Thursday, May 1, 2014

East Trip. Benteng Kuno Balik Kanan

Siang itu....

"Waaah! Ayo kita manjat!"

Saya naik ke gundukan batu bata merah yang sebagian hancur menjadi tanah, menuju ke atap dinding persegi empat yang terbuat dari batu bata serupa. Gundukan itu tidak terlalu tinggi, sekitar 2,5 meter saja. Lumayan membuat saya terhuyung-huyung, karena ada ransel 42 liter nemplok di punggung saya. Mas Ari masih di bawah, mengobrol dengan penjaga tempat itu. Seorang lelaki tua ramah yang menjelaskan kepadanya sejarah tempat itu dalam bahasa Jawa dialek Lumajang. Errr.... *jelas saya jadi gagap bahasa* :))

Jadi, saya tinggalkan mereka dulu. Masih ada waktu 'mewawancarai' bapak itu nanti. Saya keluarkan Oly dari ransel dan mulai mencari obyek bidikan.

Yang saya lihat dari atas atap bangunan, adalah dinding-dinding yang membentuk ruangan segi empat seukuran kira-kira lima atau enam meter persegi. Tak ada pintu, tak ada jendela. Satu-satunya jalan yang terbuka adalah dinding-dinding atas yang saya pijak. Saya tidak tahu apakah dulunya ada atap. Belakangan, menurut bapak penjaga, kalau ada pengunjung yang penasaran ingin turun ke bawah, beliau akan membawakan tangga bambu. Katanya, para arkeolog menduga tinggi bangunan ini dulunya 8-10 meter.

Maka, disitulah saya berada siang itu.
Di lokasi bekas benteng dari sebuah kerajaan kuno di zaman kejayaan Majapahit yang disebut SITUS BITING. Biting berarti 'benteng.'

Adakah yang pernah mendengar kerajaan Lamajang Tigang Juru?
Ada? Tidak ada?  Oh, baiklah. Sini, sini, saya kasih tahu.

Lamajang Tigang Juru adalah kerajaan kuno di kawasan yang sekarang menjadi kota Lumajang. Kerajaan itu merupakan kerajaan bawahan dari Majapahit yang lebih besar. Namun meski kerajaan kecil, kerajaan ini dianggap penting oleh Majapahit, atau setidaknya rajanya lah yang dianggap penting. Rajanya, Aria Wiraraja, tadinya adalah adipati Sumenep di bawah kerajaan Singasari. Ketika Singasari runtuh di bawah pemerintahan Kertanegara, Aria Wiraraja membantu Raden Wijaya-menantu Kertanegara, untuk mendirikan Majapahit. Ia adalah penasehat yang sangat dipercaya Raden Wijaya. Sebagai seorang negarawan senior, ia membantu sang raja muda menyusun strategi membendung serangan kerajaan Mataram dan serangan pasukan Mongol.
Sebagai balas jasa, Aria Wiraraja diberi daerah kekuasaan yang kemudian menjadi kerajaan Lamajang Tigang Juru atau Majapahit Timur.

Lengkapnya cek link Wikipedia ini, yes! ;)

Situs Biting ini berada di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Lumajang.
Karena kesamaan waktu saat didirikan (10 November 1293, berdasarkan Prasasti Puddadu), artefak-artefak yang ditemukan di Situs Biting serupa dengan artefak-artefak peninggalan Majapahit. Ngomong-ngomong, benteng ini berdiri di areal seluas 135 hektar. Merupakan benterng kuno terluas dari masa kerajaan-kerajaan Nusantara. Kalau pun ada benteng yang luasnya lebih dari itu, biasanya merupakan benteng era kolonial.

Dari atap benteng tempat saya berdiri, saya melihat sungai yang mengelilingi kawasan ini. Saya nggak tahu, apakah sungai itu alami, ataukah sengaja dibuat sebagai pertahanan dari serangan musuh. Tapi lingkarannya pas banget lho. Saya sih cuma bisa melihat sungai di dua sisi benteng saja, dua sisi lainnya tidak. Tapi dari dua sisi itu saja sudah terlihat posisinya tampak melingkar seperti busur. Jangan-jangan sungai buatan ya?

Sebetulnya, Mas Ari yang pertama-tama menunjukkan saya sungai itu. Dia akhirnya ikut naik ke atas dan menunjuk-nunjuk.
"Itu lho, ada sungainya," ujarnya. Dan di balik rerimbunan belukar dan pepohonan kebun milik Perhutani maupun penduduk di sekitar benteng, saya melihat air coklat yang mengalir tenang. "Kata bapak yang jaga, petilasan benteng ini masih luas sampai ke belakang-belakang sana itu. Malah sampai ke perumahan sebelah sana, masih ditemukan artefak."
"Sek, Mas. Perumahan piye maksud e? Perumahan developer?"
"Iyo."

Heh. Nyebelin! Saya langsung kepengin marah-marah. Kenapa tanah situs sampai bisa jatuh ke tangan developer? Ini Pemdanya gimanaaaa?

