Monday, October 12, 2009

Mustopa

"Kang Mamat! Tolooong!" Tanganku menggapai-gapai panik.

Aku meluncur deras ke bawah, menerjang semak-semak dan tonjolan-tonjolan pasir yang langsung berhamburan bersama tubuhku.

"Neng!" Kudengar langkah-langkah bergegas, menyusulku ke bawah. Peluncuranku terhenti di sebuah cekungan dekat pepohonan tumbang.
Fyuh!

Kudengar ada yang mendekat.
"Kang Mamat?" Aku menoleh ke arah datangnya suara. Tak ada jawaban. "Jal? Iyom?" Yang terdengar hanya suara angin diantara pepohonan. Aku berusaha berdiri. Meringis menahan pegal dan pedih karena goresan semak di tangan dan kakiku saat jatuh tadi.

Srek, srek.

Suara itu datang dari arah sesemakan yang rimbun tak jauh dariku. Lalu tiba-tiba kulihat sepasang mata merah menatapku tajam dari balik sebatang pohon.

"Aaaaaaahhhh!!!!"

Itu entah mata apa atau siapa. Mata itu tak berkedip. Aduuuh... bukan mata macan atau babi hutan kan? Aku ingat cerita orang-orang, di gunung ini banyak babi hutan dan kemungkinan masih ada macan kumbang.

"Kang Mamaaaaat!!!"

"Neng, nggak apa-apa? Luka nggak Neng?" Kang Mamat tiba-tiba muncul, diikuti Rijal dan Iyom. Mereka menghampiriku dengan cemas. Pasti takut dimarahi ibuku kalau sampai aku terluka.
Aku langsung melompat mendekati mereka. "Kayaknya tadi ada babi hutan disitu."
"Mana?" Kang Mamat mencabut golok di pinggangnya.
"Di sebelah situ tadi. Di balik pohon itu! Matanya merah ngeliatin aku!"
Ketiga temanku celingukan. "Ah, nggak mungkin ada babi hutan di sebelah sini, Neng," kata Rijal. "Sarangnya di sisi gunung sebelah sana."
"Kalo gitu macan?"
"Di sini udah lama nggak ada macan. Udah punah," sahut Iyom dengan nada sok tahu.
Kulihat Kang Mamat seperti sedang berpikir.
"Macan ya Kang?"
"Ah, bukan." Ia menggeleng. "Hayu atuh, lanjutin lagi. Nanti keburu sore." Ia memberi kode pada Ijal dan Iyom untuk mengapitku. Ia sendiri jalan duluan di depan kami.

Kami berempat sedang menuju Curug Wangi, air terjun yang masih perawan di Pasir Wangi. Pasir dalam bahasa Sunda berarti bukit. Pasir Wangi terletak tak jauh dari kampung kami. Bukan merupakan bukit yang rendah, tapi justru lumayan tinggi, hampir separuh tinggi gunung. Dari belakang rumahku bukit itu  terlihat jelas. Aku sudah beberapa kali mengunjungi air terjun di sana. Biasanya bersama Ayah. Tetapi sejak Ayah mulai tidak sehat, kalau ingin ke sana, aku mengajak beberapa tetangga.

"Ssst... di sini nih ada kerajaan jin." Iyom si mulut besar berbisik ketika kami melewati sebuah padang rumput, yang entah kenapa memang terasa janggal. Mengapa ada sepetak padang rumput di atas bukit? Pikirku.
"Jangan banyak ngomong, tolol!" Sentak Rijal.
"Ah, kamu kan takut dijadikan suami sama putri bungsunya!" Balas Iyom.
"Emang putrinya masih jomblo, Jal?" Aku nyengir.
"Putri rajanya ada tiga. Yang dua mah udah dapet suami. Yang ketiga belum, Neng, soalnya matanya juling."
Aku nyaris terbahak-bahak kalau saja Kang Mamat tidak menoleh dan menatap kami dengan galak.
"Serius Neng," bisik Iyom. "Putri bungsunya juling. Saya dikasih tau juru kuncinya."
Aku manggut-manggut. Masih penasaran pada mata merah tadi. Pasti bukan mata putri raja jin itu. Sebab mata itu tidak juling.

