Monday, June 11, 2012

On Writing: Tentang Detail Cerita

Yuhuuu! Ketemu lagi di sesi On Writing! Hehe…
Saya berusaha untuk nggak sotoy, kasih tips sana-sini, mentang-mentang baru nerbitin novel. Novel baru satu ajaaa… demikian mungkin kata sebagian orang, ya? :D

Masalahnya, kalau kemudian banyak yang membombardir saya dengan pertanyaan soal teknik menulis, gimana dong? Padahal, saya juga sama-sama masih belajar. Akhirnya, yang bisa saya lakukan ya sekedar sharing pengalaman. Teknik menulis saya kan otodidak, tetapiii… karena saya bekerja sebagai editor, dan banyak belajar dari senior-senior saya yang kompeten (mereka sih lulusan Sastra–kebanyakan Sastra Inggris malah) , setidaknya tips-tips saya cukup bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan-lah gitu. Hahaha… *ngedipin senior*

Baru-baru ini pertanyaan yang mampir adalah soal detail di dalam cerita. Eh, lalu saya baca tuh di review-nya Fenty tentang novel saya Selamanya Cinta di blognya. Dia ngeluh nggak bisa menulis detail cerita seperti saya.
Errr… seperti saya? Seperti Andrea Hirata ajalah yang lebih jago . Ya? Ya? :P

Detail yang dimaksud teman-teman di sini mungkin ‘deskripsi’. Bagaimana penggambaran suasana, situasi, mimik tokoh dan mungkin juga termasuk dialog yang natural seperti layaknya percakapan lisan.

Dalam pekerjaan saya di dunia jurnalistik, detail atau deskripsi dalam berita atau artikel yang ditulis itu hukumnya wajib. Selama meliput di lapangan, kami wajib pasang mata, pasang telinga, mencatat setiap pergerakan di lapangan. Entah itu si narasumber, atau orang-orang di sekitar yang berkaitan dengan topik liputan. Kalau meliput demonstrasi, misalnya. Detail situasi termasuk penting untuk diperhatikan, kemudian ditulis. Karena jeli, wartawan di lapanganlah yang seringkali menemukan adanya provokator dalam kerusuhan massa.

Yang sebenarnya sih, menulis dengan mendetail itu bisa dilatih kok. Ini nih, saya kasih tahu caranya.

  1. Kalau kamu punya buku diary, bisa dipakai untuk latihan. Tuliskan apa saja yang terjadi pada hari itu, sedetail-detailnya. Tulis perasaan kamu, dan dialog-dialog percakapan kamu dengan orang-orang yang kamu temui hari itu. Kalau kamu belum punya buku diary, ayo bikin! :D 
  2. Perhatikan kamar kamu. Lalu deskripsikan dalam tulisan, dalam 300-500 kata. 
  3. Tulis biografi diri kamu sendiri. Batasi, misalnya 500-1.000 kata. Tulis sampai hal-hal sekecil-kecilnya, dan yang nggak penting sekalipun. Toh bukan untuk dibaca orang kan? :P 
  4. Pilih lima orang teman kamu, yang kamu kenal baik. Deskripsikan karakter mereka, sebanyak yang kamu bisa. 
  5. Semua orang pasti punya kenangan masa kecil. Ceritakan kenangan yang paling indah, dan yang paling tidak mengenakkan. Ingat-ingat setiap detailnya. Yang seperti ini, saya menyebutnya ‘latihan memanggil memori’. 
  6. Deskripsikan sebuah tempat yang kamu kenal, atau pernah kamu kunjungi. Gunakan semua indera untuk mendeskripsikan apapun di tempat itu (rasa, suara, suasana, aroma), tapi jangan pakai indera penglihatan. Cobalah menulis dengan cara seperti itu sampai pembaca benar-benar bisa membayangkan tempat itu sampai dengan detail-detailnya. 
  7. Rekam percakapan teman-teman kamu dengan diam-diam, misalnya waktu sedang nongkrong di kantin, atau mengobrol di kelas saat jam istirahat. Setelah itu transkrip/salin hasil rekaman ke dalam tulisan. Kamu akan mendapatkan contoh dialog yang natural. 

Untuk teman-teman yang sudah mulai menulis novel, tapi mentok di detail cerita. Saran saya sih, kalian wajib riset. Kalau settingnya tentang kehidupan anak sekolah, sedangkan kamu sudah bukan lagi anak sekolah, kamu bisa datang ke sebuah sekolah untuk melihat susunan bangunan kelasnya, gerak-gerik para murid dan guru-gurunya. Atau kalau kamu ingin mengambil setting tentang pecinta alam, sebaiknya sih bergaul dengan kelompok pecinta alam dan ikut salah satu kegiatan mereka. Detail cerita akan mengalir lancar saat kamu menulis.

Tipsnya segitu dulu aja ya... Itu ada tukang bakso lewat. Saya mau ngebakso dulu. Hehehe...
Selamat latihan! :D


pict from here

xoxo

Image and video hosting by TinyPic

16 comments:

Lita said...

kalau aku gimana? Detil ceritaku gimana *sentil2 mbak Enno*

Enno said...

@lita: aww! udah oke sih... tp msh males bikin outline ga? :P

Joan Indalao said...

thanks tipsnya :)
entar mau coba ah buat latihan nulis novel :D

RIAN Ra-kun said...

mantap seklai tipsnya mbak. layak dipraktekkan dengan tekun nih ^^

Annesya said...

kaka aku mau curhat...

ini kenapa novel saya menthoknya di penerbit. mereka pada galau nerbitin. terus ini salah siapa? salah gue? salah temen-temen gue? #alaAADC
XDD

ammie said...

thnk's mba..bermamfaat ngt nih..terutama buat saya:)

Enno said...

@joan: selamat latihan dan nulis :)

@rian: klo gitu, praktekin graaak! :D

@annesya: yg jelas bkn salah gue juga nes :))

@ammie: sama2, met nulis ya mie :)

Fenty Fahminnansih said...

intinya adalah latihan ya, jeng enno ? :)

rabest said...

waaahh...tipsnya juga detai banget mbak enno.. hehehe

Enno said...

@fenty: bener jeng fenty.. met latihan yak :D

@rabest: ehehe ya hrs detail, biar langsung paham ;)

SiMunGiL said...

Makasihhh sudah berbagiii...mwah!!

ijal said...

haloooo mba enoooo...

Enno said...

@mei: sama2... muah jg deh :))

@ijal: eh pak dokter... kemana aja? byk pasien yg hrs diobatin ya? :)

Gloria Putri said...

aqqq...aqqqq lulusan sastra inggris juga loooooooo.... huwaahahahha........ *banggapadahalseringtidurdikelassampeprologajalupa*

Gloria Putri said...

aqqq...aqqqq lulusan sastra inggris juga loooooooo.... huwaahahahha........ *banggapadahalseringtidurdikelassampeprologajalupa*

Enno said...

@glo: kamu lulusan sastra inggris, tp masih nanya prolog itu apa sama lulusan hukum.
payah! :))

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...