Saturday, April 2, 2011

[Kisah Abe] Prelude

Saya tidak pernah suka OSPEK atau apapun namanya acara konyol perkenalan sekolah untuk murid-murid baru ini. Sejak saya tahu bahwa acara ini melelahkan dan mengerikan, karena kakak-kakak kelas sok galak dan sok kuasa itu bagaikan memperbudak kami.

Kami harus memakai aksesoris yang aneh-aneh, punya nama julukan yang aneh-aneh, membawa bekal makan siang yang aneh-aneh, melakukan hal yang aneh-aneh dan memalukan. Bahkan lagu-lagu yang mereka ajarkan juga liriknya aneh.

Cuma satu yang membuat saya bertahan sejak hari pertama acara gila ini: cowok tinggi bermata sipit yang pendiam di sana itu. Yang duduk saja mengawasi kami dikerjai para kakak kelas yang gila hormat.

Cowok itu keren sekali dalam diamnya. Berkarisma. Suatu kali saya melihatnya sedang bergurau dengan teman-temannya. Ia tertawa dengan suara yang lepas dan renyah.
"Namanya siapa sih kakak yang itu?" Tanya saya pada Rini, sesama murid baru yang sejak hari pertama akrab dengan saya.
"Itu? Yang tinggi itu? Namanya Kak Alex."

Saya tak mengira hari itu akan datang. Hari di mana saya akan menatap langsung mata kakak yang keren itu. Satu-satunya panitia OSPEK yang tidak sok kuasa dan mengerjai anak-anak baru. Sayangnya, peristiwa yang mengawalinya sungguh menyebalkan.

Hari itu, hari terakhir OSPEK, topi saya hilang. Saya sibuk mencari-carinya sejak istirahat makan siang sampai bel berbunyi lagi, tanda kami harus berkumpul di lapangan. Topi itu tak kunjung ketemu. Saya mulai panik, sementara anak-anak lain sudah mulai berbaris di lapangan. Saya masih saja menunduk-nunduk mencari topi.

Tiba-tiba ada suara menggelegar di depan saya.
"Kamu nyari ini ya?"
Saya mendongak dan melihat Kak Hedy, panitia paling galak sedang menatap saya sambil mengacungkan sebuah topi di tangannya. Saya menatap ngeri. Itu topi saya! Kenapa bisa dia yang menemukannya! Saya pasti disiksa!

Benar saja. Ia berseru pada teman-temannya sesama panitia yang semula sudah berada di lapangan. "Hey panitia! Kesini! Ada anak ceroboh disini!"
Sebagian panitia berdatangan menghampiri kami.
"Ada apa Hed?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Liat nih, anak ini nggak bisa ngejagain barang miliknya sendiri. Nggak bertanggung jawab. Gimana bisa jadi murid sini kalo ceroboh." Topi saya diputar-putarnya di tangannya. Hedy juga tinggi seperti Alex. Badannya begitu menjulang di depan saya.
Saya gemetar. Jangan salah sangka. Saya bukan gemetar takut, melainkan marah. Sejak kecil berteman dengan cowok tidak akan membuat saya gentar untuk menonjok orang yang menyebalkan seperti dia, seberapa besar pun badannya. Tapi sayangnya ini bukan di rumah. Ini di sekolah. Dan saya hanya murid baru.

"Kamu mau topi kamu dikembaliin kan?" Tanya Hedy sambil menyeringai sinis. "Mau nggak?" Bentaknya.
"Mau, Kak."
"Jawab yang keras! Lembek banget sih kamu! Udah makan belum sih?"
"Mau, Kak."
"Bego! Pertanyaan saya tadi udah ganti. Saya tadi tanya udah makan belum!" Ia membentak lagi. "Coba liat nih," katanya sambil memandang para panitia yang lain. "Anak bego kayak gini mau jadi murid sini! Kenapa topi ini bisa hilang?" Hedy mengacungkan topi saya di depan hidung saya. "Jawab yang keras!"
"Saya nggak tahu," jawab saya.
"Heh! Kok nggak tahu? Jawab yang betul! Kenapa bisa hilang!"
"Jatuh kali," jawab saya.
"Eh, jawab yang sopan ya! Anak baru aja udah belagu. Mau nantang?"
"Kan udah saya bilang nggak tahu. Mana mungkin saya tau topi itu bakal hilang. Saya bukan peramal."
Si Hedy tambah melotot. "Heh! Beneran ni anak nantangin gue!"