Sambil kesel, saya mulai memotret lagi. Meskipun yaaaa... nggak banyak yang bisa diabadikan dari sebuah bangunan batu bata segi empat yang bolong di tengahnya. Saya juga malas turun ke bawah. Karena benar-benar tidak ada apa-apa di sana. Hanya tanah berumput pendek dan empat dinding yang mengurung, serta sinar matahari di atas kepala.

Masih ada yang perlu dikunjungi. Sebelum menuju ke bangunan ini, tadi kami melewati sebuah kompleks makam. Ada plang besar di pagar depannya. Menceritakan sejarah Aria Wiraraja dan kerajaan Lamajang Tigang Juru, dan bahwa yang dikuburkan di pemakaman itu salah satunya adalah sang raja sendiri, bersama para pengikutnya.

Setelah mengobrol tentang sejarah dan lokasi situs itu dengan si bapak penjaga (yang ini dalam bahasa Indonesia tentunya ya hehehe), kami berpamitan. Saya memberinya tips sekedarnya dan dia sangat senang. Di mana-mana, yang namanya penjaga atau juru kunci lokasi purbakala itu honornya kecil, meskipun yang memberi honor adalah pemerintah. Jadi, sekedar tambahan seperti itu akan membuat mereka semangat untuk tetap menjaga kebersihan situs yang mereka jaga. Percayalah. Hitung-hitung sedekah juga, kan :)

Meninggalkan bekas benteng, saya dan Mas Ari menuju ke kompleks makam di depan situs. Kompleks ini persis di tepi jalan beraspal. Bukan jalan yang dilalui angkot sih, ini jalan kecil yang dilewati motor penduduk atau mobil pick up pengangkut hasil kebun mereka. Ngomong-ngomong, ada kebun jeruk lho. Saya baru tahu, Lumajang menghasilkan jeruk! Padahal, di Garut yang dulu terkenal Jeruk Garutnya, sekarang sudah jarang dijumpai kebun jeruk.

Nah ini kenapa jadi membahas jeruk, kakaaaak?

Balik ke soal makam. Saya masuk ke dalam kompleks mendahului Mas Ari, yang entah kenapa kayak yang ragu melangkahkan kaki. Takutkah dirimu, Mas? Hehehe...

Saya langsung menuju sebuah makam yang dinaungi sebuah pendopo. Makam itu berukuran besar dan panjang. Sementara, di sebelah kirinya, ada deretan makam-makam di areal terbuka yang di pagari, dengan nisan-nisan yang diselimuti kain putih. Makam yang besar itu konon makam Raja Minak Koncar alias Aria Wiraraja (tapi ada juga pendapat bahwa Raja Minak Koncar itu anak dari Aria Wiraraja), selebihnya makam para pengikutnya. Saya berdoa di depan makam raja, membacakan Al Fatihah sebagai sedekah. Namun tidak minta apa-apa (ya iyalah, minta mah sama Allah).

Ada bayangan samar berdiri di ujung makam, saya tidak tahu siapa. Namun kemudian saya berkata, "Izinkan saya mengambil foto ya. Saya cuma seorang 'anak' yang ingin mengerti sejarah." Bayangan itu melambaikan tangan seolah-olah mengiyakan, lalu menghilang.

Di belakang saya, tiba-tiba sudah berdiri Mas Ari. Heh, dia denger saya ngomong sama hantu nggak ya? :}}
Tapi wajahnya kalem sih, dia malah nanyain spesifikasi kamera saya. Lalu saya tinggal keliling-keliling kuburan untuk motret. Dia pasti heran, ngapain sih ni cewek motretin kuburan sampe segitunya. Ih, dia nggak tau aja, saya kan demen berkunjung ke kuburan kuno. Hehehe.

Iya, gue cewek aneh. Udah nggak usah pada geleng-geleng kepala gitu :p

Di pemakaman itu ada sebuah sumur kuno. Entah berapa meter kedalamannya. Airnya masih ada lho. Saya melongok sedikit ke bawah. Berdoa nggak ada yang balas memandang. Alhamdulillah nggak ada. Hahaha. Saya potretin beberapa kali, lalu memutuskan untuk menyudahi 'ziarah' itu.

Waktu saya sedang memotret, muncul ibu-ibu-yang sepertinya isteri penjaga makam, dia menyapu areal pemakaman sambil memperhatikan saya. Saya pamit sama dia, sambil memasukkan sekedar uang kebersihan ke kotak amal yang tergantung di saung untuk duduk pengunjung.
Entah ya, kok keliatannya wajah si ibu kecewa liat saya masukin duitnya ke kotak. Saya lupa, harusnya saya kasih ke dia aja. Duh, maap Bu, otomatis kalo liat kotak amal hihihi....

"Nah terus mana lagi nih situsnya?" Tanya saya, di boncengan motor Mas Ari, saat melaju meninggalkan pemakaman.
"Udah cuma itu aja."
"He? Yaaaah..."

Saya pikir tadinya bisa lah liat tempat penggalian artefak-artefak di sekeliling areal benteng yang seluas seratus hektar lebih itu. Hahaha...
Iya nggak mungkin sih. Biasanya itu tertutup untuk umum, lagipula Mas Ari mana tahu lokasinya di mana. Selain itu, saya harus segera ke terminal dan kembali ke Surabaya, kalau tidak mau kesorean atau bahkan kemalaman.

