Thursday, February 18, 2016

Antara Cinta dan Tradisi. Jejaring Takdir di Benak Helga Rif.

Om Swastiastu. 

Bali. Apa yang terlintas di benakmu ketika nama pulau itu kau dengar atau kau baca? Pulau dewata yang indah, sungguh. Dengan alam dan tradisinya yang menakjubkan, yang dikenal di seluruh dunia. Bukankah begitu? 

Namun, Bali tidak sekedar tempat dengan alam yang indah, pantai-pantai dengan matahari yang terbit dan tenggelam dengan elegan, penduduk yang sangat ramah, kuliner yang lezat, dan tradisi yang lekat dengan keseharian masyarakat. 

Tradisi, yang kau saksikan itu… 
Pertunjukan Tari Barong di Batubulan, upacara-upara persembahyangan di pura beraroma wangi dupa, rangkaian-rangkaian janur daun kelapa yang indah dan rumit dengan sesaji rupa-rupa buah dan kembang, upacara Ngaben yang mengantar jiwa ke surga. Semua itu hanya akan menyentuh sisi estetikamu saja, jika kau tidak menyelam ke dalamnya. 

Adat istiadat dan tradisi, sesungguhnya adalah norma-norma kehidupan yang disusun para leluhur sejak mula peradaban, untuk menjaga dan melindungi masyarakat. Penentangan terhadap tradisi seringkali dianggap sebagai penentangan terhadap komunitas. Kau tidak akan menyadari hal itu, jika takdirmu bukanlah takdir yang sama yang menimpa Anak Agung Ayu Indira. 

Gung Dira yang selama ini tinggal di luar negeri, tidak pernah mengira, hidupnya menjadi sangat rumit saat ia pulang ke Bali karena neneknya meninggal dunia. Tiba-tiba ia menyadari, bahwa dirinya bukan sekedar seorang perempuan Bali dari kasta ksatria yang sedang jatuh cinta. Dirinya milik keluarga dan puri dengan adatnya yang baku. 

Gung Dira tidak boleh keluar dari puri. Demikian orangtuanya dengan tegas menggariskan. Terlahir dalam keluarga ningrat berkasta ksatria, dibesarkan di puri (sebutan bagi kediaman kaum bangsawan Bali), dan menjadi anak perempuan sulung dari dua bersaudara yang semuanya perempuan, Gung Dira merasa dirinya terjebak dalam adat. Seandainya orangtuanya memiliki anak lelaki, Gung Dira boleh menikah dengan siapa saja, meskipun bukan orang Bali. Namun, bukan itu kenyataannya. Gung Dira wajib meneruskan nama keluarganya dan menikah dengan saudara yang satu purusa–satu garis keturunan–dengan dirinya.

Di sinilah konflik mulai terbangun. Gung Dira sudah memiliki pilihan hati. Ia mencintai seorang lelaki dari negeri jiran, dengan agama dan adat istiadat yang jauh berbeda. Lelaki itu juga mencintainya. Gung Dira terbelit dilema. Ia mencintai orangtuanya, keluarganya, tetapi ia juga mencintai lelaki itu dan tak bisa hidup tanpanya. 

Benturan adat sesungguhnya adalah topik yang klasik tetapi selalu menarik dalam sebuah karya sastra. Kau tidak hanya disuguhi wawasan dan pengetahuan tentang adat istiadat suku lain, yang barangkali berbeda dengan adat istiadat sukumu, dalam kemajemukan Indonesia. Kau juga diajak menjajaki konflik yang terjadi di antara tokoh-tokohnya. Kau mungkin akan ikut menempatkan dirimu dalam kisah itu. Bersimpati, merasa berang, ikut terluka dan mengira-ngira solusi apa yang dipilih para tokoh itu di akhir cerita. 

Helga Rif akan mengajakmu menyelam dalam adat istiadat puri dan membawamu terlibat dalam dilema yang pedih, yang dirasakan seorang perempuan bangsawan Bali dalam novelnya Di Bawah Langit yang Sama

Gung Dira merupakan tokoh sentral dalam kisah ini. Saya yakin, ia tercipta dari realita sehari-hari. Bahwa di luar sana, banyak perempuan-perempuan Bali seperti Gung Dira, yang ditakdirkan dengan posisi sebagai pewaris keluarga. Yang mau tidak mau menerima beban tanggung jawab meneruskan tradisi, dan harus mengesampingkan keinginannya sendiri. 

“Aku mengatakan realitas, Ra. Lihat sekelilingmu. Hidup di mana kita? Hidup sebagai apa kamu? Bagaimana posisimu di keluargamu?” 
“Kita hidup di Bali yang menerima perbedaan dengan terbuka.”
“Ya, memang, tapi tidak dengan keluargamu.” 
“Kenapa tidak bisa?” 
“Karena kamu tidak memiliki pilihan untuk menerima orang lain yang bukan berasal dari keluarga kita untuk masuk ke keluargamu.” 
-- (hal 151) 

Tentu saja, di sela-sela segala kerumitan hidup Gung Dira, Helga tak lupa membawamu menyusuri keindahan alam dan budaya Hindu Bali yang terkenal itu. Kau akan ikut serta dalam upacara Ngaben niang ayu–nenek Gung Dira. Mempersiapkan banten, mengikuti perjalanan matur piuning ke pura, upacara pelebon-pembakaran jenazah, sampai melabuhkan abunya di laut. Sementara, kau pun juga akan terus dibuat bertanya-tanya adakah solusi untuk persoalan Gung Dira. 

Sebagai pembaca, saya sangat menyukai seri Indonesiana dari Gagasmedia. Rasanya, seperti angin segar di belantara kisah-kisah yang belakangan nyaris seragam. Unsur lokal dan adat istiadat Nusantara dalam seri ini menjadi penanda yang berbeda di dunia perbukuan. Saya suka seri ini. Saya suka ketika pada akhirnya, Gung Dira dalam kisah ini menemukan takdirnya. 
Semoga kita semua pun demikian. 

Om shanti shanti shanti om.












Image and video hosting by TinyPic

3 comments:

Fadly Indrawijaya said...

Saya juga menyukai buku yang meramu fiksi dengan budaya. Secara tak langsung, ia akan mengajak kita mengenal kembali warisan yang tertinggal dari negeri. Saya belum baca bukunya, semoga segera menemukannya :)

lita said...

makasih, Mbak enno. Udah share. Cari bukunya nih...

Gloria Putri said...

duh lama ya udah ga beli buku lagi, nanti abis lahiran shopping ahhhh....hihihihi....btw ngomong soal bali, aq jd kangen mba Lita :))

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...