Showing posts with label Flamenco Project. Show all posts
Showing posts with label Flamenco Project. Show all posts

Tuesday, April 2, 2013

Barcelona Te Amo. Manuel's Side

Aku melihatnya sedang duduk di kursi taman, di Placa de Catalunya. Memandangi merpati-merpati yang terbang berputar-putar di langit biru lalu hinggap untuk mematuki remah roti yang disebarkan para pelancong. Aku duduk tak jauh darinya. Mengarahkan moncong kameraku pada kerumunan merpati, namun ekor mataku memandanginya.

Lelaki yang tampan, gumamku dalam hati. Rapi, dengan kemeja lengan pendek dan wajah yang bersih sehabis bercukur. Ada jas sport yang digulung di pangkuannya. Ia duduk seperti patung, matanya menerawang jauh.

Kupikir, akan sangat bagus kalau ia menjadi obyek fotoku sore itu. Kalau ia mengizinkannya, dan aku akan memintanya sebentar lagi.

Langkah-langkahku yang bergegas ke arahnya tak membuatnya menoleh. Ia bagaikan tenggelam dalam dunia di pikirannya.

"Selamat sore, boleh minta izin mengambil foto Anda?"
Ia memandangiku dengan matanya yang sehangat cokelat cair. Mengamati ekspresi memelas yang kutampilkan demi persetujuannya. Tiba-tiba, ia tersenyum.
"Dari Indonesia?"
Aku mengangguk. "Benar, Senor..."
"Saya mengenal gadis yang mirip denganmu di sini. Dia dari Indonesia juga."
"Oh, siapa namanya?"
"Katya. Katya Sadewi. Dia mahasiswi di Universitas Barcelona."
Aku mengangguk. "Oh, Katya. Ya, saya kenal. Kami pernah bertemu di Indonesian Embassy. Ada satu lukisannya terpajang di kantor Duta Besar."
"Sudah saya duga." Ia tak lagi kaku seperti patung. Tubuhnya yang jangkung berguncang oleh tawa kecilnya. "Kamu bilang mau memotret saya? Di sini? Seperti ini?"
"Ya. Kalau Anda tidak keberatan?"
"Tentu," ujarnya. "Tidak masalah selama itu untuk keperluan pribadimu. Kamu bukan wartawan, kan?"
Aku menggeleng. "Saya penulis, Senor..."
Ia mengulurkan tangannya. "Estefan. Manuel Estefan."

........

Sejak itu, ia menjadi temanku. Laki-laki yang matanya seperti cokelat  cair. Yang diam-diam menghabiskan sore di Placa de Catalunya, bersama merpati-merpati liar.
Ia bercerita tentang Katya. Gadis yang kukenal tak terlalu dekat, yang kata Manuel adalah salah satu peserta pamerannya.

"Dia sedang pulang ke Indonesia," katanya. "Saya khawatir, ia terlambat ikut pameran."
"Kamu senang sekali bercerita tentang dia," ujarku padanya.
"Dia sangat berbakat."
"Bukan. Bukan itu maksudku. Kamu bercerita tentang dirinya dengan mata yang berbinar-binar dan senyum yang terlalu lebar."
"Qué quieres decir? Apa maksudmu?"
"Sepertinya ini bukan semata-mata tentang pameran dan pelukis yang berbakat."
"Oh, ayolah. Saya selalu bersikap profesional."
"Sí a la derecha. Usted ha intentado, pero no te. Yeah right, you've try, but you failed. Akui saja, Senor Estefan."

Jadi, demikianlah akhirnya.
Estefan, laki-laki bermata cokelat cair itu menunggu Katya kembali ke Barcelona. Berharap Katya masih sempat ikut pameran, katanya. Tetapi ia tak bisa membohongi aku, tentu saja.

Maka, untuk dirinya pula kutulis kisah ini.
"Kau akan menulis kisah ini?" Tanyanya padaku, setelah kami melemparkan remah roti terakhir pada kumpulan merpati kelabu.
"Kamu keberatan?"
"Tidak. " Ia tersenyum. "Katya dan aku akan bertemu di sini besok. Datanglah, dan duduklah agak jauh sebagai pengamat. Kamu tidak akan menyesal melakukannya."
"Memangnya, apa yang mau kamu lakukan?"
"Lihat saja besok, mi bella amiga. Lihat saja besok."