"Ya udah, saya boleh minta antar langsung ke terminal nggak, mas? Saya harus balik ke Surabaya. Lagian kelamaan ngeluyur diantar-antar gini, ganggu kerja Mas Ari. Maaf ya."
Sekedar info, Mas Ari adalah pemilik biro travel wisata di Lumajang. Seperti saya, dia bekerja di jalur passion-nya. Kalau saya suka menulis, dan sekarang menjadi penulis. Maka, dia sejak dulu adalah traveler.

Sejak masih kuliah, dia itu pendaki gunung dan backpacker. Makanya, sekarang dia menikmati banget pekerjaannya sebagai 'tukang ngantar jalan-jalan' berbayar alias penyelenggara tur wisata hehehe...
Mungkin itu alasannya kenapa dia dengan senang hati nganter-nganter saya, karena saya tukang jalan-jalan-sama kayak dia. Menemukan teman sehaluan gitu deh :D
Eh, dia malah nawarin saya untuk bantu-bantu turnya sesekali, kalau obyek wisatanya ke Jawa Barat. Katanya, sebetulnya dia kekurangan orang sebagai pemandu klien-kliennya.

Ih, sayang ya.. Garut-Lumajang jauh bingiiit. Susah koordinasinya. Padahal kan asyik tuh saya ikutan jalan-jalan gratis, dikasih honor pulak! Hehehe...Entar aja deh kalau pas travel bironya ngadain jalan-jalan ke Jawa Barat. Aku bantuiiin! ^^

Siang itu.....

Saya diturunkan di depan terminal Minak Koncar sama Mas Ari dan kami saling pamitan. Tak lama bus Patas jurusan Surabaya lewat dan saya naik tanpa ragu.
Di bus, saya memilih tempat duduk dekat jendela, dekat pintu masuk juga. Bus itu melaju kencang, anehnya saya tidak takut. Saya nikmati perjalanan kebut-kebutan itu dengan hati senang. Mungkin juga ada sedikit senyum di bibir saya (semoga yang pas ngeliat ke saya, nggak nyangka saya sakit jiwa).

Yang jelas, perjalanan saya di Lumajang dan Jember lumayan menyenangkan bangetttt. Menghadiri pernikahan teman baik, berkumpul lagi dengan teman lama dan dapat teman baru. Ketawa-ketawa gila lagi (sudah berapa abad ya kesintingan saya mengendap?), solo traveling lagi, belajar sejarah lagi.... dan balik lagi ke Surabaya, untuk petualangan berikutnya yang sudah menunggu.

Nantikan cerita selanjutnya. Saya mau memburu hantu! Hehehe

---------------------

Kayaknya saya harus ngebut menamatkan nulis East Trip ini deh. Soalnya, takut keburu traveling lagi bulan Mei ini. Tulisan saya bakal numpuk kayak utang kredit panci! #eh :))

Still stay tune yaaaah!


Bagian atas dinding salah satu sisa bangunan benteng
kerajaan Lamajang Tigang Juru.

Konon ini adalah makam Aria Wiraraja, adipati Sumenep, penasehat politik Raden Wijaya,
yang juga adalah raja kerajaan Lamajang Tigang Juru.

Ini foto-foto Papuma yang kemarin (seperti biasa, saya pelit gambar hehe):

Hutan jati milik Perhutani dalam perjalanan menuju Pantai Watu Ulo dan Tanjung Papuma.
Daun-daunnya dirontokkan untuk persiapan penebangan,

Tiga atol {pulau karang) yang menjadi ciri khas Tanjung Papuma.
Kalau laut surut, pengunjung bisa menyeberang ke sana dengan berjalan kaki.


Image and video hosting by TinyPic

4 comments:

Dedaunan Hijau said...

seru juga jalan jalan nya ke lumajang mb, saya nunggu cerita berburu hantunya hehe
btw, barcelona te amo- nya keren mb, ikut nangis bacanya hehe

Miss Plum - Ninneta said...

Ennnoooo...
Apakabar... kangennnnn...

Kenapa fotonya sedikittttt... Udah seru bener inih bacanyaaa...
Ayo tambahin fotonyahhhhhh... Penasarann...

Salam rindu
Akhirnya membuat postingan baru di blogku.
Main-main ya...
http://moody-ninneta.blogspot.com/2014/05/to-judge-or-not-to-judge.html

-Ninneta-

Enno said...

@dedaunan: haduh kok nangis baca barcelona te amo? bukannya jatuh cinta aja gtu sama manuel. hehehe...

@ninet: hihihi apa kabar sayang? fotonya sedikit aja ah.. sengaja pelit, takut dibajak *sok kebagusan gtu yah gue* hahaha... wait, wait! i'll visit you! :D

Dedaunan Hijau said...

iya mba' sukaaaaaa banget sama manuel-nya di Barcelona te amo, nangis bayangin perasaan katya mba' di jahatin mulu

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...