Wednesday, June 20, 2012

Bus Lelet, Rumah Pak Guru & Ban Pelampung

Jogja, malam pertama.

Ketika backpacking saya kali ini diawali dengan 'bencana' kehabisan tiket kereta api, saya langsung berdoa supaya nanti semua rencana yang saya susun akan asyik semua. Sebagai kompensasi bahwa saya harus naik bus ekonomi (karena PATAS AC hanya ada sore, padahal saya ingin berangkat pagi).

Tau sendiri kan bus ekonomi itu seperti apa? Jadi ketika tujuan saya adalah Jogja tetapi diturunkan di Purwokerto dan nyambung bus menuju Solo via Jogja, saya sudah siap mental. Tapi tetap saja bete ketika busnya ngetem dimana-mana. Sampai di Terminal Giwangan sekitar jam 7 malam. Wuri yang menjemput saya, melambai-lambai dari pagar luar.

Itu pertemuan pertama kami. Waktu saya sedang sering bolak-balik Jogja, dia masih di Jepang. Maka, backpacking kali ini memang sengaja dirancang untuk rendezvous kami berdua. Dia akan jadi partner 'mblusukan' ke tempat-tempat tujuan. Mengambil alih peran Ari, yang sekarang sudah beristri. Hehe...

Sebelum ke rumah Wuri, karena saya akan menginap di sana, kami ke stasiun untuk memesan tiket pulang saya. Lagi-lagi kehabisan untuk seminggu ke depan. Gila ya?

Saya bertemu keluarga Wuri akhirnya. Dia kan suka cerita-cerita kalau kami chatting. Saya jadi kenal ayahnya yang pensiunan guru sejarah, ibunya yang sedang sibuk manasik haji, salah satu abangnya dan isteri abangnya. Karena ayah saya juga orang Jawa, dan suasana di rumah saya juga sedikit beratmosfir Jawa, saya merasa tidak asing di sana. Ayah Wuri sakit, tapi masih rajin sholat di mushola warga. Dia menemani saya dan Wuri makan malam lho. Mengambilkan saya kerupuk, menyuruh saya makan banyak. Ibu Wuri hari itu memotong ayam dan dimasak opor. Saya jadi terharu :)

Malam itu, kami nggak kemana-mana. Saya terkapar dengan sukses di tempat tidur. Perjalanan ke Jogja 12 jam! Baru kali ini saya alami sepanjang sejarah bolak-balik Jogja! O-ya-ampun banget kan? :D

Kebendul di Goa Pindul!

Pagi-pagi, saya, Wuri dan kedua kakaknya suami isteri berboncengan naik motor ke desa wisata Bejiharjo di Gunung Kidul. Jangan tanya jauhnya. Jangan tanya juga gimana berkelok-keloknya jalan ke sana. Huaaa.. saya yang nemplok di boncengan Wuri bersyukur kami naik motor. Kalau naik mobil, saya bisa pusing dan mual.

Kami akan cave tubing, sodara-sodara! Masuk ke goa dengan mengambang di atas pelampung yang terbuat dari ban dalam (ukuran bannya besar kok) plus life jacket di badan. Goa Pindul itu termasuk jenis goa bersungai bawah tanah. Full sungai, yang kedalamannya mencapai 4-7 meter, dengan tiga zona: zona terang, zona remang dan zona gelap abadi. Tinggi permukaan air ke langit-langit goa sekitar 4,5 meter, dengan waktu tempuh sekitar 20-40 menit.

Untuk yang belum pernah caving, cave tubing sudah lumayan mendebarkan lho, meskipun kategorinya non ekstrim. Aman banget kok, wong rombongan kami aja dikawal empat orang pemandu. Karena minimal rombongan itu lima orang, maka kami digabung dengan sekelompok cowok-cowok asal Purworejo yang rame dan riang gembira, menamakan diri mereka 'Geng Coro'. Halo kaliaaan! Hahaha...

Salah satu pemandu kami, Mas Sudar, menjelaskan bagian-bagian di dalam goa. Saya melihat stalagtit dan stalagmit yang masih aktif. Tanda masih aktif itu adalah jika pilar-pilar batu itu masih meneteskan air. Mereka masih akan tumbuh setiap tahun. Di dalam juga banyak kelelawar buah kecil-kecil menempel di langit-langit goa (untungnya sama sekali nggak bau guano).

Ada yang disebut Batu Gong. Yaitu stalagtit besar yang ketika dipukul berbunyi mirip sekali seperti gong. Terus, ada bagian tonjolan batu di langit-langit goa, yang mitosnya pria yang menyentuhnya akan bertambah perkasa. Wah, langsung tu cowok-cowok rebutan! Hahaha...
Eit! Ada lagi, stalagtit yang konon tetesan airnya bisa membuat cewek bertambah cantik. Wuri langsung melonjak dari pelampungnya untuk menadahi tetesannya dan mengusapkan ke mukanya. Dasar!

