Sunday, May 29, 2011

Kelor

Part I

Kepulauan Seribu. Jakarta, Agustus 2005

Hari itu kami berlima memutuskan berlayar ke Pulau Kelor, salah satu pulau kecil di gugusan Kepulauan Seribu. Saya, Tata, Amirudin, Dokter Anton, dan Pak Rusdi, naik kapal motor yang dikemudikan seorang nelayan bernama Pak Johar.

Kami meninggalkan kapal phinisi yang menjadi basecamp kami selama mengelilingi Kepulauan Seribu, turun ke perahu bermotor yang menjemput kami jam sembilan pagi. Tidak ada lagi yang mau ikut, padahal perahu masih muat. Teman-teman yang lain lebih memilih berlayar ke Pulau Bidadari untuk berenang daripada menyusuri jejak sejarah.

Naik perahu motor tidak membuat saya mabuk. Syukurlah. Lima belas menit berselang, di depan kami tampak pulau kecil dengan puing sebuah benteng di tengahnya.

“Itu benteng Martello kan namanya?” Tanya Dokter Anton. “Hehe… maklum, saya lebih hapal nama obat daripada catatan sejarah.”
“Iya Dok, itu benteng Martello,” sahut Tata.

Perairan di sekitar pulau itu agak kotor, tidak sejernih yang diharapkan. Pak Johar bahkan harus bermanuver untuk menghindari beberapa sampah yang mengapung di sekitar perahu kami. Menurutnya, tak jarang perahu terjebak sampah dan harus berhenti saat menuju Pulau Kelor.

Ketika kami mendarat, pulau itu ternyata tengah dipasangi beton penahan ombak. Sejumlah kuli tampak sibuk menggali dan membersihkan semak yang merimbun di sekeliling pulau dan benteng. Mereka menyambut kami dengan ramah, apalagi setelah Amir membagikan rokoknya.

Kami mengelilingi pulau yang luasnya tidak sampai satu hektar persegi karena terkikis air laut selama ratusan tahun. Benteng Martello yang ada di sini lebih utuh daripada yang ada di Pulau Onrust dan Pulau Cipir yang hanya tinggal pondasinya saja. Benteng ini berfungsi sebagai pertahanan militer, dimana dulu ditempatkan meriam-meriam anti serangan udara. Bahkan, seorang teman di Dinas Purbakala DKI bercerita, tembok benteng ini tadinya berlapis-lapis dan tebal, sehingga tahan dari tembakan meriam. Benteng yang dapat dilihat sekarang sebenarnya hanya lapisan bagian dalam. Tadinya dinding luar benteng ada di tempat yang sekarang sudah menjadi batas pantai.

“Rusak gara-gara letusan Krakatau, ya? Sayang banget…” Gumam Amir pada dirinya sendiri. Kebiasaan yang sudah menjadi ciri khasnya.

Di pulau ini juga banyak kucing liar. Kata Pak Johar, kemungkinan ada beberapa nelayan iseng yang membuang kucing ke pulau ini, lalu beranak pinak. Kucing-kucing ini makan dari pemberian turis-turis seperti kami, juga dari para pemancing ikan yang singgah di pulau ini.

Tiba-tiba kami mendengar teriakan Tata yang tadi memang memisahkan diri karena takut kucing. Membuat kami segera berlari ke arah suaranya di bagian lain pulau. Ia sedang berdiri di bawah sebatang pohon sambil menunjuk-nunjuk empat karung besar tak jauh darinya. Dua orang kuli tengah menggali dan tak menghiraukan kepanikan Tata.

“Apaan sih Ta? Lu kayak ngeliat setan aja!” Sergah Amir.
“Lu liat dong itu apa yang di dalam karung!”

Kami serentak mendekati karung. Amir menguak bagian atasnya, dan kami nyaris melompat mundur ke belakang.

Tengkorak! Tulang belulang dan tengkorak manusia! Dan sepertinya itulah isi semua karung yang ada.

Dokter Anton yang lebih cepat pulih dari rasa terkejutnya, mungkin karena dia sudah biasa dengan segala tulang, daging, darah dan jeroan manusia, meraih sebuah tengkorak. Tata menjerit lagi. Dua kuli yang sedang menggali berhenti dan memperhatikan kami.

“Hm…” Gumamnya dengan wajah tertarik. Membalik-balik tengkorak di tangannya, menyusuri permukaannya dengan jarinya. “Coba lihat tempurung kepalanya. Berlubang nih.”

Saya ikut meraih satu tengkorak dari dalam karung. Melihatnya dengan seksama. “Kalo yang ini tempurungnya retak, Dok.”

