Saturday, November 28, 2009

Yudas


Aku pernah percaya padanya.
Seperti aku percaya pada matahari yang tak pernah absen terbit dari timur.

Lalu seperti Yudas, ia berkhianat.

......

Aku masih ingat caramu memiringkan kepala ketika mendengarkan ia mengoceh tak jelas tentang sesuatu yang absurd. Ia sedang berkata, "Kita harus mulai berpikir out of the box. Kalau orang-orang sudah biasa mengambil langkah A, kita bisa mencoba langkah B." Dan kau mengangguk sambil menatapnya dengan terpesona, tak menyadari bahwa aku memperhatikanmu sejak tadi.

Kau masih saja memujanya ya? Atau itu rasa penasaran karena kau dulu ingin memacarinya tapi tak bisa? Tak bisa karena kau terlalu minder dan menganggap dirinya terlalu baik untukmu.

"Nggak nyangka ya, pemikirannya makin dewasa," katamu padaku setelah itu.

Aku menatapmu setengah jengkel setengah geli. Hanya sebatas itukah ukuran kedewasaan bagimu? Kau menyebutnya dewasa karena ia mengutip sebuah konsep yang dibacanya entah dimana dan diucapkannya berulang-ulang pada setiap orang yang mau mendengarkan. Hey, buatku, apa yang diucapkannya itu basi.

"Ya," gumamku. "Dan aku bodoh seperti biasanya."
Kau tak bisa memungkiri fakta, bahwa disadari atau tidak, kau selalu membanding-bandingkan kami.

Pintar, pintar, pintar. Kamu selalu memujinya begitu. Lalu bagaimana aku? Bodoh? Kekanak-kanakan? Hanya karena aku lebih suka membicarakan foto, gunung, kucing-kucing dan buku-buku bagus. Hanya karena aku lebih suka memilih topik sederhana dan kelihatan tak punya konsep keren?

Aku kan memang tidak pernah cerita soal berdebat dengan panglima armada TNI AL tentang pengamanan pulau-pulau perbatasan. Aku tidak pernah cerita soal berdiskusi dengan Menteri Lingkungan Hidup tentang illegal logging. Oh, aku juga tidak pernah cerita sering hadir di acara kajian politik yang diadakan kepemudaan sebuah partai.

Yang seperti aku, kau menyebutnya apa?

Kau mungkin akan bilang bahwa aku cemburu. Katakan itu di depanku dan aku akan terbahak-bahak sampai mati. Aku tidak cemburu. Aku cuma mau memberitahumu, bahwa selama ini aku lebih mempercayainya daripada orang lain. Aku menceritakan segalanya karena kupikir ia akan mengerti dibandingkan yang lain. Kau bahkan tak tahu, aku menyayanginya lebih dari Ussy, kakakku sendiri.

Kupikir ia berbeda. Kupikir ia akan membelaku seperti aku membelanya selalu. Ternyata aku salah. Ia sama saja dengan mereka. Tukang gosip, tukang usil. Dan ia menertawakan aku di balik punggungku setiap aku bercerita tentang kisah cintaku.

Ia juga menganggapku gila.

Tetapi mungkin kau tidak peduli ya. Aku bilang padamu bahwa ia menertawakanku. Kau dengan ringan berkata, "Tak usah kau pusingkan hal itu. Dunia kalian kan berbeda."

Dunia kami berbeda? Bahwa ia ikan bandeng di tambak dan aku ikan badut di laut? Bahwa ia burung yang terbang di langit dan aku keong yang melata di tanah? Bahwa ia mahluk bumi dan aku alien? Bahwa ia manusia dan aku jin?
Dunia yang berbeda katamu? Padahal kau tahu kami selalu bersama-sama seperti laut dan ombak, awan dan hujan, lebah dan madu.
Aku yakin kamu akan mengatakan hal yang sama, sekalipun aku datang padamu sambil menangis karena kecewa pada si pintar itu.

