Wednesday, September 22, 2010

Sayap-Sayap Doa

Tetangga: Nung, kok Enno keliatan tenang ya. Nggak nangis-nangis gitu. Padahal ibunya sakit parah begitu...
Pembantu saya: Kata siapa nggak nangis, Bu. Mbak Enno kalau nangis sambil sembunyi di kebun belakang sana tuh! Di belakang gazebo. Nggak mau depan ayahnya. Nggak mau ayahnya tambah kuatir.
Tetangga: Ooooh....

__________________

Ketika tulisan ini terbit (karena dipublish dengan jadwal), saya pasti sedang di Bandung menjaga Ibu. Ya, akhirnya saya bisa pergi dari rumah menyebalkan ini menemui Ibu.
Ibu yang sudah mengalami kemajuan dan mengenali orang yang menjenguknya. Ibu, yang dalam keadaan seperti itu masih saja mengundang senyum. Pagi kemarin, kata Usi, Ibu terbangun dan berbisik. "Usi, Ibu ingin makan bubur sumsum."

Ah Ibu. Mana boleh Ibu makan bubur sumsum. Ibu masih diinfus. Kepala Ibu masih belum kering dari cairan. Nanti kami buatkan bubur sumsum yang enak kalau sudah pulang ke rumah. Dua anak perempuanmu kan bisa membuatnya. Ibu yang mengajari kami. Kami belum lupa cara membuat bubur sumsummu yang enak itu.

Saya dan Usi kemarin berunding lewat telepon. Kami sepertinya harus menyiapkan kursi roda selama Ibu belum bisa berjalan seperti semula.
"Mudah-mudahan cuma dipakai sebentar saja," kata Usi. "Tahu kan No, Ibu itu nggak bisa diam. Hobinya ke sana kemari. Bisa tertekan kalau terpenjara di kursi roda."

Saya yakin Ibu akan bisa berjalan lagi. Secepatnya. Lihatlah, Kak. Banyak yang mendoakan Ibu. Bahkan dua mesjid di kampung kita dan kampung sebelah mengadakan pengajian setiap malam untuk Ibu.

Ibu begitu disayangi karena kedermawanannya. Tak ada yang berjiwa sosial sebesar Ibu. Hidupnya selalu untuk memberi dan memberi. Ibu yang mengajari saya rendah hati dan membumi. Mengajak saya makan di warung tegal, belanja di pasar becek, mengobrol dengan tukang becak dan menyuguhinya segelas teh sehabis mengantar Ibu. Dulu, waktu kami masih kecil, ada seorang lelaki tua penjual tanaman yang setiap datang ke rumah mengantarkan tanaman bunga pesanan Ibu, selalu disuruh makan siang sebelum pulang. Laki-laki lusuh, kotor dan kumal itu makan di meja makan kami.

"Meja kotor mudah dibersihkan dengan lap. Tapi hati yang kotor dibersihkannya dengan amal perbuatan baik," kata Ibu kala itu.

Kini saya tahu kenapa Ibu pulih begitu cepat. Bahkan dokter pun merasa terkejut. Ibu sembuh karena doa orang-orang yang menyayanginya. Orang-orang yang selalu ditolong dan dilimpahi kemurahan hatinya. Orang-orang tak mampu yang setiap bulan diberinya beras, anak-anak yatim yang selalu diberinya santunan, anak-anak kecil yang diberinya uang jajan selembar ribuan ketika melintas depan rumah, tetangga-tetangga yang dipinjaminya uang dan direlakannya ketika tak kunjung membayar.

Orang seperti apa ibu saya itu? Saya tidak pernah bisa mengerti keluasan hatinya.

Ibu saya, meski cerewet dan tak bisa diam, adalah orang yang tak akan pernah direlakan pergi oleh semua orang yang mengenalnya. Ibu saya, meski tak sabaran dan keras kepala, adalah orang yang disayangi keluarga besar kami. Ia adik yang baik dan patuh bagi kakak-kakaknya, kakak yang keibuan bagi adik-adiknya, tante favorit para para keponakannya.

Mereka akan selalu menjaga Ibu dengan sayap-sayap doa.

Sekali lagi terima kasih telah berdoa untuk kesembuhan Ibu. Terima kasih. Sungguh.


Foto dari sini

________________________

Terima kasih ya untuk doa-doa kalian, harapan kesembuhan buat Ibu dan tepukan semangat di bahu saya. Saya akan menulis lagi sepulangnya saya dari rumah sakit :)


Love,
Image and video hosting by TinyPic

14 comments:

Apisindica said...

alhamdulillah kalau ibunya mbak eno keaadaanya semakin membaik. Semoga terus membaik dan segera pulih seperti sedia kala. amiin.

jadi pengen kenalan sama ibunya mbak enno! nanti ah pas pulang bandung.. :)

BABY DIJA said...

Dija jadi sedih Tante
inget ibunya Dija

semoga Tante Enno tetep kuat ya
semoga Ibunya Tante Enno cepat sembuh

Elsa said...

semoga Allah memberikan kesembuhan yaa...
amiiiiiiiiiiin

Dewi Srikandi said...

semoga Ibu cepat sembuh ya, Mbak. ammiinn :)

Ladyonthemirror said...

turut Senang dengan perkembangan Ibunya Enno yang mulai membaik. Aku do'akan Ibunya cepat sembuh.

-Gek- said...

keren banget tulisannya.
Seandainya Ibu bisa membaca ini, yakin pulihnya tambah cepat.

Saya doakan Mbak.. :)

Arman said...

senangnya akhirnya lu bisa ke bandung ya no...
moga2 ibu lu segera pulih yaaa...

Ila Schaffer said...

ikutan doang dongg.. moga'' ibunya enno cepet sembuhh yaa :D

Freya said...

Duh semoga cepet sembuh yah ibunya kak Enno. Yang semangat.

Gogo Caroselle said...

Nahya, mna...
Ibunya makin lama udah makin pulih...
Uda aga tenang kan yah jadinya.. :)
Semoga cepet sembuh ya tante... You are lucky to have enno, she loves you.. :)

ijal said...

mb enno, maap lahir batin ya!

ibunya gmn mb enno?

qq said...

alhamdulillah ya ndut... ibu udh jauh lebih baik.

Gmn beliau kecewa ga begitu sadar ternyata ada di rumah sakit. lampu2 itu cuma menipu, hehehe...

salam buat ibu ya,
udah jangan nangis lagi ya.. jelek tauuuuu

Augustine Merriska said...

Ka Enno, semoga ibunya cepat sembuh ya! :)

Enno said...

@semua: halooo... makasih ya atas doa yg tak putus2 dr kalian... ibu dah semakin membaik. mudah2an minggu depan sudah boleh pulang dan menjalani terapi.
dokter ijal, salam buat dokter ifa. thx konsultasinya wkt itu :)
mb kiki, udah pindah ke ruang rawat skr. jd ibu nyangkain ada di rumah :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...