Tuesday, May 10, 2011

Tea Cake Suatu Sore

: kolega saya, Malik


Kamu selalu bertanya, kenapa saya tidak pernah mau diajak bikin conference di messenger bersama dia dan teman-temannya. Saya selalu bilang silakan saja. Saya tidak ikutan. Saya sedang malas. Saya terburu-buru. Saya cuma online sebentar. Dan seribu alasan lain yang selalu saya karang dengan mudah.

Dan kamu hanya bilang: kumat.

Saya tahu maksud kamu. Kamu, dan beberapa teman kita, selalu bilang saya cenderung suka pilih-pilih teman. Saya akui itu benar. Saya memang mudah bergaul, tapi untuk menjadi 'teman saya' tidak terlalu mudah.

"Apa karena dia cewek?"

Kamu ada benarnya. Mungkin karena dia perempuan, dan saya lebih pilih-pilih lagi berteman dengan perempuan. Kamu sendiri sering mendapati saya tiba-tiba mengambil jarak dengan seorang kenalan perempuan setelah sekian lama bergaul dengannya. Itu karena saya mulai merasa tidak nyaman. Karena saya merasa pertemanan itu malah mengganggu sanubari saya gara-gara 'keperempuanannya' itu. Kamu mengerti kan maksud saya? Segala hal tentang iri hati, cemburu, gosip, mulut ember dan menyerang di belakang.

Kamu, yang bertahun-tahun berteman dengan saya, tahu benar bahwa sesungguhnya saya soliter. Bahwa saya lebih nyaman berkurung di kamar untuk menulis, membaca atau main games PC. Hanya kucing saya yang saya perbolehkan menemani saya. Biasanya kamu akan pulang lagi dan kembali beberapa jam kemudian.

Saya memang 'agak aneh'. Begitu kan katamu dulu? Kontradiktif, kata Francis, teman kita yang sok analis itu. Di satu sisi saya mudah bergaul, bahkan dengan pemulung atau tukang parkir. Tapi di sisi lain, tak semua orang saya izinkan menjadi lingkaran dalam.

"Mungkin ada hubungannya waktu kamu di-bullying geng sekolahmu dulu itu?" Francis lagi-lagi menganalisa.
"Nggak ada," sahut saya. "Dulu aku merasa baik-baik saja kok. Ada banyak teman yang selalu melindungi aku. Dan aku nggak merasa di-bullying meskipun anak-anak cewek itu memang menyebalkan banget."
"Mungkin karena terlalu banyak dikecewakan orang?"
Saya menggeleng. Saya bukan pendendam. Apapun yang pernah saya terima dari orang lain, seburuk apapun keadaannya, saya ikhlaskan.
"Trus kenapa ya?" Francis mulai geleng-geleng kepala.
Kamu tertawa. "Ya karena emang gitu sifatnya dia. Ngapain juga lu pake sibuk mikirin?"

Ya Mal. Mungkin memang begitulah saya. Jadi kenapa juga kamu heran kalau saya suka menolak ajakanmu untuk conference chatting dengan dia? Saya hanya merasa tidak nyaman dengannya. Mungkin saya terlalu sensitif atau mengada-ada, tapi saya tak bisa menghilangkan kesan bahwa dia memakai topeng. Dia tidak menjadi dirinya sendiri di depan kita, Mal.

Ingatkah kamu, saya pernah bilang, saya tidak suka orang yang suka mengumbar pujian ketika yang diharapkan darinya sebetulnya hanya sekedar komentar biasa. Saya risih setiap bertegur sapa dengannya selalu dihujani pujian dan julukan 'sayang.' Saya cuma butuh sekedar 'apa kabar' atau 'senang bertemu kamu lagi', atau 'aku kangen' pun bolehlah. Meski itu sekedar basa-basi.