...............................

Just read my new novel 
"Barcelona Te Amo" 
if you want to know what will happened ;)



Image and video hosting by TinyPic

Sunday, March 24, 2013

Barcelona Te Amo. Novel Kedua Sudah Terbit!


Dear Katya,

Kali ini kisah tentangmu. Tentang jalan-jalan sempit beralas batu berabad lalu, tentang angin di sela-sela pilar gotik yang membawa kabar dukamu. Tentang pengorbanan dan harapan untuk membahagiakan seseorang.

Aku menulis. Menggiring benakku melintasi kota yang di tanahnya ditanamkan pondasi-pondasi para seniman. Di gang itu, di Gothic Quarter, kau tahu, sang maestro Picasso membuka studionya untuk pertama kali. Menunjukkan kepada dunia keahliannya memindahkan keindahan ke atas kanvas. Dan Joan Miro menghabiskan masa remajanya di sepanjang jalan bersejarah dan katedral yang dikunjungi Columbus, sebelum menjadi pelukis terkenal. Aku juga bisa melihat puncak katedral Sagrada Familia, mahakarya sang arsitek Gaudi. Lalu berhenti dan menari bersama air mancur ajaib di pelataran Museum Nasional.

Dan aku mengenal Manuel, Kat. Laki-laki yang menyuruhmu melukis dan melupakan kesedihanmu dengan caranya yang tak kau sukai. Ia baik, tapi kau menganggapnya angkuh dan tak punya hati. Berilah padanya kesempatan untuk menjelaskan.

Katya, bahwa aku menulis semuanya untukmu demi kebaikanmu. Agar kau pahami, bahwa pengorbananmu sudah cukup. Hentikan itu sampai di sini, Katya. Karena kau juga berhak untuk mendapatkan hidupmu lagi.

Alexandra dan Evan punya hidupnya sendiri. Biarkan mereka menjauh pergi.
Kau, seperti juga aku, adalah merpati-merpati bebas di alun-alun Plaza de Catalunya. Mari kita terbang. Langit biru sudah menunggu.

Con amor,

- Kireina Enno -

.............................


Hai guys,

Akhirnya Flamenco Project sudah menjadi novel!
Novel kedua saya "Barcelona Te Amo" sudah bisa didapatkan di toko-toko buku terdekat ya. Yuk serbu!
Ini adalah rangkaian dari seri Setiap Tempat Punya Cerita, yang digagas penerbit Bukune dan Gagasmedia.
Kali ini, ceritanya berbeda dengan novel pertama saya "Selamanya Cinta."
Untuk sinopsis, trailer dan bookshelf, check it out di:
Sinopsis 
Youtube's trailer
Goodreads bookshelf
Semoga kalian suka. Happy reading!




Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, October 16, 2012

Flamenco Project is Done!


Hey, darlings!

Thanks ya dukungannya.
Draft saya sudah selesai dong. Akhirnya Flamenco Project rampung setelah dibangun sehuruf demi sehuruf selama tiga bulan.
Jadwal saya meleset satu hari sih. Seharusnya saya mengirimkan draft itu kemarin, tanggal 15 Oktober. Tetapi, masih ada sesuatu yang mengganjal di ending. Jadi, saya minta penangguhan sehari sama Ibu Editor saya nun di kubikelnya sana.

Tadi pagi draft-nya sudah dikirim. Rasanya lega, merdeka. Saya sampai senyum-senyum sendiri sepanjang jalan waktu mau ke warung tadi. Hahaha.

Seharusnya tenggat waktunya nggak mepet gini sih. Tapi ini memang salah saya, karena tiba-tiba, draft yang terdiri dari 9 bab, molor jadi 10 bab. Itu di luar Prolog dan Epilog. Jadi ada 12 bab.
Nggak tau deh, apa nanti akan dipangkas editor atau enggak. Tapiii... waktu nulis Selamanya Cinta sebelum ini, boro-boro dipangkas, saya malah disuruh bikin tambahan lagi hehe...