Nama Pindul sendiri terdiri dari banyak versi. Mulai dari cucu Panembahan Senopati yang dibuang, anak lelaki yang mencari ayahnya di goa, dan pemburu kelelawar di jaman dulu untuk dikonsumsi. Nah, orang-orang dalam versinya masing-masing itu waktu ada di goa, pipinya kebendul (membentur) batu-batu di dalam goa.

Di dalam goa juga ada lubang runtuhan atau sinkhole, dari permukaan tanah di atas goa. Kami beruntung cave tubing saat siang hari bolong. Sinar matahari masuk ke goa lewat lubang itu dan terlihat seperti lampu sorot di atas panggung. Pilar cahaya kayak gitu disebutnya 'sinar surga', ray of light, atau sunbeam. Nah, di bawah sinkhole ini, kami berhenti untuk main air dulu. Ada tebing nggak terlalu tinggi di pinggiran yang bisa dipanjat. Geng Coro langsung bikin acara lompat 'nggak' indah dari atasnya sambil ketawa ketiwi. Memang asyiknya gini nih, kalau acara bareng cowok-cowok. Sementara saya dan Mbak Ratna, kakak ipar Wuri menepi (karena takut air-padahal sudah pakai life jacket!), Wuri dan abangnya, Mas Ruhan, of course cowok-cowok Geng Coro juga, malah asyik berenang kayak ikan pesut. Hehehe...

Karena panjang goanya cuma 300 meteran (lebar rata-rata 5-6 meter), tahu-tahu kami sudah keluar goa dan muncul di sungai Banyu Moto. Langsung menepi dan memanjat satu persatu ke atas jalan dengan seutas tali.

Terjun Bebas di Sungai Oyo

Kelompok hore-hore kami mengambil dua paket sekaligus. Habis cave tubing, kami mau langsung tube rafting di Sungai Oyo. Jadi Geng Coro plus kami berempat melanjutkan jalan kaki sambil memanggul pelampung ban masing-masing ke lokasi start rafting, sekitar 400 meter dari tempat kami menepi dari Sungai Banyu Moto. Di antara panas terik, kami jalan melewati pematang sawah yang habis panen.

Oh iya, Gunung Kidul identik dengan kekeringan dan sulit air sebenarnya nggak tepat, tau. Banyak kok kawasan GunKid yang airnya berlimpah dan penduduknya bisa panen padi setahun tiga kali.

Kami sampai di pinggir sungai, yang terpencil lokasinya. Jangan tanya gimana degdegannya saya, karena saya nggak bisa berenang. Tapi sumpah mampus, sungai ini eksotis banget-nget! Tanya aja sama yang udah pernah tube rafting di sini.

Tebing sungainya bagus banget, batu alam yang berulir-ulir karena digerus arus air berpuluh-puluh tahun. Kadang-kadang ada tonjolan batu di tengah sungai, kita jadi bentur-benturan kayak main bom-bom car, hahaha...

Kami datang pas bukan musim hujan, jadi arusnya tenang dan kadang supaya hanyut ke hilir, didorong oleh para pemandu yang berenang di sekitar kami untuk jaga-jaga.

"Mas, airnya sedalam apa?" Saya tanya Mas Sudar, yang posisinya selalu dekat saya dan Mbak Ratna, si dua orang takut air :P
"Ada yang sampai 12 meter," katanya kalem.
"Ha???"
"Aman kok, kan pake jaket pelampung." Dia nyengir.
Ya iya sih aman. Pengawalnya aja empat. Tetep aja saya jadi tambah ogah keluar dari pelampung ban kayak yang lain-lain. Ngiri sih liat semuanya berenang kayak pesut, sementara saya duduk di atas ban. Tapi kan ndredeg :p

Katanya lagi, kedalaman sungai bervariasi sesuai debit air sesuai musim. Kalau musim hujan, air bisa naik sampai tebing yang ketinggiannya sampai 9 meter dan menggenangi jembatan penyeberangan bambu yang melintang dari kedua tepinya. Tapi biasanya sungai ini cepat surut.