Saya angkat bahu. Sengaja menantang memang. Melawan. Dia pikir siapa dia membentak-bentak dan mengerjai saya. Memangnya saya tidak tahu hakekat OSPEK ini untuk apa? Bukan untuk gagah-gagahan panitia kan? Memangnya saya bakal takut? Saya ini besar di kompleks tentara, sudah terbiasa mendengar tembakan meriam dan senjata api, pernah ikut naik tank dan helikopter Puma. Ngapain takut sama bentakan dia. Toh kami sama-sama murid. Saya cemberut.

"Sekarang juga kamu push-up! Push-up!" Bentaknya sambil mendorong saya. "Push-up 50 kali, skotjam 50 kali!"
Saya menepis tangannya yang mendorong-dorong saya. Mata saya mulai panas dan berair. Ya, saya ingin menangis karena terlalu marah. Marah karena dipermalukan di depan banyak orang dan frustasi karena kalau saya memutuskan menonjok orang ini, saya pasti akan dipanggil kepala sekolah, dianggap berkelahi di sekolah dan itu akan sangat memalukan.

Saya mulai terisak-isak.
"Udah deh Hed, kayaknya lu udah keterlaluan deh." Beberapa panitia cewek mulai berkomentar.
"Dia yang ngelawan duluan. Udah gitu malah nangis. Udah bego, cengeng lagi!" Ejek si Hedy.
"Udah, kasihin topinya, Hed," kata Kak Indah. Saya ingat namanya, karena ia termasuk panitia yang baik pada murid baru. "Anak orang lu bikin nangis. Kasian tau. Cuma topi jatuh aja elu besar-besarin."
"Nggak segampang itu dong, tetep aja harus dihukum." Si Hedy ini sepertinya memang maniak. Sungguh menyebalkan mengingat tampangnya dulu itu, bahkan ketika saya mengingatnya selagi menulis ini.
"Iya Hed, lu udah keterlaluan bikin anak ini nangis." Akhirnya beberapa panitia mulai berkomentar.

Tiba-tiba, seseorang menyeruak dari kerumunan panitia. Menyambar topi itu dari tangan si panitia sinting dan memasangnya di kepala saya dengan lembut.
Saya tengadah dan melihat wajahnya yang serius. Alex. Kak Alex!

"Lex, lu apa-apaan sih!" Si sinting protes.
"Udah. Cukup. Anak-anak lain udah nunggu lama di lapangan. Mau sampe jam berapa ngurusin yang beginian doang?"
"Ini urusan gue, Lex! Lu kan kebagian ngurusin lapangan!"
"Hed, adek lu juga anak baru kan? Si Evi, yang rambutnya dikepang itu? Lu rela nggak kalo adek lu juga kita kerjain?"
"Heh! Kenapa adek gue dikerjain! Awas lu!"
"Kalo lu nggak suka adek lu dikerjain, lu juga jangan suka ngerjain orang. Kalo anak ini punya kakak, pasti kakaknya juga nggak rela adiknya dikerjain."
"Iya bener. Lu suka keterlaluan kalo ngerjain anak baru, Hed. Mau adek lu dikerjain juga?" Ujar Kak Indah.
Saya tak mengira akhirnya saya dibela. Si Hedy sinting itu terdiam, mungkin karena takut adiknya dikerjai juga.
Lalu Alex menoleh pada saya dan tersenyum. "Ke lapangan yuk! Airmatanya dihapus dulu, nanti malu."
Kak Indah menggandeng saya ke lapangan, bergabung dengan anak-anak kelas satu lainnya. Mereka semua memandangi saya heran, karena di belakang saya panitia-panitia lain mulai beranjak ke lapangan juga.
"Di sana ada apa sih tadi?" Bisik Rini. "Lu diapain sama mereka?"
"Ntar aja gue critain."

Sejak itu saya mengagumi Kak Alex dan kegirangan waktu tahu kami memakai kelas yang sama dan meja yang sama. Saya selalu mengintip dia di balik jendela, kalau kelasnya belum bubar dan saya datang terlalu cepat. Hmm... atau saya sengaja datang terlalu cepat ya supaya bisa mengintip dia duduk di bangku kami? Hihihi

Kemudian saya tahu bahwa ada adik Kak Alex di kelas saya. Anak lelaki bertampang tengil yang super bandel dan suka menjahili saya.

