku merasakannya mengambang di udara, jiwamu menyurut dariku pelan-pelan. Aku merasa kau menarik diri jauh ke dalam inti batinmu. Memeluknya erat, menyembunyikannya dari hatiku. Aku tahu. Sungguh aku tahu.

and this confession, I guess, make you more believe that I was too good to be true as you said once. 
Does it scrape over your ego again?

Seharusnya kau tak perlu mewujudkan hari itu, bukankah begitu? Seharusnya kau tak perlu berpura-pura  menghayati 'kita' jika di tengah jalan kau mengalungkan jerat ke leherku dan membunuhku dengan sekali tarik. Kau berharap 'langsung mati' tidak membuatku menderita. Kau salah, aku berubah menjadi zombie, dan itu lebih menyakitkan.

the day when looking at you and I love you more
is the day of my verdict of death


Jauh sebelum itu...

Kadang-kadang mereka bisa menebak siapa yang kucintai itu dan bertanya padaku sambil menunjukmu. "Jadi dia?" Aku tak bisa mengelak dan hanya bisa mengiyakan.

Tahukah kau perasaanku setiap kali mengangguk dan berkata 'ya'? Rasanya seperti sungai yang mengaliri lembah dengan airnya yang sedingin salju. Menetap dengan kesejukannya dalam rongga dadaku. Seperti mawar yang kuncupnya mekar di pagi hari, perlahan-lahan dalam belaian matahari. Seperti cahaya yang menembus kabut menerangi segala yang tadinya suram.

Nothing less. Nothing more. You complete me.

Hari ini....

Apa gerangan yang sebenarnya ingin kau temukan dalam diriku? Aku seperti saputangan yang terjatuh di antara pematang yang kau lewati saat menuju rumah. Lusuh, berbau dusun dan sikapku begitu kusut terpengaruh kebekuanmu. Apa yang kau inginkan dari seorang gadis yang menyimpan janjimu dalam sakunya setiap hari? Sudah pernah kutanyakan padamu, akan menyesalkah kau padaku. Kau janji tidak. Tapi nyatanya...

Do you remember the day when you pull my hand, asked me to open my heart to you?
The history should have ended that day, when I was able to withstand the pain of the scar. 
But now I'm ruined.

Angin di pepohonan raksasa itu masih berkesiut di antara kanopi-kanopinya yang menaungi tanah. Air danau masih tak beriak seperti saat kita tinggalkan waktu itu. Seekor burung ingin menyampaikan rindunya kepada ranting-ranting pohon teureup di tengah pulau tapi sayapnya terluka. Kau telah menembaknya dengan semena-mena.

and you're still hiding.
there will never be an adequate explanation for what you did. 
nonetheless, I wanted to hear directly from you.


If you wake up all of a sudden, one night among all the nights
If you hear the chirping of a poor, sorrowful bird at a distance
If a gazelle is crying on the mountains, alone
And if a black rose grows on my grave one day
Know that I love you




pict from here



catatan:
Jasper Hale adalah tokoh vampir di novel/film Twilight Saga, yang memiliki kemampuan merasakan emosi dan suasana batin seseorang atau suatu kelompok.

Bait puisi pertama dan terakhir adalah kutipan yang diterjemahkan dari Bir Gün, karya penyair Turki Ümit Yaşar Oğuzcan. Bait dengan tulisan miring milik saya sendiri.


Image and video hosting by TinyPic

Friday, September 30, 2011

Zombie

Taman itu hanya sebidang tanah persegi empat yang tidak terlalu luas, rumput-rumput meranggas kehausan, pot-pot palem dan kuping gajah layu, bau anyir bercampur obat dan riuh kaki menggesek ubin dari koridor-koridor terdekat.

Saya duduk di situ, di kursi kayu rapuh, dalam balutan piyama rumah sakit yang kebesaran dan berwarna pudar. Mencoba mencari jalan keluar dari keruwetan di benak saya yang kapasitasnya mengecil belakangan ini. Menggenggam erat-erat iphone pinjaman, untuk bersentuhan diam-diam dengan beberapa teman di luar sana tanpa omelan suster.