Siapa tahu ada yang nanya. Rencananya novel ini terbit Desember tahun ini.
Tuh, buat bekal bacaan liburan Tahun Baru. Haha!

Fyuh, saya mau baca-baca novel baru yang numpuk itu aaah...
Makasih sekali lagi atas support-nya.
Kalian semua keren!

pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, October 10, 2012

Dreamers


Ending draft saya sedikit lagi. Hari ini harus selesai semua.
Yah, harusnya sih kemarin.
Tapi kemudian ada 'interupsi' sampai tengah malam.
Melibatkan adegan melingkar di sofa seperti janin, dan ada yang pindah-pindah lokasi seperti kucing habis beranak. Haha.

Ada perjalanan imajiner.
Rencana-rencana yang dipetakan tanpa tahu kapan dilakukan.
Tapi itu menyenangkan.
Sudah berapa abad saya tidak berangan-angan? *sigh*

Jadi siang ini, saya akan bertapa demi ending yang sudah nyaris jebol dari kepala.
Sebelum ada interupsi lagi. Sampai tengah malam lagi.

Hey you!
Seems it will become your habit, eh? ^^

“You know what charm is: a way of getting the answer yes without having asked any clear question.” 
 ― Albert Camus


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, September 25, 2012

[Flamenco Project] It's So Hard to Finish

Angin menari sebelum sunyi. 
Senja mengecup matahari. 
Ini gerbang malam, sebelum segalanya kelam.

Belakangan agak sulit menciptakan kalimat puitis seperti itu. Tidak ada trigger-pemicunya. Saya tidak sedang patah hati, tidak sedang jatuh cinta. Saya sedang sibuk dikejar-kejar deadline Flamenco Project pertengahan bulan depan. Juga pusing mengurusi karyawan pabrik yang semakin lama semakin tidak disiplin. Bikin saya berandai-andai bisa memecat mereka semua supaya sakit kepala saya sembuh.

Okay, belakangan ini saya memang jadi manusia yang nggak sabaran. Saya butuh ketenangan, butuh suasana yang nyaman, yang bisa menumbuhkan ide di kepala. Saya kepingin menyewa rumah barang satu-dua bulan untuk menyendiri dan menyelesaikan satu novel tanpa harus dirungsingi (bahasa apa ini?) oleh urusan-urusan lain.

Masalahnyaaa... hati kecil saya berkata, ini semacam latihan dasar keprajuritan kepenulisan untuk kelak kalau saya jadi emak-emak rumahtangga, yes?
Saya pasti juga akan sibuk mengurusi ini itu, sementara terpaksa harus menyumbat dulu luapan kalimat dan dialog di kepala, sampai anak-anak pergi ke sekolah atau tidur, atau makan, atau apalah.
Sepertinya saya pasti akan mencuri-curi waktu. Kalau dibandingkan dengan sekarang, pasti lebih senggang sekarang. Hahaha.

Ih, saya ngoceh apa sih?
Saya kan mau cerita kemajuan Flamenco Project. Sudah di akhir Bab 8, dan akan melaju ke bab terakhir, yaitu Bab 9. Setelah itu, saya akan membuat Prolog dan Epilog.
Yup! Aneh ya, saya bikin Prolog belakangan?
Soalnya, saya mau prolognya diambil dari situasi di salah satu bab. Saya sudah punya gambaran adegannya. Tidak akan panjang, mungkin sekitar dua halaman. Dan sepertinya, lagi-lagi saya terpengaruh James Patterson, novelis detektif favorit saya.
Hahaha. Wes, embuhlah! Biar diperiksa dulu sama editor deh!

