Showing posts with label Ibu. Show all posts
Showing posts with label Ibu. Show all posts

Wednesday, May 22, 2013

Kepada Ibu

Dear Ibu,

Sedang tidur ya? Pasti di sana lapang dan terang. Dan ditemani malaikat-malaikat yang mengaji untuk Ibu. Setiap kali bertemu Ibu di dalam mimpi, orang-orang yang kenal Ibu selalu bilang, Ibu datang dengan senyum cantik, wajah bersinar dan pakaian putih yang bagus.

Ibu kangen aku, nggak? Kangen Bapak?
Aku merawat Bapak sebaik-baiknya, meskipun nggak sehebat Ibu. Aku masih kurang sabar dan kadang marah-marah kalau sudah lelah. Aku kerja seharian membereskan rumah dan memasak. Berusaha agar Bapak selalu nyaman, meski Ibu sudah nggak bersama kami lagi. Sendirian mengatasi semua hal. Dari mengatur keuangan, menyusun menu, menjaga kesehatan jantung Bapak dan asam uratnya yang kerap kumat, memeriksa atap-atap bocor dan mengupah orang mengganti langit-langit. Menjaga kebersihan rumah sebesar ini, yang seringkali nyaris mematahkan pinggang...

Nggak ada yang membantuku, selain diriku sendiri. Dan otak yang selalu berputar, berinisiatif.

Aku menahan diri sekuat tenaga. Membentengi diri dari orang-orang labil yang punya hobi ikut campur yang bukan urusannya. Mereka pikir, tanpa Ibu, aku tidak lagi terlindung. Terbuka untuk diserang.

Waktu itu, ada yang marah-marah. Katanya halaman rumah kotor tidak disapu. Dia sampai menepis tanganku yang terulur untuk menyalami. Lalu membentak: Apa saja kerjamu?

Ibu,
Dia tanya apa saja kerjaku. Dia pikir, aku cuma pengangguran yang berleha-leha tak ada kerja. Dia tidak pernah melihat sejak pagi aku seperti babu. Kadang tidak sempat sarapan. Kadang belum mandi. Kadang baru bisa beristirahat saat beduk Zuhur.
Aku harus mengatur jadwalku di rumah ini. Kalau semua kukerjakan, dengan rumah dan halaman seluas kita punya, aku bisa pingsan.
Maka, kalau aku memasak, maka aku tidak mencuci pakaian. Kalau aku mencuci pakaian, maka aku bisa sambil menyapu. Tetapi halaman luar bukan tugasku, Ibu. Sejak kecil, Ibu nggak pernah menyuruhku menyapu halaman. Itu tugas anak lelakimu. Adikku. Dan saat itu seminggu hujan selalu turun, membuat tanah menjadi lengket. Ia tidak menyapu.

Orang itu, mungkin ia menganggap dirinya peduli, sehingga sempat-sempatnya mengurusi rumah orang lain. Ia masih merasa ini rumah ayahnya--yang juga kakekku. Kakek yang menyebalkan itu. Kakek yang menganggapku cucu miskin tidak penting, yang tidak perlu dipandang sebelah mata.
Maka, begitulah, orang itu memandangku. Sama seperti dulu ayahnya memandangku.
Mungkin, ketika ia membentakku 'apa saja kerjamu', ia menganggap 'kebabuanku' masih belum cukup kalau belum ditambah tugas menyapu halaman rumah.
Aku memang anak miskin, tidak seperti anak-anaknya yang dibesarkan berkecukupan. Tetapi, kalau anak perempuannya tidak pernah menyapu halaman, kenapa aku juga tidak boleh tak pernah? Apa yang membedakan kami?
Mentang-mentang anak miskin, apakah aku wajib mengerjakan semua pekerjaan seperti babu?

Lagipula, Ibu, kenapa dia mengatur? Ini bukan rumahnya. Bukan pula rumah ayahnya seperti dulu. Ini tempat tinggalku.

Dan bukan begitu cara orang mengkritik. Minta penjelasan, dengarkan, lalu beri saran. Bukan membentak dan mengomel seperti orang kesurupan siluman.

Ibu, hatiku sakit waktu ia membentakku. Seolah-olah, semua susah payahku, pengorbanan, waktuku yang kuhabiskan untuk merawat Bapak dan rumah ini tidak pernah ada. Ia masih bertanya 'lalu apa saja kerjamu.' Ia menganggapku hanya senang bermain di depan komputer. Tak mau mendengar penjelasan bahwa aku sedang bekerja.

Memangnya ia yang memberiku makan? Yang memberiku pendidikan? Yang mencukupi kebutuhanku sampai sekarang? Kalau aku tidak menulis, aku bahkan tak akan bisa membeli sebungkus pembalut. Memangnya ia mau belikan?

Dear Ibu,
Sejak Ibu nggak ada, beberapa menganggapku kumang tanpa rumah. Berkeliaran dengan kulit lunak di pasir pantai dan mudah diinjak-injak.

Tetapi mereka nggak pernah tahu, bahwa aku bisa berubah menjadi bulu babi. Suatu waktu, akan kukeluarkan duri beracun untuk melawan kesewenang-wenangan.

Aku tahu, kalau Ibu ada, aku akan disuruh bersabar.
Sabarku sudah tinggi melebihi Galaksi Bimasakti, Bu. Terkadang, harus ada seseorang yang melawan,agar si tiran tahu ia bukannya tak terbantahkan.
Bahwa keadilan masih ada, meski di rumah tua yang genteng-gentengnya sering bocor dan tiang-tiangnya melapuk ini.

Dear Ibu,

Tidur yang nyenyak ya. Jangan khawatir, semuanya bisa kuatasi. Aku selalu anakmu yang paling kuat. Ibu kan sudah tahu.


pict from here


Kangen,

Image and video hosting by TinyPic

Sunday, April 28, 2013

Hari Abu-Abu

Setiap kali mendengar berita kematian, saya selalu teringat Almarhumah Ibu dan hari kepergiannya. Saya teringat hari ketika saya menangis sambil berteriak-teriak, marah kepada Allah, karena Ia memanggil Ibu. Beberapa anggota keluarga mengelilingi saya di tempat tidur. Mencoba menenangkan, memberi nasehat agar bersabar. Tapi saya tidak mau mendengar.

Saya terus berteriak-teriak marah kepada Allah. Bertanya kepadaNya, kenapa ibu saya yang Ia ambil. "Ibu orang lain saja, jangan ibuku! Jahat, ya Allah! Engkau jahat!"

Saya baru bisa ditenangkan ketika Ibu hendak dimandikan. Mereka memapah saya ke belakang, untuk turut memandikan Ibu.

Itu peristiwa yang tidak akan pernah saya lupakan.
Ibu saya, yang selalu cantik dan murah senyum itu, yang tubuhnya selalu hangat dan wangi sabun, terbaring diam di atas dipan pemandian.

Ya. Ia seperti sedang tidur. Tetapi tubuhnya kaku dan dingin. Dan seperti film yang dipercepat, tiba-tiba berkelebat kilas balik kami berdua dalam benak. Saat saya masih kecil, menari-nari di halaman dan Ibu bertepuk tangan... lalu terakhir kalinya saya mendorong kursi rodanya ke teras untuk berjemur dan menyisiri rambutnya.

Mata saya membasah. Napas saya tersumbat sedu sedan.
Mereka menyiraminya dengan air, menyabuninya, memijat-mijatnya. Perlahan, saya mendekat. Mengusap pipinya. Matanya tetap saja terpejam. Padahal, saya berharap ia bangun dan bilang bahwa ia cuma pura-pura meninggal untuk menghukum saya, anaknya yang sering menyusahkan.

Namun, setelah pemakaman Ibu, saya mulai memahaminya.

Allah pasti menulis skenario ini untuk kebaikan Ibu dan kebaikan kami yang ditinggalkan.
Ibu saya, perempuan baik dan sabar, yang diam saja meski disakiti orang lain. Disuruh-suruh ini itu. Dimanfaatkan. Dibohongi. Orang-orang yang dulu melakukan itu kepada Ibu, kini memikul beban dosanya. Karena orang yang bisa memupusnya dengan maaf sudah tak ada lagi.

Sekarang saya tahu, Allah tidak jahat. Ia memberi Ibu waktu istirahat yang damai, yang tak akan lagi membuatnya lelah dan resah. Memberi saya kesempatan untuk dewasa dan menjadi apa yang saya inginkan. Penulis. Ibu tidak pernah setuju saya mewujudkannya. Memberi saya waktu lebih dekat dengan Bapak. Dulu, saya selalu saja bertengkar dengannya. 

Kemarin, Ustaz Jefri Al Buchori meninggal dunia. Hari yang kelabu lagi di hati saya. Mengingatkan saya pada hari kepergian Ibu. Membuat saya menangis melihat isterinya yang terpukul seperti saya dulu.

Sejak Ibu pergi, orang-orang yang saya kenal menyusul pergi satu demi satu, dan kemarin Ustaz Jefri juga pergi, kematian menjadi pengingat yang tajam. Bahwa setiap orang akhirnya akan pergi. Bahwa setiap orang sesungguhnya tengah menunggu giliran. Bahwa dunia hanya tempat kita mengumpulkan koin agar bisa membeli tiket ke surga.

Ya Allah, koin saya belum cukup banyak. Dan selalu saja ada yang hilang terjatuh, ketika saya lengah saat melakukan hal-hal yang tak Engkau sukai. Berilah saya waktu untuk menabung, agar cukup membeli tiket surga itu.

Aamiin.


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, August 31, 2011

Quick Update: Lebaran Notes

Saya menepi sebentar dari keriuhan di rumah. Sepupu-sepupu yang asyik makan bakso kuah yang baru diangkat dari panci, asyik mencicipi rujak aceh pedas yang dibawa salah satu tante, asyik menghabiskan isi toples yang saya jajarkan di setiap meja tadi pagi. Saya menepi saja, ketika obrolan menjadi hambar karena mereka asyik mengunyah sembari terkantuk-kantuk.