Suatu hari di kelas, ia menarik-narik rambut saya dari belakang.
"Lu naksir kakak gue, ya?"

Dan kisah pun berawal.

............


"Alex pulang dan cerita ke gue, katanya ada anak baru, cewek, yang gokil banget berani ngelawan Hedy. Dia cerita gimana cewek itu melototin Hedy, nepis tangannya Hedy, terus nangis karena kayaknya pengen nonjok Hedy tapi nggak bisa."
"Maksud lu gue?"
"Iya. Elu. Dan ternyata gue sekelas sama elu. Kalo lu tanya sejak kapan gue suka sama elu, itu adalah sejak gue denger cerita itu dari Alex."

Saya dan Abe. 20 tahun.

_____________________________

Memori ini buat teman-teman yang mendesak saya via e-mail dan SMS supaya terus bercerita tentang Abe, yang membuat saya akhirnya membongkar lagi semua tumpukan diary lama itu. Hadoooh! Hahaha....

Masih tetap Yoo Ah-in, ikon untuk Abe ^^



Image and video hosting by TinyPic

23 comments:

Tisti Rabbani said...

Hai enno...
pa kabar...?

rupanya sedang bernostagia disini..
xixixixi....

omong2..picnya bikin aku lumer deeehh....^^

nindy said...

wow...ternyata mbak eno ini jagoan.. kalo saya udah nangis karena takut, bukan karena frustasi ga bisa nonjok orang.. :)

chiekebvo said...

mbak enno...you rock!!!!! :D :D
posting berikutnya tentang abe lagi ya... #FansAbe :))

amalia khoirun nisa said...

dari awal baca cerita mbak, aku tau dirimu pasti seganas ini. hahaha

aniwei, kok saya jadi galau,
mau jadi fans ka alex apa abe yaa?
hiks :(

mei said...

so sweeettt ennnooo...ga tau kok saya lebih suka denger cerita2 tntang abe ini daripada yang lain..mungkin karena yg jadi ikonnya gantengg banget..hahahhaa...sweet bgt kisah2nya enno..^^ nulis lagi yaaa..bongkar2 lg dong tumpukan diary lamanya..:D skr ga pernah ktemu lg sama abe?

Enno said...

@tisti: kabar baik... kamu jg pa kabar? haha pic-nya pacarku tuh... ypp ah-in darling wkwkwkwk

@nindy: haha gara2 bertemen sama co2 ya begitu tuh :P

@chie: hahaha ampun chi! masa aku hrs ngaduk2 diary lagi? capek deeeh :))

@lia: haha... ganas ya? kamu jd fans abe aja, krn dia ganteng seperti yoo ah-in. *teuteup..* LOL

@mei: haha kayaknya jd sweet krn pengaruh ikonnya ya? tapi si abe emang mirip dia kok.... iya, blm ketemu lagi si gantengnya haha... haduh, ada lagi yg nyuruh bongkar diary! tau ga, diaryku itu setengah lemari lho! aku nulis dari kelas satu SD! *garuk2 pala*

Apisindica said...

masih tentang Abe?!?!?!

pertanyaannya sama akh. Kapankah Abe akan bertemu dengan Pak Prabu dan Amira?? (diracuni pembantu yang setiap malam nontonin putri yang ditukar!)

niee said...

Waahh,,, Abe bahkan belum kenal saja udha suka tuh yak, hahahaha..

Terus klo ketemu Abe lagi gimana no? :D

Enno said...

@apis: hahaha ya ampuuun yudaaa...tolong ya tontonannya yg bermutu dikit! katanya peneliti dan periset, nontonnya sinetron emak2! hahaha tak kusangkaaa LOL

@niee: hmm klo ketemu lagi? peluk2an dan jitak2an kali ya hahaha,,, :D

Henny Yarica said...

hihihi..akhirnya cerita ini dilanjutin lagi. aku jadi ingat waktu ospek SMA, senior yang sok gagah malah bikin eneg. hahaha.

hayoo..ini pasti ada lanjutannya lagi kan mbak??lanjut! lanjut! lanjut! lanjut!

*gantiin encore :P *

Mei said...

