Sedang tidur ya? Pasti di sana lapang dan terang. Dan ditemani malaikat-malaikat yang mengaji untuk Ibu. Setiap kali bertemu Ibu di dalam mimpi, orang-orang yang kenal Ibu selalu bilang, Ibu datang dengan senyum cantik, wajah bersinar dan pakaian putih yang bagus.
Ibu kangen aku, nggak? Kangen Bapak?
Aku merawat Bapak sebaik-baiknya, meskipun nggak sehebat Ibu. Aku masih kurang sabar dan kadang marah-marah kalau sudah lelah. Aku kerja seharian membereskan rumah dan memasak. Berusaha agar Bapak selalu nyaman, meski Ibu sudah nggak bersama kami lagi. Sendirian mengatasi semua hal. Dari mengatur keuangan, menyusun menu, menjaga kesehatan jantung Bapak dan asam uratnya yang kerap kumat, memeriksa atap-atap bocor dan mengupah orang mengganti langit-langit. Menjaga kebersihan rumah sebesar ini, yang seringkali nyaris mematahkan pinggang...
Nggak ada yang membantuku, selain diriku sendiri. Dan otak yang selalu berputar, berinisiatif.
Aku menahan diri sekuat tenaga. Membentengi diri dari orang-orang labil yang punya hobi ikut campur yang bukan urusannya. Mereka pikir, tanpa Ibu, aku tidak lagi terlindung. Terbuka untuk diserang.
Waktu itu, ada yang marah-marah. Katanya halaman rumah kotor tidak disapu. Dia sampai menepis tanganku yang terulur untuk menyalami. Lalu membentak: Apa saja kerjamu?
Ibu,
Dia tanya apa saja kerjaku. Dia pikir, aku cuma pengangguran yang berleha-leha tak ada kerja. Dia tidak pernah melihat sejak pagi aku seperti babu. Kadang tidak sempat sarapan. Kadang belum mandi. Kadang baru bisa beristirahat saat beduk Zuhur.
Aku harus mengatur jadwalku di rumah ini. Kalau semua kukerjakan, dengan rumah dan halaman seluas kita punya, aku bisa pingsan.
Maka, kalau aku memasak, maka aku tidak mencuci pakaian. Kalau aku mencuci pakaian, maka aku bisa sambil menyapu. Tetapi halaman luar bukan tugasku, Ibu. Sejak kecil, Ibu nggak pernah menyuruhku menyapu halaman. Itu tugas anak lelakimu. Adikku. Dan saat itu seminggu hujan selalu turun, membuat tanah menjadi lengket. Ia tidak menyapu.
Orang itu, mungkin ia menganggap dirinya peduli, sehingga sempat-sempatnya mengurusi rumah orang lain. Ia masih merasa ini rumah ayahnya--yang juga kakekku. Kakek yang menyebalkan itu. Kakek yang menganggapku cucu miskin tidak penting, yang tidak perlu dipandang sebelah mata.
Maka, begitulah, orang itu memandangku. Sama seperti dulu ayahnya memandangku.
Mungkin, ketika ia membentakku 'apa saja kerjamu', ia menganggap 'kebabuanku' masih belum cukup kalau belum ditambah tugas menyapu halaman rumah.
Aku memang anak miskin, tidak seperti anak-anaknya yang dibesarkan berkecukupan. Tetapi, kalau anak perempuannya tidak pernah menyapu halaman, kenapa aku juga tidak boleh tak pernah? Apa yang membedakan kami?
Mentang-mentang anak miskin, apakah aku wajib mengerjakan semua pekerjaan seperti babu?
Lagipula, Ibu, kenapa dia mengatur? Ini bukan rumahnya. Bukan pula rumah ayahnya seperti dulu. Ini tempat tinggalku.
Dan bukan begitu cara orang mengkritik. Minta penjelasan, dengarkan, lalu beri saran. Bukan membentak dan mengomel seperti orang kesurupan siluman.
Ibu, hatiku sakit waktu ia membentakku. Seolah-olah, semua susah payahku, pengorbanan, waktuku yang kuhabiskan untuk merawat Bapak dan rumah ini tidak pernah ada. Ia masih bertanya 'lalu apa saja kerjamu.' Ia menganggapku hanya senang bermain di depan komputer. Tak mau mendengar penjelasan bahwa aku sedang bekerja.
Memangnya ia yang memberiku makan? Yang memberiku pendidikan? Yang mencukupi kebutuhanku sampai sekarang? Kalau aku tidak menulis, aku bahkan tak akan bisa membeli sebungkus pembalut. Memangnya ia mau belikan?
Dear Ibu,
Sejak Ibu nggak ada, beberapa menganggapku kumang tanpa rumah. Berkeliaran dengan kulit lunak di pasir pantai dan mudah diinjak-injak.
Tetapi mereka nggak pernah tahu, bahwa aku bisa berubah menjadi bulu babi. Suatu waktu, akan kukeluarkan duri beracun untuk melawan kesewenang-wenangan.
Aku tahu, kalau Ibu ada, aku akan disuruh bersabar.
Sabarku sudah tinggi melebihi Galaksi Bimasakti, Bu. Terkadang, harus ada seseorang yang melawan,agar si tiran tahu ia bukannya tak terbantahkan.
Bahwa keadilan masih ada, meski di rumah tua yang genteng-gentengnya sering bocor dan tiang-tiangnya melapuk ini.
Dear Ibu,
Tidur yang nyenyak ya. Jangan khawatir, semuanya bisa kuatasi. Aku selalu anakmu yang paling kuat. Ibu kan sudah tahu.
![]() |
| pict from here |
Kangen,


