Air terjun itu sudah tidak jauh lagi. Suara gemuruhnya lamat-lamat terdengar. Jalan setapak yang kami lalui mulai licin dan curam. Kami melanjutkan perjalanan dalam diam. Entah kenapa aku merasa ada yang mengikuti kami dari belakang. Bukan macan yang siap menerkam kan? Aku tak tahan membayangkannya.

"Seperti ada yang ngikutin di belakang, Kang," kataku pada Kang Mamat.
"Iya, Kang. Kayaknya sih gitu." Iyom menimpali.
"Enggak. Enggak ada apa-apa." Kang Mamat terus berjalan tanpa menoleh.
"Bukan babi hutan kan?"
"Ah, bukan Neng. Dekat air terjun mah nggak ada babi hutan."
"Tapi babi hutan juga perlu minum atuh, Kang." Iyom menukas.
"Bukan di sini minumnya!" Bentak Kang Mamat kesal. Kelihatannya ia tak ingin membuatku cemas.

Lalu gemuruh air terjun terdengar lebih keras. Satu tanjakan lagi dan kami sampai.

Tidak pernah sia-sia datang ke tempat ini. Air terjunnya memang tidak tinggi dan debit airnya tidak terlalu besar. Namun tak banyak orang yang tahu tempat ini. Rasanya seperti berada di sebuah dunia khayal.

Rijal, Iyom dan Kang Mamat membuka bekal. Ibu membungkuskan kami nasi di rumah tadi.
"Neng, makan!" Rijal melambaikan tas bekal padaku.
"Iya nanti. Mau jalan-jalan dulu."

Di dekat situ ada sebuah ceruk, mirip gua. Bukan gua yang sebenarnya. Aku pernah menemukan sarang kucing hutan di semak-semaknya. Waktu itu ada tiga ekor anak kucing yang tidur menunggu induknya. Apakah mereka masih di sana? Atau sudah ada keluarga binatang lain yang tinggal di sana?

Ternyata tak ada apapun di ceruk itu. Anak-anak kucing itu pasti sudah besar dan terpencar-pencar sekarang.

Srek. Krak.

Eh? Aku menoleh ke belakang. Samar-samar kudengar senda gurau ketiga temanku dekat air terjun.

Srek. Krak.

Suara dahan kering terinjak. Lalu gerumbul semak bergerak-gerak dekat pepohonan. Tiba-tiba kulihat mata merah itu muncul lagi, tak jauh dari tempatku berdiri. Macan? Babi hutan?

"Aaaaaaah!!!! Aku berlari ke arah air terjun.
"Ada apa Neng?" Kang Mamat menghunus goloknya.
"Ada yang ngeliatin tadi di situ!" Aku menunjuk ke arah sesemakan tempat mata itu muncul. "Matanya merah."
Kang Mamat menghampiri tempat itu.
"Topa! Keluar kamu! Si eneng takut nih!"

Sesemakan itu bergerak-gerak, lalu sesosok manusia berpenampilan aneh muncul.

Laki-laki itu sudah tua. Rambut dan jenggotnya yang panjang awut-awutan sudah putih dan abu-abu. Wajahnya cekung dan penuh kerut merut. Ia memakai kemeja yang cabik-cabik, sangat kotor dan tak dikancing. Celananya pangsi hitam seperti celana petani yang penuh lumpur kering. Tubuhnya sangat kurus, melengkung agak bungkuk. Dari jarak sekian meter, bau tubuhnya yang apak tercium menyengat.

Iyom dan Rijal sama tercengangnya dengan aku.

"Itu siapa?" Rijal bertanya.
"Topa."
"Topa yang mana? Yang itu...?" Pelan-pelan wajah Rijal dan Iyom menunjukkan pemahaman.
"Topa siapa sih?" Tanyaku. Satu-satunya orang yang belum mengerti.

Namanya Mustopa, kata Kang Mamat. Ia menceritakannya sambil kami duduk di pinggir air terjun dan makan bekal. Puluhan tahun yang lalu, waktu masih kecil ia dibawa ke bukit ini oleh orangtuanya yang bergabung dengan para pemberontak Darul Islam. Keluarganya dan keluarga para pemberontak DI/TII lainnya bersembunyi di hutan-hutan sekitar situ menghindari penyergapan TNI.

