Showing posts with label Project Dawn. Show all posts
Showing posts with label Project Dawn. Show all posts

Sunday, December 7, 2014

[Project Dawn ] Revisi

Hai!

Get Lost Journey Part 3, ditunda dulu ya. Saya lagi mau cerita tentang perkembangan draft.

Ini hari kelima saya mangkal di sofa ruang tamu.
Draft Project Dawn saya sudah selesai diperiksa editor, dan dikembalikan dengan beberapa catatan untuk revisi.

Revisi, sodara-sodari!

Baru kali ini saya diminta merevisi draft. Soalnya biasanya storyline saya sederhana, jadi plotnya nggak aneh-aneh. Nah, draft kali ini memang agak complicated.

Bukannya saya tidak senang.
Senang, tahu!
Apa lagi waktu tahu yang mengedit kali ini bukan cuma Iwied, tapi juga Gita. Dua-duanya adalah orang-orang yang gaya tulisannya saya sukai sejak pertama kali kami bertemu di dunia maya sebagai blogger.
Boleh dong bangga, bahwa draft saya kali ini 'diurusi' teman-teman bermain kata yang sudah lama saya kenal. Semoga hasilnya nanti lebih memuaskan dari novel-novel saya sebelumnya.

Dan revisinya?
Hahahahahahaha... fyuh!
Mereka memang teliti banget ye. Rasa bangga dan senang saya bercampur dengan kepanikan. Soalnya, hasil diskusi menghasilkan keputusan untuk memundurkan setting waktu ke masa 25 tahun yang lalu.

Duh, tolong.
Saya kan belum lahir! *kibas poni*
Hihihihi.

Jadilah, alih-alih menulis, kemarin saya menggalau cari lokasi baru. Mana bukan di Jakarta pulak. Kalau Jakarta sih saya nggak akan galau. Wong saya orang situ.
Ini settingnya di Surabaya, kakak. Meneketehe Surabaya 25 tahun lalu kayak apa. Saya akhirnya sibuk chatting sana-sini dengan teman-teman asli Surabaya untuk menggali informasi set lokasi.

Dapat.
Malah bukan dari orang Surabaya asli, tapi dari teman penulis asal Situbondo, Helga Rif. Hahahaha.

Jadi, saya cerita di BBM lagi cari lokasi di Surabaya yang sudah ada sejak 25 tahun lalu.
Tiba-tiba dia nyerocos aja tentang sebuah taman bermain tempat dia dulu liburan waktu masih kecil-dari Situbondo ke Surabaya.
Nggak nyangka, teman saya yang penulis-atlet penembak-peragawati-pengajar ini dulunya bolang. Bocah petualang.

Saya suka tempat yang dia ceritakan itu. It's such a romantic place untuk.ukuran akhir tahun 80-an. Saya harus riset lagi tentu saja.
Inilah bagian dari menulis yang paling krusial menurut saya.
Riset itu penting. Berkaitan dengan plot, karakter, adegan, dialog, gaya hidup, dan logika.

Menulis tanpa riset, sekecil apapun adalah nonsense.

Kemudian, sekarang muncul kegalauan baru. Alih-alih mencari data di internet, saya kepengin datang sendiri ke tempat itu untuk riset. Tapi waktunya mepet sekali.
Duh, bingung.

Ya sudahlah. Sementara ini, saya usahakan riset literatur dan wawancara.

Saya sedang bersemangat sekali sejak revisi dimulai. Karena revisi artinya draft ini sedang dalam proses penerbitan.

Ah, senang!

Thanks Iwied, Gita, Helga.
Mari tenggelam lagi di lautan kata! ^^

- Enno -

Sunday, July 27, 2014

[Project Dawn] Setelah Melarikan Diri

Ia menaikkan sebelah alisnya. “Lelaki bodoh yang akan menonjok siapa saja yang berani menyentuh gadis yang disukainya.”
“Itu tidak seromantis yang kamu pikirkan, tahu.”
Ia menatap perempuan itu dan menyahut sinis. “Siapa yang berpikir itu romantis? Aku berpikir dia gila.”

......................


Sehari menjelang Lebaran.

Mau ngaku, bahwa draft novel ini adalah draft yang paling suliiiit saya tulis dibandingkan dua novel sebelumnya (Selamanya Cinta dan Barcelona Te Amo). Duh. Saya ditimpa banyak sekali hambatan psikologis, terutama karena di awal saya menulis, saya tidak dalam kondisi perasaan yang baik.

Di awal-awal itu, saya menulis dengan tertatih-tatih kayak bayi yang baru bisa berjalan. Kadang-kadang seharian saya cuma duduk bengong menatap layar laptop, tanpa menulis apa-apa. Kadang-kadang, saya telungkup dan menangis sesenggukan di atas meja, di samping laptop yang menyala tapi terabaikan.

