Showing posts with label Crazy. Show all posts
Showing posts with label Crazy. Show all posts

Wednesday, August 24, 2011

Closed

Saya menutup akun fesbuk pribadi. Saya simpan dalam kotak dan menguncinya rapat-rapat. Kunci itu tidak saya buang. Saya simpan bila perlu. Tapi sepertinya itu masih akan lama dan mungkin tidak perlu sama sekali. Saya bosan. Dan merasa tak aman. Apalagi setelah kasus yang menimpa teman saya, Hans.

Seseorang menggunakan fotonya dan namanya, berpura-pura jadi Hans yang lain, untuk mencari mangsa. Saya garisbawahi kata 'mangsa' itu. Karena beberapa orang mentransfer sejumlah uang kepadanya, supaya bisa tidur dengannya. Si penjahat itu gay, tapi saya tidak akan menggarisbawahi kata gay di sini. Karena saya tahu tidak semua gay begitu. Karena saya punya banyak teman gay yang semuanya baik dan terpelajar. Itu hanya oknum. Tapi sungguh memprihatinkan bahwa perilakunya ikut mencemarkan nama baik teman-teman gay saya yang tidak bersalah.

Itu cuma salah satu alasan. Selebihnya banyak. Saya malas menerima tag-tag yang menurut saya tidak penting. Teman-teman lama yang reuni (yang tidak mungkin bisa saya datangi dalam kondisi saat ini), undangan-undangan yang akan lebih saya hargai jika disampaikan secara personal, tag-tag barang dagangan yang tidak menarik (buat saya yang menarik cuma buku), belum lagi di laman 'home' terbaca status-status tertentu oleh orang-orang tertentu yang 'nggak jelas', yang bagi saya norak. Ada orang-orang pacaran yang di-like teman-temannya (pacaran kok di-like). Belum lagi perang kecaman di status. Saya pernah tak sengaja membaca seorang pacar perang 'mulut' di status dengan teman pacarnya yang ia cemburui. Sangat kampungan!

Saya juga muak jika status saya dianggap 'kasus' lalu menjadi gosip umum di keluarga besar saya yang notabene hampir semua punya fesbuk.

Fesbuk berjasa besar mempertemukan saya dengan teman-teman lama. Menyenangkan bisa bertegur sapa lagi dengan mereka. Tapi lama kelamaan media itu menjadi terlalu pribadi, terasa sesak bagi diri saya yang sesungguhnya soliter. Dan bahkan sekarang semakin berbahaya.

Saya tidak cantik seperti Revalina S. Temaat atau Nikita Willy, atau siapapun yang fotonya mungkin menarik untuk diambil dan dipalsukan. Tetapi kenyataannya tidak harus orang sengetop selebriti untuk mendorong orang-orang sakit jiwa mengganggu kita.

Saya menemukan sebuah kasus di Twitter beberapa hari lalu. Seseorang bernama Naning Utoyo, menjadi korban penjiplakan identitas. Supaya lebih jelas baca di sini. It was scary. Seperti cerita dalam sebuah film lama yang pernah menjadi box office, 'Single White Female'. Baca sinopsisnya di sini.

Dan saya bukannya tidak pernah mengalami hal itu. Twit Naning dijiplak, twit saya juga pernah dijiplak. Bukan untuk social media yang sama (Twitter), tapi social media yang berbeda. bio saya di blog juga beberapa kali dijiplak, itu sebabnya saya beberapa kali mengganti bio 'About Me' di bawah foto profil itu.

Saya cuma tidak mau ribut. Karena bagi saya itu belum seberapa mengganggu dan merugikan. Toh twit saya tidak penting dan bio bisa saya ganti tanpa kesulitan. Saya baru marah dan meradang kalau tulisan saya yang dijiplak.

Tetapi, belajar dari pengalaman teman-teman itu, saya mulai berhati-hati sekarang. Karena itu saya tutup akun fesbuk saya, dan akan lebih berhati-hati dengan Twitter. Biarlah teman-teman lama dan saudara-saudara saya di fesbuk menghubungi saya lewat telepon kalau ada hal penting. Hati saya juga terjaga dari rasa sebal melihat status-status tertentu atau orang pacaran yang di-like ramai-ramai. Hati saya tentram. Aman dan terkendali. Hehehe.

Itu saja cerita saya hari ini. Kalian punya cerita apa?

pict from here



Image and video hosting by TinyPic

Friday, July 1, 2011

Mas Cecep

“Suka liat Master Chef Indonesia nggak?”
“Apa? Mas Cecep?”
“Yaelaaaah…. Master Cheeeef!”
“Oooh… hihihi… suka dong. Ada Chef Juna kan? Keren banget! Love him so much!”

Itu percakapan konyol via telpon dengan seorang teman. Pagi itu masakan saya tidak sukses. Ikan gorengnya agak gosong, perkedel jagung lupa dikasih gula, tumis sayuran keasinan. Itulah kalau saya sedang tidak mood. Pikiran saya ada di tulisan yang belum rampung.

Beda dengan Usi, yang sambil mengomel pun masakannya tetap enak, memasak buat saya memang harus pakai mood. Harus ikhlas, dalam keadaan senang dan dari lubuk hati yang paling dalam. Sedikit saja suasana hati saya terganggu, konsentrasi saya buyar. Bisa-bisa bumbu pun tertukar. Saya pernah tuh memasak sayur asam dengan bumbu tempe goreng. Hahaha….

Biar aman, kalau saya sedang tidak ‘in the mood’, tidak usah masak. Beli masakan matang saja di warung.

Jarang-jarang sih saya tidak mood. Soalnya saya memasak untuk Ayah, dan pastilah saya mengerjakannya dengan ikhlas. Tadi pagi, sambil merenungi masakan saya yang kacau balau, saya jadi berpikir bagaimana seandainya saya memasak di depan para master chef di acara MCI itu. Bisa-bisa saya berantem dengan Chef Juna karena komentarnya yang tengil itu membuyarkan konsentrasi saya.

Hahaha.

………..

PANGGUNG MEMASAK UTAMA

Para kontestan berbaris di hadapan tiga orang Master Chef yang akan menjadi juri, yakni CHEF VINDEX, CHEF MARINKA dan CHEF JUNA

CHEF VINDEX
Kali ini tantangannya adalah membuat signature dish. Silakan bikin masakan khas yang paling kalian banggakan.

CHEF MARINKA
Jangan lupa kami akan menilai rasa, presentasi dan ketepatan waktu kalian.

CHEF JUNA
Waktu kalian 60 menit dari…. Sekarang!

CHEF JUNA mendekati KONTESTAN ENNO yang sedang sibuk memotong daging iga.

CHEF JUNA
Kamu mau pakai iga sebanyak itu buat berapa orang?

KONTESTAN ENNO
(mengedip-ngedip genit)
Maunya Chef berapa?

CHEF JUNA
(mengerutkan dahi)
Kenapa tanya saya? Kan kamu yang masak.

KONTESTAN ENNO
Ya, memang. Makanya gimana saya dong.


CHEF JUNA menjauh dari KONTESTAN ENNO yang kembali menghunus pisaunya dan memotong-motong iga, sambil berpikir bahwa kontestan tersebut sudah gila karena berani mendebat dirinya.

CHEF MARINKA
Kalian harus fokus dan konsentrasi. Jangan panik.

CHEF JUNA penasaran, kembali mendekati KONTESTAN ENNO

CHEF JUNA
Kamu mau merebus iga ini berapa lama?

KONTESTAN ENNO
Hmm… 30 menit.

CHEF JUNA
(mendelik)
TIGA PULUH MENIT? Apa nggak kelamaan? Yakin 30 menit?

