Monday, July 4, 2011

Namanya Renata

"Saya Renata, Mbak," katanya pelan. Wajahnya menunduk, tak berani beradu pandang.
"Sudah lama kerja di sini?"
"Sudah tiga tahun, Mbak."
"Umur kamu berapa, Ren?"
"Bulan depan tujuh belas."
"Tujuh belas? Jadi kamu sudah bekerja di sini sejak umur 14?"
Ia mengangguk.

Kamar tempat kami duduk sempit dan pengap. Tak ada jendela, tak ada celah, tak ada sesuatu pun yang bisa membuat cahaya menerobos masuk. Hanya ada sebuah bola lampu 15 watt di sudut, tak cukup menerangi wajah kami.

Tanpa harus dijelaskan, saya tahu nama sebenarnya bukan Renata. Ia berasal dari sebuah kampung di sudut Karawang. Kampung miskin yang gersang dan tak subur, katanya. Penduduk kampungnya berpencaran pergi ke kota mencari penghasilan untuk dikirimkan pada keluarga dan orangtua. Tak ada harapan jika bertahan di sana.

Renata dan dua temannya tinggal berdesakan di kamar sempit itu. Ketika saya dan Inayah, teman dari sebuah LSM pemberdayaan wanita datang pagi itu, mereka sedang tidur berhimpitan di atas ranjang tua berkasur tipis. Wajah mereka masih tersaput make up yang luntur, dan pakaian mereka masih pakaian yang dipakai semalam. Tank top dan rok mini.

Saya menyodorkan bungkusan roti dan susu kotak agar mereka merasa lebih nyaman bercakap-cakap sambil sarapan.

Hanya Renata yang bersikap lebih terbuka. Ia duduk bersama kami di lantai. Cindy dan Meiska, pasti nama samaran juga, tetap berbaring-baring di ranjang sambil mengunyah roti.

"Saya dijual Bapak ke lokalisasi waktu umur 14." Renata mulai bercerita. "Bapak bilang saya harus bekerja untuk membiayai dua adik saya yang masih sekolah."

Renata dititipkan pada seorang perempuan, kerabat jauhnya, yang ternyata seorang germo. Keperawanannya dijual pada seorang laki-laki seusia ayahnya, yang merenggutnya kehormatannya di jok belakang sebuah mobil di Ancol.

"Badan saya rasanya remuk. Sakit sekali." Ia meringis, mengenang malam yang jahanam itu. "Tapi hati saya lebih sakit lagi. Tega-teganya Bapak menyuruh saya melakukan perbuatan yang menurut guru ngaji saya dosa besar."

Renata mencoba melarikan diri dari lokalisasi, tapi para bodyguard bibinya selalu saja bisa menangkapnya lagi sebelum pergi jauh. Akhirnya ia putus asa dan bertekad mengikuti nasib. Pasrah dan hanya bisa berdoa agar ia bisa pergi dari sana.

Doanya dikabulkan. Ia bertemu laki-laki yang kemudian menjadi suaminya sekarang. Laki-laki yang umurnya dua kali lipat dari umurnya yang saat itu baru 16 tahun. Bibinya mengizinkan ia pergi. Mungkin karena ia sudah mendapatkan lagi 'daging segar' yang baru, atau mungkin hati nuraninya akhirnya terketuk bahwa sebagai saudara, ia wajib mendukung kebahagiaan keponakan jauhnya.

Tapi apakah kamu bahagia?

Renata-memindahkan isi susu kotak ke gelas dan menyeruputnya dengan gaya kekanak-kanakan yang polos-menggeleng. Di atas bibirnya, susu itu membentuk garis setengah lingkaran seperti kumis. Meyakinkan saya akan kebenaran umurnya yang sangat muda.

Ia hanya pindah lokasi, bukan profesi. Suaminya berjualan minuman di kawasan sepanjang rel kereta di Jalan Latuharhari, Menteng. Ia sendiri, karena tuntutan ekonomi, menjajakan diri di salah satu warung remang-remang dari papan seadanya yang banyak terdapat di sana. Rel yang berada di pinggir anak sungai Ciliwung itu merekam kisah Renata dan teman-temannya sebagai penjaja seks jalanan, dan kembali dalam cengkraman germo. Di sepanjang tepian anak sungai itu banyak terdapat gubuk-gubuk kecil dari kardus yang disewakan untuk penjaja dan pembelinya.

Sekitar tahun 2005-2007 saat saya melakukan investigasi tentang pelacuran anak-anak, sepanjang jalan Latuharhari masih merupakan lokasi pelacuran jalanan dengan pelanggan dari kelas ekonomi bawah. Para pekerja seks menemani pelanggan makan dan minum di warung-warung yang ada dan mendorong mereka agar membeli minuman sebanyak-banyaknya karena pemilik warung akan memberi komisi untuk setiap botol minuman keras yang dibeli. 