Akhirnya, saya mikir. Saya mesti memperbaiki suasana hati dulu supaya bisa meneruskan menulis.
Di badan saya, sedang bercokol mahluk menyedihkan yang nggak mau diajak kerja sama. Enno yang dulu sedang kabur entah kemana.
Jadi, saya keluarkan lagi ransel dari lemari, menjejalkan beberapa lembar baju ganti ke dalamnya, dan memanggulnya ke dunia luar. Pergi menyesatkan diri.

Mengunjungi candi-candi terlupakan, pergi ke hotel kuno yang terkenal paling berhantu, roadtrip bolak-balik melalui jalan pegunungan yang bikin mabuk darat dan muntah-muntah hanya untuk berburu sunrise dan sunset, pergi snorkeling ke ujung pulau (padahal nggak bisa berenang), naik gunung untuk berburu sunrise lagi (padahal sudah lamaaa nggak naik gunung)...

Pokoknya, saya bepergian ke mana-mana selama beberapa bulan,sampai saya merasa sudah siap kembali ke laptop!

So, this is me. Sudah menulis lagi sejak meninggalkan jalanan dan menyimpan lagi ransel di lemari. Sudah ada beberapa tujuan lagi sampai akhir tahun, tapi draft ini harus selesai dulu.

By the way, apa kabarnya draft?
Oh, tokoh utama saya sedang berada di sebuah kota dan mulai menemukan beberapa titik terang dari sesuatu yang menjadi tujuannya. Kisah ini akan terus bergulir. Insya Allah, plotnya sudah fix dan endingnya tidak akan berubah.

So, ini hari terakhir di bulan ramadhan tahun ini. Semoga puasa sebulan ini berkah dan mendapat pahala yang diridhoi Allah, ya. Selamat bermalam takbiran.
Eid mubarak, mohon maaf lahir dan batin.


Ciao bella (from Sappeda Mountain)!
*muter-muter trus nggeletak tengah jalan*



“I believe one has to escape oneself to discover oneself.” 
 ― Rabih Alameddine


pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, July 22, 2014

[Project Dawn] Tentang Draft Novel Ketiga

Aku menatapnya dari seberang jalan. Seorang lelaki muda yang tengah duduk di atas kursi beton, di bawah sebuah pohon flamboyan tua yang rindang. Ia menunduk menatap sepasang kakinya yang beralas sepatu kanvas bertali bermerk Nike. Aku tahu sepatu itu. Ia membelinya dua bulan yang lalu di sebuah mal. Sama seperti sepatu-sepatu kanvasnya yang lain, sepatu yang bermerek itu-itu saja. Karena ia fans berat Nike. Sama seperti aku.

Aku melihat wajahnya tengah menerawang. Menatap ke kejauhan. Ke arah anak-anak yang tengah berlarian, main petak umpet di sudut taman kota. Kucoba mengikuti arah tatapannya, dan kutemukan di antara kerumunan anak-anak itu, seorang lelaki sedang mengajari anak lelakinya bersepeda. Setiap kali sepeda itu terguling jatuh bersama anak lelaki di atasnya, lelaki itu berlari menghampiri. Membantu anaknya bangkit dan mengusap kepalanya memberi semangat. Adegan yang biasa saja sebenarnya, tetapi tidak bagi lelaki muda itu.

Angin berhembus di antara dedaunan, menjatuhkan daun-daun kering ke arah bangku beton. Angin meniup lembut rambut ikal setengah gondrong lelaki muda di bangku itu. Menyibakkannya ke arah telinga, menampakkan profilnya wajahnya yang dibentuk rahang maskulin dan alis mata tebal yang menaungi sepasang mata yang kecil tapi tajam. Sorot mata itu seringkali berubah-ubah. Terkadang sejuk seperti udara sehabis hujan. Terkadang dingin seperti angin gunung di musim kemarau. Namun hatinya lembut. Ia tidak mudah mengumbar emosi. Sifat yang kukagumi, karena aku tak memilikinya.

Angin berhembus lagi. Kali ini lebih kencang dan membawa butir-butir air sehalus pasir. Langit mendadak muram, menyembunyikan matahari yang tadi bersinar dengan garang. Sebuah pusaran angin kecil bergerak ke tengah taman, menyeret dedaunan kering dan debu, membuat anak-anak itu berteriak kelilipan dan berlarian ke pinggir.

Aku beranjak. Sudah waktunya pulang, sebelum badai keburu datang. Aku melangkah ke arah kursi beton itu, dan lelaki muda di depanku mendongak.