KONTESTAN ENNO
Yakin dong cyiiin…

CHEF JUNA
Memangnya kamu mau masak apa sih?

KONTESTAN ENNO
(mengerling sambil mengasah pisau)
Ada deh. Mau tauuuu aja!

CHEF JUNA
(mulai judes)
Saya tanya sekali lagi. Kamu mau masak apa?

KONTESTAN ENNO
(sama judesnya)
Oke Chef, gini ya. Hak saya untuk tidak menjawab dilindungi undang-undang.

CHEF JUNA
(membentak)
Itu kan peraturan hukum di Amerika!

KONTESTAN ENNO
Oh iya ya. Maaf, saya suka nonton LA Law sih. Tapi tetep aja saya nggak mau ngasih tau Anda. Wait and see!

CHEF JUNA menjauh dari KONTESTAN ENNO dengan hati yang panas membara. Merasa heran setengah mati karena biasanya ia sukses membuat kontestan merasa bingung, ragu, dilematis dan kepingin pipis. Mulai menduga KONTESTAN ENNO adalah mahluk luar angkasa yang dikirim dengan misi mencuri resep-resep masakan di Bumi

CHEF MARINKA
(mencolek CHEF VINDEX)
Chef Juna kena batunya tuh, bro!

PENILAIAN
Waktu habis. Satu per satu kontestan menyajikan makanan ke hadapan ketiga juri untuk dinilai.

CHEF MARINKA
Kami akan memanggil nama kalian satu persatu.

CHEF JUNA
(menatap dingin seluruh kontestan, dengan lengan dilipat di depan dada)
ENNO! Silakan maju ke depan!

KONTESTAN ENNO maju dengan piring berisi iga panggang bersaus di atas piring.

CHEF JUNA
Jadi ini masakan kamu yang tadi? Apa namanya?

KONTESTAN ENNO
Iga Panggang Cintaku Padamu

CHEF JUNA
Apa? Nama apa itu? Presentasi kamu berantakan. Dari penampilannya saja bikin saya malas mencicipi.

KONTESTAN ENNO
Ya bodo amat. Memang dibikin untuk diliat kok. Nggak liat tuh sausnya berbentuk gambar hati segede gajah gitu?

CHEF JUNA
Ini maksudnya apa?

KONTESTAN ENNO
Sebetulnya saya juga punya pertanyaan yang sama, Chef. Maksudnya apa Anda mondar-mandir terus ke meja saya?

CHEF JUNA
Saya mondar-mandir karena….

KONTESTAN ENNO
Naksir saya ya? Jatuh cinta? Aw Chef Juna, kenapa nggak terus terang dari kemaren aja! Ternyata perasaan kita sama. I do love you too….muah, muah!

CHEF JUNA
(tertegun)
He? Bukan, bukaaan… Tidak… Salah…

SELURUH KONTESTAN, DUA JURI LAINNYA DAN KRU STUDIO melongo, lalu tiba-tiba bertepuk tangan gembira dan bersuit-suit riuh.
Tidak salah katanya? Wooow! Ini jadi seperti reality show Katakan Cinta yang dulu ngetop itu ya?

MUSIK mengeras. Tepuk tangan riuh rendah.

CHEF JUNA
(melambai-lambaikan tangan dengan panik, sia-sia mencoba agar suaranya terdengar di antara keributan)
Stop! Stop! Kalian salah sangka. Maksud saya, tadinya saya mengira dia MAHLUK LUAR ANGKASA!

MUSIK semakin mengeras. Suara tepuk tangan semakin riuh. CLOSE-UP pada piring iga panggang dengan genangan saus berbentuk hati, bergantian dengan wajah KONTESTAN ENNO yang sedang tersenyum haru dan CHEF JUNA yang sedang melambai-lambaikan tangan, oleh para penonton terlihat bagaikan pasangan Prince William dan Kate Middleton saat di atas balkon itu. Hihihi.


SELESAI


PS: Skrip iseng ini terilhami parodi lima menitnya Bang Isman. Di blog Lita juga ada cerpen bagus tentang Chef Juna lho! Chef Juna, jangan marah ya. Hihihi..


Foto dari google. Liat deh gayanya Chef Juna yang bersidekap dada. Sayang tatto kerennya nggak keliatan! ^^


Image and video hosting by TinyPic

Friday, April 22, 2011

Aku Patah

: someone in England

Kau tahu, aku menunggumu bertahun-tahun ini. Bersabar sampai kau kembali. Kubiarkan kau menghabiskan waktumu sendiri, bermain dengan anganmu, mengerjakan segala hal yang kau sukai. Kau sibuk, katamu. Terbelenggu kewajiban yang mengikatmu dari hari ke hari. Dan aku percaya.

Jangan tanya kenapa aku percaya. Tapi pernahkah kau dengar lagi keluh kesahku setelahnya? Aku hanya diam. Kubiarkan diriku terbang bersama angin, hanyut bersama arus dan terbawa gelombang pasang yang menghempaskanku pada karang yang berdiri sabar di tepi lautan, menunggumu.

Tapi pernahkah sedikit saja kau pikirkan perasaanku di hari-hari yang hampa itu? Pernahkah sedikit saja kau ingin tahu mungkin aku rindu pada hari-hari yang berlalu, ketika kau masih bersamaku?

Kau bergeming saja. Di negeri dingin yang saljunya bagai tak pernah habis. Musim dingin terburuk di sana mereka bilang. Itu tak seberapa dibandingkan dinginnya hatiku tanpamu. Tidakkah kau sadari itu?

Kau bergeming saja. Bahkan sebuah berita pun tak ada. Hanya sederet kata 'apa kabar' dengan tanda tanya diujungnya, tak bisakah kau beri itu untukku? Meski hanya basa-basi, meski mungkin kau tak benar-benar peduli? Sungguh, kau tak berbelas kasihan padaku.

Abad-abad berlalu, aku mulai membatu. Sampai seorang pengelana datang menyapaku.
"Kau seperti seseorang yang sedang menunggu kabar dari jauh," sapanya.
"Ya," sahutku. "Aku sedang menunggu kabar dari seseorang. Dan siapakah engkau?"
"Aku pengelana," sahutnya. "Kujelajahi sudut-sudut dunia, mengumpulkan jejak-jejak dan berita. Kuharap aku punya berita yang kau tunggu," katanya sambil membuka sebuah kotak.
Aku menggambar wajahmu pada dinding karang. Menggambar peta benua tempatmu tinggal. Si pengelana memperhatikan, lalu mencari-cari dalam kotaknya.
"Aku menemukan ini," sahutnya. "Di depan sebuah kastil, dimana wajah yang kau gambar itu terlihat melambai di jendelanya. Inikah pangeranmu yang kau tunggu itu?"
Kuraih gulungan kertas di tangannya. Membacanya pelan-pelan. Berderet kalimat di sana, bukan 'apa kabar' dengan tanda tanya di ujungnya, menghantamku telak.

Jadi begitulah ternyata. Kau meninggalkanku tanpa ucapan selamat tinggal? Membiarkanku agar mati sia-sia dalam penantian yang tak berarti? Kau memang tak berbelas kasihan padaku.

Cintaku hancur dalam serpihan tak berbentuk. Hatiku patah berderai. Kenapa kau memilih si Kate, Wills? Damn!

Apartment in Windsor Castle
*wink wink*

Image and video hosting by TinyPic

Sunday, October 31, 2010

Anak Band

Ini gara-gara beberapa waktu lalu saya mengirim file rekaman iseng saya kepada teman-teman. Coba dengar nih, kata saya pada mereka sambil cengengesan. Rekaman itu isinya suara saya menyanyikan lagu Korea sembari tidak mengerti artinya.

