Sunday, April 8, 2012

Secuil Waktu

Saya cuma punya secuil waktu luang dalam sehari sekarang. Pembukuan dan urusan pabrik benar-benar menyedot seluruh daya dan tenaga dan pikiran juga. Badan saya kadang terasa remuk. Itu pasti karena saya suka ikutan angkat karung-karung plastik yang harus ditimbang (sekitar 6 kiloan, tapi karungnya besar-besar) dan hilir mudik di seantero pelosok pabrik.

Akibatnya, karena kecapekan, begitu malam tiba saya sudah mengantuk. Jangankan membaca, menulis pun harus berjuang ekstra keras. Kadang-kadang, judes saya kumat. Seperti semalam, ketika saya sedang menonton tivi, kakak saya mengirim pesan pendek menanyakan harga satu item barang di pabrik. Saya bilang, saya tidak melayani urusan pabrik di luar jam kerja. Silakan tanyakan ulang di hari Senin, di jam kerja. Malam hari adalah dunia saya sendiri. Menonton tivi, mengobrol dengan teman di telepon, membaca, dan menulis.

Akhir-akhir ini frustasi mulai menyerang, ketika novel kedua mulai digarap. Saya butuh pikiran yang tenang, sunyi, sehingga bisa tenggelam dalam dunia imajinasi yang saya ciptakan. Kenyataannya otak saya dipenuhi hitungan dan angka-angka, dan segala masalah di pabrik. Akhirnya paragraf pertama di bab pertama stuck sampai sekarang.

Orang-orang di pabrik juga tidak membuat hidup saya mudah. Ada saja yang membuat ulah dan menghabiskan kesabaran. Permintaan ini-itu, tuntutan ini-itu, dan ketidakjujuran yang berujung pada kerugian finansial. Damn!

Bekerja dengan orang kampung tidak sama dengan orang kota seperti saat saya di Jakarta. Maaf kalau saya bilang, orang-orang kampung tidak berpikir analitis, metodologis dan sistematis. Mereka hanya tahu mengeluarkan tenaga, lalu berharap bayaran. Yang saya bicarakan bukan orang kampung yang sekolahan tentu saja. Bukan yang sarjana, tentunya. Kebanyakan karyawan di pabrik ini adalah orang-orang yang bahkan hanya lulusan SMP.

Kemarin dua orang karyawan laki-laki bertengkar. Salah satunya sudah memegangi kepala goloknya yang terselip di pinggang. Untungnya ada abang ipar saya. Thanks God, sekarang ada dia di pabrik ini membantu saya (baru seminggu sih). Keributan dilerai, si pembawa golok yang memang pencari gara-gara dimarahi. Abang ipar saya itu jenis yang tenang dan pendiam seperti ayah saya. Tetapi soal pekerjaan, dia sangat tegas. Sehaluan dengan saya.

Sudah tiga hari ini saya bedrest di tempat tidur karena diserang flu berat, dan mungkin juga stress berat.

Saya sungguh sudah muak dengan segala urusan pabrik ini. Saya kepingin keluar dari urusan ini. Tetapi saya bagaikan sudah terjebak di dalamnya.

Saya cuma kepingin menulis. Please, God....


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

12 comments:

Mine and Me said...

semangat mbak...
ya, aku tahu ucapan lebih gampang drpd praktek, tapi aku tetap mau bilang kalau semuanya nggak dinikmatin dan nggak disyukurin bisa bikin stress dan galau sendiri... hehehe

moga cepat sembuh ya flunya...
really wish u get well soon ^_^

M. Faizi said...

ayo terus menulis. saya juga sedang menulis. mari menulis. karena "menulis" itu bukanlah berpikir bagaimana cara agar bisa menulis, mempersiapkan alat-alat untuk menulis, atau juga mempersiapkan teman-teman untuk menulis, seperti cemilan dan lainnya, karena menulis itu adalah menulis...

:-)

Ayu Welirang said...

Menulis sebenarnya perlu waktu tertentu. Nah, bahkan menulis ini pun yang isinya tentang keinginan menulis, sudah jadi bentuk tulisan. Hmm, mungkin tergantung konteksnya apa ya. :D Menulis pada imajinatifnya kita juga bisa koook. ^^ Semangaaat. ^^

chici said...

Semangat mbak (>o<)/
moga cepat sembuh juga ya flunya
*peluk

Lukman Nulhakiem said...

Kalau saya, ketika inget kerjaan di pabrik, justru pikiran saya itu saya jadikan inspirasi untuk menulis di blog saya. Jadi ide apapun itu, kalau sudah datang jangan ditutup pintu pikiran kita, persilahkan dia masuk...

Ayo, pantang mundur, karena hanya Dia yg tau kebutuhan kita saat itu..

fanilecter said...

keluarga besar yg penuh perjuangan :)
cara-caramu menjalaninya pun sudh benar, untk saat ini.
selebihnya biar gemericik dan percikannya terjaga, bolehlah mulai diasupi k-drama per episode setiap harinya, no' ^^

Arman said...

ikuti kata hati lu aja no... kalo emang udah gak tahan lagi ya keluar lah dari pabrik... daripada ntar lu yang stress sendiri...

Annesya said...

lawan yang sangat tangguh bagi saya ada dua mbak...
1. mereka yg super canggih
2. mereka yang super pimitif

udah keluar aja, idup cuma sebentar, harus bahagiaaaaa :DD

outbound malang said...

kunjungan gan .,.
bagi" motivasi
Saat kamu menemui batu sandungan janganlah kamu ptus asa,
karena semua itu pasti akan ada solusinya.,.
si tunggu kunjungan baliknya gan.,

Enno said...

@suci: memang ga dinikmati dan gak disukuri krn jatohnya malah repot dan ga asek buat hidupku... hiks...

@m. faizi: menulis memang tinggal menulis, mas. tapi waktunya yg gak ada... dan halangannya buanyak :P

@ayu: klo nulis di blog mah bs nyolong2 waktu. klo nulis novel barulah jd masalah hehe...

@chici: hehe makasih chitut *hugs*

@lukman: klo nulis blog sih mudah... :)

@fani: haha.. pasti ngintip TL twitterku ya, aku emang mau korupsi waktu dgn nonton kdrama :P

@arman: klo perusahaan keluarga, lo pny kewajiban moral utk bertahan.. meskipun sih mental lo tersiksa hehe *ketawa miris*

@annesya: hihi tumben komenmu normal nes :P

Gloria Putri said...

bikin aq keinget jaman2 aq dikantorku yg dl.....wkwkwkwk....sibuk tp ga enjoy yaaaa....ngga enak bgt....benerrr....mendingan sibuk yg kita nya enjoy...benar begitu?

Beatrix said...

kenapa nasib kita sama?
Hikkss.. :-P
Enno.... semangat, ya! kalo kita bisa lewatin tantangan ini, kita menang!!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...