Menyelesaikan novel kedua ini benar-benar perjuangan. Saya sampai harus kena serangan maag beberapa hari dalam seminggu. Kadang-kadang sepanjang hari saya menulis sambil menahan nyeri lambung. Maag saya ini berasal dari gejala psikosomatis. Nggak elit banget ya? Tapi masih untung daripada psikopat :P

Tapi bukan berarti saya nggak enjoy. Saya sukaaaa sekali sama tokoh-tokoh saya. Jatuh cinta sama tokoh utama prianya yang ganteng, keren, cool, dan mature. Ehem!
Ada nggak ya cowok kayak gitu buat saya? *menadahkan tangan dengan khusyuk*

Hehehe.
Sudah dulu ya. Nanti saya tambah ngelantur. Mau balik lagi ke draft dan Mr M tercintah.
Bubye!

pict from ugh. sorry, I forgot the source :P
Image and video hosting by TinyPic

Sunday, August 26, 2012

Falling In Love With M (Day 38)

Inisialnya ME. Baiknya kita panggil saja dia Mister M.
Saya jatuh cinta sama dia, sodara-sodara. Padahal dia kan nggak nyata. Dia cuma tokoh rekaan saya di draft yang sedang saya kerjakan.

Bisa dibilang, ini jenis cowok yang saya suka. Yah, emang tipikal banget sih (kalau nanti kalian sudah baca). Tapi cewek-cewek kan biasanya begitu. Punya angan-angan tentang cowok yang tipikalnya begini-begitu, meskipun belum tentu mendapatkan yang seperti itu.

Setelah meliburkan diri menulis menjelang dan sesudah Lebaran, saya berkutat lagi dengan draft. Sudah di akhir Bab Lima dari total delapan bab. Untuk memudahkan meninjau ulang, akhirnya setiap bab saya pisah-pisahkan file-nya. Jadi sekarang, saya nggak tahu lagi sudah di halaman berapa dan berapa jumlah kata yang saya tulis. Halaman 9 sih, kalau di file Bab Lima. Hehe.

Sejauh ini, saya masih menghilangkan jenuh dengan membaca novel-novel fiksi fantasi. Berkali-kali memesan dari toko buku online langganan. Bukan karena saya kepingin menulis di genre ini. Masih belum bisa, belum sanggup, dan nggak ada inspirasinya sama sekali. Fiksi fantasi cuma untuk melonggarkan mood :)

Oh iya, saya punya utang janji sama Glo dan Mbakyu Tante Puak untuk sharing soal novel fikfan yang sedang saya baca ya. Nanti deh ya... saya nggak lupa kok. Ini masih harus mengeluarkan beberapa adegan dan dialog yang mendesak-desak di otak.

Konflik sudah menjelang. Yihaaa!
Buat yang penasaran, di bawah ini saya cantumkan quote dari Bab Lima.

Lihat saja nanti. Kamu akan tahu seberapa dalam aku mencintaimu. Meski kamu seperti batu di puncak gunung, yang tak menoleh padaku.
– San

K and S. The conflict is coming...
pict from here

I'm on Chapter V, with (approximately) 14.738 words

Image and video hosting by TinyPic

Thursday, August 16, 2012

Konflik! Mana Konflik? (Day 28)

Saya mau joget-joget, boleh?

Tiga hari yang lalu, saya berpikir: kok konflik novel ini cuma gini-gini aja! Pake suspense nggak yaaa?
Nggak tahu deh, kenapa saya selalu terpikir ke soal suspense itu. Mungkin untuk novel Selamanya Cinta, cocok memasukkan sedikit suspense ke dalamnya. Tapi kalau draft novel yang ini? Yang sejak awal dirancang untuk menjadi novel paling romantis abad ini? *lebay abis*

Nggak mungkin, saya mengorbankan cita-cita semulia itu demi keisengan sesaat, bukan?
Kasihan para penggemar sastra galau saya, kalau mereka yang berharap termehek-mehek dan berdesir dadanya malah jadi jantungan dikasih adegan ala Hanibal Lecter. Hehe..

Seperti saya bilang kemarin, saya cuti menulis beberapa hari. Itu gara-gara memikirkan konflik. Saya nggak mau konflik yang terlalu sederhana seperti cerita anak sekolahan (Selamanya Cinta yang cerita anak sekolahan saja ada tokoh psikopatnya), tapi saya juga nggak mau konfliknya terlalu berat, karena ini kan bukan novel thriller.