Bahkan si Ucup mau saja mendengarkan rekaman pendek itu. Lantas tumben ia bilang suara saya bagus. Saya tertawa. Senang dipuji dia. Jarang-jarang kan anak itu memuji saya. Biasanya kami kan saling 'mencela.'

Nah beberapa minggu lalu, waktu saya sedang memasak, ada telepon masuk di ponsel saya. Seorang teman lama di Jakarta menanyakan kabar. "Sedang menggoreng ikan," sahut saya sambil sibuk mengaduk isi wajan.
"Maksud gue kesibukan lu apa sekaraaaang?" Tanyanya geli.
"Jadi wakil emak gue laaah..."
"Lu mau bantuin gue nggak?"
"Bantu apa?"
Lalu bercelotehlah ia tentang band baru yang dimanajerinya. Teman saya itu tadinya wartawan musik, lalu sempat kerja di sebuah label rekaman, kemudian jadi manajer artis. Dan voila! Sekarang ia membentuk band baru yang siap diorbitkan.
Lalu apa yang perlu saya bantu? Memangnya saya bisa apa?
"Lu jadi additional vocal," katanya.
Maksudnya, saya jadi penyanyi tambahan. Bukan seperti backing vocal, tapi semacam penyanyi kedua, karena band-nya yang cowok semua itu butuh suara cewek.

Sudah gila sepertinya dia. Masa saya diajak ngeband!

Saya ini bukan abege. Sudah ketuaan untuk jadi anak band. Iya sih dulu waktu masih abege saya sempat iseng ngeband dengan beberapa teman. Gara-gara ngiler melihat beberapa teman asyik latihan di ruang musik SMP dulu. Saya ingin ikutan tapi tidak ada yang mengajak. Akhirnya saya bikin saja sendiri band di luar sekolah bersama teman-teman main. Saya jadi vokalis tentu saja, soalnya saya tidak bisa memainkan alat musik apapun. Tapi kalau pengalaman saya dulu itu menjadi alasan teman saya mengajak saya ngeband lagi sekarang, yang benar saja!

Kata si teman, suara saya mirip suara Widi, vokalis Vierra. Memang banyak yang bilang begitu, bikin saya ge-er saja. Ucup malah bilang suara saya seperti penyanyi abege, yang pantasnya menyanyikan lagu-lagu cinta monyet. Hahaha.

Nah, teman saya itu masih membujuk-bujuk saya. Ia malah meminta saya bikin demo dan mengirimnya ke kantor mereka. Halah, bikin demo pula. Lagu apa? Saya sudah lama tidak menghapal lagu. Saya cuma bisa berdendang dengan lirik sepotong-potong. Mana ada waktu menyanyi saat sibuk begini.

"Nggak ah. Lu cari aja penyanyi lain, jangan gue. Yang keren, cakep dan masih muda. Lu udah sinting kali ya ngajak gue segala!"
"Tapi suara lu cocok sama karakter suara vokalis utamanya."
"Yang punya suara kayak gue pasti banyak laaah. Bikin audisi aja."
"Jadi lu nggak mau?"
"Maaf, tapi enggak deh. Nggak bisa."
"Nggak bakal nyesel?"
"Ya enggaklah. Gue ini kan tahu diri. Umur berapa kitaaaa? Gue udah puas ngeband jaman masih abege dulu."
"Ini kan bukan band abege. Anggotanya umurnya 25 tahun keatas semua kok. Ini band yang lagu-lagunya bukan cinta monyet dan selingkuhan melulu."
"Hahaha... iya, iya... gue percaya lu pasti bikin band yang bermutu. Tapi tetep aja gue nggak bisa. Ibu gue juga lagi sakit, masa gue malah ngeband."

Teman saya akhirnya mengerti juga. Saya juga sebenarnya ragu, ia itu serius apa tidak sih mengajak saya?

Sampai hari ini saya masih saja ingin tertawa. Saya, jadi anak band? Itu sih sudah lama berlalu.


foto dari sini

*berdendang sambil menggoreng ikan ^^

Image and video hosting by TinyPic

Thursday, October 21, 2010

Saya Selingkuh

Dear Kenzo,

Saya mau mengaku. Saya selingkuh.
Saya perlihatkan foto-fotonya, supaya kamu mengerti kenapa saya tidak bisa menolak.


Lee Min-ho

Dipeluk dia, bikin saya meleleh...



Kim Bum

Dicium dia, bikin saya pingsan...


Maaf ya, sayang...



Fyuh! ;)

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, June 16, 2010

Achtung!

Suatu hari akan ada serombongan kutu rambut yang transit di sisirmu. Tanpa kau sadari mereka lalu menjadi penghuni rambutmu dan kau akan merasakan gatal-gatal setiap hari. Kau menggaruk kulit kepalamu lagi dan lagi sampai terluka. Lalu luka itu menjadi borok yang tak bisa lagi diobati hanya dengan peditox, obat kutu terpercaya.

Kau harus pergi ke dokter kulit, bodoh!

Suatu hari kamu akan berkunjung ke rumah kami. Tentu saja kau tertawa-tawa riang tanpa dosa. Kau mungkin akan membawa oleh-oleh yang tak berarti. Kau menebar senyum ramah sok menjilat yang sudah pernah kau peragakan ketika kau masih belum menjadi keluargaku.

"Apa kabar?" Kau akan bersalaman dengan gaya sok pamer, karena kau mengaku pejabat di sebuah instansi. Kau mengabaikan tatapan curigaku, yang keheranan karena seorang pejabat tak mungkin tak punya mobil, tak mungkin berpakaian lusuh dan murahan, tak mungkin hanya bersepatu sandal yang sudah rombeng. Bagaimanapun juga seorang pejabat harus menjaga kredibilitas penampilannya. Aku tidak akan pernah tertipu, tapi kau menganggapku anak kemarin sore yang tak tahu apa-apa.

Kau duduk di sofa kami, bersandar pada bantal-bantal empuk besar itu. Menepuk-nepuk bahu isterimu. Mencoba menceritakan apa saja yang menurutmu menarik kepada ayah dan ibuku. Padahal sebenarnya mereka tak suka padamu.

Aku akan datang dengan sebuah nampan berisi minuman panas.
"Kopi?" Tanyaku padamu. "Silakan diminum." Kusodorkan cangkir yang isinya mengepul-ngepul itu. Tapi ups! Aku tersandung dan isi cangkir itu tumpah ke pahamu. Kau terlonjak kaget dan kepanasan. Menepis-nepis celanamu yang basah dan beruap.
"Maaf, maaf!" Aku menatap tak berdosa.

Kali berikutnya kau akan datang lagi. Aku berhati-hati tidak tersandung lagi. Kali ini kusuguhkan teh dan menaruhnya hati-hati di atas meja. Kau meminumnya dengan senang hati dan ingin menyemburkannya seketika. Ah! Rupanya gulanya tertukar dengan garam. Maaf ya....

Kita mungkin akan bertemu lagi. Di rumah salah satu saudara, saat ada arisan atau syukuran. Dan kurasa kau mesti berhati-hati saat akan pulang. Siapa tahu kau tersandung atau ada paku menancap di sepatumu, melukai telapak kakimu. Hati-hati kena tetanus. Kesialan bisa terjadi dimana saja kan?

Setiap Lebaran aku janji tidak akan mencium tanganmu, meski secara hirarki kau ini orang tua dan memang jauh lebih tua. Oh, jangan harap aku akan bicara atau mengobrol denganmu meski kau sudah masuk ke dalam keluargaku. Aku hanya akan berpaling dan berdiri sejauh mungkin darimu.

Dan tidak perlu mengajakku tersenyum. Aku muak!