Seharusnya saya tidak boleh terlalu banyak berpikir. Tapi saya berpikir.
Seharusnya saya mencoba makan semua makanan itu. Tapi saya tidak lapar.
Seharusnya saya ingat pada segala hal yang mesti saya kerjakan: mengurus rumah, melanjutkan novel, membuat outline, editing rutin.
Tapi yang bisa saya lakukan hanya tercenung seperti zombie.

Saya sudah terlalu tua untuk menangis sesenggukan seperti anak kecil yang dirawat di kamar sebelah. Tapi saya tidak bisa mengeringkan sumur di mata saya.

Saya rapuh dan lemah. Memang. Saya tidak pernah bilang saya kuat dan tahan banting kok.

Saya tidak mengerti apa salah saya sehingga saya mengalami hal ini. Saya mencari-cari dalam diri saya 'apa. kenapa. bagaimana.' Tapi tidak ketemu yang pasti, selain dugaan-dugaan yang sepertinya benar. Saya cuma bisa menunggu seseorang melihat lagi ke dalam hatinya dan mencairkan egonya

Apa kabar hari ini? Saya kebas.

......................

Ini ditulis terburu-buru, agak sedikit memaksakan diri, untuk menjawab banyak pertanyaan kenapa saya menghilang. Maaf ya, saya belum bisa berceloteh seperti biasa. Terima kasih atas semua perhatiannya. Believe me that I love y'all.


I'm out.


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Monday, September 19, 2011

Sceptic

Itu rasanya seperti ingin teriak marah dan menyuruh mereka tutup mulut.
Tapi saya tahu akan sia-sia.
Jadi saya diam saja dan berjanji pada diri sendiri.
Bersabar, menjadi orang yang sabar, adalah termasuk metamorfosa ini.

................

Saya baru menyadarinya kemarin, ketika saya sedang bercakap-cakap dengannya sehabis makan siang. Ketika topiknya mengalir acak, karena lagi-lagi selalu saya yang ia biarkan bercerita, sementara ia hanya menimpali singkat-singkat saja.

Saya menyadarinya, ketika melihat seorang perempuan muda memakai dress terusan mini. Mengalirlah dengan deras segala ingatan tentang reaksi orang-orang ketika tahu saya berhijab.

Dulu gaya saya mirip seperti perempuan itu. Tidak selalu dress mini sih, kadang-kadang bercelana pendek, lebih sering celana jins, tshirt, dan keds. Tengkuk yang terbuka, dan tato temporer kupu-kupu. Saya suka kemeja longgar yang tangan digulung sesiku. Tas ransel, sepatu model boot dan jam tangan Swiss Army. Meskipun semua modelnya tetap untuk perempuan.

Dan ketika mereka melihat saya berbeda seratus delapan puluh derajat sekarang, saya menyadari ada yang diam-diam menunjukkan bahasa tubuh yang artinya 'sangsi.'
Saya cuma tertawa.
Mereka bilang mereka merasa apatis.
Saya mulai mengernyitkan dahi.
"Coba kita lihat sampai kapan lu bertahan. Nanti juga bosen dan perilaku lu kembali ke asal."
Dan saya berang.

"Maksud lu?" Itu pertanyaan paling berbahaya yang pernah saya lontarkan pada seseorang karena diam-diam saya menyiapkan golok (meskipun cuma dalam benak) untuk jawaban yang tidak mengenakkan. "Apa maksud perilaku gue kembali ke asal?"
Yang ditanya tidak menjawab. Atau masih mencari kata-kata yang tepat.
"Lu pikir waktu gue belum pake jilbab, perilaku gue bebas, gitu?"
"Nggak gitu juga maksud gue."
"Terus?"
"Lu kan agak tomboy sebelumnya dan main sama temen-temen cowok,"
Saya nggak suka nada bicaranya. "Kalau main sama temen-temen cowok kenapa? Itu artinya gue keganjenan gitu?"