Wahh dari kelas satu sd sampe skr? hebatt..haha..ya udah klo ga ktemu lg catetan tentang abe, nulis tentang kisah romantis waktu kelas 1 sd aja..hahaha..:D
Tiap hari aku pasti baca blognya enno nih, dan setiap postingannya pasti ninggalin kesan yang dalem gitu, keep writing ya enno^^

Arman said...

huahahaha enno... enno... malah sekarang cerita prequelnya ya... tapi menarik cerita2nya... gua jadi seneng ngikutin cerbung tentang abe... :D

btw, maapkan sebelumnya, ini pas kebetulan kebaca aja...

kalimat percakapan yang ini:
"Lex, adek lu juga anak baru kan? Si Evi, yang rambutnya dikepang itu? Lu rela nggak kalo adek lu juga kita kerjain?"

itu harusnya Hed kan... bukan Lex. Hedy yang punya adik namanya Evi. kalo Alex kan adiknya namanya Abe. bener gak no? typo ya?

tuh berarti gua ngebacanya gak fast reading ya no... menyimak gitu.. huahahhaa

gloriaputri said...

No, saya jg maw komen yg sama kayak arman...itu maksudnya adekknya hedy kan bukan Lex gt...tp uda diduluin arman yaudah deh, malah kbeneran gag perlu nulis panjang lebar...
waduh...koq sama kaya jaman aq ospek dl ya...nangis krn pengen nonjok tp gag sanggup takut kena masalah..hahha...aniwei, saya benar2 penasaran sama Abe niiii.....semoga kamu lekas menemukannya yaaaa :) ditunggu lg kisah Abe yaa (parah bgt fans nya abe...sampe mendesak via sms dan email, tar aq mendesak via twitter ahhhh,wkwkwk)
have a nice day No :)

Enno said...

@henny: haha... iya ternyata msh ada cerita2 yg tercecer... ya udah tar diselang seling nulisnya :)

@mei: kelas satu SD mana ada romantis2nya? hahaha...makasih ya sering mampir, kamu lg di china kan? take care :)

@arman: hahaha... jgn bilg klo lu ngefans sm abe ya man... wkwkwk.. thx ralatnya! waaah pembaca kayak elu ni yg gw suka, kagak fast reading! tengkyu ah.. *kongtow* :))

@gloria: iya udah direvisi kok haha... thx ya... iya ni pd maksa, sampe aku nyaris ketimbun tumpukan diary di lemari buat nyari2 ceceran cerita hahaha ampun deh! :))

maya said...

agak2 telat y gw. ibaratnya di bioskop, layar udah mau ditutup gw baru nongol. hehehe...
btw y, ni si abe yg lg gk sadar diceritain sm enno ternyata berhasil bikin banyak org penasaran sekaligus nge fans ya. aku percaya, itu krn enno yg lihai bercerita. coba kalo tidak, bakal lain lg ceritanya. hehehe..

juliati said...

waaaahhhhhh...so sweet dah mb enno ini...mantab *two thumbs up buat mb enno...emang tuh org2 yang gila hormat pantas diperlakukan kyk gt...btw kak alex heroic banget yak :D jd dilema kyk amalia mau jd fans abe apa kak alex *thinking mode on

Enno said...

@maya: hahaha kan katanya ga enak bodi, kok jalan2 dimari? hihi... iya ni, lg berpikir utk mendirikan fans club *lebay*

@juliati: waduh, ga usah pusing jul, ngefans dua2nya aja. ga ditarik iuran kok hahaha

gloriaputri said...

ketimbung tumpukan?? hahahahaha,...banyak ya diari nya??? wwkwkwkkwkwkwk......aq bantu nyari sini....sapa nama lengkapnya? tar aq cari di twitter n fb...hahahhaha....sungguh2 penasaran saya :))

gloriaputri said...

oiya....skrng akyu jd sensitif bgt denger kata Abe....ni barusan ada email masuk dari Friendster (beugh, jadul bgt), isinya Friendster Reminder Abe's Birthday is coming Up...hahahaha....malah lupa deh klo pny tmn friendster namanya Abe....hakakakkakakakkaa

kristiyana shinta said...

we want more,,
we want more,,
we want more,,

#fanatik sama Abe,,
ahahhaha

Enno said...

@gloria: wah mulai demam abe ya? hahaha

@shinta: tenang... tenang... akhirnya saya lembur utk bikin banyak draft 'kisah Abe' :))

Cindikya said...

halo kak, enno!:)
jadi ini cerita pribadi yak?

Enno said...

begitulah sepertinya :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...