By the way, karena bukan musim hujan, air sungainya bersih sekali. Nyaris bening. Suasana sekitar sangat alami, nggak ada sampah. Yang terdengar cuma gemericik air dan suara angin. Mas Sudar bikin pengumuman. Yang mau kelapa muda silakan, gratis. Dia menunjuk ke pohon-pohon kelapa di sepanjang tepi sungai. Cowok-cowok udah pada sumringah.
"Ambil sendiri, tapi pohonnya diguncang-guncang dulu sendiri ya."
Aish! Kirain beneran! :))

Setelah sebelumnya melewati air terjun-air terjun kecil, akhirnya kami sampai di air terjun yang cukup besar. Karena di sini sungainya cukup dalam, para pemandu nantangin kami lompat dari atas tebing setinggi 17 meter di atas air terjun. Sudah ada semacam panggung papan untuk melompat bebas di sana. Dan beberapa anak Geng Coro heboh lagi deh. Pada saling menantang teman. Wuri dan Mas Ruhan juga lompat lho. Meskipun setelah lompat, Wuri megap-megap kayak yang nyaris semaput ahaha...

Bahkan Mbak Ratna juga akhirnya lompat, tapi dari jembatan setinggi 4 meteran, yang dibawahnya sang suami siap menyambut. Lha kalo saya? Jadi kameramen aja deh. Udah gitu, masih pula ban saya dijagain Mas Sudar sembari dia jadi fotografer juga (pake kamera Wuri). Soalnya saya ngeri hanyut ke bawah area lompat bebas itu. Saya pegang kamera. Kalau ikut kecebur, kameranya gimenong? *alasan si penakut* :))

Tapi ya... itu pun masih kena dikerjain lho. Pas mau melanjutkan perjalanan meninggalkan air terjun, ban saya dihanyutkan persis di bawah air terjun. Pantesan para pemandu teriak nyuruh tahan napas dan kamera saya dengan senang hati diambil alih. Kepala saya digrojok air terjun setinggi 17 meter. Kayak ditimpa apaan gitu. Keras banget! Huaaaa! Saya teriak sebel. "Gue dikerjaiiiin! Awas yaaaa!!!" Eh, mereka malah ketawa :))

Nggak jauh dari air terjun, kami menepi. Selesai sudah raftingnya. Kami diangkut pulang pakai pick up, model yang biasa buat ngangkut kambing itu lho.. hehehe... pada mengembik deh semua.

Nggak puas tuh. Waktu tempuh 1,5 jam itu buat saya kurang banget. Rutenya kurang panjang, alirannya kurang deras. Kata pemandu, kalau musim hujan, rute biasanya lebih panjang dan aliran airnya deras. Ban kami nggak perlu sesekali didorong, sudah hanyut sendiri dengan kencang.

Perjalanan kembali ke basecamp menandai berakhirnya paket. Anak-anak Geng Coro udah sampai duluan dan sedang berhaha hehe sambil minum jahe hangat gratis. Lalu kami mandi dan ganti baju. Kamar mandi banyak lho, berderet. Lalu sholat ashar sebelum pulang bermotor ria, keluar dari Bejiharjo.

Oiya, dalam perjalanan ke lokasi basecamp cave tubing ini, motor Wuri pecah ban. Jalanan menuju ke sana memang penuh batu-batu. Buat yang mau ke sana dengan motor, sebaiknya periksa ban dan bensin sebelum berangkat ya. Buat yang nggak bawa motor, ada jasa ojek kok. Kalau sampai gembos atau pecah ban, penduduk sana sih dengan senang hati membantu. Pas kami mau pulang aja, tau-tau motor Wuri sudah terparkir manis siap dikendarai. Salut! :)

Yang harus disiapkan sebelum cave tubing dan rafting: stamina, buat cewek kalau bisa sih lagi nggak haid (karena basah-basahan dan berenang), baju ganti (termasuk pakaian dalam), sama bekal cemilan setelah balik lagi ke basecamp (ada jualan makanan juga sih kayaknya).

Buat yang mau nyobain seru-seruan, alamat kontak Wira Wisata Gelaran saya kasih nih:

Alamat : Gelaran II, Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia 55891
E – mail : www.wira.wisata@ymail.com
Facebook : http://www.facebook.com/wirawisata
Phone: +6285959656561
Cave Tubing Goa Pindul sekaligus Rafting Sungai Oyo cuma Rp 60.000 (kalau per paket: Rp 35.000)
Cuma satu yang disayangkan. Lokasi basecamp wira wisata ini agak susah dicari, cuma dikasih petunjuk arah papan-papan kecil. Untungnya di beberapa belokan atau persimpangan ada pemuda-pemuda setempat yang disiagakan untuk jadi penunjuk arah. Sip banget!

Gunung Kidul, malam kedua.

Untuk tujuan besoknya, yang masih berlokasi di Gunung Kidul, kami menginap di rumah sahabat keluarga Wuri, Mbak Utik. Cuma saya dan Wuri yang nginap. Mas dan mbakyunya harus kembali ke Jogja.

