Tuesday, July 22, 2014

[Project Dawn] Tentang Draft Novel Ketiga

Aku menatapnya dari seberang jalan. Seorang lelaki muda yang tengah duduk di atas kursi beton, di bawah sebuah pohon flamboyan tua yang rindang. Ia menunduk menatap sepasang kakinya yang beralas sepatu kanvas bertali bermerk Nike. Aku tahu sepatu itu. Ia membelinya dua bulan yang lalu di sebuah mal. Sama seperti sepatu-sepatu kanvasnya yang lain, sepatu yang bermerek itu-itu saja. Karena ia fans berat Nike. Sama seperti aku.

Aku melihat wajahnya tengah menerawang. Menatap ke kejauhan. Ke arah anak-anak yang tengah berlarian, main petak umpet di sudut taman kota. Kucoba mengikuti arah tatapannya, dan kutemukan di antara kerumunan anak-anak itu, seorang lelaki sedang mengajari anak lelakinya bersepeda. Setiap kali sepeda itu terguling jatuh bersama anak lelaki di atasnya, lelaki itu berlari menghampiri. Membantu anaknya bangkit dan mengusap kepalanya memberi semangat. Adegan yang biasa saja sebenarnya, tetapi tidak bagi lelaki muda itu.

Angin berhembus di antara dedaunan, menjatuhkan daun-daun kering ke arah bangku beton. Angin meniup lembut rambut ikal setengah gondrong lelaki muda di bangku itu. Menyibakkannya ke arah telinga, menampakkan profilnya wajahnya yang dibentuk rahang maskulin dan alis mata tebal yang menaungi sepasang mata yang kecil tapi tajam. Sorot mata itu seringkali berubah-ubah. Terkadang sejuk seperti udara sehabis hujan. Terkadang dingin seperti angin gunung di musim kemarau. Namun hatinya lembut. Ia tidak mudah mengumbar emosi. Sifat yang kukagumi, karena aku tak memilikinya.

Angin berhembus lagi. Kali ini lebih kencang dan membawa butir-butir air sehalus pasir. Langit mendadak muram, menyembunyikan matahari yang tadi bersinar dengan garang. Sebuah pusaran angin kecil bergerak ke tengah taman, menyeret dedaunan kering dan debu, membuat anak-anak itu berteriak kelilipan dan berlarian ke pinggir.

Aku beranjak. Sudah waktunya pulang, sebelum badai keburu datang. Aku melangkah ke arah kursi beton itu, dan lelaki muda di depanku mendongak.

"Lho, Ibu sudah selesai belanjanya? Kok cepat?" Ia bangkit, menepis debu dari jins butut robeknya yang sejak dulu ingin kubuang. 
"Sudah. Tadi cuma beli beberapa obat-obatan dan salep otot untuk nyeri sendi. Ibu kan sudah tua."
"Masa sih?" Ia tersenyum lebar. "Ibu nggak tua. Ibu cantik dan sehat." Tangannya meraih sebelah tanganku dan menepuk-nepuknya dengan maksud menghibur. Dia memang sangat pandai menghibur. Sifat yang juga tidak diperolehnya dariku.
Aku tersenyum. "Ayo pulang. Sebentar lagi hujan besar. Anginnya kencang sekali."
Ia mengambil alih tas plastik belanjaanku, sementara sebelah tangannya yang lain diselipkan di lenganku. Menarik tubuhku merapat kepadanya saat kami berjalan.

"Ibu... tahu nggak..."
"Apa?"
"Ibu harusnya nggak usah sedih gitu kalau sedang menatapku, seolah-olah aku akan pergi jauh. Aku nggak akan pergi seperti lelaki itu. Aku akan selalu bersama Ibu."

Kali ini ia merangkulkan lengannya di bahuku. Tubuhnya yang dua puluh dua senti lebih jangkung dariku seperti pohon besar yang menaungiku sepanjang jalan. Dari terpaan angin, dari gerimis, dari dunia dan kepedihan yang menghuni jiwaku. Aku merasa aman.

............

Hai hai....

Jadi, saya sedang menulis novel ketiga. Kali ini kisahnya agak berbeda dari yang sebelumnya. Masih tentang cinta, tetapi ada sesuatu yang lain di dalamnya. Tentang kasih sayang, tentang kehilangan, tentang kepedihan dan perjuangan meneruskan hidup. Oh, baiklah. Mari kita sebut saja ini tentang HIDUP.

Itu cuma tema besar. Ada sub tema yang menjadi inti konflik dari kisah ini. Tunggu aja deh ya. Saya akan ceritakan sedikit demi sedikit. Perlahan-lahan, dengan clue yang (semoga) bikin penasaran. Apa seh. Belagu banget gue :))

Proyek ini saya namakan Project Dawn. Tokoh utamanya kali ini seorang lelaki muda, berumur dua puluhan, yang karakternya agak berbeda dari tokoh-tokoh lelaki yang pernah saya buat. Berbedanya kayak apa? Nanti saya kasih clue-nya... kalau mood tapiiii :))

Seperti biasa, progress-nya akan saya update terus, karena sudah banyak teman-teman dan pembaca yang kepo. Kekepoan itu sesungguhnya membuat panik lho, sodara-sodari. Hehehe.

Baiklaaah. Posting ini anggap saja prolog. Nanti akan saya usahakan update perkembangan draft secara rutin. Semoga bisa ngebut. Karena sebenarnya, berdasarkan pertemuan informal (yang tadinya cuma dimaksud buat ngegosip dan temu kangen) dengan editor saya, Iwied...  desye malah wanti-wanti segera beres. O-ow!

Ya udah. Back to draft, di sela-sela beres-beres sebelum Lebaran (ini sama persis prosesnya kayak lagi nulis Barcelona Te Amo deh-jelang Lebaran juga).

Nantikan update selanjutnya!
Cup! Mwah!

“She says she's OK. She says she is fine. but underneath that smile is a broken heart” 
 ― anonymous



pict from here


Image and video hosting by TinyPic

7 comments:

Hf Ananda said...

Ini ceritanya bikin greget, kak - -". Kadung serius nyimak ceritanya, kadung penasaran kelanjutannya, tiba-tiba ada tulisan 'hai hai... blabla' - -"

Penasaran kelanjutannya, kak. Update lagi ya ^ ^. Selamat lebaran, kak.

Arman said...

good luck buat novel baru nya ya no...

Fenty Fahminnansih said...

Asek asek, buat novel lagi, kali ini pake pelukan sama si owl kacamata dong yaaa, biar greget nulis tentang cowoknya itu, hihihi

Enno said...

@ananda: hihi.. diintip terus aja ya. insyaAllah di update kok. lebarannya masih bbrp hari lagi. met pake baju baru :D

@arman: makasih ya maaan :D

@fenty: hihihi iyaloooh! keep the secret behind the owl yaaah hahaha...

Windi Cantik said...

Oooohhh gituuu...
Oke dehh..
Boleh spoiler gak?
:))

Enno said...

Windi, cemana pulak kau pake cantik? *mangap*

Jangan coba2 sop iler! Tar kutanya2 si ce yg suka foto sama pria pulau seberang itu baru tau rasa kau yaaa :)))

cjgoofy said...

mbaaaakkk! kangen deh!
aku mau dong melarikan diri ketempatmu!
hhuhu..

Te amo!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...