Dan kemarin, tiba-tiba ide untuk memodifikasi konflik itu muncul. Wah senangnyaaa! Wajah saya langsung berseri-seri. Sempat-sempatnya liat kaca? Ah, saya memang ngaca 15 menit sekali kok! *biangnya narsis*

Saya sibuk gila-gilaan. Beres-beres rumah, menyusun menu, belanja, mencuci lusinan stoples dan wadah-wadah. Itu termasuk mencuci bantalan-bantalan sofa di teras dan dalam rumah, membersihkan dua kamar mandi dan mushola, packing baju-baju pribadi untuk mengungsi ke rumah sebelah yang ditempati adik (karena akan sangat banyak orang mengisi ruangan dan kamar-kamar di rumah besar).

Reuni tahunan di rumah saya setiap Lebaran sudah di depan mata. Sialnya, saya sedang tidak punya pembantu. Nasib... nasib...

Ya sudahlah. Saya mau joget.

Day 28. I'm on page 54, chapter V, with 13.800 words.


“Two wolves battle inside of all of us. One is good the other evil. The one that wins depends on the one we feed.”
― Cherokee Proverb

A corner of Picasso Museum Barcelona
pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Sunday, August 12, 2012

Dan Saya Pun Galau (Day 23 - 25)

Kata Rona, pengalaman galau itu sesuatu. Di Jogja sana, Wuri menuduh tulisan-tulisan galau saya kemarin menyindirnya. Sementara Gloria mengira saya menulis tentang taksiran saya.

Itu tentang novel saya kok. Saya menulis seperti itu untuk mendalami karakter yang saya ciptakan. Berusaha menjadi tokoh itu, supaya saya dapat mood yang diinginkan.

Iya sih, saya lagi naksir orang. Tapi tidak menggebu-gebu. Santai kayak di pantai. Lagipula saya kan cewek normal. Setiap cewek single pasti punya taksiran. Memangnya ada yang enggak? :p

Saya memang galau. Tapi bukan karena masalah cinta-cintaan ala sinetron. Sudah ah capek saya main sinetron. Saya galau karena ponsel saya eror. Hihihi...
Si ponsel mengkhianati saya diam-diam. Mengirimkan SMS yang terpotong, tidak menyampaikan panggilan, berlagak seolah nggak ada sinyal. Gara-gara itu beberapa teman di Jakarta dan Bandung protes. Mereka kirim e-mail. Menuduh saya sombong setelah punya novel. Itu tuduhan keji hiks... Novel baru sebiji, memangnya pantas disombongkan?
Nanti ya, tunggu saya sudah berhasil menerbitkan novel-novel best seller dan fenomenal kayak Bang Andrea Hirata atau Teteh Dee Lestari, baru saya akan sombong.
*dijitak berjamaah*

Kegalauan saya itu lebih kepada pertanyaan 'saya harus beli ponsel apa?'
Dari dulu saya Nokia lover. Tapi sekarang, sekalisekali saya kepingin mencicipi android.

Ini ocehan nggak penting banget ya?

Draft kedua saya apa kabarnya?
Oh, baik. Saya sempat merombak sedikit gaya bicara para tokohnya dari halaman pertama. Nggak ada kesulitan berarti. Kadang-kadang survei dilakukan sambil jalan, karena itu internet saya selalu ready. Awalnya memang agak mengganggu ritme sih. Lagi asyik menulis, tiba-tiba harus diselingi browing dulu. Padahal saya sudah punya kliping. Tapi ada saja yang kelupaan nggak disurvei.

Semua tokoh sudah mulai bertemu. Satu per satu dikonfrontasikan. Ada keinginan iseng untuk bikin adegan suspense lagi semacam di novel Selamanya Cinta. Tapi saya redam, karena saya ingin ini benar-benar kisah cinta nan romantis. Huehehe...

Okelah kalau begitu. Selamat hari Minggu! Hari ini saya juga mau mengurung diri di kamar. Bokap saya paling baik sedunia. Pasrah aja kalau saya belikan masakan Padang karena saya malas masak gara-gara sibuk nulis hehehe...
Harus mencari suami yang seperti itu. Di mana yaaaa? :))

Senyum itu, di mana pernah kulihat senyum itu? Seseorang yang kukenal memilikinya. Kenapa kau punya sesuatu yang ingin kulupakan? Kenapa kau membangkitkan kenangan? Kejam!
-- Kat

I'm on page 51, chapter IV, with 13.443 words



Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, August 1, 2012

Flamenco Project: Saya Jatuh Cinta (Day 11 -14)

Ada kejutan di bulan Ramadhan saat saya sedang fokus menulis novel kedua ini. Editor saya, Iwied, menelepon dan bilang novel saya Selamanya Cinta cetak ulang ketiga!
Alhamdulillah, saya senang dan nggak nyangka. Kalian segitu ngefansnya kah sama Abe? Hihihi.

