Friday, January 8, 2010

Neneknya Siapa?

Di dalam bus yang rutenya melewati rumah kost saya, ia duduk di samping saya sejak dari terminal. Saya bahkan menawarinya bertukar tempat duduk agar ia bisa duduk di dekat jendela, menikmati angin sore dan tidak tersenggol-senggol penumpang yang berdiri. Penampilannya mengingatkan saya pada kedua nenek saya yang sudah meninggal. Kebaya dan kain batik, rambut putih disanggul cepol dan tertutup kerudung putih, wajah keriput yang teduh dan sebuah tas tangan yang dikepit erat-erat.

Kami bercakap-cakap. Katanya ia baru saja menengok cucunya di Bekasi. Saya menatapnya ngeri. Jakarta - Bekasi itu tidak dekat, dan orang setua dirinya bepergian sendiri tanpa ditemani.

"Kenapa Nenek pergi sendiri? Di rumah tidak ada yang bisa mengantar?"
"Anak Nenek yang di sini sibuk," ujarnya sambil tersenyum. "Dan Nenek tidak mau merepotkan. Kasihan. Nenek bisa kok pergi sendiri."

Tapi ini sudah sore. Kenapa anaknya di Bekasi membiarkan ia pulang? Bagaimana kalau ibunya kemalaman di jalan?

Ia bilang ia harus turun setelah dua perempatan di depan sana. Di depan gang yang ada toko foto kopi terkenal itu.
"Jalan XYZ?" Tanya saya. "Saya juga turun disitu, Nek." Saya langsung mengingat-ingat apakah saya pernah melihat nenek ini di rumah salah satu tetangga.
Ternyata ia memang turun di situ. Ia langsung berdiri mengikuti saya ke pintu keluar bus. Saya meminta sopir bus untuk menunggu dengan sabar karena ada orang tua yang hendak turun.

Di tepi jalan, ia tampak bingung.
"Rumah Nenek di sebelah mana? Saya antar ya?"
"Ini Jalan XYZ kan?"
"Iya."
"Kok beda ya, Nak?"
"Ini benar Jalan XYZ, Nek. Itu toko foto kopinya. Rumah Nenek nomor berapa?"
"Nenek lupa. Itu bukan rumah Nenek. Itu rumah anak Nenek."
"Nenek bawa KTP nggak? Kalau Nenek sudah lama tinggal disini, alamatnya pasti alamat sini. Coba saya lihat."
Ia mencari-cari dalam tas tangannya. Lalu menggeleng. "Nenek tidak bawa."
Oh Tuhanku. Ini neneknya siapa sih? Tega benar keluarganya membiarkan orang tua yang sudah pikun seperti ini bepergian sendiri! Bagaimana kalau sampai tersesat dan tidak bisa pulang!

Wajah nenek itu semakin cemas. Tentu saja. Hari sudah semakin sore, sudah mulai gelap. Azan Magrib sudah berkumandang. Ia memegang tangan saya erat-erat, membuat saya semakin iba.

"Kita jalan pelan-pelan ya, Nek. Siapa tahu nanti Nenek lihat tanda atau ciri apa gitu yang bisa dikenali."
Maka kami menyusuri Jalan XYZ. Melewati rumah kost-ku dan rumah-rumah tetangga yang sepi karena semuanya sudah berada di dalam rumah. Tak ada seorangpun yang bisa ditanyai apakah mengenal nenek ini.

Cekalannya di tanganku semakin erat, malah kini gemetar.
"Nenek capek?"
Ia mengangguk.
"Kita ke rumah Pak RW saja ya? Kalau Nenek memang tinggal disini, dia mungkin tahu. Nama anak Nenek siapa?"
"Ruli Tahir."
"Oke. Ayo Nek, kita jalan lagi pelan-pelan ya. Kita ke rumah Pak RW."
Rumah Pak RW itu lumayan jauh dr situ. Untung saya tahu rumahnya, gara-gara dulu mengantar teman mengurus sesuatu.