Ini lebaran yang tidak hanya galau di penentuan hari, tapi juga di hati kami. Saat sungkeman keluarga tadi, kami semua menangis karena teringat Ibu. Ayah saya duduk sendirian saja di kursi itu bersama saudara-saudara Ibu. Biasanya ada Ibu disampingnya. Saya memeluknya sembari menangis. Baru menyadari betapa tuanya ayah saya, betapa ringkihnya. Betapa hancur hatinya ditinggalkan Ibu.

Ayah menangis di depan makam Ibu saat kami semua berziarah ke pemakaman keluarga sehabis acara sungkeman. Menangis tersedu, sampai harus dipapah om saya menuruni tangga makam. Usi sudah sejak acara sungkeman menangis keras. Saya berdiri di sudut makam, mengusap mata yang basah diam-diam. Keluarga besar ini kehilangan Ibu. Yang biasanya memasakkan makanan kesukaan saudara-saudaranya. Menghangatkan dapur dengan tawanya. Mondar mandir, sibuk sendiri. Sesekali berteriak memanggil saya untuk mengambilkan sesuatu.

Ibu sedang tidur dengan tenang kan? Kami semua rindu. Opor Usi tidak seenak buatan Ibu. Menu di meja jadi berbeda, karena Tante Min yang memasak. Tak ada sambal goreng kentang yang dipisahkan di mangkuk khusus untukku. Tak ada yang bawel memanggil-manggil aku untuk mengambilkan ini itu...

Ini lebaran yang mencengangkan bagi sepupu-sepupu saya, melihat saya berhijab. Sepupu-sepupu yang sebaya, teman-teman bermain saya di masa kecil baru berdatangan tadi pagi. Mereka ternganga melihat saya menyongsong mereka di beranda dengan jilbab menutup kepala.

"Wah, lu pake jilbab cakep lho!"
"Gue pake jilbab sekarang. Maksudnya ini beneran hijab."
"He?" Mereka tercengang dengan sukses.

Ya, saya tahu. Mengingat saya yang dulu santai dan cuek, saya berhijab menjadi fenomena bagi mereka.

Saya menepi di sini. Di kamar pengungsian saya, di ruang rekreasi. Tiba-tiba mendengar lagu yang diputar seseorang sepupu di mobilnya. Not With Me, Bondan Prakoso.

I’m waking up from my summer dreams again
try to thinking if you’re alright
then i’m shattered by the shadows of your eyes
knowing you’re still here by my side

I can see you if you’re not with me
i can say to my self if you’re okay
i can feel you if you’re not with me
i can reach you my self, you show me the way

Life was never be so easy as it seems
’till you come and bring your love inside
no matter space and distance make it look so far
still i know you’re still here by my side

you’re made me so alive,
you give the best for me
love and fantasy
and i never feel so lonely,
coz you’re always here with me
always here with me

Saya teringat seseorang di kota lain sana. Yang mencintai saya dan saya mencintainya juga. Saya tahu ketika saya sedih ia akan bilang 'masih ada aku' (meski tak bisa mengatakannya dengan gamblang karena ia tak seromantis itu).

pict from here


eid mubarak!


Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, August 30, 2011

Me Forgive Y'all

Judulnya belagu ya. Hahaha.

Saya menulis ini pagi-pagi sekali. Setelah menemani pacar saya sahur, lalu ditinggal tidur lagi. Saya tidak bisa melanjutkan tidur karena kakak saya Usi sudah menggubrak-gubrak menyuruh saya ke dapur, membantu memasak buat lebaran besok.

Lebaran yang galau ya? Membuat banyak orang kecele dan terpaksa meng-kulkaskan opor dan sambal gorengnya untuk besok.

Rumah saya sudah mulai dipenuhi keluarga besar. Seandainya Ibu masih ada, pasti saat ini sudah warawiri di dapur memegang komando tim memasak.

Saya meredam kangen saya pada Ibu. Mencoba mensyukuri nikmat yang masih diberikan Allah kepada saya pada ramadhan tahun ini. Saya diberi hidayah dan berhijab, saya dicintai seseorang dengan begitu rupa sampai saya merasa baru pertama kali jatuh cinta, saya masih diberi kesempatan mengurus ayah saya, dan lihatlah, saya merasa lebaran ini saya begitu beruntung.

Di halaman, ada sepupu yang sedang bersiul-siul. Menyenandungkan lagu Can't Stop Falling In Love. Hmm... kayaknya itu nyindir saya deh.

Sepertinya ini akan menjadi Lebaran yang menjadikan saya selebriti dadakan. Sepupu-sepupu akan sibuk meledek saya yang tiba-tiba memakai jilbab. Dan punya pacar baru, gara-gara Usi memergoki foto Pejalan dari Negeri Pagi di wall desktop lappy saya. Berita menyebar. Menular seperti virus flu burung. Hahaha.

Di halaman sekarang ada yang memanggil-manggil saya. "Retno! Retno! Jangan di kamar aja! Kenalin pacarmuuu!"

Tuh kan.

Bagaimanapun juga, lebaran selalu menjadi momen yang menyenangkan buat saya. Berkumpul lagi dengan keluarga, sesering apapun mereka membuat sebal, keluarga selalu menjadi tempat paling hangat. Meskipun terkadang saya diabaikan karena mereka sibuk dengan blackberry-nya. Meskipun saya suka disuruh-suruh jadi asisten dapur (sepupu-sepupu saya tidak ada yang bisa memasak). Meskipun rumah saya penuh orang, saya merasa dijajah dan kecapekan membersihkannya lagi sehabis lebaran.

Saya selalu sedih jika mereka sudah pulang kembali ke rumah masing-masing.

Eh, kaca jendela kamar diketuk. Seorang sepupu nyengir di luar, mengintip saya sedang menulis. *sigh!*

Baiklah. Sepertinya gangguan akan semakin serius. Saya harus kembali ke dapur. Buat kalian yang merayakan, selamat hari lebaran juga ya. Sungguh, saya minta dimaafkan lahir dan batin.

.... and me forgive y'all ......

"Retnoooo! Potongin ayamnya!"
*sigh!*


pict from here



Image and video hosting by TinyPic

Friday, August 26, 2011

Selusin Kerudung di Lemari Ibu

Berhijab seolah-olah keputusan yang tiba-tiba saya ambil, padahal tidak. Saya sudah menyiapkan diri sejak empat tahun lalu. Tidak mengatakannya pada siapa-siapa. Diam-diam mengumpulkan jilbab dan kerudung satu demi satu dan masih bungkam sampai lebaran tahun lalu, lebaran terakhir bersama Ibu.

Hari itu sebelum acara sungkeman keluarga besar, saya muncul dari kamar dengan pakaian muslim. Ibu tampak senang, lalu bertanya, "Kamu sekarang mau berjilbab?"
Saya menggeleng. "Enggak. Ini cuma sekarang aja."
Saya melihat wajah Ibu tampak agak kecewa.

Waktu itu saya belum siap. Saya mengenal diri saya dengan baik, jika belum siap maka jangan memaksakan diri. Nanti saya bosan dan kembali melepasnya. Itu akan menjadi sebuah preseden buruk dan pasti akan menjadi bahan gunjingan.

Sejak hari lebaran itu soal memakai jilbab tidak pernah lagi dibicarakan, meskipun keinginan saya berhijab tetap ada. Saya tahu, suatu hari saya akan memakai semua jilbab dan kerudung yang saya kumpulkan itu. Nanti. Menunggu kata hati saya mewujudkan niat.

Suatu hari sebulan setelah kepergian Ibu, saya membereskan lemari Ibu. Berniat menyumbangkan pakaian-pakaiannya untuk orang-orang yang membutuhkan dan saudara-saudara yang menginginkan kenang-kenangan. Kaki saya berjinjit untuk menjangkau rak paling atas di dalam lemari. Teraba oleh saya sebuah bungkusan plastik menggembung. Saya menariknya keluar, bersamaan dengan berjatuhannya lembaran merah uang seratus ribuan.

Bungkusan itu berisi kerudung-kerudung cantik segi empat yang masih baru. Masih ada labelnya, dan bukan kerudung murah. Jumlahnya selusin. Saya memunguti lima lembar seratusan ribu yang berceceran itu selagi sebuah kesadaran menghantam saya telak. Saya terduduk di lantai, di depan lemari itu. Menangis sesenggukan sambil memeluk bungkusan kerudung dan lima lembar seratus ribuan. Ibu telah menyiapkan ini untuk saya. Bekal saya jika berhijab. Seolah-olah tahu tak akan sempat melihat saya memakainya. Tak akan sempat memberikan sendiri uangnya untuk saya belikan perlengkapan yang belum saya punya.

Sehari sebelumnya saya memang sedang berpikir untuk membeli beberapa manset, kaos kaki dan lain-lain. Dan hari itu, ketika saya menemukan apa yang disimpan Ibu untuk saya, rasanya seperti sebuah keajaiban.

Tetapi tetap saja, saya belum tahu kapan mulai berhijab. Meski keinginan itu semakin menggebu. Saya tidak punya pembimbing yang menyemangati saya, menghapus keraguan saya. Jadi yang bisa saya lakukan hanya menunggu hati saya meletuskan pistol start.

Saya baru berani memakai jilbab ketika melayat orang meninggal atau acara keluarga. Ketika mereka bertanya apakah saya sudah berhijab, saya selalu menjawab 'belum. Insya Allah sehabis lebaran. Itu juga belum pasti ya.'

Saya tahu mereka juga sangsi. Lihatlah saya yang dulu. Tomboy dengan rambut pendek, jins robek dan sepatu keds. Saya yang kemana-mana dengan gerombolan teman pria dan suka tertawa terbahak-bahak seperti mereka. Saya yang masih suka memanjat pohon dan makan es krim sambil jalan-jalan di pertokoan. Cuek, bebas, dan kekanak-kanakan.