Kadang-kadang saya kangen nulis lagi tentang Abe di sini, tapi nanti saya akan didesak untuk bikin sekuelnya. Saya belum siap bikin novel dwilogi, trilogi dan sejenisnya. Itu mudah tapi juga susah. Mudah, karena karakter tokoh-tokohnya sudah ada, sudah fix. Tapi membuat sekuel itu bawa beban yang nggak sedikit. Dia harus lebih bagus, atau sama bagusnya dengan yang pertama. Kalau nggak, bisa dikritik sebagai novel gagal atau aji mumpung.

Yeah well, pokoknya cetak ulang tiga kali, sodara-sodara! Saya nari flamenco dulu ya! *kayak yang bisa*

Baydewey, saya lagi jatuh cinta lhooo... *kedipkedip*
Yak! Semua langsung duduk tegak, mencondongkan badan ke layar kompi dan mulai memasang radar gosip hihihi...nyante dong ah!

Project Flamenco sudah mulai lancar jaya. Mau tahu kenapa? Ya karena saya lagi jatuh cinta....
sama salah satu tokoh disitu.
Dan saya juga akan bikin kalian jatuh cinta sama dia.... hahaha....

But it's true that I'm enjoying writing this project.
Maybe because I love the setting!
Spain! Omigod! Can you imagine the place with the gothic buildings, beautiful people, handsome matadors, Pablo Picasso's paintings, the gypsies, flamenco dance, et cetera, et cetera?
Or maybe... Enrique Iglesias, gals? Aw, aw! Hehehe...

Seperti saya pernah bilang, lancarnya novel ini mungkin juga karena saya sudah membuat outline-nya lebih terperinci menjadi per bab. Saya punya tujuh bab, dan perjalanan masih panjang, karena saya baru menulis di Bab 2. Tapi dengan ritme yang sudah mulai asyik ini, dan perasaan jatuh cinta yang bikin semangat, saya yakin novel ini bakal selesai sebelum deadline. Insya Allah... :)
Now, I'm on page 34 with 8.500 words. 

Oh iya, satu lagi. Saya dapat kabar dari teman saya LeLittle (nama kamu susah amat ya, cyin? Haha)
Coba kalian buka link iniAda seorang fotografer yang menjual beberapa fotonya untuk didonasikan ke Let's Adopt Indonesia.  Kalau teman-teman mau beli, silakan lho. Fotonya keren-keren banget! Atau bantu sebarkan di blog kalian, ya. Siapa tahu ada yang mau beli untuk donasi.
Dan di link yang satunya lagi (Let's Adopt Indonesia), kalian juga bisa lihat-lihat. Siapa tahu kalian tergerak untuk adopsi binatang-binatang malang (tapi lucu-lucu) yang ditampung sementara di sana. Saya kepingin adopsi salah satu kucingnya, tapi kucing di rumah saya sudah ada tujuh.
Adopsi anjing? Errr... mau sih, tapi takut nggak keurus. Nanti malah dosa kan yaaa. Soalnya selain tujuh ekor kucing, di rumah ada lima ekor kelinci hias (tiga Rex Satin, satu Dutch dan satu Hotot), sepasang angsa jenis Embden, dan ayam-ayam. Rame kan rumah saya?

Okay, saya balik dulu ke draft yaaa!
Ole!
*ngibasin kipas, ngedipin Enrique*


“All you have to do is write one true sentence. Write the truest sentence that you know.” 
― Ernest Hemingway

Enrique! Awww! :))
Image and video hosting by TinyPic

Saturday, July 28, 2012

Diplagiat Lagi (Day 7 - 10)

Di tengah-tengah kesibukan bayar gaji buruh pabrik, mengurus rumah dan menyelesaikan draft Flamenco Project ini, saya iseng tracing. Et voila! Saya menemukan beberapa plagiator baru (terlihat dari tanggal postingannya yang masih baru beberapa bulan belakangan ini).