"Sabar ya Nek. Rumahnya di sebelah sana. Yang cat biru." Rumah itu ada di ujung gang. Melewati enam rumah lagi.
Tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di samping kami. Seorang laki-laki bergegas turun menghampiri kami.
"Lho? Ibu? Ibu dicari-cari sama anaknya!" Kata pengendara motor itu.
"Bapak kenal nenek ini?"
"Iya mbak. Ini ibunya tetangga saya, Pak Ruli."
"Aduh, syukurlah. Saya sedang mengantar dia mencari rumahnya. Nenek mendadak lupa."
"Beliau memang sudah pikun, Mbak. Makasih sudah menolong. Tuh Bu, untung ketemu orang baik. Ayo Ibu saya antar pulang. Pak Ruli bingung tuh."
"Benar rumahnya di sekitar sini, Pak?"
"Iya Mbak. Di RT sebelah."
"Oh, ya sudah. Nenek ikut bapak ini saja ya, dibonceng motor biar cepat sampai. Biar cepat bisa istirahat di rumah, ya."
"Ya. Terimakasih ya Nak. Kamu ini sudah ayu, baik sekali. Terima kasih ya." Ia mengelus lengan saya dengan tangannya yang keriput.
"Iya Nek. Lain kali jangan pergi sendirian." Saya menoleh pada tetangga anaknya itu. "Pak, tolong bilang sama anaknya, jaga ibunya dong. Masa dibiarkan pergi-pergi sendiri. Kalau nggak bisa pulang gimana."
"Iya, Mbak. Terima kasih ya. Permisi."

Nenek itu akhirnya pulang dengan sang tetangga. Saya pun bisa bernapas lega.
Fyuh!
___________

Kepada Pak Ruli, tolong ya lain kali ibunya dijaga baik-baik.


Image and video hosting by TinyPic

34 comments:

Intan Alasdair said...

Untung sekali nenek ini bertemu kamu enno! :) What a gentle soul you are! :)

Elsa said...

waaaah Enno baik sekali!!!!

ga tega banget ya. itulah bahayanya penyakit pikun. benar benar bahaya.

untunglah, ternyata Si Anak tidak menelantarkan orang tuanya.
untunglah Sang Nenek bertemu orang sebaik Enno,,

Hijau Lumut said...

Syukurlaaaaahhhh....

Kasian banget neneknya kalo ga ditolongin ya, mba... Untung beliau masih ketemu orang baik... :)

Freya said...

iiiiiiiiih.........

ka enno kamu baik sekaliiiii......*mencoba berpikir untuk minta duit ke ka enno. errr...kira2 dikasih ngga ya?*

Sari said...

Pasti Neneknya pake kacamata kuda waktu bilang Enno 'ayu' *dilempar kebab sama Enno*
Hwahahaha :P

Enno said...

@intan: ah, semua org juga pasti melakukan hal yg sama spt aku kan? kamu juga kan :)

@elsa: iya bahaya... kasian pula

@hijau lumut: alhamdulillah ketemu aku... aku jd inget nenekku...

@freya: wah kalo minta duit, tergantung suasana hati hahaha... dasar!

@sari: maap ya... eike memang ayu! dasar aja sirik *lempar sari pake bakiak. kebabnya dimakan sendiri aja*

Lina said...

wah mbak, tetangga saya ada juga tuh yang sering diem-diem kabur. udah pikun juga. padahal anak-anaknya sudah jagain.

hem...untunglah nenek ketemu mbak enno.

Ila Schaffer said...

waaahh untung ada enno..
enno baiik sekaalii :D
salut.

Exalandra said...

Hi Wonderwoman ;) Senengnya masih ada orang baik di Jakarta. Hehehe.

NaiCaNa said...

wah hati k'enno sungguh mulia ;)

Henny Y.Wijaya said...

ada gitu yang ngebiarin neneknya keluyuran sendirian sementara dia sendiri ga tahu jalan?? gawat!
untungnya nenek itu ketemu orang yang baik hati kayak mbak enno.ehehe..suit..suit..

Enno said...

@lina: iya kayaknya byk deh kejadian gini ya...

@ila: ah smua org pasti ngelakuin hal yg sama kan? :)

@exalandra: wahaha disini bukan wonder woman tapi warrior princess hehe... insyaAllah msh byk kok org baik di jkt.

@naicana: ah biasa aja... *blushing* wkwkwkwk

@henny: banyak hen... byk yg ga aware... mudah2an klo pun ga ketemu aku, si nenek ketemu org laen yg juga baik :)

Gogo Caroselle said...

u're my wonderful woman with wonderful heart
*huggggs*

Enno said...

@gogo: and you're my wonderful friend, gogo agogo sugogo hahaha

*hugs*

maiank said...

pesti jadi malu-malu gitu mb enno dibilang ayu
hihihi :)

Enno said...

ahahah bukan malu... tapi jd tambah yakin kalo narsis itu perlu

hihihi

owly said...

uuh sebaal! kan kasian si nenek jalan sendirian. kalo beliau diapa-apain gimana? huhuhuhu, kok ga ditemenin siih. jahat deh :(

pokoke nanti ibuku tak boleh kemana-mana sendiri. biar ga kenapa-napa :)

Bintang said...

hmmm,,, jadi inget nenekku juga yg udah ngga ada. tangan keriputnya, rambut yang digelung, dan kebayanya... beruntung sekali ketemu mba Enno. terima kasih sudah mengantarkan nenek itu ya.