Lalu saya bertemu dia. Hanya bertemu dan mengobrolkan hal-hal tidak penting. Bahkan belum jatuh cinta. Saya hanya berpikir bahwa dia lelaki yang baik, jenis yang belum pernah saya temui di antara rekan-rekan pria saya selama ini.

Hanya itu. Pikiran yang anehnya membuat hati saya melembut. Sesuatu yang selama ini saya minta kepada Allah dalam doa sehabis sholat, karena saya tahu saya ini sangat keras kepala. "Ya Allah, lembutkanlah hati saya."

Pagi itu, hati saya meletuskan pistol start-nya. Saya pergi keluar memakai jilbab dan baju panjang, dengan niat tak akan melepasnya lagi.

Hidayah bisa datang kepada siapa saja, kapan saja, dan melalui siapa saja. Saya bersyukur bertemu dia, yang kemudian mencintai saya dengan caranya yang menenangkan jiwa. Saya tidak tahu apakah saya berhijab karena dia, tapi rasanya tidak. Karena jikapun dia pergi, saya tetap berhijab.

Selusin kerudung di lemari Ibu. Bukankah itu doa untukku, Bu?

.........................

Kamu... I love you :)

pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Thursday, August 4, 2011

Mencari Ibu

Ramadhan hari keempat.

Sejak Ibu pergi, saya mencarinya pada setiap sosok yang menjadi saksi kehidupannya. Mencarinya dalam diri saudara-saudara perempuannya. Dalam intonasi suara mereka, dalam tawa yang menyipitkan mata hingga segaris. Efek yang diwariskan secara genetis.

Saya mencarinya dalam diri saudara-saudara lelakinya. Dalam kosakata yang biasa digunakan. Dalam humor lama yang selalu diulang-ulang setiap acara. Menemukan jejak periang Ibu dalam diri mereka. Mungkin dari merekalah Ibu belajar bercanda.

Saya mencarinya dalam diri saudara-saudara saya. Dalam suara Usi ketika ia mengomeli anak-anaknya. Dalam gelak nyaring adik lelaki kami saat tak bisa membendung geli. Karena demikianlah Ibu meramaikan rumah kami dulu.

Mencarinya dalam diri Ayah. Lelaki yang dicintai dan mencintainya. Ketika ia tengah berdiri berlama-lama di depan foto Ibu yang besar dan berbingkai. Sesuatu yang sering dilakukan Ibu, dulu sekali. Ketika Ayah bertugas ke Australi, dan Ibu rindu setengah mati.

.........

Suatu hari di rumah sakit itu.
Para perawat yang mengurus Ibu bertanya saya ini siapa.
"Anak Ibu," sahut Ibu.
"Kok nggak mirip ya. Saudara-saudaranya yang dua itu mirip. Bongsor-bongsor, sama seperti Ibu. Kalo teteh ini kecil."
"Memang nggak mirip Ibu. Tapi anak Ibu yang ini lebih pintar, lebih mandiri, lebih supel. Dari kecil sudah begitu." Ibu mengelus lembut lengan saya. Seolah memberitahu saya, seperti apapun saya, Ibu sayang dan bangga pada saya.

..........

Saya mencari Ibu dalam diri saya, meskipun saya tak mirip dia kata mereka. Berdiri di depan cermin besar yang tergantung di kamar, saya tersenyum. Dan itulah Ibu. Tersenyum pada saya di kaca itu. Senyum khasnya dengan bibir terkatup tak kelihatan gigi.

Mata yang menatap saya di cermin itu mulai membasah. Kesadaran menghunjam pelan. Ah, itu bukan Ibu. Itu saya dengan senyum yang diwariskannya.

Ramadhan hari keempat.

Saya masih saja mencari Ibu. Dalam setiap sosok, setiap benda, setiap sudut rumah kami. Tak kuasa melengkapi rindu.


I like for you to be still, and you seem far away.
It sounds as though you were lamenting, a butterfly cooing like a dove.
And you hear me from far away, and my voice does not reach you:
Let me come to be still in your silence.

-Pablo Neruda

pict from here




Image and video hosting by TinyPic

Saturday, March 19, 2011

Today is Birthday

Pagi tadi, Ibu membangunkan saya yang tidur lagi setelah sholat subuh.
"Retno, bangun! Jangan tidur aja. Beres-beres sana!"
Saya memicingkan mata dan mengeluh. "Masih ngantuk Buuu... semalam bangun jam satu pagi gara-gara suara kucing berkelahi."
Lalu tiba-tiba saya sadar bahwa Ibu sudah meninggal. Saya lalu memandanginya. "Ibu kemana aja? Retno kangen...."
Ibu cuma tersenyum. Senyum kecil yang sama dengan senyum saya kalau sedang di foto. Tidak memperlihatkan gigi.

Seketika saya terbangun. Mimpi. Saya cuma mimpi.

Di ponsel saya melihat tanggal. 19 Maret. Hari ini ulangtahun saya. Itulah sebabnya Ibu datang dalam mimpi. Meski beliau tidak mengucapkan selamat ulang tahun, saya tahu kehadirannya dalam mimpi adalah hadiahnya untuk saya yang sedang merindukannya. Mendiang Ibu memang tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun pada anak-anaknya. Beliau menunjukkan perasaannya dengan tindakan, dengan perhatian. Membuatkan nasi kuning, atau kue, atau memasak menu favorit kami. Seperti itulah Ibu.

"Hey bocah, happy birthday. All the best and many success. GBU." Pesan pendek dari Didit, teman SMP saya masuk ke ponsel pagi tadi.
Saya tertawa. Panggilan 'bocah' itu adalah cara kami saling memanggil antar teman di SMP dulu. Tidak cocok lagi di umur kami sekarang, tapi terasa sangat manis dan membangkitkan kenangan indah masa abege kami dulu.
"Kok tau gue ulang tahun?" Tanya saya.
"Tau dong, elu kan penulis fave gue!"

Ah, rupanya dia masih sering membaca blog ini ya? Ngomong-ngomong, sudah pernahkah saya bilang kalau Didit itu ganteng sampai-sampai fesbuknya penuh dengan perempuan? Hahaha...

Dit, makasih banyak udah jadi temen gue sampai sekarang :)

Ulangtahun tahun ini tanpa Ibu, tapi saya bersyukur mendapat begitu banyak perhatian. Ucapan selamat di fesbuk, di ponsel dan email. Beberapa teman dan sepupu menelepon, beberapa kado sampai di rumah meski tidak saya harapkan. Dan yang lebih berarti adalah doa dari mereka.

Hari ini, saya tidak hanya memanjatkan doa syukur karena telah dipanjangkan umur dan diberi nikmat yang begitu besar oleh Tuhan. Saya juga berdoa bagi keselamatan kita semua. Berdoa untuk orang-orang yang saat ini sedang ditimpa bencana dan kesulitan. Saya percaya Tuhan selalu mendengar doa orang yang berulang tahun.

God bless us. Amen.


gambar dari sini



Image and video hosting by TinyPic

Monday, December 13, 2010

Ai.Cinta. Love

Perempuan itu tadinya tidak suka dipaksa pergi. Tapi kakaknya tidak bisa dibantah. Maka ia berdandan seadanya. Rok mini motif polkadot dan high heels. Lalu langsung naik ke boncengan motor kakaknya yang wajahnya berseri-seri.

Di rumah makan itu, Rommy teman kakaknya sudah menunggu. Ia bersama seorang laki-laki yang wajahnya menatap malu-malu.

"Kenalkan," kata kakaknya pada laki-laki itu. "Ini Ai, adik saya."

Laki-laki itu tersenyum dan mengulurkan tangan. Perempuan itu menyambut dengan malas-malasan. Sekarang ia tahu maksud kakaknya memaksa dirinya ikut.

"Bagaimana?" Tanya kakaknya setelah mereka di rumah. "Temannya Rommy tadi baik kan?"
"Aku nggak suka," sahut Ai sambil merengut. "Jelek."

Tapi laki-laki yang dikatai jelek itu ternyata laki-laki yang gigih. Ia selalu datang ke rumah Ai, mengajaknya mengobrol dan jalan-jalan dengan vespanya. Laki-laki yang kata Ai jelek itu ternyata adalah satu-satunya orang yang bisa memahami sifatnya yang kompleks. Laki-laki itu berkata bahwa ia jatuh cinta pada Ai. Perempuan cantik berambut sepinggang yang senang tertawa dan bercanda.

"Kamu mencari laki-laki yang seperti apa sih?" Tegur kakaknya kesal. "Dia baik dan bisa mengerti kamu. Berasal dari keluarga baik-baik dan sudah punya pekerjaan tetap. Dan yang paling penting ia mencintai kamu dengan tulus dan menghargai keluarga kita. Padahal ia itu keturunan ningrat, sementara kita ini siapa. Kamu jangan begitu, Ai. Jangan menyakiti hati orang lain."

Ai cuma diam. Tapi yang tidak pernah diketahui kakaknya, sebenarnya ia juga telah jatuh cinta pada laki-laki itu. Orang yang sabar dan lemah lembut, yang memperlakukan dirinya dengan sopan, tidak seperti laki-laki lain yang pernah dikenalnya.

Enam bulan kemudian, laki-laki itu melamarnya ketika mereka sedang jalan-jalan dengan vespa tua si laki-laki. Ai berlari-lari masuk ke halaman rumah kakaknya sambil berseru-seru memanggil kakak iparnya, Anna. Sang kakak ipar muncul dengan keheranan.
"Kakak, dia melamarku! Dia melamarku!" Ai memeluk Anna, dan mereka tertawa-tawa bahagia.

__________


"Siapa yang tidak jatuh cinta pada perempuan seperti Ai," gumam laki-laki itu. "Ia cantik, tinggi, langsing, kulitnya kuning, rambutnya panjang sepinggang dan selalu modis. Ia selalu tertawa dan bercanda. Kalau tertawa suaranya lepas dan nyaring, sama sekali tidak merasa harus mengatur diri atau menjaga imej. Itu sebabnya banyak laki-laki yang menyukainya."
"Tapi Ayah yang beruntung ya."
Laki-laki itu tersenyum pada anak perempuannya. "Ya, Ayah yang beruntung."