Hadeeeh! Memang susah ya memberantas yang kayak gini. Karena orang-orang sakit jiwa memang ada di mana-mana.

Ada satu plagiator yang isi blognya membuat saya agak kasihan. Seorang isteri yang tidak bahagia tampaknya. Dia berkeluh kesah tentang suaminya, dan menyebut-nyebut nama perempuan yang saya kenal di dunia maya.

Saya ternganga. Jujur ya, saya nggak bermaksud mengintip kehidupan dia. Tapi gara-gara dia membuat judul dengan nama teman blogger saya itu, besar-besar pakai huruf kapital pula, saya jadi tertarik untuk membaca. Dan ternyata lebih banyak lagi post-nya yang isinya tentang teman saya. Well, ini bulan puasa, jadi saya tidak melanjutkan membaca yang lainnya dan hanya meninggalkan pesan di kolom komentar di bawah tulisan-tulisan saya yang dia plagiat.

Tulisan-tulisan saya yang dia plagiat banyak banget, bahkan cuplikan novel saya pun dia plagiat! Hadeeeh! Dia ganti judul aslinya, dan bagi saya itu artinya dia mengklaim tulisan itu menjadi miliknya.

Nah, persoalannya....jika dia tidak mengindahkan peringatan saya untuk menambahkan link pada tulisan saya yang dia plagiat, seperti biasanya saya akan memberi peringatan lebih keras dengan mengumumkan link blognya. Lebih ekstrim lagi, saya akan menampilkan akun-akun media sosial si plagiator. Ya kan, kalian hapal kalau saya marah sama orang-orang yang suka plagiat itu gimana...?
Tapi, kalau hal itu saya lakukan pada si nyonya yang stress ini, saya khawatir teman blogger saya yang dia ceritakan di blognya akan ikut berkunjung ke sana, lalu membaca tulisan tentang dia dan mungkin kesal atau marah. Lalu memberitahu suami si nyonya ini... lalu suami si nyonya akan marah pada isterinya dan mereka bertengkar.

Aish! Saya nggak mau jadi penyebab pertengkaran rumah tangga orang lain!

Harapan saya, si plagiator malang itu membaca posting ini dan segera mengindahkan permintaan saya untuk menambahkan link blog ini sebagai sumber. Sumpah, saya kasihan padamu. Apalagi setelah membaca keluh kesahmu tentang suamimu. Saya nggak akan membeberkan link kamu, tapi tolong kamu juga mengerti bahwa saya nggak suka kamu plagiat tulisan saya. Please Mbak, tambahkan link blog saya atau hapus sekalian, oke?

Ganti topik ke draft Flamenco Project. Laporan hari ke 7 - 10. 
I'm on page 26. Sudah masuk ke Sub-chapter 2 sekarang. Sejauh ini nggak ada kesulitan yang berarti selain konsentrasi yang kemarin terbagi untuk gajian buruh. Saya mulai enjoy menulis novel ini, dan semakin penasaran untuk kursus tari flamenco *apa sih!*

Itu dulu deh. Bye bye!

"This is how you do it: you sit down at the keyboard and you put one word after another until its done. 
It's that easy, and that hard.” 
― Neil Gaiman


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, July 24, 2012

Flamenco Project: The Soundtrack (Day 5 - 6)

Yang saya lakukan sebelum mulai intens menulis adalah belanja ke pasar.
Lho? Hehehe
Iya, saya serius. Saya menyusun menu untuk seminggu, membeli semua bahan-bahannya dan menyusunnya di kulkas. Itu berarti untuk seminggu ke depan, benak saya bebas dari kegalauan memikirkan menu harian dan pergi ke warung pagi-pagi. Cerdas kan saya? #nggakpenting

Kemajuan draft saya masih lambat sekali. Sejauh ini baru 15 halaman dengan 4.000 kata. Well, ini juga terjadi waktu saya nulis novel pertama sih. Mungkin karena awal-awal cerita masih belum seru. Biasanya, kalau sudah masuk ke konflik, saya semangat banget. Nulis terus dari pagi sampai malam.