Kau kira aku tidak tahu siapa kamu? Aku sudah menyelidikimu menggunakan link-link-ku. Kau pikir kau bisa seenaknya berbohong bahwa kau ini mengepalai suatu instansi dan lolos begitu saja? Kau pikir, mentang-mentang ini di kampung lalu semua orang akan percaya begitu saja?

Kau ini bukan kepala instansi apapun. Kau pegawai biasa dan sama sekali tidak istimewa. Hah! Sudah kuduga! Kau tidak perlu melotot kaget begitu. Kau lupa ya? Bagaimanapun aku ini pernah jadi wartawan yang terlatih menginvestigasi. Apalagi cuma kasusmu yang payah. Dengan beberapa kali telepon saja, aku sudah bisa membuka kedokmu.

Kau pikir kau akan sukses masuk ke dalam keluargaku? Coba saja. Aku akan menjadi duri dalam dagingmu, karena kau telah merebut seseorang dari suami dan anak-anaknya. Dasar kambing payah tukang merusak rumah tangga orang! Aku tidak sudi kau masuk ke keluarga ini!


Gambar dari sini


Kalau kau pikir, kau bisa merayu perempuan naif itu, teruskan saja. Dan ucapkan selamat datang pada hari-hari penuh kesialan.


*devilish smile*

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, April 21, 2010

Jata The Gorilla

Saya sudah lama kepingin punya gorila.
Aneh? Biar. Gorila betina yang akan saya beri nama Jata. Itu bahasa Swahili yang artinya 'bintang'.

Kenapa gorila? Kenapa bukan simpanse? Itu pertanyaan seorang teman. Dia sih tidak menertawakan keinginan saya untuk punya gorila (karena dia tahu kadang-kadang keinginan saya memang aneh-aneh). Tapi dia bilang biasanya orang lebih suka pada simpanse yang kelihatan lebih lucu dan fisiknya tidak sejelek gorila.

Simpanse? Tidak ah. Banyak orang tidak tahu kalau simpanse itu lebih agresif dari gorila. Sifatnya lebih antagonis dan liar. Simpanse yang sedang ngambek tidak segan-segan menyerang pemiliknya. Mereka menggigit dan mencakar. Kalau beruntung, Anda cuma dilempari tinjanya. Simpanse di alam liar lebih mengerikan lagi. Mereka biasa menculik bayi-bayi manusia dan memakannya.

Secara fisik gorila memang buruk rupa. Tapi primata ini sebenarnya lebih cerdas dari simpanse. Mereka primata yang lebih peka, sensitif, penyayang dan lemah lembut. Gorila di penangkaran tidak agresif. Kalau mereka marah, biasanya menggunakan simbol. Misalnya merobek-robek kertas atau mencabik-cabik kain. Gorila di alam liar juga memilih menjauhi manusia. Tetapi jika mereka diganggu, mereka akan memberi peringatan dulu, tidak langsung menyerang. Menggeram, mencabut-cabut rumput, memukul-mukul tanah, bergerak menyamping, menggeram lagi, baru menerjang. Lumayan lama kan prosesnya? Jadi kita punya waktu buat kabur hahahaha...

Saya pernah baca laporan ilmiah tentang primata yang diajari bahasa isyarat (bahasa untuk tuna rungu atau tuna wicara). Dan ternyata mereka punya kemampuan bahasa yang baik. Mereka bisa berkomunikasi dalam percakapan sederhana. Jadi, kalau saya punya gorila, saya akan ajari bahasa isyarat ah. Saya jadi bisa curhat kan? Hehehe

Memangnya nggak seram? Tanya teman saya sambil nyengir.
Gorila memang besar sih. Seekor gorila jantan tinggi badannya bisa mencapai 150 hingga 190 cm jika berdiri. Lebar jangkauan tangan dari kanan ke kiri mencapai 144 cm. Di alam liar, berat badan seekor gorila sekitar 200 kilogram. Tapi di alam liar, berat badannya bisa sampai 270 kilogram.

Ada dua jenis (subgenus) gorila. Pertama, gorila yang tinggal di sebelah barat Afrika, yakni gorila Dataran Rendah Barat (gorilla gorilla) dan Seberang Sungai (gorilla diehli). Kedua, gorila di sebelah timur Afrika, yakni gorila Dataran Timur Rendah (beringei graueri) dan Pegunungan Beringei (beringei gorillas). Salah satu habitat gorila di dunia adalah Pegunungan Virunga di Afrika Timur. Lebih dari 700 jenis gorila hidup di situ, dan menjadi salah satu laboratorium primata terbesar.

Saya sampai hapal ya? Hihihi. Dan sampai berkunjung ke sini

Oh ngomong-ngomong, saya juga baca novel Congo dan nonton filmnya. Itu membuat saya tambah tertarik pada primata yang satu ini.

Memangnya boleh memelihara gorila secara pribadi? Tanya teman saya.
Kayaknya sih nggak boleh ya. Hanya boleh untuk keperluan riset ilmu pengetahuan dan koleksi kebun binatang.

Aduh, gagal deh saya memelihara Jata! Dasar orang aneh! :P



Image and video hosting by TinyPic

Friday, March 12, 2010

Jangan Ganggu Banci


: Ari, yang pernah dikejar banci di Taman Lawang

Ingatkah kamu saat berlari sekuat tenaga sepanjang jalan Taman Lawang, dengan seorang banci yang mengacung-acungkan pisau mengejar dibelakangmu?

Kamu dan temanmu lari. Terus berlari, tanpa sempat keheranan betapa hebatnya si banci bisa berlari sekencang itu dengan rok mini dan sepatu high heels-nya.

"Ayo cepaaaat!" Teriakmu pada temanmu. Kalian memaksa kaki-kaki yang kelelahan itu berpacu melawan kecepatan kaki-kaki si banci berok mini.
"Di mana yang lain?" Tanya temanmu dengan napas nyaris habis.
"Nggak tauuu... Pokoknya kita lari saja jangan sampai tertangkap!"

Seharusnya kalian bertujuh. Berangkat dari rumah kost kalian, sengaja ke Taman Lawang sekedar iseng. Kalian anak-anak perantauan di Jakarta sering mendengar tentang Taman Lawang dan para waria yang suka berkumpul di sana.

Berangkatlah kalian naik taksi, dan dengan bodohnya menyusuri sepanjang jalan penuh banci dengan berjalan kaki. Lebih bodoh lagi, salah satu dari kalian iseng meledek seorang waria sampai marah-marah dan mengejar kalian dengan sebilah pisau di tangan. Kalian lari serabutan. Berpencaran ke segala arah.

Kini kamu dan temanmu sedang balap lari dengan si banci yang marah itu.

Napasmu nyaris putus. Terakhir kali kamu beradu kecepatan lari waktu pelajaran olahraga di SMA. Lagipula kamu kan tidak terlatih untuk lari dikejar banci. Paling-paling kamu itu biasa lari mengejar layangan putus, lari dikejar anjing galak atau lari ke gerbang sekolah yang mau ditutup karena bel masuk sudah berbunyi. Hahaha...

Waduh! Mimpi apa sih kamu jadi dikejar-kejar banci di Taman Lawang?

Lalu sebuah taksi lewat. Kamu menyetopnya, merentangkan tangan lebar-lebar, persis adegan sinetron.
"Stooop! Berhentiiii!"
Taksi berhenti dan kalian langsung melompat masuk.
"Cepat jalan Pak! Cepat!" Kamu menggubrak-gubrak sopir taksi yang menoleh ke belakang dengan wajah melongo.
"Ada apa Mas?"
"Jalan dulu Pak. Nanti saya ceritakan di jalan!"
Sopir taksi menurut dan menjalankan mobilnya.
"Kami... kami dikejar banci, Pak. Di Taman Lawang tadi."
Sopir taksi itu bukannya kasihan malah terbahak-bahak bahagia mendengar kesialanmu. Ck ck ck.