Ai, yang dalam bahasa Jepang berarti 'cinta', adalah nama kecil ibuku. Sebuah kebetulan karena banyak orang yang mencintai dan menyayangi Ibu sampai akhir hayatnya. Semalam Ayah bercerita tentang perasaannya yang terdalam pada Ibu. Ia jatuh cinta seketika sejak pertemuan pertama mereka.

Ibu, yang dalam sikap segan dan malas-malasannya itu, tetap saja tampak menarik dan membuat Ayah yang pada dasarnya orang yang pemalu dan kaku malah jadi penasaran.

__________________


"Retno, kalau kamu sedang bercerita tentang pacarmu sambil tertawa-tawa gembira seperti itu, kamu persis siapa coba?"
"Persis siapa, Tante Anna?"
"Persis ibumu dulu. Berlari-lari masuk ke halaman rumah, menari-nari di teras lalu memeluk Tante karena dilamar ayahmu."
"Hahaha... masa sih? Mereka nggak pernah cerita lho, Tante."

Itu adalah pertama kalinya aku mendengar kisah cinta Ai dan 'si jelek' dari orang lain.

Hari ini adalah hari keempat puluh meninggalnya Ibu. Tulisan ini untuk mengenang Ai, perempuan cantik berambut sepinggang yang selalu ceria itu, yang sudah melahirkan aku dan kedua saudaraku ke dunia.



foto dari sini



Image and video hosting by TinyPic

Thursday, December 9, 2010

Belum Sembuh

Ketika saya berkeliaran di rumah, beres-beres, memasak, menyiram bunga, melakukan banyak hal dalam kehidupan kami yang biasa, sayup-sayup seperti ada suara Ibu. Suaranya melintas cepat seperti menembus lorong waktu. Seperti dulu, cerewet menyuruh ini-itu.

Kadang-kadang saya sengaja melakukan kesalahan, berharap mendengar suara Ibu yang melengking naik dua oktaf, mengomeli saya. Bunga yang itu jangan disiram terlalu banyak. Teras yang sebelah sana belum disapu. Meja belum dilap ya?

Tapi sia-sia. Seberapa banyak pun kesalahan yang saya buat, tak ada suara Ibu yang berteriak mengingatkan.

Biarpun begitu, sampai sekarang saya masih merasa Ibu ada. Seolah-olah Ibu tidak pernah meninggal. Ia sedang tidur di kamarnya, di sebelah kamar saya ketika saya sedang online malam-malam begini. Baru esok pagi, ketika saya terbangun, saya baru menyadari bahwa kami tak lagi bersamanya. Tak ada bunyi piring dicuci. Tak ada suara gumamannya mengaji sehabis sembahyang Subuh. Tak ada tawanya, terkekeh saat menonton acara Mamah Dedeh di televisi. Tak ada yang melemparkan si Pupu, kucing kesayangan saya, ke atas ranjang saya kalau saya belum juga bangun.

Lalu seketika saya merasa gamang dan sendirian.

Seberapa cekatannya pun saya mengurusi semua hal di rumah ini. Dari mengurusi rumah sampai sawah. Saya malah semakin merasa kehilangan Ibu.

Saya rindu melihatnya berjalan tertatih-tatih kalau asam uratnya kumat. Kadang-kadang kalau kakinya sedang bengkak, memakai sandal jepit pun Ibu kesulitan. Saya rindu mendengarnya mengomel sendiri karena hal itu.

Saya ingin melihat lagi Ibu duduk di beranda sambil menatap jalan raya. Kadang-kadang sendiri, lebih sering bersama Ayah. Saya menatap punggung mereka berdua dari ruang tamu tapi jarang ikut bergabung. Saya merasa itu adalah saat-saat khusus untuk mereka berdua. Berbicara tentang topik 'orangtua'.

Rumah ini dipenuhi kenangan tentang Ibu. Setiap dindingnya, setiap sudutnya. Gema suaranya masih memantul di lorong waktu. Semakin sayup, dan tak lagi terdengar.

Saya menangis terisak-isak dengan hebat kemarin ketika tiba-tiba lupa bagaimana suara Ibu. Saya tidak ingin waktu menghapusnya dari ingatan.

Ya, saya belum sembuh...



foto dari sini




Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, November 23, 2010

Remind Me of You

Foto Ibu ada dimana-mana. Bertebaran di meja rias, meja tulis, terselip di cermin, di dalam tas, dompet dan di saku jaket. Seolah-olah aku mencegah waktu menghapus Ibu dari ingatanku. Aku tak ingin setiap detail mimik wajah ibuku tergusur dari memori.

Ibu. Ibuku yang gemuk, berwajah persegi dan tahi lalat di atas bibir. Ibu yang membuat rumah ramai oleh suara-suara kehidupan yang ditimbulkannya. Langkah kakinya yang diseret, ceklik gagang pintu, teriakannya memanggilku, suara panci beradu dan piring-piring yang berdenting saat dicuci.

Ibu tidak pernah bisa diam. Ia selalu bergerak diantara kami. Menegur, tertawa, marah, mengomel, bahkan menyanyikan jingle iklan Indomie dengan suaranya yang fals. Ia tertawa-tawa waktu aku merekamnya.

Foto-foto itu hanya rekaman bisu. Tanpa Ibu, rumah sepi. Ternyata bukan aku matahari di sini. Aku cuma bintang yang berkelip samar karena cahayanya. Ibulah matahari kami. Tanpa Ibu, hanya ada suara-suara langkah kaki diseret pelan. Tak akan pernah lagi kudengar teriakannya memanggilku. Sungguh. Lebih baik kudengar lagi omelannya yang dulu kuanggap memusingkan itu daripada begini sunyi.

Sampai hari ini aku masih saja berlari ke makamnya sambil menangis jika rindu menjadi hantu. Kubawakan bunga-bunga yang dulu ditanamnya, kutaruh di jambangan tanah liat dekat nisannya. Ibuku yang selalu tak bisa tidur sendiri, kini tak ditemani. Aku tahu, aku tak menangisi Ibu yang kini sudah tidur dengan tenang. Aku menangisi diriku sendiri yang kesepian tanpa dirinya.

.......

Kenangan.

Ibu, terbaring di atas ranjang. Aku telungkup di sebelahnya. Kami sedang bercanda menertawakan ulah Ayah.
Tangan kanan Ibu yang tidak lumpuh bergerak meniru cara Ayah memutar-mutar nasi di atas piring. Meniru cara Ayah menyuap makanan, yang sejak dulu memang kami anggap lucu. Ibu dan aku terkekeh-kekeh. Tawa Ibu pelan dan tertahan. Aku terbahak-bahak.
Ah Ibu, dalam sakitmu, masih saja tak kehilangan humor.

Kupikir Ibu akan sembuh dan kami bisa berkumpul lagi di rumah ini. Kemarin ada kami bertiga, sekarang hanya berdua. Dan aku masih harus menghibur Ayah dengan sikap ceria yang biasa. Sulit. Sangat sulit. Karena setiap tawa terdengar hambar.

.......

Aku kehilangan berat badanku dengan drastis. Aku yang kurus di cermin itu membangkitkan kenangan tentang omelan Ibu. Suaranya masih terngiang di telingaku. Ibu bilang aku harus mulai diet kalau tidak mau semakin gemuk. Lalu kami bertengkar dan aku menangis jengkel.

Ibu, lihat. Aku kehilangan berat lima kilo sekarang. Seharusnya Ibu ada untuk memujiku.

Foto-foto Ibu masih bertebaran dimana-mana. Kubiarkan saja demikian. Agar aku tetap merasa Ibu menjaga dan melindungiku seperti kemarin. Agar gadis kecil dalam diriku selalu merasa aman dalam pelukannya.

Suara Ibu yang tak ingin kulupakan adalah ketika tengah malam seperti ini ia muncul mengecek di ambang pintu kamarku. "Retno, kamu belum tidur? Ibu tidur sama kamu ya?"

Aku kuat. Aku pastilah orang yang kuat karena Tuhan telah memilihku menerima cobaan ini. Aku cuma bersedih. Sementara biarkan aku begini...

_______________________

Warna fuchsia pink di blog ini untuk Ibu atas cintanya padaku. Aku merombak blog ini sejak sore sampai tengah malam. Thanks untuk Ucup, yang peka pada bentuk dan warna, sebagai konsultan paksaan di tengah pekerjaan lembur yang menumpuk. Tapi tak sia-sia kau belajar sampai jadi arsitek ya ^^



gambar dari sini



Image and video hosting by TinyPic

Monday, November 15, 2010

Firasat

Selama ini ternyata saya telah menumpulkan diri. Saya, yang biasanya selalu waspada dan hati-hati dengan pertanda, tiba-tiba saja begitu awam dan tak peduli. Sejak sebelum Ibu sakit, firasat itu sudah meraja. Tapi saya menyingkirkannya jauh-jauh dari pikiran. Seolah-olah yang ada hanyalah hari-hari yang biasa. Kehidupan kami yang selama ini penuh warna, dan kemudian sedikit terusik keprihatinan karena sakitnya Ibu.

Sebelum jatuh sakit, Ibu sudah tampak pucat. Ibu juga jadi agak pendiam. Dan entah kenapa, setiap Ibu mau berangkat entah ke pengajian atau ke pasar, hati saya seolah tak terima. Tiba-tiba saya takut Ibu tidak pulang.