Dear kalian yang masih menyangsikan saya. Anggap saja ini surat terbuka bagi kalian. Saya yang dulu dan saya yang sekarang tidak pernah berubah untuk hal yang satu itu. "Lu pegang, gue gampar" itu masih prinsip saya. Ketika saya berpakaian mirip laki-laki itu karena tuntutan pekerjaan, karena mayoritas kolega saya itu kaum adam dan memakai rok hanya akan memancing pelecehan seksual. Pernahkah kalian melihat saya memakai rok pendek ke kantor atau saat bepergian sendiri? Saya cuma memakainya kalau sedang bepergian dengan sepupu-sepupu saya. Ke tempat-tempat makan favorit kami. Modis sedikit (menurut standar saya waktu itu) tidak bolehkah? Toh saya aman berada di antara saudara-saudara saya.

Ketika saya bergaul dengan teman-teman pria, itu benar-benar persahabatan yang sesungguhnya. Karena sejak kecil saya terbiasa main dengan teman lelaki, dan entah karena apa alam bawah sadar saya membuat saya selektif berteman dengan perempuan.

Apakah saat belum berjilbab saya kelihatan begitu bebas, sampai kalian menghakimi saya akan 'kembali ke perilaku asal'? Perilaku yang mana? Coba sebutkan! Saya kok jadi curiga kalian telah berprasangka buruk terhadap saya selama ini. Kalau benar, justru saya lebih bersyukur sudah memutuskan berhijab sehingga kalian tidak lagi berprasangka yang tidak-tidak.

Saya ini berhijab karena ingin menjadi perempuan yang lebih baik. Tidak bisakah kalian mendoakan saya saja ketimbang menjadikannya taruhan?

.......................

"Pake rok juga ya sekarang?"
"Dari dulu juga kaliii... bedanya dulu rok pendek, sekarang rok panjang."
Pake rok pun dikomentari. Sigh!


pict from here



Image and video hosting by TinyPic

Friday, August 26, 2011

Selusin Kerudung di Lemari Ibu

Berhijab seolah-olah keputusan yang tiba-tiba saya ambil, padahal tidak. Saya sudah menyiapkan diri sejak empat tahun lalu. Tidak mengatakannya pada siapa-siapa. Diam-diam mengumpulkan jilbab dan kerudung satu demi satu dan masih bungkam sampai lebaran tahun lalu, lebaran terakhir bersama Ibu.

Hari itu sebelum acara sungkeman keluarga besar, saya muncul dari kamar dengan pakaian muslim. Ibu tampak senang, lalu bertanya, "Kamu sekarang mau berjilbab?"
Saya menggeleng. "Enggak. Ini cuma sekarang aja."
Saya melihat wajah Ibu tampak agak kecewa.

Waktu itu saya belum siap. Saya mengenal diri saya dengan baik, jika belum siap maka jangan memaksakan diri. Nanti saya bosan dan kembali melepasnya. Itu akan menjadi sebuah preseden buruk dan pasti akan menjadi bahan gunjingan.

Sejak hari lebaran itu soal memakai jilbab tidak pernah lagi dibicarakan, meskipun keinginan saya berhijab tetap ada. Saya tahu, suatu hari saya akan memakai semua jilbab dan kerudung yang saya kumpulkan itu. Nanti. Menunggu kata hati saya mewujudkan niat.

Suatu hari sebulan setelah kepergian Ibu, saya membereskan lemari Ibu. Berniat menyumbangkan pakaian-pakaiannya untuk orang-orang yang membutuhkan dan saudara-saudara yang menginginkan kenang-kenangan. Kaki saya berjinjit untuk menjangkau rak paling atas di dalam lemari. Teraba oleh saya sebuah bungkusan plastik menggembung. Saya menariknya keluar, bersamaan dengan berjatuhannya lembaran merah uang seratus ribuan.

Bungkusan itu berisi kerudung-kerudung cantik segi empat yang masih baru. Masih ada labelnya, dan bukan kerudung murah. Jumlahnya selusin. Saya memunguti lima lembar seratusan ribu yang berceceran itu selagi sebuah kesadaran menghantam saya telak. Saya terduduk di lantai, di depan lemari itu. Menangis sesenggukan sambil memeluk bungkusan kerudung dan lima lembar seratus ribuan. Ibu telah menyiapkan ini untuk saya. Bekal saya jika berhijab. Seolah-olah tahu tak akan sempat melihat saya memakainya. Tak akan sempat memberikan sendiri uangnya untuk saya belikan perlengkapan yang belum saya punya.