Kalian bertujuh berkumpul lagi di rumah kost. Bermunculan satu persatu dengan wajah kusut.
"Ada apa?" Tanya ibu kost keheranan.
"Dikejar banci, bu."
Ibu kost terbahak-bahak juga.

Sama seperti aku malam kemarin, terbahak-bahak mendengar kamu menceritakannya dengan nada tidak berdosa.

Fyuh! Makanyaaa... jangan ganggu banci!
________________

Sudah kuceritakan aibmu ya, Ri...
Hihihi...


Image and video hosting by TinyPic

Sunday, December 27, 2009

Never Been Kissed

"What?" Seruku.
"Ajak ke diskotik dong..."
"Nggak. Ogah. Nehi. No way."
"Ayo dong, aku belum pernah ke diskotik. Di sana ngapain aja sih?"
"Ajojing sampe puyeng."
"Nah, aku belum pernah tuh ajojing sampe puyeng! Ajak aku ya!"
"Ogah! Aku bisa diomeli ustad seluruh Indonesia."
Ia terbahak-bahak.

Akhir-akhir ini ia membuatku merasa agak bersalah. Aku ceplas-ceplos dan ia lumayan polos. Beberapa hal yang kuceritakan membuatnya tertarik dan ingin tahu. Misalnya waktu kami mengobrol tentang pacaran dan tiba-tiba sampai pada topik ciuman.

Tiba-tiba ia bertanya.
"Emang enak?"
"Apa yang enak?"
"Ciuman itu."
"Tanya si Ucup ajalah yang ngakunya jago."
"Hahaha." Ia tertawa. "Aku belum pernah."
"Ciuman? Baguslah. Jangan."
"Kok jangan?"
"Jangan sekarang. Nanti aja kamu ciumannya sama suami."
Lagi-lagi ia terbahak.

Nah, kembali ke soal diskotik tadi. Ia masih membujukku minta diajak ke diskotik. Padahal kalau boleh jujur aku sudah sangat lama tidak menginjak tempat bernama diskotik. Terakhir kali ke sana waktu masih SMA, dan setiap ke sana selalu bersama para sepupuku.

"Kalau kuajak keluar, paling kita karaoke aja. Itu lebih aman."
"Ah kamu malu ya bawa aku, No? Aku janji deh nggak bakal malu-maluin kamu."
"Bukan. Aku takut diusir satpam kalo bawa kamu. Serius ni."
"Iya gitu? Kenapa? Aku kan sudah cukup umur."
"Kamu kan saltum. Salah kostum. Belum lagi nanti kita diliatin sama semua pengunjung diskotik. Kesannya kayak aku mau ngajak mereka bertobat, tau."
"Wahahaha... "

Mengobrol dengan teman yang satu ini memang asyik dan sinting. Tetapi sepertinya mulai sekarang aku harus siap mental dengan pertanyaan-pertanyaan 'gemblungnya'. Coba kalau kubilang 'ciuman itu enak', nanti dia jadi nggak bisa tidur karena ingin mencoba. Atau kalau kubilang pacaran itu asyik, nanti sibuk pula dia cari pacar hanya karena penasaran.

"Ya udah deh, aku pake jins, pake jaket, pake topi."
"Pokoknya enggak. Aku nggak mau. Nanti aku diomelin MUI."
"Hahahaha... Enno payah ah...!"

Yeah right. It's just another silly topic of us. But the truth is... I love her, my silly best friend ever.
Please don't get angry because this posting ya hihihi

*hug*
Image and video hosting by TinyPic

Thursday, December 17, 2009

Lagi Sinting


Beginilah jika dua gadis manis yang sedang stress bercakap-cakap.

Sari: sorry ya No, aku lagi ditekan sana-sini jadi lama responnya.
Enno: Ditekan sama siapa? Entar bonyok lho.
Sari: Ni anak. Kalo yang nekan si Choky (Sitohang) mah nggak apa-apa yak?
Enno: Mauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!
Sari: Yee, antri atuh! Tuh kamu nomor urut 37
Enno: Aku nomor satuuuuuuuuuuu
Sari: Nggak bisa! Nehi ... nehi!

Enno: *sikut Sari sampe njelepak* Tuing! Aku duluuuuuuuuuuuuu!!!
Sari: *tarik kaki Enno* Aku duluuuuuuuuuuuuuuu!!
Enno: *jenggut jilbab Sari* Mingggiiiiiiiiiiiiiiiir!!!
Sari: *tendang Enno* *sikut* *tarikpake payung* Aku duluaaannnnn! Denger tidakkkkk?
Enno: Tidaaaaaaaaaaak!!!! Cokiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!! Ini akuuuuuuuuuuu!!! *nginjek-nginjek Sari*
Sari: Cokiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii...jangan mau sama dia..... sama aku ajaaaaaaaa *lempar Enno ke sawah*
Enno: *langsung naik ke punggung kerbau dan nyuruh nyeruduk Sari* Go, kerbau, go! Cokiii, ayo naik kerbau bersama!
Sari: Cokiiiii....ini aku bawain kuda, naik kuda aja, kalo naik kerbau nanti kamu nggak keren lagi.....husshhhaahhhh *nepok bokong kuda sambil nyamber Choky dan ninggalin Enno bareng kerbaunya yang ompong*
Enno: Fyuh! Ya sudahlah... *ambil hp dan ngedial nomor Nicolas Saputra* Halo? Nico? Iya deh aku mau kamu ajak kencan entar malem... jemputnya jgn telat ya, sayang...

See? Dua cewek yang mendadak sinting!

Hehehe

Image and video hosting by TinyPic

Saturday, November 28, 2009

Yudas


Aku pernah percaya padanya.
Seperti aku percaya pada matahari yang tak pernah absen terbit dari timur.

Lalu seperti Yudas, ia berkhianat.

......

Aku masih ingat caramu memiringkan kepala ketika mendengarkan ia mengoceh tak jelas tentang sesuatu yang absurd. Ia sedang berkata, "Kita harus mulai berpikir out of the box. Kalau orang-orang sudah biasa mengambil langkah A, kita bisa mencoba langkah B." Dan kau mengangguk sambil menatapnya dengan terpesona, tak menyadari bahwa aku memperhatikanmu sejak tadi.

Kau masih saja memujanya ya? Atau itu rasa penasaran karena kau dulu ingin memacarinya tapi tak bisa? Tak bisa karena kau terlalu minder dan menganggap dirinya terlalu baik untukmu.

"Nggak nyangka ya, pemikirannya makin dewasa," katamu padaku setelah itu.

Aku menatapmu setengah jengkel setengah geli. Hanya sebatas itukah ukuran kedewasaan bagimu? Kau menyebutnya dewasa karena ia mengutip sebuah konsep yang dibacanya entah dimana dan diucapkannya berulang-ulang pada setiap orang yang mau mendengarkan. Hey, buatku, apa yang diucapkannya itu basi.

"Ya," gumamku. "Dan aku bodoh seperti biasanya."
Kau tak bisa memungkiri fakta, bahwa disadari atau tidak, kau selalu membanding-bandingkan kami.

Pintar, pintar, pintar. Kamu selalu memujinya begitu. Lalu bagaimana aku? Bodoh? Kekanak-kanakan? Hanya karena aku lebih suka membicarakan foto, gunung, kucing-kucing dan buku-buku bagus. Hanya karena aku lebih suka memilih topik sederhana dan kelihatan tak punya konsep keren?