Saya masih ingat hari terakhir Ramadhan. Saya sedang menatap keluar jendela ruang tamu yang menghadap ke halaman dan jalan raya. Saya melihat Ibu di tepi jalan, pulang dari warung hendak menyeberang kembali ke rumah. Tiba-tiba saya merasa sangat menyayanginya dan berlari keluar. Di seberang sana Ibu tersenyum dan mencegah saya menyeberang. Ibu bisa kok, katanya sambil mengibas-ngibaskan tangan. Ketika lalu lintas sepi, ia menyeberang dengan langkahnya yang tertatih karena kaki yang sedang bengkak oleh asam urat. Saya menggandengnya ke rumah. Dengan hati penuh sesal karena membiarkan Ibu pergi ke warung sendirian,

Mungkin itu firasat. Seperti juga setiap kali saya berbicara tentang Ibu pada orang lain, saya selalu memakai kalimat lampau (past tense). Ibu 'dulu' begini. Ibu 'dulu' begitu. Saya sampai sering menghentikan kalimat di tengah percakapan karena terkejut sendiri, kenapa saya menggunakan kata 'dulu' padahal Ibu masih hidup.

Dan saya yang tidak pernah sekalipun mau berpakaian hitam saat menjenguk orang sakit karena merasa takut itu menjadi pertanda, di hari kepergiannya menjenguk Ibu dengan tshirt hitam. Tak sedikitpun terbetik perasaan janggal. Bahkan saya sekarang ingat, sebelum Lebaran tiba-tiba saja saya mengumpulkan kerudung hitam, menumpuknya di lemari. Saya juga memilah-milah kerudung sutra Ibu yang sudah tidak lagi dipakainya dan memindahkannya ke lemari saya.

Hey, hey, buat apaan tuh? Tanya Ibu. Itu kerudung bagus semua!
Ini kan warisan, sahutku sambil nyengir.

Mungkin Ibu juga punya firasat sendiri, karena beberapa bulan lalu ia pernah bertanya padaku begini:
Kalau Ibu sudah meninggal, piring dan gelas-gelas Perancis Ibu mau dikemanakan?
Buat aku dong, sahutku.
Saudara-saudara kamu nggak dikasih?
Dikasih, tapi sedikit. Aku tertawa.
Nah, nah, itu nggak boleh begitu.
Usi sudah punya kan? Koleksinya lebih banyak dari Ibu. Lebih bagus-bagus.
Tapi adikmu gimana?
Ah dia kan anak lelaki. Istrinya minta aja warisan dari ibunya sendiri. Kalau ibunya nggak punya gelas Perancis ya salah sendiri.
Ibu tertawa karena tahu aku cuma bercanda. Ia mencubitku. Nggak boleh gitu dong, Ret.
Iyaaa, nanti dikasih. Tapi sedikit aja ya hehehe

Selama sakitnya, Ibu selalu saja mengabsen orang-orang yang disayanginya dan menitipkannya pada saya. Si Nova kasih makanan ya. Jangan lupa kasih uang jajan kalau mau sekolah.
Nova adalah anak mantan pembantu kami yang sudah meninggal. Ibu mengasihi anak itu seperti keluarga sendiri. Sudah tidak punya ibu, kata Ibu. Dan sekarang saya senasib dengan anak itu...

Saya sungguh-sungguh menumpulkan diri, bahkan sehari sebelum Ibu terserang stroke dan saya memotret dirinya yang tampak begitu pucat pasi, duduk di sebelah adiknya.

Kalau tahu begini bodoh dan tumpul, seharusnya sejak dulu saya menuruti nasehat seseorang untuk mengasah indera keenam saya. Supaya saya tahu Ibu akan pergi dan saya tak akan pernah melepaskan diri dari sampingnya.

Kalau melihat lagi ke belakang, firasat demi firasat itu begitu banyaknya. Membuat saya merasa tolol dan bersalah.

Ibu, maafkan Retno ya. Di akhir kebersamaan kita, Retno seharusnya lebih banyak memelukmu dan mengatakan betapa sayangnya Retno pada Ibu. Maafkan Retno, Bu...





foto dari sini



Image and video hosting by TinyPic

Friday, November 12, 2010

Sadness

Aku tidak pernah merasa serindu ini pada seseorang. Rindu yang melenyapkan sebagian kekuatan. Meluruhkan kegembiraan pelan-pelan. Begitu dalam. Begitu tak berpengharapan. Tak teraih dan pedih.

Aku belum pernah merasa sekosong ini. Terasa seperti ada yang melubangi diriku dan isinya berceceran sedikit demi sedikit kemudian menjadi hampa.

Lihatlah di dalam cermin itu. Ada seorang perempuan matanya merah karena airmata dan insomnia. Yang tubuhnya sedikit menekuk menahan beratnya pedih yang membebani.

Aku tak bisa lagi menatap wajahnya, kecuali dalam bingkai-bingkai kenangan di kepala. Aku kehilangan aroma tubuhnya yang menenangkan, tangan-tangan besarnya yang kasar dan hangat, juga matanya yang kecoklatan. Itulah masalahnya. Aku tak bisa membaringkan kepala di bahunya, tidur bersebelahan sambil saling mengolok. Hatiku dipenuhi rasa menyesal yang hebat karena begitu banyak menyia-nyiakan sisa waktu sebelum kepergiannya.

Terlalu sering marah, terlalu sering bepergian, terlalu sering membantah, terlalu sering mengabaikan harapannya.

Sudah terlambat untuk minta maaf, kata seorang bibi, yang membuatku sangat terpukul. Kamu sekarang hanya bisa mendoakannya saja supaya tenang di tempatnya yang baru.

Aku tahu ia sudah memaafkanku. Selalu. Bahkan satu detik setelah aku melakukan kesalahan padanya, ia langsung memaafkan. Tapi tetap saja betapa tidak tahu dirinya aku begitu sering menyakiti hatinya dengan kekeras kepalaanku ini. Betapa sering aku membuatnya cemas dan khawatir karena keegoisanku. Aku tak bisa lagi menebusnya. Hilang sudah harapanku untuk membahagiakannya.

Aku rindu sekali padanya. Rindu yang membawaku berlari ke makamnya hanya untuk terisak memeluk nisan.

Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan tanpamu, Bu? Banyak hal yang belum sepenuhnya aku tahu. Bagaimana kalau aku melahirkan nanti? Siapa yang akan menenangkanku? Lalu mengajariku memandikan bayiku? Mengajariku membuat bubur saring? Dan aku belum menguasai semua resep masakanmu yang lezat itu. Kemana aku harus bertanya? Aku begitu bodoh dan tak tahu apa-apa. Jadi seharusnya jangan dulu tinggalkan aku, Bu.

Aku tak pernah mengira begini sakitnya kehilangan ibu. Lebih sakit dari hal terburuk apapun yang pernah menimpaku.

Ketika semua orang menyuruhku untuk mengikhlaskan kepergiannya, maka aku pun ikhlas. Bahkan sebelum mereka mengatakannya. Aku tak mau kepergiannya menghadap Tuhan tersendat karena kecengenganku. Aku hanya minta waktu untuk bersedih sebentar. Sebentar lagi saja ya, Bu. Karena hatiku tak bisa diajak kompromi, karena airmataku terus saja bersikeras mengalir. Karena wajahmu masih saja begitu jelas tergambar dalam benakku dan membuatku pedih.

Semalam aku tertidur di kursi. Sambil memeluk helai-helai pakaian yang paling sering dipakai Ibu.

--------

Only the most ancient love on earth
will wash and comb the statue of the children,
straighten the feet and knees.
The water rises, the soap slithers,
and the pure body comes up to breathe
the air of flowers and motherhood.

Oh, the sharp watchfulness,
the sweet deception,
the lukewarm struggle!

Now the hair is a tangled
pelt criscrossed by charcoal,
by sawdust and oil,
soot, wiring, crabs,
until love, in its patience,
sets up buckets and sponges,
combs and towels,
and, out of scrubbing and combing, amber,
primal scrupulousness, jasmines,
has emerged the child, newer still,
running from the mother's arms
to clamber again on its cyclone,
go looking for mud, oil, urine and ink,
hurt itself, roll about on the stones.
Thurs, newly washed, the child springs into life,
for later, it will have time for nothing more
than keeping clean, but with the life lacking.

-To Wash A Child, Pablo Neruda-







Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, November 9, 2010

Ibu Pergi...

Saya masih ingat senyum Ibu di balik kaca jendela kamar tidur saya yang lebar setiap Senin dan Kamis pagi. Ibu mengetuk-ngetuk kaca sambil pamitan, "Ret, Ibu pergi dulu ya!" Biasanya saya cuma mengangguk malas karena masih mengantuk. Ibu selalu berangkat jam setengah enam pagi ke pesantren tempatnya mengaji. Berjalan kaki ke sana bersama temannya, Wak Hana.

Saya masih ingat senyumnya ketika pulang jam 10 pagi. Ia akan berseru sejak dari halaman. "Retnooo! Assalamu'alaikum!" Sejak jam 9 saya sudah menatap jam terus menghitung waktu. Sejak kecil saya tak suka ditinggal pergi Ibu. Rumah jadi sepi tanpa suaranya yang lantang dan ceria.

Ibu akan menjinjing sayuran dan bahan masakan untuk hari itu dan kami akan mulai memasak bersama. Ibu bercerita tentang Wak Hana yang makan melulu di pengajian sambil tertawa-tawa.

Saya masih ingat malam-malam ketika Ibu membuka pintu kamar saya. Wajahnya muncul di sela pintu, tersenyum kocak dan bertanya, "Ibu tidur sama kamu ya?"
"Enggaaaak!" Sahut saya. Ibu terkekeh dan menutup pintu lagi.

Saya masih ingat beberapa jam terakhir sebelum serangan stroke-nya. Saya menyenggolnya terlalu keras di ambang pintu ruang tamu sehabis menyuguhkan minum untuk sepupu-sepupunya. Ibu menoleh, melihat saya nyengir, dan tak jadi menggerutu.

Hari Lebaran pertama, Ibu memeluk saya erat saat saya sungkem padanya. Masih sempat-sempatnya ia cerewet menegur saya. "Bersimpuh, jangan nungging kalau salaman," katanya. Lalu ia menciumi saya sambil terisak. "Maafkan Ibu lahir batin ya... Ibu juga sudah maafkan kamu. Ibu selalu doakan kamu."

Sore yang kelabu itu, Ibu pergi begitu saja tanpa pamit. Padahal saya ada di depannya, menggenggam tangannya, mengusapi keringat di wajahnya. Ia menatap saya sambil tersengal-sengal, yang kami kira hanya sesak napas biasa.