Sehari sebelumnya saya memang sedang berpikir untuk membeli beberapa manset, kaos kaki dan lain-lain. Dan hari itu, ketika saya menemukan apa yang disimpan Ibu untuk saya, rasanya seperti sebuah keajaiban.

Tetapi tetap saja, saya belum tahu kapan mulai berhijab. Meski keinginan itu semakin menggebu. Saya tidak punya pembimbing yang menyemangati saya, menghapus keraguan saya. Jadi yang bisa saya lakukan hanya menunggu hati saya meletuskan pistol start.

Saya baru berani memakai jilbab ketika melayat orang meninggal atau acara keluarga. Ketika mereka bertanya apakah saya sudah berhijab, saya selalu menjawab 'belum. Insya Allah sehabis lebaran. Itu juga belum pasti ya.'

Saya tahu mereka juga sangsi. Lihatlah saya yang dulu. Tomboy dengan rambut pendek, jins robek dan sepatu keds. Saya yang kemana-mana dengan gerombolan teman pria dan suka tertawa terbahak-bahak seperti mereka. Saya yang masih suka memanjat pohon dan makan es krim sambil jalan-jalan di pertokoan. Cuek, bebas, dan kekanak-kanakan.

Lalu saya bertemu dia. Hanya bertemu dan mengobrolkan hal-hal tidak penting. Bahkan belum jatuh cinta. Saya hanya berpikir bahwa dia lelaki yang baik, jenis yang belum pernah saya temui di antara rekan-rekan pria saya selama ini.

Hanya itu. Pikiran yang anehnya membuat hati saya melembut. Sesuatu yang selama ini saya minta kepada Allah dalam doa sehabis sholat, karena saya tahu saya ini sangat keras kepala. "Ya Allah, lembutkanlah hati saya."

Pagi itu, hati saya meletuskan pistol start-nya. Saya pergi keluar memakai jilbab dan baju panjang, dengan niat tak akan melepasnya lagi.

Hidayah bisa datang kepada siapa saja, kapan saja, dan melalui siapa saja. Saya bersyukur bertemu dia, yang kemudian mencintai saya dengan caranya yang menenangkan jiwa. Saya tidak tahu apakah saya berhijab karena dia, tapi rasanya tidak. Karena jikapun dia pergi, saya tetap berhijab.

Selusin kerudung di lemari Ibu. Bukankah itu doa untukku, Bu?

.........................

Kamu... I love you :)

pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, August 24, 2011

Closed

Saya menutup akun fesbuk pribadi. Saya simpan dalam kotak dan menguncinya rapat-rapat. Kunci itu tidak saya buang. Saya simpan bila perlu. Tapi sepertinya itu masih akan lama dan mungkin tidak perlu sama sekali. Saya bosan. Dan merasa tak aman. Apalagi setelah kasus yang menimpa teman saya, Hans.

Seseorang menggunakan fotonya dan namanya, berpura-pura jadi Hans yang lain, untuk mencari mangsa. Saya garisbawahi kata 'mangsa' itu. Karena beberapa orang mentransfer sejumlah uang kepadanya, supaya bisa tidur dengannya. Si penjahat itu gay, tapi saya tidak akan menggarisbawahi kata gay di sini. Karena saya tahu tidak semua gay begitu. Karena saya punya banyak teman gay yang semuanya baik dan terpelajar. Itu hanya oknum. Tapi sungguh memprihatinkan bahwa perilakunya ikut mencemarkan nama baik teman-teman gay saya yang tidak bersalah.

Itu cuma salah satu alasan. Selebihnya banyak. Saya malas menerima tag-tag yang menurut saya tidak penting. Teman-teman lama yang reuni (yang tidak mungkin bisa saya datangi dalam kondisi saat ini), undangan-undangan yang akan lebih saya hargai jika disampaikan secara personal, tag-tag barang dagangan yang tidak menarik (buat saya yang menarik cuma buku), belum lagi di laman 'home' terbaca status-status tertentu oleh orang-orang tertentu yang 'nggak jelas', yang bagi saya norak. Ada orang-orang pacaran yang di-like teman-temannya (pacaran kok di-like). Belum lagi perang kecaman di status. Saya pernah tak sengaja membaca seorang pacar perang 'mulut' di status dengan teman pacarnya yang ia cemburui. Sangat kampungan!

