Sunday, January 16, 2011

Teh Manis dan Senja Terindah

Saya duduk di atas pelataran batu masif itu, menatap padang rumput hijau yang ditaburi sisa-sisa masa lalu. Bekas tembok puri di hadapan saya memantulkan sinar matahari sore yang menyilaukan. Dulu. Di sini. Seorang puteri mungkin pernah duduk seperti ini, memikirkan pangerannya. Ah, saya sungguh berharap ada Kenzo bersama saya. Menikmati matahari senja di bukit Boko.

...................

Yang saya sukai dari Jogja diantaranya adalah tehnya yang kental, panas dan manis. Teh, air dan gula batu melebur kompak dan pas di lidah. Natural mixed. Orang Jogja menyebutnya 'teh nasgitel'. Teh panas, legi dan kentel (kental). Legi berarti manis.

Teh manis di Jogja memang beda dengan teh di kota lain. Kata Ari, hal itu tergantung cara membuatnya. Yang harus diperhatikan adalah suhu air, jenis gula, jenis teh dan ketelatenan si pembuat. Memang benar. Waktu saya memesan segelas teh manis panas di angkringan, si pembuat harus beberapa kali menuang dan mengaduk beberapa menit. Barulah terhidang segelas teh yang rasanya begitu sedap. Wah, menulis ini saja saya langsung haus. Hahaha.

Yang saya sukai dari Jogja selain tehnya bukan gudeg. Kalau gudeg, mendiang Ibu jago membuat gudeg yang rasanya mirip. Keahlian itu diwariskan pada kakak saya dan (sekarang) adik ipar. Cuma saya yang belum telaten mencoba. Saya tidak terlalu suka masakan yang manis soalnya.

Jogja yang saya suka adalah karena begitu banyak memiliki 'ancient & historical things'. Karena saya berminat pada sejarah, maka disinilah yang saya anggap surga. Candi-candi yang bertebaran, istana-istana yang meski hanya tersisa puing tapi tetap indah, bahkan irigasi di persawahannya adalah irigasi yang bersejarah dan memiliki nilai perjuangan. Selokan Mataram, yang airnya mengairi sawah para penduduk Jogja dan sekitarnya dibangun atas prakarsa Sultan Hamengkubuwono IX dengan mengerahkan seluruh rakyatnya, agar ada alasan bagi beliau untuk menolak perintah Jepang yang ingin merekrut penduduk Jogja sebagai romusha.

Rencananya saya ingin ke Borobudur, tapi jalan ke Magelang masih ditutup karena bahaya banjir lahar dingin. Akhirnya saya dan Ari pergi ke situs Kraton Ratu Boko. Dan saya merasa beruntung memutuskan pergi kesana. Disana begitu mempesona.

Bayangkanlah padang rumput hijau terawat seluas 250 ribu meter persegi, di atas bukit berketinggian 126 meter. Hawa yang sejuk, angin semilir dan langit yang membentang luas di atas kepala tanpa pembatas. Saya mendaki ke atas dengan jalan kaki, disiram rintik hujan sore. Lalu tiba-tiba di kejauhan tampak sebuah gerbang batu yang besar dan sangat indah bergaya Hindu.

Imajinasi saya langsung melayang ke masa lalu.

Beberapa pengawal kerajaan berdiri siaga di sana, dengan tombak siap terhunus pada tamu asing yang ingin menghadap raja. Lalu suatu hari, sang pangeran yang ingin bertemu sang puteri melangkah gagah penuh percaya diri disambut sembah di gerbang itu.

"Pangerannya menghadap raja, laporan mau ngapelin puteri. Rajanya belagak sok galak. Apa? Kamu mau bertemu puteriku?"
"Hahaha. Jadi raja harus galak ya No?"
"Iyalaaah. Lalu puterinya muncul dengan tampang malu-malu. Begini nih jalannya!" Saya meniru cara berjalan peragaan busana kebaya, dengan langkah berjinjit dan kedua tangan saling menggenggam di depan dada.
"Nggak gitu juga kaliii!" Ari protes.
"Bener kok. Trus ada gamelannya. Ning nang ning gung. Ning nang ning gung." Saya masih ngotot meniru cara berjalan yang tadi.
Si Ari ngakak.

Ada sisa keputren (kediaman puteri raja) di bagian belakang sisa puri utama. Juga ada sisa kolam pemandian, yang airnya menggenang acak seperti kubangan air hujan. Ada sisa-sisa batu alas tiang kayu yang mungkin dulunya merupakan bagian dari pendopo atau balai paseban (balai pertemuan). Di sana ada sisa candi dari batu putih tempat pembakaran jenazah yang disebut Candi Pembakaran. Ada gua misterius dan sumur yang airnya tidak pernah surut bernama Amerta Mantana. Artinya air suci yang diberi mantera. Itu sebabnya penduduk menganggap air dari sumur itu bisa membawa keberuntungan. Sampai saat ini,pada hari Tawur Agung, sehari sebelum Hari Raya Nyepi, umat Hindu mengambil air dari sana untuk keperluan upacara.

Saya mengambil banyak foto di sana. Malah sejujurnya, saya menghabiskan hari itu hanya di sana. Saya dan Ari berkeliling kompleks yang luas itu sambil mengocehkan khayalan kami tentang masa lalu ketika puing-puing itu masih menjadi istana kediaman Rakai Kayuwangi sebelum ia diangkat menjadi penguasa kerajaan Sriwijaya bergelar Balaputeradewa di Sumatera.

By the way, kami makan malam di Restoran Gudeg Bu Citro. Sebuah resto yang lumayan nyaman dan makanannya enak. Saya makan gudeg dan minum wedang rempah. Buat yang belum tahu, wedang rempah itu terdiri dari semua rempah yang biasanya dipakai di dapur. Ada daun salam, cengkeh, kayu manis, kapulaga dan pandan. Gulanya pakai gula batu. Rasanya wangi, segar dan hangat di badan. Katanya sih bagus untuk penyakit lambung.

.......................

Catatan: Kalau saya ke Jogja lagi, saya akan ke Ratu Boko lagi. Tapi hari ini saya mau ke Kota Gede. Bukan untuk belanja perhiasan perak, tapi menyusuri peninggalan keraton Mataram Islam di sana. See ya!


Gapura yang berdiri tegak sendiri (foto koleksi pribadi)



Image and video hosting by TinyPic

7 comments:

Mimi sikembar said...

waduh jadi makin pengen ini mi ke jogja mbak, kapan iaa kesampeannya ;(

Poppus said...

Udah nyobain Kopi Joss? gak kalah nikmat sama nasgitel

chici said...

penasaran ama tehnya :9

lemmot1me said...

"Yang saya sukai dari Jogja selain tehnya" adalah Jogja itu sendiri, kenyamanan, keramahan, dan aromanya. Suka suka suka Jogja..

Enno said...

@mimi: matangkan rencananya dari sekarang mi :)

@poppus: udah dong... tp skrg udah ga bs ngopi. gw pny maag hehe

@chici: tar klo ke jogja hrs minum teh ya :D

@lemmot1me: setujuuuu haha

Fairysha said...

hmm,,saya pengen banget bisa ke jokja,,,:) mudah2an suatu hari nanti,,,^^

Enno said...

@fairysha: amiiin, didoain deh :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...