Wednesday, May 9, 2012

When The Love Has Gone

Kau masih seperti langit malam
Tak terbaca
Dengan sebuah bintang yang berkelip samar.
..............

Mereka duduk bersebelahan. Di bibir sumur, di depan rumah. Canggung. Percakapan yang terjadi semula hanya basa-basi.
"Kapan sampai?"
"Kemarin."
"Naik kereta?"
"Iya. Seperti biasa."
Lalu hening.

Perempuan itu menunduk, menatap kakinya yang bersepatu keds. Sudah berapa abad mereka tak lagi saling berkirim kabar? Sudah berapa ratus adegan yang terjadi dalam kehidupan mereka sejauh ini, yang tak lagi saling terhubung? Ia bahkan tak mengerti, kenapa ia harus jauh-jauh datang hanya untuk berbasa-basi dengan lelaki ini.

"Kamu baik-baik saja, kan?" Lelaki di sebelahnya bertanya.
Apakah kau masih peduli? Ia bertanya dalam hati. Setengah geli, setengah sedih. Atau itu cuma kalimat yang biasa kau lontarkan pada seorang kenalan lama?
"Aku baik-baik saja. Selalu."
Bahkan kau tak tahu betapa pedihnya harus mengucapkan selamat tinggal padamu kala itu.

Semilir angin menerbangkan helai-helai rambut perempuan itu. Ia merutuki situasi yang begitu canggung. Dulu  tidak begini. Dulu kami tertawa dan saling menggoda. Dulu aku melingkarkan lenganku di pinggangnya saat kami naik motor keliling kota. Dan ia menatapku sambil tersenyum dengan kedua mata elangnya yang dalam. Dulu.

Bunga pagi sore itu masih ada di halaman. Bunga yang selalu turut dalam kisah-kisah yang ditulisnya tentang mereka. Warna merahnya seperti darah dalam tangisnya ketika kisah mereka diusaikan.

Kini giliran perempuan itu menoleh pada si lelaki yang tengah termenung. "Dan kamu, baik-baik juga kah?"
"Tidak." Lelaki itu menatapnya sekilas. Mengalihkan tatapannya ke rumpun bunga pagi sore sambil tersenyum samar. "Apakah aku kelihatan baik-baik saja?"
Perempuan itu mengedikkan bahu. "Aku tak tahu. Sejujurnya, aku tak lagi mengenalmu seperti dulu."
Lelaki itu menghela napas. Perempuan itu juga.

Kau sudah memilih dia, kan? Kau menyuruhku pergi dari hidupmu, agar kau bisa tenang bersama perempuan itu. Lalu kalau sekarang kau kecewa padanya, apakah itu urusanku?
Kau hiduplah baik-baik dengan pilihanmu. Terimalah konsekuensinya dengan lapang dada. Hari ini aku datang hanya sebagai teman. Tak peduli perasaanku padamu masih seperti dulu. Aku tak lagi ingin mengganggumu. 


“This is a good sign, having a broken heart. It means we have tried for something.” 
 ― Elizabeth Gilbert, Eat, Pray, Love



pict from here

  Image and video hosting by TinyPic

8 comments:

JejakShally said...

eheeem mba enn..
ini tentang pria yang waktu itu beberapa kali sempat kamu tulis disini juga yaaaa..

hujan akhir-akhir ini bikin lelah mba *fiuuh*

FeraSuliyanto said...

mbak enno bikin cerita tentang aku ya? #eh
*pede* *ambil gincu*

baca ini, seperti lagi bercermin perasaan sama perempuan yang ada dicerita ini. hihihi.

Annesya said...

ini pejalan plin plan bukan mbak?

outbound malang said...

kunjungan gan.,.
bagi" motivasi.,.
hilangkan rasa gengsi mu untuk maju lebih baik.,.
di tunggu kunjungan balik.na gan.,.,

Enno said...

@shally: ini tentang 'Hujan' hehe... disini hujannya gak bikin lelah, soalnya ga bikin macet kyk di jkt :P

@fe: idiiih... bukannya kmu lg LDR fe? *sotoy* :P

@annesya: bukan bgt.. dia mana mau aku temuin, yg ada dia nyemplung tu ke sumur. lagian aku jg ga sudi nemuin dia :P

@outbond: thx kunjungannya, tp bs ga ya komennya gak itu2 aja?

Gloria Putri said...

wkwkwk....ngekek baca komennya annes...huakakakakak......
skrng si hujan dmn mba? klo spring? apa kabarnya dia disana? wkwkwkwk.......

Enno said...

@glo: annes lg gak peka... soalnya lg pny masalah sendiri :)

Hujan ada di jogja... spring? embuh, udah mati kali :P

FeraSuliyanto said...

@mbak enno: LDR berakhir. hahahaha *ketawa sambil berlinang* :p

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...