Aku kan memang tidak pernah cerita soal berdebat dengan panglima armada TNI AL tentang pengamanan pulau-pulau perbatasan. Aku tidak pernah cerita soal berdiskusi dengan Menteri Lingkungan Hidup tentang illegal logging. Oh, aku juga tidak pernah cerita sering hadir di acara kajian politik yang diadakan kepemudaan sebuah partai.

Yang seperti aku, kau menyebutnya apa?

Kau mungkin akan bilang bahwa aku cemburu. Katakan itu di depanku dan aku akan terbahak-bahak sampai mati. Aku tidak cemburu. Aku cuma mau memberitahumu, bahwa selama ini aku lebih mempercayainya daripada orang lain. Aku menceritakan segalanya karena kupikir ia akan mengerti dibandingkan yang lain. Kau bahkan tak tahu, aku menyayanginya lebih dari Ussy, kakakku sendiri.

Kupikir ia berbeda. Kupikir ia akan membelaku seperti aku membelanya selalu. Ternyata aku salah. Ia sama saja dengan mereka. Tukang gosip, tukang usil. Dan ia menertawakan aku di balik punggungku setiap aku bercerita tentang kisah cintaku.

Ia juga menganggapku gila.

Tetapi mungkin kau tidak peduli ya. Aku bilang padamu bahwa ia menertawakanku. Kau dengan ringan berkata, "Tak usah kau pusingkan hal itu. Dunia kalian kan berbeda."

Dunia kami berbeda? Bahwa ia ikan bandeng di tambak dan aku ikan badut di laut? Bahwa ia burung yang terbang di langit dan aku keong yang melata di tanah? Bahwa ia mahluk bumi dan aku alien? Bahwa ia manusia dan aku jin?
Dunia yang berbeda katamu? Padahal kau tahu kami selalu bersama-sama seperti laut dan ombak, awan dan hujan, lebah dan madu.
Aku yakin kamu akan mengatakan hal yang sama, sekalipun aku datang padamu sambil menangis karena kecewa pada si pintar itu.

Oh ya. Jelas. Akhirnya kuakui kalau ia memang pintar. Pintar membuatku kelihatan buruk. Belum cukup menertawakanku di belakang, ia mengatakan hal-hal yang tidak benar pada orang-orang yang sudah sepatutnya ia tahu akan menyebarkannya lagi pada yang lain.

Gara-gara itu, mereka lebih menghinaku lagi. Lebih menyudutkanku lagi. Mengatai aku tak tahu diuntung dan sebagainya. Gara-gara itu aku bertengkar dengan ibuku. Gara-gara itu hidupku jadi 'lebih indah dan penuh warna'.

Well, thanks to her!

Apa? Aku marah? Tidak. Aku tidak marah. Biarkan saja ia begitu. Anggap saja apa yang dilakukannya untuk membayar jasanya padaku atas segala bantuannya di masa lalu. Meskipun tetap saja ia tidak berhak berbuat begitu. Dan kau tahu apa yang paling menyakitkan setelah semua yang dilakukannya? Sulit sekali untuk membencinya.

Kau tetap akan memujanya sepanjang masa ya? Kalau begitu jangan selalu menanyakan kabarnya padaku di setiap kesempatan, aku bukan baby sitternya. Dekati saja sendiri.

Ambil, bungkus, bawa pulang!


Image and video hosting by TinyPic

Monday, October 12, 2009

Mustopa

"Kang Mamat! Tolooong!" Tanganku menggapai-gapai panik.

Aku meluncur deras ke bawah, menerjang semak-semak dan tonjolan-tonjolan pasir yang langsung berhamburan bersama tubuhku.

"Neng!" Kudengar langkah-langkah bergegas, menyusulku ke bawah. Peluncuranku terhenti di sebuah cekungan dekat pepohonan tumbang.
Fyuh!

Kudengar ada yang mendekat.
"Kang Mamat?" Aku menoleh ke arah datangnya suara. Tak ada jawaban. "Jal? Iyom?" Yang terdengar hanya suara angin diantara pepohonan. Aku berusaha berdiri. Meringis menahan pegal dan pedih karena goresan semak di tangan dan kakiku saat jatuh tadi.

Srek, srek.

Suara itu datang dari arah sesemakan yang rimbun tak jauh dariku. Lalu tiba-tiba kulihat sepasang mata merah menatapku tajam dari balik sebatang pohon.

"Aaaaaaahhhh!!!!"

Itu entah mata apa atau siapa. Mata itu tak berkedip. Aduuuh... bukan mata macan atau babi hutan kan? Aku ingat cerita orang-orang, di gunung ini banyak babi hutan dan kemungkinan masih ada macan kumbang.

"Kang Mamaaaaat!!!"

"Neng, nggak apa-apa? Luka nggak Neng?" Kang Mamat tiba-tiba muncul, diikuti Rijal dan Iyom. Mereka menghampiriku dengan cemas. Pasti takut dimarahi ibuku kalau sampai aku terluka.
Aku langsung melompat mendekati mereka. "Kayaknya tadi ada babi hutan disitu."
"Mana?" Kang Mamat mencabut golok di pinggangnya.
"Di sebelah situ tadi. Di balik pohon itu! Matanya merah ngeliatin aku!"
Ketiga temanku celingukan. "Ah, nggak mungkin ada babi hutan di sebelah sini, Neng," kata Rijal. "Sarangnya di sisi gunung sebelah sana."
"Kalo gitu macan?"
"Di sini udah lama nggak ada macan. Udah punah," sahut Iyom dengan nada sok tahu.
Kulihat Kang Mamat seperti sedang berpikir.
"Macan ya Kang?"
"Ah, bukan." Ia menggeleng. "Hayu atuh, lanjutin lagi. Nanti keburu sore." Ia memberi kode pada Ijal dan Iyom untuk mengapitku. Ia sendiri jalan duluan di depan kami.

Kami berempat sedang menuju Curug Wangi, air terjun yang masih perawan di Pasir Wangi. Pasir dalam bahasa Sunda berarti bukit. Pasir Wangi terletak tak jauh dari kampung kami. Bukan merupakan bukit yang rendah, tapi justru lumayan tinggi, hampir separuh tinggi gunung. Dari belakang rumahku bukit itu  terlihat jelas. Aku sudah beberapa kali mengunjungi air terjun di sana. Biasanya bersama Ayah. Tetapi sejak Ayah mulai tidak sehat, kalau ingin ke sana, aku mengajak beberapa tetangga.

"Ssst... di sini nih ada kerajaan jin." Iyom si mulut besar berbisik ketika kami melewati sebuah padang rumput, yang entah kenapa memang terasa janggal. Mengapa ada sepetak padang rumput di atas bukit? Pikirku.
"Jangan banyak ngomong, tolol!" Sentak Rijal.
"Ah, kamu kan takut dijadikan suami sama putri bungsunya!" Balas Iyom.
"Emang putrinya masih jomblo, Jal?" Aku nyengir.
"Putri rajanya ada tiga. Yang dua mah udah dapet suami. Yang ketiga belum, Neng, soalnya matanya juling."
Aku nyaris terbahak-bahak kalau saja Kang Mamat tidak menoleh dan menatap kami dengan galak.
"Serius Neng," bisik Iyom. "Putri bungsunya juling. Saya dikasih tau juru kuncinya."
Aku manggut-manggut. Masih penasaran pada mata merah tadi. Pasti bukan mata putri raja jin itu. Sebab mata itu tidak juling.

Air terjun itu sudah tidak jauh lagi. Suara gemuruhnya lamat-lamat terdengar. Jalan setapak yang kami lalui mulai licin dan curam. Kami melanjutkan perjalanan dalam diam. Entah kenapa aku merasa ada yang mengikuti kami dari belakang. Bukan macan yang siap menerkam kan? Aku tak tahan membayangkannya.

