Monday, August 10, 2009

Seseorang di Belakangmu

"Jangan main sama dia. Anak dukun!"
"Si Nul kan aneh. Suka ngomong sendiri, komat-kamit kayak lagi baca mantera."
"Iya. Nanti kamu disihir lho!"
"Ayo sini! Jangan dekat-dekat sama manusia aneh!"

......

Ia bersandar di bawah pohon jambu air di halaman taman kanak-kanak kami yang teduh. Kumbang-kumbang tanduk berjatuhan dari atas pohon ke tanah. Kami menyebut peristiwa itu 'hujan kumbang.' Biasanya banyak anak-anak yang berlomba mencari kumbang paling besar untuk dibawa pulang dan dipelihara dalam kotak korek api. Tetapi kali ini cuma seorang anak yang berdiri di situ.

Teman-teman sekelasku menganggapnya aneh. Mereka memanggilnya Anak Dukun. Tak ada yang mau berteman, bahkan bertegur sapa dengannya sekalipun. Ia dikucilkan, tapi tampak tenang-tenang saja.

Semuanya takut padanya, tetapi aku tidak. Mereka mencoba mempengaruhiku untuk tidak bicara dengannya, tetapi aku tidak peduli.

"Nul, itu ada kumbang besar dekat kakimu!" Aku menunjuk ke bawah. Ia menunduk, memungut seekor kumbang besar berwarna hitam.
"Ini!" Ia menyodorkannya padaku. Aku menggeleng. Aku tidak suka memenjarakan serangga malang itu di dalam kotak korek api yang sempit.
"Sudah makan bekalmu?" Tanyaku. Ia mengangguk. Seperti biasa, tidak banyak bicara. Aku menemaninya memperhatikan kumbang di bawah pohon jambu sampai lonceng masuk berbunyi.

Namanya Nuril. Aku sudah lupa nama lengkapnya, tetapi kami selalu memanggilnya Nul. Masih kuingat sosok ibunya. Perempuan tinggi langsing yang suka mengobrol dengan ibuku ketika mereka berpapasan di gerbang sekolah. Aku tidak percaya Nul anak dukun. Lagipula kata ibuku, ayah Nul pengusaha. Dan aku tidak percaya Nul aneh dan suka bicara sendiri. Kadang-kadang, aku melihatnya dijemput anak perempuan sebaya kami di gerbang sekolah, lalu mereka pulang bersama-sama sambil mengobrol dan tertawa-tawa. Aku juga pernah melihat anak perempuan itu bermain dengannya di taman perumahan kami.

Kupikir, teman-temanku hanya iri padanya. Karena Nul yang terpandai di kelas dan ia anak orang kaya.

"Nul bukan anak dukun!" Sergahku ketika mereka mulai menjelek-jelekkan Nul lagi.
"Dia suka ngomong sama setan!"
"Kapan?" Tanyaku. "Jangan suka bohong. Kata Bu Guru, bohong itu dosa!"
"Pokoknya dia suka ngomong sendiri! Kamu jangan dekat-dekat, nanti disihir jadi kumbang. Terus tinggal di pohon jambu itu!"
Aku jengkel sekali karena mereka tak pernah berhenti mengada-ada. Nul tidak seaneh itu. Nul tidak pernah bicara sendiri. Mereka saja yang iri.

Biasanya, kalau anak-anak sedang membicarakan dirinya, Nul cuma memperhatikan dari jauh. Kadang-kadang menjulurkan lidah dengan tampang mengejek, membuat teman-teman kesal. Tetapi hari itu Nul sedang tidak masuk karena sakit.

"Hai!" Seseorang berlari-lari menyusulku dari belakang. Aku menoleh dan melihat anak perempuan, teman Nul itu.
"Hai!" Aku berhenti, menunggunya menjajariku. "Cari Nul ya? Dia nggak masuk. Sakit."
Anak itu mengangguk. Dari dekat aku bisa mengamati wajahnya. Ia sangat manis. Rambutnya panjang diekor kuda. Agak sedikit lebih tinggi dariku. Pakaian seragamnya bagus sekali.
"Aku tahu kok," jawabnya sambil tersenyum. "Eh rumah kamu sekompleks sama Nul ya?"
Aku mengangguk. "Tapi agak jauh. Beda tiga blok."
"Aku juga tinggal di kompleks kok."
"Iya. Aku juga suka lihat kamu main sama Nul."
"Kapan-kapan kalau lihat aku dan Nul, main bareng sama kami ya."
"Ya. Nama kamu siapa?"
"Nina."
"Aku Retno."
"Aku sudah tahu." Nina tersenyum.