Suatu hari dalam sebuah operasi besar-besaran, TNI berhasil menyergap para pemberontak itu. Keluarga Topa tewas terbunuh dalam baku tembak. Seluruh pemberontak yang masih hidup digiring turun untuk diadili. Tampaknya Topa bersembunyi dan tertinggal. Sejak itulah ia hidup seorang diri di hutan-hutan di perbukitan itu. Ia menjadi bisu dan makan apa saja yang bisa didapatkannya di dalam hutan.

"Kadang-kadang kalau bertemu dengan pencari kayu bakar, ia diberi makanan atau pakaian," kata Kang Mamat. "Penduduk sekitar Pasir Wangi merasa kasihan padanya. Soalnya Topa baik. Ia sama sekali tidak gila dan tidak pernah mengganggu orang."

Aku menoleh ke arah pepohonan. Memandang iba pada laki-laki tua yang duduk di sana memperhatikan kami. Bungkusan nasi yang kami berikan padanya tergeletak dekat kakinya. Sudah kosong.

"Sebenarnya ia masih punya sanak famili. Penduduk desa yang diam di sekitar Pasir Wangi dulunya banyak yang keturunan para pemberontak yang sudah insyaf. Tapi tampaknya si Topa lebih suka hidup di hutan."

"Kalau tahu, dari rumah bawa pakaian bekas buat dia..." kataku. "Kalau malam pasti dia kedinginan."
"Ah dia mah sudah biasa, Neng."
"Kok aku baru liat dia sekarang? Dulu sering ke sini sama Ayah, dia nggak pernah ada."
"Dia kan suka pindah-pindah. Dari hutan ke hutan dan bukit ke bukit. Perbukitan di sini kan luas. Lagian dia cuma muncul sama orang-orang yang paling sering dia lihat. Saya kan sering ke sini, Neng."
"Oh pantas. Yom, masih ada nasi bungkusnya?" Tanyaku pada si pembawa perbekalan. "Kasih lagi. Kasihan."
Iyom melemparkan beberapa bungkus nasi yang masih tersisa pada Topa yang membawanya pergi ke balik semak.

Ketika kami beranjak pulang, Topa tak lagi terlihat di dekat kami.

"Ssst... kerajaan jin!" Iyom berbisik lagi ketika kami melewati padang rumput yang tadi.
"Berisik!" Sentak Rijal sambil melirik Kang Mamat yang berjalan di depan. Pasti takut kena marah lagi dia.
"Grok. Grok. Grok."
"Kamu teh ngomong apa?"
"Grok. Grok. Grok."
Kami semua menoleh pada Iyom. Iyom balas menatap kami. Lho, bukan dia yang bersuara tadi?
"Grok. Grok. Grok."
Kami saling pandang.

Lalu sayup-sayup terdengar gonggongan anjing di kejauhan. Anjing-anjing pemburu babi hutan. Arahnya mendekat ke arah kami.

"Cari pohoooon!!!"

Kami lari berpencar, memanjat ke pepohonan terdekat. Fyuh! Nyaris!


Image and video hosting by TinyPic

21 comments:

denny said...

widih,,,

eh, emang kau bisa manjat pohon gt??
:P

atau kalian pose cheerleader gt?

jadi pengen kesana mok,
ayok mok,
ayok...

Enno said...

manjat pohon? bisa... waktu blm gendut.

hihihi

ke sana hrs pas menjelang musim kemarau... debit airnya msh ckp byk, tp jalanannya udah ga licin krn udah jrg hujan

ayo aja kalo kau pengen nyobain diseruduk babi hutan

:P

Azhar said...

air terjunnya ada di daerah mana??

pengen nenda disana hehe

Apisindica said...

ikut..ikut..ikut.... hehehehe

mau maen ke curug (air terjun, sunda red) bareng mbah enno.

Enno said...

@azhar: ada zhar, deket kampung gue. mau nenda? ati2 putri jin yg juling blm dpt suami lho haha

@apis: hayu atuh! :D

Brokoli sehat said...

No, hayu atuuuh. Kita berpiknik disana. Jangan lupa ajak denny, aku mau minta gendong dia kalo ada tanjakan-tanjakan gituuu

denny said...

heh,,,
sebut2 nama mbah secara gak sopan..
nanti surip bisa bangun,,
gendong gendong orang sekampuang ...

Reza said...