Oh ya. Jelas. Akhirnya kuakui kalau ia memang pintar. Pintar membuatku kelihatan buruk. Belum cukup menertawakanku di belakang, ia mengatakan hal-hal yang tidak benar pada orang-orang yang sudah sepatutnya ia tahu akan menyebarkannya lagi pada yang lain.

Gara-gara itu, mereka lebih menghinaku lagi. Lebih menyudutkanku lagi. Mengatai aku tak tahu diuntung dan sebagainya. Gara-gara itu aku bertengkar dengan ibuku. Gara-gara itu hidupku jadi 'lebih indah dan penuh warna'.

Well, thanks to her!

Apa? Aku marah? Tidak. Aku tidak marah. Biarkan saja ia begitu. Anggap saja apa yang dilakukannya untuk membayar jasanya padaku atas segala bantuannya di masa lalu. Meskipun tetap saja ia tidak berhak berbuat begitu. Dan kau tahu apa yang paling menyakitkan setelah semua yang dilakukannya? Sulit sekali untuk membencinya.

Kau tetap akan memujanya sepanjang masa ya? Kalau begitu jangan selalu menanyakan kabarnya padaku di setiap kesempatan, aku bukan baby sitternya. Dekati saja sendiri.

Ambil, bungkus, bawa pulang!


Image and video hosting by TinyPic

32 comments:

denny said...

wah ada barang gratisan..

ambil bungkus bawa pulang tak perlu bayar


asoyyy bah
sayang barang second
udah gitu agak eror pulak ya..
jadi hilang selera bah..!!

hahahha

Enno said...

kusarankan sih emang gak usah kau ambil! gak mutu soalnya!

:P

denny said...

*ngakak guling2..

emang gilaaaaa

Pohonku Sepi Sendiri said...

Sabar ya mbak enno.. Org sabar kan disayang Tuhan, hehe.. eh, ini real story ya mbak?

Sudah, biarkan saja dia dgn segala tingkah lakunya.. Akupun jg pernah dikhianati, bahkan oleh org yg msh sedarah dgnku.. but that's life, shit happen everyday.. Hehe..

Tetap semangat ya mbak.. :)

enno said...

@denny: iya aku emang udah dicap gila gara2 si kupret itu :(

@pohonku: iya mesti punya persediaan sabar segunung :)

Elsa said...

ada gak sih, jaman sekarang, orang namanya Yudas? kayaknya gak ada ya?? kasihan nama itu, identik dengan pengkhianatan....

Apisindica said...

aku suka postingannya, setidaknya ada 3 kata yang menggambarkan diriku: yudas, lebah dan madu. hahaha

Sabar buuuu, kadang kita hanya bisa menghela nafas panjang ketika selalu dibanding-bandingkan. Apalgi dibandingkan oleh orang yang sudah tertutup matanya terlebih hatinya. Hehehehe.

enno said...

@elsa: kayaknya jaman skrg udah gak ada yg pake, sa... nama itu terlalu identik sama pengkhianat...

@apisindica: ohoho... iya ada lebahnya ya.... btw yg bikin aku marah bkn soal dibanding2kan, tapi soal fitnah dan pengkhianatannya :(

Jeanne said...

wah... the other way to express anger... bravo!!! :))

Enno said...

ih jeanne, lagi marah malah dikasih bravo!

:P

-Gek- said...

Iya ya, ngapain juga musti nanya2 Mbak, bikin hati panas ya Mbak?
Jangan2 Mbak cemburu..
(lhaaa.. kok gek malah manes2in.. hahahahha!)

*kabur*

Alil said...

manstap...
padet banget closingnya...

*alil ngebayangin enno kalo lagi PMS... hihihi...

Clara said...

uh, keren~

memang ukuran dewasa itu kayak gimana ya mbak?
*masih mencari jati diri*
jiahahahah

QueeniieAngeLa said...

#kasih-pisau-ke-mbak-enno

habisin mbak, biar selesai masalahnya.

huahahahaha. becanda ding! :p

udahlah mbak biarin aja. gak usah diambil hati. yang tau kualitas kita kan hanya Tuhan dan diri kita sendiri yang tau.

mutiara bagus akan tetap kelihatan walaupun dipendam di tengah lumpur sekalipun! :p

so, just get up! dress up! and show off! :p

Gendhis said...

