Sunday, April 28, 2013

Hari Abu-Abu

Setiap kali mendengar berita kematian, saya selalu teringat Almarhumah Ibu dan hari kepergiannya. Saya teringat hari ketika saya menangis sambil berteriak-teriak, marah kepada Allah, karena Ia memanggil Ibu. Beberapa anggota keluarga mengelilingi saya di tempat tidur. Mencoba menenangkan, memberi nasehat agar bersabar. Tapi saya tidak mau mendengar.

Saya terus berteriak-teriak marah kepada Allah. Bertanya kepadaNya, kenapa ibu saya yang Ia ambil. "Ibu orang lain saja, jangan ibuku! Jahat, ya Allah! Engkau jahat!"

Saya baru bisa ditenangkan ketika Ibu hendak dimandikan. Mereka memapah saya ke belakang, untuk turut memandikan Ibu.

Itu peristiwa yang tidak akan pernah saya lupakan.
Ibu saya, yang selalu cantik dan murah senyum itu, yang tubuhnya selalu hangat dan wangi sabun, terbaring diam di atas dipan pemandian.

Ya. Ia seperti sedang tidur. Tetapi tubuhnya kaku dan dingin. Dan seperti film yang dipercepat, tiba-tiba berkelebat kilas balik kami berdua dalam benak. Saat saya masih kecil, menari-nari di halaman dan Ibu bertepuk tangan... lalu terakhir kalinya saya mendorong kursi rodanya ke teras untuk berjemur dan menyisiri rambutnya.

Mata saya membasah. Napas saya tersumbat sedu sedan.
Mereka menyiraminya dengan air, menyabuninya, memijat-mijatnya. Perlahan, saya mendekat. Mengusap pipinya. Matanya tetap saja terpejam. Padahal, saya berharap ia bangun dan bilang bahwa ia cuma pura-pura meninggal untuk menghukum saya, anaknya yang sering menyusahkan.

Namun, setelah pemakaman Ibu, saya mulai memahaminya.

Allah pasti menulis skenario ini untuk kebaikan Ibu dan kebaikan kami yang ditinggalkan.
Ibu saya, perempuan baik dan sabar, yang diam saja meski disakiti orang lain. Disuruh-suruh ini itu. Dimanfaatkan. Dibohongi. Orang-orang yang dulu melakukan itu kepada Ibu, kini memikul beban dosanya. Karena orang yang bisa memupusnya dengan maaf sudah tak ada lagi.

Sekarang saya tahu, Allah tidak jahat. Ia memberi Ibu waktu istirahat yang damai, yang tak akan lagi membuatnya lelah dan resah. Memberi saya kesempatan untuk dewasa dan menjadi apa yang saya inginkan. Penulis. Ibu tidak pernah setuju saya mewujudkannya. Memberi saya waktu lebih dekat dengan Bapak. Dulu, saya selalu saja bertengkar dengannya. 

Kemarin, Ustaz Jefri Al Buchori meninggal dunia. Hari yang kelabu lagi di hati saya. Mengingatkan saya pada hari kepergian Ibu. Membuat saya menangis melihat isterinya yang terpukul seperti saya dulu.

Sejak Ibu pergi, orang-orang yang saya kenal menyusul pergi satu demi satu, dan kemarin Ustaz Jefri juga pergi, kematian menjadi pengingat yang tajam. Bahwa setiap orang akhirnya akan pergi. Bahwa setiap orang sesungguhnya tengah menunggu giliran. Bahwa dunia hanya tempat kita mengumpulkan koin agar bisa membeli tiket ke surga.

Ya Allah, koin saya belum cukup banyak. Dan selalu saja ada yang hilang terjatuh, ketika saya lengah saat melakukan hal-hal yang tak Engkau sukai. Berilah saya waktu untuk menabung, agar cukup membeli tiket surga itu.

Aamiin.


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

5 comments:

Bayu Indra Dinata said...

Saya juga turut berduka cita. Saya kk ada ketemu gambar diatas makamnya terdapat awan yang berbentuk orang lagi berdo'a. Subbhanallah ...

Selfish Jean said...

Aminnn :)

Arman said...

iya kaget denger berita uje meninggal.. :(

emang ya no, umur manusia itu di tangan Tuhan... we never know...

Rian Ra-kun said...

yang terjadi pastilah yang terbaik dalam rencana Tuhan.

Enno said...

Dear all, thanks for the comments.
Semoga kita semua masuk surga ya. Aamiin :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...