Pelanggan biasanya memberi tip kepada pekerja seks sekitar 25 ribu sampai 100 ribu rupiah. Untuk pekerja seks anak-anak, tarif booking adalah antara 75 ribu hingga 200 ribu rupiah, dengan biaya sewa kamar ditanggung pelanggan. Anak-anak ini mendapat bagian  sekitar 75-80 persen dari tarif tersebut dan selebihnya diberikan kepada germo.

"Jadi kamu melacur lagi?"

"Saya bisa apa, Mbak? Suami saya penghasilannya nggak cukup buat makan dan ngontrak rumah."

"Lalu kenapa kamu malah ngontrak rumah sama dua temanmu ini?"

Ia tersenyum getir. "Karena lebih enak kayak gini, Mbak. Saya bisa pergi dan pulang kapan aja sehabis kencan dengan pelanggan. Nggak kelihatan sama suami. Pasti dia akan merasa nggak enak hati, saya juga begitu. Jadi kami ketemu beberapa hari sekali aja. Selebihnya lagi untuk kerja supaya kami bisa bikin rumah di kampung dan menyekolahkan adik-adik sampai selesai."

Saya tercenung. Terdengar helaan napas berat Inayah, seolah-olah saya juga bisa mendengar kepiluan dalam batinnya. Mata Renata justru berbinar-binar oleh cita-citanya barusan.

"Ah, sebenernya kamu nggak perlu ngerasa nggak enak gitu, Ren," celetuk Meiska. Ia turun dari ranjang dan ikut bergabung bersama kami. "Dari awal kan memang si Husni yang nyuruh kamu ngelonte lagi."

"Kalo nggak gitu, darimana uang untuk dikirim ke kampung?" Balas Renata. "Aku nggak punya cukup modal buat dagang. Lagian aku udah terlanjur kayak gini. Mau gimana lagi?"

"Kalian nggak mau berhenti?" Tanya Inayah. "Nggak mau kerja yang halal? Kalian bisa jadi pelayan toko atau pelayan rumah makan."

Di atas ranjangnya Cindy tertawa. "Nanti malah sekalian jualan badan juga, Mbak. Kami udah kebiasaan soalnya." Meiska ikut tertawa, tapi Renata tidak.

Saya tahu, tidak seperti dua temannya, Renata benar-benar ingin berhenti dari kehidupan malamnya. Berhenti menjajakan tubuhnya pada lelaki-lelaki hidung belang tak berduit yang hanya mampu menyewa pelacur murahan di pinggir rel kereta api. Renata ingin membiayai adik-adiknya dengan uang halal. Ia bahkan masih mengingat ajaran guru ngajinya bahwa perbuatan yang dilakukannya sekarang itu berdosa besar.

Tiba-tiba saya ingin menangis. Ingin memberitahunya bahwa apa yang diinginkannya bisa terkabul asal ia punya tekad yang cukup kuat.

"Begini," kata saya. "Mbak Inayah ini kerja di yayasan yang biasa membantu perempuan-perempuan seperti kalian. Kalian akan diberi keterampilan dan dipinjami modal. Akan diajari tentang kesehatan dan menjaga diri dari bahaya HIV/AIDS. Kalian akan dibimbing untuk kembali ke masyarakat, punya pekerjaan halal dan kehidupan yang normal. Kalian masih muda... punya banyak kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik."

Ketiga gadis muda itu diam tercenung. Tiba-tiba Renata terisak. Ia tampak malu dan buru-buru menghapus air matanya. Usaha yang sia-sia karena air mata itu terus saja mengalir di pipinya yang cekung.

"Betul, Mbak? Saya kepingin bisa menjahit atau masak, atau apapun, Mbak. Nggak ada yang ngajarin saya, nggak ada yang ngasih pinjam modalnya. Saya kepingin berhenti jadi pelacur..." Isaknya semakin keras.

"Kamu akan dibantu..." Hanya itu yang bisa diucapkan Inayah, dengan suara yang tercekat.

Matahari telah mulai memanggang Jakarta ketika kami beranjak dari kontrakan sempit di perkampungan kumuh itu. Di ambang pintu, Renata memeluk saya dan Inayah erat sekali. Di wajahnya ada harapan dan kegembiraan. Seolah-olah ia telah menemukan setitik cahaya di ujung lorong setelah begitu lama tersesat dalam kegelapan.