"Seperti ada yang ngikutin di belakang, Kang," kataku pada Kang Mamat.
"Iya, Kang. Kayaknya sih gitu." Iyom menimpali.
"Enggak. Enggak ada apa-apa." Kang Mamat terus berjalan tanpa menoleh.
"Bukan babi hutan kan?"
"Ah, bukan Neng. Dekat air terjun mah nggak ada babi hutan."
"Tapi babi hutan juga perlu minum atuh, Kang." Iyom menukas.
"Bukan di sini minumnya!" Bentak Kang Mamat kesal. Kelihatannya ia tak ingin membuatku cemas.

Lalu gemuruh air terjun terdengar lebih keras. Satu tanjakan lagi dan kami sampai.

Tidak pernah sia-sia datang ke tempat ini. Air terjunnya memang tidak tinggi dan debit airnya tidak terlalu besar. Namun tak banyak orang yang tahu tempat ini. Rasanya seperti berada di sebuah dunia khayal.

Rijal, Iyom dan Kang Mamat membuka bekal. Ibu membungkuskan kami nasi di rumah tadi.
"Neng, makan!" Rijal melambaikan tas bekal padaku.
"Iya nanti. Mau jalan-jalan dulu."

Di dekat situ ada sebuah ceruk, mirip gua. Bukan gua yang sebenarnya. Aku pernah menemukan sarang kucing hutan di semak-semaknya. Waktu itu ada tiga ekor anak kucing yang tidur menunggu induknya. Apakah mereka masih di sana? Atau sudah ada keluarga binatang lain yang tinggal di sana?

Ternyata tak ada apapun di ceruk itu. Anak-anak kucing itu pasti sudah besar dan terpencar-pencar sekarang.

Srek. Krak.

Eh? Aku menoleh ke belakang. Samar-samar kudengar senda gurau ketiga temanku dekat air terjun.

Srek. Krak.

Suara dahan kering terinjak. Lalu gerumbul semak bergerak-gerak dekat pepohonan. Tiba-tiba kulihat mata merah itu muncul lagi, tak jauh dari tempatku berdiri. Macan? Babi hutan?

"Aaaaaaah!!!! Aku berlari ke arah air terjun.
"Ada apa Neng?" Kang Mamat menghunus goloknya.
"Ada yang ngeliatin tadi di situ!" Aku menunjuk ke arah sesemakan tempat mata itu muncul. "Matanya merah."
Kang Mamat menghampiri tempat itu.
"Topa! Keluar kamu! Si eneng takut nih!"

Sesemakan itu bergerak-gerak, lalu sesosok manusia berpenampilan aneh muncul.

Laki-laki itu sudah tua. Rambut dan jenggotnya yang panjang awut-awutan sudah putih dan abu-abu. Wajahnya cekung dan penuh kerut merut. Ia memakai kemeja yang cabik-cabik, sangat kotor dan tak dikancing. Celananya pangsi hitam seperti celana petani yang penuh lumpur kering. Tubuhnya sangat kurus, melengkung agak bungkuk. Dari jarak sekian meter, bau tubuhnya yang apak tercium menyengat.

Iyom dan Rijal sama tercengangnya dengan aku.

"Itu siapa?" Rijal bertanya.
"Topa."
"Topa yang mana? Yang itu...?" Pelan-pelan wajah Rijal dan Iyom menunjukkan pemahaman.
"Topa siapa sih?" Tanyaku. Satu-satunya orang yang belum mengerti.

Namanya Mustopa, kata Kang Mamat. Ia menceritakannya sambil kami duduk di pinggir air terjun dan makan bekal. Puluhan tahun yang lalu, waktu masih kecil ia dibawa ke bukit ini oleh orangtuanya yang bergabung dengan para pemberontak Darul Islam. Keluarganya dan keluarga para pemberontak DI/TII lainnya bersembunyi di hutan-hutan sekitar situ menghindari penyergapan TNI.

Suatu hari dalam sebuah operasi besar-besaran, TNI berhasil menyergap para pemberontak itu. Keluarga Topa tewas terbunuh dalam baku tembak. Seluruh pemberontak yang masih hidup digiring turun untuk diadili. Tampaknya Topa bersembunyi dan tertinggal. Sejak itulah ia hidup seorang diri di hutan-hutan di perbukitan itu. Ia menjadi bisu dan makan apa saja yang bisa didapatkannya di dalam hutan.

"Kadang-kadang kalau bertemu dengan pencari kayu bakar, ia diberi makanan atau pakaian," kata Kang Mamat. "Penduduk sekitar Pasir Wangi merasa kasihan padanya. Soalnya Topa baik. Ia sama sekali tidak gila dan tidak pernah mengganggu orang."

Aku menoleh ke arah pepohonan. Memandang iba pada laki-laki tua yang duduk di sana memperhatikan kami. Bungkusan nasi yang kami berikan padanya tergeletak dekat kakinya. Sudah kosong.

"Sebenarnya ia masih punya sanak famili. Penduduk desa yang diam di sekitar Pasir Wangi dulunya banyak yang keturunan para pemberontak yang sudah insyaf. Tapi tampaknya si Topa lebih suka hidup di hutan."

"Kalau tahu, dari rumah bawa pakaian bekas buat dia..." kataku. "Kalau malam pasti dia kedinginan."
"Ah dia mah sudah biasa, Neng."
"Kok aku baru liat dia sekarang? Dulu sering ke sini sama Ayah, dia nggak pernah ada."
"Dia kan suka pindah-pindah. Dari hutan ke hutan dan bukit ke bukit. Perbukitan di sini kan luas. Lagian dia cuma muncul sama orang-orang yang paling sering dia lihat. Saya kan sering ke sini, Neng."
"Oh pantas. Yom, masih ada nasi bungkusnya?" Tanyaku pada si pembawa perbekalan. "Kasih lagi. Kasihan."
Iyom melemparkan beberapa bungkus nasi yang masih tersisa pada Topa yang membawanya pergi ke balik semak.

Ketika kami beranjak pulang, Topa tak lagi terlihat di dekat kami.

"Ssst... kerajaan jin!" Iyom berbisik lagi ketika kami melewati padang rumput yang tadi.
"Berisik!" Sentak Rijal sambil melirik Kang Mamat yang berjalan di depan. Pasti takut kena marah lagi dia.
"Grok. Grok. Grok."
"Kamu teh ngomong apa?"
"Grok. Grok. Grok."
Kami semua menoleh pada Iyom. Iyom balas menatap kami. Lho, bukan dia yang bersuara tadi?
"Grok. Grok. Grok."
Kami saling pandang.

Lalu sayup-sayup terdengar gonggongan anjing di kejauhan. Anjing-anjing pemburu babi hutan. Arahnya mendekat ke arah kami.

"Cari pohoooon!!!"

Kami lari berpencar, memanjat ke pepohonan terdekat. Fyuh! Nyaris!


Image and video hosting by TinyPic

Saturday, August 15, 2009

I'm (Not) Doing Fine

Pagi ini bangun dengan kepala migren. Kemarin saya menghabiskan hari dengan mondar-mandir ke toilet gara-gara dua butir pencahar.

Ussy mengetuk pintu toilet berkali-kali ketika saya tidak segera keluar.
"Retno! Retno!" Serunya cemas.
"Tenang! Gue masih hidup! Nggak bakal bunuh diri!"

Saya nggak akan bunuh diri. Apalagi di dalam toilet. Nggak elit amat. Kalaupun saya mau bunuh diri, saya akan mendaki gunung di malam berbadai sampai kena hipothermia. Atau masuk ke gua vertikal berair dan menunggu ular boa penghuninya melahap saya bulat-bulat. Itu baru 'gue banget.'

Lagi pula kenapa sih mengira saya mau bunuh diri segala?

