Thursday, December 17, 2015

Tagore and I


Umur  saya sekitar 10 tahun waktu saya menemukan buku lusuh karya Rabindranath Tagore di atas lemari buku, di ruang tengah rumah Kakek. Saya, adalah seorang gadis kecil sakit-sakitan berpakaian lusuh ala anak lelaki, yang sedang berada di kampung halaman Ibu untuk merayakan Lebaran yang sesungguhnya adalah hari yang tidak disukai gadis kecil itu dengan alasannya sendiri.

Saya juga adalah gadis kecil pemurung, yang lebih suka mengaduk-aduk lemari buku tua Kakek untuk mencari bacaan, daripada bermain dengan sepupu-sepupu kaya berpakaian bagus dan baru. Kakek saya seorang guru dan kepala sekolah. Ia punya sejumlah buku, yang biasanya merupakan hibah dari Dinas P dan K (sekarang Diknas). Buku-buku yang kadang-kadang adalah buku untuk perpustakaan sekolah, atau buku-buku lainnya, yang dianggap perlu sebagai bahan mengajar.

Hari itu, saat saya menemukan buku itu, jiwa kutubuku saya menggumam, wow kata-katanya bagus, Itu adalah puisi-puisi Rabindranath Tagore dalam Gitanjali (sekarang saya baru menyadari bahwa itu Gitanjali-karena tadinya saya lupa judul buku itu), yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Tentu saja, sebelumnya saya tidak pernah mendengar siapa Tagore itu. Nama yang aneh bagi saya ketika itu. Di bagian kata pengantar, ada sedikit keterangan tentang dirinya, berikut fotonya. Yang saya ingat di kemudian hari setelah pulang ke rumah, dia seorang penulis dan penyair dari India, setua kakek saya, dengan jenggot lebat bak seorang petapa.

Rupanya, itulah awal mula saya menyukai puisi dan mulai menulis puisi.
Jiwa gadis kecil saya, si penyuka buku yang pemurung, ingin sekali bisa menulis seindah itu. Sebelumnya, saya suka menulis cerita-cerita pendek di belakang buku tulis sekolah, sampai sering dimarahi Ibu dan akhirnya dibelikan buku khusus untuk coret-coret. Buku itu lantas mulai terisi oleh beberapa lembar puisi ala anak SD. Bukan puisi seindah Tagore tentu saja. Tetapi, saya sudah sangat berusaha menulis seindah mungkin. Topiknya apa saja yang terlintas di kepala. Namun, lebih banyak tentang teman-teman.

Saya tidak punya banyak teman di sekolah. Mungkin, karena saya pendiam dan sering tidak masuk sekolah karena sakit. Salah satu teman sebangku saya, Yayuk, tukang mencontek saya kalau ulangan. Berganti kelas, saya duduk dengan Erna, yang nilainya selalu jelek tetapi untungnya dia baik dan tidak suka mencontek. Berganti kelas lagi, saya duduk dengan Nia, yang culas dan suka mengadu domba, Berganti kelas lagi, saya sebangku dengan Lia. Anak perempuan manis yang pendiam dan lembut. Otaknya sangat cerdas sehingga setiap tahun dia selalu juara umum. Kami sama-sama kutubuku dan penyuka kucing. Dia adalah teman yang paling berkesan dan paling saya sayangi di masa sekolah dasar saya di Bandung. Dan selalu menjadi inspirasi puisi-puisi saya di buku coret-coret.

Sampai tamat dari Sekolah Dasar, puisi-puisi Tagore menemani saya tumbuh. Buku di rumah Kakek itu lenyap entah kemana, untungnya saya sempat menyalin beberapa puisinya yang paling saya sukai. Puisi-puisi dalam Gitanjali tidak berjudul. Biasanya hanya memakai angka romawi setiap ganti topik.
Tagore dalam kesan saya, adalah orang yang religius dan sangat pandai menerjemahkan alam pikirnya ke dalam bahasa sehari-hari dengan cara penyampaian yang indah.

Waktu saya masih kecil, begini kesan saya terhadap Kakek Tagore: dia sayang sama Tuhan dan orang-orang.

Demikianlah.

....................................

Tentang Rabindranat Tagore (1861-1941)

Ia adalah sastrawan India modern paling terkemuka. Seorang penyair, novelis dan pendidik. Menerima hadiah Nobel untuk sastra pada tahun 1913. Dianugerahi gelar kebangsawanan pada tahun 1915, tetapi ia mengembalikan gelar itu sebagai protes terhadap Pembantaian di Amritsar, di mana pasukan Inggris membunuh kurang lebih 400 orang demonstran India. Perannya sebagai seorang pembaharu reformasi politik yang menentang kolonialisme tidak terlalu menonjol dibandingkan reputasinya sebagai penyair. Sayang sekali.

Aku mengemis dari rumah ke rumah di jalanan desa 
ketika kereta emasmu tampak dari kejauhan 
seperti mimpi indah 
dan aku bertanya-tanya siapakah raja diraja ini?

Harapanku melesat tinggi 
dan kukira kemalanganku akan berakhir,
dan aku berdiri menunggu pemberian dan kekayaan
yang bertebaran di setiap jejak kereta.

Kereta kuda itu berhenti di hadapanku 
dan engkau turun sambil tersenyum.
Aku merasa keberuntunganku akhirnya datang 
Lalu, tiba-tiba engkau menjulurkan tangan dan berkata,
"Apa yang akan kau berikan kepadaku?” 

Ah betapa lucu lelucon menengadahkan tanganmu
kepada seorang pengemis untuk mengemis! 
Aku bingung dan ragu,
kemudian perlahan-lahan 
kukeluarkan sejumput biji jagung dari kantongku 
dan kuberikan kepadamu

Betapa terkejutnya aku,
ketika sore tiba aku mengosongkan kantongku
dan menemukan biji emas di antara tumpukan hasil mengemis.
Aku menangis pedih dan berharap
andai saja aku rela memberikan semua milikku kepadamu.

- Rabindranath Tagore, dari Gitanjali


Tagore dan Gandhi
pic from here



Image and video hosting by TinyPic

3 comments:

sekar said...

Waduh... temen-temen sebangkunya tante waktu kecil nakal-nakal ya... untung akhirnya ketemu tante Lia xD

Samuel Yudhistira said...

berarti kecintaan pertama sama sastra gara2 Tagore yah
tapi bagus lho di usia segitu sudah ada minat baca tinggi.

salam kenal! ^^

Ms Mushroom said...

Enno dulu sering sakit apaaa, puk puk ... yang penting sekarang jadi penulis sukses yaa :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...