Wednesday, March 14, 2012

A Day Without Rain

Hai,

Bahwa malam ini tiba-tiba kau melintas di kepalaku. Bahwa ada satu kenangan yang selalu kembali berputar di layar benakku. Itu di luar kehendakku.

Kita di pinggir pantai yang bersebelahan dengan kebun semangka. Di belakangmu ada samudera Hindia dengan ombak bergulung setinggi pohon kelapa. Aku berdiri di depanmu, menunduk, mengorek-ngorek pasir dengan jari kakiku yang telanjang. Lalu aku berkata, "Maaf. Tapi aku nggak bisa."

"Soalnya kamu suka sama Puja, kan?"
"Nggak, bukan karena Puja."
"Kamu tau kan, Puja udah punya cewek. Kamu liat kan ceweknya datang kemarin?"
"Aku tau."
"Kamu kaget ya, No?"
"Iya."
"Tapi kamu tetap suka sama dia..."
"Aku suka sama Puja, bukan berarti aku kepingin jadi pacarnya. Dia baik."
"Aku juga baik kan? Atau menurutmu tidak?"

Kita terus saja berargumen, di antara angin yang menerbangkan rambutku, pasir yang memerihkan mata, nyanyi ombak yang gemuruh di telinga. Kita masih bersitegang, meski sudah kuajak kau pulang.

"Ezra, ini sudah siang. Azan zuhur sudah berkumandang."
"Terima aku atau tidak?"
"Tidak."
"Selalu begitu. Selalu gara-gara Puja."
"Berapa kali kubilang kalau keputusanku bukan karena dia?"

Akhirnya kutinggalkan kau di pantai itu sendirian. Aku berlari pulang. Menerobos petak-petak tanaman semangka, menghindari sulur-sulurnya yang mengalas jalan. Kau memanggil-manggil di belakangku. Aku berlari, terus berlari.

Maaf, Ezra. Hatiku sudah terisi Puja. Sakit rasanya ketika tahu bahwa aku tak bisa memilikinya. Tetapi tak semudah yang kau kira untuk melupakannya.

Berapa umur kita waktu itu? Aku dua puluh satu. Kau mungkin hanya setahun lebih tua.
Wajahmu yang berdiri termangu di pantai itu masih mengungkit rasa bersalahku.
Hari itu pertama kalinya seseorang menyatakan cinta dengan manis dan romantis. Di pantai, di antara percik ombak, lembut pasir dan angin yang wangi garam. Tetapi aku menolaknya.

Bahwa malam ini kau menulis surat elektronik padaku dengan segenap ketulusanmu, membuatku terharu.
"Aku baca novelmu. Aku ingat cita-citamu untuk punya buku sendiri. Selamat ya."

Terima kasih, Ezra. Terima kasih masih mau menjadi temanku.

........................

Lelaki itu menunggu di parkiran perpustakaan kampus. Tersenyum lebar pada gadis berkaca mata yang berjalan riang ke arahnya. "Aku punya novel bagus!" Lapornya pada si gadis.
"Pinjaaaaam!"
"Nanti. Aku belum selesai baca!"
"Kamu bacanya suka lama! Aku duluan ya? Ya?"
"Nggak ah!"
Si gadis menonjok bahunya. "Awas aja nanti! Aku mau bikin buku sendiri! Kamu nggak akan kukasih gratis. Kamu harus beli sendiri!"

Lelaki itu tertawa. Meraih kepala si gadis dan mengacak-acak rambutnya. Si gadis melepaskan diri dan tahu-tahu sudah duduk di boncengan motornya.
"Kamu jadi antar aku beli cat buat kamar kost kan?"
"Jadi."
"Traktir aku makan bakso juga kan?"
Lelaki itu tergelak. Motornya dihidupkan.

“A friend is someone who knows all about you and still loves you.”
― Elbert Hubbard


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

16 comments:

Meida said...

hhmm.. sukaaaa!!

kebun semangka dekat pantai, bagaimanan ya aku bayanginnya?

anyway, suka quotes-nyaa... :D

Anonymous said...

nice story
-ika-

Annesya said...

=3=
=3=
=3=
=3=

apaan nih apaan nih apaan nih... baca sampe habis, tapi ga tahu kudu komen apah. ngeehehehehe

Gloria Putri said...

wkwkwkwk.....tercapai ya cita2nya....umur 21? wahhh....itu berapa puluh tahun yg lalu mba #plakkk
wkwkwk

aisha said...

Mba, sudh terima email aku kan?? Dan aku langsung menyelesaikan novelnya hari ini. Suka suka..#oot. Buat yg lain, dibeli ya novel mba enno, hihi..

Mine and Me said...

pengen baca novelnya juga...
sayang, dimakassar belum ada...

Try Afriarina H said...

Aku suka nice story. Aku suka pantai jg tp yg plg 'ngena' banget, kenangan itu dan surat elektronik.. Tiba2 aku meneteskan airmata *lebay
Ya, kenangan akan membuat kt lebih memahami hidup.. Blm sempet bl n0velmu mba enno..

Enno said...

@meida: harus ke cilacap klo kepingin tau kebun semangka di tepi pantai ;)

@ika: lho masih blm bisa komen pake nama ya ka? :P

@annesya: ckckck kebiasaan! :))

@glo: yah sekitar 50 taun yll lah :P

@aisha: hey udah baca ya? hehe... tengkyu ya :P

@mine aka suci: pesen di aku kan bisa, tar kutandatangani deh ;)

@try: kenangan membuat kita lbh memahami hidup. bener bgt. hayo beli novelku, tar ketinggalan :P

fika said...

this memory is still fresh ya mba enn...

Nurhikmah Nani said...

sukkaaaa... bener2 ajib dech baca kenangan2 mba enno *hehehehe*

BlogS of Hariyanto said...

Aku suka....bukan berarti aku kepingin jadi pacarnya...wow kalimat yang sungguh dahsyat :)

Enno said...

@fika: yup :)

@nani: halaah! hayo apdet! :p

@hariyanto: hahah masa gitu aja dahsyat :P

Rakyan Widhowati Tanjung said...

dilanjutin aja mbak, dibuat cerpen yg agak panjang aja hehe.
cerita pengalamannya bagus mbak, pas saya baca di akhir2 seakan bisa ngerasain... wow! :)

Annesya said...

ehek ehek... habisnya mau komen apah? mau muji tulisan pean? uda byk noh yg muji. mau nyela? uda ada jg yg mencela. wekeekekekkee #kabursebelumdilemparsandal

Avisena Adistya Sukmaning Rahajeng said...

kak enno kok pinter buat cerita sih. Makan apa kak? Jadi terinspirasi jadi novelis :)

Enno said...

@rakyan: iya ya? tar kapan2 deh ya.. tq :P

@annes: *lempar bakiak*

@avisena: waduuuh... makan hati kayaknya hahaha

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...