“Mungkin yang satu ditembak kepalanya, yang satu lagi dipukul sampai retak dan mati karena pendarahan otak?” Tanya Pak Rusdi, yang paling tua dan paling pendiam diantara kami.

“Wah, Pak Rusdi jago forensik ya?” Saya tertawa. “Boleh juga tuh diagnosanya.”

“Tengkoraknya kenapa masih kalian pegang-pegang sih? Ngeri tau!” Seru Tata.

Dokter Anton malah mengaduk-aduk isi karung lagi. Dua kuli yang tadi mendekat. “Tulangnya masih banyak, Pak,” kata salah satu dari mereka. “Kemarin kami dapat empat karung juga.”

“Bapak-bapak udah berapa hari kerja di sini?” Tanya Pak Rusdi.

“Sudah tiga hari, Pak. Kami disuruh memasang beton penahan ombak. Di pulau ini selama kami semua menggali memang banyak sisa-sisa kerangka manusia.”

Saya bahkan menemukan tengkorak dengan dua lubang di tempurungnya. “Dok, bisa diperkirakan nggak sudah berapa lama kematiannya? Biasanya kan dokter ngerti forensik, meskipun bukan spesialisasinya.”

Dokter Anton mengamati tulang-tulang itu. “Wah, mesti diuji di bagian forensik kalo mau akurat, No. Tapi ini ada yang udah lama, ada yang belum lama banget.” Ia mengambil sebuah tulang yang sepertinya tulang paha. “Yang ini sudah sangat rapuh. Rentang waktunya bisa sampai seratus tahun. Tapi ada juga yang sekitar tiga puluh tahunan, seperti ini.” Ia meraih sebuah tulang belikat. “Cuma saya heran, kok disini banyak banget ya tulang belulang manusia?”

“Pulau ini kan memang pulau kuburan, Dok.” Amir menyahut kalem.
"Pulau kuburan?" Tata si penakut menjerit.


-bersambung....



Pict from here


Image and video hosting by TinyPic

13 comments:

Wuri SweetY said...

Asyik nich ada horornya dikit2, ada bau2 detektip juga. Mau dong diajakin keliling Pulau Seribu.

Adhi Glory said...

menunggu episode berikutnya...
kayaknya seru nih, bakal ada adegan detektif gak ya? :D

Ceritaeka said...

Weeeks itu megang2 tulang koq ya gak ngeri siy :|

Enno said...

@wuri: masa sih horor? enggak ah :P

@adhi: detektif? hmmm... coba aja ikutin terus haha

@eka: tulangnya udah kering kok...bersih, ga ada dagingnya. tengkoraknya juga. ga ngeri laaah :P

Apisindica said...

keren! Berasa baca cerita detektif di Intisari yang konsisten sampai sekarang ituh... :)

Anonymous said...

Hmm...kalau cuma kuburan, tapi kok kematiannya gak wajar ya, Mbak? Apa bekas korban pembunuhan? PKI, mungkin? Waa... saya terbawa suasana. Kebiasaan ini... hehe...

sayamaya said...

ouw.. ouw.. macam membaca lima sekawan. aku tunggu lanjutannya no. ane jd penasaran, huehehhe...

Gloria Putri said...

wahhhh.....pengennnn jalan2 gt :( ayo cepetan lanjutannya mbaaaa

ika puspita said...

jangan lama lama ya cerita sambungannya...yg nunggu dah deg degan hehehehe

budwi said...

waduh..bersambung ya

Matahari said...

mbak Enno kan bisa liat dunia lain, apa waktu disana itu mbak liat "mereka" juga?. Aku kangen baca pengalaman horor dunia lainnya mbak Enno. Jarang ada yang bisa kontak dg dunia lain, apalagi di posting di blog. Itu request dari aku ya mbak mohon dikabulkan hehe.

Enno said...

@apis: masa? aku jg penggemar serial misterinya intisari yud.. mgkn agak terpengaruh jg ya? :D

@mirna: kemungkinannya byk mir :)

@maya: haha emang muridnya bu enid :P

@glo: jalan2 aja dlu di kota sendiri glo, di semarang kan byk yg menarik jg :)

@ika: haha ini bukan cerita horor kok :P

@budwi: yoi :)

@matahari: aku ga sll bs liat. soalnya aku menolak pny bakat ini... haha... ya deh kpn2 aku crita lagi :)

Gloria Putri said...

hhahaha....bosen....pantainya jelek, kotor...lawang sewu uda pernah..kota lama apa lagi :D
hehehhe....skalian aje jalan2 kite kopdar mba #wink

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...