"Ibu ingin melihat Retno..." katanya. Lalu Om Boy, adiknya, menggeser bantalnya agar wajahnya berpaling ke arah saya.
Saya memintanya bernapas pelan-pelan dan tidak panik. Membimbingnya membaca istigfar.
"Ibu capek," katanya di sela-sela istigfar.,
"Bernapas pelan-pelan, Bu..." ujar saya. "Kalau Ibu panik, napasnya tambah sesak."
Tapi napas Ibu malah semakin pendek-pendek. Sehabis mengucapkan takbir dan syahadat, Ibu terdiam, dan saya cuma bisa terpaku.

Usi sudah berlari keluar kamar sejak tadi. Terdengar raungannya di balik dinding.
"Diam!" Teriak saya marah. "Ada apa sih nangis segala! Ibu pingsan! Panggilkan dokter sana!"

Tapi semua orang sibuk menangis.
Semua tante saya, pembantu Ibu, dan Usi.

"Ibu sudah pergi ke surga, Retno," bisik Om Boy.
"Ibu masih ada!" Teriak saya. "Masih ada denyut nadinya. Masih, Om! Ini! Ini dengar! Ibu pingsan." Saya menggoyang-goyang tubuh Ibu. "Bu, Ibu dengar Retno, kan? Ibu bangun, Bu. Bangun..."
Tapi Ibu bergeming dan Om Boy mulai melipat tangan Ibu di dadanya.

Saya memeluk Ibu.
"Bu, bangun Bu. Katanya Ibu nggak akan kemana-mana. Ibu jangan gitu dong, Bu. Ibu sudah janji sama Retno..."
Ibu bergeming.
"Bu, Ibu... Kalau masih bisa bangun, bangun ya Bu. Tolong Bu, Ibu bilang ingin sembuh. Bu...."
Lalu adik saya datang dan langsung meraung melihat Ibu.
"Jangan meratap!" Tegur saya marah. "Ibu cuma pingsan."
Lalu dokter akhirnya datang dan memastikan Ibu memang meninggal.

Saat itu tak ada setetes pun air mata di wajah saya. Bahkan ketika saya ikut mengantar jenasah Ibu dengan ambulans yang membawanya dari rumah Usi ke rumah Ibu dan Ayah. Saya masih bisa menasehati Usi dan menyuruhnya berhenti menangis.

Ternyata kehampaan itu baru terasa ketika tiba di rumah, tempat biasa saya melihat Ibu duduk di teras bersama Ayah setiap sore, cerewet mengomeli kami, dan berseru-seru memanggil anak tetangga sebelah.

Entah siapa yang membantu saya turun dari ambulans itu dan membaringkan saya di kamar. Entah siapa yang menghapus air mata saya dan membisikkan kata-kata yang menguatkan ketika saya menangis memanggil-manggil Ibu.
Entah siapa yang memapah saya dalam iringan pengantar keranda Ibu ke kompleks pemakaman keluarga tempat Ibu beristirahat selamanya.
Saya terlalu tenggelam dalam duka.

Gerimis turun perlahan saat kami memakamkan Ibu. Usi pingsan, Ayah terlalu sedih dan seorang kerabat mengantarnya meninggalkan upacara pemakaman, adik saya bersimpuh tersedu-sedu. Saya berdiri di sana, di pinggir liang lahat, menguatkan diri mengantar Ibu sampai tak lagi terlihat di balik gundukan tanah merah.

Maafkan Retno, Bu. Retno tidak bisa menemani Ibu di sana. Padahal Ibu tak pernah bisa tidur sendirian. Ibu biasanya harus selalu ditemani.

Saya masih ingat senyum Ibu di balik kaca jendela setiap hendak berangkat mengaji. "Retno, Ibu pergi dulu, ya..."
Tapi kali ini Ibu pergi dan tak akan pernah kembali.

Blessed is He in Whose Hand is the dominion, and He is Able to do all things.
Who has created death and life, that He may test you which of you is best in deed. And He is the All-Mighty, the Oft-Forgiving;
Who has created the seven heavens one above another, you can see no fault in the creations of the Most Beneficent. Then look again: "Can you see any rifts?"


-Holly Quran, Al Mulk, verse 1-3-
_________________

Tanggal 10 November tepat 7 hari meninggalnya Ibu.
Buat teman-teman semua, terima kasih atas doa dan dukungannya baik melalui e-mail, sms, telpon, YM, maupun blog ini, sejak Ibu sakit sampai Ibu wafat, juga doa dan dukungan agar saya kuat dan tabah karena kepergian Ibu yang tak terduga.

Terima kasih membuat saya merasa tidak sendirian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua. Amin.



gambar dari sini



Image and video hosting by TinyPic

Thursday, November 4, 2010

Condolence

Innalilahi wa Innalilahi Roji'un


Telah berpulang ke rahmatullah, ibunda dari teman baik kita, kakak kita, Retno

Hari ini, Kamis, 04 November 2010 jam 15.40


Semoga amal baik beliau diterima Allah S.W.T dan semua kesalahan-kesalahannya dimaafkan

serta keluarga yang ditinggalkan, diberikan kesabaran dan ketabahan


Ridwan Arifandi




Tuesday, October 19, 2010

Kepada Yang Maha Penyayang

Tuhan, Engkau tahu aku mencintaiMu. Kuterima semua pemberianMu dengan lapang dada, dan bersyukur atasnya. Baik itu kesenangan maupun kesulitan. Kebahagiaan maupun kesedihan. Dan kususuri semua jalan yang Kau bentangkan, meski harus kuinjak bara dan onak duri.

Engkau selalu tahu yang kuminta dariMu. Agar Kau beri aku kekuatan lagi. Dan kesempatan menebus segala kesusahan yang tak pernah sengaja kutanggungkan pada kedua orangtuaku.

In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.
Praise be to Allah, the Cherisher and Sustainer of the worlds;
Most Gracious, Most Merciful;
Master of the Day of Judgment.
Thee do we worship, and Thine aid we seek.
Show us the straight way,
The way of those on whom Thou hast bestowed Thy Grace, those whose (portion) is not wrath, and who go not astray.

-Holy Quran, Al Fatiha verse 1-7-

Kumohon, berilah aku kesabaran. Ketika ada yang mencaciku tidak becus. Berilah aku kekuatan agar aku bisa menerimanya dengan ikhlas. Karena hanya Engkau yang Maha Tahu apa yang telah kulakukan, apa yang telah kuusahakan.

Aku hanya manusia biasa, Tuhan. HambaMu yang hina, dan ada padaku segala kelemahan. Telah kumaafkan orang itu. Tapi biar kusimpan sakitnya sedikit, agar menjadi peringatan bagiku untuk menjadi lebih baik lagi.

Mungkin masih kurang apa yang sudah kulakukan selama ini. Mungkin masih belum cukup apa yang kuusahakan ini, agar kehidupan kami tetap berjalan seperti semula. Seperti sebelum Ibu sakit.

Mungkin piring-piring itu masih belum dicuci bersih. Mungkin pakaian-pakaian itu masih belum tersetrika rapi. Mungkin rumah ini masih belum serapi biasanya dan semua anggota keluarga belum merasa nyaman.

Tanganku masih kurang melepuh? Atau haruskah kupotong lagi rambutku agar menjadi nyaris botak, agar mirip para romusha? Agar mereka yang mengkritikku akhirnya yakin bahwa mengurus diri sendiri pun aku tak lagi punya waktu.

Maka beritahu aku caranya, Tuhan. Beritahu cara agar aku bisa sebaik Ibu menggantikannya mengurus semua ini. Berilah aku petunjuk yang terang, agar seluruh dunia terpuaskan.

Tak ada lagi tempat bagiku untuk mengadu kecuali di hadapanMu. Di tengah malam buta seperti ini, ketika air mataku menetes di atas sajadah dan tanganku menadah.

Tuhan, bagaimanapun terima kasih selalu mendengarkan aku di setiap malam yang hening. Terima kasih selalu mengulurkan tanganMu padaku. Membelaiku, merahmatiku.

Ampunilah segala dosaku, Tuhan. Selamatkanlah aku di dunia dan akhirat. Hanya kepadaMu kumohon pertolongan. Maha Benar Engkau dengan segala firmanMu.

Amin.




foto dari sini



Image and video hosting by TinyPic

Thursday, October 7, 2010

Upik Abu

Let here to cry
I do not know why
But no tears fall from these eyes
I am alone but just fine
I will not whine
All my time is now mine

-Chinese Cinderella poem-
.................................

Bu, aku harus mengurus Ayah dan rumah kita sendirian. Ayah yang sudah tua dan mulai rewel, kucing-kucingnya yang nakal dan kelinci yang kandangnya harus selalu disapu setiap sore. Ibu tahu tidak, aku merasa seperti Upik Abu. Tapi aku tidak akan pernah berubah menjadi gadis berkereta kencana dan sepatu kaca. Aku ya tetap aku. Yang setengah harinya dihabiskan untuk membereskan rumah dan memasak di dapur. Bu, kadang-kadang Ayah tidak mau makan masakanku. Padahal sudah capek aku memasak untuknya.

Aku juga masih harus mengatur tugas-tugas Nunung. Ibu tahu kan pembantu baru kita itu agak dungu. Tugas-tugasnya tak pernah diingat di luar kepala. Harus selalu didiktekan setiap hari. Kemarin-kemarin makannya selalu tak pernah habis. Sisa nasinya dibuang begitu saja. Lalu aku tegur. "Nung, di luar sana banyak yang nggak bisa makan. Kenapa kamu buang-buang nasi. Kalau makan, ambil nasi secukupnya dulu. Kamu boleh tambah kok kalau belum kenyang. Tapi jangan dibuang-buang!"