"Ah, sikapnya yang kayak gitu manis kok," sergahmu.
"Itu memang manis. Manis yang hanya di mulut. Coba bayangkan, waktu kamu cerita kamu baru aja beli mobil seken yang harganya lebih murah dari pasaran gara-gara kamu sekuat tenaga menawar, apa yang dia bilang? Dia bilang: 'Malik, you look so cool di balik setir itu!' sambil cekikikan. Sementara kami justru mengomentari keberuntungan kamu bisa dapat harga semurah itu. Artinya apa? Dia nggak sungguh-sungguh tertarik pada topik itu. Dia cuma asal cuap!"
"Waktu si Enno dapet bonus dari kantor gara-gara berhasil dapet informasi penting untuk investigasinya, kita semua rame-rame pengen tahu gimana caranya ngorek info itu dari sumbernya. Si dia malah jejeritan: Aw! Enno, you're amazing!" Francis ikut-ikutan.

See? Francis saja hapal.

Mal, please jangan suka memaksa saya conference dengan siapapun karena saya memang tidak suka conference. Saya lebih suka mengobrol person to person. Karena dari sering conference itu akan menjadi kubu, atau saya lebih suka menyebutnya 'geng.' Karena saya tidak suka menjadi bagian dari geng.

Bukan semata-mata karena saya suka sendirian. Tahukah kamu Mal, konsekuensi dari simpul pertemanan seperti itu mengerikan? Jika diantara mereka ada gesekan atau perpecahan, maka permusuhannya akan lebih sengit. Jika diantara mereka ada ketidaksukaan atau kesalahpahaman, maka mereka akan saling membicarakan di belakang yang bersangkutan. Itu akan menjadi bisul yang sangat nyeri kalau pecah.

Kita kan tidak bisa menjamin persahabatan akan selamanya bukan, Mal? Tak sesuatupun di dunia ini akan berjalan sempurna.

Apakah saya terdengar seperti orang yang apatis?
"Iya," sambar Francis sambil mengunyah tea cake dengan rakus. Seolah-olah hari ini saya membuat cake itu untuk dia seorang.
"Ya terserah. Memang beginilah saya."
"Tapi aku belum mendapatkan kesimpulan yang jelas kenapa kamu tidak suka dia, No."

Satu lagi alasannya kalau begitu, Mal. Saya tak tahan melihat kesukaannya pada kosmetik dan aksesoris. Dia membeli begitu banyak kosmetik sampai tidak terpakai lalu menjualnya lagi  atau membagikannya pada teman-temannya.

Uang yang dia hamburkan untuk kosmetik itu bisa memberi makan dua anak gelandangan selama beberapa hari, Mal. Dan untuk apa dia memerlukan begitu banyak kosmetik di wajahnya? Untuk membuat topeng yang lain?

"Kamu sinis, No..." Francis berkomentar.
"Hey, habis dong kuenya! Malik aja baru makan satu!" Saya meninju bahunya yang lebar.
"Kalo dia denger, pasti dia akan bilang suka-suka dia. Kan belinya pakai uang dia."
"Orang yang belum pernah melihat ke bawah, turun ke bawah, melihat sendiri realita di level bawah, selalu mendapatkan apa yang diinginkannya sejak lahir, dan tidak pernah merasa kelaparan memang akan bilang: suka-suka gue. Duit juga duit gue."
"Huh! Susah ngomong sama jurnalis yang sekolah hukum. Pinter ngomongnya dobel."

Mal, saya cuma mau kamu janji. Jangan mengganggu saya dengan permintaan conference lagi dengan mereka. Saya nggak minat.

"Kumat."
"Kan elu tadi yang bilang si Enno emang gitu sifatnya."
"Iyaaa... tapi itu kuenya sisain! Gila lu Frans, diabisin sendiri! Siniin piringnya!"

Tea cake. ngiler kan? ^^

Image and video hosting by TinyPic

17 comments:

Isti said...

saya juga kurang nyaman sama teman yg suka gosip, iri,dan bla bla lainnya..rasanya lebih enak sendirian di dpn kompi...

gloriaputri said...

aq cewe lo mba :) tp mau to berteman sama aq? mau ya, mau ya? #maksa_bawa_golok
hahahhaa....aq jg kadang males temenan sama cewe....wkwkwkwk...bs diitung yg bener2 temenku yg cewe.....asikan teman2 cowo, kayak km mba (loh? hahaha)

Adhi Glory said...

kirimin dong tea cake nya... via YM, hehe! :p

maya said...

huahaha... aku mgt penderitaan km no. beberapa cewek memang lbh nyaman berteman dgn cewek berjiwa cowok ato dgn cewek sekalian dan bbrp yg lain sebaliknya.

mm, kalo aku: aku suka manusia, tapi aku lebih cinta alam ;)

maya said...

eh ada yg salah ketik, mksdku
"... dengan cowok sekalian dan bbrp yg lain sebaliknya."