Mbaaaaa, marah2 aja bisa keren gini tulisannya??!! Aku sukaaaa.... :D

wendra wijaya said...

Kemarahan yang baik, heheeeee...

Arman said...

waduh, kalo gua jadi elu sih gua udah gak mau temenan ama itu orang lagi... :P

masih banyak temen yang lain kan... :D

abeng beng /arjopedal said...

wwah antara marah dan sbar
di banding bandinkan sakit memang

ajenk said...

senggol dikit mbak jatuhin ke jurang selesai deh hahahahaha....

gak ding becandaaa....
xixixixi...

lina said...

kadang orang seperti merekalah yang membuat kita terpacu untuk menjadi hebat, mbak.

at least, kita akan berusaha untuk lebih baik.

ah, mbak enno nggak stuju ya. ya sudahlah.... :)

Gogo Caroselle said...

siapa mba?? siapa??!!!
kurang ajar! berani2nyaaa yaaa
KRAUK!!

paniio said...

pengkhianatan sahabat yah mba?
iiiiiih, paling ga suka gue..
sama musuh dalam selimut kaya gitu..
serigala berbulu domba..
cih!
*emosi juga

owly said...

ennoo.. ciapa cii.. ciapaa... *penasaran hehehehe :)

sabar ya, noo... aku juga merasakan hal yang sama hiksssssss...

pokoke kita harus tetap SEMANGADH dan TERSENYUM :)

maya sitorus said...

enooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo
aku bingung mau komen apah?

tapi aku benci dia juga yang membuatmu bertengkar dengan ibumu

tunjukkan pesonamu kalo kau ada
dzigggggggggggggggggggggggggggg........

Enno said...

@gek: ah gak panas, cuma pengen muntah :P

@alil: kalo aku PMS pokoknya jgn deket2 aja hehe

@clara: kalo dewasa gak bakal ngadu domba sodara sendiri kayak gini :)

@queeniie: iya aku juga masa bodo kok :)

@gendhis: wah kalo deket kamu alamat disuruh marah mulu biar tulisannya bagus ya? :P

@wendra: tapi tetep aja mangkel hehe

@arman: masalah ini bkn sekedar temen yg bs dijauhin :(

@abeng: bkn soal dibandinginnya, tp soal difitnahnya!

@ajenk: ide bagus tuh! :D

@lina: setuju kok lin... :)

@gogo: astaga! digigit? :P

@paniio: iya, bikin emosi!

@owly: senyumnya agak maksa nih :P

@maya: bah! tolong dihajar aja butet!

Sari said...

Enno my darling...aku sepakat denganmu soal 1 hal, bahwa yang bikin geregetan ples mangkel itu adalah ketidakmampuan kita membenci orang yang udah berkhianat !

Sini, No...aku bantuin ngikat tangan & kaki orang yang udah menggunting dalam lipatan itu, trus kita naikin ke rakit bambu trus terjunin dari niagara yang curam itu, huh !!
*ikut esmosi jiwah*

enno said...

sar, makasih banget....
sok atuh tolong bantuin aku!

:)

Tha..^^ said...

kalo gw, gw santet tu orang haghaghaghag *ketawa setan*

Enno said...

ya ampyun tha! syerem ah!
:P

Ria said...

welehh jahat bener sih...
ayoo kita gebukin rame2 :D

rusni_takaful@yahoo.com said...

Cinta memang ga kenal dgn logika, begitupun cinta pria itu thd si "kutu kupret", dan cintamu pd si pemuja kutu, hik hiks

Dan atl cinta & benci itu tipis bgt, jadi jgn coba benci bgt, krn itu akan mbuatmu smakin cinta & susah melupakannya.

So tegarkan diri, ingat aja lirik lagu peter pan "menghapus jejakmu", Good luck!

Enno said...

@ria: aduh, nggak usah ah :)

@rusni: aku nggak cinta sama org itu kok...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...