Bintang

Raxen Vrathdar said...

Thx God, di kota2 metropolitan skrg (sbgaimn yg ak rasain :P) udah jarang ada orang yang masih punya empati. Smoga aj org2 ky mbak Enno ni tmbah lestari :D

ocheholic said...

jadi inget nenek saya juga,,
dua2nya meninggal, dan saya ga sempet melihat senyum terakhirnya hiks.

salut!
dimanapun berada, tetap berbuat kebaikan

ajenk said...

err...nek...nek...nama mbak ini enno bukan ayu... :P

LOL

waaa...syukurlah dia ketemu mbak enno...dan pulanglah nenek itu dengan selamat...hehe....

Arman said...

wah iya kasian banget si nenek...

seneng ya no udah nolongin orang... dibilang ayu pula.. hahahah

Alil said...

wondering...
you always found the most interesting things at the least expected place...

bravo...

Desi Eria R. said...

Wah wnno, baik sekali kamu :)

Dewi MalaM said...

ironis bgt yach...aku yang ga pny kesempatan mengenal nenek membaca kisah enno miris bgt hati ini, andai dia adalah nenekku.

Shin-kun said...

No, Shin-kun salut dan acungin 2 jempol buat kamu, di kota seperti Jakarta, jarang orang baik sepertimu :). Cuma kalo boleh Shin-kun kasih saran, jika Shin-kun di posisimu, Shin-kun akan tanya saja sama Bapak itu dimana rumah Pak Ruli dan Shin-kun antar sendiri, atau Shin-kun akan tetep menyertai nenek itu ke rumahnya bersama Bapak itu :D.

Selain prinsip Shin-kun 'sebisa mungkin kalo nolong gak setengah2', juga sikap hati2, kita gak kenal Bapak itu kan?, r u really sure that he's a good person? :). Itu saran saja No :D.

maya sitorus said...

mbaaaa..
kenapa dikaw itu ikut mengantarkan si nenek ampe ke rumah pak ruly yg dimaksud..sekalian nasehatin pak ruli dan untuk memastikan bener ga si pengendara motor itu kenal pak ruly???

maya sitorus said...

revisi euy..ada salah pengetikan yang memnimbulkan makna yang berbeda dgn yang dimaksud..mohon dimaklumi hihihiih
-------------------------

mbaaaa..
kenapa dikaw tdk ikut mengantarkan si nenek ampe ke rumah pak ruly yg dimaksud..sekalian nasehatin pak ruli dan untuk memastikan bener ga si pengendara motor itu kenal pak ruly???

10:14 PM

Pohonku Sepi Sendiri said...

mbak ayu memang baek ya.. hihihi..
semoga jadi pengalaman kita2 akan perlakuan pada orang tua.. krn pada akhirnya nanti kita pun akan renta.. hehe..

ALRIS said...

Satu kebaikan akan dibalas seribu. Amin

-Gek- said...

Mbak Enno yang ayu memang ayu luar dalam.. udah gitu pawai menulis pula.. ck ck ck ..

Thumbs up, Mbak!

Enno said...

@owly: bener tuh, ibunya harus ditemenin kalo pergi2 ya...

@bintang: kirim doa buat mendiang nenekmu kalo kamu kangen... :)

@raxen: lestari? emang aku sejenis tanaman ya hihihi

@ocheholic: amin, mudah2an...

@ajenk: haha iya, namaku kan bkn ayu :P

@arman: hahaha alhamdulillah akhirnya ada juga yg ngomong jujur bhw gue ayu ya :D

@alil: I think so... thanks God :)

@desi eria: semua org akan melakukan hal yg sama kok :)

@dewi malam: kalo dia nenekmu aku mau diapain? :P

@shin-kun dan maya: aku tau bapak itu memang rumahnya di RT sebelah, cuma gak kenal namanya... :P

@pohonku: bener bgt... :)

@alris: amin...

@gek: halah... jgn kebanyakan muji ntar aku tambah narsis hahaha thx gek :P

owly said...

iyaa.. daripada ibuku hilang huhuhuhu

adhi said...

yahh kirain cerita horor...hahahha

pan seru tuh,kalo neneknya tiba2 menghilang gitu..hahaha

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...