Saya bertemu dengan Mas Anggit, abang sulung Wuri, dan kami diajaknya makan di restoran yang ikan bakarnya di luar ekpektasi saya. Enak. Padahal saya nggak terlalu doyan ikan bakar, lho. Tapi yang ini enak. Nama tempatnya: Pondok Makan dan Pemancingan Sekar Kusuma, Jalan Wonosari (dekat pasar Wonosari). Terdiri dari saung-saung lesehan, bahkan ada karaokenya lho. Sayangnya, abang Wuri meyakinkan saya bahwa dia dan saudara-saudaranya nggak ada yang bisa nyanyi. Ya sudah, masa saya nyanyi sendiri. Kan nggak seru :P

Malam itu, tidur di rumah Mbak Utik yang besar dan berlangit-langit tinggi setelah sebelumnya ngobrol sama Mbak Utik dan ayahnya. Makasih ya Mbak Utik, kapan-kapan boleh mampir lagi ya? Hihi.

-To be continued

Geng Coro dan geng saya, sebelum masuk ke Goa Pindul, di atas ban.

Wuri (kiri), dan sebagian Geng Coro, di dalam goa, di bawah sinkhole

Rute tube rafting di Sungai Oyo. Lebih indah disaksikan langsung ;)

Masuk ke Goa Pindul!

Menepi di Sungai Banyu Moto, siap memanjat dengan seutas tali

Image and video hosting by TinyPic

14 comments:

Arman said...

baru mau komplein kok gak ada fotonya... ternyata masih diedit ya.. hahaha

Selfish Jean said...

Foto!!! BTW, lain kali kalo kaya gini2, mau dong ngikut. Soalnya aku nggak pernah nih. Pengen tapi nggak ada yang memandu *nggak ada inisiatif sama sekali haha*

fika said...

aduh seru banget tuh kayaknya...hehe br tau mba enno gak bisa berenang..

Apisindica said...

gw udah beberapa kali ke gua pindul karena tiap gw dinas ke sana si bapedanya selalu gak bosen bayarin gw masuk gua pindul. Hahaha

gw berani bertaruh pas di gua pindul pasti teh enno cuci muka di air awet muda. Iya kaaaaan? ngaku siah! hahaha. Eh atau jangan2 malah megang batu keperkasaan itu. :P

nita said...

waaa seru bgt dgr ceritanya.. tyt murah ya biaya cave tubing+rafting disana.. ditunggu fotone mba :)

Wuri SweetY said...

Hahahaha namaku rada eksis di episode ini.
Itu bukan terminal Tirtonadi mbakyu, tp terminal Giwangan.
Kl Tirtonadi kan perjalanan kita hari ke-3.

Enno said...

@arman: ngetik malem2, maaan.. nguantuk. udh tuh fotonya :D

@monik: masa sih ga ada temen yg bs diajak, mon? itu mah kamunya aja yg males ngajak2 kali ya hihi

@fika: halah udh sering diumumkan kok klo aku ga bs berenang :P

@apis: ah si pemandunya baru ngomong pas gw dah ngelewatin tetesan airnya! jd aja gak keburu! euleuh lama2 kmu jd penunggu goa, pis saking seringnya! :))

@nita: ga ada wisata mahal di sana... asal berani menempuh perjalanan yg jauh dan berkelok2 ke gunung kidulnya :)

@wuri: oiya.. wes ta' koreksi thx hehe... namamu akan tetep eksis di episod2 selanjutnya je :))

Gloria Putri said...

mana yg ada kamunya fotonya mba?

Annesya said...

ikuuut pengen ikuuttt *nyantol di ransel*

uuu tak gambar abe pas posisi koma, biar bisa tak mainin :3

Enno said...

@glo: yg paling bawah, tp ga jelas krn jauh *sengaja* wkwkwk

@annesya: kamu nyamar jd gantungan kunci ya? sketsa abe jgn yg pas lg koma dong ah! :))

affanibnu said...

sungguh menyesal saya tidak ikut tour ke pindul ketika saya masih kuliah.. how biutiful.. !

Annesya said...

uuu uuuu jadi gantungan boneka voodoo aja guee :3 yeeeeyyy :D

Enno said...

@alfa: kan skrg masih bisa :)

@annesya: boneka sawah aja :D

Rona Nauli said...

cobaa yaaa sayah sedang ndak galau, pasti ikutan, renang n jebur2an kaya ikan pesut juga :p...btw, untung juga aku gak ikut...soale kalo ikut, kamu bakal dapat terapi berani ama air dariku :))...piye, wani ora? :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...