Saya juga muak jika status saya dianggap 'kasus' lalu menjadi gosip umum di keluarga besar saya yang notabene hampir semua punya fesbuk.

Fesbuk berjasa besar mempertemukan saya dengan teman-teman lama. Menyenangkan bisa bertegur sapa lagi dengan mereka. Tapi lama kelamaan media itu menjadi terlalu pribadi, terasa sesak bagi diri saya yang sesungguhnya soliter. Dan bahkan sekarang semakin berbahaya.

Saya tidak cantik seperti Revalina S. Temaat atau Nikita Willy, atau siapapun yang fotonya mungkin menarik untuk diambil dan dipalsukan. Tetapi kenyataannya tidak harus orang sengetop selebriti untuk mendorong orang-orang sakit jiwa mengganggu kita.

Saya menemukan sebuah kasus di Twitter beberapa hari lalu. Seseorang bernama Naning Utoyo, menjadi korban penjiplakan identitas. Supaya lebih jelas baca di sini. It was scary. Seperti cerita dalam sebuah film lama yang pernah menjadi box office, 'Single White Female'. Baca sinopsisnya di sini.

Dan saya bukannya tidak pernah mengalami hal itu. Twit Naning dijiplak, twit saya juga pernah dijiplak. Bukan untuk social media yang sama (Twitter), tapi social media yang berbeda. bio saya di blog juga beberapa kali dijiplak, itu sebabnya saya beberapa kali mengganti bio 'About Me' di bawah foto profil itu.

Saya cuma tidak mau ribut. Karena bagi saya itu belum seberapa mengganggu dan merugikan. Toh twit saya tidak penting dan bio bisa saya ganti tanpa kesulitan. Saya baru marah dan meradang kalau tulisan saya yang dijiplak.

Tetapi, belajar dari pengalaman teman-teman itu, saya mulai berhati-hati sekarang. Karena itu saya tutup akun fesbuk saya, dan akan lebih berhati-hati dengan Twitter. Biarlah teman-teman lama dan saudara-saudara saya di fesbuk menghubungi saya lewat telepon kalau ada hal penting. Hati saya juga terjaga dari rasa sebal melihat status-status tertentu atau orang pacaran yang di-like ramai-ramai. Hati saya tentram. Aman dan terkendali. Hehehe.

Itu saja cerita saya hari ini. Kalian punya cerita apa?

pict from here



Image and video hosting by TinyPic

Friday, July 8, 2011

An Elegy for Farewell

Langkah demi langkah angin mengundurkan diri dari gurun yang mengajaknya berkelana. Tahun-tahun berlalu, tak pernah dibelainya wajah daun. Ia rindu hinggap di dahan-dahan pepohonan. Mengajak burung menarikan tarian musim yang lain.

Langkah demi langkah angin mengundurkan diri dari gurun. Yang meski dicintainya lebih dari apapun, tak kuasa lagi ditanggungnya pengembaraan tak berujung.

Engkau mengubahku dalam semalam. Jadi siapakah aku?
Seseorang yang dulu suka menangis, lemah oleh begitu banyak perasaan.
Menjadi kuat demi mimpi-mimpi yang kau satukan keping demi keping, serakan puzzle yang menjadi utuh.

Tadinya kupikir kau ingin aku menjadi rumah. Tak peduli sejauh mana kau pergi, berapa lama pun. Aku tetap ada, menunggumu mengetuk pintu.
Tapi tahun-tahun berlalu. Kau tak pernah muncul di gerbang itu.

Langkah demi langkah angin mengundurkan diri dari gurun. Maafkan aku, katanya pada Sang Gurun. Sang Angin membungkuk, mundur dan berputar pergi.

...................

Lama tersimpan dalam memori ponsel. Lihatlah, bahkan Angin ingin berakhir dengan ucapan selamat tinggal yang layak. 


pict from here



Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...