Wah... masih ada Tarzan ya di Indonesia ? Keren sob...

Elsa said...

babi hutan? kenapa gak ditangkap saja? jual di papua sana, kan mahal! heheheheheheee

Me^Mey said...

kok jadi sedih bin miris ya baca kisah mustopa. mungkin dia adalah manusia yang masih murni ya... gak terkontaminasi sama racun dunia. hiihihihhhi.....

BrenciA KerenS said...

mbak kalo kesana boleh pake highheels ga'?? hehehe

pengen banget bisa maen dan berendem di aer terjun.. seger banget pasti

attayaya berwisata riau said...

lariiiiiiiii
cari pohon juga ahhhh

ceritanya asiiik

Pohonku Sepi Sendiri said...

kasian sama mustopa, sendirian kan sepi.. ;(
nice story, mbak.. :)

Arman said...

tadinya gua kirain topa ini salah satu jin nya... hehe.

ini berarti kisah nyata dari tarzan ya...

adhi said...

foto lokasi nya dung mbak..hehe..

wahh,,kok nyari pohon segala??takut diseruduk babinya ato takut anjingnya salah kira mbak??

hehehehe..

becanda2..

Bandit Pangaratto said...

yg bunyi grok grok itu babi hutan apa anjing pemburu babi hutan?
Klo babi hutan berarti enak donk nonton dari atas pohon, pertarungan anjing dan babi hutan..

seruuu..
heheheh



*Issshhhh, saya jadi pernah ingat di kampung dulu pernah di kejar babi baru beranak, aku dan sepupuku memanjat pohon jarak yang cabangnya harus diraih sampai ke atas... dan sampai di atas (tinggi sekali lho), angin kencang datang... berayun-ayunlah kami berdua... Untung kami memanjat pohon jarak yg berbeda...

"Bertahannnnn..."
"Hwaaa... hwaaaa...!"
"Jgn cengenggggg..."
Sementara si babi malah menggerogoti pohon jarak itu... ku ambil biji jarak melempar itu babi dan anak"nya, makin beringas dia,,, bah.... angin makin kencang, saya jadi takut bergelayutan, sepupuku dah panik...
"Sialll....!"
Dan akhirnya entah karena kelamaan nunggu, atau karena giginya babi itu dah gak kuat menggerogoti pohon jarak, dia pun berpaling... Gruss groksss greksss... diikuti anak"nya...


Kami berduapun lega...
Mulai saat itu, kami tak mau lagi mencuri alpukat nenek kami, kami berdua pergi minta maaf... :D

Henny Y.Caprestya said...

weits..jangan salah panjat pohon mbak.
lagian jangan-jangan anjingnya bisa panjat pohon juga. nah loooo..

Eka Situmorang-Sir said...

Weleh...
pasti udh salah sangka dikirain si Topa ternyata oooh ternyata...
No, skr gue suruh lu manjat pohon kayaknya gak bisa.

Pasti itu bisa manjat pohon krn kepepet doank :p hehehe

Aneka Tips said...

Hahaha ada-ada aja, jangan manjet-manjet ntar jatuh lho, saya sedih deh :D hehehh canda.

Gogo Caroselle said...

aih aih, ceritanya seruuu
gogo mau ikut mba!

Enno said...

@brokoli: hihihi... denny disuruh gendong babi hutannya aja :P

@denny: oh baru tau kau ngefans sm mbah surip... katanya sm MO... gak konsisten!

@reza: haha iya tarzan indonesia :)

@elsa: aku malah jd inget obelix dan asterix haha

@meymey: gini nih kalo ngefans sm the changcuters... racun dunia disebut2 :P

@brencia: pake sandal jepit malah... tapi aku ga pernah berendam disitu mbakyu... takut ada ular air :P

@attataya: manjat yg tinggi ya! :)

@pohonku: kesepian seperti pohonmu kah? :)

@arman: iya ini sejenis tarzan man :)

@adhi: ah manjat pohonnya cuma iseng aja kok hehehe :P

@bandit: hahahaha *ngakak* kualat dari nenek ya... :D

@henny: manjat pohon itu menghindari babinya hen :P

@eka: iya bener... lu tau aja deh ka! :D

@aneka tips: kan dibawahnya dipasangin kasur pegas hehe

@gogo: mau ketemu babi hutan juga? :P

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...