Lalu orang-orang yang selama ini Ibu biarkan bertingkah seenaknya. Keluar masuk rumah kita tanpa tujuan jelas. Aku pernah bilang Ibu terlalu baik pada mereka, sehingga mereka memanfaatkan Ibu. Tapi Ibu cuma tersenyum dan melarangku berprasangka. Tapi aku tak pernah salah, Bu. Aku bisa melihat karakter orang. Sejak Ibu tak ada, sifat asli mereka kelihatan. Musang-musang berbulu ayam. Menipu, memanipulasi, memanfaatkan Ibu.

Bibi Jum yang suka mengorek-orek tempat bumbu Ibu dan meminta bumbu setiap hari, bawang merah lima siung kemarin, bawang putih empat siung hari ini, merica dua sendok besok, sudah tak pernah lagi berbuat begitu. Aku menawarinya (dengan nada yang sangat manis) untuk membelikannya bumbu apa pun yang tak ada di dapurnya. Ia jadi tak enak hati sendiri, lalu tak pernah lagi bergerilya ke dapur kita setiap pagi.

Penggarap sawah kita itu tak bisa lagi berbohong meminta bibit padi dengan jumlah lebih banyak agar sisa gabahnya dia pakai sendiri. Aku sudah bertanya pada Kepala Desa takaran bibit padi untuk per satu hektar tanah. Dan kemarin aku memberinya dengan jumlah yang sesuai dengan luas sawah kita.

Isterinya tidak lagi berani mengambil nasi di meja makan kita tanpa izin. Kemarin aku memergokinya berbuat begitu dan menegurnya agar minta izin dulu lain kali karena itu namanya tidak sopan. Aku tahu Ibu sering keheranan. Mereka sudah mendapat setengah bagian dari hasil panen padi dan dua pertiga hasil panen jagung kita, tetapi setiap hari masih saja mereka minta makan untuk keluarganya. Itu namanya curang.

Jangan pelit, tegur Ibu padaku. Aku tidak pelit, Bu. Mereka boleh ikut makan sesekali. Tapi yang terjadi sekarang kita ini dimanfaatkan. Mereka bukan hanya bekerja pada kita, tapi menjadi parasit. Mereka sudah mendapat bagiannya tapi sering meminjam beberapa kwintal bagian gabah kita dan menumpang makan setiap hari. Anggota keluarganya ada lima, Bu. Aku tak sanggup memasak banyak setiap hari. Ini bukan dapur umum.

Dan orang-orang lain yang suka nongkrong tak jelas di rumah kita itu, yang suka mengobrol di dapur sambil mengintip kita masak apa hari itu. Lalu mereka akan bertahan sampai waktu makan siang tiba dan ditawari makan. Setelah itu pulang. Kemarin mereka menghabiskan sayur bayam dan ayam goreng yang kumasak untuk Ayah. Kalau aku kesal dan ingin marah apakah Ibu akan mengataiku si judes? Apakah aku ini memang pelit, atau aku tidak senaif Ibu? Bagaimana pun aku merasa harus mencari cara untuk membereskan masalah ini. Toh mereka punya rumah dan dapur sendiri. Mereka juga bukan fakir miskin yang tak punya uang untuk membeli makanan.

Bu, aku ini Upik Abu atau polisi? Aku harus menegakkan lagi aturan di rumah ini dari awal gara-gara Ibu terlalu baik pada mereka. Aku tak mau mereka seenaknya terus. Ini rumah kita kan, Bu. Lalu kenapa mereka yang mendikte kita?

Ternyata menggantikan Ibu di rumah itu sangat melelahkan. Aku nyaris tak bisa mencari ide menulis apa. Ini cuma cerita sebelum tidur, Bu. Dari si Upik Abu, yang tak akan menjadi Cinderella bersepatu kaca dan berdansa dengan pangeran.

Sepertinya aku ya aku. Sejak pagi sampai lonceng tengah malam berdentang, akan tetap si Upik Abu.


foto dari sini




Image and video hosting by TinyPic


Monday, October 4, 2010

Ada Aku

Hari itu, ibuku merengkuh kepalaku ke dadanya dengan sebelah tangannya yang masih bisa bergerak. Tanpa kata karena terlalu melelahkan baginya untuk bicara. Aku tenggelam dalam turun naik napasnya yang berat. Di antara payudaranya tempat ia menyusuiku dulu.
"Tidak apa-apa, Bu. Retno tidak apa-apa. Retno baik-baik saja, Ibu juga pasti akan sembuh..."

..............

Ibu, waktu darah mengalir deras dari tubuh Ibu, sampai pamper, seprei, baju dan selimut Ibu kuyup oleh darah segar, apa yang Ibu pikirkan? Aku tahu Ibu terlalu lemah untuk bicara. Kondisi Ibu menurun lagi gara-gara pendarahan itu. Padahal dua hari sebelumnya Ibu sudah bisa mengobrol dan bercanda dengan suster-suster itu.

Apa yang Ibu pikirkan malam itu saat Usi takut darah, sembunyi di balik tirai dan aku membantu suster jaga membersihkan darah yang menggenangi tubuh Ibu di ranjang? Darah segar, Bu. Entah dari mana asalnya. Mungkin lambung, mungkin wasir. Tapi kenapa tak kunjung berhenti sepanjang malam? Seperti air keran, mengalir deras dari lubang anus sampai Ibu harus ditransfusi dan dipasangi dua infus.

Ibu jangan khawatir. Aku tidak akan menangis seperti dua anakmu yang lain. Yang satu cuma bisa menangis sepanjang waktu, yang satu lagi tidak fokus menjaga Ibu karena lebih banyak jalan-jalan ke pertokoan di sebelah rumah sakit atau tidur. Ibu jangan khawatir, ya. Masih ada aku, yang tidak pernah beranjak dari ranjang Ibu. Aku selalu mengaji untuk Ibu, tersenyum, dan berceloteh tentang hal-hal yang lucu meski Ibu cuma bisa menatapku dan tak kuat bicara.

Biar aku saja yang menyuapi Ibu, karena Usi selalu membuat Ibu tersedak. Biar aku saja yang mengusap kening Ibu sampai tertidur karena Ajay cuma bisa menangis sambil memegangi tangan Ibu.

Maafkan kedua saudaraku ya, Bu. Toh masih ada aku yang membereskan semuanya.

Jangan khawatir tentang Ayah, Bu. Aku selalu memasak untuk Ayah. Tidak ada jeroan dan sayuran yang membuat asam uratnya kumat. Aku berhati-hati. Kelinci-kelinci dan semua kucing Ibu selalu kuberi makan. Dan Nunung, pembantu kita yang agak dungu itu, selalu kudiktekan tugas-tugas dan kuawasi sampai beres. Aku membereskan semua urusan sawah dan kebun. Mengawasi panen, mengatur bibit dan segala urusan pajaknya.

Apa yang Ibu pikirkan saat menatapku yang sedang membersihkan darahmu? Aku tidak takut darah, Bu. Aku cuma takut kehilangan Ibu. Kalau bisa, ambillah separuh kesehatanku. Supaya Ibu sembuh dan pulang ke rumah, lantas setiap malam muncul lagi di depan pintu kamarku untuk menggodaku.

"Ibu tidur sama kamu ya?"
"Enggaaaaak! Ibu suka ngorok!"

Aku tidak akan menangis dan menatap ngeri dua infus dan satu slang transfusi di sekeliling ranjangmu seperti Usi. Aku tahu itu semua untuk kebaikan Ibu, untuk kesembuhanmu. Aku yang mencari informasi tentang endoskopi ketika Usi hanya bisa bingung saat dokter menyodorkan solusi itu.

Kata Bayu, endoskopi itu perlu dan relatif aman. Supaya penyebab pendarahan Ibu segera diketahui. Anestesinya tidak total seperti saat Ibu menjalani MRI. Bayu bilang pada endoskopi anestesinya seperti pada kuratage (kuret rahim), dengan obat tidur. Jadi kami tidak perlu khawatir Ibu kehilangan kesadaran berhari-hari seperti sehabis MRI waktu itu. Aku percaya pada Bayu, Bu. Ibu juga selalu percaya padanya. Ia anak tetangga kesayanganmu.

Bu, cepat sehat ya. Cepat pulih. Lalu nanti kita cari ahli terapi untuk tangan dan kaki kirimu yang tak bergerak itu. Tidak, Ibu tidak lumpuh. Sudah kubilang berkali-kali itu cuma lemas, Bu. Nanti bisa bergerak lagi kalau dilatih dengan rajin.

Ayo semangat, Bu. Kita tunggu tiga hari. Kalau obat suntik paling bagus itu bekerja dan Ibu tidak pendarahan lagi, dokter bisa segera melakukan endoskopi. Ibu bisa mendapat pengobatan yang tepat dan bisa segera pulang.

Jangan pikirkan apa-apa, Bu. Jangan khawatir. Ibu kan tahu bahwa aku selalu bisa diandalkan.
___________________

Saat pendarahan otak Ibu dinyatakan semakin pulih dan mengecil, Ibu malah mengalami pendarahan dari anus. Saking banyaknya dan terjadi selama empat hari, dokter memberikan transfusi. Kondisi Ibu drop lagi. Wajahnya pucat pasi dan terlalu lemah untuk bicara. Kami memutuskan mencoba obat anti pendarahan paling bagus meski harganya sangat mahal. Diperlukan tiga hari penggunaan obat tersebut sampai pendarahan Ibu dinyatakan berhenti dan bisa dilakukan endoskopi.



foto dari sini



Image and video hosting by TinyPic

Friday, September 24, 2010

Cintaku Adalah...

Kau tahu...
cintaku adalah gemerisik setiap gerak dedaunan yang tersentuh angin. Setiap nano detik jantung yang memompa darah dalam nadi. Cintaku adalah air yang mengalir dari hulu ke hilir. Hujan yang memberi kehidupan pada bumi. Matahari yang tak pernah absen memeluk dunia. Cintaku adalah setiap tarikan napas pada udara, yang membuatku hidup untuk mencintaimu.