..........

You've got a way about you
From the moment you walk into the room
Every time, I have to watch myself so you won't see
That looking at you smiling at me makes it hard to breathe

I've never been so open, but sitting here with you
It's just so easy
Listening to your laugh, it's so breezy
I want to make these moments last forever...

Because with you, I don't have to try
With you, I know the reason why
I can be whoever I want to be
It's a beautiful feeling, to finally start believing
That I can be me, that you can see me
When I'm with you

You never know when love comes along
But listen, don't you hear it playing our song?
What would you do if I asked you to dance?
What's so bad about just letting things happen?

I've never been so open, but sitting here with you
It's just so easy
Listening to your laugh, it's so breezy
I want to make these moments last forever...

Because with you, I don't have to try
With you, I know the reason why
I can be whoever I want to be
It's a beautiful feeling, to finally start believing
That I can be me, that you can see me
When I'm with you

If I told you how I felt, would that change a thing?
Because the more of you I know, the more I want to tell you everything

I've never been so open, but sitting here with you
It's just so easy
Listening to your laugh, it's so breezy
I want to make these moments last forever...

Because with you, I don't have to try
With you, I know the reason why
I can be whoever I want to be
It's a beautiful feeling, to finally start believing
That I can be me, that you can see me
When I'm with you

Because with you, I don't have to try
With you, I know the reason why
I can be whoever I want to be
It's a beautiful feeling, to finally start believing
That I can be me, that you can see me
When I'm with you

....

Bukan. Bukan. Puisi di atas bukan untuk pacar saya. Dia sudah terlalu banyak saya beri tulisan yang indah-indah. Dan ngomong-ngomong, saya masih bete. Lagi malas cinta-cintaan.

Itu buat kalian saja, yang sedang jatuh cinta pada seseorang. Saya menemukan tulisan itu di blog Melissa Blake. Blog yang semakin menyadarkan saya untuk tidak menghakimi seseorang karena penampilan luarnya. Bahwa keindahan fisik dan keindahan jiwa tidak selalu seiring sama.

Penasaran? Kunjungi sendiri Miss Blake di blognya yang indah.

Sudah dulu ya. Selamat tinggal. Saya mau pergi.
Bukan. Bukan mau bunuh diri. Saya mau ke supermarket. Tiba-tiba kepingin makan Pringles.


Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, August 12, 2009

Benci

"Pernah nggak sih lo ngerasa ada di mana lo bener-bener sendiri, dan nggak ada satu orang pun yang bisa lo harapkan..."

-Kutipan dari tulisan Achied

..........

Hari ini, mohon maaf, saya ingin marah.
Saya bertengkar dengan Ibu mengenai topik yang sama, yang selalu diulang-ulang sejak umur saya 25. Adik saya Ajay bertanya kenapa saya begitu menyebalkan (di matanya tentu saja), karena selalu membuat Ibu marah (lagi-lagi menurut opininya, meskipun faktanya selalu Ibu yang memulai lebih dulu).
Belum cukup tampaknya semua itu, seorang kakak ibu saya datang pagi ini dan ucapan pertamanya begitu melihat muka saya adalah, "Kalau tidak dapat di Jakarta, cari saja di sini."
"Maksudnya?" Tanya saya.
"Calon suami."

Saya benci sekali karena hanya memilih diam, kehabisan kata-kata. Padahal ingin sekali rasanya saya mendamprat mereka. Tahu apa mereka tentang hidup saya!

Hidup saya berbeda dengan adik saya.
Sepanjang hidup saya, selalu di bawah tuntutan dan tekanan. Dan saya diwajibkan setegar karang.
Sementara sejak kecil dia anak kesayangan Ibu. Sayalah yang selalu disalahkan dan dimarahi kalau dia jatuh, sakit, bermain terlalu jauh, atau pulang terlalu sore. Sayalah yang dibebani kewajiban untuk menjadi anak yang pandai, mendapat nilai bagus di sekolah, membantu tugas-tugas rumah tangga, dan diceramahi soal keuangan keluarga yang selalu pas-pasan sampai saya tidak pernah berani minta dibelikan sesuatu jika itu tak teramat perlu.

Surat Tamat Belajar sayalah yang diremas-remas Ibu, karena saya tidak mau masuk sekolah menengah kejuruan. Sementara Surat Tamat Belajarnya terpajang rapi dan ia boleh masuk ke sekolah mana saja yang ia mau. Saya dilarang masuk fakultas sastra, sementara ia boleh-boleh saja tak punya cita-cita dan sekedar mengikuti jejak saya di fakultas hukum.

Dan sampai sekarang tuntutan-tuntutan seperti itu masih selalu ada. Saya harus sukses. Saya harus mandiri. Saya harus bisa mencukupi kebutuhan saya sendiri. Oke, yang itu saya tidak keberatan. Tetapi yang paling digaris bawahi dan ditulis besar-besar dengan huruf berwarna merah: saya harus segera menikah! Segera. SOS. Darurat. Kasus A1 (istilah intelijen untuk kasus utama). Mungkin seandainya bisa dilangsungkan dalam minggu ini juga, mereka akan menari-nari kegirangan.

Sementara dia, si anak kesayangan, apapun yang dia perlukan selalu diberi. Ibu menghibahkannya rumah kecil di sebelah rumah induk untuknya. Memindahkan ranjang favorit saya ke kamar yang bakal ditempati dia dan isterinya nanti tanpa izin saya. Bahkan pada calon isterinya, Ibu mempersilahkan memakai semua koleksi alat-alat dapur kesayangannya. Gelas-gelas Perancis itu, mangkuk-mangkuk Cina kuno itu, piring-piring antik dan sendok-sendok perak yang bahkan dipakai setahun sekalipun tidak.

Tidakkah terpikir oleh Ibu, bahwa saya, anak perempuannya, juga ingin mewarisi sebagian dari semua itu? Meskipun saya bisa membeli sendiri, tetapi saya juga ingin punya barang kenangan jika Ibu sudah tidak ada kelak.

Kalau hubungan saya dengan seorang lelaki gagal, saya disalahkan. Mereka menuduh saya yang bikin gara-gara. Ketika si anak kesayangan itu diputuskan pacarnya karena lelaki lain, Ibu menangis dan menganggap nasibnya malang. Bahkan saya ditugasi membujuk dan menghiburnya. Saya juga yang maju ke depan sendirian, menghadang adik saya, menahan badannya yang tinggi besar ketika dalam kemarahannya ia ingin mencari lelaki itu dan menghajarnya. Saya sampai sakit badan seminggu!

Saya benci sekali jadi perhitungan begini. Malu pada diri sendiri karena mendadak iri pada adik sendiri.

Tapi saya benci selalu dijadikan kambing hitam. Dianggap anak nakal sepanjang zaman. Saya ingin pergi entah kemana, tetapi tak bisa melepaskan diri. Ibu akan jatuh sakit, Ayah akan kebingungan, dan si anak emas itu lagi-lagi akan menyalahkan saya. Saya juga tidak bisa mengandalkan Ussy, karena ia sudah punya keluarga sendiri.

Saya tak bisa berbuat apa-apa ketika orang-orang menertawakan saya, mengatai saya pemimpi yang menunggu hal yang tidak pasti, dan saya tak bisa mengelak ketika mereka dengan sok perhatian mengenalkan saya dengan banyak pria.

Tak seorangpun membantu saya. Saya benci karena merasa tak dipercayai. Merasa sendirian. Merasa ditinggalkan. Merasa dibiarkan. Saya benci dan muak karena selalu saja diuji, diuji dan diuji.

Saya benci!

.............

Masih belum puas menguji reaksi saya dalam tekanan, darling?


Image and video hosting by TinyPic

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...