Sunday, July 3, 2016

Pinky Promise: The Ladies and The Monster

Miss A.

Aku sudah jatuh cinta padanya sejak ia masih bayi berkulit keriput dan merah jambu. Ia menatapku dari gendongan ibunya dengan matanya yang kata orang serupa mataku. Ketika kusodorkan telunjukku, jemarinya yang mungil dan rapuh menggenggamnya erat-erat.

Ada binar di wajahnya, bibirnya terbuka, seolah-olah berusaha tersenyum padaku.
Sejak itu, aku berjanji akan membimbingnya menjadi perempuan yang tangguh. Perempuan yang menjalani hidupnya dengan bahagia atas usahanya sendiri.

Dan aku sudah melakukannya. Sampai ia dewasa. Berdiri di hadapanku sebagai perempuan muda yang cantik, pandai dan mandiri.
Tapi tugasku masih belum selesai. Ia masih belum bisa menaklukkan ketakutannya sendiri.

Ah, aku sungguh kesal dengan caranya bersembunyi. Jangan diam saja, Sayang. Aku dikejar waktu. Monster itu sudah lama mengincarku.

Miss T.

Bisakah kita tidak membicarakan semua kesialan hidupku? Aku tidak mau orang-orang tahu bahwa aku, yang mereka kenal sebagai perempuan hebat yang sukses dan meraih cita-cita dengan perjuangan sendiri, pada akhirnya harus kalah juga.

Kalian tidak tahu apa yang kurasakan. Apa yang kukorbankan. Dua belas tahun kebersamaan akhirnya menjadi sia-sia.
Kalau begitu, untuk apa aku melakukan semuanya? Untuk apa aku bersusah payah dari nol, jika pada akhirnya aku ditinggalkan dengan rasa sakit yang harus kutanggung sendirian?

Tidak. Aku tidak akan percaya lagi pada apa pun tentang cinta, persaudaraan, persahabatan. Membahagiakan orang lain? Hah. Mana ada ketulusan di muka bumi ini. Aku cuma percaya satu orang saja. Perempuan yang sejak aku lahir menjadi ibu periku.
Kalian selebihnya mungkin hanya manipulator.

Miss K.

Aku sudah melakukan semuanya yang kalian inginkan, ya kan? Aku tidak pernah membantah, meski tak menyukainya.
Aku ingin kalian bahagia, dan semuanya baik-baik saja.

Tapi, tolonglah sekali ini saja. Dengarkan keinginanku.
Aku ingin hidup dengan caraku sendiri. Yang kupilih, meski menyakitkan.

Sudah terlalu banyak yang kusimpan dalam diam. Tidak bolehkah sekarang aku bicara?

Aku melawan monster, dan tak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku berharap, dalam prosesnya aku tumbuh menjadi orang yang benar-benar berarti bagi orang lain. Terutama kalian.

Tidakkah kalian ingin aku hidup? Lalu kenapa kalian menekanku, sampai aku sesak?

Dan kau, Tuan Mata Teduh. Bisakah kau buka mata sedikit saja? Tidakkah kau lihat aku putus asa terus berpura-pura?
Tolong jangan melihat ke luar sana. Lihatlah ke dalam hatiku saja.

Miss B.

Kecantikan dan ketenaran akhirnya harus kalah oleh si brengsek satu ini.
Bukan saja waktu yang mengkhianatiku, tetapi sesuatu yang tumbuh dalam diriku. Merajang diriku pelan-pelan menjadi serpihan-serpihan yang dulu dikagumi banyak pria.

Monster itu mengacaukan hidupku. Aku harus menstel ulang dari nol lagi.

Lalu, apa artinya keberadaanku di dunia selama ini, jika akhirnya harus berakhir begini ironis?
Apa yang sudah kuperoleh selama ini oleh kecantikan dan ketenaran?
Kaum pria yang mengantri itu? Atau uang yang bisa kubelikan apa saja?
Nyatanya, semua itu sekejap datang seperti mimpi.

Pada akhirnya, aku hanya seonggok daging yang tak lagi dilabeli harga.
Tapi tak mengapa. Karena pada akhirnya, aku mengerti apa itu cinta.
Hidup membawaku pada sekumpulan orang yang melihatku sebagai manusia.
Yang punya hati, bukan sekedar tubuh sexy.

Monster itu datang lagi. Mereka melindungiku.
Tak apa, kataku pada mereka. Tak apa. Ia sudah tak membuatku takut lagi.

Mrs. V

Dear Suami,
Aku ingin mengatakan banyak hal padamu. Yang selama ini tak sempat terucapkan karena kita sama-sama sibuk bertahan hidup.

Saat kau menatapku, aku tahu isi hatimu.
Kau mencemaskan aku, begitu jelas terbaca di matamu. Kau berharap bertukar posisi denganku, agar aku tak harus menanggung beban melawan monster yang begitu inginnya menguasaiku.
Kau mencintaiku, aku tahu. Meski tak pernah kau ucapkan lagi sejak kita menikah dan punya anak-anak, yang  menuntut seluruh perhatian.

Malam itu aku menangis, Suami.
Menatap tiga tubuh mungil terlelap di larut malam.
Isakku pelan, karena mereka tak boleh tahu aku bersedih.
Aku teringat hari-hari menyenangkan saat melahirkan dan membesarkan mereka. Dan aku tak sudi menukarnya dengan apa pun.
Aku juga menangis setiap kali melihat punggungmu menjauh di gang sempit tempat tinggal kita, menuju tempatmu membanting tulang seharian.
Karena aku tahu, kau pergi dengan harapan menemukan jalan untuk membantuku membebaskan diri.

Suamiku, Allah tahu yang terbaik buatku. Maka aku menerima ini dengan ikhlas, dalam keterbatasan kita.
Aku berjanji padamu untuk tidak mengeluh. Aku juga tidak akan bersedih. Aku pasrah melawan dengan doa.

Dear Suami,
Bagiku, yang penting adalah anak-anak dan kamu, selalu ada di sampingku.
Aku cinta kalian. Itu lebih dari cukup bagiku.

____________

Catatan di atas dibuat berdasarkan karakter-karakter tokoh di novel/film Pinky Promise.

Novelnya masih tahap revisi, dan akan diterbitkan GagasMedia.
Stay tune ya!

8 comments:

Ulfah said...

Menarik ❤ semoga lekas diterbitkan ya mbak. Good luck! 😊😊😊

Shanti said...

Enno, aku berharap opening film nya ada nama kamu. Karena di trailer nya kok ga ada... Hanya ada nama writer nya aja. :(

Babang Travengler said...

ini bakalan dibuat filmnya kan ya

Enno said...

Aamiin. Makasih ulfah. Akan terbit awal Oktober tahun ini :)

Info Terbaru said...

berharap segera diterbitkan ya mbak. Good luck! 😊

Dewi Nielsen said...

Nice story...Pinky promise :)

Beatrix said...

Enno, sukses selalu ya....

Pendakian gunung sumbing said...

Njirrrrr. Amazing, pasti bestseller nih novel. Kerenn k.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...