Seseorang menggunakan fotonya dan namanya, berpura-pura jadi Hans yang lain, untuk mencari mangsa. Saya garisbawahi kata 'mangsa' itu. Karena beberapa orang mentransfer sejumlah uang kepadanya, supaya bisa tidur dengannya. Si penjahat itu gay, tapi saya tidak akan menggarisbawahi kata gay di sini. Karena saya tahu tidak semua gay begitu. Karena saya punya banyak teman gay yang semuanya baik dan terpelajar. Itu hanya oknum. Tapi sungguh memprihatinkan bahwa perilakunya ikut mencemarkan nama baik teman-teman gay saya yang tidak bersalah.
Itu cuma salah satu alasan. Selebihnya banyak. Saya malas menerima tag-tag yang menurut saya tidak penting. Teman-teman lama yang reuni (yang tidak mungkin bisa saya datangi dalam kondisi saat ini), undangan-undangan yang akan lebih saya hargai jika disampaikan secara personal, tag-tag barang dagangan yang tidak menarik (buat saya yang menarik cuma buku), belum lagi di laman 'home' terbaca status-status tertentu oleh orang-orang tertentu yang 'nggak jelas', yang bagi saya norak. Ada orang-orang pacaran yang di-like teman-temannya (pacaran kok di-like). Belum lagi perang kecaman di status. Saya pernah tak sengaja membaca seorang pacar perang 'mulut' di status dengan teman pacarnya yang ia cemburui. Sangat kampungan!
Saya juga muak jika status saya dianggap 'kasus' lalu menjadi gosip umum di keluarga besar saya yang notabene hampir semua punya fesbuk.
Fesbuk berjasa besar mempertemukan saya dengan teman-teman lama. Menyenangkan bisa bertegur sapa lagi dengan mereka. Tapi lama kelamaan media itu menjadi terlalu pribadi, terasa sesak bagi diri saya yang sesungguhnya soliter. Dan bahkan sekarang semakin berbahaya.
Saya tidak cantik seperti Revalina S. Temaat atau Nikita Willy, atau siapapun yang fotonya mungkin menarik untuk diambil dan dipalsukan. Tetapi kenyataannya tidak harus orang sengetop selebriti untuk mendorong orang-orang sakit jiwa mengganggu kita.
Saya menemukan sebuah kasus di Twitter beberapa hari lalu. Seseorang bernama Naning Utoyo, menjadi korban penjiplakan identitas. Supaya lebih jelas baca di sini. It was scary. Seperti cerita dalam sebuah film lama yang pernah menjadi box office, 'Single White Female'. Baca sinopsisnya di sini.
Dan saya bukannya tidak pernah mengalami hal itu. Twit Naning dijiplak, twit saya juga pernah dijiplak. Bukan untuk social media yang sama (Twitter), tapi social media yang berbeda. bio saya di blog juga beberapa kali dijiplak, itu sebabnya saya beberapa kali mengganti bio 'About Me' di bawah foto profil itu.
Saya cuma tidak mau ribut. Karena bagi saya itu belum seberapa mengganggu dan merugikan. Toh twit saya tidak penting dan bio bisa saya ganti tanpa kesulitan. Saya baru marah dan meradang kalau tulisan saya yang dijiplak.
Tetapi, belajar dari pengalaman teman-teman itu, saya mulai berhati-hati sekarang. Karena itu saya tutup akun fesbuk saya, dan akan lebih berhati-hati dengan Twitter. Biarlah teman-teman lama dan saudara-saudara saya di fesbuk menghubungi saya lewat telepon kalau ada hal penting. Hati saya juga terjaga dari rasa sebal melihat status-status tertentu atau orang pacaran yang di-like ramai-ramai. Hati saya tentram. Aman dan terkendali. Hehehe.
Itu saja cerita saya hari ini. Kalian punya cerita apa?
![]() |
| pict from here |