Setahun kemudian, dari Inayah saya tahu, Renata menjadi pembuat aksesoris sederhana untuk anak-anak, seperti bros, kalung, gelang dan jepit rambut. Suaminya yang menjualnya ke toko-toko.

Saya lega sekali. Rasanya saat itu ingin melompat-lompat gembira mendengar kabar itu, seandainya saja saya tidak menelepon dari meja sekretaris redaksi dan tidak ada seorang kontributor daerah sedang duduk menunggu pemimpin redaksi di dekat situ :)


pict from here


Image and video hosting by TinyPic

19 comments:

Arman said...

ngenes banget ya no...
duh kok ada ya bapak yang tega sampe ngejual anaknya gitu... sedih dengernya... tapi ya fenomena ini emang ada ya... :(

l i t a said...

Nice post. Love it. Makes me grateful more for my life, though isn't perfect, but didnt make me endure such pain as Renata.

Mimi sikembar said...

Miris banget ya mbak..
Tapi itulah tuntutan ekonomi yang masih terlihat jelas di masyarakat kita, mau tidak mau.. suka tidak suka..

semoga ada renata renata lainnya yg punya keinginan kuat untuk berubah :)

Happy Blogging :)

Belo Elbetawi said...

Kirain menjual anaknya dan di jadiin pelacur cuma ada di pilem2.. ternyata...
Kejam dan tega banget ayahnya :( syukurlah.. kalo renata sekarang udah bisa berdiri sendiri..

3sna said...

duh kekejaman dunia.. ada bapak seperti itu :) terpaksa dilakukan untuk bisa hidup dan mengisi perut...

salam~

Boy Andri said...

Saya terharu banget bacanya. Di tengah-tengah lingkup takdir yang kejam, tapi di hatinya masih ada cahaya yang mati-matian dia perjuangkan...

Semoga ada habis gelap terbitlah terang untuk Renata.

gloriaputri said...

berasa nntn memoirs of geisha nih, bagian yg bapaknya jual anaknya..
duh, bapak macam apa sih itu? bukannya bertanggung jawab atas kehidupan anak2nya, malah mengeksploitasi anak sendiri...

danan said...

Masalah ekonomi atau pembiaran para penguasa...kemiskinan merajalela tapi di satu sisi banyak mobil jaguar di jalanan jakarta...pertanda matinya mata hati atau...

Adhi Glory said...

miris banget saya bacanya, mbak... merasa banget kita yang lebih beruntung ini kurang bersyukur apa lagi :)

ammie said...

kejamnya dunia...
beruntunglah kita yg masih merasakan hidup tampa harus menjual barang yg paling berharga,,,

Inez said...

Aduh.. syukur banget Renata bs kerja halal.. Untung ada K.Enno sm K.Inayah!

Wuri SweetY said...

Aihhh jd merasa beruntung sekali hidupku.
Masih banyak "Renata-Renata" yang lain yg butuh yayasan kyk tempat Inayah, moga mkn bnyk yg bs keluar dr lembah hitam kyk Renata.

honeylizious said...

kita terkadang lupa betapa beruntungnya hidup kita

untung saya bukan Renata, semoga Renata yang lain bisa menemukan jalan hidup yang lebih baik lagi

Matahari said...

Posting ini bikin mataku berkaca-kaca. Renata walau sudah dijual bapaknya, masih mikirin adik-adiknya, masih mikir ngrim duit ke kampungnya. Lahir ke dunia seperti jadi tumbal ketidakberdayaan bapaknya. Getir sekali nasib perampuan yg hidup dinegara "miskin" seperti Indonesia ini. Yang di jadikan budak nafsu, jadi "barang" dagangan, tak sedikit yang berakhir pilu, sampai di pancung di negeri orang. Harus lebih banyak tangan yg melindungi perempuan Indonesia.

AyaDeLaYa said...

nikmat Tuhan apalagi, yang bisa kita ingkari...

Enno said...

dear all thx for ur comments ya..
semoga tulisan ini membuat kita semakin bersyukur dan semakin peka pd org2 yg kurang beruntung.

yuk ulurkan tangan sejauh yg kita bisa pd org2 spt renata, meski hanya utk menyemangati dan membesarkan hati.

:)

mirnarizka said...

Mau nangis baca ini, Mbak. Makasih ya Mbak Enno, sudah menulis postingan ini. :)

Enno said...

sama2 mirna... kita ambil hikmahnya dan bersyukur :)

Rhyme said...

Ya ampun,
Miris banget. Ikutan bersyukur karena Renata udah kembali ke jalanNya. Semoga masih ada Renata-Renata lain yang bisa kita selamatkan.

Ikut berjuang untuk para wanita!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...