Betawi Banget said...

nay asli begini adanya lho mbak... gak pake topeng gak pake kosmetik banyak2.. soalnya gak mampu beli topeng...hhehehe
naya = apa adanya ^___^

Btw.....mau donk cakenye mbak, lumayan buat empan cacing...xixiii

Enno said...

@isti: haha klo temennya rese ya mendingan bengong sendirian aja dpn kompi :)

@glo: *terpaksa mau drpd disabet golok si pitung* :))

@adhi: seandainya bisa, kukirim deh sama loyang2nya via YM hahaha

@maya: aku sih gak anti sama temen ce, byk jg kok temen2 ce-ku...cuma emang suka jaga jarak klo ada yg gelagat rese :P

@naya: oh itu mata belonya asli ya, bkn topeng mata gitu? hehehe...

Wuri SweetY said...

Disini ujan seharian, libur ga pny cemilan jd ngiler dech ma cakenya.
Emang susah ya cari temen cewek kl ga bnr2 klop koq jarang ya bisa awet...?shbt cewekku jg bisa diitung tuch.

Arman said...

mungkin gak ada udang dibalik bakwan, kenapa si malik (walaupun udah tau kalo lu gak suka) tapi tetep suka maksa ngajakin lu conference ama temen2 ceweknya? mungkin dia suka cewek tipe elu dan mau nunjukkin ke temen2 cewek yang lain kalo nih lho harusnya kalian bersikap kayak dia. atau mungkin dia ada hati ama lu dan sengaja aja mau ngegodain lu pengen ngeliat lu ngomel2? hihihihi

Fenty Fahminnansih said...

kamu memang kontradiktif jeng enno *sotoy* hehehehe, coba sampai sekarang mana pernah wajahmu terpampang di blog, never xD *ini curhatan curious* hahahaha

gloriaputri said...

hahahahha....golok gloria mbaa...namaku bukan pitung :P
hehehhee...gelagat rese yg dimaksud contohnya gmn mbaa? klo aq tiba2 jd fans tulisanmu gag rese kan? xixixixii....
*berani bilang rese, gak aq ajak ke gedong songo*

l i t a said...

Kalo aku punya banyak temen perempuan, tapi sekadar aja gaulnya. Waktuku habis untuk kerja, nongkrongin lappy, nulis, dan ngeblog. Aneh emang, tapi aku nyaman dengan duniaku sendiri. Baca tulisan mbak Enno, aku agak lega, karena ternyata ada juga yang punya hobi sama ma aku. Kirain cuma aku aja sendiri. Hihihihi...

chiekebvo said...

kalo yang kaya gitu seh..udah masa lalu mbak..bertambah umur harus bisa lebih bijak donk.. *ebusett ngomongnya :P *

Hans Brownsound ツ said...

ennoooo.. you're so me! :D aphatetic, contented with solitary place, can be so friendly but choose anyone who can we consider as friend, and the most important one, dont care about what people say.

toss dulu!

Enno said...

@wuri: mau? kukirim ke jepang deh cakenya hahaha

@arman: hahaha udah pny bini dia mah... kyknya emang pengen usil bikin gw bete deh... temen2 co gw mah suka gitu :D

@fenty: hehehe... tar dimintai foto bersama dan dicolek2 kyk briptu norman. ogah ah! :))

@glo: hehe nginep di lawang sewu yuk :P

@lita: oh sama tho? hahaha...

@chie: ebuset tumben bijaksono hahaha

@hans: wah wah ini satu lg yg seaneh gue! iya toss ah! :))

Mimi sikembar said...

pusing kalo harus ngomongin pertemanan mbak, aku bagi kuenya aja deh.. *lapiler :9

gloriaputri said...

hahahaha...km aja mba e yg nginep disana...aq sih ogahh soalnya yg dl ikutan dunia lain disana kabarnya meninggal seminggu setelah uji nyali...meninggalnya gag jelas pula....hiiiiiiii

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...