"Lho, Ibu sudah selesai belanjanya? Kok cepat?" Ia bangkit, menepis debu dari jins butut robeknya yang sejak dulu ingin kubuang. 
"Sudah. Tadi cuma beli beberapa obat-obatan dan salep otot untuk nyeri sendi. Ibu kan sudah tua."
"Masa sih?" Ia tersenyum lebar. "Ibu nggak tua. Ibu cantik dan sehat." Tangannya meraih sebelah tanganku dan menepuk-nepuknya dengan maksud menghibur. Dia memang sangat pandai menghibur. Sifat yang juga tidak diperolehnya dariku.
Aku tersenyum. "Ayo pulang. Sebentar lagi hujan besar. Anginnya kencang sekali."
Ia mengambil alih tas plastik belanjaanku, sementara sebelah tangannya yang lain diselipkan di lenganku. Menarik tubuhku merapat kepadanya saat kami berjalan.

"Ibu... tahu nggak..."
"Apa?"
"Ibu harusnya nggak usah sedih gitu kalau sedang menatapku, seolah-olah aku akan pergi jauh. Aku nggak akan pergi seperti lelaki itu. Aku akan selalu bersama Ibu."

Kali ini ia merangkulkan lengannya di bahuku. Tubuhnya yang dua puluh dua senti lebih jangkung dariku seperti pohon besar yang menaungiku sepanjang jalan. Dari terpaan angin, dari gerimis, dari dunia dan kepedihan yang menghuni jiwaku. Aku merasa aman.

............

Hai hai....

Jadi, saya sedang menulis novel ketiga. Kali ini kisahnya agak berbeda dari yang sebelumnya. Masih tentang cinta, tetapi ada sesuatu yang lain di dalamnya. Tentang kasih sayang, tentang kehilangan, tentang kepedihan dan perjuangan meneruskan hidup. Oh, baiklah. Mari kita sebut saja ini tentang HIDUP.

Itu cuma tema besar. Ada sub tema yang menjadi inti konflik dari kisah ini. Tunggu aja deh ya. Saya akan ceritakan sedikit demi sedikit. Perlahan-lahan, dengan clue yang (semoga) bikin penasaran. Apa seh. Belagu banget gue :))

Proyek ini saya namakan Project Dawn. Tokoh utamanya kali ini seorang lelaki muda, berumur dua puluhan, yang karakternya agak berbeda dari tokoh-tokoh lelaki yang pernah saya buat. Berbedanya kayak apa? Nanti saya kasih clue-nya... kalau mood tapiiii :))

Seperti biasa, progress-nya akan saya update terus, karena sudah banyak teman-teman dan pembaca yang kepo. Kekepoan itu sesungguhnya membuat panik lho, sodara-sodari. Hehehe.

Baiklaaah. Posting ini anggap saja prolog. Nanti akan saya usahakan update perkembangan draft secara rutin. Semoga bisa ngebut. Karena sebenarnya, berdasarkan pertemuan informal (yang tadinya cuma dimaksud buat ngegosip dan temu kangen) dengan editor saya, Iwied...  desye malah wanti-wanti segera beres. O-ow!

Ya udah. Back to draft, di sela-sela beres-beres sebelum Lebaran (ini sama persis prosesnya kayak lagi nulis Barcelona Te Amo deh-jelang Lebaran juga).

Nantikan update selanjutnya!
Cup! Mwah!

“She says she's OK. She says she is fine. but underneath that smile is a broken heart” 
 ― anonymous



pict from here


Image and video hosting by TinyPic

Monday, February 3, 2014

Killed By The Draft

Sometimes, all you can do is laugh
to keep yourself from crying.

...................

Hello world...

Here I'm still trying to finish Project Dawn draft.
After several drafts couldn't be completed and set aside because I was spending more time on the road, this draft shouldn't be treated so.
It's part of a mini-series that I worked with friends. So, it should be completed on time.

The problem is... this draft affected my emotions so much.
Word by word pierced my heart. Killing me slowly. Sometimes, I stop writing.... and crying.
Gosh! It feels... it feels so heavy to write until the ending.

The progress... it became very slow. Sometimes, I just stared at the letters that glowed on my laptop screen all day.
Then every night, I dream of unpleasant things, and waking up screaming or crying.

What's up with me?
Well, I don't want to talk about it. Really.

Until this moment, I'm still struggling to finish the story.
It seems this draft like cutting my heart, bit by bit, then soaked them in a memory tube containing vinegar and liquid chemicals. Fyuh!

But it's okay.
I have to finish it. For the sake of someone, who I will meet later when the universe was over.

Pray for me, will you?




Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...