Monday, March 1, 2010

My Mother and Spider

Petualangan kami siang itu dimulai di sebuah rumah kosong berlantai dua, di samping rumah kami, yang belum selesai direnovasi.

"Ibu yakin si Pussy mindahin anaknya ke sini?"
"Iya pasti ke sini. Ibu lihat kok, tiap habis dikasih makan larinya ke sini."
Aku memasuki ruangan demi ruangan kosong di lantai bawah. "Tapi nggak ada, Bu."
"Di atas mungkin. Ayo naik!"

Semenit kemudian.
"Aaaargghh!!! Ibuuuu!!!"
"Apa? Ada apa?"
"Itu! Ada laba-laba! Ih ogah! Nggak jadi naik!"
"Mana?"
"Itu! Di pojok di belokan tangga! Gede lagi! Hiiii!!!"
Ibu naik mendahului aku, di tangannya ada sapu lidi. Sarang laba-laba itu diusiknya. Sang laba-laba menyingkir, sembunyi di retakan dinding.
"Tuh laba-labanya udah sembunyi. Cepat naik!"
"Ibu, halangi dong!"
"Iya, iya, ini Ibu halangi!"
Aku melesat naik tanpa menengok-nengok lagi.

................

Sepanjang ingatanku ibuku tidak pernah takut pada apapun di depan kami, anak-anaknya. Pada serangga, pada kotoran, pada hewan apapun. Sebaliknya aku meski bukan penakut tapi punya titik lemah. Aku takut laba-laba dan kecoa. Bukan karena mereka menjijikkan. Pokoknya takut saja.

Ibu selalu tampil jadi pahlawan kalau kami takut pada sesuatu. Aku ingat suatu hari, ketika aku dan adikku masih kecil, kami bertiga melewati sebuah rumah sepulang dari Puskesmas. Dari dalam rumah itu muncul seekor anjing yang menggonggongi kami dan mengejar kami. Aku dan adikku menjerit ketakutan. Spontan Ibu menggendong kami berdua dan berjalan cepat-cepat berusaha tak mempedulikan anjing itu. Saat itu aku berpikir, betapa hebatnya Ibu. Tidak takut pada anjing galak itu.

Kalau ada kotoran apapun, semenjijikan apapun, aku biasanya berlari ke Ibu. Ibu dengan tenang menyingkirkan kotoran itu. Wajahnya tenang tak berubah, bahkan saat mencuci tangan setelah itu.

Aku tidak pernah melihat perempuan seberani ibuku. Bahkan ketika suatu malam kami pulang dari pengajian dan berjalan berdua melewati pemakaman, Ibu tetap tenang. Ia menyuruhku membaca Ayat Kursi, mengira aku ketakutan. Ah Bu, sama hantu sih aku nggak takut. Pokoknya asal jangan laba-laba dan kecoa.

Kadang-kadang aku berpikir, kalau nanti aku seorang ibu, akankah jadi sepemberani Ibu? Akankah aku jadi berani menghadapi laba-laba dan kecoa ketika anakku ketakutan seperti aku sekarang?

*speechless*

Tapi seorang Ibu kan memang harus melindungi anak-anaknya. Hmm, aku pasti bisa menjadi seperti Ibu.

*speechless lagi*

Ibu bukannya tidak takut pada sesuatu. Aku tahu dari mimik wajahnya ketika kami berada di lantai dua rumah kosong itu, mencari-cari anak-anak kucing yang disembunyikan induknya. Wajahnya memucat ketika beberapa ekor kelelawar terbang menggelepar-gelepar di atas kepala kami, terganggu oleh kehadiran kami.

"Kamu nggak takut kelelawar ya Ret?" Tanyanya melihatku tenang-tenang saja.
"Kalau lagi caving kan kelelawarnya lebih banyak, Bu. Ada ribuan lho. Sudah biasa kok."

..............

Akhir petualangan.

"Kok masih diam disitu? Ayo turun..."
"Itu! Laba-labanya balik lagi ke tengah jaring! Usirin lagi Buuu..."
"Ya ampun anak ini! Umur berapa sih masih takut aja sama laba-laba? Tuh udah diusirin. Udah sembunyi lagi laba-labanya. Cepat turun!"
"Hiiii...."

Aku lari tunggang langgang menuruni tangga.

_____________

Iya, sudah! Kalian berhenti tertawa! Aku tahu ini memang konyol! :P


Image and video hosting by TinyPic

17 comments:

Wiwit said...

pas baca judulnya, kirain ibunya spiderwoman. ternyata ceritanya toh. hihi...*jangan marah mbak*
tapi memang, sorang ibu pasti akan menjadi pahlawan bagi anak-anaknya

Azhar said...

ih takut ama kecoa..payah!

:)

eh iya nyokap gw jg kayaknya ga takut ama apapun...selain ama bokap gw ya hahaha

Ila Schaffer said...

huaaa. ternyata sama! aku bneran phobia gila sm kecok. hiiii... pkk nya klo ada kecoak langsung deh jeritin mama supaya kecoaknya di usir pergi..

Ila Schaffer said...
This comment has been removed by the author.
Brokoli sehat said...

sama no. Gw juga ngerasa nyokap gw fearless woman, tapi sepertinya bukan tanpa rasa takut, melainkan keinginan melindungi anaknya menutupi ketakutannya. Yep, hampir semua ibu gitu kayaknya

Pohonku Sepi Sendiri said...

yup, seorang ibu pasti akan menjadi pahlawan bagi anak2nya.. dan aku yakin besokpun mbak enno pasti begitu.. hehe..

eh, emang kalo caving nggak ada laba2 di dalam goa mbak? sepertinya malah lebih parah kan bentuk serangga2nya..

Arman said...

itu naluri orang tua. setakut apapun, kalo itu demi melindungi anaknya, pasti takutnya langsugn ilang... :)

Sari said...

Sepakat sama Popi :D

Tapi, aku masih berani lah kalo cuman ngusik sarang laba-laba pake sapu, abis itu baru ngacirr hehehe

denny said...

emakku.
kan takut sama cacing pop..


hahahaha,,
tapi brani lho sama cicak...


*apaan sih??
hahahah

readhermind-dy said...

tp aku suka laba-laba.

-Gek- said...

romantis ya Mbak. :)
Kapan Mbak jadi ibu? :)

西雅圖 said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Shin-kun said...

Kalo sama laba2 aku berani No, kalo sama kecoa aku geli...xixixi...

Gogo Caroselle said...

mama kita sama pemberaninya ya mba hihi,
aku juga takut sm kecoa apalagi kalo laba2 yg gede gituuuu
najiiiiiis ga ketulungan!

Enno said...

@all: hai kalian... doakan saya supaya tidak jd mama yg penakut yaaa...

:)

lilliperry said...

kalo manusia laba-laba kyk yang di tv, gak takutkan mbak..? :P

nanti naluri keibuannya pasti keluar,

ibu saya takutnya sama ayah saya.. huahaha

empe said...

duh.. nama kucing lo itu loh :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...