Sambil nulis, saya mengumpulkan soundtrack. Lagu-lagu yang harus saya dengarkan di sela-sela mikirin adegan berikutnya, gitu. Buat saya ini penting, dan lagu-lagunya juga harus pas dengan tema.
Waktu nulis "Selamanya Cinta", folder soundtrack-nya isinya kebanyakan lagu-lagu Andrew Belle dan The Fray. Satu lagu yang selalu saya ulang-ulang sambil menulis adalah "How To Save A Life" punya The Fray.

Novel yang sedang saya garap dan saya sisihkan demi proyek dadakan yang sekarang dikebut ini, punya folder soundtrack yang kebanyakan isinya lagu-lagu Colbie Caillat.

Sekarang, Flamenco Project juga sudah punya folder soundtrack sendiri. Isinya kebanyakan lagu-lagunya Owl City. Tapi lagu yang selalu saya ulang-ulang sambil nulis malah lagunya Foreigners yang judulnya "I Wanna Know What Love Is." Itu liriknya epik bangetlah buat tema novel ini. Hehehe.

Saya juga sudah mulai nempel kartu-kartu berwarna untuk menulis lintasan ide untuk adegan atau plot berikutnya biar nggak lupa. Memastikan kuota internet saya selalu cukup, kalau-kalau saya butuh riset mendadak di tengah-tengah proses menulis. Sarung pantai Bali untuk selimut kaki, ponsel dalam jangkauan, print out outline di sebelah laptop dan memastikan bantalan duduk saya selalu empuk (waktu menulis novel pertama di meja rias, sekarang menulis di meja tulis saya yang model meja jepang-pendek).
Intinya, kenyamanan dan kemudahan saat menulis harus diperhatikan.

Gitu aja sih, kisah kasih kemajuan draft saya. Hari ini tragetnya harus 3.000 kata. Dan saya masih harus mikirin ending yang belum pas. Bismillah...


“You can make anything by writing.” 
― C.S. Lewis


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

Sunday, July 22, 2012

Flamenco Project: Day 1 - 4

So, this is the 4th day.

Setelah dua hari penuh riset geografi dan antropologi, akhirnya kemarin saya mulai menulis. Hasilnya, saya punya Prolog dengan 400 kata dan Bagian I, episode 1, sebanyak 2.200 kata (sekitar 10 halaman A4). Lumayan juga, setelah diawali dengan munculnya ide untuk adegan dan dialog di paragraf awal.

Saya sedang 'berada' di salah satu kota paling gaya di Eropa. Menikmati musim panas, yang cahayanya memantul di dinding-dinding kuno. Menyusuri jalan-jalan beralas batu yang sudah ada di sana sejak abad pertengahan. Saya menyelinap di antara para turis, memperhatikan mereka belanja dan duduk-duduk di kafe pinggir jalan. Memperhatikan para pelukis menggoreskan kuasnya, menciptakan dunia ajaib di kanvas mereka.

Saya menyaksikan tokoh-tokoh saya, mulai bermunculan dengan beban di benak mereka. Saya bisa melihatnya dalam raut wajah yang saya bentuk, dalam gerak-gerik yang saya perintahkan, dalam dialog yang saya tuliskan.

Sejauh ini, saya masih menulis berdasarkan gambaran besar dan naluri. Outline yang saya pakai masih outline yang saya kirim ke editor saya. Akibatnya, kadang ritme menulis tersendat, karena belum terpikir adegan selanjutnya. Dan saya terpaksa harus meninggalkan laptop dulu untuk mencari inspirasi, yang mana malah baru balik lagi ke laptop setelah berjam-jam kemudian. Buang waktu!

Mungkin sudah waktunya bikin outline lebih detail per episode? Saya coba deh.

Episode 1 belum selesai. Masih akan bertambah hari ini. Bela-belain nggak tidur lagi sehabis subuhan untuk memenuhi target.
Hiks, ngantuk....
*pukul-pukul pipi sendiri*


“Fiction is the truth inside the lie.” 
― Stephen King


pict from here

Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...