Tetapi aku tak pernah sempat bermain dengan mereka. Nul tiba-tiba pindah sekolah. Ia datang bersama ibunya dua minggu setelah sembuh dari sakitnya. Bu Guru mengumumkannya pagi-pagi sebelum kami mulai belajar.

Teman-teman tampaknya senang dengan kabar itu. Tetapi aku tidak. Aku berlari menyusul Nul yang berjalan keluar di belakang ibunya.

"Nul! Mau pindah kemana?"
Ia menoleh dan tersenyum. "Aku pindah ke Semarang."
"Sudah bilang Nina?"
Ia tertegun.
"Nina, yang suka main sama kamu. Suka jemput kamu pulang sekolah bareng."
Wajahnya berubah pucat. Ia melirik ibunya yang menunggu beberapa langkah di depan. Tersenyum menatap kami.
"Kamu... kamu bisa melihatnya?"
Aku mengangguk.
"Kamu bisa lihat Nina?"
"Iya."
Ia menatapku heran. "Jangan bilang siapa-siapa ya," bisiknya. "Yang lain nggak bisa lihat dia. Janji?"
"Janji."
Nul nyengir. Berbalik lari menghampiri ibunya. Meninggalkan aku berdiri di bawah pohon jambu air itu. Lalu kulihat Nina. Ia muncul entah dari mana, berjalan di belakang Nul. Sekali ia menoleh dan melambaikan tangannya padaku.

Aku tak pernah lagi bertemu mereka. Nul dan temannya Nina. Dan sejak itu aku menyadari, aku bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

16 comments:

Sari Maniez said...

Jangan-jangan....yang dukun itu...nggg....En..Enno....hiiiii...
*kabur secepat kilat liat Enno manyun* hwahahahah

Eh, bisa liat kuntilanak ga?

:P

lilliperry said...

mbak enno kalo jalan masih nginjak tanah kan..? :P

Kabasaran Soultan said...

nice story .....
sebuah ajakan supaya kita lebih bijak ntuk tidak menilai atau memberi label seseorang sebelum kita mengenalnya lebih dalam.

Enno said...

@sari: kenapa ya pertanyaan itu plg sering diajukan ke gue...? pd segitu ngefansnya ya sm bu kunti? :D

@lilliperry: kadang nginjak, kadang melayang, kadang nembus tembok... tergantung pesanan :P

@kabasaran: betul om :)

denny said...

nul.. no..
seirama ya,,

eh mok,
kau kalo dikaca keliatan gak??

:P
wahahah,,,
ini gara2 nonton paku kuntilanak ..
eh enak lho mok,
banyak "itu"nya,, bah
kok bisa tak tersensor ya.. hmm..

Rachel said...

Benar, jangan terlalu cepat memberikan penilaian. Kadang kita sering tertipu dg tampak luarnya saja.
Salam

Tisti Rabbani said...

ini kisah nyata?
berarti kamuuu....????

kapan2 main ke rumah ku dong, tlng di liat ada yg 'spooky' gak di rumahku....

nie said...

No..dijaga baik2 itu paku yang nancep di kepalamu..jgn sampe tercabut..nanti berubah..




jadi power ranger, maksudnyaaa =))

Enno said...

@denny: ah bilang aja kau memang sengaja nonton krn ada esek2nya! :P

@rachel: setuju :)

@tisti: hantunya takut sm aku, gak bakalan muncul dia :P

@nie: ya ini jg udah dijaga baik2.. besok mau beli topi biar gak kentara hehehe :D

Arman said...

wuii.. serem amat.. hehehe...
masih sering bisa liat2 gitu no? atau lu selalu bisa liat?

BrenciA KerenS said...

jadi sebenernya nina itu sapaa???

mungkin bener si nul itu anak dukun, dukun beranaakk... hehehehehe

Enno said...

@arman: nggak selalu sih :P

@brencia: nina itu hantu,,, hehehe :P

Wienz said...

syukurlah masih ngeliat wujud yang manusia... hehehehe...

:p

Yessi said...

aku suka gambarnya..
bole minta ga bok?

Anonymous said...

hehehe aku share ke facebook ya :) suka banget

Enno said...

@wienz: hehe iya, tp kdg yg serem2 juga kliatan lho :P

@yessi: ambil aja :)

@anonim: plis, jgn lupa cantumkan link blogku ok :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...