Dan aku sadar...
bahwa aku selalu menyusahkanmu. Selalu merepotkanmu dengan daftar permintaan yang tak kunjung habis. Namun kau selalu mendengarkan aku, mengabulkan sebagian yang kuminta dan menolak sebagian lagi demi kebaikanku. Apakah aku ini begitu serakah? Kurasa kau tidak pernah menganggapku begitu. Kau sendiri yang bilang, 'mintalah padaku, niscaya akan aku kabulkan.'

Lalu kau meyakinkanku...
bahwa cintamu padaku bahkan lebih besar dari cintaku padamu. Kau tak pernah berhenti memberiku hadiah meski terkadang aku sibuk dengan urusanku dan melupakanmu. Kau selalu menjaga dan melindungiku, meski terkadang aku tak peduli padamu. Kau selalu bersedia memaafkanku dan tak pernah menghukumku.

Dan setiap kali aku nyaris habis akal, kau mengulurkan tanganmu padaku. Meski kadang dengan cara yang keras, tapi aku tahu itu karena kau mencintaiku.

Kau selalu tahu...
meski tampaknya seolah aku tak mengingatmu. Tak berterima kasih padamu. Tapi kau tahu kau selalu dalam hatiku.

Cintaku adalah tetes-tetes embun di rumput dan dedaunan. Kunang-kunang yang beterbangan menerangi malam. Danau tenang yang diatasnya sebuah perahu dikayuh perlahan.

Cintaku adalah hening. Tanpa kata. Terlalu dalam untuk dijabarkan. Tapi kau selalu tahu. Maha Tahu.

Terima kasih sudah menolong ibuku, Tuhan...

...............

gambar dari sini


Kutanggalkan mantel serta topiku yang tua
ketika daun penanggalan gugur
lewat tengah malam…
kemudian kuhitung
hutang-hutangku pada-Mu
Mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;
di luar hujan pun masih kudengar
dari celah-celah jendela…

-Sapardi Djoko Damono, Sajak Desember



Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, September 22, 2010

Sayap-Sayap Doa

Tetangga: Nung, kok Enno keliatan tenang ya. Nggak nangis-nangis gitu. Padahal ibunya sakit parah begitu...
Pembantu saya: Kata siapa nggak nangis, Bu. Mbak Enno kalau nangis sambil sembunyi di kebun belakang sana tuh! Di belakang gazebo. Nggak mau depan ayahnya. Nggak mau ayahnya tambah kuatir.
Tetangga: Ooooh....

__________________

Ketika tulisan ini terbit (karena dipublish dengan jadwal), saya pasti sedang di Bandung menjaga Ibu. Ya, akhirnya saya bisa pergi dari rumah menyebalkan ini menemui Ibu.
Ibu yang sudah mengalami kemajuan dan mengenali orang yang menjenguknya. Ibu, yang dalam keadaan seperti itu masih saja mengundang senyum. Pagi kemarin, kata Usi, Ibu terbangun dan berbisik. "Usi, Ibu ingin makan bubur sumsum."

Ah Ibu. Mana boleh Ibu makan bubur sumsum. Ibu masih diinfus. Kepala Ibu masih belum kering dari cairan. Nanti kami buatkan bubur sumsum yang enak kalau sudah pulang ke rumah. Dua anak perempuanmu kan bisa membuatnya. Ibu yang mengajari kami. Kami belum lupa cara membuat bubur sumsummu yang enak itu.

Saya dan Usi kemarin berunding lewat telepon. Kami sepertinya harus menyiapkan kursi roda selama Ibu belum bisa berjalan seperti semula.
"Mudah-mudahan cuma dipakai sebentar saja," kata Usi. "Tahu kan No, Ibu itu nggak bisa diam. Hobinya ke sana kemari. Bisa tertekan kalau terpenjara di kursi roda."

Saya yakin Ibu akan bisa berjalan lagi. Secepatnya. Lihatlah, Kak. Banyak yang mendoakan Ibu. Bahkan dua mesjid di kampung kita dan kampung sebelah mengadakan pengajian setiap malam untuk Ibu.

Ibu begitu disayangi karena kedermawanannya. Tak ada yang berjiwa sosial sebesar Ibu. Hidupnya selalu untuk memberi dan memberi. Ibu yang mengajari saya rendah hati dan membumi. Mengajak saya makan di warung tegal, belanja di pasar becek, mengobrol dengan tukang becak dan menyuguhinya segelas teh sehabis mengantar Ibu. Dulu, waktu kami masih kecil, ada seorang lelaki tua penjual tanaman yang setiap datang ke rumah mengantarkan tanaman bunga pesanan Ibu, selalu disuruh makan siang sebelum pulang. Laki-laki lusuh, kotor dan kumal itu makan di meja makan kami.

"Meja kotor mudah dibersihkan dengan lap. Tapi hati yang kotor dibersihkannya dengan amal perbuatan baik," kata Ibu kala itu.

Kini saya tahu kenapa Ibu pulih begitu cepat. Bahkan dokter pun merasa terkejut. Ibu sembuh karena doa orang-orang yang menyayanginya. Orang-orang yang selalu ditolong dan dilimpahi kemurahan hatinya. Orang-orang tak mampu yang setiap bulan diberinya beras, anak-anak yatim yang selalu diberinya santunan, anak-anak kecil yang diberinya uang jajan selembar ribuan ketika melintas depan rumah, tetangga-tetangga yang dipinjaminya uang dan direlakannya ketika tak kunjung membayar.

Orang seperti apa ibu saya itu? Saya tidak pernah bisa mengerti keluasan hatinya.

Ibu saya, meski cerewet dan tak bisa diam, adalah orang yang tak akan pernah direlakan pergi oleh semua orang yang mengenalnya. Ibu saya, meski tak sabaran dan keras kepala, adalah orang yang disayangi keluarga besar kami. Ia adik yang baik dan patuh bagi kakak-kakaknya, kakak yang keibuan bagi adik-adiknya, tante favorit para para keponakannya.

Mereka akan selalu menjaga Ibu dengan sayap-sayap doa.

Sekali lagi terima kasih telah berdoa untuk kesembuhan Ibu. Terima kasih. Sungguh.


Foto dari sini

________________________

Terima kasih ya untuk doa-doa kalian, harapan kesembuhan buat Ibu dan tepukan semangat di bahu saya. Saya akan menulis lagi sepulangnya saya dari rumah sakit :)


Love,
Image and video hosting by TinyPic

Saturday, September 18, 2010

Hujan dan Lampu Jalan

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang dan payung,
berdiri di samping tiang listrik
Katanya kepada lampu jalan, "Tutup matamu dan tidurlah, Biar kujaga malam."

- Sapardi Djoko Damono -

................

"Aku ikut sedih, Retno. Nanti aku tengok Tante kalau ke Bandung, ya..."

Cukup kata-katamu itu, dan aku merasa tenang. Kamu, cinta monyet masa kecilku, mengirimiku pesan malam itu.

Tahukah kau, itu sudah cukup bagiku. Aku tahu kau tulus. Kau juga menyayangi ibuku, seperti aku menyayangi ibumu. Bukankah kita dulu adalah keluarga besar di kompleks tentara itu? Ibu kita adalah ibu yang lain juga. Dan mereka, ibu-ibu kita itu, sering membicarakan ulah nakal kita sambil geleng-geleng kepala di dekat gerobak tukang sayur langganan. Tawa mereka pecah berderai. Lalu kita melintas dengan sepeda. Mereka sibuk berseru-seru supaya kita tidak berkelana ke kampung sebelah.

Aku tahu kau memang sedih. Dan kenangan yang sama juga melintas-lintas dalam benakmu. Ingatkah, kau dimarahi ibumu karena pulang terlalu sore? Dan kau masih sempat menyeringai geli melihat aku juga diomeli ibuku di depan pagar...

Ibu sering menanyakanmu, Bayu. Kubilang kau sudah jadi dokter yang hebat sekarang. Kau dan otakmu yang cemerlang itu. Yang membuatmu jadi sedikit angkuh, tapi dikagumi ibuku. "Minta diajari matematika sama Bayu sana!" Perintah Ibu padaku.

Ibu sekarang terbaring tak berdaya. Sebagai dokter, kau tentu lebih tahu indikasi penyakitnya. Apakah Ibu akan sembuh, Bayu? Bisakah kau memberiku second opinion? Kau pasti kenal dengan beberapa dokter di rumah sakit itu. Kau dokter bedah yang cemerlang, cerdas, terkenal. Kau pasti punya relasi di sana.

Atau jika hal terburuk terjadi, jika Ibu harus dioperasi, bisakah kau yang menanganinya, Bayu? Aku mempercayaimu sejak dulu. Sejak kau menuntun tanganku saat petualangan kita di kuburan Cina waktu masih kecil. Jangan takut, ada aku, katamu sore itu. Dan aku selalu mempercayaimu sampai sekarang.

"Retno, Tante sudah membaik. Sudah ada kemajuan. Pendarahannya tidak meluas lagi. Kalau pun ada, itu hanya rembesan dari luka lama. Kurasa, beberapa hari lagi sudah dipindahkan ke ruang perawatan."

Bayu, syukurlah kalau begitu. Benar, Ibu sudah bisa membuka matanya lagi. Sudah bisa bicara meski lirih. Bisa menggaruk kepala yang berarti refleksnya membaik, dan dokter tidak menganjurkan operasi.

Dulu, kalau sedang senang kita pasti berpelukan beramai-ramai. Lima, enam bahkan sepuluh orang saling memeluk sambil melonjak-lonjak dan tertawa. Aku memelukmu dari jauh, Bayu. Terima kasih kau dan isterimu sudah mendukungku.

Kita seperti hujan dan lampu jalan dalam puisi Sapardi. Kau hujan yang datang menenangkan aku, si lampu jalan yang resah terus berjaga sepanjang malam.


Foto dari sini

_____________________

Kondisi Ibu mulai ada kemajuan. Tak ada kata yang bisa menggambarkan rasa terima kasih saya atas dukungan semangat dan doa teman-teman untuk Ibu.
Thank you so much. I love you all, guys!





Hugs,

Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...